Alkitab Berbahasa Arab dalam Tradisi Kekristenan Awal di Mesir

 

Pada 640 – 641 C. E. Mesir ditaklukkan oleh orang-orang Arab, di era Khalifah Umar ibn Khattab, dan tentu saja hal ini menandai adanya permulaan proses Arabisasi-nya di wilayah Mesir. Pada mulanya pemerintahan Muslim di Mesir menggunakan dwibahasa dalam persoalan administrasinya, di antaranya menggunakan bahasa Yunani dan Arab, atau bahasa Koptik dan Arab. Namun, bahasa Arab pada akhirnya segera menjadi bahasa utama administrasi yang menggantikan bahasa Yunani dan bahasa Koptik. Pada 780 M. bahasa Arab telah menjadi satu-satunya bahasa yang resmi di Mesir. Sejak saat itu, setiap orang Mesir yang ingin berkarir di bidang administrasi pemerintahan harus tahu bahasa Arab dengan sempurna.

Pada abad ke-19 orang-orang Kristen Koptik yang berpendidikan dipastikan menggunakan bahasa Arab sebagai lingua franca, dan mereka berbicara serta menulis dalam bahasa Arab. Akhirnya, bahasa Koptik semakin menghilang, setidaknya di kota-kota besar, kecuali hanya di wilayah pinggiran. Bahasa Arab menjadi bahasa bergengsi yang menandai strata sosial sebagai penanda identitas, sedangkan bahasa Koptik menjadi bahasa kelas pinggiran, dan termarginalkan1. Namun, akhirnya orang-orang Kristen Koptik mengembangkan peniscayaan identitas agama mereka melalui bahasa sebagai penanda identitas masyarakatnya, serta bagaimana mereka akhirnya harus mempertahankan iman mereka di era dominasi Islam di wilayah Mesir. Dalam konteks ini, mereka menciptakan identitas bahasa melalui penggunaan Alkitab berbahasa bahasa Arab. Itu artinya, Alkitab bahasa Arab di Mesir baru muncul era pasca-Islam; dan bukan muncul sejak era pra-Islam.

Saat ini orang-orang Kristen Koptik menggunakan otoritas Alkitab berbahasa Arab versi Van Dyck. Mereka menerbitkan edisi pertama edisi Arabic New Van Dyck Bible dengan referensi silang pada tahun 2013 yang disebut الكتاب المقدس با لشواهد الكتابيه (Alkitab al-Muqaddas bisy-Syawahid al-kitabiyah), yakni Alkitab dengan Referensi Silang), yang diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Mesir. Namun, Alkitab versi berbahasa Arab yang biasanya digunakan di gereja-gereja Koptik selama Abad Pertengahan justru mereka menggunakan Alkitab berbahasa Arab yang diproduksi oleh komunitas orang-orang Yahudi di Mesir, yakni karya Sa’id bin Yusuf al-Fayyumi, yang dikenal di kalangan Yahudi sebagai Rav Saadia Gaon (Rasag). Beliau sangat dikenal karena karya-karyanya berkaitan dengan Linguistik bahasa Ibrani, Halacha, dan filsafat khas Yahudi. Beliau adalah seorang rabi yang paling awal yang menuliskan karya-karyanya dalam bahasa Judeo-Arabic yang dikenal secara luas; dan dia kemudian dianggap sebagai peletak dasar kesastraan Yahudi berbahasa Arab dengan menggunakan aksara khas Judeo-Arabic.

Rav Saadia Gaon lahir di Mesir sekitar tahun 892 M. dan beliau meninggal di Irak pada tahun 942 M. Terjemahan kitab Torah dalam versi bahasa Arab yang disebut Targum Aravit dikerjakannya berdasarkan versi asli teks bahasa Ibrani Masoret dengan sedikit parafrase, yang kemudian Targum Aravit ini akhirnya diadopsi secara masif oleh seluruh gereja Koptik di Mesir, terutama pada Abad Pertengahan. Hal ini dapat dibuktikan adanya banyaknya manuskrip-manuskrip kuno yang disalin oleh para rahib dan orang-orang Kristen Koptik, yang berdasarkan pembuktian kekunoan manuskripnya ternyata justru berasal dari abad ke-13, dan manuskrip-manuskrip itu ternyata telah tersebar di seluruh dunia2.

Hal ini semakin jelas bahwa pada Abad Pertengahan, semua orang Kristen Koptik telah mengenal dan menggunakan Alkitab berbahasa Arab versi Saadia Gaon. Itu berarti bahwa orang-orang Kristen Koptik telah mengetahui dan mengenal keberadaan kota Mekah dan kota Madinah sesuai yang termaktub dalam Alkitab versi bahasa Arab karya Saadia Gaon. Dan berdasarkan teks Alkitab berbahasa Arab tersebut menyebutkan bahwa Makkah dan Medinah adalah wilayah milik Sem. Dengan kata lain, melalui pembacaan Alkitab berbahasa Arab karya Saadia Gaon, khususnya kelima kitab Musa (Torah) maka kaum Kristen Koptik telah mengenal Makkah dan Medinah. Nama wilayah Makkah dan Medinah sebagaimana tercatat dalam kitab Kejadian 10:30:

לשון הקודש: בראשית, י, ל: וַיְהִי מוֹשָׁבָם מִמֵּשָׁא בֹּאֲכָה סְפָרָה הַר הַקֶּדֶם

265 == תפסיר: ל) וכאן מסכנהם מן מכה. אלי’ אן תגי אלי’ אלמדינה אלי’ אלגבל אלשרקי

265 == ערבית: 30 وَكَانَ مَسْكَنُهُ مِنْ مَكَّةَ، إِلَى أَنْ تَجِيءَ إِلَى الْمَدِينَةِ إِلَى الجَبَلِ الشَّرْقِي

Nuh memiliki tiga putra: Sem, Ham dan Yafet. Kedua kota, yakni Makkah dan Medinah, adalah milik keturunan Sem saja, sebagaimana yang termaktub di bawah ini:

Noah – Shem – Arpachshad – Shelach – Eber – Yoktan – 13 keturunan; dan dari 13 generasi keturunan Yoktan ini telah menetap di banyak tempat termasuk wilayah yang disebut Mesha [= Mekah] dan Sefara [= Madinah]. Dengan kata lain, Makkah dan Medinah adalah milik keturunan Shem. Ham adalah ayah dari Kush, Mizraim (kakek dari Palestina), Phut and Canaan.

Wilayah Palestina ada di Sinai bagian utara. Wilayah Kanaan ada di tanah Israel. Di kawasan Mekkah dan Medinah ternyata ada 4 generasi yang mendiaminya dan mereka ada sebelum kelahiran Ismael, dan Ishmael adalah keturunan Sem dari pihak ayahnya  Avraham), dan merupakan keturunan Ham dari sisi ibunya  Hagar dari Mesir, putri Fir’aun).

Apakah Ismael termasuk keturunan Shem atau keturunan Ham? Jelas, Ismael putra Abraham telah mewarisi tanah warisan Sem di semenanjung Arabia.

Footnotes:

  1. Lihat Khalil Samir, SJ. Arabic Sources for Early Egyptian Christianity (Philadelphia: Fortress Press, 1992), p. 83.
  2. Lihat Khalil Samir, SJ. Arabic Sources for Early Egyptian Christianity (Philadelphia: Fortress Press, 1993), p. 87.
This entry was posted in Interfatith Dialog, Talmudic literature and tagged , , , , . Bookmark the permalink.