Sejarah Yang Terlupakan Part 9

Shalom ‘aleychem
Assalamu ‘alaykum

 

Genealogy Discussion:
Yesus Anak Yusuf dan Teori the Virgin Birth

Seseorang yang membaca tulisan Jimmy Jeffry memang harus jeli dan memerlukan daya ketelitian yang tinggi, agar tidak termanipulasi dengan data yang disajikan tapi terkorupsi karena ketiadaan teks asli. Jimmy Jeffrey telah melakukan berbagai upaya pembelaan terhadap status Yesus sebagai anak Yusuf. Namun, upaya pembelaan tersebut ternyata hanya ‘permainan kata’ yang disodorkan kepada pembaca terkait antara istilah anak biologis dan anak non-biologis yang dipaksakan berlaku secara de jure sebagai bagian dari tradisi Yahudi.

Jimmy Jeffrey mengutip Talmud Bavli sebagai pembenaran teori ‘anak angkat’ dalam tradisi Yahudi. Namun pembacaan teks yang dilakukannya terhadap teks Talmud tersebut ternyata kurang teliti, akibatnya fatal.

Dalam Talmud Bavli, traktat Megillah 13a tertulis demikian:

Rabbi Simon ben Pazzi once introduced an exposition of the Book of Chronicles as follows: ‘All thy words are one, and we know how to find their inner meaning’. [It is written], And his wife the Jewess bore Jered the father of Gedor, and Heber the father of Socho, and Jekuthiel the father of Zanoah, and these are the sons of Bithya the daughter of Pharaoh, whom Mered took. Why was she [the daughter of Pharaoh] called a Jewess? Because she repudiated idolatry, as it is written, And the daughter of Pharaoh went down to bathe in the river, and R. Johanan, [commenting on this,] said that she went down to cleanse herself from the idols of her father’s house. ‘Bore’: But she only brought him [Moses] up? – This tells us that if anyone brings up an orphan boy or girl in his house, the Scripture accounts it as if he had begotten him. ‘Jered’: this is Moses. Why was he called Jered? Because manna came down [yarad] for Israel in his days (Talmud Bavli, traktat Megillah 13a).

Dalam teks Talmud ini disebutkan tentang puteri Firaun yang bernama Bithiah (daughter of God) yang menurut Jimmy Jeffrey kemungkinan diberi nama seperti itu setelah convert ke dalam agama Judaism. Kemudian disebut sebagai Jehudijah atau diterjemahkan secara literal menjadi “Jewess” dalam Sanhedrin. Bithiah ini menikah dengan Mered dan melahirkan beberapa anak. Namun yang menarik – menurut Jimmy Jeffrey – salah satu anak bernama Jered itu adalah Musa (Moses), yang secara genetis anak dari Jochebed dan Amram (Kel 6:20), tetapi Jered ini tetap disebutkan sebagai anak dari Bithiah.”

Jadi menurut Jimmy Jeffrey, teks Talmud yang menyebut nama Jered (Musa) ini menjadi bukti adanya konsep ” anak angkat ” dalam tradisi Yahudi. Sebenarnya, teks Talmud itu hanya menyajikan tentang konsep ‘anak adopsi’ dalam tradisi Mesir yang membolehkan adanya ketiadaan hubungan darah. Dalam hal ini teks Talmud bukan bermaksud mengadopsi konsep anak adopsi dalam tradisi Mesir. Sebab dalam TaNaKH tidak dibenarkan adanya konsep mengadopsi anak. Justru yang ada adalah menisbatkan nasab seorang anak pada silsilah yang masih ada hubungan darah melalui jalur perkawinan Levirate, dan bukan ketiadaan hubungan darah. Hal ini sesuai konsep perkawinan Levirate yang diatur dalam TaNaKH (Torah Neviem ve Khetuvim). Jadi pengutipan ayat Talmud Bavli, traktat Megillah 13a oleh Jimmy Jeffrey tentang adanya konsep anak adopsi dalam tradisi Yahudi tersebut jelas salah alamat dan tidak tepat.

Yesus memang anak kandung Maryam, tapi Yesus bukan anak kandung dari mantan suaminya Maryam yang telah meninggal dunia, sehingga silsilah nasab Yesus bisa mengikuti nasab silsilah Yusuf. Ini adalah aturan perkawinan Levirate. Yesus juga bukan anak kandung saudara kandung Yusuf yang telah meninggal dunia, sehingga silsilah nasab Yesus bisa mengikuti nasab silsilah Yusuf. Ini juga aturan perkawinan Levirate. Menurut Theodoret, seorang Bapa Gereja kuno, Klopas adalah suami Maria, ibunya Yakobus; dan Yusuf adalah suami Maria, ibunya Yesus. Klopas dan Yusuf adalah saudara kandung. Lihat karya Mark J. Edwars (ed.). Ancient Christian Commentary on Scriptures. New Testament VIII, hal. 15. Dalam hal ini, Yesus juga bukan anak kandung Klopas yang nasabnya bisa mengikuti silsilah nasab Klopas sekaligus silsilah nasab Yusuf. Namun, bila menurut teks Talmud ternyata Yesus disebut Yeshu Ben Panthera, maka hal ini mengindikasikan bahwa Yesus semestinya mengikuti silsilah nasab Panthera (pria selingkuhan Maryam menurut Talmud), tetapi Yesus tetap saja tidak bisa mengikuti nasab silsilah Yusuf. Mengapa? Jawabannya sederhana, karena Panthera (orang goyim itu) dan Yusuf (keturunan Yehuda) bukanlah saudara kandung. Ini juga merupakan aturan dari perkawinan Levirate. Apalagi menurut TaNaKH yang menyatakan bahwa anak hasil perzinahan hanya dapat dinisbatkan pada nasab ibunya. Jadi semestinya, Yesus memang hanya disebut sebagai anak Maryam saja.

