Menalar Agama Langit: Glorifikasi Mukjizat Kristus dan Krishna.

שלום עליכם
السلام عليكم

Screen Shot 2018-06-21 at 14.34.14.png

Karya saya berupa riset akademik yang berjudul “Aryo-Semitic Philology: the Semitization of Vedas and Sanskrit Elements in Hebrew and Abrahamic Texts” (Surabaya: Airlangga University Press, 2018) yang menggunakan berbagai referensi langka tsb, diharapkan nantinya akan menghapus stigma negatif atas ajaran Hindu yang berdasar pada teks suci Weda, dan juga ajaran Zoroastrian yang berdasar pada teks suci Avesta. Namun kini, ironisnya keduanya justru dijustifikasi sebagai ‘agama bumi’ (earthly religions) oleh para pseudo-scholars. Padahal secara de facto keduanya merupakan tradisi keagamaan tertua, yakni tradisi keagamaan Brahmanic yang justru memiliki kesinambungan dengan tradisi keagamaan Abrahamic. Anehnya lagi, tradisi keagamaan Abrahamic secara de jure hanya dibatasi pada 3 agama utama: yakni agama Yahudi, Kristen, dan Islam yang kemudian secara teologis justru diklaim sebagai the heavenly religions (agama langit).

Namun, berdasarkan dominasi pengaruh bhs Sanskrit dan Persian yang muncul dalam teks2 suci berbahasa Hebrew, Syriac dan Arabic sebagaimana yang termaktub dalam teks Torah, Bible dan Quran justru membuktikan adanya pengaruh Vedic yang amat kuat dalam teks ketiga agama tersebut. Hasilnya, dapat disimpulkan bahwa teks Weda dan teks Avesta yang disebut sebagai tradisi keagamaan Brahmanic secara tektual ternyata teksnya lebih kuno dibanding tradisi keagamaan Abrahamic, dan itu berarti agama Hindu sebenarnya adalah the heavenly religion, dan tidak tepat bila disebut sebagai earthly religion.

Ini semata2 kajian akademik, yang tentu saja banyak orang yang tidak siap menerima kenyataan ini. Dan pasti buku ini sangat kontroversial; tapi sebagai peneliti dalam bidang philology (comparative linguistics), sudah sepatutnya saya siap menerima kritik dari para ahli.

Dalam hal ini, tentu saja seorang agamawan juga pasti sangat sukar untuk menerima kenyataan ini. Namun, bagaimanapun juga , ini adalah kajian akademis yang berujung pada fakta linguistik, fakta tekstual sastrawi, dan fakta historis yang menandakan adanya penanda migrasi teks dari tradisi Arya ke tradisi Semit. Adanya migrasi teks ini tentu saja akan mengabrasi klaim sepihak tentang dikotomisasi antara agama langit dan agama bumi. Dan hanya mereka yang berpikiran terbuka, berwawasan luas serta padat literatur yang mungkin bisa menjadikan karya ini sebagai bahan referensi untuk bernalar akan kesinambungan sejarah tradisi agama2 besar dunia beserta kitab sucinya.

Adanya kesinambungan sejarah tradisi agama rumpun Brahmanic (Arya) dengan rumpun Abrahamic (Semit), kita dapat membaca teks yang termaktub dalam kitab suci Mahabharata dan kitab Srimad Bhagavatam Purana yang amat penting dipelajari oleh para pengkaji. Kitab Mahabharata terdiri atas 9 jilid besar dan kitab Srimad Bhagavatam Purana juga ada 44 jilid besar. Mengapa keduanya patut dipelajari? Alasannya sederhana, kitab Mahabharata ibarat “the Gospel of Krishna” bagi komunitas Hindu, sedangkan kitab Srimad Bhagavatam Purana ibarat Apostolic Letters (Perjanjian Baru/New Testament).

Di dalam kedua kitab itu memuat banyak mukjizat Krishna.

  1. Krishna berjalan di atas air dan tidak tenggelam.
  2. Krishna menyembuhkan orang buta sehingga orang tersebut bisa melihat, hanya dng sentuhan kakinya.
  3. Krishna melipatgandakan makanan menjadi banyak sehingga para brahmana semuanya dapat makan hingga kenyang.
  4. Krishna membelah lautan sehingga kering, hingga Arjuna dan Subadra tidak tenggelam.
  5. Krishna menghentikan matahari dari hukum alam sehingga tidak bergeser dari tempatnya.
  6. Masih banyak mukjizat lain yang dilakukan Krishna.

Mukjizat yang dilakukan Krishna ternyata 100% ada kesejajaran dng mukjizat yang dilakukan Kristus dan Musa. Sejarah itu berulang, dan hal ini menjadi bukti bahwa narasi teks keagamaan Brahmanic bertradisi Arya ternyata juga migrasi menjadi narasi teks keagamaan Abrahamic bertradisi Semit. The Gospel of Krishna lebih kuno dibanding the Gospel of Christ. Amazing.

Di antara komunitas agama sering kali melakukan semacam selected judgment. Mukjizat yang dilakukan Kristus dianggap sebagai “sejarah” karena agama Kristen diklaim sebagai “agama langit.” Sementara itu, mukjizat yang dilakukan Krishna dianggap sebagai “legenda” atau “dongeng” karena agama Hindu dijustifikasi sebagai “agama bumi.” Ini merupakan tindakan yang tidak jujur dan pseudo-akademik.

Bila seorang Kristiani terlalu berani dan gegabah menjustifikasi bahwa teks “The Gospel” (Injil) atau pun “The New Testament” (Perjanjian Baru) dianggap lebih tua dibanding teks Veda Mahabharata, maka sebaiknya mereka merenungkan pernyataan S.N. Dasgupta, Ph.D. dalam karyanya “A History of Sanskrit Literature: Classical Period” (Calcutta: University of Calcutta, 1947), hlm. xlix sebagai berikut.

“Though the Mahabharata underwent probably more than one recension and though there have been many interpolations of stories and episodes yet it was probably substantially in a well-formed condition even before the Christian era.”

Bila seorang Kristiani berani dan terlalu gegabah menjustifikasi kisah kehidupan dan mukjizat Krishna hanya dianggap sebagai “dongeng”, maka sebaiknya mereka juga merenungkan pernyataan Christopher Isherwood dalam karyanya “The Upanishads”, hlm. 28 beliau berkata:

“Sri Krishna has been called the Christ of India. There are in facts, some striking parallels between the life of Krishna as related in the Bhagavatam and elsewhere and the life of Jesus of Nazareth. In both cases legend and fact mingle.”

(Sri Krishna disebut juga sebagai Kristus dari India. Adanya fakta kesejajaran yang amat mencolok antara kehidupan Krishna dengan kehidupan Kristus dari Nazaret – sebagaimana catatan yang termaktub dalam kitab Srimad Bhagavatam dan kitab2 lainnya. Dalam kasus keduanya, Kristus van Indie dan Kristus van Nazareth, legenda dan fakta telah bercampur aduk).

Jadi berdasarkan pada pernyataan S.N. Dasgupta, maka teks Veda Mahabharata adalah teks tertua dibanding teks Injil atau pun teks Perjanjian Baru. Bahkan berdasarkan pernyataan Christopher Isherwood tersebut, maka bisa dibuktikan bahwa dalam dokumen teks suci kedua agama ini (Hindu dan Kristen) ternyata kita dapat menemukan adanya upaya glorifikasi atas historisitas sang tokoh yang kemudian bergeser menjadi meta-historis. Itulah sebabnya kita harus bijaksana menghargai perbedaan dan keunikan iman siapapun. Belajar mengenai sesuatu, apalagi berkaitan dengan iman – maka itu suatu keniscayaan yang semakin mencerdaskan iman kita sendiri.

 

 

Posted in Christology, Interfatith Dialog | Tagged , , | Leave a comment

Antara Hindu dan Hoddu (הדו) dalam Kitab Suci Yahudi.

שלום עליכם
السلام عليكم

Hoddu urdu

Ada kutipan teks Urdu dalam buku saya berjudul “Aryo-Semitic Philology: the Semitization of Vedas and Sanskrit Elements in Hebrew and Abrahamic Texts (Surabaya: Airlangga University Press, 2018).

Istilah הדו (Hoddu) dalam kitab TaNaKH (Torah Neviem ve Khetuvim) berbahasa Ibrani, sebagaimana yang termaktub dalam kitab Esther (Sefer Esther) yang ditulis di wilayah tradisi Arya, ternyata term הדו (Hoddu) merupakan istilah kosakata Sanskrit yang ter-Ibrani-kan atau Hebraized Sanskrit term. Dengan kata lain, istilah הדו (Hoddu) merupakan kosakata Judeo-Sanskrit sebagai bentuk Ibranisasi dari kosakata khas keagamaan Hindu dari tradisi Arya yang kemudian diadopsi dalam bahasa Ibrani Masoret (Biblical Hebrew).

Fakta tektual ini justru membuktikan adanya kesinambungan akar sejarah keagamaan dari tradisi Brahmanic (Arya) ke tradisi Abrahamic (Semit). Bila teks keagamaan Hindu bertradisi Arya ini migrasi ke wilayah Nusantara, maka muncullah kosakata “Geni” (api) dalam bahasa Jawa, yang berasal dari kata “Agni” (api) dalam bahasa Sanskrit. Begitu pula munculnya kosakata “Santri” (orang yang belajar kitab-kitab Islam di pesantren) dalam bahasa Jawa merupakan bentuk Islamisasi dari terminologi keagamaan Hindu (Islamized Brahmanic term) yang asalnya diadopsi dari kosakata bahasa Tamil, yakni “Santri” (orang yang belajar kitab Veda dan Vedanta); dan istilah ini ternyata juga berasal dari kata “Sastri” (orang yang belajar kitab Veda dan Vedanta) dalam bahasa Sanskrit, sedangkan kitab Veda dan Vedanta itu sendiri disebut “Sastra” dalam bahasa Sanskrit.

Jadi sebenarnya banyak kosakata Sanskrit yang diadopsi dalam bahasa Jawa. Bahkan, istilah “Jawa” itu sendiri dalam bahasa Jawa merupakan istilah serapan dari bahasa Vedic Sanskrit, yakni dari kosakata “Yava-dvipam” yang kemudian telah mengalami proses Jawanisasi menjadi “Jawa-dwipa” yang artinya “pulau Jawa.” Hal ini tentu maknanya merujuk pada konteks wilayah Jawa. Identitas wilayah Jawa memang telah tercatat dalam kitab Veda Ramayana, sehingga tidak mengherankan bila teks Veda akhirnya juga migrasi ke wilayah Nusantara, khususnya wilayah Jawa. Dalam Veda Ramayana, bagian Kiskinda-khanda 40:30 disebutkan:

yatnavanto Yava-dvipam
sapta rajyopa-sobhitam

(selanjutnya kalian akan memasuki wilayah pulau Jawa yang termasyhur, dan terdiri atas 7 kerajaan).

