Targum Onkelos and Pirke de Rav Eliezer

Onkelos who is called Akilas in the Talmud, he converted to Judaism right before the Bar-Kochva revolt, and was a disciple of Rabbi Akiva ben Yosef (17 – 137 CE.), a Tannaitic generation of the latter part of 1st century and the beginning of the 2nd century. In his work, “Treasures of the Talmud” (Jerusalem: Keren Ahvah Meshihit, 2007) Paul Isaac Hershon says: “the Targum of Pentateuch (Targum Onkelos) was executed by Onkelos the proselyte at the dictation of Rabbi Eliezer and Rabbi Yehoshua … Onkelos the proselyte is said to have been a relative of Titus, and that before he abjured paganism and became a proselyte … He therefore embraced Judaism.” (see the Talmud Bavli, Gittin 56b.)

Meanwhile, Rabbi Eliezer ha-Gadol/ the Great, son of Hyrcanus (45 – 117 CE) who wrote Pirke de Rav Eliezer was one of the most prominent Tannaim of the 1st and 2nd centuries. However, Onkelos transmitted the rabbinic knowledge of Rabbi Eliezer ha-Gadol and both represented a link in the heritage of the Torah she be’al phe (the Oral Torah). In fact, the Targum Onkelos was written in Judeo-Aramaic during the end of the 2nd century ( 2 CE.) after the writing process of the Pirke de Rav Eliezer.

Amazingly, according to Pirke de Rav Eliezer, Abraham made a burnt-offering, THE QURBAN, and he took with him Ishmael (the first-born son of Abraham) and Eliezer (son in-law of Abraham); and in fact Ishmael also knew that vision. Rabbi Eliezer ben Hyrcanus said:

השכים אברהם בבקר ולקח את ישמעאל ואת אליעזר ….. ואני הוא בכורו ואני יורש את אברהם …

” Hishkin Avraham be-boqer ve laqach et Yishmael ve et Eliezer …. Ve ani hu bechoro ve ani yoresh et Avraham… “

(Abraham rose up early in the morning and he took with him Ishmael and Eliezer …. I am his first-born son, I will inherit the possessions of Abraham … )

Rashi (1040 – 1105 CE.) also said that Abraham took Ishmael and Eliezer to make the Qurban. Rashi explained that the Hebrew words of Sefer Bereshit 22:3 את שני נעריו (et shenei na’araiv) SES DEUX JEUNES GENS Ismael et Eliezer (his two young men Ishmael and Eliezer), see Chamisha Chumshe Torah. Le Pentateuque avec commentaires de Rachi et notes explicatives en cinq volumes suivis des Haphtorath avec Targum Onqelos (Paris: 1979), p. 133

Posted in Talmudic literature | Tagged , , | Leave a comment

HAJI DAN SUMUR ZAMZAM

שלום עליכם

Quran menyebutkan ayat penting berkaitan dengan situs bukit Shafa dan situs bukit Marwah sebagai bagian dari situs suci pelaksanaan ibadah Haji, dan ini tentu saja terkait langsung dengan latar belakang adanya kemunculan sumur zamzam. Hal ini dapat dibaca pada nas Qs. Al-Baqarah 2:158

ان الصفا والمروة من شعاءرالله

(“Inna ash-Shafa wa al-Marwata min sha’airi-LLAH ..”)

הנה אצ-צפא ואל-מרוה מטקסי יהוה

(“Hinne atz-Tzafa ve al-Marvah mith-thiqsei ADONAI …”)

Dalam Quran memang disebutkan penyebutan situs bukit Shafa dan situs bukit Marwah, tetapi Quran tidak menyebutkan adanya penyebutan situs sumur zamzam. Sebaliknya, kitab Torah memang hanya menyebutkan narasi peristiwa Hagar, bunda Ishmael yang hal ini terkait kemunculan situs “sumur Lahai” (sumur zamzam), tetapi dalam Torah tidak disebutkan penjelasan mengenai adanya situs bukit Shafa dan situs bukit Marwah yang menjadi sebab akibat kemunculan sumur Lahai (sumur zamzam). Namun, kedua teks suci ini tidak saling bertentangan, justru saling melengkapi dan saling menguatkan tentang adanya latar belakang kemunculan sumur zamzam. Itulah sebabnya, Rav Nosson Scherman dalam Le’ houmach: Chamisha Chumshe Torah. Le’ edition Edmond J. Safra, terkait nas Sefer Bereshit 16:14 beliau menyatakan bahwa sumur tersebut akhirnya menjadi tempat doa di masa depan, lihat Sefer Bereshit 24:62. Rav Nosson Scherman ketika mengomentari ayat ini beliau berkata: Par la suite, ce puits est devenu un lieu de priere, voir plus loin, Sefer Bereshit 24:62 (Brooklyn, New York: Mesorah Publications, Ltd., 2015), hlm. 75

Rabbi Bachya ben Asher ketika menjelaskan istilah באר לחי (Be’er Lahai) pada Sefer Bereshit 16:14 beliau berkata:

כי בכל שנה היו הישמעאלים חוגגים אל הבאר הזה גם היום יקרא באר זמזם

(ki be khol shanah hayu hay-Yisma’elim choggim el ha-be’er hazzeh gam hay-yom yiqqare be’er zamzam). Artinya: “karena setiap tahun ada orang-orang keturunan Ismael yang melaksanakan ibadah haji menuju sumur ini, dan juga sekarang ini disebut sumur zamzam.”

Ibn Ezra ketika menjelaskan nas Sefer Bereshit 16:14 terkait istilah באר זמזם (Be’er zamzam) juga telah menyatakan dengan tegas:

כי בכל שנה היו חוגגים הישמעאלים אל הבאר הזות גם היום יקרא באר זמזם

(ki be khol shanah hayu choggim hay-Yishmaelim el ha-Be’er hazzot gam hay-yom yiqqare Be’er zamzam). Artinya: “karena setiap tahun ada orang-orang keturunan Ishmael yang berhaji menuju sumur itu dan juga sekarang ini sumur tersebut disebut sumur zumzam.”

Dalam dokumen-dokumen Rabbinik, kesinambungan tradisi intelektual Rabbi Bachya ben Asher hingga Rabbi Ibn Ezra dapat ditelusuri secara akademik. Rabbi Bachya ben Asher (1255 – 1340 M.) murid utama Rabbi Shlomo ben Avraham Aderet/Rashba (1235 – 1310 M), dan Rashba adalah murid utama Rabbi Moshe ben Nachman/Ramban (1194 – 1270 M.), sedangkan Ramban sendiri sangat akrab dengan karya intelektual Rabbi Avraham Ibn Ezra (1089 – 1164 M.). Karya Ibn Ezra אבן עזרא על התורה (Ibn Ezra ‘al ha-Torah) ini merupakan karya yang disusun berdasar Torah she be’al phe (Torah Lisan).

Itulah sebabnya dalam buku עיונים בלשונות הראב”ע karya Abe Lipshitz (Chicago: the College of Jewish Studies Press, 1969) disebutkan adanya banyak kutipan dari karya Ibn Ezra yang termaktub dalam tulisan-tulisan rabbi-rabbi otoritatif era Rishonim, dan kebenaran teksnya dikonfirmasi oleh mereka sendiri, di antaranya Rabbi David Kimchi/Radak (1160 – 1235 M.), Rabbi Moshe ben Nachman/ Nachmanides (1194 – 1270 M.), Rabbi Bachya ben Asher (1255 -1340 M.) dan para Tosafis yang pernyataan mereka juga termaktub dalam teks Gemara, Talmud Bavli.

Rabbi Moshe ben Maimon/ Maimonides (1135 – 1204 M.) berkata:

“study them (Ibn Ezra’s words) with intelligence, understanding and deep insight.”

H. Norman Strickman, Ibn Ezra’s Commentary on the Pentateuch. Genesis. Bereshit (New York: Menorah Publishing Company, 1988), p. xxii

Baka Makkah.jpg

Posted in Interfatith Dialog, Talmudic literature | Tagged , , , | Leave a comment

Hindeya-raba (הנדיא רבא) dan Makah-raba (מכה רבא) dalam Targum dan Tradisi Yahudi.

שלום עליכם
السلام عليكم

Dalam riset linguistic, Prof. James Barr, Ph.D., penulis buku “Comparative Philology and the Text of the Old Testament” (Oxford: The Clarendon Press, 1968) menyebutkan adanya hegemoni loanwords and words of non-Semitic origin dalam teks Perjanjian Lama (Biblical Hebrew Texts). Begitu juga Prof. Mats Eskhult, Ph.D., telah menulis tentang “the Importance of Loanwords for Dating Biblical Hebrew Texts” (London-New York: T & T Clark International, 2003). Prof. Mats Eskhult adalah seorang linguist dari Department of Asian and African Languages, Uppsala University (Swedan). Dalam tulisannya beliau memaparkan bahwa bahasa-bahasa dominan yang berpengaruh dan jejaknya terekam dalam teks TaNaKH (Perjanjian Lama) meliputi 4 bahasa utama, yakni bahasa Akkadia, bahasa Aramaic, bahasa Koptik (Ancient Egytian) dan bahasa Persia.

Riset yang dilakukan oleh Prof. James Barr, Ph.D. dan Prof. Mats Eskhult, Ph.D. keduanya membuktikan adanya pengaruh/dominasi loanwords of non-Semitic origin. Ini membuktikan bahwa teks Hebrew Bible (Perjanjian Lama) tidak pernah ‘menjadi’ sebagai teks suci secara steril dan terasing dari bahasa-bahasa lain yang mengitarinya.

Berdasarkan pembuktian filologis, saya mencoba meriset adanya istilah “Hoddu” sebagai “Hebraized-Sanskrit term dalam Biblical Hebrew. Begitu juga adanya istilah “Hindeya-raba” (הנדיא רבא) sebagai Aramo-Sanskrit term dalam Targum kitab Esther. Hal ini telah saya jelaskan dalam karya saya berjudul “Aryo-Semitic Philology: The Semitization of Vedas and Sanskrit Elements in Hebrew and Abrahamic Texts” (Surabaya: Airlangga University Press, 2018). Riset ini sebagai alternatif bacaan kepada para pembaca tentang adanya pengaruh kosakata asing non-Hebrew di antaranya hegemoni bahasa Sanskrit dalam korpus rumpun linguistik Arya, sebagaimana yang termaktub dalam teks Perjanjian Lama. Hegemoni bahasa Sanskrit merupakan bahasa utama dalam tradisi Arya; dan bahasa tersebut ternyata jejaknya amat dominan dalam bahasa Ibrani Masoret (Biblical Hebrew). Dalam hal ini, bahasa Sanskrit justru dominan menaklukkan (‘conquer’) bahasa Ibrani Biblikal, yang jejaknya termaktub dalam teks Perjanjian Lama.

Sebagaimana yang saya jelaskan bahwa dalam Aramaic Targum kitab Esther disebutkan istilah Hindeya-raba (הנדיא רבא) yang bermakna “India the Great.” Dalam kitab Mikraot Gedolot, Chamesh Megillot, Sefer Esther 8:9 tertulis demikian.

ולות אסטרטילוסין והפרכין ורברבנין דמתמנן ארכונין על פלכיא דמן הנדיא רבא ועד כוש …

“… u-l’wat istharthilosyn we hefarchiyn we ravrebaniyn d’mitmanan archuniyn ‘al pilchaya d’min Hindeya rabba we ‘ad Kush …”

“… dan kepada para wakil pemerintah, para bupati, dan para pembesar daerah, dari India sampai Etiopia ….”

