The Qurbana Qadisha / ‘Idul Qurban / ‘Aqedah Yitzhaq

Shalom ‘aleychem
Assalamu ‘alaykum

The Quran (הקראן) and Torah (מקרא) are the heavenly texts of HASHEM. Both have the same episteme.

Mikra, Sefer Bereshit 12:10

ויהי רבע בארץ וירד אברם מצימה

Va yehi ra’av be eretz va yered Avram Mitzreyemah ….”

” There was a famine in the land, and Abram descended to Egypt …..”

Quran in Arabic, Al-Baqarah 2:61

اهبطوا مصرا فان لكم ما سالتم

” …. Ihbithu Mishra fa inna lakum ma sa’altum.”

” …. descend to Egypt and there you will find what you have asked for.”

Quran in Hebrew, Al-Baqarah 2:61

לכו ירד מצרימה ומצאתם שם את אשר שאלתם

” ….. lechu yered Mitzrayemah u-metzetem shem et asher she’elthem ….. ”

” … go down to Egypt and there you will find what you have asked for.”

The Quranic term اهبطوا (ihbithu), is a unique, meaning ” go down ” or ” dencend to.” This Arabic term is to refer to the geographical setting, from the upland to the lowland. And based on this verse, the word اهبطوا (ihbithu) is to migrate from the higher terrain of Canaan to the lowland as another place, Egypt.

Meanwhile, the Masoretic term ירד (yered) is exactly the same, indeed similar in Hebrew lexicon. The Hebrew term ירד ( yered) means ‘went down’ or ‘ descended to ‘ is the usual term used in the Torah for the pessage from the higher terrain of Canaan. The journey to Canaan is always referred to as עלה (‘oleh), meaning ” going up.” Thus, Egypt land is the lowland in the light of the Quran and the Torah.

Based on both Scriptures, I have to say to you all that Egypt is a lowland in an academic paradigm. Avraham avinu ‘alayv ha-shalom descended to Egypt, and Moshe rabbenu ‘alayv ha-shalom order to the b’ney Yisrael to descend to Egypt.

Baruch HASHEM

Photo: interfaith community (YIPC), discussing the Qurbana Qadisha (Christianity), ‘Idul Qurban (Islam), ‘Aqedah Yitzhaq (Judaism). All Abrahamic faiths celebrate the symbols, and to practise the symbols. August 4th 2017, Surabaya

Posted in Interfaith Dialogue | Tagged , | Leave a comment

Sejarah Yang Terlupakan Part 12

Shalom ‘aleychem
Assalamu ‘alaykum

part-12b.jpg part-12a.jpg

Eliachim: Nasab Biologis Maryam

Jimmy Jeffrey dalam tulisannya mengenai nasab biologis Maryam yang diklaim melalui Eli sebagaimana yang termaktub dalam Injil Lukas 3:23, merujuk pada kajian linguistik. Menurutnya, Injil Lukas 3:23 yang dinyatakan sebagai jalur nasab biologis Maryam justru telah eksis sejak awal era kekristenan. Namun, dengan adanya buku karya seorang sejarawan gereja yang bernama Eusebius, maka pendapat Julius Africanus lebih populer. Julius Africanus menyatakan bahwa daftar silsilah yang termaktub dalam Lukas 3:23-38 adalah daftar silsilah Yusuf, dan bukan daftar silsilah Maryam. Jadi, popularitas pendapat yang menyatakan bahwa Lukas 3:23-38 sebagai daftar silsilah Yusuf tersebut akibat pencatatan resmi sebagaimana yang tertulis dalam buku Ecclesiastical History (Sejarah Gereja) karya Eusebius.

Persoalan yang saya kritisi pada tulisan saya ini tidak bermaksud mengulang kembali kesahihan atau ketidaksahihan nasab biologis Maryam dan perdebatannya yang dikaitkan dng Daftar Silsilah dalam Injil Lukas 3:23-38). Justru dalam konteks ini saya ingin mengkritisi argumen Jimmy Jeffrey berkaitan dng kajian linguistik yang dipaparkannya demi menyokong pendapatnya yang sebenarnya merupakan argumen yang dipaksakan dan invalid. Bahkan argumentasi yang dibangunnya memiliki kecacatan fatal yang justru membuktikan bahwa sang penulis tidak memahami keilmuan linguistik berbasis teks sumber.

Demi menguatkan argumentasinya, Jimmy Jeffrey mengutip teks dari Injil apokrif, yakni pseudo-Matthew Gospel. Chap. 4.

” … And having weaned her in her third year, Joachim, and Anna his wife, went together to the temple of the Lord to offer sacrifices to God, and placed the infant, Mary by name …”

Berdasar pada teks Injil pseudo-Matthew ini, Jimmy Jeffrey menyatakan bahwa Joachim (Yoyakim), yakni nama ayah Maria dalam Injil apokrif pseudo- Matthew tersebut bisa saja merupakan perubahan nama dari Eliachim (Eliyakim) yang akhirnya disingkat menjadi Eli. Dengan demikian, nama Eli adalah singkatan dari nama Eliachim (Eliyakim). Nama Eliachim (Eliyakim) dan nama Joachim (Yoyakim) keduanya mengandung nama ilahi, yakni istilah Yo ringkasan dari nama Yehovah, sedangkan istilah El ringkasan dari sebutan Elohim.

Contoh perubahan nama Eliachim (Eliyakim) menjadi Joachim (Yoyakim) juga terdokumentasi dalam teks Masoret yang di kalangan komunitas Yahudi disebut TaNaKH. Dalam teks 2 Raja-raja 23:34 ternyata Firaun Nekho mengangkat Eliyakim, anak Yosia, menjadi raja untuk menggantikan Yosia, ayahnya, dan menukar namanya dengan nama Yoyakim. Selain itu dalam kitab Judith versi Yunani, yang dikenal sebagai teks Septuaginta (LXX) khususnya pada pasal 4:1-11 tertulis nama imam besar Joachim (Yoyakim) sedangkan dalam versi Latin (Vulgata) tercatat dengan nama Eliachim (Eliyakim). Dalam teks Latin Vulgata tertulis demikian

“..Sacerdos etiam Eliachim scripsit ad universos qui erant contra Esdrelon..” (Judith 4:5).