Sebaliknya, bila teks keagamaan Hindu bertradisi Arya ini migrasi ke wilayah Semit, maka muncullah kosakata “Hoddu” dalam bahasa Ibrani, yang berasal dari kata “Hindhu” dalam bahasa Sanskrit. Dan, istilah “Hindhu” dalam bahasa Sanskrit itu ternyata juga sepadan dng sebutan “Hindustan” dalam bahasa Urdu. Begitu pula munculnya istilah Ibrani תוכיים (tukiyyim, “parrots”) dalam Perjanjian Lama (the Old Testament) yang termaktub dalam kitab Raja2 (the book of Kings) dan kitab Tawarikh (the book of Chronicles) ternyata asalnya merupakan adopsi dari kosakata Tamil “tukiyyim” (parrots), dan istilah ini ternyata berasal dari kosakata bahasa Sanskrit yakni “sukim” (parrots).

Menariknya, dalam kitab Talmud, Bava Batra 15.a.2 disebutkan: וירמיה כתב ספרו וספר מלכים וקינות (ve Yermiyahu katav sefero ve sefer Melachim ve Qinot – Jeremias scripsit librum suum et librum Regum et Threnos), yang artinya: “dan Nabi Yeremiyah sendiri yang telah menulis kitab Yeremiyah, begitu juga kitab Raja-raja dan kitab Ratapan.” Dan fakta historis membuktikan bahwa Nabi Yeremiyah menulis kitab-kitab tersebut di wilayah yang terhegemoni tradisi Arya. Dengan demikian, tidaklah mengherankan bila istilah תוכיים (tukiyyim) merupakan bentuk Ibranisasi dari kosakata Sanskrit (“sukim“) yang bisa disebut sebagai Hebraized-Sanskrit term. Amazing.

Dengan demikian, peradaban Arya ternyata bukan hanya menyebar ke wilayah Nusantara, tetapi juga menyebar ke wilayah peradaban Semit (Timur Tengah).

Posted in Interfatith Dialog | Tagged , , , , | Leave a comment

Book Release: “Aryo-Semitic Philology: The Semitization of Vedas and Sanskrit Elements in Hebrew and Abrahamic Texts” (Surabaya: Airlangga University Press, 2018)

Banyak para akademisi telah membaca buku “The Foreign Vocabulary of the Quran” karya Arthur Jefferey (Baroda: Oriental Institute, 1938). Karya ini memang familiar di antara para misionaris untuk membuktikan adanya loanwords (kosakata asing) non-Arabic dalam Quran. Namun, kita juga harus jujur mengakui bahwa para ahli Biblikal faktanya telah mengakui adanya pengaruh kosakata asing (loanwords) non-Hebrew dalam Alkitab Perjanjian Lama (TaNaKH). Munculnya pengaruh kosakata asing (loanwords) dalam teks Perjanjian Lama (PL/TaNaKH) merupakan suatu keniscayaan dalam proses penjadian teks, apalagi penjadian teks TaNaKH yang kemudian ‘disucikan.’ Teks tidak pernah lahir dalam ruang hampa, dan teks itu sendiri muncul dalan konteks sosial, relasi bahasa dan interaksi budaya yang mengitarinya.

Dalam riset linguistic, Prof. James Barr, Ph.D., penulis buku “Comparative Philology and the Text of the Old Testament” (Oxford: The Clarendon Press, 1968) menyebutkan adanya hegemoni loanwords and words of non-Semitic origin dalam teks Perjanjian Lama (Biblical Hebrew Texts). Prof. Mats Eskhult, Ph.D., penulis “The Importance of Loanwords for Dating Biblical Hebrew Texts” (London-New York: T & T Clark International, 2003) dari Department of Asian and African Languages, Uppsala University (Swedan) juga memaparparkan bahwa bahasa-bahasa dominan yang berpengaruh dan terekam dalam teks TaNaKH (Perjanjian Lama) meliputi 4 bahasa utama, yakni bahasa Akkadia, bahasa Aramaic, bahasa Koptik (Ancient Egytian) dan bahasa Persia.

Ini membuktikan bahwa teks Perjanjian Lama tidak pernah ‘menjadi’ secara steril dan terasing daei bahasa-bahasa lain yang mengitarinya.

Sementara itu, Prof. Arthur Jeffery, Ph.D. penulis buku “The Foreign Vocabulary of the Quran” (Baroda: Oriental Institute, 1938) dan J. Spencer Trimingham penulis buku “Christianity among the Arabs in pre-Islamic Times” (London: Longman, 1979) juga menyebutkan adanya 4 bahasa-bahasa dominan yang berpengaruh dan terekam dalam Quran, yaitu bahasa Hebrew (Ibrani), Suryani (Syriac), Persian dan Etiopia (Amharic).

Berdasarkan pembuktian filologis, saya mencoba utk menyuguhkan karya saya berjudul “Aryo-Semitic Philology: The Semitization of Vedas and Sanskrit Elements in Hebrew and Abrahamic Texts” (Surabaya: Airlangga University Press, 2018) sebagai alternatif bacaan kepada para pembaca tentang adanya pengaruh kosakata asing non-Hebrew di antaranya hegemoni bahasa Sanskrit dan Persian – sebagaimana yang termaktub dalam Perjanjian Lama.

Hegemoni bahasa Sanskrit dan Persia merupakan bahasa-bahasa utama dalam tradisi Arya; dan kedua bahasa tersebut ternyata jejaknya amat dominan dalam bahasa Ibrani Masoret (Biblical Hebrew). Bahasa Sanskrit dan bahasa Persia justru dominan menaklukkan (‘conquer’) bahasa Ibrani Biblikal, yang jejaknya termaktub dalam teks Perjanjian Lama (PL).

Saya berharap, karya saya yang berjudul “Aryo-Semitic Philology: The Semitization of Vedas and Sanskrit Elements in Hebrew and Abrahamic Texts” merupakan karya kritik dan sekaligus sebagai karya pembanding atas bukunya Arthur Jeffery yang berjudul “The Foreign Vocabulary of the Quran.”

Posted in Biblical Studies | Tagged , , , | Leave a comment

Telaah Kritis Atas Konsep Penebus Dosa Vs Penghapus (Pembebas) Dosa

שלום עליכם

Isaiah-muhammad-shine

Isaiah Vision (Yeshayahu 21:7)

Rasul ﷺ yang keberadaannya sebagai “pre-existent Person” merupakan konsep Qur’ani sebagaimana yang termaktub dalam Qs. Ali Imran 3:81.

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُم مِّن كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنصُرُنَّهُ ۚ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَىٰ ذَٰلِكُمْ إِصْرِي ۖ قَالُوا أَقْرَرْنَا ۚ قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُم مِّنَ الشَّاهِدِينَ

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”.

Berdasarkan ayat tersebut diinformasikan bahwa אללה (ALLH) atau HASHEM baruch Hu telah mengikat/membuat perjanjian agung (a great covenant) kepada seluruh nabi-nabi, tanpa kecuali – tentang akan datangnya Sang Rasul ﷺ pada masa yang akan datang dan wajib bagi seluruh nabi-nabi itu untuk beriman kepada Sang Rasul tersebut.

Pada ayat tersebut ada tiga kata kunci:

  1. Pertama, term ميثق (mitsaq) yang dalam Quran terjemah Ibrani disebut ברית רבה (berit rabah) yakni perjanjian agung yang amat dahsyat. TUHAN berfirman dengan menggunakan istilah ميثق tersebut merupakan isyarat betapa pentingnya perjanjian tersebut, yang meneguhkan kepada kita bahwa perjanjian yang diikat sendiri oleh TUHAN itu sebenarnya bukanlah perjanjian biasa, tapi merupakan perjanjian luar biasa dan perjanjian yang sangat serius.
  2. Kedua, term النبين (al-nabiyyin) yang secara literal ditujukan kepada semua nabi-nabi yang sudah dikenal itu. Jadi istilah النبين (al-nabiyyin) merupakan nabi-nabi yang dikenal oleh Ahl al-Kitab (the owner of the Book) sebagai nabi-nabi yang menyejarah secara de facto sebagai sosok nabi-nabi yang historis. Itulah sebabnya, term نبين (nabiyyin, prophets) dikuatkan dengan tambahan ال (al) yakni al-ma’rifah sebagai definite article. Dan dalam Quran terjemah Ibrani tertulis term הנביאים (ha-nevi’im yang bermakna ‘the prophets‘). Dalam tata bahasa/gramatika Ibrani, huruf ה (hay) yang mengikat/melekat pada sebuah kata benda disebut sebagai ‘hay hayiddiah.’ Hal ini bermakna huruf ה (hay) yang melekat pada kata tersebut mengindikasikan bahwa term הוביאים (the prophets/nabi-nabi itu) tersebut sosok/figur mereka telah dikenal oleh sang komunikator dan sang komunikan. Hal ini sebagaimana penjelasan Rabbi David Kimchi zichrono lifracha (Radak zl’t) dalam kitabnya ספר מכלול להרד”ק אסופת כללים בדקדוק לשון הקודש. Dengan demikian kita bisa mengenal seluruh nabi-nabi itu secara pasti dan mereka telah mengikat perjanjian agung itu secara kolektif bersama TUHAN.
  3. Ketiga, term رسول (Rasul) yang secara literal bermakna Rasul, sejajar dengan term שליח (Shaliyach) dalam Quran terjemah Ibrani. Mengapa ada pembedaan penggunaan term رسول (Rasul) dengan term النبين (seluruh nabi-nabi itu) dalam ayat Qs. Ali Imran [3]: 81 tersebut? Ini merupakan isyarat bahwa term رسول (Rasul) pada ayat tersebut merujuk pada pra-eksistensinya, bukan merujuk pada eksistensi fisik kemanusiannya yang historis yang lahir pada tahun 571 M. Itulah sebabnya semua kitab Tafsir secara de jure menyatakan bahwa term رسول tersebut mengacu kepada pra-eksistensi Muhammadﷺ sebelum dia dilahirkan. Jadi ada
    1. Pra-eksistensi Sang Rasulﷺ, dan ada
    2. Eksistensi kemanusian Sang Rasulﷺ. Dan berdasar ayat itu pula adanya pembeda,
      1. Isi perjanjian agung itu sendiri, yang merujuk kepada Sang Rasulﷺ sebagai pribadi yang berpra-eksistensi,
      2. Semua nabi-nabi yang mengikat perjanjian agung itu bersama TUHAN dan mereka berikrar mengenai dia sebagai isi perjanjian agung yang amat dahsyat itu.

