Pengaruh Bahasa Sanskrit dan Persian dalam Bahasa Ibrani (Hebrew) dan Melayu

שלום עליכם
السلام عليكم

Kita harus jujur mengakui bahwa para ahli Biblikal telah mengakui adanya pengaruh kosakata asing (loanwords) non-Hebrew bahkan non-Semitic sebagaimana yang termaktub dalam Alkitab Perjanjian Lama (TaNaKH). Adanya pengaruh kosakata asing (loanwords) non-Semitic dalam teks Perjanjian Lama (TaNaKH) merupakan suatu keniscayaan dalam proses penjadian teks, apalagi penjadian teks TaNaKH yang kemudian secara de jure ‘disucikan.’ Teks tidak pernah lahir dalam ruang hampa, dan teks itu sendiri muncul dalam arus kontak bahasa dan arus kontak budaya serta konteks sosial pada era penjadian teksnya, yang tentu saja hal ini terkait pula dengan relasi teks dengan bahasa dan interaksi budaya yang mengitarinya.

Dalam riset linguistic, Prof. James Barr, Ph.D., penulis buku “Comparative Philology and the Text of the Old Testament” (Oxford: The Clarendon Press, 1968) menyebutkan adanya hegemoni loanwords and words of non-Semitic origin dalam teks Perjanjian Lama (Biblical Hebrew Texts). Prof. Mats Eskhult, Ph.D., penulis “The Importance of Loanwords for Dating Biblical Hebrew Texts” (London-New York: T & T Clark International, 2003) dari Department of Asian and African Languages, Uppsala University (Swedan) juga memaparparkan bahwa bahasa-bahasa dominan yang berpengaruh dan terekam dalam teks TaNaKH (Perjanjian Lama) meliputi 4 bahasa utama, yakni bahasa Akkadia, bahasa Aramaic, bahasa Koptik (Ancient Egytian) dan bahasa Persia. Ini membuktikan bahwa teks Perjanjian Lama tidak pernah ‘menjadi’ sebagai teks suci secara steril dan terasing dari bahasa-bahasa lain yang mengitarinya.

Berdasarkan pembuktian filologis, saya mencoba utk menyuguhkan karya saya berjudul “Aryo-Semitic Philology: The Semitization of Vedas and Sanskrit Elements in Hebrew and Abrahamic Texts” (Surabaya: Airlangga University Press, 2018) sebagai alternatif bacaan kepada para pembaca tentang adanya pengaruh kosakata asing non-Hebrew di antaranya hegemoni bahasa Sanskrit dan Persian dalam korpus rumpun linguistik Arya, sebagaimana yang termaktub dalam teks Perjanjian Lama.

Hegemoni bahasa Sanskrit dan Persian merupakan bahasa-bahasa utama dalam tradisi Arya; dan kedua bahasa tersebut ternyata jejaknya amat dominan dalam bahasa Ibrani Masoret (Biblical Hebrew). Bahasa Sanskrit dan bahasa Persia justru dominan menaklukkan (‘conquer’) bahasa Ibrani Biblikal, yang jejaknya termaktub dalam teks Perjanjian Lama.

Mungkin seseorang akan bertanya dan merasa heran tentang adanya istilah Hoddu (הדו) yang tertulis dalam bahasa Ibrani Biblikal, sebagaimana yang termaktub dalam kitab Esther. Ternyata istilah הדו (Hoddu) tidak dapat dicari akar katanya dalam bhs Ibrani. Fakta juga membuktikan bahwa kitab Esther memang ditulis di kawasan Persia bertradisi Arya. Dalam Aramaic Targum kitab Esther juga disebutkan istilah Hindeya (הנדיא).

Mikraot Gedolot, Chamesh Megillot, Sefer Esther 8:9 tertulis demikian.

ולות אסטרטילוסין והפרכין ורברבנין דמתמנן ארכונין על פלכיא דמן הנדיא רבא ועד כוש …

“… u-l’wat istharthilosyn we hefarchiyn we ravrebaniyn d’mitmanan archuniyn ‘al pilchaya d’min Hindeya rabba we ‘ad Kush …”

“… dan kepada para wakil pemerintah, para bupati, dan para pembesar daerah, dari India sampai Etiopia ….”

Apakah istilah “Hoddu” (הדו), yakni “India” dalam bahasa Ibrani sebagaimana yang tertulis dalam teks Ibrani Masoret, dan istilah “Hindeya” (הנדיא) dalam Targum bahasa Aramaic ini merupakan pengaruh dari bahasa Persian, yakni “Hindu”? Bukankah istilah Hoddu (הדו) sendiri dari kata “Sindhu” dari bahasa Sanskrit melalui pengaruh bhs Persian? Bukankah dalam bahasa Urdu, cabang bahasa Sanskrit, ternyata wilayah tsb disebut dengan nama “Hindustan”?

Ada kutipan teks Urdu dalam buku saya berjudul “Aryo-Semitic Philology: the Semitization of Vedas and Sanskrit Elements in Hebrew and Abrahamic Texts (Surabaya: Airlangga University Press, 2018).

Istilah הדו (Hoddu) dalam kitab TaNaKH (Torah Neviem ve Khetuvim) berbahasa Ibrani, sebagaimana yang termaktub dalam kitab Esther (Sefer Esther) yang ditulis di wilayah tradisi Arya, ternyata term הדו (Hoddu) asalnya merupakan istilah kosakata Sanskrit yang ter-Ibrani-kan atau Hebraized-Sanskrit term. Dengan kata lain, istilah הדו (Hoddu) merupakan kosakata Judeo-Sanskrit sebagai bentuk Ibranisasi dari kosakata khas keagamaan Hindu dari tradisi Arya yang kemudian diadopsi dalam bahasa Ibrani Masoret (Biblical Hebrew).

Dengan adanya migrasi kosakata Sanskrit dan Persian yang ‘merembes’ ke dalam bahasa Ibrani, maka fakta tektual ini justru membuktikan adanya kesinambungan akar sejarah keagamaan dari tradisi Brahmanic (Arya) ke tradisi Abrahamic (Semit). Ini merupakan fakta bahwa bahasa Sanskrit dan Persian bertradisi Arya justru telah migrasi ke wilayah Semit.

Prof. Russel Jones dalam karyanya “Loanwords in Indonesian and Malay” (Leiden: KITLV Press, 2007) juga telah mendaftar adanya kosakata Sanskrit dan Persian yang ‘merembes’ ke dalam bahasa Indonesia dan Melayu. Di antaranya kosakata “guru”, “gapura” dan “gusti” yang diadopsi dari bahasa Sanskrit, dan juga kosakata “gandum”, nisan, kurma, nahkoda, dan “firman” yang diadopsi dari bahasa Persian. Dr. Muhammad Zafar Iqbal, dosen Sastra Persia, Program Studi Sastra Arab, Fakultas Ilmu Budaya – Universitas Indonesia (UI) juga menyatakan adanya 300 kosakata Persian yang diserap dalam bahasa Melayu, sebagaimana yang disebutkan dalam karya disertasinya “T’tsir-e Zaban va Adabiyat-e Farsi va Farhng-e Irani dar Zaban va Adabiyat-e Anunezi (Teheran: University of Teheran, 2006). Ini merupakan fakta bahasa Sanskrit dan Persian bertradisi Arya telah migrasi ke wilayah Nusantara.

Bila Anda tertarik mengikuti kajian tentang “Melacak Pengaruh Persia di Tanah Melayu” silakan ikuti kajian disertasi Dr. Bastian Zulyeno, dosen Sastra Persia, Program Studi Arab, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia (UI), yang digelar di Perpus Nasional Jakarta, dan silakan ikuti ulasannya di situs https://kerisnews.com/…/melacak-pengaruh-persia-di-tanah-m…/

Bila teks keagamaan Hindu bertradisi Arya ini migrasi ke wilayah Nusantara, maka muncullah kosakata “Geni” (api) dalam bahasa Jawa, yang berasal dari kata “Agni” (api) dalam bahasa Sanskrit. Begitu pula munculnya kosakata “Santri” (orang yang belajar kitab-kitab Islam di pesantren) dalam bahasa Jawa merupakan bentuk Islamisasi dari terminologi keagamaan Hindu (Islamized Brahmanic term) yang asalnya diadopsi dari kosakata bahasa Tamil, yakni “Santri” (orang yang belajar kitab Veda dan Vedanta); dan istilah ini ternyata juga berasal dari kata “Sastri” (orang yang belajar kitab Veda dan Vedanta) dalam bahasa Sanskrit, sedangkan kitab Veda dan Vedanta itu sendiri disebut “Sastra” dalam bahasa Sanskrit.

Jadi sebenarnya banyak kosakata Sanskrit yang diadopsi dalam bahasa Jawa. Bahkan, istilah “Jawa” itu sendiri dalam bahasa Jawa merupakan istilah serapan dari bahasa Vedic Sanskrit, yakni dari kosakata “Yava-dvipam” yang kemudian telah mengalami proses Jawanisasi menjadi “Jawa-dwipa” yang artinya “pulau Jawa.” Hal ini tentu maknanya merujuk pada konteks wilayah Jawa. Identitas wilayah Jawa memang telah tercatat dalam kitab Veda Ramayana, sehingga tidak mengherankan bila teks Veda akhirnya juga migrasi ke wilayah Nusantara, khususnya wilayah Jawa. Dalam Veda Ramayana, bagian Kiskinda-khanda 40:30 disebutkan:

yatnavanto Yava-dvipam
sapta rajyopa-sobhitam

(selanjutnya kalian akan memasuki wilayah pulau Jawa yang termasyhur, dan terdiri atas 7 kerajaan).

Sebaliknya, bila teks keagamaan Hindu bertradisi Arya ini migrasi ke wilayah Semit, maka muncullah kosakata “Hoddu” dalam bahasa Ibrani, yang berasal dari kata “Hindhu” dalam bahasa Persian. Dan, istilah “Hindhu” dalam bahasa Persian itu ternyata juga sepadan dng sebutan “Hindustan” dalam bahasa Urdu, cabang dari bahasa Sanskrit. Begitu pula munculnya istilah Ibrani תוכיים (tukiyyim, “parrots”) dalam Perjanjian Lama (the Old Testament) yang termaktub dalam kitab Raja2 (the book of Kings) dan kitab Tawarikh (the book of Chronicles) ternyata asalnya merupakan adopsi dari kosakata Tamil “tukiyyim” (parrots), dan istilah ini ternyata berasal dari kosakata bahasa Sanskrit yakni “sukim” (parrots). Menariknya, dalam kitab Talmud, Bava Batra 15.a.2 disebutkan: וירמיה כתב ספרו וספר מלכים וקינות (ve Yermiyahu katav sefero ve sefer Melachim ve Qinot – Jeremias scripsit librum suum et librum Regum et Threnos), yang artinya: “dan Nabi Yeremiyah sendiri yang telah menulis kitab Yeremiyah, begitu juga kitab Raja-raja dan kitab Ratapan.” Dan fakta historis membuktikan bahwa Nabi Yeremiyah menulis kitab-kitab tersebut di wilayah yang terhegemoni tradisi Arya. Dengan demikian, tidaklah mengherankan bila istilah תוכיים (tukiyyim) merupakan bentuk Ibranisasi dari kosakata Sanskrit (“sukim“) yang bisa disebut sebagai Hebraized-Sanskrit term. Amazing.

Dengan demikian, peradaban Arya ternyata bukan hanya menyebar ke wilayah Nusantara, tetapi juga menyebar ke wilayah peradaban Semit (Timur Tengah).

Posted in Interfatith Dialog | Tagged , , , | Leave a comment

Kesinambungan Agama  Rumpun Brahmanic dan Rumpun Abrahamic

שלום עליכם
السلام عليكم

Ada relasi antara teks suci rumpun agama2 Brahmanic dan teks suci rumpun agama2 Abrahamic. Kesinambungan itu dibuktikan dengan adanya elemen linguistik rumpun kebahasaan Aryan yang termaktub dalam teks-teks Abrahamic (Semit), yang ternyata banyak mengadopsi kosakata asing (loanwords) dari bahasa Persian dan Sanskrit. Itu berarti eksistensi teks Avestic dan Vedic tidak bisa diabaikan posisinya dalam relasi antarteks dari tradisi Arya dan Semit. Tentu saja, kajian ini tidak mencakup studi teologis yang meniscayakan justifikasi mengenai mana agama yang benar dan mana agama yang salah. Justru karya ini hanya fokus pada kajian linguistiknya semata. Kalau kajian ini terfokus pada ranah teologis dikhawatirkan pasti akan memicu konflik. Oleh karena itu, saya menghindari hal tersebut, dan hanya mengedepankan “meeting point” dalam konteks menggali adanya “common narative-nya” saja.

Dalam agama Hindu, terutama kitab Agni Purana menyatakan bahwa bahasa Sanskrit merupakan bahasa para dewa yang disebut sebagai sadhu-bhasa (bahasa suci orang suci). Bahasa Sanskrit ini dianggap bahasa suci yang dituturkan oleh Krishna, yang posisinya dijustifikasi sebagai “high level” dibanding bhs Prakrit, sedangkan bahasa Prakrit hanya disebut sebagai manusi-bhasa (bahasa manusia), bahasa yang posisinya rendah. Secara de facto, bahasa Sanskrit memang hanya dipahami oleh para sadhu, rakyat kebanyakan hanya bisa memahami bahasa Prakrit, bukan bahasa Sanskrit. Itulah sebabnya, para sadhu bertutur dalam bahasa Sanskrit, dan Sri Krishna sendiri yang akan melindungi para sadhu.

Kitab suci Bhagavad-gita, Sloka 4.7-8.
Sri Krishna bersabda:

yada yada hi dharmasya
glanir bhavati bharata
abhyuttanam adharmasya
tadatmanam srjamy aham

paritranaya sadhunam 
vinasaya ca duskrtam
dharma-samstapanarthaya
sambhavami yuge yuge.