Perbedaan ini terletak pada perbedaan teks dari beberapa manuskript yang menandakan adanya variasi penyebutan nama Eliachim (Eliyakim) dan Joachim (Yoyakim).

Jimmy Jeffrey juga mengutip buku apologetik karya William Lukyn mengenai jawaban Androinicus (1310M) yang mengutip tulisan Rabbi Elijah terkait nama Joachim sebagai nama ayah kandung Maryam.

“Why do Christians extol Mary so highly, calling her nobler than the Cherubim, incomparably greater than the Seraphim, raised above the heavens, purer than the very rays of the sun? For she was a woman, of the race of David, born to Anne her mother and Joachim her father, who was son of Panther. Panther and Melchi were brothers, sons of Levi, of the stock of Nathan, whose father was David of the tribe of Judah.”

Dalam bagian lain pada buku William Lukyn juga tertulis hal yang senada, yakni terkait nama Joachim sebagai nama ayah kandung Maryam. Dokumen yang dimaksud justru mengacu pada dokumen Yahudi, yakni Doctrina Jacobi (634M). Dalam dokumen tersebut disebutkan tentang cemoohan seorang rabi dari Tiberias tentang Maria.

“.. Anda he said, Why do the Christians magnify Mary? She is the daughter of David and not Theotokos (i.e. born of God), for Mary is a woman, daughter of Joakim and her mother was Anna. Now Joakim is son of Panther and Pather was brother of Melchi, as the tradition of us Jews in Tiberias has it, of the seed of Nathan, the son of David, of the seed of Judah.”

(William Lukyn, Adversus Judaeos: A Bird’s Eye View of Christian Apologiae until the Renaissance, Cambridge University Press, 2012).

Berdasarkan buku apologetika Kristen karya William Lukyn (2012) tersebut, maka Jimmy Jeffrey membangun sebuah wacana baru bahwa nama ayah kandung Maryam adalah Joachim (Yoyakim) yang sebenarnya adalah nama lain atau pun perubahan nama dari nama Eliachim (Eliyakim). Namun ironisnya Jimmy Jeffrey tidak kritis atau memang secara sengaja memanipulasi kecerdasan para pembacanya. Pertama, Jimmy Jeffrey mengaitkan varian bentuk nama Eliachim (Eliyakim) dan Joachim (Yoyakim) dalam teks Masoret Ibrani, teks Septuaginta, dan teks Vulgata serta menghubungkannya dengan nama Joachim (Yoyakim), yakni nama ayah kandung Maryam, sebagaimana yang termaktub dalam Injil apokrif. Kedua, Jimmy Jeffrey menyatakan bahwa nama Joachim (Yayakim) dalam Injil apokrif tersebut adalah sepadan dng nama Eliachim (Eliyakim), dan nama Eli dalam Injil Lukas 3:23 merupakan nama bentuk ringkas dari nama panjang, Eliachim (Eliyakim).

Sebenarnya, saya sepakat bila nama Raja Eliachim, אליקים (Eliyakim) adalah nama lain, dan sekaligus varian nama dari nama Sang Raja Joachim, יהויקים (Yehoyakim), sebagaimana yang tercatat dalam 2 Raja-raja 23:34 versi teks Masoret Ibrani. Bahkan nas 2 Raja-raja 23:34 dalam versi teks Septuaginta dan versi teks Vulgata Latin juga tertulis nama Raja Ioakim sebagai nama lain dari nama Eliachim. Teks 4 Regum 23:34 berbunyi sbb:

” Regemque constituit Pharao Nechao Eliachim filium pro Iosias patre eius: vertitque nomen Ioakim.” (Alberto Colunga (ed.), Biblia Sacra: Vulgata Clementinam, Madrid: Biblioteca de Autores Christianos, 2012), p. 321

Saya juga sepakat bahwa nama Imam Besar Ioakim dalam teks versi Septuaginta Yunani juga tertulis Eliachim dalam teks versi Vulgata Latin. Pada teks Septuaginta Yunani, nas Yudith 4:5 tertulis nama Imam Besar Ioakim (Sir Lancelot C.L. Brenton, the Septuagint with Apocrypha: Greek and English, Hendrickson Publishers, 1995), p. 38. Sementara itu, versi Vulgata Latin tertulis nama lain, yakni nama Imam Besar Eliachim (Colunga, Bibila Sacra: Vulgata Clementinam, Madrid: Biblioteca de Autores Christianos, 2012), p. 405. Keduanya memang merujuk kepada person Imam Besar yang sama, meskipun dng penyebutan nama yang berbeda. Dengan demikian, hal ini bisa disimpulkan bahwa nama Raja Ioakim (Joachim) sama dng nama Raja Eliachim, dan nama Imam Besar Ioakim (Joachim) sama dng nama Imam Besar Eliachim.

Namun persolan nama Eli dalam Injil Lukas 3:23 itu apakah ringkasan dari nama Eliachim yang tidak lain adalah sama dng nama Joachim sebagai nama ayah kandung Maryam dalam Injil apokrif? Faktanya tidak demikian, dan ulasan Jimmy Jeffrey telah memanipulasi kajian linguistik yang amat tidak valid.

Ada 5 alasan kuat menurut saya utk membuktikan kecerobohan Jimmy Jeffrey dalam pembahasan bergaya permainan kata (word game) antara nama Eli dalam Lukas 3:23 yang dikaitkan dng nama Eliyakim ( אליקים).