Itulah sebabnya Abraham mengingat ‘Perjanjian Agung’ itu sebagai rekaman kolektif; dan Abraham memohon agar eksistensi kemanusiaan Sang Rasulﷺ itu nanti dilahirkan dari benihnya melalui Ishmael sebagaimana yang tercatat dalam Qs. Al-Baqarah [2]: 129.

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.

Pada Qs. as-Shaff [61]:6

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُم مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِن بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ ۖ فَلَمَّا جَاءَهُم بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَٰذَا سِحْرٌ مُّبِينٌ

Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)”. Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata”.

Yesus juga mengingat ‘Perjanjian Agung’ itu sehingga dia menyatakan kalimat yang hampir sama sebagaimana yang diucapkan oleh Abraham. Bila Abraham menyebut dengan ungkapan kata kunci رسولا (Rasulan) tanpa menyebut NAMA person, tetapi hanya menyebutkan tugas agung yang eksklusif dari sang person yang dimaksud, yakni ويزكيهم (“wa yuzakkīhim“) yang bermakna “dan menghapus dosa mereka” atau “dan membersihkan dosa mereka” atau “dan menyucikan dosa mereka”), maka Yesus menyebut dengan ungkapan kata kunci رسولا (Rasulan) sekaligus menyebut NAMA person tersebut, meskipun Yesus tidak menyebutkan tugas agung yang eksklusif dari Sang Rasulﷺ. Jadi, Abraham tidak menyebut NAMA Sang Rasul ﷺ, sedangkan Yesus menyebut NAMA Sang Rasul ﷺ. Ini merupakan bukti kongkrit bahwa Abraham dan Yesus sebenarnya mengenal pra-eksistensi Sang Rasulﷺ sebelum kelahiran eksistensi kemanusiaan Sang Rasulﷺ, dan keduanya menggunakan term yang sama, yakni term رسولا (Rasulan).

Itulah sebabnya Abraham meminta dengan penuh kerinduan kepada TUHAN agar sosok yang pra-eksistensi itu muncul dari benih Abraham sendiri melalui Ishmael. Begitu juga Yesus mengenal pra-eksistensi Sang Rasul SAW, sehingga beliau sendiri menyebutkan NAMA person Sang Rasul ﷺ. Dengan demikian, Sang Rasul ﷺ sebenarnya sudah ada sebelum Abraham ada (Al-Baqarah [2]:129); dan Sang Rasul ﷺ juga sudah ada sebelum Yesus ada (as-Shaff [61]:6).

Fakta membuktikan bahwa Abraham dalam doanya menggunakan ungkapan 2 kata kunci, yakni:

  1. Term رسولا (Rasulan) yg mengisyaratkan pra-eksistensi Sang Rasul ﷺ,
  2. Term ويزكيهم (“wa yuzakkīhim”) yang artinya: ‘dan menghapus dosa mereka’ atau ‘dan menyucikan dosa mereka’ atau ‘dan membebaskan dosa mereka.’ Dan term ini fakta tekstualnya dalam Quran tdk pernah ditujukan kepada nabi-nabi lainnya kecuali kepada Sang Rasul ﷺ. Lihat Qs. Ali Imran [3]: 164, Qs. Al-Jumu’ah [62]:2.

Begitu juga Sang Rasul ﷺ lebih dulu ada meskipun secara fisik kemanusiannya belum dilahirkan. Itulah sebabnya Yesus telah menyatakannya kepada b’nei Yisrael mengenai kedatangan Sang Rasul ﷺ sekitar 500 tahun sebelum kelahiran Sang Rasul ﷺ itu sendiri.

Menurut Qs. Al-Baqarah [2]:129 penggunaan kata kunci يُزَكِّيْهِمْ itu sendiri sebenarnya terdiri dari subyek (seorang pelaku, yang merujuk kepada seorang figur spesial), predikat (tindakan spesial dari sang figur), dan obyek (sasaran). Bahkan, verbal/fi’il mudhari’ tersebut bila ditilik berdasar konteks ayatnya, sesuai gramatika bahasa Arab justru membuktikan bahwa Sang Rasul ﷺ memang belum dilahirkan dan tindakannya bermakna tindakan di masa depan yang akan dilakukan Sang Rasul ﷺ itu sendiri. Term يزكي (yuzakkī, yang bermakna “menghapus dosa/menyucikan dosa”) dalam bahasa Arab Quran sebagaimana yang termaktub dalam ayat ini sebenarnya seakar dengan term זכה (zakkah) dalam bahasa Ibrani Biblikal. Lihat teks TaNaKH, khususnya Sefer Shemot/kitab Keluaran 30:34, yang diartikan “pure”, dari kata kerja/verb זכך ( zikkech) yang artinya “to purify.” Uniknya, kajian berdasar gematria Quran, nama محمد (Muhammad) sebagai nama Sang Rasul ﷺ disebutkan sebanyak 4 kali, sejajar dengan penyebutan tindakan spesial Sang Rasul SAW yang redasional ayat-ayatnya juga menggunakan verbal يزكي (yuzakkī, yang bermakna “menyucikan dosa”/menghapus dosa”), dan lagi verbal ini merujuk kepadanya sebanyak 4 kali. Nama Sang Rasul ﷺ

Nama Sang Rasulﷺ
1. Ali Imran 3:144
2. Al-Ahzab 33:40
3. Muhammad 47:2
4. Al-Fath 48:29

Peran/tindakan spesial Sang Rasulﷺ
1. Al-Baqarah 2:129
2. Al-Baqarah 2:151
3. Ali Imran 3:77
4. Al-Jumu’ah 62:2

Renungan:

  1. Menurut Injil Yohanes, Yesus bersabda: “Sebelum Abraham jadi, Aku telah Ada (Yohanes 8:58). Nabi Yahya AS juga bersabda mengenai Yesus, katanya: “Dialah yang datang sesudah aku, yang sudah ada sebelum aku ….” (Yohanes 1:27). Begitu juga Quran menjelaskan bahwa Sang Rasul ﷺ telah ada sebelum Abraham ada (Al-Baqarah [2]:129). Bahkan, Sang Rasul ﷺ yang akan datang itu juga sudah ada sebelum Yesus ada (as-Shaffat [61]:6).
  2. Bila semua nabi-nabi tersebut beriman kepada Sang Rasul ﷺ, meskipun mereka tidak pernah bertemu dengan Sang Rasul ﷺ, maka Sang Rasul ﷺ juga pernah bersabda: “Berbahagialah mereka yang beriman kepadaku, meskipun mereka tidak pernah bertemu/berjumpa dengan aku. Merekalah احواني (ikhwani).” Para sahabat bertanya kepada Sang Rasul ﷺ: “Apakah mereka itu adalah kami semua para sahabatmu wahai Sang Rasul ﷺ?” Maka Sang Rasul ﷺ pun akhirnya menjawab: “Tidak! Kamu semua adalah اصحابي (para sahabat-ku), sedangkan mereka yang tak pernah melihat dan tak pernah berjumpa denganku, namun mereka beriman kepadaku, mereka adalah احواني (para saudara-ku).”
  3. Berbahagialah kita yang tak pernah melihat/berjumpa dengan Sang Rasul ﷺ tetapi beriman kepadanya, sebagaimana para nabi juga beriman kepadanya, meskipun mereka tak pernah melihat dan berjumpa dengan Sang Rasul ﷺ. Inilah derajat keimanan para nabi yang amat sempurna. Mengapa? Mereka beriman kepada Sang Rasul ﷺ, meskipun mereka juga tak pernah bertemu/berjumpa dengan Sang Rasul ﷺ.
  4. Istilah يزكي (yuzakki) ini sederhana, yakni: “menyucikan.” Persoalannya: (i) menyucikan apa? Menyucikan jiwa? Menyucikan jiwa dari apa? Menyucikan jiwa dari dosa? Menyucikan jiwa dari dosa apa? Alternatif jawabannya adalah menyucikan jiwa dari dosa kesyirikan, menyucikan jiwa dari dosa kotoran hati, menyucikan jiwa dari dosa kemaksiatan, menyucikan jiwa dari dosa hal-hal negatif lainnya. Namun, bukankah semua itu intinya adalah menyucikan dosa atau menghapus dosa? Bila istilah يزكي penjelasannya hanya merujuk pada menyucikan jiwa dari kesyirikan (kemusyrikan); bukankah itu tindakan seruan umum tugas kenabian yang diemban oleh seluruh nabi-nabi dalam mengajarkan TAUHID sebagaimana yang termaktub dalam Quran? Lalu apa istimewanya tugas khusus Sang Rasulﷺ yang mana istilah يزكي itu sendiri tidak pernah dinisbatkan kepada nabi-nabi lain? Jumhur ulama semua sepakat bahwa siapapun yang beriman kepada Sang Rasulﷺ, mengakui risalahnya maka semua dosa-dosanya saat sebelum menjadi Muslim, maka dosa-dosanya akan diampuni. Inilah jaminan keselamatan dan jaminan penghapusan/pengampunan dosa. Jiwanya telah disucikan dari dosa. Tidak perlu ada ‘tumbal’ melalui penyaliban. Selain itu, dosa-dosa yang dilakukan pasca menjadi Muslim, justru nantinya akan mendapatkan syafaat dari Sang Rasulﷺ. Inilah jaminan kita atas keselamatan kita.

    Oleh karena itu kita harus merenungkan ulang istilah يزكي ini sebagaimana pengharapan kita akan keselamatan kita.

    1. Istilah يزكي (yuzakki) tidak pernah dinisbatkan kepada nabi2 lain kecuali kpd Sang Rasulﷺ. Ini fakta Quran. Kalau term بشير (basyir) dan نذير (nadzir) dinisbatkan kepada semua nabi termasuk Sang Rasulﷺ. Ini juga fakta Quran. Berarti term يزكي yang dinisbatkan hanya kepada Sang Rasulﷺ ada sesuatu yang special dibanding nabi-nabi yang lain.
    2. Untuk memahami makna istilah يزكي yang dinisbatkan kepada Sang Rasulﷺ (Al-Baqarah 2:151; Al-Baqarah 2:129; Ali Imran 3:164; Al-Jumu’ah 62:2) bisa dibandingkan dengan makna dari istilah يزكي yang juga dinisbatkan kepada ALLH (Al-Baqarah 2:174; Ali Imran 3:77).