“Kapan pun dan dimana pun pelaksanaan dharma merosot, dan hal-hal yang bertentangan dengan dharma merajalela – pada waktu itulah Aku sendiri menjelma, wahai putera keluarga Bharata. Untuk menyelamatkan para sadhu (orang saleh), membinasakan orang jahat dan utk menegakkan kembali prinsip-prinsip dharma, Aku sendiri muncul pada setiap zaman.”

Sri Krishna bersabda tentang “dharma” dalam bahasa Sanskrit. Namun, tatkala Sang Budha datang sebagai avatar ke-9 sebagaimana yang juga dibenarkan dalam kitab agama Hindu, yakni kitab Srimad Bhagavatam Purana, Sang Budha justru tidak mengucapkan “dharma” dalam bahasa Sanskrit, tetapi beliau bersabda tentang “dhamma” dalam bahasa Prakrit. Inilah fakta bahwa Sang Budha ternyata memang menuturkan sabda-sabdanya dalam bahasa Prakrit, bukan dalam bahasa Sanskrit.

Kitab suci Dammapada, Pandita Vagga 4.79
Sang Budha bersabda:

dhammapita sukham seti
vippasannena cetasa
Ariyappavedite dhamme
sada ramati pandito.

“Ia yang mengerti dhamma hidup berbahagia dengan pikiran yang jernih dan tenang. Orang bijaksana selalu berbahagia dalam dhamma yang telah dibabarkan oleh para Ariya.”

Berdasarkan teks kitab suci Bhagavad-gita dan Dhammapada tersebut membuktikan adanya perbedaan bahasa yang dituturkan oleh Sri krishna dan Sang Budha. Namun, perbedaan penggunaan bahasa tersebut bukan sekedar perbedaan pelafalan “dharma” dalam bahasa Sanskrit menjadi “dhamma” dalam bahasa Prakrit, justru berbedaan penggunaan bahasa itu mengekspresikan penanda identitas yang meniscayakan perebutan wacana ttng superioritas bahasa Prakrit dibanding bahasa Sanskrit. Itulah sebabnya, saat Sang Budha membabarkan sabda-sabdanya dalam bahasa Prakrit, maka posisi bahasa Sanskrit sebagai bahasa suci para sadhu dan sebagai bahasa suci dalam penulisan pewahyuan kitab suci Veda tersebut ternyata dijungkirbalikkan posisinya. Bahasa Prakrit akhirnya “naik kelas” menggantikan posisi bhs Sanskrit. Itulah sebabnya Sang Budha bertutur dalam bahasa Prakrit, bahasa yang dianggap “rendah” oleh para sadhu pada zamannya, dan Sang Budha sendiri dalam menyampaikan sabda-sabdanya – beliau tidak mau menuturkannya dalam bahasa suci Sanskrit. Dalam konteks ini, Sang Budha memelopori “gerakan perlawanan anti kemapanan” yang akhirnya para bhikkhu, yakni para murid Sang Budha menjadikan bahasa Prakrit sebagai bahasa suci dalam tuturan para bhikkhu dan sebagai bahasa suci dalam penulisan pewahyuan kitab suci Tripitaka. Narada Mahathera dalam karyanya yang berjudul “Buddhism in a Nutshell/ Intisari Agama Buddha” (Semarang: Yayasan Dhamma Phala, 2002), hlm. 10 menyebutkan bahwa kanonisasi dan kodifikasi kitab suci Tripitaka telah dirampungkan sejak era pra-Kristen, tepatnya tahun 83 SM. pada masa Raja Vattagamani Abhaya saat memerintah di Srilangka.

Dengan demikian, Sri Krishna dan para sadhu menjadikan bahasa Sanskrit sebagai bahasa suci dan sebagai bahasa “kelas tinggi”, sedangkan bahasa Prakrit dijustifikasi sebagai bahasa “kelas rendah.” Sebaliknya, Sang Budha dan para bhikkhu menjadikan bahasa Prakrit (Pali) sebagai bahasa suci dan sebagai bahasa “kelas tinggi”, sedangkan bahasa Sanskrit sebaliknya. Inilah fakta adanya “revolution in the name of revelation.”

Rashi dan Ramban dalam kitabnya juga menyebutkan bahwa bahasa Ibrani disebut sebagai לשון הקדש “leson haq-qodesh” (bahasa suci). Bahasa Ibrani (Hebrew) ini merupakan bahasa para nabi dan bahasa para rabbi, sekaligus sebagai bahasa pewahyuan kitab suci TaNaKH (Torah Neviem ve Khetuvim) dalam agama Yahudi. Hal ini sebagaimana penjelasan Rashi dalam kitabnya פירושי רש”י על התורה (Pherushi Rashi ‘al ha-Torah) dan Ramban dalam kitabnya פרוש הרמב”ן על התורה (Pherush ha-Ramban ‘al ha-Torah). Nabi Musa juga menyampaikan firman-Nya dan menuturkan doa berkat dalam bahasa Ibrani (Hebrew), dan bukan dalam bahasa Aramaic. Dalam Sefer Devarim/Deuteronomy 33:29 Musa menuturkan doa berkat sbb.

אשריך ישראל מי כמוך
עם נושע ביהוה מגן עזרך
ואשר-חרב גאותך ויכחשו
איביך לך
ואתה על במותימו תדרך

Ashreikha Yisrael mi kemokha?
‘Am nosha’ ba DONAI magen ‘ezrekha.
Ve asher cherev ga’avatekha ve yikkachashu
oiveikha lakha 
Ve atta ‘al bemoteimo tidrokh.

“Berbahagialah engkau hai Israel. Siapakah yang seperti engkau? Suatu umat yang diselamatkan oleh TUHAN, perisai penolongmu; dan Dialah pedang kejayaannmu. Dan yang memusuhimu akan ngeri terhadapmu, dan engkau akan berjejak di tempat-tempat tinggi mereka.”

Dalam kitab Ratapan 3:9 Nabi Jeremiah juga menyatakan dalam bhs Ibrani:

“Rabba emunateka.”
(Great is Thy faithfulness)

Dalam kitab Mazmur 27:4 Nabi Daud juga menyatakan dalam bhs Ibrani:

“le-bakker be-hekalo.”
(and to inquire in His temple).

Nabi-nabi dalam kitab TaNaKH bertutur dalam bahasa Ibrani sebagai bahasa suci לשון הקדש (leson haq-qodesh). Bahasa Ibrani juga menjadi bahasa suci dan bahasa utama tulisan para rabbi. Itulah sebabnya teks-teks penjelasan para rabbi atas kitab TaNaKH disebut kitab מקראות גדולות (Mikraot Gedolot), yang juga disebut sebagai Rabbinic Bible (Alkitab Rabbinik). Namun, pada saat yang sama, ternyata bahasa Galilaean Aramaic atau Syriac dianggap bukan sebagai bahasa suci, dan dianggap sebagai bhs “kelas rendah”, yakni bahasa rakyat kebanyakan. Tatkala Kristus datang dan menyatakan dirinya sebagai nabi yang dijanjikan menurut kitab TaNaKH (Torah Neviem ve Khetuvim), maka dia menuturkan sabda-sabdanya dalam bahasa Suryani (Syriac), bukan dalam bhs Ibrani (Hebrew). Dalam the Gospel of Matthew 6:9-13 Sang Kristus bersabda dan mengajarkan doa dalam bahasa Syriac yang disebut Galilaean Aramaic sbb:

“Abunan de-bismayya
yitkaddas semak
tete malkutak 
tehe sibyonak
hekma de-bismayya hekden be-ar’a

lahman de-yoma 
hab lan yoma den
usebok lan hoben
hek disbaknan le-hayyaben
wela ta’linan le nisyona
‘ella passinan min bisa.”

(Our Father in heaven
hallowed be Thy name.
Thy kingdom come
Thy will be done
As in the heaven so on earth.

Our daily bread
give us today
And forgive us our debts as we forgive our debtors.
And lead us not into temptation but deliver us from evil).

Rev. C.F. Burney, MA., D.Litt. dalam karyanya “The Poetry of our Lord: An Examination of the Formal Elements of Hebrew Poetry in the Discourses of Jesus Christ” (Oxford: The Clarendon Press, 1925), hlm. 113 menyebutkan doa “Bapa Kami” dalam bahasa Galilaean Aramaic. Begitu juga Matthew Black dalam karyanya “An Aramaic Approach to the Gospel and Acts” (Oxford: The Clarendon Press, 1957) dan F.F. Bruce, MA. dalam karyanya “The Books and the Parchments: Some Chapters on the Transmission of the Bible (London: Pickering & Inglis Ltd., 1953), hlm. 55 juga menyebutkan bahwa Kristus menyampaikan sabda-sabdanya dalam bahasa Aramaic, bukan dalam bahasa Hebrew, misalnya: talitha qumi, efata, Elahi Elahi lema shebaqtani.

F.F. Bruce menyatakan:

“We have one or two short sentences preserved in Aramaic from the lips of Christ himself such as “talitha qumi” in Mark 5:41 (little girl get up), “ephphatha” representing a dialect form of “ithpattach” in Mark 7:34 (be opened), and the cry of dereliction on the Cross, “Eloi Eloi lama sabachthani” (Elahi Elahi lema shebaqtani) in Mark 15:34. These last words are not the Hebrew original of Psalms 22:1 which runs “Eli Eli lama azabtani, but an Aramaic version.”

Bible NIV juga menyebutkan 3 bahasa yang tertulis di kayu salib saat Kristus disalibkan, yakni bahasa Aramaic, Latin dan Yunani. John 19:19-20.

“Pilate had a notice prepared and fastened to the cross. It read: Jesus of Nazareth the King of the Jews. Many of the Jews read this sign, for the place where Jesus was crucified was near the city and the sign was written in Aramaic, Latin and Greek.”

Dalam Perjanjian Baru berbahasa Ibrani (Hebrew New Testament), the Gospel of Mark 5:41 tertulis demikian.

הוא אחז את ידה הילדה
ואמר אליה טליתא קומי שתרגומו
נערה קומי – אני אומר לך

Hu achaz et yadah shel hay-yaleddah
ve amar aleyha: thaleta qumi shetargumo na’arah qumi -ani omer lakh

Pada Mark 5:41 membuktikan bahwa frase טליתא קומי (thalita qumi) adalah frase non-Hebrew. Itulah sebabnya diikuti dengan kata תרגומו (targumo) yang bermakna “artinya”, dan kemudian diikuti dengan frase Hebrew (Ibrani), yakni נערה קומי (na’arah qumi). Ini membuktikan bahwa frase טליתא קומי (thalita qumi) adalah frase Aramaic, yang sekaligus menegaskan bahwa Kristus memang berbicara dalam bhs Aramaic.

David H. Stern dalam karyanya “Jewish New Testament Commentary: A Companion Volume to the Jewish New Testament (Clarksville, USA: Jewish New Testament Publications, 1992), hlm. 90 juga menyebutkan bahwa tatkala membahas Mark 5:41 beliau berkata: “talita kumi. Little girl, get up! in Aramaic.”

Biible NIV juga menyebutkan bahwa Sang Kristus berbicara kepada Saul juga dalam bahasa Aramaic.

Acts 26:14-15

“We all fell to the ground and I heard a voice saying to me in Aramaic, ‘Saul Saul why do you persecute me? It is hard for you to kick against the goads. Then I asked: ‘Who are you Lord?’ I am Jesus whom you are persecuting, the Lord replied.”

Kisah Para Rasul 26:14-15

“Dan ketika kami semuanya rebah ke tanah, aku mendengar suatu suara yang berbicara kepadaku dan yang berkata dalam bahasa Aramaic: ‘Saul Saul mengapa engkau menganiaya aku? … Maka aku berkata: ‘Siapakah engkau Tuan? Dan dia berkata: ‘Akulah Yesus yang sedang engkau aniaya.”

Sejarah membuktikan bahwa bahasa Ibrani (Hebrew) hanya dipahami oleh para rabbi, sedangkan rakyat kebanyakan hanya memahami bahasa Aramaic. Tatkala Sang Kristus datang, maka bahasa Ibrani ternyata posisinya dijungkirbalikkan, dan bahasa Aramaic atau Syriac ‘naik kelas’ menggantikan posisi bahasa Ibrani. Bahkan, tatkala agama Kristen telah mapan dan bahasa Syriac telah menjadi bahasa suci para rahib serta sebagai bahasa suci dalam penulisan pewahyuan teks Peshitta, ironisnya saat itu, bahasa Arab posisinya juga “amat rendah.” Pada era pra-Islam, orang-orang Arab yang menjadi Kristen juga tidak menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa liturgi ataupun sebagai ekspresi bahasa keagamaan. Itulah sebabnya tidak ada satu pun bukti Alkitab berbahasa Arab era pra-Islam. Bahkan, semua versi terjemahan Alkitab bhs Arab terpengaruh gramatika bhs Arab khas Islam. Fakta sejarah membuktikan bahwa orang-orang Arab Kristen era pra-Islam hanya menggunakan bahasa Arab dalam tuturan lokal terbatas yang bersifat non-keagamaan.

Namun tatkala Islam datang, bahasa Arab “naik kelas” dan menjadi bahasa suci dalam penulisan pewahyuan teks Quran, dan bahasa Syriac akhirnya dijungkirbalikkan posisinya; dan bhs Arab kemudian menjadi bahasa wahyu menggantikan posisi bahasa Syriac itu sendiri.

Dalam studi linguistik, bahasa dan kesucian sebenarnya merupakan 2 hal yang berbeda. Bahasa itu bersifat netral. Namun dalam konteks keagamaan, keduanya secara teologis akhirnya dipahami oleh komunitas keagamaan bersifat recto and verso. Jadi entitas bahasa itu sebenarnya tidak an sich bersifat suci, dan kini telah kehilangan akarnya. Padahal bahasa menjadi suci justru akibat “pengaruh” dari pewahyuan yang dituturkan oleh sang tokoh suci atau teks suci itu sendiri. Sekali lagi, ini aspek kajian non-teologis, yang tentu saja berbeda dengan pandangan para teolog.