  1. Nama Eliachim dalam bahasa Ibrani tertulis אליקים (Eliyakim), sedangkan nama Joachim dalam bahasa Ibrani tertulis יהויקים (Yehoyakim). Sedangkan dalam bahasa Ibrani, nama Eli yang termaktub dalam teks Injil Lukas 3:23 tertulis עלי (‘Eli) bukan tertulis אלי (Eli), yang diklaim oleh Jimmy Jeffrey sebagai singkatan dari nama lengkap אליקים (Eliyakim). Pada ranah inilah Jimmy Jeffrey memanfaatkan ketidakcerdasan para pembacanya. Bahkan terkesan memanipulasi nama Ibrani secara invalid. Dalam konstruksi nama Ibrani, sesuai yang termaktub dalam teks Masoret (TaNaKH), tidak ada satu pun nama panjang yang terindikasi merupakan gabungan dari kata עלי (‘Eli) dengan kata Ibrani lainnya. Justru yang sering muncul adalah gabungan kata אלי (Eli) dng kata Ibrani lainnya. Contoh: אליקים (Eliyakim), אליהו (Eliyahu), אלחנן (Elchanan), אליאב (Eliab), אלידע (Eliyada’), אליסף (Elyasaf), אליאל (Eliel). Dengan demikian, klaim Jimmy Jeffrey yang menyatakan bahwa nama lengkap אליקים (Elyakim) yang disapa dng nama pendek עלי (‘Eli) merupakan upaya mencocokkan sesuatu yang sebenarnya tidak cocok dalam ranah kebahasaan. Dan upaya mencocokkan keduanya merupakan bentuk kecerobohan. Dengan demikian, wacana baru yang disuguhkan oleh Jimmy Jeffrey kepada para pembacanya tersebut pasti akan runtuh, dan tidak sesuai dng nama-nama yang telah eksis dalam tradisi Ibrani, sebagaimana yang termaktub dalam Torah, Neviem ve Khetuvim (TaNaKH).
  2. Penggunaan nama עלי (‘Eli) dalam kitab TaNaKH bisa berdiri sendiri, dan tidak perlu merupakan gabungan kata dengan kata Ibrani lainnya; dan nama עלי (‘Eli) sangat familiar digunakan sebagai sebuah nama diri (proper name) dalam TaNaKH. Lihat 1 Samuel 1:3-25; 1 Samuel 2: 11-27; 1 Samuel 3:1-16; 1 Samuel 4:4-10; 1 Samuel 14:3, 1 Raja-raja 14:3. Jadi antara nama person עלי (‘Eli) dan ungkapan אלי (Tuhanku) sebagai ekspresi seruan seorang hamba kepada TUHAN bukanlah hal yang sepadan. Dan, Yeshu ha-Notzri telah menyeru TUHAN-nya saat di tiang salib dng seruan אלי אלי (Tuhanku Tuhanku) dan tidak menyeru dng nama person עלי עלי (‘Eli ‘Eli).
  3. Dalam catatan kitab TaNaKH, Midrash, Talmud, atau pun kitab-kitab dokumen Rabbinik yang lain, tidak ada 1 pun penggunakan nama אלי (Eli) sebagai nama person. Apalagi bila nama ini berdiri sendiri tanpa digabung dng kata Ibrani lainnya. Dengan kata lain, tidak pernah ada 1 pun nama אלי (Eli) yang dipakai oleh seorang manusia historis dalam dokumen TaNaKH atau pun dokumen Rabbinik lainnya, dan tidak ada 1 pun nama עלי (‘Eli) yang merupakan singkatan/ringkasan dari nama panjang seseorang.
  4. Bila nama Eli dalam Injil Lukas 3:23 yang bhs Ibrani-nya tertulis עלי (‘Eli) dianggap scribal error, lalu adakah manuskrip PB yang bisa dijadikan sebagai teks pembanding, yang memuat alternatif bacaan nama person yang lain? Selama ini saya belum menemukannya.
  5. Bila sang apologet Kristen beralibi bahwa nama Eli dalam Lukas 3:23 itu sebenarnya dalam bhs Ibrani tertulis אלי (Eli) atau האלי (Heli). Namun, mereka harus bisa membuktikan manuskripnya terkait nama personal yang memang tertulis seperti itu. Bila fakta tekstual ternyata tertulis nama personal yang demikian, maka bisa jadi ini memang khusus nama special nenek moyang Yesus, yang tidak pernah ada dan dipakai dalam tradisi Ibrani, khususnya nama-nama tokoh dalam kitab TaNaKH. Bahkan tidak familiar di antara orang-orang Ibrani sepanjang abad, dan baru muncul pada era PB. Sama halnya dng konsep special adoption yang memang special utk mendukung teori the Virgin Birth khas doktrin Kristen, dan tidak ada kaitannya dng teori Levirate marriage khas Judaism yang berlaku dalam tradisi Ibrani, dan anehnya baru muncul pada era PB juga.

Kesimpulan

Kajian linguistik antropologis terkait nama-nama Ibrani ini merupakan fakta historis yang bisa dibuktikan melalui teks sumber. Sekali lagi, klaim Jimmy Jeffrey terkait nama Eliachim sebagai bentuk pendek nama Eli merupakan manipulasi data yang ahistoris dan manipulatif. Dan, tindakan manipulasi data itu berakar dari ketidakjujuran penjelasan kajian linguistik komparatif (filologis) terkait persoalan antara perbedaan konsonan ע (‘ayin) pada nama עלי (‘Eli) dan konsonan א (alef) pada nama אלי (Eli).

Baruch HASHEM.

Posted in Rabbinic studies | Tagged , , | Leave a comment

Sejarah Yang Terlupakan Part 11

Shalom ‘aleychem
Assalamu ‘alaykum

part-11.jpg

Yeshu ha-Notzri: ha-Ish (Orang Itu)

בסמ ללה אלרחמן אלרחים

Setelah saya berhari-hari membaca banyak dokumen, terutama dokumen berbahasa Ibrani maupun dokumen2 non-Kristen, ternyata saya tidak menemukan data apapun yang menyebutkan tentang 3 pilar status genealogis Yeshu ha-Notzri secara pasti.dan meyakinkan.

Tiga pilar Genealogis itu adalah:

  1. Dalam dokumen Yahudi, nasab biologis Yesus tidak berasal dari benih King Salomo.
  2. Dalam dokumen Yahudi, nasab bilologis Yesus tidak berasal dari benih Daud.
  3. Dalam dokumen Yahudi, nasab biologis Yesus tidak berasal dari benih Yehuda.

Klaim kaum Kristiani terkait 3 pilar yang secara umum menyatakan bahwa Yeshu berasal dari benih Salomo, benih Daud dan benih Yehuda ternyata hanya muncul dalam dokumen PB (kitab suci Kristen) dan dokomen-dokumen Kristen yang mengutip pernyataan orang Yahudi atau pernyataan seorang rabbi, yang secara fakta ternyata datanya tidak bisa dikonfirmasi dari pihak dokumen Yahudi sebagai justifikasi. Jadi klaim 3 pilar di atas hanya mengacu pada 2nd sources, bukan mengacu pada 1st sources, karya asli sang penulis, yang berasal dari dokumen Rabbinik.