Jadi sekali lagi, Jimmy Jeffrey sengaja memanipulasi pembacanya dng tidak merujuk pada konsep perkawinan Levirate yang meniscayakan adanya hubungan darah, sebagaimana yang tertulis dalam TaNaKH. Bahkan Jimmy Jeffrey sengaja menyembunyikan fakta catatan Gereja Bapa kuno yang bernama Theodoret yang menjelaskan terkait hubungan Yusuf dan Klopas sebagai saudara kandung dalam satu keluarga. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa teori ” special adoptian ” yang berkaitan dengan adanya teori ‘anak angkat’ yang digagas oleh Jimmy Jeffrey hanyalah khas teori the Virgin Birth yang baru muncul era Kristen, dan bukan teori perkawinan Levirate yang meniscayakan adanya hubungan darah sebagaimana yang termaktub dalam TaNaKH. Jadi dalih status anak non-biologis dan anak biologis dalam konteks perkawinan Levirate tidak memiliki justifikasi dalam tradisi Yahudi. Dan teori ‘ special adoption ‘ hanya terkait semata-mata dng teori the Virgin Birth, bukan teori perkawinan Levirate.

Dengan demikian, status Yesus yang disebut sebagai anak Daud yang dikaitkan dng Yusuf ternyata tidak memiliki makna apapun. Dalam hal ini kita tidak mempersoalkan status hukum Yusuf sebagai keturunan Daud melalui King Salomo, dan laporan Injil Matius itu sesuai dng status hukum dalam TaNaKH, baik ditinjau dari status perkawinan ipar nenek moyang Yusuf maupun bila ditinjau dari status garis ayah biologis Yusuf. Yusuf memang punya ayah secara biologis dan sekaligus punya ayah secara hukum, yakni Yakub dan Eli. Hal ini sesuai dng teori perkawinan Levirate sebagaimana yang termaktub dalam TaNaKH. Namun yang kita kaji ini adalah status hukum Yesus, bukan status hukum Yusuf. Yesus tidak memiliki status hukum apa2 bila dikaitkan dng Yusuf.

Berdasarkan teori Levirate Marriage sebagaimana tradisi yang termaktub dalam TaNaKH, maka Yesus jelas tidak memiliki status hukum sebagai anak Yusuf yang sah secara yuridis (de jure), karena Yesus bukan anak kandung dari saudara kandung Yusuf, dan Yesus juga bukan anak kandung dari mantan suami yang telah meninggal dari istri Yusuf. Kalau Yesus dianggap sebagai anak angkat Yusuf secara hukum, yang kemudian disebut sebagai special adoptian, maka ini sebuah teori asing yang dipaksakan, yang khas Kristen, yang secara dogmatis hanya terkait dng teori the Virgin Birth, dan bukan terkait dng teori Levirate Marriage. Dengan demikian, istilah ‘special adoption’ memang hanya special untuk Yesus yang terkait dng teori the Virgin Birth, dan istilah ‘special adoption’ tidak ada kaitannya sama sekali dengan teori Levirate Marriage yang berlaku dalam tradisi Yahudi.

Jimmy Jeffrey juga telah mengajukan data akurat tentang Maryam yang nasabnya bersambung kepada Daud. Dan menurut data ini pula, teridentifikasi adanya sosok manusia historis yang bernama Panther(a) yang telah hidup pada masa sebelum kelahiran Maryam. Manusia historis yang bernama Panther(a) ini ternyata adalah kakek kandung dari Maryam sendiri. Ini semakin membuktikan bahwa nama Panthera bukanlah nama rekaan atau nama ‘plesetan’ yang mengandung makna hinaan terhadap status Maryam yang disapa sbg Parthenos (Sang Perawan). Bagaimana mungkin nama Panthera dianggap sebagai sebuah nama rekaan sekaligus nama hujatan kepada Maryam Sang Parthenos (Sang Perawan), sedangkan nama hujatan ini juga sebagai nama kekek kandung Maryam Sang Parthenos yang justru telah ada sebelum Maryam dilahirkan?

Perhatikan kutipan teks dari Jimmy Jeffrey berikut ini.

“Why do Christians extol Mary so highly, calling her nobler than the Cherubim, incomparably greater than the Seraphim, raised above the heavens, purer than the very rays of the sun? For she was a woman, of the race of David, born to Anne her mother and Joachim her father, who was son of Panther. Panther and Melchi were brothers, sons of Levi, of the stock of Nathan, whose father was David of the tribe of Judah.” William Lukyn, Adversus Judaeos: A Bird’s-Eye View of Christian Apologiae until the Renaissance, Cambridge University Press, 2012

Berdasarkan data yang diajukan Jimmy Jeffrey itu, ternyata ada jajaran nama yang terkait dalam silsilah Maryam, yakni Anne, Joachim, Panther(a), Melchi, Levi, Nathan, David, & Judah. Bila nama Panther(a) dianggap bukan nama orisinil dari bahasa Ibrani atau pun Arami, dan juga bukan nama transliterasi dari nama Ibrani atau Arami yang kemudian diadopsi ke dalam nama Yunani atau nama Latin, maka mungkinkah nama Panther(a) sebuah nama rekaan? Apakah ini adalah pertanda kejanggalan bahwa nama Panther(a) adalah sebuah nama rekaan atau sekedar julukan, kalau tidak mau dikatakan hanyalah nama fiktif hasil imajinasi liar kaum Yahudi yang anti terhadap Yesus? Tentu jawabannya tidak. Panther(a) adalah nama historis, nama kakek kandung dari Maryam Sang Parthenos. Sementara itu, teks Talmud yang menyebut nama Panthera pada sebutan Yeshu Ben Panthera ternyata bukan merujuk kepada kakek kandung Maryam, tetapi merujuk kpd lelaki selingkuhan Maryam yang berbeda zaman. Jadi kesimpulannya, nama bisa saja sama, tetapi merujuk kpd person yang berbeda dan zaman yang berbeda pula.