Karya saya berjudul “Aryo-Semitic Philology: Semitization of Vedas dan Sanskrit Elements in Hebrew and Abrahamic Texts” (Surabaya: Airlangga University Press, 2018) membahas tuntas kitab2 suci agama rumpun Abrahamic berdasarkan kajian linguistik historis (filologis), dan khususnya Quran yang menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa suci – menurut Muslim (bukan menurut saya sebagai peneliti), memang sebagai teks yang final, corpus tertutup, tidak ada lagi kitab suci pasca-Quran. Ini tentu sekali lagi menurut perspektif masing2 agama bisa beda. Poin saya “One Word Manys Versions“.

Screen Shot 2018-06-28 at 17.08.53.png

Posted in Interfatith Dialog | Tagged , , , | Leave a comment

Berebut Wacana: Antara Bahasa Ibrani dan Bahasa Sanskrit

Kesejajaran dan kemiripan cerita dalam teks Veda Mahabharata dan teks Torah memang sangat menakjubkan. Dengan melalui proses pembacaan teks, justru kita dapat membuktikan adanya benang merah di antara kedua kitab suci itu, ada semacam common heritage; di antaranya berkaitan tentang kisah Aswattama dan Kain yang memiliki pesan ideologis yang sama meskipun berbeda setting.

Aswattama memang dikutuk oleh Sri Krishna, sebagaimana Kain juga dikutuk oleh TUHAN; Kain diusir menuju wilayah Timur yakni ke wilayah Nod, sedangkan Aswattama diusir menuju ke wilayah Barat yakni ke wilayah Arva-sthan. Wilayah Arvasthan ini memang jauh dari wilayah הנדיא (Hindeya), dan nama הנדיא (Hindeya) itu sendiri ternyata merupakan kosakata Sanskrit yang ter-Aram-kan (Aramized-Sanskrit term) sebagaimana yang tercatat dalam Aramaic Targum, khususnya Targum Esther berbahasa Aram tatkala menjelaskan istilah הדו (Hoddu) dalam teks Ibrani Masoret, Sefer Esther 1:1.

Dalam teks Veda, wilayah Arva-sthan merujuk kawasan peradaban Semitik (Semitic civilization), penutur bahasa-bahasa pewaris Sem ben Noach. Itulah sebabnya wilayah peradaban Semitik dalam Veda disebut Arvasthan, yang bermakna “wilayah orang-orang yang “menyeberang”, “pindah”, atau “migrasi.” Dalam bahasa Sanskrit, istilah Arva-sthan berasal dari gabungan 2 kata kunci yakni Arv yang berarti “bergerak”, “berpindah”, “nomad”, “menyeberang”, yang ternyata kosakata Sanskrit ini sepadan dengan istilah עבר (Evr) dalam bhs Ibrani yang juga bermakna “menyeberang”, “pindah”, migrasi”, dan dari kata עבר (Evr) inilah kemudian muncul istilah ‘Ivrit עברית (bahasa Ivrit) yakni bahasa Ibrani (Hebrew). Sebutan istilah Arva(n) dalam kamus-kamus bahasa Sanskrit merujuk kepada orang-orang yang tinggal di kawasan Arvasthan, yakni di wilayah Barat yang jauh dari kawasan Hindhu-sthan. Orang-orang Arvasthan dalam Veda ternyata mereka juga disebut sebagai orang-orang Mleccha. Istilah Mleccha berasal dari akar kata Mlech, yang berarti “berbicara dgn tidak jelas”, “tidak utuh.” Jadi orang-orang Arvasthan adalah penutur bahasa yang “tidak utuh”, “tidak jelas” atau “kacau.” Kamus Sanskrit karya Arthur Anthony Macdonell (Oxford University Press, 1929), Vaman Sivram Apte (New Delhi: Motilal Banarsidas, 1987) membenarkan hal ini sebagaimana penjelasan pakar embriologi bahasa Sanskrit, Made Harimbawa dari Universitas Indonesia.

Dengan demikian, ini menjadi bukti bahwa ternyata ada semacam common episteme dengan narasi suci yang termaktub di dalam kitab Torah. Rashi ketika menjelaskan Sefer Bereshit/Genesis 11:1 terkait tentang bahasa yang satu – safah echad (שפה אחד) – sebelum dikacaukan oleh TUHAN disebut dengan istilah לשון הקדש leson haq-qodesh (bahasa suci) yakni merujuk pada eksistensi bahasa עברית (Ibrani), yang secara literal berasal dari akar kata עבר (Evr). Dalam Torah Sefer Bereshit 11:9, TUHAN telah mengacaubalaukan/confused בלל (balal) bahasa. Itulah sebabnya bahasa Ibrani disebut sebagai bahasa suci (leson haq-qodesh) sedangkan the other (bahasa lain) disebut “balal”, yakni bahasa yang sudah mengalami “kacau balau”, “tidak utuh”, “tidak jelas”.

Menurut teks Veda, bahasa Sanskrit adalah bahasa orang suci (sadhu-bhasa) dan istilah Sanskrit ternyata berasal dari akar kata samskrt, yakni sesuatu yang sudah “steril”, “perfecto”, “bersih”, “tidak kacau.” Itulah sebabnya tata bahasa dalam bahasa Sanskrit disebut “vyakarana”, artinya: “sudah teratur/teranalisa.” Sementara itu, Veda menyatakan bahwa bahasa orang-orang yang “menyeberang” disebut sebagai bahasa Mleccha (bahasa yang kacau, tidak jelas dan tidak utuh). Dengan demikian, menurut Torah bahasa orang-orang non-Ibrani disebut sebagai bahasa orang-orang Babel yang telah dikacaubalaukan – בלל (balal) oleh TUHAN, sedangkan menurut Veda justru sebaliknya, bahasa non-Sanskrit adalah bahasa yang kacau, tidak steril, tidak utuh, tidak perfecto, dan tidak jelas. Menurut Rashi, bahasa Ibrani disebut sebagai leson haq-qodesh (bahasa suci), yang merujuk bahasa para Nabi; sedangkan menurut Panini, Patanjali dan Valmiki justru bahasa Sanskrit yang disebut sebagai sadhu-bhasa, yakni bahasa suci para Sadhu dan bahasa suci para dewa sebagaimana yang termaktub dalam teks Veda Ramayana. Itulah sebabnya aksara yang digunakan untuk menulis teks berbahasa Sanskrit disebut aksara deva-nagari, yang arti harfiahnya adalah “aksara dewa.” Inilah yang disebut sebagai perebutan wacana antara tradisi Arya dan tradisi Semit sebagaimana yang tercermin dalam teks Veda dan Torah. Similar but not exactly the same.

Dalam teks Ramayana, Sundarakanda 30: 17-18 dinyatakan demikian mengenai apa itu bahasa Sanskrit.

aham hyatitanuscaiva vanarasca visesatah.
vecam codaharisyami manusim iha samskrtam: yadi vacam pradasyami dvijatir iva samskrtam. ravanam manyamana mam Sita bhita bhavisyati:

Renungan

1. Berdasarkan kajian linguistik, sebutan “Mleccha” merujuk pada tuturan bahasa bagi orang2 yang gramatika bahasanya dipandang tidak lengkap (tidak utuh). Itulah sebabnya, indikasi ketidaklengkapan itu ternyata dapat ditemukan adanya pengaruh kosakata Sanskrit dan varian atau pun cabang dari bahasa Sanskrit yang meresap dan “merangsek” ke dalam rumpun bahasa-bahasa Semitic melalui proses adopsi dan adaptasi, yang kemudian kosakata serapan itu mengalami kemapanan seiring dengan perkembangan dan kemapanan bahasa2 rumpun Semitic itu. Dalam proses itulah kosakata serapan dari unsur elemen2 Aryan juga dipandang suci karena pengaruh bahasa Sanskrit dan turunannya, yakni Hindi, Benggali, Tamil dll. Hal ini juga diakui oleh pakar embriologi linguistik Sanskrit dari Univ. Indonesia, Made Harimbawa. Jadi tidak heran kalau ada elemen2 kebahasaan dari tradisi Veda dan Avesta yg merupakan rumpun Arya ternyata bisa sampai ke kawasan rumpun bahasa Semitic, yang akhirnya berkembang dan menginspirasi agama-agama Abrahamic.

2. Abu Raihan Muhammad bin Ahmad Al-Biruni (973-1048 M) dalam bukunya Tahqiq li Al-Hindi menyebutkan bahwa bhs Sanskrit amat banyak kosakata dan infleksinya, memiliki unsur Aritmatik, memberikan nama yang banyak terhadap barang yang satu dng kata-kata yang aslinya, yang belum berubah maupun kata-kata yang sudah mendapat perubahan. Atau juga sebaliknya, menyebut dng satu kata terhadap barang-barang yang berbeda-beda, yang utk membedakannya perlu dibarengi dengan tambahan yang berlainan. Karena itu, tidak ada yang bisa membedakan di antara sekian banyak arti dari satu kata kecuali ia mengetahui hubungan kata itu dengan kata di depan maupun yang di belakangnya dalam satu kalimat. Bahasa Sanskrit juga mempunyai proses pembentukan kata yang amat rapi, sangat kompleks dan sangat matematis. Hal ini juga dibenarkan oleh Sachau dan J.F. Stael. Kerumitan dan kompleksitas proses pembentukan kata tersebut juga diakui oleh Prof. Russel Jones yang pakar bahasa Yunani dan sekaligus pakar bahasa Sanskrit. Menurut Made Harimbawa, fakta kompleksitas itu terbukti, sebab nama atau kosakata tidak terikat pada benda/fenomena, tetapi terikat pada deskripsi sang pengucap. Maksudnya, satu benda bisa punya belasan atau lebih kata. Pernyataan Made Harimbawa ini merupakan pengulangan dan konfirmasi dari ulasan Al-Biruni dalam karyanya Tahqiq Al-Hindi. Vedic Sanskrit masih mengikuti aturan ini; dan dalam bhs Sanskrit tidak ditemukan adanya loanwords (kosakata serapan) di dalamnya. Hal ini justru berbeda dengan bahasa Ibrani (Hebrew) yang banyak ditemukan adanya loanwords (kosakata serapan) di dalamnya. Fakta ini juga dibenarkan oleh Prof. James Barr dalam karyanya yang berjudul “Comparative Philology and the Text of the Old Testaments” (Oxford: The Clarendon Press, 1968), juga Prof. Mats Eskhult dalam karyanya “The importance of Loanwords for Dating Biblical Hebrew (London – New York: T & T Clark International, 2003).

3. Sebutan “Mleccha” dalam teks Veda yang merujuk pada entitas bahasa yang kacau, tidak utuh, tidak lengkap, dan tidak jelas itu bisa ditafsirkan sebagai bahasa yang sederhana, tidak terlalu rumit, tidak terlalu kompleks grammatikanya. Dalam kajian linguistik historis misalnya, bahasa rumpun Semitic – termasuk bahasa Ibrani – adalah bahasa yang sangat sederhana aturan gramatikanya, tidak terlalu kompleks makna semantiknya, satu kata bisa bermakna ganda; sedangkan bahasa Sanskrit adalah bahasa yang sangat rumit aturan gramatikanya, sangat kompleks makna semantiknya, sangat utuh dan sangat jelas unsur pembeda artinya.

4. Apakah varian narasi yang teksnya berkisah tentang Aswattama dan Kain sebagaimana yang termaktub dalam kedua kitab suci tersebut merupakan sebuah pesan adanya pertarungan wacana antara non-Arya dan non-Semit? Antara non-Hindu dan non-Yahudi? Teks tidak semata-mata dianggap sebagai pesan dari langit, sebab teks memang tidak lahir dalam ruang hampa, teks selalu terkait dengan simbol-simbol dan ideologi yang mengitarinya. Ini perlu kajian mendalam dan serius. Silakan baca buku saya “Aryo-Semitic Philology: the Semitization of Vedas and Sanskrit Elements in Hebrew and Abrahamic Texts.” (Surabaya: Airlangga University Press, 2018).

 

img-20180522-wa00118403580893794179019.jpg

Posted in Interfatith Dialog | Tagged , , , | Leave a comment

Menalar Ulang Kuasa Teks Suci: Veda Mahabharata dan Sefer Torah

הרא קרישנה הרא קרישנה
קרישנה קרישנה הרא הרא
הרא רמה הרא רמה
רמה רמה הרא הרא

Hitungan kalendar Yahudi, sekarang ini adalah 5778, sejajar dng kalender Masehi yakni 2018 M. Hitungan kalendar Kristen sekarang adalah 2018, sedangkan hitungan kalender Budha sekarang ini adalah 2562. Jadi kelahiran Sang Budha lebih awal dan lebih tua dibanding kelahiran Sang Kristus, 2018 M. Bila Sang Budha sebagai avatara ke-9 maka Sri Krishna adalah avatara ke-8. Jadi berkaitan dengan kajian kesejarahan, maka Krishna tidak mungkin eranya sezaman dengan Kristus. Artinya, masa kehidupan Krishna jauh lebih terdahulu dibanding era kehidupan Kristus. Vyasa-deva sang kompilator kitab Mahabharata saja hidup sebelum era Sang Buddha. Itu berarti bahwa Krishna memang dilahirkan jauh sebelum era Sang Buddha.

Dalam kitab Srimad Baghavatam Purana I.3.24. disebutkan:

tatah kalau sampravrtte
sammohaya sura dvisam
Buddho namnanjaya sutah
kikatesu bhavisyati.

“then the beginning of Kali-yuga, the Lord will appear as Lord Buddha, the son of Anjana in Kikatesu – the province of Gaya (Bihar) just for the purpose of delucing those who are envious of the faithful theist.”

Hitungan kalender Yahudi dimulai sejak pasca banjir Nuh. Persoalannya: cerita mengenai banjir Nuh itu terkodifikasi dalam Torah yang diterima oleh Musa, dan jarak antara Nuh hingga masa Nabi Musa itu ratusan tahun. Jadi wajar bila kehidupan Krishna lebih dulu ada dibanding masa kehidupan Musa. Dengan demikian, amat wajar bila ada kesejajaran cerita (common narrative) antara kitab Torah dan kitab Mahabharata, similar but not exactly the same.