Apakah para rabbi telah menghilangkan data primary sources itu atau memang para rabbi dalam dokumen-dokumen Yahudi itu memang tidak pernah berbicara apapun tentang Yeshu ha-Notzri (Yesus dari Nazareth) yang dianggap berasal dari benih Salomo, atau benih Daud atau pun benih Yehuda? Dalam dokumen Yahudi hanya tertulis Yeshu Ben Stada atau pun Yeshu Ben Panthera atau pun ישוע הנצרי ( Yeshu ha-Notzri ), artinya: ‘Yesus orang Nazareth’ atau pun minimal dengan sapaan האש (ha-Ish), artinya: ‘ Orang Itu’ sebagaimana yang termaktub dalam teks בעל הטורים (Ba’al Haturim) atu pun teks אגרות הרמבם (Iggerot ha-Rambam) dan tidak ada istilah lain yang merujuk kpd Yesus dng menyebut nasabnya secara langsung kpd Salomo, atau pun menyebut nasabnya secara langsung kepada Daud atau pun kepada Yehuda. Minimnya informasi atau lebih tepatnya ketiadaan informasi tentang Yeshu yang nasab biologisnya dinisbatkan berasal dari benih Salomo, atau pun benih Daud atau pun benih Yehuda merupakan riset yang amat menarik utk ditindaklanjuti oleh komunitas Lintas Agama.

Dalam kitab Talmud memang disebutkan nama Yeshu Ben Stada (Yeshu Ben Satit da mi ba’alah – yang artinya Yeshu anak Sang Perempuan yang tidak setia kepada suaminya). Dan dalam kitab Talmud disebutkan pula nama Maryam anak perempuan Eli yang merujuk pada person yang disapa Stada itu sendiri.

Mary was the daughter of Eli: and so the Jews speak of one Mary, the daughter of Eli, by whom they seem to design the mother of Jesus of Nazareth.

“that saw, Mary the daughter of Eli in the shades, hanging by the fibres of her breasts; and there are that say, the gate, or, as elsewhere (c), the bar of the gate of hell is fixed to her ear.”

(b) T. Hieros. Sanhedrin, fol. 25. 3. (c) Ib. Chagiga, fol. 77. 4.

Rabbi Moshe Bogomilsky juga menjelaskan Yeshu ha-Notzri dng sapaan yang dikenal אתו האש (oto ha-Ish) dan Maryam dng sapaan האשה (ha-Ishah), ‘Sang Perempuan Itu’ dalam literatur Rabbinik sebagai berikut:

“כי יקום בקרבך נביא…והנביא ההוא…יומת”

“If there should stand up in your midst a prophet…and that prophet…shall be put to death.” (13:2-6)

QUESTION: The Ba’al Haturim, in old editions of the Chumash, writes: “bekirbecha (בקרבך) — “in your midst” — has the numerical value of 324, which is also the numerical value of ‘zu ha’ishah’ (זו האשה) — ‘this is the woman.’ ”

To which woman is the Ba’al Haturim referring?

ANSWER: Many years ago in Europe all books on Torah subjects were carefully scrutinized by a censor. He was a representative of the church who would delete or make changes if the content of the sefer was derogatory to Christianity.

Originally, the Ba’al Haturim wrote: “bekirbecha navi — zu ha’ishah ubenah” — The words “bekirbecha navi” (בקרבך נביא) have the numerical value of 387, the same as the numerical value of the words “zu ha’ishah u-bnah” (זו האשה ובנה) — this is the woman and her son — referring to the infamous mother who brought to the world a son (“oto ha’ish” — “Yeshu hanotzri”) who became founder of Christianity. He tried to impress upon the world that he was a prophet sent by G‑d as Mashiach. Ultimately, he was put to death.

The censor was unhappy with the Ba’al Haturim’s comment that there is a hint in the Torah that Yeshu was a false prophet and should be put to death. Thus, he deleted the words “navi” — “prophet” and “ubenah” — “her son.” Hence, the censor’s amended version seems difficult to comprehend.

Berkaitan dng nasab biologis Yesus melalui Maryam, Jimmy Jeffrey mengajukan beberapa bukti mengenai keotentikan nasab biologis Yesus berdasarkan statement oral dan karya tulisan para rabbi serta dokumen-dokumen Rabbinik. Jimmy Jeffrey mengatakan bahwa ada beberapa hal yang menarik dalam buku karya William Lukyn yang berjudul Adversus Judaeos: A Bird’s Eye View of Christian Apologiae until Renaissance (Cambridge University Press, 2012).

Menurutnya, dalam buku tersebut terdokumentasi mengenai jawaban Androinicus (1310 M) terhadap pertanyaan orang Yahudi tentang status Maria (Maryam) sebagai keturunan Daud. Androinicus yang hidup pada Abad Pertengahan menyatakan bahwa dia telah menemukan sebuah tulisan seorang rabi Yahudi yang bernama Elijah, yang menyebutkan bahwa Maria adalah keturunan Daud. Sekaligus informasi mengenai nama orang tua Maria, yakni Yoakim dan Anne serta kaitannya dengan tradisi Levirate marriage. Berikut ini adalah dialog antara seorang Yahudi dng Androinicus, yang dikutip dari buku karya William Lukyn itu.

“Why do Christians extol Mary so highly, calling her nobler than the Cherubim, incomparably greater than the Seraphim, raised above the heavens, purer than the very rays of the sun? For she was a woman, of the race of David, born to Anne her mother and Joachim her father, who was son of Panther. Panther and Melchi were brothers, sons of Levi, of the stock of Nathan, whose father was David of the tribe of Judah.”