    Dengan membaca artikel saya ini, maka saudara-saudara kita umat Kristiani bisa belajar melalui Quran tentang kedudukan dan tugas khusus Sang Rasulﷺ yang tidak dimiliki oleh nabi-nabi lain, termasuk Yesus Kristus. Dengan demikian, umat Kristiani tidak perlu lagi ‘jualan’ tentang Yesus sebagai Sang Penebus dosa kepada kita, karena kita umat Islam sudah punya konsep yang lebih menjanjikan. Artinya, konsep Islam tentang Sang Penghapus dosa lebih menjanjikan dibanding konsep Kristen tentang Sang Penebus dosa. Dan, umat Islam tidak perlu lagi disesatkan dengan ‘iming-iming’ ttng penebusan dosa oleh Yesus Kristus. Quran menyatakan bahwa mereka yang percaya/beriman kepada Sang Rasulﷺ – maka mereka telah terbebas dari semua dosa terdahulu dan terjamin masuk ke dalam sorga melalui syafaat Sang Rasulﷺ. Amal perbuatan baik (amal shalih) bagi seorang Muslim merupakan bukti iman yang akan menempatkan mereka di bagian terbaik dari lapis-lapis tingkatan sorga.

    Jadi, Islam memang tidak mengenal Sang Penebus dosa, tapi Islam mengenal Sang Penghapus dosa/Sang Pembebas dosa, dan ini merujuk pada tugas yang utama dan agung dari Sang Rasulﷺ.

  5. Ajaran Kristen mengenal Sang Juru Selamat, yang disebut Al-Masih (المسيح). Perjanjian Baru menyatakan bahwa Yesus disebut Al-Masih karena sebagai Sang Penebus dosa melalui tiang salib (soteriologi). Sebutan Al-Masih (Orang Yang Diurapi) bagi Yesus merupakan gelar yang khas. Ajaran Penebusan dosa meniscayakan adanya IMAN kepada Yesus dan adanya tindakan “pembebasan dosa DENGAN syarat”, yakni dosa tidak akan dihapuskan tanpa adanya pengganti yang memikul beban dosa itu sendiri, yakni adanya konsep “Dia Yang Menggantikan Demi Pembebasan Dosa.” Inilah yang disebut “konsep substitusi” dalam ajaran Soteriologi. Sementara itu, ajaran Islam juga mengenal Sang Juru Selamat, yang disebut Khatam Al-Nabiyyin (خاتم النبين). Sebutan Khatam Al-Nabiyyin (Meterai Para Nabi) sebagaimana yang termaktub dalam Qs. Al-Ahzab 33:40 merupakan gelar yang khas bagi Sang Rasulﷺ. Gelar khas ini tentu terkait dengan isi Perjanjian Agung yang diikat TUHAN bersama semua nabi-nabi (Qs. Ali Imran 3:81). Quran telah menyatakan bahwa Sang Rasulﷺ sebagai Khatam Al-Nabiyyin memiliki tugas khusus yakni sebagai Sang Penghapus dosa atau “Dia Yang Menyucikan Dosa.” Ajaran Penghapusan dosa meniscayakan IMAN kepada Sang Rasul SAW dan tindakan “pembebasan dosa TANPA syarat”, yakni dosa akan dihapuskan tanpa adanya pengganti yang memikul beban dosa itu sendiri, yakni tidak mengenal adanya konsep “Dia Yang Menggantikan Demi Pembebasan Dosa.” Menurut Quran, pembebasan dosa TANPA syarat itu sangat sederhana. . Sang Rasul ﷺ hanya diperintahkan untuk berkata: לכו בעקבותי אוהבכם יהוה ומוחל לכם על חטאיכם [lechu be ‘iqvotai ohavchem ADONAI u-mochel lachem ‘al chathoeichem], yang artinya: “Ikutlah aku, maka ALLH akan mencintai kalian dan akan mengampuni semua dosa-dosa kalian.” (Ali Imran 3:31). Inilah keunikan masing-masing kedua ajaran agama antara Islam dan Kristen. Jadi, ada Juru Selamat menurut versi Islam, yang bergelar Khatam Al-Nabiyyin; dan ada Juru Selamat yang bergelar Al-Masih. Konsep yang similar, but not exactly the same.
Posted in Interfatith Dialog | Tagged , , , , , | Leave a comment

Makkah dalam Quran dan Tradisi Torah She Be’al Phe

Kajian Ustadz Menachem Ali: Makkah dalam Quran dan Tradisi Torah She Be’al Phe.

Posted in Biblical Studies, Interfatith Dialog | Tagged , , , , | Leave a comment

Is Prophet Muhammad (pbuh) mentioned by the name in the Bible?

al araf 157

Those who follow the Messenger, the unlettered prophet, whom they find written in what they have of the Torah and the Gospel… [Al A’raaf 157]

It comes to my attention, initially published in Al Bayan site, a very interesting research written by a researcher by the name of Faisal Al Kamily who argues using linguistic argument that Hosea 9:6 a clear prophecy about Prophet Muhammad (peace be upon him) so I thought it will be beneficial to make this research accessible in English. However I believe this post is for open minded people and those who are honest in asking, the evidence that prophet Muhammad was indeed prophesied in the TaNaKH as it speaks for itself, but for one who has bigotry on Prophet Muhammad and Islam, no amount of evidence will be convincing.

NB: <<The research is originally in Arabic and I translated it myself to make it accessible for english readers but I’m not a professional translator, so my apologies if my translation causes anyone’s eyebrows raised.>>


Is Prophet Muhammad (pbuh) mentioned by the name in the Bible?

Part I

Christian and Jewish scholars claim that the name محمد “Muhammad” was not written in their so called “holy” books whatsoever. Thus the the saying of Allah in the Quran Al A’raaf 157 merely just an effort to legitimize and sanctify the final prophethood the message of Islam as a religion which supersede Judaism and Christianity. We will see that despite of these false allegations however if the claim is true, the story in the so called holy bible is actually not the story taken from the true Torah and the Gospel which are revealed from God, accordingly, if the name of “Muhammad” is not mentioned in the holy books ie previous revelation it would be a deciding factor in refuting the holy Quran.

“Holy Bible” is divided into two main parts: Old Testament which is equally believed by the Jews and the Christians, and contains laws and stories from time span the beginning of creation to the fifth century BC approx. It was written by a number of unknowns whom we know nothing about them, the New Testament is accepted only by the Christians and it includes the story of Christ, the book allegedly has been composed by: Matthew, Mark, Luke, and John, in addition to that there are some are letters some attributed to Paul the Jew and some to others.

To reassure the hearts of the believers and to make the unbelievers more broken hearted, and for muslims are not accused of being impartial in any way in this response. Here are passages from the Old Testament that Jews and Christians have to accept that the name of “Muhammad” is still intact , despite the tampering. Regardless of the authenticity or inaccuracy of the (old testament) text attributed to a prophet among the Israelite prophets, there remain the evidence of the historical background of the Prophet (Muhammad) mission — as well as evidence of the mention of his noble name from the time of authentic revelation hidden by rabbis and monks, like they did in other books. In this part of the article, I shall present a clear case of distortion (Taḥrīf), a case where accepting the text despite lacking its coherence original meaning, which I will seclude in the second part (of this article), God willing.

These passages appear in the book of Hosea – It is one of the books of the Old Testament canon – In the context of rebuking of the Israelites for the wrongdoings and sins they committed “the Lord” says:

1 Rejoice not, O Israel, As other peoples exult; For you have strayed Away from your God: You have loved a harlot’s fee By every threshing floor of new grain. 2 Threshing floor and winepress Shall not join them, And the new wine shall betray her. 3 They shall not be able to remain In the land of the LORD. But Ephraim shall return to Egypt And shall eat unclean food in Assyria. 4 It shall be for them like the food of mourners, All who partake of which are defiled. They will offer no libations of wine to the LORD, And no sacrifices of theirs will be pleasing to Him; But their food will be only for their hunger, It shall not come into the House of the LORD. (Hose 9:1-4)

After the passages of rebuke, the Lord asks them, saying:

hosea 9 7-5.png

 

<<Hosea 9:5-7>>

Mah-ta’asu leyom mo’ed; uleyom chag-yahuwah.

Ki-hinneh halechu mishod, mitzrayim tekabbetzem mof tekabberem; Mahmad lechaspam, kimmos yirashem, choach be’oholeihem.

Ba’u yemei happekuddah, ba’u yemei hashillum, yede’u yisra’el; evil hannavi, meshugga ish haruach, al rob avonecha, verabbah mastemah.

And its translation in accordance with most of the Arabic and non-arabic translations (this is my own translation based on Van Dykes Arabic bible – Eric Kisam):

5What will you do in feast days, in the festivals of the LORD 6Behold, they have gone because of destruction, Egypt gather them, Mof bury them, The desirable things of their silver, Weeds are their heirs; Prickly shrubs occupy their [old] homes. 7Come in have the days of inspection, Come in have the days of recompence, Israel do know! a fool [is] the prophet, Mad [is] the man of the Spirit, Because of the abundance of their sins, And great [is] the hostility.

Most of the Arabic and non arabic translations exegetes this text as a some kind of weird situation that hardly expresses any useful benefit, but is it merely contradictory sentences with no connection?. What is the “day of the season”? What is the “day of the Lord’s Day”? What is the meaning of “Let Israel know it! The prophet is a fool, The inspired man is mad because of the abundance of their sins and hatred”?

Here are examples of the translations and their discrepancies:

The Septuagint

Therefore, behold, they go forth from the trouble of Egypt,… [1]

New International Version

Even if they escape from destruction, Egypt will gather them,…[2]

Revised Standard Version

For behold, they are going to Assyria; Egypt shall gather them…[3]

This puzzle of this discrepancy quickly fades away if the examiner returns to the Hebrew text in the book of Hosea to see why the various translations are far from accurate, because it depends on those who are not specialist in the “Semitic” languages[4] although being the expert in the field you see they sometimes skip the Hebrew lexical meaning and rush to any meaning which bear the context, and they do not posses intuitive skill to present the desired meaning from among dozens of meanings sometimes because most of the translations were done by non semites.

The Greek Septuagint added the word “talaiporias,” which means distress and trouble (or sometimes ruinned) to the word “Aiguptou” (ie, “Egypt”) to become the phrase “the trouble of Egypt.” Although this meaning is acceptable in itself, yet it doesn’t go with the intended rhyme in the original the text, as will be explained shortly.