Posted in Rabbinic studies | Tagged | Leave a comment

Sejarah Yang Terlupakan Part 8

Shalom ‘aleychem
Assalamu ‘alaykum

Kajian Baal Haturim:
Ishmael hingga Sang Nabi SAW

Bila kita membaca Chamisha Chumshe Torah berbahasa Ibrani dengan berbasis pemahaman khas Baal Haturim, dan membaca kitab-kitab dalam hal lintas agama, kita akan menemukan kode-kode gematria yang bisa menjadi bahan renungan bagi siapapun.

Dalam Chamisha Chumshe Torah atau pun TaNaKH ternyata disebutkan adanya 12 generasi dari Noach hingga Yishmael atau pun Yitzhaq. Lihat Sefer Bereshit 10:1; Sefer Bereshit 11:10-32; I Tawarikh 1:17-28

  1. Noach
  2. Shem
  3. Arpachshad
  4. Shelah
  5. Ever
  6. Peleg
  7. Re’u
  8. Seruq
  9. Nahor
  10. Terah
  11. Avraham
  12. Yishmael – Yitzhaq

Bila kita membaca Quran, kita juga menemukan nama Ishmael disebut 12 kali saja. Dan bila kita membaca kitab TaNaKH, kita juga akan menemukan nama Kedar, yakni salah satu nama dari 12 nama anak-anak Ishmael (Sefer Bereshit 25:13-18), ternyata nama Kedar tersebut hanya disebut 12 kali juga. Hal ini sejajar dng nama Hagar istri Avraham, ternyata juga disebut hanya 12 kali saja dalam Chamisha Chumshe Torah. Di sinilah kode-kode itu mulai terbaca:

Nama اسما عيل (Isma’il) dalam kitab Quran yang teksnya berbahasa Arab tercantum 12 kali pengulangan.

  1. Al-Baqarah 2:125
  2. Al-Baqarah 2:127
  3. Al-Baqarah 2:133
  4. Al-Baqarah 2:136
  5. Al-Baqarah 2:140
  6. Ali Imran 3:84
  7. An-Nisa’ 4:163
  8. Al-An’am 6:86
  9. Ibrahim 14:39
  10. Maryam 19:54
  11. Al-Anbiya’ 21:85
  12. Shad 38:48

Nama קדר (Kedar) juga penyebutannya diulang 12 kali dalam seluruh kitab TaNaKH yang disebut teks Masoret Ibrani. Anda harus melacaknya dari teks Ibrani, bukan teks bhs Inggris atau pun bhs Indonesia.

  1. Kejadian 25:13
  2. I Tawarikh 1:29
  3. Mazmur 120:5
  4. Kidung Agung 1:5
  5. Yesaya 21:16
  6. Yesaya 21:17
  7. Yesaya 42:11
  8. Yesaya 60:7
  9. Yeremia 2:10
  10. Yeremia 49:28
  11. Yeremia 49:28 (2 x pengulangan)
  12. Yehezmiel 27:21

Nama הגר (Hagar) yakni nama istri Abraham, bukan sebutan הגרים atau sebutan הגריאים dan juga bukan sebutan הגרי. Jadi hanya merujuk pada nama istri Abraham, yakni Hagar saja yang dimaksud, ternyata dalam TaNaKH bhs Ibrani terulang juga 12 kali pengulangan. Oleh karena itu, jangan sekali-kali membuka fakta tekstual ini dng memakai Alkitab bhs Inggris ataupun terjemahan Alkitab dalam berbagai bahasa apapun. Bahkan Alkitab bhs Indonesia sekalipun.

  1. Sefer Bereshit 16:1
  2. Sefer Bereshit 16:3
  3. Sefer Bereshit 16:4
  4. Sefer Bereshit 16:8
  5. Sefer Bereshit 16: 15
  6. Sefer Bereshit 16:15 (2 x pengulangan)
  7. Sefer Bereshit 16:16
  8. Sefer Bereshit 21:9
  9. Sefer Bereshit 21:14
  10. Sefer Bereshit 21:17
  11. Sefer Beresbit 21:17 (2 x pengulangan)
  12. Sefer Bereshit 25:12

Tatkala membahas Sefer Bereshit 16:1 Rashi (Rabbi Shlomo ben Yitzhaq) juga menjelaskan bahwa Hagar, yang namanya tertulis 12 kali dalam Chamisha Chumshe Torah, ternyata Hagar adalah בת פרעה היתה (bat Par’oh hayetah), artinya: ‘Hagar, dia adalah anak perempuan/putri Firaun.’ Silakan Anda membaca penjelasan Rashi dalam kitabnya yang berjudul Ferush Rashi ‘al ha-Torah: Sefer Bereshit (New York: Mesorah Publications, 2011), hal. 154.