Jimmy Jeffrey juga menyatakan bahwa William Lukyn juga mengutip dokumen Yahudi, yakni Doctrina Jacobi (634 M), dokumen yang eksis pada era Islam. Dalam dokumen itu disebutkan tentang adanya cemoohan seorang rabi dari wilayah Tiberias terhadap status Maria. Berikut kutipannya:

“..Anda he said, Why do the Christians magnify Mary? She is the daughter of David and not Theotokos (i.e. born of God), for Mary is a woman, daughter of Joakim and her mother was Anna. Now Joakim is son of Panther and Pather was brother of Melchi, as the tradition of us Jews in Tiberias has it, of the seed of Nathan, the son of David, of the seed of Judah.”

Menurut Jimmy Jeffrey, Androinicus dalam dialognya dengan orang Yahudi itu mengatakan bahwa Yesus tidak saja keturunan suku Yehuda, dia juga keturunan suku Lewi atau keturunan Harun sekaligus keturunan Daud . Berikut pernyataan Androinicus:

“.. And our Gospel is true, when itu says that Mary is the kinswoman of Elizaveth, for the tribes of Judah and of Levi were mingled”.

Dengan demikian, Jimmy Jeffrey memandang penting terkait dokumen kuno dari kalangan Yahudi seperti kitab Doctrina Jacobi (634 M.), yakni dokumen era generasi Geonim dan acuan dialog antara Androinicus (1310 M.) dengan seorang rabi Yahudi yang hidup pada masa generasi Rishonim serta mengutip karya tulisan Rabbi Elijah yang manuskripnya bisa jadi berasal dari generasi era pra-Gaonim atau sezaman dng era Rishonim. Namun, dokumen-dokumen itu apakah benar-benar ada dan bisa ditelusuri kebenarannya berdasarkan kutipan yang termaktub dalam tulisan-tulisan para rabbi era Tanaim, Amoraim, Saboraim, atau minimal tulisan para rabbi era Gaonim dan Rishonim? Seorang rabbi (atau pun kohen) sejak era Soferim, Tanaim, Amoraim, Saboraim, Geonim, Rishonim maupun Akharonim, pasti para rabbi tersebut memiliki sanad keguruan, dan itu semua tercatat rapi dalam תולדות גדולי ישראל (Toledot Gadoli Yisrael). Nama-nama mereka dan karya-karya mereka pasti tercatat dan diperbincangkan oleh rabbi2 semasanya dan sekaligus dibicarakan dan diperdebatkan oleh rabbi-rabbi era pasca zamannya. Bahkan, nama sang rabbi serta kutipan-kutipan tulisannya juga dapat dilacak melalui dokumen rabbi-rabbi yang lain. Misalnya, karya Rav Saadia Gaon (Rasag) dapat dijumpai dalam tulisan Rashi, Ibnu Ezra, Radak, Ramban, Rambam, termasuk juga diperbincangkan dalam karya Rabbi Bachye ben Asher dan Rabbi Yosef Chayyim dalam karya halachic-nya yang berjudul Ben Ish Chai. Bahkan tulisan Abraham Ibnu Ezra (Raba’) juga dapat dilacak melalui karya Radak, Ramban, Rabbi Bachye ben Asher dan tulisan-tulisan para Tosafis. Terkait dng kutipan2 para Rabbi terhadap tulisan Ibn Ezra, hal itu bisa ditelusuri melalui kitab עיונים בלשונות הראבייע (‘Eyonim be Lesonot ha-Raba’).

Oleh karena itu, sangat mustahil bila para rabbi di wilayah Tiberias tidak mengenal tulisan Rabbi Elijah yang bisa jadi beliau adalah seorang rabbi senior di wilayah itu. Dan menurut saya juga mustahil bila para rabbi juga tidak pernah mengutip tulisan Rabbi Elijah, sebagaimana yang dikutip oleh Androinicus (1310 M), sang apologet Kristen tsb. Begitu juga sangat mustahil bila dalam karya2 Rabbinik tidak ada kutipan kitab Doctrina Jacobi dalam karya-karya Rabbinik sezamannya atau pun pasca zamannya, padahal kitab Doctrina Jacobi merupakan karya penting yang muncul pada era Gaonim, terutama terkait nasab Yeshu ha-Notzri sebagai keturunan Raja Daud. Jadi informasi tentang adanya tulisan Rabbi Elijah yang menyebutkan nasab biologis Maria (Maryam) yang merujuk kpd Raja Daud melalui Nathan hanyalah informasi sepihak yang tidak dapat dikonfirmasi kebenarannya melalui dokumen2 Rabbinik.

Dialog yang mengutip dokumen Rabbi Elijah itu memang amat menarik untuk ditelusuri kebenarannya, terutama berkaitan dng manuskrip aslinya, kutipan2 tulisannya dari sumber-sumber Rabbinik yang dapat ditelusuri dan sekaligus dapat dijadikan sebagai teks pembanding. Apalagi nasab biologis Maryam menurut tulisan Rabbi Elijah serta kitab Doctrina Jacobi itu merujuk 3 pilar utama mengenai nasab Maryam sebagai (1), benih Nathan, (2) benih Raja Daud, (3) benih Yehuda.

Dan lagi, menurut kedua dokumen Rabbinik itu dinyatakan bahwa Maryam secara genetis memang diakui sebagai keturunan Raja Daud, dan ternyata telah dikenal di kalangan masyarakat Yahudi di kawasan Tiberias. Bila dokumen itu bukan fiktif atau pun imaji, maka ini justru membuktikan bahwa karya Rabbi Elijah itu merupakan karya yang tersebar dan dikenal secara masif di kalangan masyarakat Yahudi, terutama di kalangan para rabbi di wilayah Tiberias. Ini pasti akan menjadi isu yang amat debateable dalam karya-karya Rabbinik pada masa itu, dan juga era selanjutnya, yang mengerucut pada wacana pro dan kontra. Apalagi kitab Talmud yang saat itu juga berbicara mengenai tokoh Yeshu Ben Panthera faktanya telah terkodifikasi dan final.

Namun faktanya tidak demikian adanya, tidak ada 1 pun dokumen yang membicarakan mengenai karya tulisan Rabbi Elijah tersebut. Apalagi perdebatan di antara para rabbi mengenai kitab Doctrina Jacobi. Padahal kitab Doctrina Jacobi dan karya Rabbi Elijah yang membicarakan nasab Yeshu melalui Maryam telah dikenal dalam tradisi komunitas Yahudi di Tiberias. Berikut kutipannya :

“…as the tradition of us Jews in Tiberias has it, of the seed of Nathan, the son of David, of the seed of Judah.”