Istilah “Hindeya-raba” (הנדיא רבא) merupakan kosakata Aramaic yang termaktub dalam Targum. Istilah הדו (Hoddu) dalam kitab TaNaKH (Torah Neviem ve Khetuvim) berbahasa Ibrani, sebagaimana yang termaktub dalam kitab Esther (Sefer Esther) yang ditulis di wilayah tradisi Arya, ternyata term הדו (Hoddu) asalnya merupakan istilah kosakata Sanskrit yang ter-Ibrani-kan atau Hebraized-Sanskrit term. Dengan kata lain, istilah הדו (Hoddu) merupakan kosakata Judeo-Sanskrit sebagai bentuk Ibranisasi dari kosakata khas keagamaan Hindu dari tradisi Arya yang kemudian diadopsi dalam bahasa Ibrani Masoret (Biblical Hebrew).

Begitu juga istilah “Macoraba” dalam peta kuno karya Ptolemy merupakan istilah Aram populer era pra-Islam, yakni מבה רבא (Makah-raba), yang bermakna “Mecca the Great”, yang dikenal di kalangan masyarakat Yahudi Yamanite (Yahudi Te

Hagra Makkah Hijrmanim). Wilayah Makah-raba (Macoraba) ini terletak di selatannnya wilayah Yatsrib (Iathrippha), dan wilayah Yatsrib (Iathrippa) ini juga terletak di selatannya wilayah Hagra (Egra) sebagaimana peta kuno karya Ptolemy era pra-Kristen. Ptolemy menyebutkan nama Macoraba, Iathrippa dan Egra yang ketiga wilayah itu terletak di kawasan Hijaz. Nama wilayah Egra yang terletak di kawasan Hijaz ini juga dibenarka

n dalam Targum Onkelos, yang dalam istilah Aramaic tersebut ternyata Onkelos menyebutnya dengan nama Hagra. Nama wilayah Hagra ini juga dibenarkan pula oleh Rav Saadia Gaon dengan menyebutnya sebagai wilayah Hijr di kawasan Al-Hijaz.

Bila Ptolemy menyebut Egra dalam istilah Yunani, maka Onkelos menyebutnya dengan nama Hagra dalam bahasa Aramaic. Bila Onkelos menyebutnya Hagra dalam Targum bhs Aramaic, maka Saadia Gaon menyebutnya dengan nama Hijr yang terletak di kawasan Al-Hijaz. Itulah sebabnya Rabbi Saadia Gaon dalam Targum bhs Arabic menyebut kawasan tersebut dengan sebutan Hijr Al-Hijaz.

Dengan demikian, wilayah Egra menurut Ptolemy memang terletak di kawasan Hejaz. Peta kuno karya Ptolemy ini ditulis pada era pra-Kristen. Begitu pula wilayah Hijr menurut Rabbi Saadia Gaon juga terletak di kawasan Al-Hijaz. Targum Arabic karya Saadia Gaon ini ditulis pada era Islam. Menurut Targum Aramaic karya Onkelos yang ditulis pada era Kristen itu sebenarnya dimana letak wilayah Hagra tersebut? Dalam kamus berjudul “A Dictionary of the Targumim, the Talmud Babli and Yerushalmi and the Midrashic Literature” yang dikompilasi oleh Marcus Jastrow, Ph.D., D. Litt. disebutkan penjelasan demikian:

חגרה, חגרא ch. pr.n. Hagra, 1) a town and province in the desert of Shur. Targ. O. Gen. 16:14 (h. text. ברד) Ib. 7 (h. text. שור). Targ. Gen. 20:1. Targ. O. Gen. 25:18 (v. חלוצא) – 2) Petra. Tosef. Shebi. 4.

Ortografi penulisan nama Hagra dalam dokumen teks-teks Rabbinic memang ada 2 model,

  1. חגרא,
  2. חגרה.

Begitu juga ortografi penulisan nama Makah dalam dokumen teks-teks Rabbinic ada 2 model,

  1. מכא,
  2. מכה.

Berdasarkan penjelasan tersebut, nama Hagra bisa merujuk pada 2 kemungkinan. Pertama, Hagra adalah nama lain dari Petra yang terletak di wilayah Yordania. Kedua, Hagra adalah wilayah yang ada di kawasan Shur. Persoalannya apakah nama lain kawasan Shur itu adalah Al-Hijaz (Hejaz) sebagaimana yang dipahami oleh Ptolemy dan Rabbi Saadia Gaon? Apa batasan wilayah Shur atau wilayah Al-Hijaz itu? Apakah Shur itu kawasan yang berhadapan dengan Mesir? Apakah Al-Hijaz itu juga kawasan yang berhadapan dengan Mesir? Apakah itu kawasan yang ada bukti arkeologisnya? Bila Hagra yang dimaksud dalam Targum Onkelos itu terletak di kawasan Shur dan hanya merujuk pada kawasan Semenanjung Sinai (padang gurun Sinai di Mesir), maka di sana tidak ada bukti arkeologis apapun. Namun, bila yang disebut sebagai wilayah Hagra itu bukan merujuk pada kawasan Semenanjung Sinai tetapi justru merujuk pada kawasan Semenanjung Arab (padang gurun Al-Hijaz di Saudi Arabia), maka di lokasi tersebut ditemukan banyak data arkeologi. Jadi pernyataan Rabbi Saadia Gaon yang menyebut Hijr sebagai padanan Hagra yang terletak di kawasan Al-Hijaz ini sepadan dengan bukti peta kuno era pra-Kristen, karya Ptolemy.

Dengan demikian, Egra yang dimaksud oleh Ptolemy memang berada di Semenanjung Arab, yakni Hejaz. Hijr yang dimaksud oleh Rav Saadia Gaon juga berada di Semenanjung Arab, yakni Al-Hijaz. Kedua tokoh ini mewakili era pra-Kristen dan era Islam. Tidak ada satu pun tokoh era pra-Kristen yang menyebutkan adanya Egra di kawasan Semenanjung Sinai. Itu berarti membuktikan bahwa lokasi Hijr yang dimaksud oleh Saadia Gaon, dan lokasi Hagra yang dimaksud oleh Onqelos maksudnya sama, yakni suatu lokasi yang berada di kawasan Semenanjung Arab yakni Al-Hijaz, yang nama lainnya adalah Shur. Kawasan Semenanjung Arab (Arab Saudi) kaya peradaban dan bukti arkeologi, yang berbeda dengan kawasan Semenanjung Sinai (Mesir) yang hampa peradaban dan ketiadaan fakta arkeologi.

Ada bukti yang tak terbantahkan bahwa Rabbi Saadia Gaon sebenarnya sangat paham teks Hebrew yang tertulis istilah הדו (Hoddu) dalam teks Masoret, dan teks Aramaic yang tertulis הנדיא (Hindeya) dalam Targum kitab Esther 8:9. Itulah sebabnya Rav Saadia Gaon dalam teks Chamesh Megillot versi Judeo-Arabic menyebutnya אלהנדי (Al-Hindi). Rav Saadia Gaon juga sangat paham teks Hebrew yang tertulis dengan istilah שור (Shur) dalam naskah Masoret dan teks Aramaic yang tertulis dengan istilah חגרא (Hagra) dalam Targum Onqelos. Itulah sebabnya Rav Saadia Gaon dalam teks Chamisha Chumshe Torah versi Judeo-Arabic menyebutkan nama Hijr yang ada di kawasan Al-Hijaz. Bahkan berdasarkan kajian validitas manuskrip kuno terhadap peta Ptolemy, yang dibuat pada Abad ke-3 SM., ternyata peta Ptolemy menyebutkan nama Egra yang ada di kawasan Hejaz (Semenanjung Arabia). Hal ini sepadan dengan Targum Onqelos yang ditulis pada Abad ke-2 M., yang menyebutkan nama Hagra. Dan teks Targum Onqelos yang menyebutkan nama חגרא (Hagra) ternyata merupakan penjelasan atas munculnya nama שור (Shur) yang termaktub dalam manuskrip tertua, yakni “the Dead Sea Scrolls” (Naskah Laut Mati) yang berdasarkan uji corban C-14 faktanya ditulis pada Abad ke-2 SM. Ini merupakan upaya pelacakan teks berdasarkan validitas kekunoan manuskrip tertua melalui uji carbon C-14 yang amat penting dengan pendekatan ilmu filologi, tekstologi dan kodikologi. Faktanya, lokasi Egra, Hagra, dan Hijr telah terlacak dengan sendirinya, dan ternyata terletak di kawasan Al-Hijaz (Semenanjung Arabia).

Selain itu, pada peta kuno tersebut, Ptolemy menyebutkan nama Macoraba yang terletak di kawasan Semenanjung Arab, bukan di kawasan Semenanjung Sinai. Bila Ptolemy menyebut Macoraba dalam istilah Yunani, maka Onkelos mempertahankan istilah Ibrani משה (Mesha) untuk menyebut wilayah tersebut, yang sebenarnya wilayah tersebut disebut מכה רבא (Makah-raba), yakni “Mecca the Great” dalam tuturan bahasa Aramaic kaum Yahudi Yaman sebagaimana yang dicatat oleh Prof. Philip K. Hitti dalam karyanya “History of the Arab: from the Earliest Times to the Present.” (New York: the Macmillan Company, 1951). Itulah sebabnya Rabbi Saadia Gaon secara gamblang menyebut kawasan tersebut dengan nama מבה (Makah) yang terletak di kawasan Semenanjung Arabia. Itulah sebabnya rabbi-rabbi otoritatif yang pernyataannya termaktub dalam kitab Mikraot Gedolot maupun Torat Chaim seperti Rabbi David Kimchi (Radak), Rabbi Bachye ben Asher dan Rabbi Ibn Ezra tidak menyangkal pernyataan Rabbi Saadia Gaon.

Rabbi Saadia Gaon menyebut dengan sebutan מכה (Makah) dalam Targum Arabic nas Sefer Bereshit 10:30 dalam Chamisha Chumshe Torah, sebagaimana beliau juga menyebut dengan sebutan אלהנדי (Al-Hindi) dalam Targum Arabic nas Sefer Esther 8:9 dalam Chamesh Megillot. Begitu pula Al-Biruni juga menyebut wilayah tersebut dengan sebutan الهند (al-Hindi) dalam kitabnya yang berjudul Tarikh Al-Hindi. Lebih detail persoalan penyebutan “India” dalam berbagai dokumen, misalnya dokumen berbahasa Sanskrit (Sindhu), Persian (Hendhu), Urdu (Hendustan), Greek (Indikes), Latin (Indie), Ibrani (Hoddu), Aramaic (Hindeya) dan Arabic (Al-Hindi) sebagaimana yang tercatat dalam dokumen-dokumen agama Hindu, agama Yahudi, agama Kristen dan agama Islam, maka Anda dapat membaca karya saya berjudul “Aryo-Semitic Philology: the Semitization of Vedas and Sanskrit Elements in Hebrew and Abrahamic Texts (Surabaya: Airlangga University Press, 2018).

Renungan

  1. Tidak ada satu pun data era pra-Kristen yang menyatakan bahwa Egra dan Macoraba terletak di Semenanjung Sinai. Dan tidak ada satu pun data era Abad Pertengahan yang menyebutkan bahwa Egra dan Macoraba ada di kawasan Semenanjung Sinai. Justru sebalinya, semua data era pra-Kristen dan data era Abad Pertengahan semuanya menyebutkan bahwa Egra dan Macoraba berada di kawasan Semenanjung Arabia.
  2. Pembahasan mengenai Egra dalam dokumen Yunani tidak dapat dipisahkan dengan pembahasan mengenai Hagra dalam dokumen Aramaic. Data mengenai kawasan Egra dan Hagra merupakan poin awal sebelum membahas mengenai Macoraba.
  3. Pembahasan mengenai הנדיא (Hindeya raba) dan חגרא (Hagra) dalam pemikiran para Targumim dalam Targum Judeo-Aramaic juga tidak bisa dipisahkan, sebagaimana pembahasan mengenai אלהנדי (Al-Hindi) dan חגר אלחגאז (Hijr Al-Hijaz) dalam pemikiran (episteme) Rav Saadia Gaon dalam Targum Judeo-Arabic.