Di dalam kitab Torah disebutkan adanya tokoh yang bernama Kain yang membunuh Habel, dan kemudian akhirnya Kain dikutuk serta diusir oleh TUHAN, migrasi menuju wilayah Timur (lihat Sefer Bereshit/Genesis 4:11-16). Pada Sefer Bereshit 4:16 ayatnya berbunyi demikian: וישב בארץ נוד קדמת עדן – vayyesev be-eretz Nod qidmat Eden (“dan dia/Kain menetap di tanah Nod, di sebelah Timur Eden”). Kain memang pergi ke arah Timur – yang dalam bahasa Hebrew (Ibrani) disebut “qidmat” (קדמת), yang berasal dari akar kata “qedem” (קדם), dan wilayah Timur itu yakni menuju kawasan Nod (נוד). Rashi (Rabbi Shlomo ben Yitzhak) menyatakan Istilah nama wilayah Nod bermakna “wandering” – the land where exiles wander about …… Notably, the eastern region always forms a place of refuge for murderers.” (Sefer Bereshit/Genesis: A New Translation With A Commentary Anthologized from Talmudic, Midrashic and Rabbinic Sources, Brooklyn: Mesorah Publications, 2009:158). Rashi menafsirkannya sebagai wilayah הרוצחים – ha’rotzechim (para pembunuh). Sementara itu, di dalam kitab Mahabharata disebutkan adanya tokoh yang bernama Aswattama yang membunuh keturunan Pandawa, dan kemudian akhirnya Aswattama dikutuk oleh Krishna dan diusir, serta migrasi menuju wilayah Barat. Berkaitan ttg tokoh Aswattama yg diusir Sri Krishna hingga ke wilayah Arva-sthan yang merupakan wilayah kaum Mleccha (non-Arya) ini amat penting dikaji. Dalam bhs Sanskrit, istilah Arva-sthan berasal dari gabungan 2 kata kunci yakni Arva (migrasi/berpindah) + sthan (wilayah), coba bandingkan dng sebutan “Hindu-sthan” dalam bahasa Urdu, yang bermakna “wilayah Hindu.” Istilah Hindusthan juga berasal dari gabungan 2 kata kunci yakni Hindu (lembah Hindu/Sindhu) + sthan (wilayah).

Istilah “Arva” ini sepadan dengan istilah bahasa-bahasa rumpun Semit, terutama bahasa Arab dan Ibrani. Dalam bahasa Arab misalnya, muncul kata عرب (‘Arab) dan dalam bahasa Ibrani (Hebrew) muncul juga kata עבר (‘Ever/ ‘Eber) yang kedua istilah Semitic tersebut bermakna “nomad”, “berpindah”, “migrasi” dan “menyeberang.” Intinya istilah Arva atau Arva(n) terkait dng tradisi masyarakat Urban yang meniscayakan komunitas migrasi. Dan dalam kamus bahasa Sanskrit karya Vaman Shivram Apte ‘The Practical Sanskrit – English Dictionary’ (New Delhi: Motilal Banarsidas, 1987) ternyata dijelaskan bahwa istilah Arva(n) juga bermakna: “kejam”, “kasar”, “pembunuh.” Hal ini juga dibenarkan oleh pakar embriologi bhs Sanskrit, Made Harimbawa. Jadi Arva-sthan adalah wilayah Arva(n) yakni wilayah “para pembunuh.” Itulah sebabnya Aswattama telah migrasi ke wilayah Arvasthan dan memulai peradaban dan agama baru di sana. Bahkan Aswattama dikutuk hidup sangat lama (chiranjivi) utk memperbaiki kesalahannya dan menuntun anak keturunannya di wilayah “para pembunuh.” Begitu juga sang tokoh dari tradisi Semit yang bernama Kain, dia dikutuk hidup sangat lama utk memperbaiki kesalahannya dan agar dapat menuntun keturunannya di wilayah “para pembunuh.” Cerita yg sangat paralel ini sangat menarik. Kajian teks ini tentu saja akan menjembatani relasi kajian kesastraan yang berkaitan dengan analisis teks dari segi kebahasaan. Dalam konteks ideologi kepengarangan yang berbasis narasi pengisahan ini, apakah sang tokoh yang bernama Kain itu yang menyebarkan teks Semit ke wilayah Arya? Atau sebaliknya, justru sang tokoh yang bernama Aswatama itulah yang menyebarkan teks Arya ke wilayah Semit? Persoalan migrasi teks suci tersebut tergantung dari sudut pandang iman masing-masing.

Berdasarkan pembuktian manuskrip, kitab Mahabharata faktanya memang lebih tua dibanding kitab Torah (Pentateuch). Tulisan tangan tertua dari Taurat itu abad ke-2 SM., yakni manuskrip the Dead Sea Scrolls (naskah Laut Mati), sedangkan manuskrip yang berisi kutipan-kutipan bacaan teks kitab Mahabharata yang termaktub dalam buku gramatika bahasa Sanskrit karya Panini itu ternyata telah ditulis pada abad ke-4 SM. Jadi pastinya teks Mahabharata justru jauh lebih tua atau lebih kuno dari pada teks Torah (Pentateuch/ the Old Testament) karena secara de facto teks Panini ditulis pada abad ke-4 SM.

Bila Abraham lahir sekitar tahun 2165 SM., maka Sri Krishna telah lahir 4000 tahun SM. Jadi dengan demikian agama Hindu lebih tua dibanding agama Yahudi, dan Sri Krishna telah ada sebelum Abraham dilahirkan. Bahkan agama Hindu (Brahmanic religion) telah eksis sebelum kelahiran agama-agama Abrahamik yang disebut Abrahamic religions: Yahudi, Kristen dan Islam. Apalagi fakta membuktikan bahwa cerita mengenai Abraham justru termaktub dalam kitab Torah, kitab yang ditulis oleh Musa yang mana jarak antara Abraham dan Musa sendiri itu ratusan tahun. Jadi penentuan tahun kelahiran Abraham masih spekulatif. Satu-satunya alat bukti yang valid adalah menggunakan analisis terhadap teks TaNaKH (the Old Testaments) itu sendiri melalui kajian linguistik komparatif (filologis), yaitu dengan cara melacak adanya pengaruh kosakata Vedic Sanskrit dan Persia (Arya) dalam bahasa Ibrani Masoret (Semit). Silakan Anda pelajari karya Prof. James Barr dalam karyanya yang berjudul “Comparative Philology and the Text of the Old Testaments (Oxford: Clarendon Press, 1968), khususnya pada hlm. 101 – 111 beliau secara khusus membahas tentang subtema: “Loanwords and Words of non-Semitic Origin.”

Dalam buku saya berjudul “Aryo-Semitic Philology: the Semitization of Vedas and Sanskrit Elements in Hebrew and Abrahamic Texts (Surabaya: Airlangga University Press, 2018) terdapat kajian yang patut dipertimbangkan. Dalam karya riset saya ini hanya sekedar melanjutkan dan memperdalam kajian Prof. James Barr, Ph.D. yang saya fokuskan tentang adanya Sanskrit Loanwords dalam Biblical Hebrew sebagaimana yang termaktub dalam The Old Testaments (Perjanjian Lama). Hal ini semakin mempertegas validitas adanya migrasi teks Arya ke wilayah Semit.

Istilah הדו (Hoddu) dalam kitab TaNaKH (Torah Neviem ve Khetuvim) berbahasa Ibrani, sebagaimana yang termaktub dalam kitab Esther (Sefer Esther) yang ditulis di wilayah tradisi Arya, ternyata term הדו (Hoddu) merupakan istilah kosakata Sanskrit yang ter-Ibrani-kan atau Hebraized Sanskrit term. Dengan kata lain, istilah הדו (Hoddu) merupakan kosakata Judeo-Sanskrit sebagai bentuk Ibranisasi dari kosakata khas keagamaan Hindu dari tradisi Arya yang kemudian diadopsi dalam bahasa Ibrani Masoret (Biblical Hebrew).

Teks keagamaan Hindu bertradisi Arya ini migrasi ke wilayah Semit, maka muncullah kosakata “Hoddu” dalam bahasa Ibrani, yang berasal dari kata “Hindhu” dalam bahasa Sanskrit. Dan, istilah “Hindhu” dalam bahasa Sanskrit itu ternyata juga sepadan dng sebutan “Hindustan” dalam bahasa Urdu. Begitu pula munculnya istilah Ibrani תוכיים (tukiyyim, “parrots”) dalam Perjanjian Lama (the Old Testament) yang termaktub dalam kitab Raja2 (the book of Kings) dan kitab Tawarikh (the book of Chronicles) ternyata asalnya merupakan adopsi dari kosakata Tamil “tukiyyim” (parrots), dan istilah ini ternyata berasal dari kosakata bahasa Sanskrit yakni “sukim” (parrots). Menariknya, dalam kitab Talmud, Bava Batra 15.a.2 disebutkan: וירמיה כתב ספרו וספר מלכים וקינות (ve Yermiyahu katav sefero ve sefer Melachim ve Qinot – Jeremias scripsit librum suum et librum Regum et Threnos), yang artinya: “dan Nabi Yeremiyah sendiri yang telah menulis kitab Yeremiyah, begitu juga kitab Raja-raja dan kitab Ratapan.” Dan fakta historis membuktikan bahwa Nabi Yeremiyah menulis kitab-kitab tersebut di wilayah yang terhegemoni tradisi Arya. Dengan demikian, tidaklah mengherankan bila istilah תוכיים (tukiyyim) merupakan bentuk Ibranisasi dari kosakata Sanskrit (“sukim“) yang bisa disebut sebagai Hebraized-Sanskrit term. Amazing.

Kajian berdasarkan analitis sejarah, linguistik, filologi, sastra, inskripsi, dan agama memang amat menarik untuk ditindaklanjuti. Itulah kewajiban kita para akademisi untuk jujur pada disiplin keilmuan masing-masing.

Screen Shot 2018-06-21 at 14.34.14

Posted in Interfatith Dialog | Tagged , , | Leave a comment

Menalar Agama Langit: Glorifikasi Mukjizat Kristus dan Krishna.

שלום עליכם
السلام عليكم

Screen Shot 2018-06-21 at 14.34.14.png

Karya saya berupa riset akademik yang berjudul “Aryo-Semitic Philology: the Semitization of Vedas and Sanskrit Elements in Hebrew and Abrahamic Texts” (Surabaya: Airlangga University Press, 2018) yang menggunakan berbagai referensi langka tsb, diharapkan nantinya akan menghapus stigma negatif atas ajaran Hindu yang berdasar pada teks suci Weda, dan juga ajaran Zoroastrian yang berdasar pada teks suci Avesta. Namun kini, ironisnya keduanya justru dijustifikasi sebagai ‘agama bumi’ (earthly religions) oleh para pseudo-scholars. Padahal secara de facto keduanya merupakan tradisi keagamaan tertua, yakni tradisi keagamaan Brahmanic yang justru memiliki kesinambungan dengan tradisi keagamaan Abrahamic. Anehnya lagi, tradisi keagamaan Abrahamic secara de jure hanya dibatasi pada 3 agama utama: yakni agama Yahudi, Kristen, dan Islam yang kemudian secara teologis justru diklaim sebagai the heavenly religions (agama langit).

Namun, berdasarkan dominasi pengaruh bhs Sanskrit dan Persian yang muncul dalam teks2 suci berbahasa Hebrew, Syriac dan Arabic sebagaimana yang termaktub dalam teks Torah, Bible dan Quran justru membuktikan adanya pengaruh Vedic yang amat kuat dalam teks ketiga agama tersebut. Hasilnya, dapat disimpulkan bahwa teks Weda dan teks Avesta yang disebut sebagai tradisi keagamaan Brahmanic secara tektual ternyata teksnya lebih kuno dibanding tradisi keagamaan Abrahamic, dan itu berarti agama Hindu sebenarnya adalah the heavenly religion, dan tidak tepat bila disebut sebagai earthly religion.

Ini semata2 kajian akademik, yang tentu saja banyak orang yang tidak siap menerima kenyataan ini. Dan pasti buku ini sangat kontroversial; tapi sebagai peneliti dalam bidang philology (comparative linguistics), sudah sepatutnya saya siap menerima kritik dari para ahli.

Dalam hal ini, tentu saja seorang agamawan juga pasti sangat sukar untuk menerima kenyataan ini. Namun, bagaimanapun juga , ini adalah kajian akademis yang berujung pada fakta linguistik, fakta tekstual sastrawi, dan fakta historis yang menandakan adanya penanda migrasi teks dari tradisi Arya ke tradisi Semit. Adanya migrasi teks ini tentu saja akan mengabrasi klaim sepihak tentang dikotomisasi antara agama langit dan agama bumi. Dan hanya mereka yang berpikiran terbuka, berwawasan luas serta padat literatur yang mungkin bisa menjadikan karya ini sebagai bahan referensi untuk bernalar akan kesinambungan sejarah tradisi agama2 besar dunia beserta kitab sucinya.

Adanya kesinambungan sejarah tradisi agama rumpun Brahmanic (Arya) dengan rumpun Abrahamic (Semit), kita dapat membaca teks yang termaktub dalam kitab suci Mahabharata dan kitab Srimad Bhagavatam Purana yang amat penting dipelajari oleh para pengkaji. Kitab Mahabharata terdiri atas 9 jilid besar dan kitab Srimad Bhagavatam Purana juga ada 44 jilid besar. Mengapa keduanya patut dipelajari? Alasannya sederhana, kitab Mahabharata ibarat “the Gospel of Krishna” bagi komunitas Hindu, sedangkan kitab Srimad Bhagavatam Purana ibarat Apostolic Letters (Perjanjian Baru/New Testament).

Di dalam kedua kitab itu memuat banyak mukjizat Krishna.