Dengan demikian, tulisan Rabbi Elijah dan buku Doctrina Jacobi secara de facto hanyalah dokumen yang tercantum dalam dokumen Kristen, dan tidak tercantum dalam dokumen Rabbinik lainnya. Dokumen yang mengutip dan menyitir tulisan Rabbi Elijah dan kitab Doctrina Jacobi itu hanya termaktub dalam buku apologetika Kristen yang berjudul Adversus Judaeos: A Bird’s Eye View of Christian Apologiae until Renaissance (Cambridge University Press, 2012).

Saya menduga bahwa Andronicus (1310 M.) telah salah kutip dng menyandarkan argumentasinya merujuk pada Rabbi Elijah. Saya juga menduga bahwa Andronicus sebenarnya mengutip Injil Apokrif, yakni Injil Yakobus yang di dalamnya memang telah disebutkan nama ayah dan nama ibundanya Maryam yang bernama Yoakim dan Anne, dan dijelaskan juga asal suku mereka, yakni suku Yehuda. Dan secara de facto, Injil Yakobus ini ternyata telah eksis sebelum tahun 1310 M. Andronicus mencatut nama Rabbi Elijah dan menisbatkan argumentasinya dng mengutip tokoh Rabbi Elijah karena saat perdebatan itu dia sedang berpolemik dng seorang Yahudi utk menjustifikasi argumentasinya dng menggunakan kebesaran nama Rabbi Elijah.

Padahal tokoh yang disebut Rabbi Elijah adalah tokoh rekaan yang ahistoris dan tidak tercatat dalam dokumen Toledot Gadoli Yisrael. Rabbi Elijah sebagai tokoh historis atau pun tokoh ahistoris tetap saja tidak dapat ditelusuri karya tulisannya sekaligus otobiografinya dalam dokumen Rabbinik. Bila merujuk pada metodologi pembuktian fakta historis terhadap isi sebuah laporan, maka perlu adanya teori kesahihan yang digagas oleh Theodore Noldeke, seorang orientalis asal Jerman, yakni dng cara metode komparatif sebuah laporan dari komunitas yang saling berseberangan. Namun, faktanya kita tidak menemukan data pembanding apapun yang dapat digunakan sebagai kreteria kesahihan sebuah laporan terkait adanya tulisan Rabbi Elijah dan kitab Doctrina Jacobi tersebut, khususnya berdasar dokumen2 Rabbinik.

Kesimpulan

Buku apologetika Kristen karya William Lukyn ini tidak bisa dijadikan sbg bukti otentik yang dapat dipertanggungjawabkan isinya karena tulisan Rabbi Elijah dan dokumen Doctrina Jacobi yang dikutipnya tersebut hanya termaktub dalam buku apologetika Kristen yang statusnya berperan sebagai sumber kedua (2nd source), dan bukan sebagai sumber primer (1st source). Jadi sekali lagi, buku karya apologetika Kristen tsb tidak dapat dijadikan rujukan.

Baruch HASHEM

Posted in Rabbinic studies | Tagged | Leave a comment

Quran dalam Bahasa Kuno

Shalom ‘aleychem
Assalamu ‘alaykum

Quran-bhs-kuno-1.jpgQuran-bhs-kuno-2.jpgQuran-bhs-kuno-1.jpg

Quran dalam Bahasa Kuno

בסמ ללה אלרחמן אלרחים

Anda bisa bayangkan bagaimana ادم ( Adam ) berbicara kepada istrinya, serta Habil berbicara kepada Qabil (Kain) pada masa lalu? Anda juga bisa bayangkan bagaimana نوح ( Nuh ) berbicara kepada kaumnya pada masa lalu? Menurut peletak dasar ilmu sosiologi yang bernama Ibn Khaldun, bahasa Amazight adalah bahasa kuno yang dipakai oleh Adam. Bahasa kuno yang disebut bahasa Amazight ini hingga kini masih menggunakan aksara ‘semacam huruf Hiroglif’, mirip bahasa Koptik di Mesir yang dituturkan oleh Fir’aun. Ibnu Khaldun mengulas bahasa Amazight ini dalam kitabnya yang berjudul Al-Muqaddimah.

Sementara itu, menurut para historian dan arkheologi, bahasa kuno yang dituturkan oleh Nabi Nuh adalah bahasa Armenian. Armenia, the language of Noach and the land of Noach.

Ini ada dua buah Quran, yang satu berbahasa Amazight, dan satunya lagi berbahasa Armenia. Melalui pembacaan Quran berbahasa Armenia, kita seakan-akan bercakap-cakap dng Nabi Nuh dalam bahasa aslinya. Dan ketika kita membaca Quran dalam bhs Amazight, kita seakan-akan berdialog dng Adam dalam bahasa aslinya pula. Kini bahasa tuturan Adam masih tetap dilestarikan, dan bahasanya Nabi Nuh juga masih tetap dilestarikan, keduanya merupakan warisan Adam dan Nabi Nuh, meskipun tentu saja ada perubahan2 karena rentang/ jarak zaman yang begitu panjang. Sama dng bhs Koptik adalah warisan dari Firaun, dan bahasa Ibrani juga warisan dari Nabi Musa. Keduanya bukan juga tidak ada pergeseran dan perubahan2.

Quran bhs Amazight dan bhs Armenia ini adalah bukti pewarisan bahasa kuno, yang akan membawa kita ke lorong waktu menembus masa lalu dan menelisik Zaman Batu. Amazing ……

Inilah bhs Amazight, bhs sang manusia pertama, yakni ADAM

Darbulqhwa d butiram.
Righ’adskusgh legwa.
Righyan lkas laqwa dukfay dyat timimt.
Zarmayra umdakl inu.
Mayka wassangn leqwayan. ……..