TaNaKh

Posted in Biblical Studies, Interfatith Dialog | Tagged , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Pengaruh Bahasa Sanskrit dan Persian dalam Bahasa Ibrani (Hebrew) dan Melayu

שלום עליכם
السلام عليكم

Kita harus jujur mengakui bahwa para ahli Biblikal telah mengakui adanya pengaruh kosakata asing (loanwords) non-Hebrew bahkan non-Semitic sebagaimana yang termaktub dalam Alkitab Perjanjian Lama (TaNaKH). Adanya pengaruh kosakata asing (loanwords) non-Semitic dalam teks Perjanjian Lama (TaNaKH) merupakan suatu keniscayaan dalam proses penjadian teks, apalagi penjadian teks TaNaKH yang kemudian secara de jure ‘disucikan.’ Teks tidak pernah lahir dalam ruang hampa, dan teks itu sendiri muncul dalam arus kontak bahasa dan arus kontak budaya serta konteks sosial pada era penjadian teksnya, yang tentu saja hal ini terkait pula dengan relasi teks dengan bahasa dan interaksi budaya yang mengitarinya.

Dalam riset linguistic, Prof. James Barr, Ph.D., penulis buku “Comparative Philology and the Text of the Old Testament” (Oxford: The Clarendon Press, 1968) menyebutkan adanya hegemoni loanwords and words of non-Semitic origin dalam teks Perjanjian Lama (Biblical Hebrew Texts). Prof. Mats Eskhult, Ph.D., penulis “The Importance of Loanwords for Dating Biblical Hebrew Texts” (London-New York: T & T Clark International, 2003) dari Department of Asian and African Languages, Uppsala University (Swedan) juga memaparparkan bahwa bahasa-bahasa dominan yang berpengaruh dan terekam dalam teks TaNaKH (Perjanjian Lama) meliputi 4 bahasa utama, yakni bahasa Akkadia, bahasa Aramaic, bahasa Koptik (Ancient Egytian) dan bahasa Persia. Ini membuktikan bahwa teks Perjanjian Lama tidak pernah ‘menjadi’ sebagai teks suci secara steril dan terasing dari bahasa-bahasa lain yang mengitarinya.

Berdasarkan pembuktian filologis, saya mencoba utk menyuguhkan karya saya berjudul “Aryo-Semitic Philology: The Semitization of Vedas and Sanskrit Elements in Hebrew and Abrahamic Texts” (Surabaya: Airlangga University Press, 2018) sebagai alternatif bacaan kepada para pembaca tentang adanya pengaruh kosakata asing non-Hebrew di antaranya hegemoni bahasa Sanskrit dan Persian dalam korpus rumpun linguistik Arya, sebagaimana yang termaktub dalam teks Perjanjian Lama.

Hegemoni bahasa Sanskrit dan Persian merupakan bahasa-bahasa utama dalam tradisi Arya; dan kedua bahasa tersebut ternyata jejaknya amat dominan dalam bahasa Ibrani Masoret (Biblical Hebrew). Bahasa Sanskrit dan bahasa Persia justru dominan menaklukkan (‘conquer’) bahasa Ibrani Biblikal, yang jejaknya termaktub dalam teks Perjanjian Lama.

Mungkin seseorang akan bertanya dan merasa heran tentang adanya istilah Hoddu (הדו) yang tertulis dalam bahasa Ibrani Biblikal, sebagaimana yang termaktub dalam kitab Esther. Ternyata istilah הדו (Hoddu) tidak dapat dicari akar katanya dalam bhs Ibrani. Fakta juga membuktikan bahwa kitab Esther memang ditulis di kawasan Persia bertradisi Arya. Dalam Aramaic Targum kitab Esther juga disebutkan istilah Hindeya (הנדיא).

Mikraot Gedolot, Chamesh Megillot, Sefer Esther 8:9 tertulis demikian.

ולות אסטרטילוסין והפרכין ורברבנין דמתמנן ארכונין על פלכיא דמן הנדיא רבא ועד כוש …

“… u-l’wat istharthilosyn we hefarchiyn we ravrebaniyn d’mitmanan archuniyn ‘al pilchaya d’min Hindeya rabba we ‘ad Kush …”

“… dan kepada para wakil pemerintah, para bupati, dan para pembesar daerah, dari India sampai Etiopia ….”

Apakah istilah “Hoddu” (הדו), yakni “India” dalam bahasa Ibrani sebagaimana yang tertulis dalam teks Ibrani Masoret, dan istilah “Hindeya” (הנדיא) dalam Targum bahasa Aramaic ini merupakan pengaruh dari bahasa Persian, yakni “Hindu”? Bukankah istilah Hoddu (הדו) sendiri dari kata “Sindhu” dari bahasa Sanskrit melalui pengaruh bhs Persian? Bukankah dalam bahasa Urdu, cabang bahasa Sanskrit, ternyata wilayah tsb disebut dengan nama “Hindustan”?

Ada kutipan teks Urdu dalam buku saya berjudul “Aryo-Semitic Philology: the Semitization of Vedas and Sanskrit Elements in Hebrew and Abrahamic Texts (Surabaya: Airlangga University Press, 2018).

Istilah הדו (Hoddu) dalam kitab TaNaKH (Torah Neviem ve Khetuvim) berbahasa Ibrani, sebagaimana yang termaktub dalam kitab Esther (Sefer Esther) yang ditulis di wilayah tradisi Arya, ternyata term הדו (Hoddu) asalnya merupakan istilah kosakata Sanskrit yang ter-Ibrani-kan atau Hebraized-Sanskrit term. Dengan kata lain, istilah הדו (Hoddu) merupakan kosakata Judeo-Sanskrit sebagai bentuk Ibranisasi dari kosakata khas keagamaan Hindu dari tradisi Arya yang kemudian diadopsi dalam bahasa Ibrani Masoret (Biblical Hebrew).

Dengan adanya migrasi kosakata Sanskrit dan Persian yang ‘merembes’ ke dalam bahasa Ibrani, maka fakta tektual ini justru membuktikan adanya kesinambungan akar sejarah keagamaan dari tradisi Brahmanic (Arya) ke tradisi Abrahamic (Semit). Ini merupakan fakta bahwa bahasa Sanskrit dan Persian bertradisi Arya justru telah migrasi ke wilayah Semit.

Prof. Russel Jones dalam karyanya “Loanwords in Indonesian and Malay” (Leiden: KITLV Press, 2007) juga telah mendaftar adanya kosakata Sanskrit dan Persian yang ‘merembes’ ke dalam bahasa Indonesia dan Melayu. Di antaranya kosakata “guru”, “gapura” dan “gusti” yang diadopsi dari bahasa Sanskrit, dan juga kosakata “gandum”, nisan, kurma, nahkoda, dan “firman” yang diadopsi dari bahasa Persian. Dr. Muhammad Zafar Iqbal, dosen Sastra Persia, Program Studi Sastra Arab, Fakultas Ilmu Budaya – Universitas Indonesia (UI) juga menyatakan adanya 300 kosakata Persian yang diserap dalam bahasa Melayu, sebagaimana yang disebutkan dalam karya disertasinya “T’tsir-e Zaban va Adabiyat-e Farsi va Farhng-e Irani dar Zaban va Adabiyat-e Anunezi (Teheran: University of Teheran, 2006). Ini merupakan fakta bahasa Sanskrit dan Persian bertradisi Arya telah migrasi ke wilayah Nusantara.

Bila Anda tertarik mengikuti kajian tentang “Melacak Pengaruh Persia di Tanah Melayu” silakan ikuti kajian disertasi Dr. Bastian Zulyeno, dosen Sastra Persia, Program Studi Arab, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia (UI), yang digelar di Perpus Nasional Jakarta, dan silakan ikuti ulasannya di situs https://kerisnews.com/…/melacak-pengaruh-persia-di-tanah-m…/

Bila teks keagamaan Hindu bertradisi Arya ini migrasi ke wilayah Nusantara, maka muncullah kosakata “Geni” (api) dalam bahasa Jawa, yang berasal dari kata “Agni” (api) dalam bahasa Sanskrit. Begitu pula munculnya kosakata “Santri” (orang yang belajar kitab-kitab Islam di pesantren) dalam bahasa Jawa merupakan bentuk Islamisasi dari terminologi keagamaan Hindu (Islamized Brahmanic term) yang asalnya diadopsi dari kosakata bahasa Tamil, yakni “Santri” (orang yang belajar kitab Veda dan Vedanta); dan istilah ini ternyata juga berasal dari kata “Sastri” (orang yang belajar kitab Veda dan Vedanta) dalam bahasa Sanskrit, sedangkan kitab Veda dan Vedanta itu sendiri disebut “Sastra” dalam bahasa Sanskrit.

Jadi sebenarnya banyak kosakata Sanskrit yang diadopsi dalam bahasa Jawa. Bahkan, istilah “Jawa” itu sendiri dalam bahasa Jawa merupakan istilah serapan dari bahasa Vedic Sanskrit, yakni dari kosakata “Yava-dvipam” yang kemudian telah mengalami proses Jawanisasi menjadi “Jawa-dwipa” yang artinya “pulau Jawa.” Hal ini tentu maknanya merujuk pada konteks wilayah Jawa. Identitas wilayah Jawa memang telah tercatat dalam kitab Veda Ramayana, sehingga tidak mengherankan bila teks Veda akhirnya juga migrasi ke wilayah Nusantara, khususnya wilayah Jawa. Dalam Veda Ramayana, bagian Kiskinda-khanda 40:30 disebutkan:

yatnavanto Yava-dvipam
sapta rajyopa-sobhitam

(selanjutnya kalian akan memasuki wilayah pulau Jawa yang termasyhur, dan terdiri atas 7 kerajaan).

Sebaliknya, bila teks keagamaan Hindu bertradisi Arya ini migrasi ke wilayah Semit, maka muncullah kosakata “Hoddu” dalam bahasa Ibrani, yang berasal dari kata “Hindhu” dalam bahasa Persian. Dan, istilah “Hindhu” dalam bahasa Persian itu ternyata juga sepadan dng sebutan “Hindustan” dalam bahasa Urdu, cabang dari bahasa Sanskrit. Begitu pula munculnya istilah Ibrani תוכיים (tukiyyim, “parrots”) dalam Perjanjian Lama (the Old Testament) yang termaktub dalam kitab Raja2 (the book of Kings) dan kitab Tawarikh (the book of Chronicles) ternyata asalnya merupakan adopsi dari kosakata Tamil “tukiyyim” (parrots), dan istilah ini ternyata berasal dari kosakata bahasa Sanskrit yakni “sukim” (parrots). Menariknya, dalam kitab Talmud, Bava Batra 15.a.2 disebutkan: וירמיה כתב ספרו וספר מלכים וקינות (ve Yermiyahu katav sefero ve sefer Melachim ve Qinot – Jeremias scripsit librum suum et librum Regum et Threnos), yang artinya: “dan Nabi Yeremiyah sendiri yang telah menulis kitab Yeremiyah, begitu juga kitab Raja-raja dan kitab Ratapan.” Dan fakta historis membuktikan bahwa Nabi Yeremiyah menulis kitab-kitab tersebut di wilayah yang terhegemoni tradisi Arya. Dengan demikian, tidaklah mengherankan bila istilah תוכיים (tukiyyim) merupakan bentuk Ibranisasi dari kosakata Sanskrit (“sukim“) yang bisa disebut sebagai Hebraized-Sanskrit term. Amazing.

