Sejarah Yang Terlupakan Part 10

Shalom ‘aleychem
Assalamu ‘alaykum

 

Genealogy Discussion:
Yusuf bukan Keturunan Salomo

Kajian teori Levirate Marriage versus teori the Virgin Birth memang sangat menarik bila ditinjau secara kritis dari aspek historis dan budaya. Keduanya tidak dapat saling dipertemukan, bahkan saling menafikan. Teori Levirate marriage tidak mengenal konsep ‘anak angkat’, apalagi mengenal konsep ‘special adoption.’ Bila kita membaca secara kritis mengenai wacana terkait konsep special adoption, maka kita akan dapat mengidentifikasinya sebagai satu-satunya pilar dari teori the Virgin Birth.

Jimmy Jeffrey menyatakan: ” Yang disebut anak tidaklah harus anak secara biologis. Ketentuan ini memang secara khusus diatur dalam aturan Levirate marriage, dan bisa dikatakan sebagai special adoption. Hal seperti ini bisa juga terjadi dalam kondisi lain, seperti antara Yusuf dan Yesus.” Pernyataan Jimmy Jeffrey ini sangat rancu dan tidak tepat bila ditinjau dari TaNaKH (Torah Neviem ve Khetuvim), terutama terkait dng halacha (syariat) yang mengatur persoalan Levirate marriage Teori Levirate marriage telah diatur dalam Sefer Devarim 25:5-6.

Teori Levirate marriage yang termaktub dalam TaNaKH tersebut tidak ada hubungannya dng konsep ‘special adoption’ sebagaimana yang digagas oleh Jimmy Jeffrey. Status seorang anak hasil dari penerapan Levirate marriage memang dapat disebut sebagai anak dari saudaranya yang telah meninggal. Hal ini berarti secara de jure anak itu sah sebagai anak dari saudara ayah kandungnya yang telah meninggal, sehingga berhak menerima warisan. Namun persoalannya teori Levirate marriage itu selalu terkait dengan garis darah, dan status sang anak tidak bisa disebut sebagai ‘anak angkat’, tetapi hanya bisa disebut sebagai ‘anak ipar’ yang diperanakkan secara halachic (syariat) dan dianggap sah karena hal tersebut masih meniscayakan adanya pertalian darah antara status sang ayah kandung dan saudara kandungnya. Teori Levirate marriage tidak bisa diterapkan dalam mengidentifikasi status Yusuf sebagai ayah Yesus, dan juga tidak bisa diterapkan kepada Yesus sebagai anak Yusuf. Yesus bukanlah anak kandung dari saudara kandung Yusuf. Artinya, Yesus juga bukan anak ipar Yusuf yang bisa dianggap sah secara hukum yang nasabnya dapat dimasukkan dalam daftar silsilah Yusuf. Jadi Jimmy Jeffrey sangat terlalu gegabah bila menyatakan bahwa Yesus dapat disebut sebagai anak Yusuf secara halachic (hukum) sesuai teori Levirate marriage.

Dalam Injil Matius 1:12 tertulis demikian

Sesudah pembuangan ke Babel, Yekhonya memperanakkan Sealthiel. Sealthiel memperanakkan Zerubabel … “

St. Matius mengambil daftar silsilah ini dari kitab I Tawarikh 3:17-19 yang menyebut data sbb:

“Dan keturunan Yekhonya ialah Assir, anaknya ialah Sealthiel dan Malkhiram, dan Pedaya, dan Shenasar, Yekanya, Hosama, dan Nedabya. Dan keturunan Pedaya ialah Zerubabel dan Simei ….”

Berdasarkan ayat-ayat tersebut membuktikan bahwa ternyata Zerubabel bukanlah anak kandung dari Sealthiel, tetapi Zerubabel adalah adalah anak kandung dari Pedaya, yang adalah adik kandung dari Sealthiel. Jadi, menurut kitab I Tawarikh 3:18 disebutkan daftar silsilah Zerubabel anak Pedaya. Sementara itu, dalam kitab Ezra 3:2; Nehemia 12:1; Hagai 1:1 disebut daftar silsilah Zerubabel yang berbeda, yakni Zerubabel anak Sealthiel. Siapakah sebenarnya Zerubabel? Apakah dia anak Sealthiel atau anak Pedaya? Bagaimana mungkin seorang anak bisa memiliki dua orang ayah yang berbeda sekaligus?