We also note that what the Greek version (Spetuagint) is contrastly different with “the new international version” (NIV) on two key words “trouble” and “destruction”, so “from the trouble of Egypt” becomes “destruction, Egypt …

The RSV version have been greatly exaggerated that one left to wonder: which clumsy hand did it? The letter “m” (meaning “from” «min») was translated into “to” «ilā», which is exactly the antonym of the meaning! Then the word “shud” שֹּׁ֔ד is translated as “Assyria”, and become “they are going to Assyria”. What is the similarity between (שׁ – ד) and (ע – שׁ – ו – ר) in Hebrew such the reasoning of the interpreter to arrive at such translation? Is it an example of the tampering by the translators?, this can not be interpreted as such except this is a deliberate bias or sheer ignorance. Perhaps the readers haved warned the publishing house of this fatal flaw, so in the new revised standard version (NRS) it now becomes “For even if they escape destruction” similar to the new international version (NIV).

The Hebrew language was a dialect of ancient Arabic dialects, such as Sab’iyah and Tsamudiyah, spoken by the Canaanite Arabs who inhabited Palestine. Then the Jews took their tongue for them, and called “Siffat Kana’an“; that is “Sefat kena’an שְׂפַ֣ת כְּנַ֔עַן” “the tongue of Canaan” as attested in the Book of Isaiah (19:18). However, since it has lost its syntax case markings (the I’rab) – like many of the ancient Arabic dialects – it has became difficult to define the meanings precisely as in the above text. If the word “Masraim” was read as nominative case, it would not be related to “shud” (ie: trouble), in fact it is is a resumed sentence (musta’nifa). British Encyclopedia states: In semitic language [like the classical arabic] there are originally three case endings: Nominative (rafa’), Accusative (nasb), and Genitive (jar). However, those cases markings were not fully preserved except in some Akkadian dialects and in classical Arabic. “[5]

as I mentioned: The reader of two passages (v5 and 6) shall automatically notice in their original Hebrew, that in them the symmetry and rhyme is always in the sentences without use or being irregular.

The text says:

Mitzrayim tekabbetzem[6] (Egypt shall gather them )
Mof tekabberem (Mof shall bury them)
Mahmad lechaspam (their precious silver?)
Kimmos[7] yirashem (thorny weed shall inherit them)
Choach be’oholeihem (Prickly shrubs occupy their places)

Notice in short that the first three sentences begin with “Mem”, and each sentence ends with the plural construct “mem” which corresponds to “them” in Arabic, which reminds us of the rhyme of Andalusian poetry.

When the correct rule of the text were followed, it turns out that the word “mitzrayim” should be as nominative possessive composite (rafa’ mubtada) and not as the genitive/ (mudāf ilayhi) as suggested by the Septuagint version. The mistake in Septuagint is it view “(mi)shod mitzrayim” as mudāf – mudāf ilayhi construction, thus the wordings of the two paragraphs were re-arranged as follows:

Tekabbetzem mof (Mof shall gather them)
Tekabberem Mahmas (Μέμφις) (?)[8] shall bury them)
Lechaspam kimmos yirashem ( And their silver thus turn into ruin)
Choach be’oholeihem (Prickly shrubs occupy their tents)

In this way, the septuagint version has lost the pattern and the intended rhyme even more it has violated the rules of case ending (I’rab) in the third sentence, as I will show in the second part of the article, God willing.

Notes:
[1] «διὰ τοῦτο ἰδοὺ πορεύσονται ἐκ ταλαιπωρίας Αἰγύπτου dià toûto idoù poreúsontai ek talaipōrías Aigýptou».
[2] “Even if they escape from destruction, Egypt will gather them.”
[3] «For behold, they are going to Assyria; Egypt shall gather them…».
[4] Coining the term “semitic” is on language despite its mistake, it is correct to say: «Ancient Arabic» or so
[5] Encyclopedia Britannica. “Semitic Languages”.
[6] from the the Hebrew “qabats קָבַץ” (equivalent with arabic “qabada قبضmeaning ”to seize”) in the sense of “to gather” or ”to hold”.
[7] A nettle i.e. a plant.
[8] Which is a distortion of the original word «M – H – M – D» as I will show in the second part, God willing.


Part II

It was mentioned in the first part of this article, a text from the Old Testament which refer to “Muhammad” (pbuh) by name explicitly in the books of the jews and christians, but there are proof the deliberate distortion in the hebrew translation of the text, and I have shown some instances, now more importantly is to prove that the quoted paragraph should be read in the following order, taking into account the commas/separations:

hosea 9 5-6.png

 

<<Hosea 9:5-6>>

Mah-ta’asu leyom mo’ed; uleyom chag-yahuwah?

Ki-hinneh halechu mishod:
mitzrayim tekabbetzem,
mof tekabberem,
mahmad lechaspam,
kimmos yirashem,
choach be’oholeihem..

And I have proven that this reading is the only one that maintains the symmetry of the sentences and its rhyme. But in this part, I will focus on the meaning of the text to see how the translators manipulated text who refer clear prophecy of the Al Mustafa (Muhammad pbuh) – to become sentences that are very incohesive and meaningless.

The exegesis of the text

As for the saying: “Mah-ta’asu leyom mo’ed; uleyom chag-yahuwah?” It has nothing to do with the feast days and festivals. This is apparent from the context; it is an intimidation and warning for the Israelites who have departed from God’s way and disobeyed His messengers.
The translation says <<What will you do in feast days, in the festivals of the LORD??>> it took away the goal and change the threat to festival. The Hebrew text says: (le-yom לְ-י֣וֹם) meaning «for the day» and not (be-yom ב-י֣וֹם) «in a day». Therefore, the correct translation is: “What do you do to the day of the appointed[1] and the day that the Lord will gather you?” The word Hag ”חַג” in Hebrew is pertaining to “mass gathering”; The meaning of the sentence is mentioned in the words of God (The Qur’an) – the Almighty – addressing the children of Israel:

وَاتَّقُوا يَوْمًا لاَّ تَجْزِي نَفْسٌ عَن نَّفْسٍ شَيْئًا وَلا يُقْبَلُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلا تَنفَعُهَا شَفَاعَةٌ وَلا هُمْ يُنصَرُونَ

And fear a Day when no soul will suffice for another soul at all, and no compensation will be accepted from it, nor will any intercession benefit it, nor will they be aided. [Al-Baqarah: 123].

As for the saying, “Ki-hinneh halechu mishod: mitzrayim tekabbetzem, mof tekabberem

And it is interpreted it as: <<Even if they escape from destruction, Egypt will gather them, and Memphis[2] will bury them [or] hide them>>

It is a very close meaning to the Words of Allah – the Almighty – in the Qur’an Al Karīm:

وَإذْ نَجَّيْنَاكُم مِّنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ وَفِي ذَلِكُم بَلاءٌ مِّن رَّبِّكُمْ عَظِيمٌ

And [recall] when We saved your forefathers from the people of Pharaoh, who afflicted you with the worst torment, slaughtering your [newborn] sons and keeping your females alive. And in that was a great trial from your Lord. [Al-Baqarah: 49].

But the persecution of the Egyptians is not in all the paragraphs which says about the calamity of the Israelites. It continues: “Mahmad lechaspam מַחְמַ֣ד לְכַסְפָּ֗ם ,” and here is the bottomline. This phrase was translated as “the precious thing of silver”, which is an apparent distortion of two main things:

The first is that the phrase (idāfa) of “Mahmad” (meaning “precious”) to “chaspam” (ie, “their silver” or “their money”) is of great importance, for the occurence of the preposition (harf ul ĵar) <<לְ>> between them. In the Grammar of Hebrew Language by Wilhelm Gesenius, it is cited that the proper term of the phrase is (Mahmad chaspam), and thats the joint wording of the phrase in Hebrew.

Secondly, if we accept the validiy of the argument in “mahmad lechaspam”, as “their preciousness silver [or their money]” is nevertheless not a useful sentence, it is a construct contains subject (mubtada) who lacks the predicate (Al khabar), or the predicate has been omittedt we do not know. This forced the translator to connect with (kimmos yirashem קִמּוֹשׂ֙ יִֽירָשֵׁ֔ם ), as follows, and said: “Their preciousness (of) silver will be taken over them by thorny weed” It is an awful attempt to escape the problem, but the sentence is not improved despite this fix; because if we translated the Hebrew text literally it would have become “the preciousness (of) their silver thorny weed shall inherit them”; meaning the plural sentence ”הם” return the singular “preciouness,” which is not correct in the Hebrew language. Rather, it is said: “the preciousness (of) their silver thorny weed shall inherit it “, If we assume that the pronoun refer to “silver”- which is very unlikely – the objection is valid; it is singular and not plural in its Hebrew original. This indicates that they are two sentences rather than one sentence.

What is the meaning of the sentence then? a brief, concised term of “mahmad lechaspam” in its literal meaning, is “Muhammad to their Lord,” as “Muhammad” is a proper noun which refers to the Prophet – and not an adjective “precious” – This testify to at least two things:

First: The sentence without this form is not complete, there is no meaning and no word declension (mabnī), as stated above.

Second: When the translators of the Septuagint were exposed to this paragraph, they realized that Muhammad was a proper name, so they did what they did they tried to change the name to Machmas/Μαχμας (the city of Machmas). Perhaps one can excuse the translators on the possibility for not being able to recognize letter “Dalet ד” in the Hebrew origin, I say:

First: The letter of ש‬ “Shin” and ד‬ “Dalet” in Hebrew nothing resemble the mixture and the confusion between them is unlikely; the former is similar in form to number (5) and the latter is similar to number (6).

Second, suppose we follow this speculation, the city of Machmash as the translators want here, in Hebrew it is not written as “mahmas / מחמשׂ‬, ” but rather “makmas”/ מכמשׁ‬ with Kaf כ and ‬ Shin שׁ. The distortion was not only in one letter, but in two letters.

The critic may object: “Mahmad is not the same with Muhammad.” The answer: that the Hebrew text remained for more than a thousand years were without vowel signs until added by the “masoretes” the Jewish scholars between the sixth and ninth century AD, according to their judgement and made some mistakes. The word before the distortion of the masoretes was “MHMD” without vowel signs, and it was not “Mahmad“, and this is what the scholars of the Old Testament gather with acquiescence in order to hide the trace of «Muhammad» knowing about the Prophet (pbuh).