Dengan demikian, peradaban Arya ternyata bukan hanya menyebar ke wilayah Nusantara, tetapi juga menyebar ke wilayah peradaban Semit (Timur Tengah).

Posted in Interfatith Dialog | Tagged , , , | Leave a comment

Kesinambungan Agama  Rumpun Brahmanic dan Rumpun Abrahamic

שלום עליכם
السلام عليكم

Ada relasi antara teks suci rumpun agama2 Brahmanic dan teks suci rumpun agama2 Abrahamic. Kesinambungan itu dibuktikan dengan adanya elemen linguistik rumpun kebahasaan Aryan yang termaktub dalam teks-teks Abrahamic (Semit), yang ternyata banyak mengadopsi kosakata asing (loanwords) dari bahasa Persian dan Sanskrit. Itu berarti eksistensi teks Avestic dan Vedic tidak bisa diabaikan posisinya dalam relasi antarteks dari tradisi Arya dan Semit. Tentu saja, kajian ini tidak mencakup studi teologis yang meniscayakan justifikasi mengenai mana agama yang benar dan mana agama yang salah. Justru karya ini hanya fokus pada kajian linguistiknya semata. Kalau kajian ini terfokus pada ranah teologis dikhawatirkan pasti akan memicu konflik. Oleh karena itu, saya menghindari hal tersebut, dan hanya mengedepankan “meeting point” dalam konteks menggali adanya “common narative-nya” saja.

Dalam agama Hindu, terutama kitab Agni Purana menyatakan bahwa bahasa Sanskrit merupakan bahasa para dewa yang disebut sebagai sadhu-bhasa (bahasa suci orang suci). Bahasa Sanskrit ini dianggap bahasa suci yang dituturkan oleh Krishna, yang posisinya dijustifikasi sebagai “high level” dibanding bhs Prakrit, sedangkan bahasa Prakrit hanya disebut sebagai manusi-bhasa (bahasa manusia), bahasa yang posisinya rendah. Secara de facto, bahasa Sanskrit memang hanya dipahami oleh para sadhu, rakyat kebanyakan hanya bisa memahami bahasa Prakrit, bukan bahasa Sanskrit. Itulah sebabnya, para sadhu bertutur dalam bahasa Sanskrit, dan Sri Krishna sendiri yang akan melindungi para sadhu.

Kitab suci Bhagavad-gita, Sloka 4.7-8.
Sri Krishna bersabda:

yada yada hi dharmasya
glanir bhavati bharata
abhyuttanam adharmasya
tadatmanam srjamy aham

paritranaya sadhunam 
vinasaya ca duskrtam
dharma-samstapanarthaya
sambhavami yuge yuge.

“Kapan pun dan dimana pun pelaksanaan dharma merosot, dan hal-hal yang bertentangan dengan dharma merajalela – pada waktu itulah Aku sendiri menjelma, wahai putera keluarga Bharata. Untuk menyelamatkan para sadhu (orang saleh), membinasakan orang jahat dan utk menegakkan kembali prinsip-prinsip dharma, Aku sendiri muncul pada setiap zaman.”

Sri Krishna bersabda tentang “dharma” dalam bahasa Sanskrit. Namun, tatkala Sang Budha datang sebagai avatar ke-9 sebagaimana yang juga dibenarkan dalam kitab agama Hindu, yakni kitab Srimad Bhagavatam Purana, Sang Budha justru tidak mengucapkan “dharma” dalam bahasa Sanskrit, tetapi beliau bersabda tentang “dhamma” dalam bahasa Prakrit. Inilah fakta bahwa Sang Budha ternyata memang menuturkan sabda-sabdanya dalam bahasa Prakrit, bukan dalam bahasa Sanskrit.

Kitab suci Dammapada, Pandita Vagga 4.79
Sang Budha bersabda:

dhammapita sukham seti
vippasannena cetasa
Ariyappavedite dhamme
sada ramati pandito.

“Ia yang mengerti dhamma hidup berbahagia dengan pikiran yang jernih dan tenang. Orang bijaksana selalu berbahagia dalam dhamma yang telah dibabarkan oleh para Ariya.”

Berdasarkan teks kitab suci Bhagavad-gita dan Dhammapada tersebut membuktikan adanya perbedaan bahasa yang dituturkan oleh Sri krishna dan Sang Budha. Namun, perbedaan penggunaan bahasa tersebut bukan sekedar perbedaan pelafalan “dharma” dalam bahasa Sanskrit menjadi “dhamma” dalam bahasa Prakrit, justru berbedaan penggunaan bahasa itu mengekspresikan penanda identitas yang meniscayakan perebutan wacana ttng superioritas bahasa Prakrit dibanding bahasa Sanskrit. Itulah sebabnya, saat Sang Budha membabarkan sabda-sabdanya dalam bahasa Prakrit, maka posisi bahasa Sanskrit sebagai bahasa suci para sadhu dan sebagai bahasa suci dalam penulisan pewahyuan kitab suci Veda tersebut ternyata dijungkirbalikkan posisinya. Bahasa Prakrit akhirnya “naik kelas” menggantikan posisi bhs Sanskrit. Itulah sebabnya Sang Budha bertutur dalam bahasa Prakrit, bahasa yang dianggap “rendah” oleh para sadhu pada zamannya, dan Sang Budha sendiri dalam menyampaikan sabda-sabdanya – beliau tidak mau menuturkannya dalam bahasa suci Sanskrit. Dalam konteks ini, Sang Budha memelopori “gerakan perlawanan anti kemapanan” yang akhirnya para bhikkhu, yakni para murid Sang Budha menjadikan bahasa Prakrit sebagai bahasa suci dalam tuturan para bhikkhu dan sebagai bahasa suci dalam penulisan pewahyuan kitab suci Tripitaka. Narada Mahathera dalam karyanya yang berjudul “Buddhism in a Nutshell/ Intisari Agama Buddha” (Semarang: Yayasan Dhamma Phala, 2002), hlm. 10 menyebutkan bahwa kanonisasi dan kodifikasi kitab suci Tripitaka telah dirampungkan sejak era pra-Kristen, tepatnya tahun 83 SM. pada masa Raja Vattagamani Abhaya saat memerintah di Srilangka.

Dengan demikian, Sri Krishna dan para sadhu menjadikan bahasa Sanskrit sebagai bahasa suci dan sebagai bahasa “kelas tinggi”, sedangkan bahasa Prakrit dijustifikasi sebagai bahasa “kelas rendah.” Sebaliknya, Sang Budha dan para bhikkhu menjadikan bahasa Prakrit (Pali) sebagai bahasa suci dan sebagai bahasa “kelas tinggi”, sedangkan bahasa Sanskrit sebaliknya. Inilah fakta adanya “revolution in the name of revelation.”

Rashi dan Ramban dalam kitabnya juga menyebutkan bahwa bahasa Ibrani disebut sebagai לשון הקדש “leson haq-qodesh” (bahasa suci). Bahasa Ibrani (Hebrew) ini merupakan bahasa para nabi dan bahasa para rabbi, sekaligus sebagai bahasa pewahyuan kitab suci TaNaKH (Torah Neviem ve Khetuvim) dalam agama Yahudi. Hal ini sebagaimana penjelasan Rashi dalam kitabnya פירושי רש”י על התורה (Pherushi Rashi ‘al ha-Torah) dan Ramban dalam kitabnya פרוש הרמב”ן על התורה (Pherush ha-Ramban ‘al ha-Torah). Nabi Musa juga menyampaikan firman-Nya dan menuturkan doa berkat dalam bahasa Ibrani (Hebrew), dan bukan dalam bahasa Aramaic. Dalam Sefer Devarim/Deuteronomy 33:29 Musa menuturkan doa berkat sbb.

אשריך ישראל מי כמוך
עם נושע ביהוה מגן עזרך
ואשר-חרב גאותך ויכחשו
איביך לך
ואתה על במותימו תדרך

Ashreikha Yisrael mi kemokha?
‘Am nosha’ ba DONAI magen ‘ezrekha.
Ve asher cherev ga’avatekha ve yikkachashu
oiveikha lakha 
Ve atta ‘al bemoteimo tidrokh.

“Berbahagialah engkau hai Israel. Siapakah yang seperti engkau? Suatu umat yang diselamatkan oleh TUHAN, perisai penolongmu; dan Dialah pedang kejayaannmu. Dan yang memusuhimu akan ngeri terhadapmu, dan engkau akan berjejak di tempat-tempat tinggi mereka.”

Dalam kitab Ratapan 3:9 Nabi Jeremiah juga menyatakan dalam bhs Ibrani:

“Rabba emunateka.”
(Great is Thy faithfulness)

Dalam kitab Mazmur 27:4 Nabi Daud juga menyatakan dalam bhs Ibrani:

“le-bakker be-hekalo.”
(and to inquire in His temple).

Nabi-nabi dalam kitab TaNaKH bertutur dalam bahasa Ibrani sebagai bahasa suci לשון הקדש (leson haq-qodesh). Bahasa Ibrani juga menjadi bahasa suci dan bahasa utama tulisan para rabbi. Itulah sebabnya teks-teks penjelasan para rabbi atas kitab TaNaKH disebut kitab מקראות גדולות (Mikraot Gedolot), yang juga disebut sebagai Rabbinic Bible (Alkitab Rabbinik). Namun, pada saat yang sama, ternyata bahasa Galilaean Aramaic atau Syriac dianggap bukan sebagai bahasa suci, dan dianggap sebagai bhs “kelas rendah”, yakni bahasa rakyat kebanyakan. Tatkala Kristus datang dan menyatakan dirinya sebagai nabi yang dijanjikan menurut kitab TaNaKH (Torah Neviem ve Khetuvim), maka dia menuturkan sabda-sabdanya dalam bahasa Suryani (Syriac), bukan dalam bhs Ibrani (Hebrew). Dalam the Gospel of Matthew 6:9-13 Sang Kristus bersabda dan mengajarkan doa dalam bahasa Syriac yang disebut Galilaean Aramaic sbb:

“Abunan de-bismayya
yitkaddas semak
tete malkutak 
tehe sibyonak
hekma de-bismayya hekden be-ar’a

lahman de-yoma 
hab lan yoma den
usebok lan hoben
hek disbaknan le-hayyaben
wela ta’linan le nisyona
‘ella passinan min bisa.”

(Our Father in heaven
hallowed be Thy name.
Thy kingdom come
Thy will be done
As in the heaven so on earth.

Our daily bread
give us today
And forgive us our debts as we forgive our debtors.
And lead us not into temptation but deliver us from evil).

Rev. C.F. Burney, MA., D.Litt. dalam karyanya “The Poetry of our Lord: An Examination of the Formal Elements of Hebrew Poetry in the Discourses of Jesus Christ” (Oxford: The Clarendon Press, 1925), hlm. 113 menyebutkan doa “Bapa Kami” dalam bahasa Galilaean Aramaic. Begitu juga Matthew Black dalam karyanya “An Aramaic Approach to the Gospel and Acts” (Oxford: The Clarendon Press, 1957) dan F.F. Bruce, MA. dalam karyanya “The Books and the Parchments: Some Chapters on the Transmission of the Bible (London: Pickering & Inglis Ltd., 1953), hlm. 55 juga menyebutkan bahwa Kristus menyampaikan sabda-sabdanya dalam bahasa Aramaic, bukan dalam bahasa Hebrew, misalnya: talitha qumi, efata, Elahi Elahi lema shebaqtani.