  1. Krishna berjalan di atas air dan tidak tenggelam.
  2. Krishna menyembuhkan orang buta sehingga orang tersebut bisa melihat, hanya dng sentuhan kakinya.
  3. Krishna melipatgandakan makanan menjadi banyak sehingga para brahmana semuanya dapat makan hingga kenyang.
  4. Krishna membelah lautan sehingga kering, hingga Arjuna dan Subadra tidak tenggelam.
  5. Krishna menghentikan matahari dari hukum alam sehingga tidak bergeser dari tempatnya.
  6. Masih banyak mukjizat lain yang dilakukan Krishna.

Mukjizat yang dilakukan Krishna ternyata 100% ada kesejajaran dng mukjizat yang dilakukan Kristus dan Musa. Sejarah itu berulang, dan hal ini menjadi bukti bahwa narasi teks keagamaan Brahmanic bertradisi Arya ternyata juga migrasi menjadi narasi teks keagamaan Abrahamic bertradisi Semit. The Gospel of Krishna lebih kuno dibanding the Gospel of Christ. Amazing.

Di antara komunitas agama sering kali melakukan semacam selected judgment. Mukjizat yang dilakukan Kristus dianggap sebagai “sejarah” karena agama Kristen diklaim sebagai “agama langit.” Sementara itu, mukjizat yang dilakukan Krishna dianggap sebagai “legenda” atau “dongeng” karena agama Hindu dijustifikasi sebagai “agama bumi.” Ini merupakan tindakan yang tidak jujur dan pseudo-akademik.

Bila seorang Kristiani terlalu berani dan gegabah menjustifikasi bahwa teks “The Gospel” (Injil) atau pun “The New Testament” (Perjanjian Baru) dianggap lebih tua dibanding teks Veda Mahabharata, maka sebaiknya mereka merenungkan pernyataan S.N. Dasgupta, Ph.D. dalam karyanya “A History of Sanskrit Literature: Classical Period” (Calcutta: University of Calcutta, 1947), hlm. xlix sebagai berikut.

“Though the Mahabharata underwent probably more than one recension and though there have been many interpolations of stories and episodes yet it was probably substantially in a well-formed condition even before the Christian era.”

Bila seorang Kristiani berani dan terlalu gegabah menjustifikasi kisah kehidupan dan mukjizat Krishna hanya dianggap sebagai “dongeng”, maka sebaiknya mereka juga merenungkan pernyataan Christopher Isherwood dalam karyanya “The Upanishads”, hlm. 28 beliau berkata:

“Sri Krishna has been called the Christ of India. There are in facts, some striking parallels between the life of Krishna as related in the Bhagavatam and elsewhere and the life of Jesus of Nazareth. In both cases legend and fact mingle.”

(Sri Krishna disebut juga sebagai Kristus dari India. Adanya fakta kesejajaran yang amat mencolok antara kehidupan Krishna dengan kehidupan Kristus dari Nazaret – sebagaimana catatan yang termaktub dalam kitab Srimad Bhagavatam dan kitab2 lainnya. Dalam kasus keduanya, Kristus van Indie dan Kristus van Nazareth, legenda dan fakta telah bercampur aduk).

Jadi berdasarkan pada pernyataan S.N. Dasgupta, maka teks Veda Mahabharata adalah teks tertua dibanding teks Injil atau pun teks Perjanjian Baru. Bahkan berdasarkan pernyataan Christopher Isherwood tersebut, maka bisa dibuktikan bahwa dalam dokumen teks suci kedua agama ini (Hindu dan Kristen) ternyata kita dapat menemukan adanya upaya glorifikasi atas historisitas sang tokoh yang kemudian bergeser menjadi meta-historis. Itulah sebabnya kita harus bijaksana menghargai perbedaan dan keunikan iman siapapun. Belajar mengenai sesuatu, apalagi berkaitan dengan iman – maka itu suatu keniscayaan yang semakin mencerdaskan iman kita sendiri.

 

 

Posted in Christology, Interfatith Dialog | Tagged , , | Leave a comment

Antara Hindu dan Hoddu (הדו) dalam Kitab Suci Yahudi.

שלום עליכם
السلام عليكم

Hoddu urdu

Ada kutipan teks Urdu dalam buku saya berjudul “Aryo-Semitic Philology: the Semitization of Vedas and Sanskrit Elements in Hebrew and Abrahamic Texts (Surabaya: Airlangga University Press, 2018).

Istilah הדו (Hoddu) dalam kitab TaNaKH (Torah Neviem ve Khetuvim) berbahasa Ibrani, sebagaimana yang termaktub dalam kitab Esther (Sefer Esther) yang ditulis di wilayah tradisi Arya, ternyata term הדו (Hoddu) merupakan istilah kosakata Sanskrit yang ter-Ibrani-kan atau Hebraized Sanskrit term. Dengan kata lain, istilah הדו (Hoddu) merupakan kosakata Judeo-Sanskrit sebagai bentuk Ibranisasi dari kosakata khas keagamaan Hindu dari tradisi Arya yang kemudian diadopsi dalam bahasa Ibrani Masoret (Biblical Hebrew).

Fakta tektual ini justru membuktikan adanya kesinambungan akar sejarah keagamaan dari tradisi Brahmanic (Arya) ke tradisi Abrahamic (Semit). Bila teks keagamaan Hindu bertradisi Arya ini migrasi ke wilayah Nusantara, maka muncullah kosakata “Geni” (api) dalam bahasa Jawa, yang berasal dari kata “Agni” (api) dalam bahasa Sanskrit. Begitu pula munculnya kosakata “Santri” (orang yang belajar kitab-kitab Islam di pesantren) dalam bahasa Jawa merupakan bentuk Islamisasi dari terminologi keagamaan Hindu (Islamized Brahmanic term) yang asalnya diadopsi dari kosakata bahasa Tamil, yakni “Santri” (orang yang belajar kitab Veda dan Vedanta); dan istilah ini ternyata juga berasal dari kata “Sastri” (orang yang belajar kitab Veda dan Vedanta) dalam bahasa Sanskrit, sedangkan kitab Veda dan Vedanta itu sendiri disebut “Sastra” dalam bahasa Sanskrit.

Jadi sebenarnya banyak kosakata Sanskrit yang diadopsi dalam bahasa Jawa. Bahkan, istilah “Jawa” itu sendiri dalam bahasa Jawa merupakan istilah serapan dari bahasa Vedic Sanskrit, yakni dari kosakata “Yava-dvipam” yang kemudian telah mengalami proses Jawanisasi menjadi “Jawa-dwipa” yang artinya “pulau Jawa.” Hal ini tentu maknanya merujuk pada konteks wilayah Jawa. Identitas wilayah Jawa memang telah tercatat dalam kitab Veda Ramayana, sehingga tidak mengherankan bila teks Veda akhirnya juga migrasi ke wilayah Nusantara, khususnya wilayah Jawa. Dalam Veda Ramayana, bagian Kiskinda-khanda 40:30 disebutkan:

yatnavanto Yava-dvipam
sapta rajyopa-sobhitam

(selanjutnya kalian akan memasuki wilayah pulau Jawa yang termasyhur, dan terdiri atas 7 kerajaan).

Sebaliknya, bila teks keagamaan Hindu bertradisi Arya ini migrasi ke wilayah Semit, maka muncullah kosakata “Hoddu” dalam bahasa Ibrani, yang berasal dari kata “Hindhu” dalam bahasa Sanskrit. Dan, istilah “Hindhu” dalam bahasa Sanskrit itu ternyata juga sepadan dng sebutan “Hindustan” dalam bahasa Urdu. Begitu pula munculnya istilah Ibrani תוכיים (tukiyyim, “parrots”) dalam Perjanjian Lama (the Old Testament) yang termaktub dalam kitab Raja2 (the book of Kings) dan kitab Tawarikh (the book of Chronicles) ternyata asalnya merupakan adopsi dari kosakata Tamil “tukiyyim” (parrots), dan istilah ini ternyata berasal dari kosakata bahasa Sanskrit yakni “sukim” (parrots).

Menariknya, dalam kitab Talmud, Bava Batra 15.a.2 disebutkan: וירמיה כתב ספרו וספר מלכים וקינות (ve Yermiyahu katav sefero ve sefer Melachim ve Qinot – Jeremias scripsit librum suum et librum Regum et Threnos), yang artinya: “dan Nabi Yeremiyah sendiri yang telah menulis kitab Yeremiyah, begitu juga kitab Raja-raja dan kitab Ratapan.” Dan fakta historis membuktikan bahwa Nabi Yeremiyah menulis kitab-kitab tersebut di wilayah yang terhegemoni tradisi Arya. Dengan demikian, tidaklah mengherankan bila istilah תוכיים (tukiyyim) merupakan bentuk Ibranisasi dari kosakata Sanskrit (“sukim“) yang bisa disebut sebagai Hebraized-Sanskrit term. Amazing.

Dengan demikian, peradaban Arya ternyata bukan hanya menyebar ke wilayah Nusantara, tetapi juga menyebar ke wilayah peradaban Semit (Timur Tengah).

Posted in Interfatith Dialog | Tagged , , , , | Leave a comment

Book Release: “Aryo-Semitic Philology: The Semitization of Vedas and Sanskrit Elements in Hebrew and Abrahamic Texts” (Surabaya: Airlangga University Press, 2018)

Banyak para akademisi telah membaca buku “The Foreign Vocabulary of the Quran” karya Arthur Jefferey (Baroda: Oriental Institute, 1938). Karya ini memang familiar di antara para misionaris untuk membuktikan adanya loanwords (kosakata asing) non-Arabic dalam Quran. Namun, kita juga harus jujur mengakui bahwa para ahli Biblikal faktanya telah mengakui adanya pengaruh kosakata asing (loanwords) non-Hebrew dalam Alkitab Perjanjian Lama (TaNaKH). Munculnya pengaruh kosakata asing (loanwords) dalam teks Perjanjian Lama (PL/TaNaKH) merupakan suatu keniscayaan dalam proses penjadian teks, apalagi penjadian teks TaNaKH yang kemudian ‘disucikan.’ Teks tidak pernah lahir dalam ruang hampa, dan teks itu sendiri muncul dalan konteks sosial, relasi bahasa dan interaksi budaya yang mengitarinya.

Dalam riset linguistic, Prof. James Barr, Ph.D., penulis buku “Comparative Philology and the Text of the Old Testament” (Oxford: The Clarendon Press, 1968) menyebutkan adanya hegemoni loanwords and words of non-Semitic origin dalam teks Perjanjian Lama (Biblical Hebrew Texts). Prof. Mats Eskhult, Ph.D., penulis “The Importance of Loanwords for Dating Biblical Hebrew Texts” (London-New York: T & T Clark International, 2003) dari Department of Asian and African Languages, Uppsala University (Swedan) juga memaparparkan bahwa bahasa-bahasa dominan yang berpengaruh dan terekam dalam teks TaNaKH (Perjanjian Lama) meliputi 4 bahasa utama, yakni bahasa Akkadia, bahasa Aramaic, bahasa Koptik (Ancient Egytian) dan bahasa Persia.

Ini membuktikan bahwa teks Perjanjian Lama tidak pernah ‘menjadi’ secara steril dan terasing daei bahasa-bahasa lain yang mengitarinya.

Sementara itu, Prof. Arthur Jeffery, Ph.D. penulis buku “The Foreign Vocabulary of the Quran” (Baroda: Oriental Institute, 1938) dan J. Spencer Trimingham penulis buku “Christianity among the Arabs in pre-Islamic Times” (London: Longman, 1979) juga menyebutkan adanya 4 bahasa-bahasa dominan yang berpengaruh dan terekam dalam Quran, yaitu bahasa Hebrew (Ibrani), Suryani (Syriac), Persian dan Etiopia (Amharic).

Berdasarkan pembuktian filologis, saya mencoba utk menyuguhkan karya saya berjudul “Aryo-Semitic Philology: The Semitization of Vedas and Sanskrit Elements in Hebrew and Abrahamic Texts” (Surabaya: Airlangga University Press, 2018) sebagai alternatif bacaan kepada para pembaca tentang adanya pengaruh kosakata asing non-Hebrew di antaranya hegemoni bahasa Sanskrit dan Persian – sebagaimana yang termaktub dalam Perjanjian Lama.

Hegemoni bahasa Sanskrit dan Persia merupakan bahasa-bahasa utama dalam tradisi Arya; dan kedua bahasa tersebut ternyata jejaknya amat dominan dalam bahasa Ibrani Masoret (Biblical Hebrew). Bahasa Sanskrit dan bahasa Persia justru dominan menaklukkan (‘conquer’) bahasa Ibrani Biblikal, yang jejaknya termaktub dalam teks Perjanjian Lama (PL).

Saya berharap, karya saya yang berjudul “Aryo-Semitic Philology: The Semitization of Vedas and Sanskrit Elements in Hebrew and Abrahamic Texts” merupakan karya kritik dan sekaligus sebagai karya pembanding atas bukunya Arthur Jeffery yang berjudul “The Foreign Vocabulary of the Quran.”

Posted in Biblical Studies | Tagged , , , | Leave a comment

Telaah Kritis Atas Konsep Penebus Dosa Vs Penghapus (Pembebas) Dosa

שלום עליכם

Isaiah-muhammad-shine

Isaiah Vision (Yeshayahu 21:7)

Rasul ﷺ yang keberadaannya sebagai “pre-existent Person” merupakan konsep Qur’ani sebagaimana yang termaktub dalam Qs. Ali Imran 3:81.

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُم مِّن كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنصُرُنَّهُ ۚ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَىٰ ذَٰلِكُمْ إِصْرِي ۖ قَالُوا أَقْرَرْنَا ۚ قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُم مِّنَ الشَّاهِدِينَ

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”.

Berdasarkan ayat tersebut diinformasikan bahwa אללה (ALLH) atau HASHEM baruch Hu telah mengikat/membuat perjanjian agung (a great covenant) kepada seluruh nabi-nabi, tanpa kecuali – tentang akan datangnya Sang Rasul ﷺ pada masa yang akan datang dan wajib bagi seluruh nabi-nabi itu untuk beriman kepada Sang Rasul tersebut.