And the intention of the passage (is to show) that Muhammad (pbuh) will discipline them with their wealth, and this happened when the sons of Nadeer were expelled to Syrian and Khayber, so even one of them destroy the door of his house and roof in the night abandon it behind, as mentioned in Surat Al-Hashr:

هُوَ الَّذِي أَخْرَجَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِن دِيَارِهِمْ لأَوَّلِ الْـحَشْرِ مَا ظَنَنتُمْ أَن يَخْرُجُوا وَظَنُّوا أَنَّهُم مَّانِعَتُهُمْ حُصُونُهُم مِّنَ اللَّهِ فَأَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبُوا وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ يُخْرِبُونَ بُيُوتَهُم بِأَيْدِيهِمْ وَأَيْدِي الْـمُؤْمِنِينَ فَاعْتَبِرُوا يَا أُوْلِي الأَبْصَارِ

It is He who expelled the ones who disbelieved among the People of the Scripture from their homes at the first gathering. You did not think they would leave, and they thought that their fortresses would protect them from Allah ; but [the decree of] Allah came upon them from where they had not expected, and He cast terror into their hearts [so] they destroyed their houses by their [own] hands and the hands of the believers. So take warning, O people of vision. [Al-Hashr: 2].

وَمَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْهُمْ فَمَا أَوْجَفْتُمْ عَلَيْهِ مِنْ خَيْلٍ وَلا رِكَابٍ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُسَلِّطُ رُسُلَهُ عَلَى مَن يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

And what Allah restored [of property] to His Messenger from them – you did not spur for it [in an expedition] any horses or camels, but Allah gives His messengers power over whom He wills, and Allah is over all things competent. [Al-Hashr: 6].

As for saying: “kimmos yirashem, choach be’oholeihem” I will rely the translation on the Arabic versions: “thorny weed shall inherit them, and prickly shrubs occupy their places” for the sake of argumen will not be accepted, in order to not to take up too much time of the reader.

Then the Lord returns to the warning of the children of Israel from the consequences of their kufr, and that the days of reckoning have arrived. He Says “Ba’u yemei happekuddah, ba’u yemei hashillum” which The days of punishment have come, the days of recompense have come. The use of past tense here is an indication of assurance of that it is inevitably occurring, as the saying of God Almighty -:

أَتَى أَمْرُ اللَّهِ فَلا تَسْتَعْجِلُوهُ

The Command of Allah has come up; so do not seek to hasten it. [AnNahl: 1].

Then (God) explained the justification for this threat and ultimatum, and said: “yede’u yisra’el; ewil hannavi“. And translated as in Van Dyke translation: “Israel will know, the foolish prophet, the man of crazy spirit.” You notice the ending is weak and ambiguous, most of the Arabic and non arabic translations considered the Hebrew verb «Yada יָדַע» derived from «Yod – Dalet – Ayin ד – ע » which mean “knowing” , however it is plausible to suggest that it is in fact derived from « Dalet – Ayin – He ד – ע – ה » which cognate with Arabic Da’ā «دعا» which mean « to call». This is consistent in hebrew with what James Barr has classified in his book “Comparative Philology and the Text of the Old Testament”[3]. Thus the sentence (yede’u yisra’el; evil hannavi, meshugga ish haruach) consists of a transitive verb with two objects, a doer/subject with its initial part second object, and latter part first-object, then a second possessed object with its latter part first-object. Therefore, the literal translation of the paragraph is: “Israel calls the prophet a fool, and the man of the mad spirit”, and “Israel” here is meant to be the children of Israel.

God Almighty said -:

كَذَلِكَ مَا أَتَى الَّذِينَ مِن قَبْلِهِم مِّن رَّسُولٍ إلاَّ قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ * أَتَوَاصَوْا بِهِ بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ

Similarly, there came not to those before them any messenger except that they said, “A magician or a madman.” * Did they suggest it to them? Rather, they [themselves] are a transgressing people. [Adh-Dhāriyāt 52-53]

Then the text which the Jews had paid for this insults and rejection, it said: al rob awonecha, we rabbah mastemah “to the multitude of your sins and the excess of your hostility”[4]. The reason for the Jews denying the Prophet as well as insulted them – attested by their journey – their excessive hostility, which God – the Almighty – Said:

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِّلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا

You will surely find the most intense of the people in hostility toward the believers [to be] the Jews and those who associate others with Allah (the Pagans) [Al-Mā’idah: 82].

In the story of Safiya bint Huyay ibn Akhtab – she said: “”I was the sweetheart of my father and uncle, Abu Yaser. Whenever they are with their children and see me, they take me and leave them. When the Prophet – peace be upon him – came to Medina, my father and uncle went to him from the morning and did not come back until the sunset time. They were very tired and walking slowly. Seeing that, I met them courteously as I usually do, but no one cared about me due to their dejection. I heard my uncle, Abu Yasser, saying to my father: Is it he? My father said: yes he is (the Prophet). My uncle said: do you know him surely? My father said: yes. My uncle said: then what will you do? My father said: He will be my enemy forever “[5].

Here I conclude the exposition with above mentioned Van Dykes Arabic translation of the text, followed by my translation of the original Hebrew original and leave the readers decide.

Van Dyke translation

(my adaptation to english – Eric Kisam):

The seeker translation

What will you do about feast days, About the festivals of the Lord Behold, they have gone because of destruction, Egypt gather them, Moph buried them, The desirable things of their silver, Weeds are their heirs; Prickly shrubs occupy their [old] homes. Come in have the days of inspection, Come in have the days of recompence, Israel will know! a fool [is] the prophet, Mad [is] the man of the Spirit, Because of the abundance of their sins, And great [is] the hostility.

“What do you do to the day of the promised day, and the day that the Lord will gather you? They are the ones who survived the calamities: Egypt captures them, and Moph bury them, and (the Prophet) Muhammad will plunder them, and the weeds will inherit them, and Prickly shrubs will be in their houses. The days of punishment shall come, and the days of recompense shall befall. The children of Israel will call the Prophet a fool, and his revelation as mad, due to the magnitude of their sin and their persistent hostility.

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإنَّ فَرِيقًا مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْـحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ * الْـحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلا تَكُونَنَّ مِنَ الْـمُمْتَرِينَ

Those to whom We gave the Scripture know him as they know their own sons. But indeed, a party of them conceal the truth while they know [it]. The truth is from your Lord, so never be among the doubters. [Al-Baqarah: 147-147]

Notes:
[1] Mo’ed מוֹעֵד in the hebrew text.
[2] Moph: an ancient Egyptian city.
[3] Barr, James. Comparative Philology and the Text of the Old Testament (Winona Lake, Indiana: Eisenbrauns, 1987), p. 23.
[4] This is shift from the third person to second person; in other words a shift from the third person form “Israel calls” to the second person construct, “your sins” and “your hostility”, This is a rhetorical device that drew the listener or the reader into something significant. It has been used previously when saying “What do you do?…They are the ones who survived the calamities”. ” while the basis should be ” You are the ones who survived the calamities.” This does not concern us very much here, but I just wanted to show variation of the use of pronouns and that does not alter the original meaning of the text at all.
[5] Seerah Ibn Hisyam 915/1.
[6]”Ish Haruach אִ֣ישׁ הָר֔וּחַ ” translated as “man of the spirit” meaning: «with revelation» which is a description of Muhammad — in the exalted Qur’an which was revealed to him his revelation was termed as a «rūḥan روحاً ie. spirit» God says –

: وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا مَا كُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلا الإيمَانُ وَلَكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِ مَن نَّشـَـاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإنَّكَ لَتَهْدِي إلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ [الشورى: 25].

And thus We have revealed to you an inspiration «rūḥan روحاً» of Our command. You did not know what is the Book or [what is] faith, but We have made it a light by which We guide whom We will of Our servants. And indeed, [O Muhammad], you guide to a straight path – [Ash Shurā 25]

Posted in Biblical Studies, Interfatith Dialog | Tagged , , , , , | Leave a comment

Bahasa Arab Bukan Warisan Peradaban Kristen: Inskripsi Yahudi Sephardi di Marocco (Maghrib)

שלום עליכם

Tulisan berbahasa Arab yg bergaris itu maksudnya: “ini adalah beberapa bukti tentang adanya kaum Yahudi yang berasal dari Palestina.” Komunitas Yahudi Palestina ini migrasi ke wilayah Marocco sejak era kolonialisasi kekuasaan Romawi di Timur Tengah. Ini merupakan indikasi kuat bahwa migrasi besar-besaran kaum Yahudi Pelestina ke wilayah-wilayah Afrika, hingga ke kawasan Marocco di barat Afrika, justru didorong oleh faktor politik, sosial dan ekonomi. Sayangnya, tulisan Ibrani tersebut kurang teliti cara menyalinnya, karena antarkata tidak ada spasi, dan kayaknya penulisan Ibrani-nya ada yang hilang/korup, terutama huruf2nya di bagian terakhir.

Kalau bacaan saya seharusnya dibaca: Metrona bat Rabi Yehudah Nach(…..).

Inskripsi yang huruf2nya hilang tersebut sebenarnya bisa dibaca Nach(man), bisa dibaca Nach(um), bisa dibaca Neche(miyah), bisa dibaca Noach, atau bisa dibaca versi lain, atau bisa dibaca Nech(….). Ini yang harus dikonfirmasi berdasar data-data lain. Bila inskripsi tersebut dibaca Metrona bat Ravi Yehudah Noach, artinya: Ibunda kami Sang Putri dari Rav Yehudah Noach.

Anehnya pada inskripsi tersebut tertulis istilah מתרונה Metrona (Bunda kami) yang sebenarnya merupakan istilah Yunani yg di-Arab-kan dan menggunakan bentuk gramatika Arab – yakni ” isim dhamir ” נה (na) sebagai bukti adanya eksistensi penggunaan bahasa Judeo-Arabic di masa kekuasaan Romawi. Atau istilah tersebut merupakan dialek Ibrani khas Marocco yang berkembang di kawasan Afirika, yang perlu kajian lebih lanjut. Fakta ini juga dapat dibenarkan karena Talmud Yerushalmi/Jerusalem Talmud juga ditulis dng banyak menggunakan/mengadopsi istilah-istilah Yunani yang di-Ibrani-kan. Inilah karakter bahasa Mishnaic Hebrew. Namun demikian, istilah yang tertulis dalam bhs ibrani pada inskripsi tersebut membuktikan bahwa seseorang yang dimaksud itu adalah seorang royal/orang terpandang, karena bhs Yunani adalah ekspresi bahasa sebagai penanda identitas komunitas kelas tinggi pada zamannya, yang menggunakan campuran bhs Yunani.