Begitu juga Targum Yonathan ben Uziel berbahasa Judeo-Aramaic yang ditulis pada abad ke-1 M, ternyata ditemukan data otentik mengenai istri Ishmael yang telah melahirkan 12 putera, termasuk putra Ishmael yang bernama Kedar. Dalam Targum Yonathan, terdapat data bahwa Ishmael beristri seorang perempuan yang bernama פטימא (Phetima) sesuai teks Targum Yonatahan, Sefer Bereshit 21:21 yang menyebut sbb:

ויתיב במדברא דפראן ונסיב אתחא ית עדישא ותרבה ונסיבת ליה אמיה ית פטימא אתהא מארעא דמצרים

‘And he dwelt in the wilderness of Pharan and took for a wife Adisha, but put her away. And his mother took for him Phatima to wife from the land of Egypt.

Sementara itu, dalam Pirkei de Rav Eliezer juga dijelaskan bahwa Abraham merestui פטימא (Phetima) sebagai istri Ishmael, serta mendoakan Ishmael dan keluarganya.

פרקי רבי אליעזר
פרק שלשים

ושלחה אמו ולקחה לו אשה מבית אביה ושמה פטומה. עוד לאחר שלוש שנים הלכ אברהם לראות את ישמעאל בנו. ונשבע לשרה כפעםראשונה. שאינו יורד מן הגמל במקום שישמעאל שרוי שם. והגיע לשם בחצי היום ומצא שם אשתו של ישמעאל. אמר לח, היכן הוא ישמעאל. אמרה לו הלך הוא ואמו לרעות את הגמלים במדבר. אמר לה תני לי מצט לחם ומצט מים כי עיפה נפשי מדרך המדבר. הוציאה ונתנה לו. עמד אברהם והיה מתפלל לפני הקדוש ברוך הוא על בנו. ונתמלא ביתו של ישמעאל מכל טוב. ממין הברכות.

Teks berdasarkan Pirkei de Rav Eliezer tersebut membuktikan bahwa Abraham memberkati Ishmael dan istrinya, yakni Phetima. Hal ini terbaca pada teks yang berbunyi sbb:

עמד אברהם והיה מתפלל לפני הקדוש ברוך הוא על בנו.

‘Amad Avraham ve hayah mi tefellel li pheney haq-qadosh baruch Hu ‘al beno.

Abraham bangkit dan berdoa utk anaknya (Ishmael) di hadapan Sang Maha Suci – terberkatilah Dia.

Berikut terjemahan lengkap dari teks tersebut:

” His mother (Hagar) sent and took for him a wife from her father’s house and her name was Phetima. Again after three years Abraham went to see his son Ishmael having sworn to Sarah as on the first occasion that he would not descend from the camel in the place where Ishmael dwelt. He came there at midday and found there Ishmael’s wife. He said to her: ‘Where is Ishmael?’ He replied to him: ‘ He has gone with his mother to feed the camels in the desert. He said to her: ‘Give me a little bread and water for my soul is faint after the journey of the desert. She fetched it and gave it to him. Abraham arose and prayed before the Holy One blessed be He for his son and thereupon Ishmael’s house was filled with all good things of the various blessings.”

Berdasarkan penjelasan dari Pirkei de Rav Eliezer ini, ternyata Hagar telah mengambil Phetima dari rumah Firaun, מבית אביה – mi beyt avih (dari rumah ayahnya), utk dinikahkan dng Ishmael. (his mother sent and took for him a wife from her father’s house and her name was Phetima).

Fakta ini membuktikan bahwa Hagar, Phetima dan Ishmael tidaklah kembali tinggal di negeri Firaun, tetapi justru keluar dari rumah Firaun. Bahkan keluar dari negeri Firaun. Keluar dari rumah Firaun bukan hanya sebagai penanda perpindahan secara geografis, tetapi sekaligus sebagai penanda perpindahan secara teologis. Jadi Phetima dibawa keluar oleh Hagar dari rumah Firaun dng tujuan: ” to cleanse Phetima from the idols of her father’s house.” Hal yang dilakukan oleh Hagar (the daughter of Pharaoh) terhadap Phetima sama persis sebagaimana yang dilakukan oleh Bithiah (the daughter of Pharaoh). ” She (Bithiah) went down to cleanse herself from the idols of her father’s house.” Fakta tekstual ini dapat dibaca dalam kitab Talmud.

R. Simon b. Pazzi once introduced an exposition of the Book of Chronicles as follows: ‘All thy words are one, and we know how to find their inner meaning’. [It is written], And his wife the Jewess bore Jered the father of Gedor, and Heber the father of Socho, and Jekuthiel the father of Zanoah, and these are the sons of Bithya the daughter of Pharaoh, whom Mered took. Why was she [the daughter of Pharaoh] called a Jewess? Because she repudiated idolatry, as it is written, And the daughter of Pharaoh went down to bathe in the river, and R. Johanan, [commenting on this,] said that she went down to cleanse herself from the idols of her father’s house. ‘Bore’: But she only brought him [Moses] up? – This tells us that if anyone brings up an orphan boy or girl in his house, the Scripture accounts it as if he had begotten him. ‘Jered’: this is Moses. Why was he called Jered? Because manna came down [yarad] for Israel in his days (Talmud Bavli, traktat Megillah 13a).

Fakta historis yang melibatkan perjalanan hidup Abraham, Hagar, Ishmael serta Phetima sebagaimana yang termaktub dalam Targum Yonathan dan Pirkei de Rav Eliezer semakin meneguhkan adanya makna dibalik fakta tekstual dalam TaNaKH (Torah Neviem ve Khetuvim) dan Quran yang membuktikan bahwa antara Noach – Ishmael ada 12 generasi, dan Ishmael yang berputra 12 orang juga disebut namanya 12 kali. Ibunya Ishmael yakni Hagar juga disebut 12 kali, dan anaknya Ishmael, yakni Kedar juga disebut 12 kali.