F.F. Bruce menyatakan:

“We have one or two short sentences preserved in Aramaic from the lips of Christ himself such as “talitha qumi” in Mark 5:41 (little girl get up), “ephphatha” representing a dialect form of “ithpattach” in Mark 7:34 (be opened), and the cry of dereliction on the Cross, “Eloi Eloi lama sabachthani” (Elahi Elahi lema shebaqtani) in Mark 15:34. These last words are not the Hebrew original of Psalms 22:1 which runs “Eli Eli lama azabtani, but an Aramaic version.”

Bible NIV juga menyebutkan 3 bahasa yang tertulis di kayu salib saat Kristus disalibkan, yakni bahasa Aramaic, Latin dan Yunani. John 19:19-20.

“Pilate had a notice prepared and fastened to the cross. It read: Jesus of Nazareth the King of the Jews. Many of the Jews read this sign, for the place where Jesus was crucified was near the city and the sign was written in Aramaic, Latin and Greek.”

Dalam Perjanjian Baru berbahasa Ibrani (Hebrew New Testament), the Gospel of Mark 5:41 tertulis demikian.

הוא אחז את ידה הילדה
ואמר אליה טליתא קומי שתרגומו
נערה קומי – אני אומר לך

Hu achaz et yadah shel hay-yaleddah
ve amar aleyha: thaleta qumi shetargumo na’arah qumi -ani omer lakh

Pada Mark 5:41 membuktikan bahwa frase טליתא קומי (thalita qumi) adalah frase non-Hebrew. Itulah sebabnya diikuti dengan kata תרגומו (targumo) yang bermakna “artinya”, dan kemudian diikuti dengan frase Hebrew (Ibrani), yakni נערה קומי (na’arah qumi). Ini membuktikan bahwa frase טליתא קומי (thalita qumi) adalah frase Aramaic, yang sekaligus menegaskan bahwa Kristus memang berbicara dalam bhs Aramaic.

David H. Stern dalam karyanya “Jewish New Testament Commentary: A Companion Volume to the Jewish New Testament (Clarksville, USA: Jewish New Testament Publications, 1992), hlm. 90 juga menyebutkan bahwa tatkala membahas Mark 5:41 beliau berkata: “talita kumi. Little girl, get up! in Aramaic.”

Biible NIV juga menyebutkan bahwa Sang Kristus berbicara kepada Saul juga dalam bahasa Aramaic.

Acts 26:14-15

“We all fell to the ground and I heard a voice saying to me in Aramaic, ‘Saul Saul why do you persecute me? It is hard for you to kick against the goads. Then I asked: ‘Who are you Lord?’ I am Jesus whom you are persecuting, the Lord replied.”

Kisah Para Rasul 26:14-15

“Dan ketika kami semuanya rebah ke tanah, aku mendengar suatu suara yang berbicara kepadaku dan yang berkata dalam bahasa Aramaic: ‘Saul Saul mengapa engkau menganiaya aku? … Maka aku berkata: ‘Siapakah engkau Tuan? Dan dia berkata: ‘Akulah Yesus yang sedang engkau aniaya.”

Sejarah membuktikan bahwa bahasa Ibrani (Hebrew) hanya dipahami oleh para rabbi, sedangkan rakyat kebanyakan hanya memahami bahasa Aramaic. Tatkala Sang Kristus datang, maka bahasa Ibrani ternyata posisinya dijungkirbalikkan, dan bahasa Aramaic atau Syriac ‘naik kelas’ menggantikan posisi bahasa Ibrani. Bahkan, tatkala agama Kristen telah mapan dan bahasa Syriac telah menjadi bahasa suci para rahib serta sebagai bahasa suci dalam penulisan pewahyuan teks Peshitta, ironisnya saat itu, bahasa Arab posisinya juga “amat rendah.” Pada era pra-Islam, orang-orang Arab yang menjadi Kristen juga tidak menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa liturgi ataupun sebagai ekspresi bahasa keagamaan. Itulah sebabnya tidak ada satu pun bukti Alkitab berbahasa Arab era pra-Islam. Bahkan, semua versi terjemahan Alkitab bhs Arab terpengaruh gramatika bhs Arab khas Islam. Fakta sejarah membuktikan bahwa orang-orang Arab Kristen era pra-Islam hanya menggunakan bahasa Arab dalam tuturan lokal terbatas yang bersifat non-keagamaan.

Namun tatkala Islam datang, bahasa Arab “naik kelas” dan menjadi bahasa suci dalam penulisan pewahyuan teks Quran, dan bahasa Syriac akhirnya dijungkirbalikkan posisinya; dan bhs Arab kemudian menjadi bahasa wahyu menggantikan posisi bahasa Syriac itu sendiri.

Dalam studi linguistik, bahasa dan kesucian sebenarnya merupakan 2 hal yang berbeda. Bahasa itu bersifat netral. Namun dalam konteks keagamaan, keduanya secara teologis akhirnya dipahami oleh komunitas keagamaan bersifat recto and verso. Jadi entitas bahasa itu sebenarnya tidak an sich bersifat suci, dan kini telah kehilangan akarnya. Padahal bahasa menjadi suci justru akibat “pengaruh” dari pewahyuan yang dituturkan oleh sang tokoh suci atau teks suci itu sendiri. Sekali lagi, ini aspek kajian non-teologis, yang tentu saja berbeda dengan pandangan para teolog.

Karya saya berjudul “Aryo-Semitic Philology: Semitization of Vedas dan Sanskrit Elements in Hebrew and Abrahamic Texts” (Surabaya: Airlangga University Press, 2018) membahas tuntas kitab2 suci agama rumpun Abrahamic berdasarkan kajian linguistik historis (filologis), dan khususnya Quran yang menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa suci – menurut Muslim (bukan menurut saya sebagai peneliti), memang sebagai teks yang final, corpus tertutup, tidak ada lagi kitab suci pasca-Quran. Ini tentu sekali lagi menurut perspektif masing2 agama bisa beda. Poin saya “One Word Manys Versions“.

Screen Shot 2018-06-28 at 17.08.53.png

Posted in Interfatith Dialog | Tagged , , , | Leave a comment

Berebut Wacana: Antara Bahasa Ibrani dan Bahasa Sanskrit

Kesejajaran dan kemiripan cerita dalam teks Veda Mahabharata dan teks Torah memang sangat menakjubkan. Dengan melalui proses pembacaan teks, justru kita dapat membuktikan adanya benang merah di antara kedua kitab suci itu, ada semacam common heritage; di antaranya berkaitan tentang kisah Aswattama dan Kain yang memiliki pesan ideologis yang sama meskipun berbeda setting.

Aswattama memang dikutuk oleh Sri Krishna, sebagaimana Kain juga dikutuk oleh TUHAN; Kain diusir menuju wilayah Timur yakni ke wilayah Nod, sedangkan Aswattama diusir menuju ke wilayah Barat yakni ke wilayah Arva-sthan. Wilayah Arvasthan ini memang jauh dari wilayah הנדיא (Hindeya), dan nama הנדיא (Hindeya) itu sendiri ternyata merupakan kosakata Sanskrit yang ter-Aram-kan (Aramized-Sanskrit term) sebagaimana yang tercatat dalam Aramaic Targum, khususnya Targum Esther berbahasa Aram tatkala menjelaskan istilah הדו (Hoddu) dalam teks Ibrani Masoret, Sefer Esther 1:1.

Dalam teks Veda, wilayah Arva-sthan merujuk kawasan peradaban Semitik (Semitic civilization), penutur bahasa-bahasa pewaris Sem ben Noach. Itulah sebabnya wilayah peradaban Semitik dalam Veda disebut Arvasthan, yang bermakna “wilayah orang-orang yang “menyeberang”, “pindah”, atau “migrasi.” Dalam bahasa Sanskrit, istilah Arva-sthan berasal dari gabungan 2 kata kunci yakni Arv yang berarti “bergerak”, “berpindah”, “nomad”, “menyeberang”, yang ternyata kosakata Sanskrit ini sepadan dengan istilah עבר (Evr) dalam bhs Ibrani yang juga bermakna “menyeberang”, “pindah”, migrasi”, dan dari kata עבר (Evr) inilah kemudian muncul istilah ‘Ivrit עברית (bahasa Ivrit) yakni bahasa Ibrani (Hebrew). Sebutan istilah Arva(n) dalam kamus-kamus bahasa Sanskrit merujuk kepada orang-orang yang tinggal di kawasan Arvasthan, yakni di wilayah Barat yang jauh dari kawasan Hindhu-sthan. Orang-orang Arvasthan dalam Veda ternyata mereka juga disebut sebagai orang-orang Mleccha. Istilah Mleccha berasal dari akar kata Mlech, yang berarti “berbicara dgn tidak jelas”, “tidak utuh.” Jadi orang-orang Arvasthan adalah penutur bahasa yang “tidak utuh”, “tidak jelas” atau “kacau.” Kamus Sanskrit karya Arthur Anthony Macdonell (Oxford University Press, 1929), Vaman Sivram Apte (New Delhi: Motilal Banarsidas, 1987) membenarkan hal ini sebagaimana penjelasan pakar embriologi bahasa Sanskrit, Made Harimbawa dari Universitas Indonesia.

Dengan demikian, ini menjadi bukti bahwa ternyata ada semacam common episteme dengan narasi suci yang termaktub di dalam kitab Torah. Rashi ketika menjelaskan Sefer Bereshit/Genesis 11:1 terkait tentang bahasa yang satu – safah echad (שפה אחד) – sebelum dikacaukan oleh TUHAN disebut dengan istilah לשון הקדש leson haq-qodesh (bahasa suci) yakni merujuk pada eksistensi bahasa עברית (Ibrani), yang secara literal berasal dari akar kata עבר (Evr). Dalam Torah Sefer Bereshit 11:9, TUHAN telah mengacaubalaukan/confused בלל (balal) bahasa. Itulah sebabnya bahasa Ibrani disebut sebagai bahasa suci (leson haq-qodesh) sedangkan the other (bahasa lain) disebut “balal”, yakni bahasa yang sudah mengalami “kacau balau”, “tidak utuh”, “tidak jelas”.

Menurut teks Veda, bahasa Sanskrit adalah bahasa orang suci (sadhu-bhasa) dan istilah Sanskrit ternyata berasal dari akar kata samskrt, yakni sesuatu yang sudah “steril”, “perfecto”, “bersih”, “tidak kacau.” Itulah sebabnya tata bahasa dalam bahasa Sanskrit disebut “vyakarana”, artinya: “sudah teratur/teranalisa.” Sementara itu, Veda menyatakan bahwa bahasa orang-orang yang “menyeberang” disebut sebagai bahasa Mleccha (bahasa yang kacau, tidak jelas dan tidak utuh). Dengan demikian, menurut Torah bahasa orang-orang non-Ibrani disebut sebagai bahasa orang-orang Babel yang telah dikacaubalaukan – בלל (balal) oleh TUHAN, sedangkan menurut Veda justru sebaliknya, bahasa non-Sanskrit adalah bahasa yang kacau, tidak steril, tidak utuh, tidak perfecto, dan tidak jelas. Menurut Rashi, bahasa Ibrani disebut sebagai leson haq-qodesh (bahasa suci), yang merujuk bahasa para Nabi; sedangkan menurut Panini, Patanjali dan Valmiki justru bahasa Sanskrit yang disebut sebagai sadhu-bhasa, yakni bahasa suci para Sadhu dan bahasa suci para dewa sebagaimana yang termaktub dalam teks Veda Ramayana. Itulah sebabnya aksara yang digunakan untuk menulis teks berbahasa Sanskrit disebut aksara deva-nagari, yang arti harfiahnya adalah “aksara dewa.” Inilah yang disebut sebagai perebutan wacana antara tradisi Arya dan tradisi Semit sebagaimana yang tercermin dalam teks Veda dan Torah. Similar but not exactly the same.