Pada ayat tersebut ada tiga kata kunci:

  1. Pertama, term ميثق (mitsaq) yang dalam Quran terjemah Ibrani disebut ברית רבה (berit rabah) yakni perjanjian agung yang amat dahsyat. TUHAN berfirman dengan menggunakan istilah ميثق tersebut merupakan isyarat betapa pentingnya perjanjian tersebut, yang meneguhkan kepada kita bahwa perjanjian yang diikat sendiri oleh TUHAN itu sebenarnya bukanlah perjanjian biasa, tapi merupakan perjanjian luar biasa dan perjanjian yang sangat serius.
  2. Kedua, term النبين (al-nabiyyin) yang secara literal ditujukan kepada semua nabi-nabi yang sudah dikenal itu. Jadi istilah النبين (al-nabiyyin) merupakan nabi-nabi yang dikenal oleh Ahl al-Kitab (the owner of the Book) sebagai nabi-nabi yang menyejarah secara de facto sebagai sosok nabi-nabi yang historis. Itulah sebabnya, term نبين (nabiyyin, prophets) dikuatkan dengan tambahan ال (al) yakni al-ma’rifah sebagai definite article. Dan dalam Quran terjemah Ibrani tertulis term הנביאים (ha-nevi’im yang bermakna ‘the prophets‘). Dalam tata bahasa/gramatika Ibrani, huruf ה (hay) yang mengikat/melekat pada sebuah kata benda disebut sebagai ‘hay hayiddiah.’ Hal ini bermakna huruf ה (hay) yang melekat pada kata tersebut mengindikasikan bahwa term הוביאים (the prophets/nabi-nabi itu) tersebut sosok/figur mereka telah dikenal oleh sang komunikator dan sang komunikan. Hal ini sebagaimana penjelasan Rabbi David Kimchi zichrono lifracha (Radak zl’t) dalam kitabnya ספר מכלול להרד”ק אסופת כללים בדקדוק לשון הקודש. Dengan demikian kita bisa mengenal seluruh nabi-nabi itu secara pasti dan mereka telah mengikat perjanjian agung itu secara kolektif bersama TUHAN.
  3. Ketiga, term رسول (Rasul) yang secara literal bermakna Rasul, sejajar dengan term שליח (Shaliyach) dalam Quran terjemah Ibrani. Mengapa ada pembedaan penggunaan term رسول (Rasul) dengan term النبين (seluruh nabi-nabi itu) dalam ayat Qs. Ali Imran [3]: 81 tersebut? Ini merupakan isyarat bahwa term رسول (Rasul) pada ayat tersebut merujuk pada pra-eksistensinya, bukan merujuk pada eksistensi fisik kemanusiannya yang historis yang lahir pada tahun 571 M. Itulah sebabnya semua kitab Tafsir secara de jure menyatakan bahwa term رسول tersebut mengacu kepada pra-eksistensi Muhammadﷺ sebelum dia dilahirkan. Jadi ada
    1. Pra-eksistensi Sang Rasulﷺ, dan ada
    2. Eksistensi kemanusian Sang Rasulﷺ. Dan berdasar ayat itu pula adanya pembeda,
      1. Isi perjanjian agung itu sendiri, yang merujuk kepada Sang Rasulﷺ sebagai pribadi yang berpra-eksistensi,
      2. Semua nabi-nabi yang mengikat perjanjian agung itu bersama TUHAN dan mereka berikrar mengenai dia sebagai isi perjanjian agung yang amat dahsyat itu.

Itulah sebabnya Abraham mengingat ‘Perjanjian Agung’ itu sebagai rekaman kolektif; dan Abraham memohon agar eksistensi kemanusiaan Sang Rasulﷺ itu nanti dilahirkan dari benihnya melalui Ishmael sebagaimana yang tercatat dalam Qs. Al-Baqarah [2]: 129.

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.

Pada Qs. as-Shaff [61]:6

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُم مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِن بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ ۖ فَلَمَّا جَاءَهُم بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَٰذَا سِحْرٌ مُّبِينٌ

Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)”. Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata”.

Yesus juga mengingat ‘Perjanjian Agung’ itu sehingga dia menyatakan kalimat yang hampir sama sebagaimana yang diucapkan oleh Abraham. Bila Abraham menyebut dengan ungkapan kata kunci رسولا (Rasulan) tanpa menyebut NAMA person, tetapi hanya menyebutkan tugas agung yang eksklusif dari sang person yang dimaksud, yakni ويزكيهم (“wa yuzakkīhim“) yang bermakna “dan menghapus dosa mereka” atau “dan membersihkan dosa mereka” atau “dan menyucikan dosa mereka”), maka Yesus menyebut dengan ungkapan kata kunci رسولا (Rasulan) sekaligus menyebut NAMA person tersebut, meskipun Yesus tidak menyebutkan tugas agung yang eksklusif dari Sang Rasulﷺ. Jadi, Abraham tidak menyebut NAMA Sang Rasul ﷺ, sedangkan Yesus menyebut NAMA Sang Rasul ﷺ. Ini merupakan bukti kongkrit bahwa Abraham dan Yesus sebenarnya mengenal pra-eksistensi Sang Rasulﷺ sebelum kelahiran eksistensi kemanusiaan Sang Rasulﷺ, dan keduanya menggunakan term yang sama, yakni term رسولا (Rasulan).

Itulah sebabnya Abraham meminta dengan penuh kerinduan kepada TUHAN agar sosok yang pra-eksistensi itu muncul dari benih Abraham sendiri melalui Ishmael. Begitu juga Yesus mengenal pra-eksistensi Sang Rasul SAW, sehingga beliau sendiri menyebutkan NAMA person Sang Rasul ﷺ. Dengan demikian, Sang Rasul ﷺ sebenarnya sudah ada sebelum Abraham ada (Al-Baqarah [2]:129); dan Sang Rasul ﷺ juga sudah ada sebelum Yesus ada (as-Shaff [61]:6).

Fakta membuktikan bahwa Abraham dalam doanya menggunakan ungkapan 2 kata kunci, yakni:

  1. Term رسولا (Rasulan) yg mengisyaratkan pra-eksistensi Sang Rasul ﷺ,
  2. Term ويزكيهم (“wa yuzakkīhim”) yang artinya: ‘dan menghapus dosa mereka’ atau ‘dan menyucikan dosa mereka’ atau ‘dan membebaskan dosa mereka.’ Dan term ini fakta tekstualnya dalam Quran tdk pernah ditujukan kepada nabi-nabi lainnya kecuali kepada Sang Rasul ﷺ. Lihat Qs. Ali Imran [3]: 164, Qs. Al-Jumu’ah [62]:2.

Begitu juga Sang Rasul ﷺ lebih dulu ada meskipun secara fisik kemanusiannya belum dilahirkan. Itulah sebabnya Yesus telah menyatakannya kepada b’nei Yisrael mengenai kedatangan Sang Rasul ﷺ sekitar 500 tahun sebelum kelahiran Sang Rasul ﷺ itu sendiri.

Menurut Qs. Al-Baqarah [2]:129 penggunaan kata kunci يُزَكِّيْهِمْ itu sendiri sebenarnya terdiri dari subyek (seorang pelaku, yang merujuk kepada seorang figur spesial), predikat (tindakan spesial dari sang figur), dan obyek (sasaran). Bahkan, verbal/fi’il mudhari’ tersebut bila ditilik berdasar konteks ayatnya, sesuai gramatika bahasa Arab justru membuktikan bahwa Sang Rasul ﷺ memang belum dilahirkan dan tindakannya bermakna tindakan di masa depan yang akan dilakukan Sang Rasul ﷺ itu sendiri. Term يزكي (yuzakkī, yang bermakna “menghapus dosa/menyucikan dosa”) dalam bahasa Arab Quran sebagaimana yang termaktub dalam ayat ini sebenarnya seakar dengan term זכה (zakkah) dalam bahasa Ibrani Biblikal. Lihat teks TaNaKH, khususnya Sefer Shemot/kitab Keluaran 30:34, yang diartikan “pure”, dari kata kerja/verb זכך ( zikkech) yang artinya “to purify.” Uniknya, kajian berdasar gematria Quran, nama محمد (Muhammad) sebagai nama Sang Rasul ﷺ disebutkan sebanyak 4 kali, sejajar dengan penyebutan tindakan spesial Sang Rasul SAW yang redasional ayat-ayatnya juga menggunakan verbal يزكي (yuzakkī, yang bermakna “menyucikan dosa”/menghapus dosa”), dan lagi verbal ini merujuk kepadanya sebanyak 4 kali. Nama Sang Rasul ﷺ

Nama Sang Rasulﷺ
1. Ali Imran 3:144
2. Al-Ahzab 33:40
3. Muhammad 47:2
4. Al-Fath 48:29

Peran/tindakan spesial Sang Rasulﷺ
1. Al-Baqarah 2:129
2. Al-Baqarah 2:151
3. Ali Imran 3:77
4. Al-Jumu’ah 62:2

Renungan:

  1. Menurut Injil Yohanes, Yesus bersabda: “Sebelum Abraham jadi, Aku telah Ada (Yohanes 8:58). Nabi Yahya AS juga bersabda mengenai Yesus, katanya: “Dialah yang datang sesudah aku, yang sudah ada sebelum aku ….” (Yohanes 1:27). Begitu juga Quran menjelaskan bahwa Sang Rasul ﷺ telah ada sebelum Abraham ada (Al-Baqarah [2]:129). Bahkan, Sang Rasul ﷺ yang akan datang itu juga sudah ada sebelum Yesus ada (as-Shaffat [61]:6).
  2. Bila semua nabi-nabi tersebut beriman kepada Sang Rasul ﷺ, meskipun mereka tidak pernah bertemu dengan Sang Rasul ﷺ, maka Sang Rasul ﷺ juga pernah bersabda: “Berbahagialah mereka yang beriman kepadaku, meskipun mereka tidak pernah bertemu/berjumpa dengan aku. Merekalah احواني (ikhwani).” Para sahabat bertanya kepada Sang Rasul ﷺ: “Apakah mereka itu adalah kami semua para sahabatmu wahai Sang Rasul ﷺ?” Maka Sang Rasul ﷺ pun akhirnya menjawab: “Tidak! Kamu semua adalah اصحابي (para sahabat-ku), sedangkan mereka yang tak pernah melihat dan tak pernah berjumpa denganku, namun mereka beriman kepadaku, mereka adalah احواني (para saudara-ku).”
  3. Berbahagialah kita yang tak pernah melihat/berjumpa dengan Sang Rasul ﷺ tetapi beriman kepadanya, sebagaimana para nabi juga beriman kepadanya, meskipun mereka tak pernah melihat dan berjumpa dengan Sang Rasul ﷺ. Inilah derajat keimanan para nabi yang amat sempurna. Mengapa? Mereka beriman kepada Sang Rasul ﷺ, meskipun mereka juga tak pernah bertemu/berjumpa dengan Sang Rasul ﷺ.
  4. Istilah يزكي (yuzakki) ini sederhana, yakni: “menyucikan.” Persoalannya: (i) menyucikan apa? Menyucikan jiwa? Menyucikan jiwa dari apa? Menyucikan jiwa dari dosa? Menyucikan jiwa dari dosa apa? Alternatif jawabannya adalah menyucikan jiwa dari dosa kesyirikan, menyucikan jiwa dari dosa kotoran hati, menyucikan jiwa dari dosa kemaksiatan, menyucikan jiwa dari dosa hal-hal negatif lainnya. Namun, bukankah semua itu intinya adalah menyucikan dosa atau menghapus dosa? Bila istilah يزكي penjelasannya hanya merujuk pada menyucikan jiwa dari kesyirikan (kemusyrikan); bukankah itu tindakan seruan umum tugas kenabian yang diemban oleh seluruh nabi-nabi dalam mengajarkan TAUHID sebagaimana yang termaktub dalam Quran? Lalu apa istimewanya tugas khusus Sang Rasulﷺ yang mana istilah يزكي itu sendiri tidak pernah dinisbatkan kepada nabi-nabi lain? Jumhur ulama semua sepakat bahwa siapapun yang beriman kepada Sang Rasulﷺ, mengakui risalahnya maka semua dosa-dosanya saat sebelum menjadi Muslim, maka dosa-dosanya akan diampuni. Inilah jaminan keselamatan dan jaminan penghapusan/pengampunan dosa. Jiwanya telah disucikan dari dosa. Tidak perlu ada ‘tumbal’ melalui penyaliban. Selain itu, dosa-dosa yang dilakukan pasca menjadi Muslim, justru nantinya akan mendapatkan syafaat dari Sang Rasulﷺ. Inilah jaminan kita atas keselamatan kita.

    Oleh karena itu kita harus merenungkan ulang istilah يزكي ini sebagaimana pengharapan kita akan keselamatan kita.

    1. Istilah يزكي (yuzakki) tidak pernah dinisbatkan kepada nabi2 lain kecuali kpd Sang Rasulﷺ. Ini fakta Quran. Kalau term بشير (basyir) dan نذير (nadzir) dinisbatkan kepada semua nabi termasuk Sang Rasulﷺ. Ini juga fakta Quran. Berarti term يزكي yang dinisbatkan hanya kepada Sang Rasulﷺ ada sesuatu yang special dibanding nabi-nabi yang lain.
    2. Untuk memahami makna istilah يزكي yang dinisbatkan kepada Sang Rasulﷺ (Al-Baqarah 2:151; Al-Baqarah 2:129; Ali Imran 3:164; Al-Jumu’ah 62:2) bisa dibandingkan dengan makna dari istilah يزكي yang juga dinisbatkan kepada ALLH (Al-Baqarah 2:174; Ali Imran 3:77).