Ishmael disebut Arab Musta’ribah, dan Kedar juga disebut Arab Musta’ribah. Jadi, Arab Musta’ribah ini salah satunya dikenal melalui Kedar bin Ishmael. Dan dalam tulisan Maimonides (Rabbi Moshe ben Maymon), yang disebut אגרות הרמבם (Iggerot ha-Rambam) ternyata disebutkan bahwa Sang Nabi SAW adalah keturunan Kedar ben Yishmael. Kedar inilah yang memperanakkan Quraish, dan fakta sejarah juga membuktikan bahwa antara Quraish hingga Sang Nabi SAW ternyata ada 12 generasi, dan Quraish ini adalah keturunan Kedar ben Yishmael.

  1. Quraish
  2. Ghalib
  3. Lu’ai
  4. Ka’ab
  5. Murrah
  6. Kilab
  7. Qushai
  8. Abd. Manaf
  9. Hashim
  10. Abdul Muthalib
  11. Abdullah
  12. Sang Nabi SAW

الذين اءتينهم الكتاب يعرفونه كما يعرفون ابناءهم)

(البقرة 2:146)

אלה אשר נתנו להם את הספר מכירים אותו כפי שמכירים את בניכם
( סורת אלבקרה 2:146)

Elleh asher natannu lachem et has-Sefer machchirim oto kefiy shemmachchirim et b’neychem (Al-Baqarah 2:146).

Orang-orang yang telah Kami anugerahkan Al-Kitab mengenalnya (Muhammad SAW) seperti mengenal anak-anak mereka sendiri (Al-Baqarah 2:146)

ان الله اصطفى كنانة من ولد اسماعيل و اصطفى قريسا من كنانة واصطفى قريسا بني هاشم و اصطفى ني بني هاشم (صحيح مسلم )

Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya ALLH telah memilih Kinanah dari antara keturunan Ishmael, dan memilih Quraish dari antara keturunan Kinanah dan memilih bani Hashim dari antara keturunan Quraish dan memilih aku – kata Nabi SAW – dari antara bani Hashim (H.R. Imam Muslim).

Hashim, dari kalangan bani Ishmael, yang disebut kaum Arab Musta’ribah menikah dengan Salma bin Amr dari kalangan bani Israel, yang disebut kaum Yahudi Musta’ribah. Itulah sebabnya keturunan mereka disebut bani Hashim yang membedakan mereka dari kaum Arab Aribah dan kaum Arab Musta’ribah lainnya.

Nasab biologis Sang Nabi SAW dari jalur ayah, ternyata secara genetis nasabnya bersambung kepada Yishmael melalui Hashim. Begitu juga nasab biologis Sang Nabi SAW dari jalur ibu, ternyata secara genetis nasabnya bersambung kepada Yitzhaq melalui Salma binti Amr.

Dan yang pasti, Yizhaq dan Yishmael masing-masing adalah generasi ke-12 dari Noach melalui Avraham. Ini bila dilacak melalui kitab Torah.

Dengan demikian, rangkain kode-kode antara TaNaKH dan Quran berkaitan dng nasab Sang Nabi SAW bisa jadi merupakan kebetulan, atau bisa jadi ada semacam grand design-Nya yang sengaja telah dimapankan-Nya. Fakta ini agak berbeda bila kita bandingkan dng nasab yang dinisbatkan kepada Yesus yang berpola 14 generasi, sebagaimana dalam Injil Matius. Meskipun menggunakan pola gematria, ternyata bila silsilah Yesus yang tercantum pada Injil Matius yang kemudian dibandingkan dng TaNaKH justru banyak ketidakcocokan dan terkesan dipaksakan. Banyak nama-nama yang tercantum dalam TaNaKH justru dibuang demi menyesuaikan dng pola 14 generasi. Bila nama-nama itu tdk dibuang, maka St. Matius kesulitan menerapkan pola gematria 14 generasi tsb, karena faktanya dalam catatan silsilah dalam TaNaKH justru tercatat lebih dari 14 generasi. Bahkan ditambahkan juga nama-nama yang tidak tercatat dalam TaNaKH yang kemudian dirangkai pada silsilah Yesus demi terciptanya pola gematria yang secara de facto tidak sesuai dng catatan yang termaktub dalam kitab TaNaKH apa adanya. St. Lukas dalam Injilnya justru beliau mencantumkan nama-nama fiktif yang tidak tercantum dalam kitab TaNaKH dalam rangka merangkai silsilah Yesus Kristus. Dalam Injil Lukas 3:34-36 tercantum 2 nama manusia fiktif yang tidak tercatat dalam TaNaKH yang dicampuradukkan dng nama-nama manusia historis.

  1. Noach
  2. Shem
  3. Arpachshad
  4. Kenan
  5. Salmon
  6. Ever
  7. Peleg
  8. Reu
  9. Serug
  10. Nahor
  11. Terah
  12. Abraham
  13. Yitzhaq

Ada 13 generasi antara Noach hingga Yitzhaq menurut catatan Injil Lukas, dan hal ini tidak sejajar dng catatan TaNaKH yang mencatat hanya ada 12 generasi antara Noach hingga Yitzhaq. Apakah catatan kitab TaNaKH milik kaum Yahudi yang keliru? Apakah catatan kitab Injil Lukas yang keliru? Apakah nama Salmon dalam Injil Lukas adalah nama lain dari Shelah dalam catatan TaNaKH? Saya tidak menemukan teks Rabbinik yang bisa dijadikan pembanding yang kedua nama itu merujuk pada person yang sama. Nama Kenan yang tercantum dalam Injil Lukas juga tidak tercantum dalam kitab TaNaKH atau pun teks Rabbinic yang lain. Hal yang mungkin justru adanya error dalam catatan Injil Lukas. Itulah bedanya real gematria dan pseudo-gematria.