Dalam teks Ramayana, Sundarakanda 30: 17-18 dinyatakan demikian mengenai apa itu bahasa Sanskrit.

aham hyatitanuscaiva vanarasca visesatah.
vecam codaharisyami manusim iha samskrtam: yadi vacam pradasyami dvijatir iva samskrtam. ravanam manyamana mam Sita bhita bhavisyati:

Renungan

1. Berdasarkan kajian linguistik, sebutan “Mleccha” merujuk pada tuturan bahasa bagi orang2 yang gramatika bahasanya dipandang tidak lengkap (tidak utuh). Itulah sebabnya, indikasi ketidaklengkapan itu ternyata dapat ditemukan adanya pengaruh kosakata Sanskrit dan varian atau pun cabang dari bahasa Sanskrit yang meresap dan “merangsek” ke dalam rumpun bahasa-bahasa Semitic melalui proses adopsi dan adaptasi, yang kemudian kosakata serapan itu mengalami kemapanan seiring dengan perkembangan dan kemapanan bahasa2 rumpun Semitic itu. Dalam proses itulah kosakata serapan dari unsur elemen2 Aryan juga dipandang suci karena pengaruh bahasa Sanskrit dan turunannya, yakni Hindi, Benggali, Tamil dll. Hal ini juga diakui oleh pakar embriologi linguistik Sanskrit dari Univ. Indonesia, Made Harimbawa. Jadi tidak heran kalau ada elemen2 kebahasaan dari tradisi Veda dan Avesta yg merupakan rumpun Arya ternyata bisa sampai ke kawasan rumpun bahasa Semitic, yang akhirnya berkembang dan menginspirasi agama-agama Abrahamic.

2. Abu Raihan Muhammad bin Ahmad Al-Biruni (973-1048 M) dalam bukunya Tahqiq li Al-Hindi menyebutkan bahwa bhs Sanskrit amat banyak kosakata dan infleksinya, memiliki unsur Aritmatik, memberikan nama yang banyak terhadap barang yang satu dng kata-kata yang aslinya, yang belum berubah maupun kata-kata yang sudah mendapat perubahan. Atau juga sebaliknya, menyebut dng satu kata terhadap barang-barang yang berbeda-beda, yang utk membedakannya perlu dibarengi dengan tambahan yang berlainan. Karena itu, tidak ada yang bisa membedakan di antara sekian banyak arti dari satu kata kecuali ia mengetahui hubungan kata itu dengan kata di depan maupun yang di belakangnya dalam satu kalimat. Bahasa Sanskrit juga mempunyai proses pembentukan kata yang amat rapi, sangat kompleks dan sangat matematis. Hal ini juga dibenarkan oleh Sachau dan J.F. Stael. Kerumitan dan kompleksitas proses pembentukan kata tersebut juga diakui oleh Prof. Russel Jones yang pakar bahasa Yunani dan sekaligus pakar bahasa Sanskrit. Menurut Made Harimbawa, fakta kompleksitas itu terbukti, sebab nama atau kosakata tidak terikat pada benda/fenomena, tetapi terikat pada deskripsi sang pengucap. Maksudnya, satu benda bisa punya belasan atau lebih kata. Pernyataan Made Harimbawa ini merupakan pengulangan dan konfirmasi dari ulasan Al-Biruni dalam karyanya Tahqiq Al-Hindi. Vedic Sanskrit masih mengikuti aturan ini; dan dalam bhs Sanskrit tidak ditemukan adanya loanwords (kosakata serapan) di dalamnya. Hal ini justru berbeda dengan bahasa Ibrani (Hebrew) yang banyak ditemukan adanya loanwords (kosakata serapan) di dalamnya. Fakta ini juga dibenarkan oleh Prof. James Barr dalam karyanya yang berjudul “Comparative Philology and the Text of the Old Testaments” (Oxford: The Clarendon Press, 1968), juga Prof. Mats Eskhult dalam karyanya “The importance of Loanwords for Dating Biblical Hebrew (London – New York: T & T Clark International, 2003).

3. Sebutan “Mleccha” dalam teks Veda yang merujuk pada entitas bahasa yang kacau, tidak utuh, tidak lengkap, dan tidak jelas itu bisa ditafsirkan sebagai bahasa yang sederhana, tidak terlalu rumit, tidak terlalu kompleks grammatikanya. Dalam kajian linguistik historis misalnya, bahasa rumpun Semitic – termasuk bahasa Ibrani – adalah bahasa yang sangat sederhana aturan gramatikanya, tidak terlalu kompleks makna semantiknya, satu kata bisa bermakna ganda; sedangkan bahasa Sanskrit adalah bahasa yang sangat rumit aturan gramatikanya, sangat kompleks makna semantiknya, sangat utuh dan sangat jelas unsur pembeda artinya.

4. Apakah varian narasi yang teksnya berkisah tentang Aswattama dan Kain sebagaimana yang termaktub dalam kedua kitab suci tersebut merupakan sebuah pesan adanya pertarungan wacana antara non-Arya dan non-Semit? Antara non-Hindu dan non-Yahudi? Teks tidak semata-mata dianggap sebagai pesan dari langit, sebab teks memang tidak lahir dalam ruang hampa, teks selalu terkait dengan simbol-simbol dan ideologi yang mengitarinya. Ini perlu kajian mendalam dan serius. Silakan baca buku saya “Aryo-Semitic Philology: the Semitization of Vedas and Sanskrit Elements in Hebrew and Abrahamic Texts.” (Surabaya: Airlangga University Press, 2018).

 

img-20180522-wa00118403580893794179019.jpg

Posted in Interfatith Dialog | Tagged , , , | Leave a comment

Menalar Ulang Kuasa Teks Suci: Veda Mahabharata dan Sefer Torah

הרא קרישנה הרא קרישנה
קרישנה קרישנה הרא הרא
הרא רמה הרא רמה
רמה רמה הרא הרא

Hitungan kalendar Yahudi, sekarang ini adalah 5778, sejajar dng kalender Masehi yakni 2018 M. Hitungan kalendar Kristen sekarang adalah 2018, sedangkan hitungan kalender Budha sekarang ini adalah 2562. Jadi kelahiran Sang Budha lebih awal dan lebih tua dibanding kelahiran Sang Kristus, 2018 M. Bila Sang Budha sebagai avatara ke-9 maka Sri Krishna adalah avatara ke-8. Jadi berkaitan dengan kajian kesejarahan, maka Krishna tidak mungkin eranya sezaman dengan Kristus. Artinya, masa kehidupan Krishna jauh lebih terdahulu dibanding era kehidupan Kristus. Vyasa-deva sang kompilator kitab Mahabharata saja hidup sebelum era Sang Buddha. Itu berarti bahwa Krishna memang dilahirkan jauh sebelum era Sang Buddha.

Dalam kitab Srimad Baghavatam Purana I.3.24. disebutkan:

tatah kalau sampravrtte
sammohaya sura dvisam
Buddho namnanjaya sutah
kikatesu bhavisyati.

“then the beginning of Kali-yuga, the Lord will appear as Lord Buddha, the son of Anjana in Kikatesu – the province of Gaya (Bihar) just for the purpose of delucing those who are envious of the faithful theist.”

Hitungan kalender Yahudi dimulai sejak pasca banjir Nuh. Persoalannya: cerita mengenai banjir Nuh itu terkodifikasi dalam Torah yang diterima oleh Musa, dan jarak antara Nuh hingga masa Nabi Musa itu ratusan tahun. Jadi wajar bila kehidupan Krishna lebih dulu ada dibanding masa kehidupan Musa. Dengan demikian, amat wajar bila ada kesejajaran cerita (common narrative) antara kitab Torah dan kitab Mahabharata, similar but not exactly the same.

Di dalam kitab Torah disebutkan adanya tokoh yang bernama Kain yang membunuh Habel, dan kemudian akhirnya Kain dikutuk serta diusir oleh TUHAN, migrasi menuju wilayah Timur (lihat Sefer Bereshit/Genesis 4:11-16). Pada Sefer Bereshit 4:16 ayatnya berbunyi demikian: וישב בארץ נוד קדמת עדן – vayyesev be-eretz Nod qidmat Eden (“dan dia/Kain menetap di tanah Nod, di sebelah Timur Eden”). Kain memang pergi ke arah Timur – yang dalam bahasa Hebrew (Ibrani) disebut “qidmat” (קדמת), yang berasal dari akar kata “qedem” (קדם), dan wilayah Timur itu yakni menuju kawasan Nod (נוד). Rashi (Rabbi Shlomo ben Yitzhak) menyatakan Istilah nama wilayah Nod bermakna “wandering” – the land where exiles wander about …… Notably, the eastern region always forms a place of refuge for murderers.” (Sefer Bereshit/Genesis: A New Translation With A Commentary Anthologized from Talmudic, Midrashic and Rabbinic Sources, Brooklyn: Mesorah Publications, 2009:158). Rashi menafsirkannya sebagai wilayah הרוצחים – ha’rotzechim (para pembunuh). Sementara itu, di dalam kitab Mahabharata disebutkan adanya tokoh yang bernama Aswattama yang membunuh keturunan Pandawa, dan kemudian akhirnya Aswattama dikutuk oleh Krishna dan diusir, serta migrasi menuju wilayah Barat. Berkaitan ttg tokoh Aswattama yg diusir Sri Krishna hingga ke wilayah Arva-sthan yang merupakan wilayah kaum Mleccha (non-Arya) ini amat penting dikaji. Dalam bhs Sanskrit, istilah Arva-sthan berasal dari gabungan 2 kata kunci yakni Arva (migrasi/berpindah) + sthan (wilayah), coba bandingkan dng sebutan “Hindu-sthan” dalam bahasa Urdu, yang bermakna “wilayah Hindu.” Istilah Hindusthan juga berasal dari gabungan 2 kata kunci yakni Hindu (lembah Hindu/Sindhu) + sthan (wilayah).

Istilah “Arva” ini sepadan dengan istilah bahasa-bahasa rumpun Semit, terutama bahasa Arab dan Ibrani. Dalam bahasa Arab misalnya, muncul kata عرب (‘Arab) dan dalam bahasa Ibrani (Hebrew) muncul juga kata עבר (‘Ever/ ‘Eber) yang kedua istilah Semitic tersebut bermakna “nomad”, “berpindah”, “migrasi” dan “menyeberang.” Intinya istilah Arva atau Arva(n) terkait dng tradisi masyarakat Urban yang meniscayakan komunitas migrasi. Dan dalam kamus bahasa Sanskrit karya Vaman Shivram Apte ‘The Practical Sanskrit – English Dictionary’ (New Delhi: Motilal Banarsidas, 1987) ternyata dijelaskan bahwa istilah Arva(n) juga bermakna: “kejam”, “kasar”, “pembunuh.” Hal ini juga dibenarkan oleh pakar embriologi bhs Sanskrit, Made Harimbawa. Jadi Arva-sthan adalah wilayah Arva(n) yakni wilayah “para pembunuh.” Itulah sebabnya Aswattama telah migrasi ke wilayah Arvasthan dan memulai peradaban dan agama baru di sana. Bahkan Aswattama dikutuk hidup sangat lama (chiranjivi) utk memperbaiki kesalahannya dan menuntun anak keturunannya di wilayah “para pembunuh.” Begitu juga sang tokoh dari tradisi Semit yang bernama Kain, dia dikutuk hidup sangat lama utk memperbaiki kesalahannya dan agar dapat menuntun keturunannya di wilayah “para pembunuh.” Cerita yg sangat paralel ini sangat menarik. Kajian teks ini tentu saja akan menjembatani relasi kajian kesastraan yang berkaitan dengan analisis teks dari segi kebahasaan. Dalam konteks ideologi kepengarangan yang berbasis narasi pengisahan ini, apakah sang tokoh yang bernama Kain itu yang menyebarkan teks Semit ke wilayah Arya? Atau sebaliknya, justru sang tokoh yang bernama Aswatama itulah yang menyebarkan teks Arya ke wilayah Semit? Persoalan migrasi teks suci tersebut tergantung dari sudut pandang iman masing-masing.