Begitu pula menurut St. Matius, Yekhonya memperanakkan Sealthiel (Matius 1:12), sedangkan St. Lukas menyatakan bahwa Sealthiel anak Neri (Lukas 3:27). Siapakah sebenarnya ayah dari Sealthiel, apakah Yekhonya atau Neri? Bagaimana mungkin seorang anak bisa memiliki 2 orang ayah yang berbeda sekaligus?

Sebenarnya di sinilah penerapan teori Levirate marriage dapat diungkap, sebab menurut kitab Yeremia 22:28-30 dijelaskan bahwa Yekhonya tidak memiliki anak kandung. Jadi Yekhonya memperanakkan Sealthiel karena Selathiel adalah anak kandung dari Neri, dan Neri sendiri adalah sanak saudara dari Yekhonya.

Begitu juga status Zerubabel anak Pedaya (I Tawarikh 3:18) dan status Zerubabel anak Sealthiel (Ezra 3:2) dapat dibaca melalui teori Levirate marriage yang meniscayakan adanya pertalian darah antara Pedaya dan Sealthiel.

Saya bisa memahami bahwa status Zerubabel dapat disebut sebagai anak Pedaya, dan sekaligus dapat disebut sebagai anak Sealthiel karena dalam TaNaKH dijelaskan adanya pertalian darah antara Pedaya dan Sealthiel, sebagaimana yang tercatat dalam kitab I Tawarikh 3:17-19. Dengan demikian, Zerubabel memiliki 2 daftar silsilah, yakni daftar silsilah Zerubabel melalui Pedaya, dan daftar silsilah Zerubabel melalui Sealthiel. Kasus ini sejajar dengan Yusuf yang juga memiliki 2 daftar silsilah, yakni daftar silsilah Yusuf melalui Yakub sebagaimana catatan daftar silsilah Yusuf dalam injil Matius, dan juga daftar silsilah Yusuf melalui Eli sebagaimana catatan daftar silsilah Yusuf dalam Injil Lukas. Yakub dan Eli adalah saudara kandung. Janda Eli dinikahi oleh Yakub yang melahirkan Yusuf. Jadi Yusuf adalah anak kandung Yakub, sekaligus anak sulung Eli. Jadi Yusuf bukanlah anak angkat Eli, tapi lebih tepatnya adalah ‘keponakan’ yang diperanakkan oleh oleh Eli secara hukum/ secara de jure karena adanya pertalian darah antara Yakub dan Eli. Inilah konsekuwensi dari penerapan Levirate marriage, sehingga tidak salah bila Yusuf memiliki 2 daftar silsilah. Pertama, daftar silsilah Yusuf yang nasab biologisnya merujuk kepada Yakub, sebagaimana yang ditulis oleh St. Matius. Kedua, daftar silsilah Yusuf yang secara hukum diperanakkan oleh Eli sebagai anak sulung sesuai halacha, sebagaimana yang ditulis oleh St. Lukas. Kasus daftar silsilah Yusuf ini telah dijelaskan oleh seorang Bapa Gereja kuno yang bernama Yulius Africanus. Jadi penjelasan Bapa Gereja kuno yang bernama Yulius Africanus ini juga terkait adanya pertalian darah antara Yakub dan Eli sebagaimana yang beliau ketahui dari tradisi oral.

Berkaitan dengan daftar silsilah Sealthiel melalui Yekhonya, kita dapat memperolehnya melalui catatan TaNaKH sebagaimana yang termaktub dalam kitab I Tawarikh 3:17-19 dan Yeremia 22:28-30. Namun berkaitan dng daftar silsilah Sealthiel melalui Neri, kita tidak menemukan catatan apapun dalam TaNaKH. Dan kita tidak menemukan informasi apapun dalam TaNaKH mengenai sang tokoh yang bernama Neri ini. Bahkan kita tidak menemukan catatan apapun dalam TaNaKH terkait pertalian darah antara Yekhonya dan Neri. Namun saya ‘menduga’ (meskipun spekulatif), tentang adanya catatan daftar silsilah Sealthiel melalui Neri yang tercatat secara administratif menurut hukum Yahudi dalam sebuah dokumen yang disebut ” public records “, termasuk nama Pedaya dan Sealthiel karena kedua orang tersebut berstatus saudara kandung. Begitu juga nama Neri dan Yekhonya yang berstatus sebagai sanak saudara pasti tercatat pada dokumen ‘public records ‘ tersebut. Sekali lagi, ini hanya ‘dugaan kuat’ berdasarkan pernyataan sbb:

“…Jews preserved their genealogical tables with remarkable accuracy through all the centuries before the birth of Jesus and also during the first century after His birth.. In his Autobiography (para. I) Josephus states that he reproduces his genealogical table as he found it “in the public records”. And in his work Against Apion (i) he relates how Jews—even those who lived outside Palestine—sent the names of their children to Jerusalem to be officially recorded. (Geldenhuys, New International Commentary: The Gospel of Luke).

Kesimpulan

Yusuf bukanlah anak kandung dari Eli, tetapi Yusuf adalah anak kandung dari Yakub. Dan Yusuf juga bukan anak angkat dari Eli, tapi Yusuf adalah anak sulung Eli secara de jure (yuridis) yang diperanakkan sesuai halacha.

Yusuf keturunan Zerubabel juga bukan anak kandung dari Yekhonya, tapi Yusuf adalah anak kandung dari Neri (Lukas 3:27). Dan Yusuf bukan anak angkat dari Yekhonya, tapi Yusuf adalah anak sulung dari Yekhonya secara de jure (juridis) yang diperanakkan sesuai halacha. Jadi Yusuf pun sebenarnya tidak mewarisi tahta Daud secara nasab biologis melalui Yekhonya, yang adalah keturunan Salomo. Yusuf nasab biologisnya bersambung kepada Neri (Lukas 3:27), keturunan Nathan ben Daud (Lukas 3:31), dan Yusuf sendiri nasab biologisnya tidak bersambung kepada Salomo ben David. Bila Yusuf ternyata nasab biologisnya tidak bersambung kepada Salomo ben Daud, maka bagaimana mungkin Yesus bisa mewarisi tahta Daud melalui Salomo padahal nasab biologis Yesus tidak bersambung kepada Yusuf apalagi Salomo ben Daud? Jadi inilah faktanya bahwa nasab biologis Maryam dan nasab biologis Yusuf, ternyata keduanya hanya bersambung kepada Nathan ben Daud dan bukan bersambung kepada Salomo ben Daud.

Bila dalam aturan Levirate marriage, status anak laki-laki yang lahir dianggap sebagai anak dari yang meninggal, maka ini berarti anak tersebut adalah anak non-biologis dari yang meninggal. Artinya, anak tersebut disebut sebagai anak sulung dari yang meninggal, dan diakui secara yuridis sesuai halacha Yahudi. Dengan demikian, Yusuf sebagai keturunan Zerubabel, statusnya adalah sebagai anak non-biologis dari Raja Yekhonya. Dengan kata lain, Yusuf adalah bukan anak kandung atau pun anak angkat Raja Yekhonya, sang pewaris tahta Daud. Dan pada diri Yusuf juga tidak mengalir darah Salomo, sang pewaris Raja Daud. Dalam konteks ini, Yesus juga tereliminiasi sebagai pewaris tahta Daud, karena Yesus bukanlah keturunan biologis Yekhonya, sang pewaris sah tahta Salomo.

Dengan demikian, bila Yesus disebut sebagai anak Yusuf berdasarkan teori Levirate marriage, maka hal ini sangat absurd. Dan bila Yesus disebut sebagai anak dalam konteks special adoption, maka ini memang hak special yang hanya disematkan kpd Yesus dalam ajaran dogmatik Kristen yang ahistoris. Dan hal ini semata-mata hanya terkait dng teori the Virgin Birth yang tidak memiliki akar dalam tradisi Yahudi. Jadi, konsep special adoption yang tidak meniscayakan adanya pertalian darah dalam penerapan teori Levirate marriage merupakan gagasan asing yang dipaksakan dalam TaNaKH. Teori special adoption yang digagas Jimmy Jeffrey dalam konteks ini bagaikan menegakkan benang basah.

Comments

comments

This entry was posted in Rabbinic studies. Bookmark the permalink.