Baruch HASHEM

Posted in Qur'anic Studies | Tagged , | Leave a comment

Sejarah Yang Terlupakan Part 10

Shalom ‘aleychem
Assalamu ‘alaykum

 

Genealogy Discussion:
Yusuf bukan Keturunan Salomo

Kajian teori Levirate Marriage versus teori the Virgin Birth memang sangat menarik bila ditinjau secara kritis dari aspek historis dan budaya. Keduanya tidak dapat saling dipertemukan, bahkan saling menafikan. Teori Levirate marriage tidak mengenal konsep ‘anak angkat’, apalagi mengenal konsep ‘special adoption.’ Bila kita membaca secara kritis mengenai wacana terkait konsep special adoption, maka kita akan dapat mengidentifikasinya sebagai satu-satunya pilar dari teori the Virgin Birth.

Jimmy Jeffrey menyatakan: ” Yang disebut anak tidaklah harus anak secara biologis. Ketentuan ini memang secara khusus diatur dalam aturan Levirate marriage, dan bisa dikatakan sebagai special adoption. Hal seperti ini bisa juga terjadi dalam kondisi lain, seperti antara Yusuf dan Yesus.” Pernyataan Jimmy Jeffrey ini sangat rancu dan tidak tepat bila ditinjau dari TaNaKH (Torah Neviem ve Khetuvim), terutama terkait dng halacha (syariat) yang mengatur persoalan Levirate marriage Teori Levirate marriage telah diatur dalam Sefer Devarim 25:5-6.

Teori Levirate marriage yang termaktub dalam TaNaKH tersebut tidak ada hubungannya dng konsep ‘special adoption’ sebagaimana yang digagas oleh Jimmy Jeffrey. Status seorang anak hasil dari penerapan Levirate marriage memang dapat disebut sebagai anak dari saudaranya yang telah meninggal. Hal ini berarti secara de jure anak itu sah sebagai anak dari saudara ayah kandungnya yang telah meninggal, sehingga berhak menerima warisan. Namun persoalannya teori Levirate marriage itu selalu terkait dengan garis darah, dan status sang anak tidak bisa disebut sebagai ‘anak angkat’, tetapi hanya bisa disebut sebagai ‘anak ipar’ yang diperanakkan secara halachic (syariat) dan dianggap sah karena hal tersebut masih meniscayakan adanya pertalian darah antara status sang ayah kandung dan saudara kandungnya. Teori Levirate marriage tidak bisa diterapkan dalam mengidentifikasi status Yusuf sebagai ayah Yesus, dan juga tidak bisa diterapkan kepada Yesus sebagai anak Yusuf. Yesus bukanlah anak kandung dari saudara kandung Yusuf. Artinya, Yesus juga bukan anak ipar Yusuf yang bisa dianggap sah secara hukum yang nasabnya dapat dimasukkan dalam daftar silsilah Yusuf. Jadi Jimmy Jeffrey sangat terlalu gegabah bila menyatakan bahwa Yesus dapat disebut sebagai anak Yusuf secara halachic (hukum) sesuai teori Levirate marriage.

Dalam Injil Matius 1:12 tertulis demikian

Sesudah pembuangan ke Babel, Yekhonya memperanakkan Sealthiel. Sealthiel memperanakkan Zerubabel … “

St. Matius mengambil daftar silsilah ini dari kitab I Tawarikh 3:17-19 yang menyebut data sbb:

“Dan keturunan Yekhonya ialah Assir, anaknya ialah Sealthiel dan Malkhiram, dan Pedaya, dan Shenasar, Yekanya, Hosama, dan Nedabya. Dan keturunan Pedaya ialah Zerubabel dan Simei ….”

Berdasarkan ayat-ayat tersebut membuktikan bahwa ternyata Zerubabel bukanlah anak kandung dari Sealthiel, tetapi Zerubabel adalah adalah anak kandung dari Pedaya, yang adalah adik kandung dari Sealthiel. Jadi, menurut kitab I Tawarikh 3:18 disebutkan daftar silsilah Zerubabel anak Pedaya. Sementara itu, dalam kitab Ezra 3:2; Nehemia 12:1; Hagai 1:1 disebut daftar silsilah Zerubabel yang berbeda, yakni Zerubabel anak Sealthiel. Siapakah sebenarnya Zerubabel? Apakah dia anak Sealthiel atau anak Pedaya? Bagaimana mungkin seorang anak bisa memiliki dua orang ayah yang berbeda sekaligus?

Begitu pula menurut St. Matius, Yekhonya memperanakkan Sealthiel (Matius 1:12), sedangkan St. Lukas menyatakan bahwa Sealthiel anak Neri (Lukas 3:27). Siapakah sebenarnya ayah dari Sealthiel, apakah Yekhonya atau Neri? Bagaimana mungkin seorang anak bisa memiliki 2 orang ayah yang berbeda sekaligus?

Sebenarnya di sinilah penerapan teori Levirate marriage dapat diungkap, sebab menurut kitab Yeremia 22:28-30 dijelaskan bahwa Yekhonya tidak memiliki anak kandung. Jadi Yekhonya memperanakkan Sealthiel karena Selathiel adalah anak kandung dari Neri, dan Neri sendiri adalah sanak saudara dari Yekhonya.

Begitu juga status Zerubabel anak Pedaya (I Tawarikh 3:18) dan status Zerubabel anak Sealthiel (Ezra 3:2) dapat dibaca melalui teori Levirate marriage yang meniscayakan adanya pertalian darah antara Pedaya dan Sealthiel.