Baruch HASHEM.

Posted in Rabbinic studies | Tagged , , , | Leave a comment

Sejarah Yang Terlupakan Part 7

Shalom ‘aleychem
Assalamu ‘alaykum

 

Genealogy Discussion:
Yeshu Ben Stada dan Yeshu Ben Panthera

Jimmy Jeffry telah berupaya membangun sebuah ‘wacana baru’ tentang status Yesus kepada para pembacanya. Hal ini dilakukan untuk menepis pencitraan negatif terhadap sang tokoh (Yesus) sebagaimana narasi yang telah termaktub dalam kitab Talmud. Jimmy Jeffrey berupaya menggiring opini publik untuk menyatakan bahwa Yesus dalam kitab Talmud itu tidak valid atau pun ahistoris. Padahal redaksional teks yang termaktub dalam kitab Talmud dan kitab PB menegaskan adanya ingatan kolektif yang sama atas peristiwa historis yang menyangkut sang tokoh itu sendiri. Dalam kitab Talmud redaksional teksnya menggunakan sebutan Yeshu Ben Stada yang menyematkan pencitraan negatif, sedangkan dalam kitab PB redaksional teksnya menggunakan sebutan Yeshu Ben Miryam yang menyematkan pencitraan positif. Kedua pola redaksional ini sebenarnya menyuguhkan data historis yang sama, yang menandai adanya kedekatan kesamaan wacana, yakni sang tokoh Miryam yang disapa dng gelar Stada; akronim dari Satit da mi ba’alah (sang perempuan yang tidak setia kepada suaminya).

Jimmy Jeffrey telah menuliskan bantahan panjang lebar tentang pandangan orang-orang Yahudi terhadap Yesus berdasarkan literatur rabbinik berkaitan dng Yesus sebagai anak hasil dari perzinahan. Jimmy Jeffrey juga mengakui bahwa kajian historis tentang pandangan literatur rabbinik ini memang cukup komprehensif sebagaimana yang telah saya sajikan pada ” Sejarah Yang Terlupakan Part ke-6: Yeshu Ben Panthera.” Namun, pada tulisan bantahannya yang berjudul ” Genealogy Discussion: Series 3 ” Jimmy Jeffrey sengaja menggiring opini kepada para pembacanya untuk berpandangan bahwa narasi Yeshu ha-Notzri yang disapa dng sebutan Yeshu Ben Stada atau Yeshu Ben Panthera sebagaimana yang termaktub dalam kitab Talmud merupakan narasi fakta historis yang merujuk pad Yesus yang lain (the other Jesus), dan bukan merujuk kepada Yeshu ha-Notzri yang disapa dng sebutan Yeshu Ben Miryam sebagaimana versi PB. Selain itu, Jimmy Jeffrey juga tidak kritis mencermati informasi yang disajikan dari data tekstual yang terekspresi dalam kitab Talmud, dan sekaligus tidak kritis bahkan terkesan ipse dixit terhadap data historis sebagai bantahan yang dipaparkannya, tanpa memperhatikan detail dari informasi tersebut.

Perbedaan pandangan antara Yahudi dng Kristen terkait tokoh Yeshu Ben Stada dan Yeshu Ben Miryam itu adalah fakta historis yang sama-sama berakar pada ingatan kolektif masyarakat pendukungnya. Teks Talmud dan teks PB yang disakralkan oleh masing-masing agama tidaklah pernah lahir dalam ruang hampa. Masing-masing teks tersebut memiliki keunikan dari hasil ingatan kolektif yang kemudian menjadi keyakinan kolektif masing-masing pemilik teks. Pandangan Yahudi yg terekam dalam kitab Talmud dan ulasan para scholars yang saya sajikan dalam tulisan saya tersebut memang pada prinsipnya menolak konsep the virgin birth. Hal ini tidak ada sangkut pautnya dng ketidaan daya kritis saya terhadap pandangan itu, terutama terkait pandagan Quran tentang sang tokoh Yeshu ha-Nitzri (Yesus orang Nazareth). Teks Quran terkait konsep the virgin birth tidak memiliki daya otoritas atas peristiwa yang terjadi menyangkut Yeshu ha-Notzi, karena Quran bukanlah teks yang berperan sebagai saksi fakta, tetapi Quran hanya bisa diajukan sebagai teks yang berperan sebagai saksi ahli. Itu pun tidak penting, karena kesaksian Quran sebagai teks saksi ahli hanya bersifat sekunder, tetapi tidak dijadikan sebagai alat bukti. Bukankah Quran baru terbit 600-an tahun kemudian pasca peristiwa itu terjadi? Jadi tidak penting menjadikan Quran sebagai alat bukti, apalagi diposisikan sebagai teks yang berperan sebagai saksi fakta, karena Quran – dalam tinjauan ilmu hukum – hanya memiliki nilai sebatas teks yang berperan sebagai saksi ahli, bukan teks yang berperan sebagai saksi fakta.