    Dengan membaca artikel saya ini, maka saudara-saudara kita umat Kristiani bisa belajar melalui Quran tentang kedudukan dan tugas khusus Sang Rasulﷺ yang tidak dimiliki oleh nabi-nabi lain, termasuk Yesus Kristus. Dengan demikian, umat Kristiani tidak perlu lagi ‘jualan’ tentang Yesus sebagai Sang Penebus dosa kepada kita, karena kita umat Islam sudah punya konsep yang lebih menjanjikan. Artinya, konsep Islam tentang Sang Penghapus dosa lebih menjanjikan dibanding konsep Kristen tentang Sang Penebus dosa. Dan, umat Islam tidak perlu lagi disesatkan dengan ‘iming-iming’ ttng penebusan dosa oleh Yesus Kristus. Quran menyatakan bahwa mereka yang percaya/beriman kepada Sang Rasulﷺ – maka mereka telah terbebas dari semua dosa terdahulu dan terjamin masuk ke dalam sorga melalui syafaat Sang Rasulﷺ. Amal perbuatan baik (amal shalih) bagi seorang Muslim merupakan bukti iman yang akan menempatkan mereka di bagian terbaik dari lapis-lapis tingkatan sorga.

    Jadi, Islam memang tidak mengenal Sang Penebus dosa, tapi Islam mengenal Sang Penghapus dosa/Sang Pembebas dosa, dan ini merujuk pada tugas yang utama dan agung dari Sang Rasulﷺ.

  5. Ajaran Kristen mengenal Sang Juru Selamat, yang disebut Al-Masih (المسيح). Perjanjian Baru menyatakan bahwa Yesus disebut Al-Masih karena sebagai Sang Penebus dosa melalui tiang salib (soteriologi). Sebutan Al-Masih (Orang Yang Diurapi) bagi Yesus merupakan gelar yang khas. Ajaran Penebusan dosa meniscayakan adanya IMAN kepada Yesus dan adanya tindakan “pembebasan dosa DENGAN syarat”, yakni dosa tidak akan dihapuskan tanpa adanya pengganti yang memikul beban dosa itu sendiri, yakni adanya konsep “Dia Yang Menggantikan Demi Pembebasan Dosa.” Inilah yang disebut “konsep substitusi” dalam ajaran Soteriologi. Sementara itu, ajaran Islam juga mengenal Sang Juru Selamat, yang disebut Khatam Al-Nabiyyin (خاتم النبين). Sebutan Khatam Al-Nabiyyin (Meterai Para Nabi) sebagaimana yang termaktub dalam Qs. Al-Ahzab 33:40 merupakan gelar yang khas bagi Sang Rasulﷺ. Gelar khas ini tentu terkait dengan isi Perjanjian Agung yang diikat TUHAN bersama semua nabi-nabi (Qs. Ali Imran 3:81). Quran telah menyatakan bahwa Sang Rasulﷺ sebagai Khatam Al-Nabiyyin memiliki tugas khusus yakni sebagai Sang Penghapus dosa atau “Dia Yang Menyucikan Dosa.” Ajaran Penghapusan dosa meniscayakan IMAN kepada Sang Rasul SAW dan tindakan “pembebasan dosa TANPA syarat”, yakni dosa akan dihapuskan tanpa adanya pengganti yang memikul beban dosa itu sendiri, yakni tidak mengenal adanya konsep “Dia Yang Menggantikan Demi Pembebasan Dosa.” Menurut Quran, pembebasan dosa TANPA syarat itu sangat sederhana. . Sang Rasul ﷺ hanya diperintahkan untuk berkata: לכו בעקבותי אוהבכם יהוה ומוחל לכם על חטאיכם [lechu be ‘iqvotai ohavchem ADONAI u-mochel lachem ‘al chathoeichem], yang artinya: “Ikutlah aku, maka ALLH akan mencintai kalian dan akan mengampuni semua dosa-dosa kalian.” (Ali Imran 3:31). Inilah keunikan masing-masing kedua ajaran agama antara Islam dan Kristen. Jadi, ada Juru Selamat menurut versi Islam, yang bergelar Khatam Al-Nabiyyin; dan ada Juru Selamat yang bergelar Al-Masih. Konsep yang similar, but not exactly the same.
Posted in Interfatith Dialog | Tagged , , , , , | Leave a comment

Makkah dalam Quran dan Tradisi Torah She Be’al Phe

Kajian Ustadz Menachem Ali: Makkah dalam Quran dan Tradisi Torah She Be’al Phe.

Posted in Biblical Studies, Interfatith Dialog | Tagged , , , , | Leave a comment

Is Prophet Muhammad (pbuh) mentioned by the name in the Bible?

al araf 157

Those who follow the Messenger, the unlettered prophet, whom they find written in what they have of the Torah and the Gospel… [Al A’raaf 157]

It comes to my attention, initially published in Al Bayan site, a very interesting research written by a researcher by the name of Faisal Al Kamily who argues using linguistic argument that Hosea 9:6 a clear prophecy about Prophet Muhammad (peace be upon him) so I thought it will be beneficial to make this research accessible in English. However I believe this post is for open minded people and those who are honest in asking, the evidence that prophet Muhammad was indeed prophesied in the TaNaKH as it speaks for itself, but for one who has bigotry on Prophet Muhammad and Islam, no amount of evidence will be convincing.

NB: <<The research is originally in Arabic and I translated it myself to make it accessible for english readers but I’m not a professional translator, so my apologies if my translation causes anyone’s eyebrows raised.>>


Is Prophet Muhammad (pbuh) mentioned by the name in the Bible?

Part I

Christian and Jewish scholars claim that the name محمد “Muhammad” was not written in their so called “holy” books whatsoever. Thus the the saying of Allah in the Quran Al A’raaf 157 merely just an effort to legitimize and sanctify the final prophethood the message of Islam as a religion which supersede Judaism and Christianity. We will see that despite of these false allegations however if the claim is true, the story in the so called holy bible is actually not the story taken from the true Torah and the Gospel which are revealed from God, accordingly, if the name of “Muhammad” is not mentioned in the holy books ie previous revelation it would be a deciding factor in refuting the holy Quran.

“Holy Bible” is divided into two main parts: Old Testament which is equally believed by the Jews and the Christians, and contains laws and stories from time span the beginning of creation to the fifth century BC approx. It was written by a number of unknowns whom we know nothing about them, the New Testament is accepted only by the Christians and it includes the story of Christ, the book allegedly has been composed by: Matthew, Mark, Luke, and John, in addition to that there are some are letters some attributed to Paul the Jew and some to others.

To reassure the hearts of the believers and to make the unbelievers more broken hearted, and for muslims are not accused of being impartial in any way in this response. Here are passages from the Old Testament that Jews and Christians have to accept that the name of “Muhammad” is still intact , despite the tampering. Regardless of the authenticity or inaccuracy of the (old testament) text attributed to a prophet among the Israelite prophets, there remain the evidence of the historical background of the Prophet (Muhammad) mission — as well as evidence of the mention of his noble name from the time of authentic revelation hidden by rabbis and monks, like they did in other books. In this part of the article, I shall present a clear case of distortion (Taḥrīf), a case where accepting the text despite lacking its coherence original meaning, which I will seclude in the second part (of this article), God willing.

These passages appear in the book of Hosea – It is one of the books of the Old Testament canon – In the context of rebuking of the Israelites for the wrongdoings and sins they committed “the Lord” says:

1 Rejoice not, O Israel, As other peoples exult; For you have strayed Away from your God: You have loved a harlot’s fee By every threshing floor of new grain. 2 Threshing floor and winepress Shall not join them, And the new wine shall betray her. 3 They shall not be able to remain In the land of the LORD. But Ephraim shall return to Egypt And shall eat unclean food in Assyria. 4 It shall be for them like the food of mourners, All who partake of which are defiled. They will offer no libations of wine to the LORD, And no sacrifices of theirs will be pleasing to Him; But their food will be only for their hunger, It shall not come into the House of the LORD. (Hose 9:1-4)

After the passages of rebuke, the Lord asks them, saying:

hosea 9 7-5.png

 

<<Hosea 9:5-7>>

Mah-ta’asu leyom mo’ed; uleyom chag-yahuwah.

Ki-hinneh halechu mishod, mitzrayim tekabbetzem mof tekabberem; Mahmad lechaspam, kimmos yirashem, choach be’oholeihem.

Ba’u yemei happekuddah, ba’u yemei hashillum, yede’u yisra’el; evil hannavi, meshugga ish haruach, al rob avonecha, verabbah mastemah.

And its translation in accordance with most of the Arabic and non-arabic translations (this is my own translation based on Van Dykes Arabic bible – Eric Kisam):

5What will you do in feast days, in the festivals of the LORD 6Behold, they have gone because of destruction, Egypt gather them, Mof bury them, The desirable things of their silver, Weeds are their heirs; Prickly shrubs occupy their [old] homes. 7Come in have the days of inspection, Come in have the days of recompence, Israel do know! a fool [is] the prophet, Mad [is] the man of the Spirit, Because of the abundance of their sins, And great [is] the hostility.

Most of the Arabic and non arabic translations exegetes this text as a some kind of weird situation that hardly expresses any useful benefit, but is it merely contradictory sentences with no connection?. What is the “day of the season”? What is the “day of the Lord’s Day”? What is the meaning of “Let Israel know it! The prophet is a fool, The inspired man is mad because of the abundance of their sins and hatred”?

Here are examples of the translations and their discrepancies:

The Septuagint

Therefore, behold, they go forth from the trouble of Egypt,… [1]

New International Version

Even if they escape from destruction, Egypt will gather them,…[2]

Revised Standard Version

For behold, they are going to Assyria; Egypt shall gather them…[3]

This puzzle of this discrepancy quickly fades away if the examiner returns to the Hebrew text in the book of Hosea to see why the various translations are far from accurate, because it depends on those who are not specialist in the “Semitic” languages[4] although being the expert in the field you see they sometimes skip the Hebrew lexical meaning and rush to any meaning which bear the context, and they do not posses intuitive skill to present the desired meaning from among dozens of meanings sometimes because most of the translations were done by non semites.

The Greek Septuagint added the word “talaiporias,” which means distress and trouble (or sometimes ruinned) to the word “Aiguptou” (ie, “Egypt”) to become the phrase “the trouble of Egypt.” Although this meaning is acceptable in itself, yet it doesn’t go with the intended rhyme in the original the text, as will be explained shortly.

We also note that what the Greek version (Spetuagint) is contrastly different with “the new international version” (NIV) on two key words “trouble” and “destruction”, so “from the trouble of Egypt” becomes “destruction, Egypt …

The RSV version have been greatly exaggerated that one left to wonder: which clumsy hand did it? The letter “m” (meaning “from” «min») was translated into “to” «ilā», which is exactly the antonym of the meaning! Then the word “shud” שֹּׁ֔ד is translated as “Assyria”, and become “they are going to Assyria”. What is the similarity between (שׁ – ד) and (ע – שׁ – ו – ר) in Hebrew such the reasoning of the interpreter to arrive at such translation? Is it an example of the tampering by the translators?, this can not be interpreted as such except this is a deliberate bias or sheer ignorance. Perhaps the readers haved warned the publishing house of this fatal flaw, so in the new revised standard version (NRS) it now becomes “For even if they escape destruction” similar to the new international version (NIV).

The Hebrew language was a dialect of ancient Arabic dialects, such as Sab’iyah and Tsamudiyah, spoken by the Canaanite Arabs who inhabited Palestine. Then the Jews took their tongue for them, and called “Siffat Kana’an“; that is “Sefat kena’an שְׂפַ֣ת כְּנַ֔עַן” “the tongue of Canaan” as attested in the Book of Isaiah (19:18). However, since it has lost its syntax case markings (the I’rab) – like many of the ancient Arabic dialects – it has became difficult to define the meanings precisely as in the above text. If the word “Masraim” was read as nominative case, it would not be related to “shud” (ie: trouble), in fact it is is a resumed sentence (musta’nifa). British Encyclopedia states: In semitic language [like the classical arabic] there are originally three case endings: Nominative (rafa’), Accusative (nasb), and Genitive (jar). However, those cases markings were not fully preserved except in some Akkadian dialects and in classical Arabic. “[5]

as I mentioned: The reader of two passages (v5 and 6) shall automatically notice in their original Hebrew, that in them the symmetry and rhyme is always in the sentences without use or being irregular.

The text says:

Mitzrayim tekabbetzem[6] (Egypt shall gather them )
Mof tekabberem (Mof shall bury them)
Mahmad lechaspam (their precious silver?)
Kimmos[7] yirashem (thorny weed shall inherit them)
Choach be’oholeihem (Prickly shrubs occupy their places)

Notice in short that the first three sentences begin with “Mem”, and each sentence ends with the plural construct “mem” which corresponds to “them” in Arabic, which reminds us of the rhyme of Andalusian poetry.

When the correct rule of the text were followed, it turns out that the word “mitzrayim” should be as nominative possessive composite (rafa’ mubtada) and not as the genitive/ (mudāf ilayhi) as suggested by the Septuagint version. The mistake in Septuagint is it view “(mi)shod mitzrayim” as mudāf – mudāf ilayhi construction, thus the wordings of the two paragraphs were re-arranged as follows:

Tekabbetzem mof (Mof shall gather them)
Tekabberem Mahmas (Μέμφις) (?)[8] shall bury them)
Lechaspam kimmos yirashem ( And their silver thus turn into ruin)
Choach be’oholeihem (Prickly shrubs occupy their tents)

In this way, the septuagint version has lost the pattern and the intended rhyme even more it has violated the rules of case ending (I’rab) in the third sentence, as I will show in the second part of the article, God willing.

Notes:
[1] «διὰ τοῦτο ἰδοὺ πορεύσονται ἐκ ταλαιπωρίας Αἰγύπτου dià toûto idoù poreúsontai ek talaipōrías Aigýptou».
[2] “Even if they escape from destruction, Egypt will gather them.”
[3] «For behold, they are going to Assyria; Egypt shall gather them…».
[4] Coining the term “semitic” is on language despite its mistake, it is correct to say: «Ancient Arabic» or so
[5] Encyclopedia Britannica. “Semitic Languages”.
[6] from the the Hebrew “qabats קָבַץ” (equivalent with arabic “qabada قبضmeaning ”to seize”) in the sense of “to gather” or ”to hold”.
[7] A nettle i.e. a plant.
[8] Which is a distortion of the original word «M – H – M – D» as I will show in the second part, God willing.