Saya bisa memahami bahwa status Zerubabel dapat disebut sebagai anak Pedaya, dan sekaligus dapat disebut sebagai anak Sealthiel karena dalam TaNaKH dijelaskan adanya pertalian darah antara Pedaya dan Sealthiel, sebagaimana yang tercatat dalam kitab I Tawarikh 3:17-19. Dengan demikian, Zerubabel memiliki 2 daftar silsilah, yakni daftar silsilah Zerubabel melalui Pedaya, dan daftar silsilah Zerubabel melalui Sealthiel. Kasus ini sejajar dengan Yusuf yang juga memiliki 2 daftar silsilah, yakni daftar silsilah Yusuf melalui Yakub sebagaimana catatan daftar silsilah Yusuf dalam injil Matius, dan juga daftar silsilah Yusuf melalui Eli sebagaimana catatan daftar silsilah Yusuf dalam Injil Lukas. Yakub dan Eli adalah saudara kandung. Janda Eli dinikahi oleh Yakub yang melahirkan Yusuf. Jadi Yusuf adalah anak kandung Yakub, sekaligus anak sulung Eli. Jadi Yusuf bukanlah anak angkat Eli, tapi lebih tepatnya adalah ‘keponakan’ yang diperanakkan oleh oleh Eli secara hukum/ secara de jure karena adanya pertalian darah antara Yakub dan Eli. Inilah konsekuwensi dari penerapan Levirate marriage, sehingga tidak salah bila Yusuf memiliki 2 daftar silsilah. Pertama, daftar silsilah Yusuf yang nasab biologisnya merujuk kepada Yakub, sebagaimana yang ditulis oleh St. Matius. Kedua, daftar silsilah Yusuf yang secara hukum diperanakkan oleh Eli sebagai anak sulung sesuai halacha, sebagaimana yang ditulis oleh St. Lukas. Kasus daftar silsilah Yusuf ini telah dijelaskan oleh seorang Bapa Gereja kuno yang bernama Yulius Africanus. Jadi penjelasan Bapa Gereja kuno yang bernama Yulius Africanus ini juga terkait adanya pertalian darah antara Yakub dan Eli sebagaimana yang beliau ketahui dari tradisi oral.

Berkaitan dengan daftar silsilah Sealthiel melalui Yekhonya, kita dapat memperolehnya melalui catatan TaNaKH sebagaimana yang termaktub dalam kitab I Tawarikh 3:17-19 dan Yeremia 22:28-30. Namun berkaitan dng daftar silsilah Sealthiel melalui Neri, kita tidak menemukan catatan apapun dalam TaNaKH. Dan kita tidak menemukan informasi apapun dalam TaNaKH mengenai sang tokoh yang bernama Neri ini. Bahkan kita tidak menemukan catatan apapun dalam TaNaKH terkait pertalian darah antara Yekhonya dan Neri. Namun saya ‘menduga’ (meskipun spekulatif), tentang adanya catatan daftar silsilah Sealthiel melalui Neri yang tercatat secara administratif menurut hukum Yahudi dalam sebuah dokumen yang disebut ” public records “, termasuk nama Pedaya dan Sealthiel karena kedua orang tersebut berstatus saudara kandung. Begitu juga nama Neri dan Yekhonya yang berstatus sebagai sanak saudara pasti tercatat pada dokumen ‘public records ‘ tersebut. Sekali lagi, ini hanya ‘dugaan kuat’ berdasarkan pernyataan sbb:

“…Jews preserved their genealogical tables with remarkable accuracy through all the centuries before the birth of Jesus and also during the first century after His birth.. In his Autobiography (para. I) Josephus states that he reproduces his genealogical table as he found it “in the public records”. And in his work Against Apion (i) he relates how Jews—even those who lived outside Palestine—sent the names of their children to Jerusalem to be officially recorded. (Geldenhuys, New International Commentary: The Gospel of Luke).

Kesimpulan

Yusuf bukanlah anak kandung dari Eli, tetapi Yusuf adalah anak kandung dari Yakub. Dan Yusuf juga bukan anak angkat dari Eli, tapi Yusuf adalah anak sulung Eli secara de jure (yuridis) yang diperanakkan sesuai halacha.

Yusuf keturunan Zerubabel juga bukan anak kandung dari Yekhonya, tapi Yusuf adalah anak kandung dari Neri (Lukas 3:27). Dan Yusuf bukan anak angkat dari Yekhonya, tapi Yusuf adalah anak sulung dari Yekhonya secara de jure (juridis) yang diperanakkan sesuai halacha. Jadi Yusuf pun sebenarnya tidak mewarisi tahta Daud secara nasab biologis melalui Yekhonya, yang adalah keturunan Salomo. Yusuf nasab biologisnya bersambung kepada Neri (Lukas 3:27), keturunan Nathan ben Daud (Lukas 3:31), dan Yusuf sendiri nasab biologisnya tidak bersambung kepada Salomo ben David. Bila Yusuf ternyata nasab biologisnya tidak bersambung kepada Salomo ben Daud, maka bagaimana mungkin Yesus bisa mewarisi tahta Daud melalui Salomo padahal nasab biologis Yesus tidak bersambung kepada Yusuf apalagi Salomo ben Daud? Jadi inilah faktanya bahwa nasab biologis Maryam dan nasab biologis Yusuf, ternyata keduanya hanya bersambung kepada Nathan ben Daud dan bukan bersambung kepada Salomo ben Daud.

Bila dalam aturan Levirate marriage, status anak laki-laki yang lahir dianggap sebagai anak dari yang meninggal, maka ini berarti anak tersebut adalah anak non-biologis dari yang meninggal. Artinya, anak tersebut disebut sebagai anak sulung dari yang meninggal, dan diakui secara yuridis sesuai halacha Yahudi. Dengan demikian, Yusuf sebagai keturunan Zerubabel, statusnya adalah sebagai anak non-biologis dari Raja Yekhonya. Dengan kata lain, Yusuf adalah bukan anak kandung atau pun anak angkat Raja Yekhonya, sang pewaris tahta Daud. Dan pada diri Yusuf juga tidak mengalir darah Salomo, sang pewaris Raja Daud. Dalam konteks ini, Yesus juga tereliminiasi sebagai pewaris tahta Daud, karena Yesus bukanlah keturunan biologis Yekhonya, sang pewaris sah tahta Salomo.

Dengan demikian, bila Yesus disebut sebagai anak Yusuf berdasarkan teori Levirate marriage, maka hal ini sangat absurd. Dan bila Yesus disebut sebagai anak dalam konteks special adoption, maka ini memang hak special yang hanya disematkan kpd Yesus dalam ajaran dogmatik Kristen yang ahistoris. Dan hal ini semata-mata hanya terkait dng teori the Virgin Birth yang tidak memiliki akar dalam tradisi Yahudi. Jadi, konsep special adoption yang tidak meniscayakan adanya pertalian darah dalam penerapan teori Levirate marriage merupakan gagasan asing yang dipaksakan dalam TaNaKH. Teori special adoption yang digagas Jimmy Jeffrey dalam konteks ini bagaikan menegakkan benang basah.

Posted in Rabbinic studies | Leave a comment