Oleh karena itu, teks Quran yang baru muncul 600-an tahun setelah peristiwa itu terjadi, maka sangat tidak mungkin bila teks tsb dijadikan alat bukti yang otoritatif. Namun Quran dalam konteks ini hanya sebatas merekam data pertarungan wacana yang memang benar2 faktual terjadi dalam sejarah. Pertarungan wacana itu dipotret secara apa adanya dalam redaksional teks Quran. Pada satu sisi, Yeshu ha-Notzri disebut sebagai Ben Stada, yakni anak dari seorang perempuan yg tdk setia kepada suaminya, sebagaimana teks yang termaktub dalam dalam Talmud. Sementara itu, wacana yang menyejarah ini pun tertulis dalam Qs. Maryam 19:27 yang menyebut Maryam sebagai wanita pezinah. Pada sisi yang lain, Quran juga menyuguhkan fakta lain yang merekam wacana tandingan ttng konsep the virgin birth, yakni kelahiran Yesus dari seorang perawan (Qs. Maryam 19:20). Di sinilah posisi Quran yang berperan sebagai saksi ahli dng cara menyuguhkan wacana alternatif. Di sinilah adanya penilaian Quran sebagai wacana penyeimbang terhadap pertarungan wacana yang telah mapan sebelumnya, dan yang telah menyejarah itu, terutama berkaitan dng anggapan orang-orang Yahudi dan Kristen terhadap Yesus dan Maryam yang ternarasikan dalam kitab Talmud dan kitab PB. Jadi sangat tidak mungkin bila Quran dijadikan sebagai bukti otoritatif, karena faktanya tdk ada dokumen pembanding apapun yang menyatakan bahwa Yesus anak seorang perawan selain teks PB yang telah ada 600-an tahun sebelum kitab Quran ditulis. Jika Injil mengatakan bahwa Yesus anak seorang perawan, apakah penulis Injil mengetahui kejadian itu sebagai saksi mata? Ternyata tidak demikian. Penulis Injil yang merekam kejadian itu hanya berperan sebagai testimoni de auditum, yakni kesaksian yang cuma katanya -katanya, dan tdk ada yg tahu secara langsung atas peristiwa the Virgin Birth itu. Dengan demikian, meskipun Quran membenarkan konsep Virginity, tetapi teks Quran sama sekali tidak menolak adanya peristiwa tuduhan perzinahan yang dialamatkan kepada Maryam, sebagaimana yg diceritakan dalam teks Talmud yang disapa dng sebutan ha-Stada – Satit da mi ba’alah (sang perempuan yg tidak setia kepada suaminya).

Jimmy Jeffrey dalam ulasan bantahannya telah mengakui adanya masalah perubahan redaksional teks yang terjadi dalam kitab Talmud & literatur rabbinik lainnya, terutama berkaitan dengan rujukan kepada Yesus sebagaimana yang tercatat dalam PB. Jimmy Jeffrey mengakui bahwa teks yang berkaitan dgn Yesus telah mengalami sentuhan pengeditan dari pihak Yahudi karena faktor tekanan dari kekristenan saat itu. Dalam sejarah terdapat pihak2 tertentu dlm kekristenan yang sangat keras terhadap orang-orang Yahudi sehingga menyita & membakar manuskrip2 kitab Talmud, Midrash dan literatur rabbinik lainnya. Bahkan Jimmy Jeffrey mengutip pernyataan Morris Goldstein dalam bukunya Jesus in the Jewish Tradition, New York: Macmillan Publishing Co, 1950, yang menyajikan data otentik yang cukup gamblang menjelaskan hal ini, terutama mengenai perintah dari otoritas Yahudi untuk menghilangkan rujukan2 tentang Yesus dari Nazareth dalam kitab Mishnah dan teks Gemara atau pun mengubahnya, sehingga rujukan yg berkaitan dgn Yesus telah berubah bentuknya. Menururnya, dari teks Talmud Babilonia kita bisa melihat pada catatan kakinya mengenai versi yg belum disensor tsb. Buku bacaan Jimmy Jeffrey yang menyitir ulasan Morris Goldstein terkait adanya pembakaran, pengeditan dan perubahan redaksional teks yang berkaitan dng seluk beluk ketokohan Yeshu ha-Notzri sebagaimana yang termaktub dalam teks Talmud itu juga diakui oleh Adin Steinsaltz dalam bukunya The Essential Talmud (Basic Books, 1976). Perubahan dan pengeditan redaksional teks dalam Talmud, bahkan pembakaran besar-besaran terhadap kitab Talmud terkait pencitraan negatif ketokohan Yesus versi PB ternyata tidak dibaca secara kritis oleh Jimmy Jeffrey, sehingga dia menyimpulkan bahwa nama-nama seperti Yeshu Ben Stada & Yeshu Ben Panthera dalam kitab Talmud yang ada saat ini tidak dianggap merujuk pada Yesus dari Nazareth, Yeshu ha-Notzri sebagaimana yang termaktub dalam PB. Jimmy Jeffrey sekan-akan menutup mata tentang latar historis dan alasan apa yang menjadi penyebab adanya pembakaran, pengeditan redaksional Talmud sebagaimana yang telah diulas sebelumnya. Bahkan Jimmy Jeffrey tidak mencamtumkan detail alasan pembakaran dan pengeditan teks Talmud itu secara gamblang. Padahal ulasan Morris Goldstein itu telah dijadikannya sebagai argumentum ad persona. Jimmy Jeffrey tidak cermat melihat detail redaksional teks Talmud saat ini yang dianggapnya bukan merupakan bagian dari hasil pengeditan dan perubahan/revisi teks yang menjadi penyebab atau pun pemicu adanya pembakaran kitab Talmud. Ini menurut saya merupakan nalar yang absurd. Anehnya, Jimmy Jeffrey juga langsung mengadopsi pemahaman ahistoris bahwa Yeshu Ben Stada itu bukan Yesus anak Maryam, yakni Yeshu Ben Miryam sebagaimana yang tercantum dalam PB. Jadi secara tegas disimpulkan bahwa redaksional teks Yeshu Ben Stada itu bukanlah bagian dari teks kekristenan yang mengalami pengeditan dan perubahan. Ini merupakan argumentasi yang tidak mengedepankan nalar kiritis, tapi lebih mengedepankan nalar ahistoris.