Part II

It was mentioned in the first part of this article, a text from the Old Testament which refer to “Muhammad” (pbuh) by name explicitly in the books of the jews and christians, but there are proof the deliberate distortion in the hebrew translation of the text, and I have shown some instances, now more importantly is to prove that the quoted paragraph should be read in the following order, taking into account the commas/separations:

hosea 9 5-6.png

 

<<Hosea 9:5-6>>

Mah-ta’asu leyom mo’ed; uleyom chag-yahuwah?

Ki-hinneh halechu mishod:
mitzrayim tekabbetzem,
mof tekabberem,
mahmad lechaspam,
kimmos yirashem,
choach be’oholeihem..

And I have proven that this reading is the only one that maintains the symmetry of the sentences and its rhyme. But in this part, I will focus on the meaning of the text to see how the translators manipulated text who refer clear prophecy of the Al Mustafa (Muhammad pbuh) – to become sentences that are very incohesive and meaningless.

The exegesis of the text

As for the saying: “Mah-ta’asu leyom mo’ed; uleyom chag-yahuwah?” It has nothing to do with the feast days and festivals. This is apparent from the context; it is an intimidation and warning for the Israelites who have departed from God’s way and disobeyed His messengers.
The translation says <<What will you do in feast days, in the festivals of the LORD??>> it took away the goal and change the threat to festival. The Hebrew text says: (le-yom לְ-י֣וֹם) meaning «for the day» and not (be-yom ב-י֣וֹם) «in a day». Therefore, the correct translation is: “What do you do to the day of the appointed[1] and the day that the Lord will gather you?” The word Hag ”חַג” in Hebrew is pertaining to “mass gathering”; The meaning of the sentence is mentioned in the words of God (The Qur’an) – the Almighty – addressing the children of Israel:

وَاتَّقُوا يَوْمًا لاَّ تَجْزِي نَفْسٌ عَن نَّفْسٍ شَيْئًا وَلا يُقْبَلُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلا تَنفَعُهَا شَفَاعَةٌ وَلا هُمْ يُنصَرُونَ

And fear a Day when no soul will suffice for another soul at all, and no compensation will be accepted from it, nor will any intercession benefit it, nor will they be aided. [Al-Baqarah: 123].

As for the saying, “Ki-hinneh halechu mishod: mitzrayim tekabbetzem, mof tekabberem

And it is interpreted it as: <<Even if they escape from destruction, Egypt will gather them, and Memphis[2] will bury them [or] hide them>>

It is a very close meaning to the Words of Allah – the Almighty – in the Qur’an Al Karīm:

وَإذْ نَجَّيْنَاكُم مِّنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ وَفِي ذَلِكُم بَلاءٌ مِّن رَّبِّكُمْ عَظِيمٌ

And [recall] when We saved your forefathers from the people of Pharaoh, who afflicted you with the worst torment, slaughtering your [newborn] sons and keeping your females alive. And in that was a great trial from your Lord. [Al-Baqarah: 49].

But the persecution of the Egyptians is not in all the paragraphs which says about the calamity of the Israelites. It continues: “Mahmad lechaspam מַחְמַ֣ד לְכַסְפָּ֗ם ,” and here is the bottomline. This phrase was translated as “the precious thing of silver”, which is an apparent distortion of two main things:

The first is that the phrase (idāfa) of “Mahmad” (meaning “precious”) to “chaspam” (ie, “their silver” or “their money”) is of great importance, for the occurence of the preposition (harf ul ĵar) <<לְ>> between them. In the Grammar of Hebrew Language by Wilhelm Gesenius, it is cited that the proper term of the phrase is (Mahmad chaspam), and thats the joint wording of the phrase in Hebrew.

Secondly, if we accept the validiy of the argument in “mahmad lechaspam”, as “their preciousness silver [or their money]” is nevertheless not a useful sentence, it is a construct contains subject (mubtada) who lacks the predicate (Al khabar), or the predicate has been omittedt we do not know. This forced the translator to connect with (kimmos yirashem קִמּוֹשׂ֙ יִֽירָשֵׁ֔ם ), as follows, and said: “Their preciousness (of) silver will be taken over them by thorny weed” It is an awful attempt to escape the problem, but the sentence is not improved despite this fix; because if we translated the Hebrew text literally it would have become “the preciousness (of) their silver thorny weed shall inherit them”; meaning the plural sentence ”הם” return the singular “preciouness,” which is not correct in the Hebrew language. Rather, it is said: “the preciousness (of) their silver thorny weed shall inherit it “, If we assume that the pronoun refer to “silver”- which is very unlikely – the objection is valid; it is singular and not plural in its Hebrew original. This indicates that they are two sentences rather than one sentence.

What is the meaning of the sentence then? a brief, concised term of “mahmad lechaspam” in its literal meaning, is “Muhammad to their Lord,” as “Muhammad” is a proper noun which refers to the Prophet – and not an adjective “precious” – This testify to at least two things:

First: The sentence without this form is not complete, there is no meaning and no word declension (mabnī), as stated above.

Second: When the translators of the Septuagint were exposed to this paragraph, they realized that Muhammad was a proper name, so they did what they did they tried to change the name to Machmas/Μαχμας (the city of Machmas). Perhaps one can excuse the translators on the possibility for not being able to recognize letter “Dalet ד” in the Hebrew origin, I say:

First: The letter of ש‬ “Shin” and ד‬ “Dalet” in Hebrew nothing resemble the mixture and the confusion between them is unlikely; the former is similar in form to number (5) and the latter is similar to number (6).

Second, suppose we follow this speculation, the city of Machmash as the translators want here, in Hebrew it is not written as “mahmas / מחמשׂ‬, ” but rather “makmas”/ מכמשׁ‬ with Kaf כ and ‬ Shin שׁ. The distortion was not only in one letter, but in two letters.

The critic may object: “Mahmad is not the same with Muhammad.” The answer: that the Hebrew text remained for more than a thousand years were without vowel signs until added by the “masoretes” the Jewish scholars between the sixth and ninth century AD, according to their judgement and made some mistakes. The word before the distortion of the masoretes was “MHMD” without vowel signs, and it was not “Mahmad“, and this is what the scholars of the Old Testament gather with acquiescence in order to hide the trace of «Muhammad» knowing about the Prophet (pbuh).

And the intention of the passage (is to show) that Muhammad (pbuh) will discipline them with their wealth, and this happened when the sons of Nadeer were expelled to Syrian and Khayber, so even one of them destroy the door of his house and roof in the night abandon it behind, as mentioned in Surat Al-Hashr:

هُوَ الَّذِي أَخْرَجَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِن دِيَارِهِمْ لأَوَّلِ الْـحَشْرِ مَا ظَنَنتُمْ أَن يَخْرُجُوا وَظَنُّوا أَنَّهُم مَّانِعَتُهُمْ حُصُونُهُم مِّنَ اللَّهِ فَأَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبُوا وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ يُخْرِبُونَ بُيُوتَهُم بِأَيْدِيهِمْ وَأَيْدِي الْـمُؤْمِنِينَ فَاعْتَبِرُوا يَا أُوْلِي الأَبْصَارِ

It is He who expelled the ones who disbelieved among the People of the Scripture from their homes at the first gathering. You did not think they would leave, and they thought that their fortresses would protect them from Allah ; but [the decree of] Allah came upon them from where they had not expected, and He cast terror into their hearts [so] they destroyed their houses by their [own] hands and the hands of the believers. So take warning, O people of vision. [Al-Hashr: 2].

وَمَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْهُمْ فَمَا أَوْجَفْتُمْ عَلَيْهِ مِنْ خَيْلٍ وَلا رِكَابٍ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُسَلِّطُ رُسُلَهُ عَلَى مَن يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

And what Allah restored [of property] to His Messenger from them – you did not spur for it [in an expedition] any horses or camels, but Allah gives His messengers power over whom He wills, and Allah is over all things competent. [Al-Hashr: 6].

As for saying: “kimmos yirashem, choach be’oholeihem” I will rely the translation on the Arabic versions: “thorny weed shall inherit them, and prickly shrubs occupy their places” for the sake of argumen will not be accepted, in order to not to take up too much time of the reader.

Then the Lord returns to the warning of the children of Israel from the consequences of their kufr, and that the days of reckoning have arrived. He Says “Ba’u yemei happekuddah, ba’u yemei hashillum” which The days of punishment have come, the days of recompense have come. The use of past tense here is an indication of assurance of that it is inevitably occurring, as the saying of God Almighty -:

أَتَى أَمْرُ اللَّهِ فَلا تَسْتَعْجِلُوهُ

The Command of Allah has come up; so do not seek to hasten it. [AnNahl: 1].

Then (God) explained the justification for this threat and ultimatum, and said: “yede’u yisra’el; ewil hannavi“. And translated as in Van Dyke translation: “Israel will know, the foolish prophet, the man of crazy spirit.” You notice the ending is weak and ambiguous, most of the Arabic and non arabic translations considered the Hebrew verb «Yada יָדַע» derived from «Yod – Dalet – Ayin ד – ע » which mean “knowing” , however it is plausible to suggest that it is in fact derived from « Dalet – Ayin – He ד – ע – ה » which cognate with Arabic Da’ā «دعا» which mean « to call». This is consistent in hebrew with what James Barr has classified in his book “Comparative Philology and the Text of the Old Testament”[3]. Thus the sentence (yede’u yisra’el; evil hannavi, meshugga ish haruach) consists of a transitive verb with two objects, a doer/subject with its initial part second object, and latter part first-object, then a second possessed object with its latter part first-object. Therefore, the literal translation of the paragraph is: “Israel calls the prophet a fool, and the man of the mad spirit”, and “Israel” here is meant to be the children of Israel.

God Almighty said -:

كَذَلِكَ مَا أَتَى الَّذِينَ مِن قَبْلِهِم مِّن رَّسُولٍ إلاَّ قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ * أَتَوَاصَوْا بِهِ بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ

Similarly, there came not to those before them any messenger except that they said, “A magician or a madman.” * Did they suggest it to them? Rather, they [themselves] are a transgressing people. [Adh-Dhāriyāt 52-53]

Then the text which the Jews had paid for this insults and rejection, it said: al rob awonecha, we rabbah mastemah “to the multitude of your sins and the excess of your hostility”[4]. The reason for the Jews denying the Prophet as well as insulted them – attested by their journey – their excessive hostility, which God – the Almighty – Said:

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِّلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا

You will surely find the most intense of the people in hostility toward the believers [to be] the Jews and those who associate others with Allah (the Pagans) [Al-Mā’idah: 82].

In the story of Safiya bint Huyay ibn Akhtab – she said: “”I was the sweetheart of my father and uncle, Abu Yaser. Whenever they are with their children and see me, they take me and leave them. When the Prophet – peace be upon him – came to Medina, my father and uncle went to him from the morning and did not come back until the sunset time. They were very tired and walking slowly. Seeing that, I met them courteously as I usually do, but no one cared about me due to their dejection. I heard my uncle, Abu Yasser, saying to my father: Is it he? My father said: yes he is (the Prophet). My uncle said: do you know him surely? My father said: yes. My uncle said: then what will you do? My father said: He will be my enemy forever “[5].

Here I conclude the exposition with above mentioned Van Dykes Arabic translation of the text, followed by my translation of the original Hebrew original and leave the readers decide.

Van Dyke translation

(my adaptation to english – Eric Kisam):

The seeker translation

What will you do about feast days, About the festivals of the Lord Behold, they have gone because of destruction, Egypt gather them, Moph buried them, The desirable things of their silver, Weeds are their heirs; Prickly shrubs occupy their [old] homes. Come in have the days of inspection, Come in have the days of recompence, Israel will know! a fool [is] the prophet, Mad [is] the man of the Spirit, Because of the abundance of their sins, And great [is] the hostility.

“What do you do to the day of the promised day, and the day that the Lord will gather you? They are the ones who survived the calamities: Egypt captures them, and Moph bury them, and (the Prophet) Muhammad will plunder them, and the weeds will inherit them, and Prickly shrubs will be in their houses. The days of punishment shall come, and the days of recompense shall befall. The children of Israel will call the Prophet a fool, and his revelation as mad, due to the magnitude of their sin and their persistent hostility.

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإنَّ فَرِيقًا مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْـحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ * الْـحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلا تَكُونَنَّ مِنَ الْـمُمْتَرِينَ

Those to whom We gave the Scripture know him as they know their own sons. But indeed, a party of them conceal the truth while they know [it]. The truth is from your Lord, so never be among the doubters. [Al-Baqarah: 147-147]

Notes:
[1] Mo’ed מוֹעֵד in the hebrew text.
[2] Moph: an ancient Egyptian city.
[3] Barr, James. Comparative Philology and the Text of the Old Testament (Winona Lake, Indiana: Eisenbrauns, 1987), p. 23.
[4] This is shift from the third person to second person; in other words a shift from the third person form “Israel calls” to the second person construct, “your sins” and “your hostility”, This is a rhetorical device that drew the listener or the reader into something significant. It has been used previously when saying “What do you do?…They are the ones who survived the calamities”. ” while the basis should be ” You are the ones who survived the calamities.” This does not concern us very much here, but I just wanted to show variation of the use of pronouns and that does not alter the original meaning of the text at all.
[5] Seerah Ibn Hisyam 915/1.
[6]”Ish Haruach אִ֣ישׁ הָר֔וּחַ ” translated as “man of the spirit” meaning: «with revelation» which is a description of Muhammad — in the exalted Qur’an which was revealed to him his revelation was termed as a «rūḥan روحاً ie. spirit» God says –

: وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا مَا كُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلا الإيمَانُ وَلَكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِ مَن نَّشـَـاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإنَّكَ لَتَهْدِي إلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ [الشورى: 25].

And thus We have revealed to you an inspiration «rūḥan روحاً» of Our command. You did not know what is the Book or [what is] faith, but We have made it a light by which We guide whom We will of Our servants. And indeed, [O Muhammad], you guide to a straight path – [Ash Shurā 25]

Posted in Biblical Studies, Interfatith Dialog | Tagged , , , , , | Leave a comment