Inskripsi yang menggunakan istilah Judeo-Arabic מתרונה tersebut membuktikan bahwa bahasa Judeo-Arabic justru telah eksis sejak era pra-Islam, dan eksistensi bahasa Arab telah mapan sebelum Kristen ada, bahkan sebelum Jesus dilahirkan. Jadi sangat tidak tepat bila dikatakan bahwa bahasa Arab adalah bahasa warisan kaum Kristen yang kemudian diwarisi oleh kaum Muslim. Pernyataan ini absurd, ahistoris dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Jadi sekali lagi bahasa Arab telah mapan di kalangan Yahudi dan bahkan aksara Judeo-Arabic telah ada sejak era pra-Islam, dan bukan diciptakan pada masa Islam muncul sebagaimana yang dituduhkan oleh para pseudo-scholars di kalangan Kristen. Inilah bukti kuat yang tidak bisa dibantah oleh siapapun bahwa bahasa Judeo-Arabic bukanlah kreasi dari Rav Saadia Gaon. Namun Rav Saadia ben Yosef al-Fayyumi (882-942 C.E.) hanyalah yang mengkodifikasi cara penulisan Judeo-Arabic yang kemudian populer pada Abad X Masehi. Pada inskripsi tersebut membuktikan adanya kuburan seorang wanita Yahudi terpandang yang dimakamkan di kawasan Welili, kota Meknes – Marocco pada era Romawi.

Fakta penggunaan dan eksistensi bahasa Arab di kalangan komunitas Yahudi di Palestina sebenarnya juga diteguhkan dng adanya temuan dokumen2 di kawasan Nahal Hever, wilayah Qumran yang teks2nya ditulis dalam bahasa Aram, Yunani dan (Arab) Nabatea. Sebagaimana yang ditemukan dokumennya oleh Y. Yadin.

“The second of these collections stems from Nahal Hever. Israeli excavators discovered these materials in situ in 1960-61, again under Y. Yadin. This area yielded what are actually three collections of documents. One is the personal archive of the colorful lady, Babatha. This group of texts included Aramaic, Greek and Nabatean legal documents. Lihat Y. Yadin, Bar Kokhba: The Rediscovery of the Legendary Hero od the Second Jewish Revolt Against Rome (New York: Random House, 1971), 222-53. Juga bisa dibaca karya Lawrence H. Schiffman ” The Contribution of the Dead Sea Scrolls to the Study of Hebrew Language and Literature ” dalam Michael A. Schmidman (ed.) Turim: Studies in Jewish History and Literature Vol. 1 (New York: Touro College Press, 2007), hlm. 241.

Temuan dokumen di Nahal Hever di Palestina dan inskripsi di Meknes, Marocco merupakan 2 bukti utama yang tak bisa dibantah siapapun.

 

Posted in Biblical Studies | Tagged , , , | Leave a comment

Orang-orang benar akan mewarisi bumi (Surga-Nya)

Siapakah mereka yang akan mewarisi bumi (yakni Surga-Nya)? Tertulis dalam kitab suci:

Mereka adalah orang-orang (yang) benar.

Tidaklah diperlukan seseorang harus dibunuh untuk penebusan dosa agar bisa menjadi orang-orang yang benar di mata Tuhan yang Maha Tinggi.

Screen Shot 2018-01-11 at 13.06.40.png

 

Tzadiqīm yireshu aretz ve yishkenu la’ad ‘aleyha.

Orang-orang benar akan mewarisi bumi, Dan mereka akan mendiaminya selama-lamanya. (Psalms/Tehilim 37:29)

Screen Shot 2018-01-11 at 13.05.17.png

 

Wa laqad katabnā fī al-Zabūr min ba’di al-Dzikr, anna al-ardh yaritsuhā ‘ibadiya al-shōlihūn.

Dan sesunggunhya, Kami telah tuliskan dalam Zabur, setelah pewahyuan yang diberikan kepada Musa, “Sesungguhnya Hamba-Ku yang benar akan mewarisi bumi.” . (Al-Anbiya’ 21:105)

Posted in Interfatith Dialog | Tagged , , | Leave a comment

The Qurbana Qadisha / ‘Idul Qurban / ‘Aqedah Yitzhaq

Shalom ‘aleychem
Assalamu ‘alaykum

The Quran (הקראן) and Torah (מקרא) are the heavenly texts of HASHEM. Both have the same episteme.

Mikra, Sefer Bereshit 12:10

ויהי רבע בארץ וירד אברם מצימה

Va yehi ra’av be eretz va yered Avram Mitzreyemah ….”

” There was a famine in the land, and Abram descended to Egypt …..”

Quran in Arabic, Al-Baqarah 2:61

اهبطوا مصرا فان لكم ما سالتم

” …. Ihbithu Mishra fa inna lakum ma sa’altum.”

” …. descend to Egypt and there you will find what you have asked for.”

Quran in Hebrew, Al-Baqarah 2:61

לכו ירד מצרימה ומצאתם שם את אשר שאלתם

” ….. lechu yered Mitzrayemah u-metzetem shem et asher she’elthem ….. ”

” … go down to Egypt and there you will find what you have asked for.”

The Quranic term اهبطوا (ihbithu), is a unique, meaning ” go down ” or ” dencend to.” This Arabic term is to refer to the geographical setting, from the upland to the lowland. And based on this verse, the word اهبطوا (ihbithu) is to migrate from the higher terrain of Canaan to the lowland as another place, Egypt.

Meanwhile, the Masoretic term ירד (yered) is exactly the same, indeed similar in Hebrew lexicon. The Hebrew term ירד ( yered) means ‘went down’ or ‘ descended to ‘ is the usual term used in the Torah for the pessage from the higher terrain of Canaan. The journey to Canaan is always referred to as עלה (‘oleh), meaning ” going up.” Thus, Egypt land is the lowland in the light of the Quran and the Torah.

Based on both Scriptures, I have to say to you all that Egypt is a lowland in an academic paradigm. Avraham avinu ‘alayv ha-shalom descended to Egypt, and Moshe rabbenu ‘alayv ha-shalom order to the b’ney Yisrael to descend to Egypt.

Baruch HASHEM

Photo: interfaith community (YIPC), discussing the Qurbana Qadisha (Christianity), ‘Idul Qurban (Islam), ‘Aqedah Yitzhaq (Judaism). All Abrahamic faiths celebrate the symbols, and to practise the symbols. August 4th 2017, Surabaya

Posted in Misc. | Leave a comment

Sejarah Yang Terlupakan Part 12

Shalom ‘aleychem
Assalamu ‘alaykum

part-12b.jpg part-12a.jpg

Eliachim: Nasab Biologis Maryam

Jimmy Jeffrey dalam tulisannya mengenai nasab biologis Maryam yang diklaim melalui Eli sebagaimana yang termaktub dalam Injil Lukas 3:23, merujuk pada kajian linguistik. Menurutnya, Injil Lukas 3:23 yang dinyatakan sebagai jalur nasab biologis Maryam justru telah eksis sejak awal era kekristenan. Namun, dengan adanya buku karya seorang sejarawan gereja yang bernama Eusebius, maka pendapat Julius Africanus lebih populer. Julius Africanus menyatakan bahwa daftar silsilah yang termaktub dalam Lukas 3:23-38 adalah daftar silsilah Yusuf, dan bukan daftar silsilah Maryam. Jadi, popularitas pendapat yang menyatakan bahwa Lukas 3:23-38 sebagai daftar silsilah Yusuf tersebut akibat pencatatan resmi sebagaimana yang tertulis dalam buku Ecclesiastical History (Sejarah Gereja) karya Eusebius.

Persoalan yang saya kritisi pada tulisan saya ini tidak bermaksud mengulang kembali kesahihan atau ketidaksahihan nasab biologis Maryam dan perdebatannya yang dikaitkan dng Daftar Silsilah dalam Injil Lukas 3:23-38). Justru dalam konteks ini saya ingin mengkritisi argumen Jimmy Jeffrey berkaitan dng kajian linguistik yang dipaparkannya demi menyokong pendapatnya yang sebenarnya merupakan argumen yang dipaksakan dan invalid. Bahkan argumentasi yang dibangunnya memiliki kecacatan fatal yang justru membuktikan bahwa sang penulis tidak memahami keilmuan linguistik berbasis teks sumber.

Demi menguatkan argumentasinya, Jimmy Jeffrey mengutip teks dari Injil apokrif, yakni pseudo-Matthew Gospel. Chap. 4.

” … And having weaned her in her third year, Joachim, and Anna his wife, went together to the temple of the Lord to offer sacrifices to God, and placed the infant, Mary by name …”

Berdasar pada teks Injil pseudo-Matthew ini, Jimmy Jeffrey menyatakan bahwa Joachim (Yoyakim), yakni nama ayah Maria dalam Injil apokrif pseudo- Matthew tersebut bisa saja merupakan perubahan nama dari Eliachim (Eliyakim) yang akhirnya disingkat menjadi Eli. Dengan demikian, nama Eli adalah singkatan dari nama Eliachim (Eliyakim). Nama Eliachim (Eliyakim) dan nama Joachim (Yoyakim) keduanya mengandung nama ilahi, yakni istilah Yo ringkasan dari nama Yehovah, sedangkan istilah El ringkasan dari sebutan Elohim.

Contoh perubahan nama Eliachim (Eliyakim) menjadi Joachim (Yoyakim) juga terdokumentasi dalam teks Masoret yang di kalangan komunitas Yahudi disebut TaNaKH. Dalam teks 2 Raja-raja 23:34 ternyata Firaun Nekho mengangkat Eliyakim, anak Yosia, menjadi raja untuk menggantikan Yosia, ayahnya, dan menukar namanya dengan nama Yoyakim. Selain itu dalam kitab Judith versi Yunani, yang dikenal sebagai teks Septuaginta (LXX) khususnya pada pasal 4:1-11 tertulis nama imam besar Joachim (Yoyakim) sedangkan dalam versi Latin (Vulgata) tercatat dengan nama Eliachim (Eliyakim). Dalam teks Latin Vulgata tertulis demikian

“..Sacerdos etiam Eliachim scripsit ad universos qui erant contra Esdrelon..” (Judith 4:5).

Perbedaan ini terletak pada perbedaan teks dari beberapa manuskript yang menandakan adanya variasi penyebutan nama Eliachim (Eliyakim) dan Joachim (Yoyakim).

Jimmy Jeffrey juga mengutip buku apologetik karya William Lukyn mengenai jawaban Androinicus (1310M) yang mengutip tulisan Rabbi Elijah terkait nama Joachim sebagai nama ayah kandung Maryam.

