Adam dan Yesus dalam Gematria Kitab Suci Quran (PART 1)

Penafsiran gematria memang mengungkap rahasia di balik penggunaan huruf-huruf pada sebuah kata, frase atau pun kalimat dalam teks-teks bertradisi Semitic. Umumnya, penafsiran gematria diterapkan dalam mengungkap rahasia pesan dalam kitab suci Torah dan kitab suci Quran. Oleh karena itu, menjelang hari Natal ini, saya ingin menyampaikan pesan rahasia tentang siapa sebenarnya Yesus menurut pandangan Quran.


Menurut Quran, nama ‘Isa (عيسى) dan nama Adam (ادم) memiliki angka gematria yang unik, yakni angka 7. Angka 7 merupakan jumlah huruf yang membentuk nama Adam (ادم) dan nama ‘Isa (عيسى). Sementara itu, angka 19 merujuk pada urutan ke-19 dalam kitab suci Quran, yakni merujuk pada “Surat Maryam”, yg menceritakan kisah tentang kelahiran Yesus. Dalam Quran terjemahan bahasa Italia (bahasa Latin modern), khususnya QS. Maryam tertulis dengan sebutan QS. Maria [19]:33 -36 sbb:


والسلام علي يوم ولدت ويوم اموت ويوم ابعث حيا. ذلك عيسى ابن مريم قول الحق الذي فيه يمترون. ما كان لله ان يتخذ من ولد سبحنه اذا قضى امرا فانما يقول له كن فيكون.


“Pace su di me il giorno in cui sono nato, il giorno in cui morro il giorno, in cui saro resuscitato a nuova vita. Questo e Gesu, figlio di Maria, parola di verita della quale essi dubitano. Non si addice ad HASHEM prendersi un figlio. Gloria a Lui. Quando decide qualcosa dice: Sii ed essa e” [1]:


Quran bhs Italia menyebut Yesus sebagai Gesu figlio di Maria (lit. “Yesus putera Maryam”), dan Quran tidak pernah menegaskan Yesus sebagai putera TUHAN. Gloria a Lui (lit. “Maha Suci Dia”) terhadap apa yang telah diajarkan dalam dogma Gereja. Yesus memang dilahirkan sebagai ciptaan, karena konsep “dilahirkan” itu maksudnya sama dengan konsep “diciptakan.” Itu menurut gramatika bahasa Ibrani versi kitab suci Torah dan juga menurut gramatika bahasa Arab versi kitab suci Quran. Dalam kitab suci Quran ditegaskan bahwa TUHAN tidak pernah “melahirkan” dan tidak pernah “dilahirkan” (non ha generato, non e stato generato) atau לא הוליד ולא נולד (lo holid ve lo nolad). Itulah sebabanya dalam QS. Maria 19:33 Yesus berkata: “pace su di me il giorno in cui sono Nato” (damai sejahtera pada saat aku telah dilahirkan). Dalam bahasa Italia (bhs Latin modern), istilah “dilahirkan” sama dengan “Nato”, dan istilah “kelahiran” sama dengan “Natal.” Itulah sebabnya di Indonesia disebut sebagai Perayaan Natal, Dies Natalis.
Dalam Quran disebutkan bahwa Adam dan Isa serupa, yakni memiliki keserupaan dalam hal penciptaan keduanya (QS. Ali Imran 3:59). Hal ini menegaskan juga bahwa penyebutan nama Isa dan Adam ternyata memiliki kesamaan pola gematria. Ada 10 hal yang menegaskan keserupaan itu, di antaranya:

Pertama, kedua nama tersebut sama-sama disebut sebanyak 25 kali dalam Quran; dengan rincian 1 kali dalam 1 ayat yang sama (QS. Ali Imran 3:59), maksudnya kedua nama tersebut termaktub 1 kali dalam ayat yang sama dan dalam Surah yang sama, dan sisanya tertulis di beberapa ayat yg berbeda dan tertulis dalam nama Surah yang berbeda-beda. Perhatikan bagan yang saya lampirkan. Ternyata, fakta tektual membuktikan bahwa nama Adam dan nama Isa tersebut secara bersamaan disebutkan secara bersama pada ke-7 kali, dan ke-19 kalinya. Anda mau menghitung dari atas ataupun dari bawah, angkanya tetap sama, yakni urutan ke-7 dan urutan ke-19.

Kedua, nama Adam dan nama Isa, ternyata sama-sama disebut ke-7 kalinya di QS. Ali Imran 3:59.

Ketiga, uniknya angka 7 adalah jumlah huruf yang digabungan antara nama Adam (ادم) dan nama Isa (عيسى).

Keempat, uniknya lagi angka 7 juga merujuk pada jumlah kata yang ada sebelum dan sesudah kata central dlm ayat tsb, yakni kata kerja خلقه (khalaqahu), lit. “diciptakan.”

إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ ۖ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Jadi kata kunci pada ayat tersebut sebagai kata central, yang merujuk pada makna “penciptaan”, bukan pada makna “yang tak diciptakan”. Ini bisa jadi merupakan isyarat pandangan kritik teks Quran yang mengoreksi kredo Kristen yang digagas pada Konsili Nicea tahun 325 M., yang menyebut Yesus sebagai “yang dilahirkan, bukan diciptakan” (mawlud ghair makhluq), atau “genitum non factum.”