Berdasarkan pembuktian manuskrip, kitab Mahabharata faktanya memang lebih tua dibanding kitab Torah (Pentateuch). Tulisan tangan tertua dari Taurat itu abad ke-2 SM., yakni manuskrip the Dead Sea Scrolls (naskah Laut Mati), sedangkan manuskrip yang berisi kutipan-kutipan bacaan teks kitab Mahabharata yang termaktub dalam buku gramatika bahasa Sanskrit karya Panini itu ternyata telah ditulis pada abad ke-4 SM. Jadi pastinya teks Mahabharata justru jauh lebih tua atau lebih kuno dari pada teks Torah (Pentateuch/ the Old Testament) karena secara de facto teks Panini ditulis pada abad ke-4 SM.

Bila Abraham lahir sekitar tahun 2165 SM., maka Sri Krishna telah lahir 4000 tahun SM. Jadi dengan demikian agama Hindu lebih tua dibanding agama Yahudi, dan Sri Krishna telah ada sebelum Abraham dilahirkan. Bahkan agama Hindu (Brahmanic religion) telah eksis sebelum kelahiran agama-agama Abrahamik yang disebut Abrahamic religions: Yahudi, Kristen dan Islam. Apalagi fakta membuktikan bahwa cerita mengenai Abraham justru termaktub dalam kitab Torah, kitab yang ditulis oleh Musa yang mana jarak antara Abraham dan Musa sendiri itu ratusan tahun. Jadi penentuan tahun kelahiran Abraham masih spekulatif. Satu-satunya alat bukti yang valid adalah menggunakan analisis terhadap teks TaNaKH (the Old Testaments) itu sendiri melalui kajian linguistik komparatif (filologis), yaitu dengan cara melacak adanya pengaruh kosakata Vedic Sanskrit dan Persia (Arya) dalam bahasa Ibrani Masoret (Semit). Silakan Anda pelajari karya Prof. James Barr dalam karyanya yang berjudul “Comparative Philology and the Text of the Old Testaments (Oxford: Clarendon Press, 1968), khususnya pada hlm. 101 – 111 beliau secara khusus membahas tentang subtema: “Loanwords and Words of non-Semitic Origin.”

Dalam buku saya berjudul “Aryo-Semitic Philology: the Semitization of Vedas and Sanskrit Elements in Hebrew and Abrahamic Texts (Surabaya: Airlangga University Press, 2018) terdapat kajian yang patut dipertimbangkan. Dalam karya riset saya ini hanya sekedar melanjutkan dan memperdalam kajian Prof. James Barr, Ph.D. yang saya fokuskan tentang adanya Sanskrit Loanwords dalam Biblical Hebrew sebagaimana yang termaktub dalam The Old Testaments (Perjanjian Lama). Hal ini semakin mempertegas validitas adanya migrasi teks Arya ke wilayah Semit.

Istilah הדו (Hoddu) dalam kitab TaNaKH (Torah Neviem ve Khetuvim) berbahasa Ibrani, sebagaimana yang termaktub dalam kitab Esther (Sefer Esther) yang ditulis di wilayah tradisi Arya, ternyata term הדו (Hoddu) merupakan istilah kosakata Sanskrit yang ter-Ibrani-kan atau Hebraized Sanskrit term. Dengan kata lain, istilah הדו (Hoddu) merupakan kosakata Judeo-Sanskrit sebagai bentuk Ibranisasi dari kosakata khas keagamaan Hindu dari tradisi Arya yang kemudian diadopsi dalam bahasa Ibrani Masoret (Biblical Hebrew).

Teks keagamaan Hindu bertradisi Arya ini migrasi ke wilayah Semit, maka muncullah kosakata “Hoddu” dalam bahasa Ibrani, yang berasal dari kata “Hindhu” dalam bahasa Sanskrit. Dan, istilah “Hindhu” dalam bahasa Sanskrit itu ternyata juga sepadan dng sebutan “Hindustan” dalam bahasa Urdu. Begitu pula munculnya istilah Ibrani תוכיים (tukiyyim, “parrots”) dalam Perjanjian Lama (the Old Testament) yang termaktub dalam kitab Raja2 (the book of Kings) dan kitab Tawarikh (the book of Chronicles) ternyata asalnya merupakan adopsi dari kosakata Tamil “tukiyyim” (parrots), dan istilah ini ternyata berasal dari kosakata bahasa Sanskrit yakni “sukim” (parrots). Menariknya, dalam kitab Talmud, Bava Batra 15.a.2 disebutkan: וירמיה כתב ספרו וספר מלכים וקינות (ve Yermiyahu katav sefero ve sefer Melachim ve Qinot – Jeremias scripsit librum suum et librum Regum et Threnos), yang artinya: “dan Nabi Yeremiyah sendiri yang telah menulis kitab Yeremiyah, begitu juga kitab Raja-raja dan kitab Ratapan.” Dan fakta historis membuktikan bahwa Nabi Yeremiyah menulis kitab-kitab tersebut di wilayah yang terhegemoni tradisi Arya. Dengan demikian, tidaklah mengherankan bila istilah תוכיים (tukiyyim) merupakan bentuk Ibranisasi dari kosakata Sanskrit (“sukim“) yang bisa disebut sebagai Hebraized-Sanskrit term. Amazing.

Kajian berdasarkan analitis sejarah, linguistik, filologi, sastra, inskripsi, dan agama memang amat menarik untuk ditindaklanjuti. Itulah kewajiban kita para akademisi untuk jujur pada disiplin keilmuan masing-masing.

Screen Shot 2018-06-21 at 14.34.14

Posted in Interfatith Dialog | Tagged , , | Leave a comment

Menalar Agama Langit: Glorifikasi Mukjizat Kristus dan Krishna.

שלום עליכם
السلام عليكم

Screen Shot 2018-06-21 at 14.34.14.png

Karya saya berupa riset akademik yang berjudul “Aryo-Semitic Philology: the Semitization of Vedas and Sanskrit Elements in Hebrew and Abrahamic Texts” (Surabaya: Airlangga University Press, 2018) yang menggunakan berbagai referensi langka tsb, diharapkan nantinya akan menghapus stigma negatif atas ajaran Hindu yang berdasar pada teks suci Weda, dan juga ajaran Zoroastrian yang berdasar pada teks suci Avesta. Namun kini, ironisnya keduanya justru dijustifikasi sebagai ‘agama bumi’ (earthly religions) oleh para pseudo-scholars. Padahal secara de facto keduanya merupakan tradisi keagamaan tertua, yakni tradisi keagamaan Brahmanic yang justru memiliki kesinambungan dengan tradisi keagamaan Abrahamic. Anehnya lagi, tradisi keagamaan Abrahamic secara de jure hanya dibatasi pada 3 agama utama: yakni agama Yahudi, Kristen, dan Islam yang kemudian secara teologis justru diklaim sebagai the heavenly religions (agama langit).

Namun, berdasarkan dominasi pengaruh bhs Sanskrit dan Persian yang muncul dalam teks2 suci berbahasa Hebrew, Syriac dan Arabic sebagaimana yang termaktub dalam teks Torah, Bible dan Quran justru membuktikan adanya pengaruh Vedic yang amat kuat dalam teks ketiga agama tersebut. Hasilnya, dapat disimpulkan bahwa teks Weda dan teks Avesta yang disebut sebagai tradisi keagamaan Brahmanic secara tektual ternyata teksnya lebih kuno dibanding tradisi keagamaan Abrahamic, dan itu berarti agama Hindu sebenarnya adalah the heavenly religion, dan tidak tepat bila disebut sebagai earthly religion.

Ini semata2 kajian akademik, yang tentu saja banyak orang yang tidak siap menerima kenyataan ini. Dan pasti buku ini sangat kontroversial; tapi sebagai peneliti dalam bidang philology (comparative linguistics), sudah sepatutnya saya siap menerima kritik dari para ahli.

Dalam hal ini, tentu saja seorang agamawan juga pasti sangat sukar untuk menerima kenyataan ini. Namun, bagaimanapun juga , ini adalah kajian akademis yang berujung pada fakta linguistik, fakta tekstual sastrawi, dan fakta historis yang menandakan adanya penanda migrasi teks dari tradisi Arya ke tradisi Semit. Adanya migrasi teks ini tentu saja akan mengabrasi klaim sepihak tentang dikotomisasi antara agama langit dan agama bumi. Dan hanya mereka yang berpikiran terbuka, berwawasan luas serta padat literatur yang mungkin bisa menjadikan karya ini sebagai bahan referensi untuk bernalar akan kesinambungan sejarah tradisi agama2 besar dunia beserta kitab sucinya.

Adanya kesinambungan sejarah tradisi agama rumpun Brahmanic (Arya) dengan rumpun Abrahamic (Semit), kita dapat membaca teks yang termaktub dalam kitab suci Mahabharata dan kitab Srimad Bhagavatam Purana yang amat penting dipelajari oleh para pengkaji. Kitab Mahabharata terdiri atas 9 jilid besar dan kitab Srimad Bhagavatam Purana juga ada 44 jilid besar. Mengapa keduanya patut dipelajari? Alasannya sederhana, kitab Mahabharata ibarat “the Gospel of Krishna” bagi komunitas Hindu, sedangkan kitab Srimad Bhagavatam Purana ibarat Apostolic Letters (Perjanjian Baru/New Testament).

Di dalam kedua kitab itu memuat banyak mukjizat Krishna.

  1. Krishna berjalan di atas air dan tidak tenggelam.
  2. Krishna menyembuhkan orang buta sehingga orang tersebut bisa melihat, hanya dng sentuhan kakinya.
  3. Krishna melipatgandakan makanan menjadi banyak sehingga para brahmana semuanya dapat makan hingga kenyang.
  4. Krishna membelah lautan sehingga kering, hingga Arjuna dan Subadra tidak tenggelam.
  5. Krishna menghentikan matahari dari hukum alam sehingga tidak bergeser dari tempatnya.
  6. Masih banyak mukjizat lain yang dilakukan Krishna.

Mukjizat yang dilakukan Krishna ternyata 100% ada kesejajaran dng mukjizat yang dilakukan Kristus dan Musa. Sejarah itu berulang, dan hal ini menjadi bukti bahwa narasi teks keagamaan Brahmanic bertradisi Arya ternyata juga migrasi menjadi narasi teks keagamaan Abrahamic bertradisi Semit. The Gospel of Krishna lebih kuno dibanding the Gospel of Christ. Amazing.

Di antara komunitas agama sering kali melakukan semacam selected judgment. Mukjizat yang dilakukan Kristus dianggap sebagai “sejarah” karena agama Kristen diklaim sebagai “agama langit.” Sementara itu, mukjizat yang dilakukan Krishna dianggap sebagai “legenda” atau “dongeng” karena agama Hindu dijustifikasi sebagai “agama bumi.” Ini merupakan tindakan yang tidak jujur dan pseudo-akademik.