“Why do Christians extol Mary so highly, calling her nobler than the Cherubim, incomparably greater than the Seraphim, raised above the heavens, purer than the very rays of the sun? For she was a woman, of the race of David, born to Anne her mother and Joachim her father, who was son of Panther. Panther and Melchi were brothers, sons of Levi, of the stock of Nathan, whose father was David of the tribe of Judah.”

Dalam bagian lain pada buku William Lukyn juga tertulis hal yang senada, yakni terkait nama Joachim sebagai nama ayah kandung Maryam. Dokumen yang dimaksud justru mengacu pada dokumen Yahudi, yakni Doctrina Jacobi (634M). Dalam dokumen tersebut disebutkan tentang cemoohan seorang rabi dari Tiberias tentang Maria.

“.. Anda he said, Why do the Christians magnify Mary? She is the daughter of David and not Theotokos (i.e. born of God), for Mary is a woman, daughter of Joakim and her mother was Anna. Now Joakim is son of Panther and Pather was brother of Melchi, as the tradition of us Jews in Tiberias has it, of the seed of Nathan, the son of David, of the seed of Judah.”

(William Lukyn, Adversus Judaeos: A Bird’s Eye View of Christian Apologiae until the Renaissance, Cambridge University Press, 2012).

Berdasarkan buku apologetika Kristen karya William Lukyn (2012) tersebut, maka Jimmy Jeffrey membangun sebuah wacana baru bahwa nama ayah kandung Maryam adalah Joachim (Yoyakim) yang sebenarnya adalah nama lain atau pun perubahan nama dari nama Eliachim (Eliyakim). Namun ironisnya Jimmy Jeffrey tidak kritis atau memang secara sengaja memanipulasi kecerdasan para pembacanya. Pertama, Jimmy Jeffrey mengaitkan varian bentuk nama Eliachim (Eliyakim) dan Joachim (Yoyakim) dalam teks Masoret Ibrani, teks Septuaginta, dan teks Vulgata serta menghubungkannya dengan nama Joachim (Yoyakim), yakni nama ayah kandung Maryam, sebagaimana yang termaktub dalam Injil apokrif. Kedua, Jimmy Jeffrey menyatakan bahwa nama Joachim (Yayakim) dalam Injil apokrif tersebut adalah sepadan dng nama Eliachim (Eliyakim), dan nama Eli dalam Injil Lukas 3:23 merupakan nama bentuk ringkas dari nama panjang, Eliachim (Eliyakim).

Sebenarnya, saya sepakat bila nama Raja Eliachim, אליקים (Eliyakim) adalah nama lain, dan sekaligus varian nama dari nama Sang Raja Joachim, יהויקים (Yehoyakim), sebagaimana yang tercatat dalam 2 Raja-raja 23:34 versi teks Masoret Ibrani. Bahkan nas 2 Raja-raja 23:34 dalam versi teks Septuaginta dan versi teks Vulgata Latin juga tertulis nama Raja Ioakim sebagai nama lain dari nama Eliachim. Teks 4 Regum 23:34 berbunyi sbb:

” Regemque constituit Pharao Nechao Eliachim filium pro Iosias patre eius: vertitque nomen Ioakim.” (Alberto Colunga (ed.), Biblia Sacra: Vulgata Clementinam, Madrid: Biblioteca de Autores Christianos, 2012), p. 321

Saya juga sepakat bahwa nama Imam Besar Ioakim dalam teks versi Septuaginta Yunani juga tertulis Eliachim dalam teks versi Vulgata Latin. Pada teks Septuaginta Yunani, nas Yudith 4:5 tertulis nama Imam Besar Ioakim (Sir Lancelot C.L. Brenton, the Septuagint with Apocrypha: Greek and English, Hendrickson Publishers, 1995), p. 38. Sementara itu, versi Vulgata Latin tertulis nama lain, yakni nama Imam Besar Eliachim (Colunga, Bibila Sacra: Vulgata Clementinam, Madrid: Biblioteca de Autores Christianos, 2012), p. 405. Keduanya memang merujuk kepada person Imam Besar yang sama, meskipun dng penyebutan nama yang berbeda. Dengan demikian, hal ini bisa disimpulkan bahwa nama Raja Ioakim (Joachim) sama dng nama Raja Eliachim, dan nama Imam Besar Ioakim (Joachim) sama dng nama Imam Besar Eliachim.

Namun persolan nama Eli dalam Injil Lukas 3:23 itu apakah ringkasan dari nama Eliachim yang tidak lain adalah sama dng nama Joachim sebagai nama ayah kandung Maryam dalam Injil apokrif? Faktanya tidak demikian, dan ulasan Jimmy Jeffrey telah memanipulasi kajian linguistik yang amat tidak valid.

Ada 5 alasan kuat menurut saya utk membuktikan kecerobohan Jimmy Jeffrey dalam pembahasan bergaya permainan kata (word game) antara nama Eli dalam Lukas 3:23 yang dikaitkan dng nama Eliyakim ( אליקים).

  1. Nama Eliachim dalam bahasa Ibrani tertulis אליקים (Eliyakim), sedangkan nama Joachim dalam bahasa Ibrani tertulis יהויקים (Yehoyakim). Sedangkan dalam bahasa Ibrani, nama Eli yang termaktub dalam teks Injil Lukas 3:23 tertulis עלי (‘Eli) bukan tertulis אלי (Eli), yang diklaim oleh Jimmy Jeffrey sebagai singkatan dari nama lengkap אליקים (Eliyakim). Pada ranah inilah Jimmy Jeffrey memanfaatkan ketidakcerdasan para pembacanya. Bahkan terkesan memanipulasi nama Ibrani secara invalid. Dalam konstruksi nama Ibrani, sesuai yang termaktub dalam teks Masoret (TaNaKH), tidak ada satu pun nama panjang yang terindikasi merupakan gabungan dari kata עלי (‘Eli) dengan kata Ibrani lainnya. Justru yang sering muncul adalah gabungan kata אלי (Eli) dng kata Ibrani lainnya. Contoh: אליקים (Eliyakim), אליהו (Eliyahu), אלחנן (Elchanan), אליאב (Eliab), אלידע (Eliyada’), אליסף (Elyasaf), אליאל (Eliel). Dengan demikian, klaim Jimmy Jeffrey yang menyatakan bahwa nama lengkap אליקים (Elyakim) yang disapa dng nama pendek עלי (‘Eli) merupakan upaya mencocokkan sesuatu yang sebenarnya tidak cocok dalam ranah kebahasaan. Dan upaya mencocokkan keduanya merupakan bentuk kecerobohan. Dengan demikian, wacana baru yang disuguhkan oleh Jimmy Jeffrey kepada para pembacanya tersebut pasti akan runtuh, dan tidak sesuai dng nama-nama yang telah eksis dalam tradisi Ibrani, sebagaimana yang termaktub dalam Torah, Neviem ve Khetuvim (TaNaKH).
  2. Penggunaan nama עלי (‘Eli) dalam kitab TaNaKH bisa berdiri sendiri, dan tidak perlu merupakan gabungan kata dengan kata Ibrani lainnya; dan nama עלי (‘Eli) sangat familiar digunakan sebagai sebuah nama diri (proper name) dalam TaNaKH. Lihat 1 Samuel 1:3-25; 1 Samuel 2: 11-27; 1 Samuel 3:1-16; 1 Samuel 4:4-10; 1 Samuel 14:3, 1 Raja-raja 14:3. Jadi antara nama person עלי (‘Eli) dan ungkapan אלי (Tuhanku) sebagai ekspresi seruan seorang hamba kepada TUHAN bukanlah hal yang sepadan. Dan, Yeshu ha-Notzri telah menyeru TUHAN-nya saat di tiang salib dng seruan אלי אלי (Tuhanku Tuhanku) dan tidak menyeru dng nama person עלי עלי (‘Eli ‘Eli).
  3. Dalam catatan kitab TaNaKH, Midrash, Talmud, atau pun kitab-kitab dokumen Rabbinik yang lain, tidak ada 1 pun penggunakan nama אלי (Eli) sebagai nama person. Apalagi bila nama ini berdiri sendiri tanpa digabung dng kata Ibrani lainnya. Dengan kata lain, tidak pernah ada 1 pun nama אלי (Eli) yang dipakai oleh seorang manusia historis dalam dokumen TaNaKH atau pun dokumen Rabbinik lainnya, dan tidak ada 1 pun nama עלי (‘Eli) yang merupakan singkatan/ringkasan dari nama panjang seseorang.
  4. Bila nama Eli dalam Injil Lukas 3:23 yang bhs Ibrani-nya tertulis עלי (‘Eli) dianggap scribal error, lalu adakah manuskrip PB yang bisa dijadikan sebagai teks pembanding, yang memuat alternatif bacaan nama person yang lain? Selama ini saya belum menemukannya.
  5. Bila sang apologet Kristen beralibi bahwa nama Eli dalam Lukas 3:23 itu sebenarnya dalam bhs Ibrani tertulis אלי (Eli) atau האלי (Heli). Namun, mereka harus bisa membuktikan manuskripnya terkait nama personal yang memang tertulis seperti itu. Bila fakta tekstual ternyata tertulis nama personal yang demikian, maka bisa jadi ini memang khusus nama special nenek moyang Yesus, yang tidak pernah ada dan dipakai dalam tradisi Ibrani, khususnya nama-nama tokoh dalam kitab TaNaKH. Bahkan tidak familiar di antara orang-orang Ibrani sepanjang abad, dan baru muncul pada era PB. Sama halnya dng konsep special adoption yang memang special utk mendukung teori the Virgin Birth khas doktrin Kristen, dan tidak ada kaitannya dng teori Levirate marriage khas Judaism yang berlaku dalam tradisi Ibrani, dan anehnya baru muncul pada era PB juga.

Kesimpulan

Kajian linguistik antropologis terkait nama-nama Ibrani ini merupakan fakta historis yang bisa dibuktikan melalui teks sumber. Sekali lagi, klaim Jimmy Jeffrey terkait nama Eliachim sebagai bentuk pendek nama Eli merupakan manipulasi data yang ahistoris dan manipulatif. Dan, tindakan manipulasi data itu berakar dari ketidakjujuran penjelasan kajian linguistik komparatif (filologis) terkait persoalan antara perbedaan konsonan ע (‘ayin) pada nama עלי (‘Eli) dan konsonan א (alef) pada nama אלי (Eli).

Baruch HASHEM.

Posted in Biblical Studies, Interfatith Dialog | Leave a comment