Kredo (Pengakuan Iman) yang sering dibaca di Gereja berbunyi demikian:

Et in unum Dominum Jesum Christum , Filium Dei unigenitum. Et ex Patre narum ante omnia saecula. Deum de Deo, lumen de lumine, Deum verum de Deo vero. Fenitum non factum, consubstantialem Patri.

(“Dan aku percaya akan satu Tuhan, Yesus Kristus, Putera Allah yang tunggal. Dia lahir dari Bapa sebelum segala abad. Allah dari Allah sejati, Terang dari Terang, Allah yang benar dari Allah yang benar. Ia dilahirkan, bukan diciptakan, sehakekat dengan Sang Bapa”) [2] :

Kelima, angka 7 juga menunjuk pada 7 tahap kehidupan manusia menurut Quran.

https://www.islamicity.org/7…/seven-stages-of-life-in-islam/

Keenam, nilai gematria dari kata kerja خَلَقَهُ pada QS. Ali Imran 3:59 tersebut adalah 77, dengan rincian nilai perhuruf (7+23+21+26).

Ketujuh, berdasar pada QS. Ali Imran 3:59, tatkala ALLAH menciptakan keduanya, Dia hanya berfirman : كن (jadilah). Uniknya, kata كن (kun) terdiri atas 2 huruf konsonan, yakni huruf “kaf” (ك) yang memiliki nomor urut Hijaiyah yang ke-11 dengan nilai numerik 20; sedangkan huruf “nun” (ن) memiliki nomor urut Hijaiyah yang ke-14 dengan nilai numerik 50. Dengan demikian, kata perintah كن (kun), lit. “jadilah” memiliki nilai gematria 70 (20 + 50 = 70), dan nilai urutan huruf keduanya adalah 25 (11 + 14 = 25), sebagaimana keseimbangan penyebutan nama Adam dan Isa yang masing-masing disebutkan 25 kali dalam kitab suci Quran. Uniknya lagi, nilai gematria كن (kun) 70 (7 + 0 = 7), sejajar dengan nilai numerik urutan kedua huruf tersebut, yakni 25 (2 + 5 = 7), sebagaimana nilai gabungan kedua nama Isa dan Adam, yakni 7 huruf (4 + 3 = 7).

Kedelapan, nama Adam dan nama Isa ternyata sama-sama disebutkan di urutan Surah (Surat) ke-19 dalam Quran; yakni Surat Maryam, nama Isa tercantum dalam QS. Maryam 19:34; dan nama Adam tercantum dalam QS. Maryam 19:58, dan di Surat Maryam tsb, mereka sama2 disebutkan urutan ke-19. Dan Surat Maryam sebagai urutan Surat ke-19 dalam Quran ternyata merupakan Surat yg menceritakan kisah kelahiran Isa, yang ternyata juga terdiri dari 19 ayat.

Kesembilan, jika kita mulai menghitung dari ayat ke-34 ( dimana nama Isa disebutkan), sampai ayat ke-58 (dimana nama Adam disebutkan dalam Surat yg sama), maka jumlahnya adalah 25 ayat. Dan ini sesuai penyebutan jumlah nama Adam dan nama Isa yang termaktub dalam kitab suci Quran.

Kesepuluh, jumlah ayat dari awal Surat Ali Imran (dimana kedua nama tsb disebutkan di ayat yg sama) sampai ke awal Surat Maryam (dimana kedua nama tsb juga disebutkan dalam surat yg sama) total ayatnya adalah 1957 ayat. Yang menakjubkan, jumlah ayat dari ayat ke-59 pada Surat Ali Imran ( pertama kali nama-nama mereka berdua secara bersama disebutkan) sampai ayat ke-58 pada Surat Maryam (dimana nama2 tsb disebut kedua kalinya), jumlah ayatnya ternyata juga 1957 ayat. Dan lebih menakjubkan lagi bahwa 1957 ayat tersebut ternyata juga merujuk pada jumlah ayat dimana nama Isa disebutkan pertama kalinya sampai ke-19 kalinya di ayat ke-34, pada Surat Maryam.

Kesebelas, dalam bhs Arab juga dikenal numerical value, yakni berapa nilai angka pada masing-masing huruf. Inilah yang disebut kode gematria. Angka 19 merupakan angka pengontrol dalam Quran, sebagaimana yang tertulis dalam QS. Maryam 19:31. Mari kita korelasikan jumlah ayat tsb dg angka 19; maka hasilnya adalah 1957 = 19 x 103. Dan jumlah 103 ternyata sama dengan perbedaan nilai angka nama Isa Al-Masih (149), dan nama Adam (46). Thus, 149 – 46 = 103.

Footnotes

  1. See Al-Qur’an al-Karim. Il Sacro Corano. e la traduzione in Lingua Italiana del senso dei suoi versetti (Lebanon: Jami’ Khuquq al-Thab’ Mahfudhah, 2007), pp. 440 – 441
  2. See P. Wahjo, O.F.M. dan P.J. Bouma, SVD. Sembahjang Misa: Hari Minggu dan Hari Raja (Djakarta: Obor, 1959), pp. 15-16

This entry was posted in Qur'anic Studies and tagged , , . Bookmark the permalink.