Bila seorang Kristiani terlalu berani dan gegabah menjustifikasi bahwa teks “The Gospel” (Injil) atau pun “The New Testament” (Perjanjian Baru) dianggap lebih tua dibanding teks Veda Mahabharata, maka sebaiknya mereka merenungkan pernyataan S.N. Dasgupta, Ph.D. dalam karyanya “A History of Sanskrit Literature: Classical Period” (Calcutta: University of Calcutta, 1947), hlm. xlix sebagai berikut.

“Though the Mahabharata underwent probably more than one recension and though there have been many interpolations of stories and episodes yet it was probably substantially in a well-formed condition even before the Christian era.”

Bila seorang Kristiani berani dan terlalu gegabah menjustifikasi kisah kehidupan dan mukjizat Krishna hanya dianggap sebagai “dongeng”, maka sebaiknya mereka juga merenungkan pernyataan Christopher Isherwood dalam karyanya “The Upanishads”, hlm. 28 beliau berkata:

“Sri Krishna has been called the Christ of India. There are in facts, some striking parallels between the life of Krishna as related in the Bhagavatam and elsewhere and the life of Jesus of Nazareth. In both cases legend and fact mingle.”

(Sri Krishna disebut juga sebagai Kristus dari India. Adanya fakta kesejajaran yang amat mencolok antara kehidupan Krishna dengan kehidupan Kristus dari Nazaret – sebagaimana catatan yang termaktub dalam kitab Srimad Bhagavatam dan kitab2 lainnya. Dalam kasus keduanya, Kristus van Indie dan Kristus van Nazareth, legenda dan fakta telah bercampur aduk).

Jadi berdasarkan pada pernyataan S.N. Dasgupta, maka teks Veda Mahabharata adalah teks tertua dibanding teks Injil atau pun teks Perjanjian Baru. Bahkan berdasarkan pernyataan Christopher Isherwood tersebut, maka bisa dibuktikan bahwa dalam dokumen teks suci kedua agama ini (Hindu dan Kristen) ternyata kita dapat menemukan adanya upaya glorifikasi atas historisitas sang tokoh yang kemudian bergeser menjadi meta-historis. Itulah sebabnya kita harus bijaksana menghargai perbedaan dan keunikan iman siapapun. Belajar mengenai sesuatu, apalagi berkaitan dengan iman – maka itu suatu keniscayaan yang semakin mencerdaskan iman kita sendiri.

 

 

Posted in Christology, Interfatith Dialog | Tagged , , | Leave a comment

Antara Hindu dan Hoddu (הדו) dalam Kitab Suci Yahudi.

שלום עליכם
السلام عليكم

Hoddu urdu

Ada kutipan teks Urdu dalam buku saya berjudul “Aryo-Semitic Philology: the Semitization of Vedas and Sanskrit Elements in Hebrew and Abrahamic Texts (Surabaya: Airlangga University Press, 2018).

Istilah הדו (Hoddu) dalam kitab TaNaKH (Torah Neviem ve Khetuvim) berbahasa Ibrani, sebagaimana yang termaktub dalam kitab Esther (Sefer Esther) yang ditulis di wilayah tradisi Arya, ternyata term הדו (Hoddu) merupakan istilah kosakata Sanskrit yang ter-Ibrani-kan atau Hebraized Sanskrit term. Dengan kata lain, istilah הדו (Hoddu) merupakan kosakata Judeo-Sanskrit sebagai bentuk Ibranisasi dari kosakata khas keagamaan Hindu dari tradisi Arya yang kemudian diadopsi dalam bahasa Ibrani Masoret (Biblical Hebrew).

Fakta tektual ini justru membuktikan adanya kesinambungan akar sejarah keagamaan dari tradisi Brahmanic (Arya) ke tradisi Abrahamic (Semit). Bila teks keagamaan Hindu bertradisi Arya ini migrasi ke wilayah Nusantara, maka muncullah kosakata “Geni” (api) dalam bahasa Jawa, yang berasal dari kata “Agni” (api) dalam bahasa Sanskrit. Begitu pula munculnya kosakata “Santri” (orang yang belajar kitab-kitab Islam di pesantren) dalam bahasa Jawa merupakan bentuk Islamisasi dari terminologi keagamaan Hindu (Islamized Brahmanic term) yang asalnya diadopsi dari kosakata bahasa Tamil, yakni “Santri” (orang yang belajar kitab Veda dan Vedanta); dan istilah ini ternyata juga berasal dari kata “Sastri” (orang yang belajar kitab Veda dan Vedanta) dalam bahasa Sanskrit, sedangkan kitab Veda dan Vedanta itu sendiri disebut “Sastra” dalam bahasa Sanskrit.

Jadi sebenarnya banyak kosakata Sanskrit yang diadopsi dalam bahasa Jawa. Bahkan, istilah “Jawa” itu sendiri dalam bahasa Jawa merupakan istilah serapan dari bahasa Vedic Sanskrit, yakni dari kosakata “Yava-dvipam” yang kemudian telah mengalami proses Jawanisasi menjadi “Jawa-dwipa” yang artinya “pulau Jawa.” Hal ini tentu maknanya merujuk pada konteks wilayah Jawa. Identitas wilayah Jawa memang telah tercatat dalam kitab Veda Ramayana, sehingga tidak mengherankan bila teks Veda akhirnya juga migrasi ke wilayah Nusantara, khususnya wilayah Jawa. Dalam Veda Ramayana, bagian Kiskinda-khanda 40:30 disebutkan:

yatnavanto Yava-dvipam
sapta rajyopa-sobhitam

(selanjutnya kalian akan memasuki wilayah pulau Jawa yang termasyhur, dan terdiri atas 7 kerajaan).

Sebaliknya, bila teks keagamaan Hindu bertradisi Arya ini migrasi ke wilayah Semit, maka muncullah kosakata “Hoddu” dalam bahasa Ibrani, yang berasal dari kata “Hindhu” dalam bahasa Sanskrit. Dan, istilah “Hindhu” dalam bahasa Sanskrit itu ternyata juga sepadan dng sebutan “Hindustan” dalam bahasa Urdu. Begitu pula munculnya istilah Ibrani תוכיים (tukiyyim, “parrots”) dalam Perjanjian Lama (the Old Testament) yang termaktub dalam kitab Raja2 (the book of Kings) dan kitab Tawarikh (the book of Chronicles) ternyata asalnya merupakan adopsi dari kosakata Tamil “tukiyyim” (parrots), dan istilah ini ternyata berasal dari kosakata bahasa Sanskrit yakni “sukim” (parrots).

Menariknya, dalam kitab Talmud, Bava Batra 15.a.2 disebutkan: וירמיה כתב ספרו וספר מלכים וקינות (ve Yermiyahu katav sefero ve sefer Melachim ve Qinot – Jeremias scripsit librum suum et librum Regum et Threnos), yang artinya: “dan Nabi Yeremiyah sendiri yang telah menulis kitab Yeremiyah, begitu juga kitab Raja-raja dan kitab Ratapan.” Dan fakta historis membuktikan bahwa Nabi Yeremiyah menulis kitab-kitab tersebut di wilayah yang terhegemoni tradisi Arya. Dengan demikian, tidaklah mengherankan bila istilah תוכיים (tukiyyim) merupakan bentuk Ibranisasi dari kosakata Sanskrit (“sukim“) yang bisa disebut sebagai Hebraized-Sanskrit term. Amazing.

Dengan demikian, peradaban Arya ternyata bukan hanya menyebar ke wilayah Nusantara, tetapi juga menyebar ke wilayah peradaban Semit (Timur Tengah).

Posted in Interfatith Dialog | Tagged , , , , | Leave a comment

Book Release: “Aryo-Semitic Philology: The Semitization of Vedas and Sanskrit Elements in Hebrew and Abrahamic Texts” (Surabaya: Airlangga University Press, 2018)

Banyak para akademisi telah membaca buku “The Foreign Vocabulary of the Quran” karya Arthur Jefferey (Baroda: Oriental Institute, 1938). Karya ini memang familiar di antara para misionaris untuk membuktikan adanya loanwords (kosakata asing) non-Arabic dalam Quran. Namun, kita juga harus jujur mengakui bahwa para ahli Biblikal faktanya telah mengakui adanya pengaruh kosakata asing (loanwords) non-Hebrew dalam Alkitab Perjanjian Lama (TaNaKH). Munculnya pengaruh kosakata asing (loanwords) dalam teks Perjanjian Lama (PL/TaNaKH) merupakan suatu keniscayaan dalam proses penjadian teks, apalagi penjadian teks TaNaKH yang kemudian ‘disucikan.’ Teks tidak pernah lahir dalam ruang hampa, dan teks itu sendiri muncul dalan konteks sosial, relasi bahasa dan interaksi budaya yang mengitarinya.

Dalam riset linguistic, Prof. James Barr, Ph.D., penulis buku “Comparative Philology and the Text of the Old Testament” (Oxford: The Clarendon Press, 1968) menyebutkan adanya hegemoni loanwords and words of non-Semitic origin dalam teks Perjanjian Lama (Biblical Hebrew Texts). Prof. Mats Eskhult, Ph.D., penulis “The Importance of Loanwords for Dating Biblical Hebrew Texts” (London-New York: T & T Clark International, 2003) dari Department of Asian and African Languages, Uppsala University (Swedan) juga memaparparkan bahwa bahasa-bahasa dominan yang berpengaruh dan terekam dalam teks TaNaKH (Perjanjian Lama) meliputi 4 bahasa utama, yakni bahasa Akkadia, bahasa Aramaic, bahasa Koptik (Ancient Egytian) dan bahasa Persia.

Ini membuktikan bahwa teks Perjanjian Lama tidak pernah ‘menjadi’ secara steril dan terasing daei bahasa-bahasa lain yang mengitarinya.

Sementara itu, Prof. Arthur Jeffery, Ph.D. penulis buku “The Foreign Vocabulary of the Quran” (Baroda: Oriental Institute, 1938) dan J. Spencer Trimingham penulis buku “Christianity among the Arabs in pre-Islamic Times” (London: Longman, 1979) juga menyebutkan adanya 4 bahasa-bahasa dominan yang berpengaruh dan terekam dalam Quran, yaitu bahasa Hebrew (Ibrani), Suryani (Syriac), Persian dan Etiopia (Amharic).

Berdasarkan pembuktian filologis, saya mencoba utk menyuguhkan karya saya berjudul “Aryo-Semitic Philology: The Semitization of Vedas and Sanskrit Elements in Hebrew and Abrahamic Texts” (Surabaya: Airlangga University Press, 2018) sebagai alternatif bacaan kepada para pembaca tentang adanya pengaruh kosakata asing non-Hebrew di antaranya hegemoni bahasa Sanskrit dan Persian – sebagaimana yang termaktub dalam Perjanjian Lama.

Hegemoni bahasa Sanskrit dan Persia merupakan bahasa-bahasa utama dalam tradisi Arya; dan kedua bahasa tersebut ternyata jejaknya amat dominan dalam bahasa Ibrani Masoret (Biblical Hebrew). Bahasa Sanskrit dan bahasa Persia justru dominan menaklukkan (‘conquer’) bahasa Ibrani Biblikal, yang jejaknya termaktub dalam teks Perjanjian Lama (PL).

Saya berharap, karya saya yang berjudul “Aryo-Semitic Philology: The Semitization of Vedas and Sanskrit Elements in Hebrew and Abrahamic Texts” merupakan karya kritik dan sekaligus sebagai karya pembanding atas bukunya Arthur Jeffery yang berjudul “The Foreign Vocabulary of the Quran.”

Posted in Biblical Studies | Tagged , , , | Leave a comment