Demi melempangkan nalar ahistorisnya, Jimmy Jeffrey mengutip pernyataan R.T. France yang mengingatkan agar kita berhati-hati mengambil informasi “sejarah” dari literatur rabbinik, karena menurutnya sejarah itu sendiri bukan merupakan pokok pembahasan dari para rabbi. Informasi sejarah hanya muncul sebagai ilustrasi untuk uraian yg berkaitan dgn hukum dan teologi (France R.T. The Evidence for Jesus, Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1986). Kitab Talmud dalam pandangan Judaism bukan sekedar kumpulan midrash Halacha yang menyangkut persoalan hukum, tetapi juga merupakan kumpulan midrash Aggada yang penyangkut persoalan teologi dan sejarah. Bukankah Rabbi-rabbi telah menginstruksikan adanya penyesuaian dan pengeditan teks Talmud akibat tragedi pembakaran dari pihak Gereja yang berkuasa saat itu? Jadi teks yang dianggap ‘ ancaman ‘ yang merupakan teks historis itu dihilangkan dan sekaligus disamarkan dng menggunakan pola kebahasaan khas Rabbinik yang hanya kaum terpelajar Yeshiva saja yang memahami pesan historis dibalik teks yang mengalami pengeditan itu, sesuai pengajaran di Yeshiva yang diwariskan dari generasi ke generasi. Substansi historis tetap sama, yakni berkaitan dng ketokohan Jesus Christ meskipun redaksional teksnya mengalami pengeditan demi menghindari ketegangan yang kontra produktif. Dalam hal ini Jimmy Jeffrey kurang “berhati-hati” dan gagal melihat teks2 tsb dlm Talmud sebagai sebuah pengeditan dan penyesuaian yang sebenarnya tetap mengandung fakta historis yang telah disamarkan subyeknya.

Dalam teks Talmud Babilonia yg menyebutkan nama Yeshu Ben Stada & Yeshu Ben Panthera dapat dibaca pada bagian teks
Talmud, Masechet Shabbath 104b:

HE WHO SCRATCHES A MARK ON HIS FLESH, [etc.] It was taught. R. Eliezer said to the Sages: But did not Ben Stada bring forth witchcraft from Egypt by means of scratches18 [in the form of charms] upon his flesh? Versi yg tdk disensor: Was he then the son of Stada: surely he was the son of Pandira? Said R. Hisda: The husband was Stada, the paramour was Pandira. But the husband was Pappos b. Judah? — His mother was Stada. But his mother was Miriam the hairdresser? — It is as we say in Pumbeditha: This one has been unfaithful to (lit., ‘turned away from’ — satath da) her husband. — On the identity of Ben Stada v. Sanh., Sonc. ed., p. 456, n. 5.

Menurut analisis Travers Herford sebagaimana yang dikutip Jimmy Jeffrey – jika Ben Stada yg dimaksud adalah Yesus, dan nama Maria (Miriam) sebagai Stada yang bersuamikan Pappos ben Judah (Yehuda), maka muncul anakronisme di sini. Karena Pappos ben Judah hidup sezaman dgn rabbi Akiba yaitu sekitar thn 135 M.

“..Pappos ben Jehudah, whom the Gemara alleges to have been the husband of the mother of Jesus, is the name of a man who lived a century after Jesus, and who is said to have been so suspicious of his wife that he locked her into the house whenever he went out (b. Gitt. 90a ). He was contemporary with, and a friend of, R. Aqiba ; and one of the two conflicting opinions concerning the epoch of Jesus places him also in the time of Aqiba. Travers Herford, Christianity in Talmud & Midrash, William & Norgate, London, 1953 page 40.

Jadi Ben Stada disebut berasal dari Mesir & membawa sihir dari sana, penyebutan Ben Stada ini lebih merujuk pada orang Mesir sebagaimana tertulis dlm PB, Kis 21:38 “Jadi engkau bukan orang Mesir itu, yang baru-baru ini menimbulkan pemberontakan dan melarikan empat ribu orang pengacau bersenjata ke padang gurun?” Keterangan dlm PB ini sejalan dgn tulisan Joshepus, Antiquities 20:8:6

“.. Moreover, there came out of Egypt (20) about this time to Jerusalem one that said he was a prophet, and advised the multitude of the common people to go along with him to the Mount of Olives… Now when Felix was informed of these things, he ordered his soldiers to take their weapons, and came against them with a great number of horsemen and footmen from Jerusalem, and attacked the Egyptian and the people that were with him…”

Jimmy Jeffrey ternyata tidak hati-hati dan gagal paham membaca ulasan Flavius Josephus. Bahkan Jimmy Jeffrey juga gagal paham mengenai ulasan rabbinik mengenai Yeshu ha-Notzei yang merupakan perlawanan wacana (counter discourse) terhadap wacana khas kekristenan yang termaktub dalam PB, dan kedua wacana itu sebenarnya fakta historis yang terjadi pada zamannya sebagai sebuah rekaman kolektif yang saling menafikan. Dalam kitab Talmud, Ben Stada disamakan dgn Ben Pandera (Panthera) yang memang dalam Talmud pada bagian yg lain Ben Pandera lebih merujuk pada Jesus Christ seperti dlm Talmud Babilonia: Abodah Zarah 27b dan Talmud Yerusalem: Shabbath 14d & Abodah Zarah 40d. Dengan demikian, penyebutan Ben Stada yang merujuk kpd Jesus Christ jelas terkait dng Ben Panthera, dan sangat akurat relasi redaksional teksnya yang faktanya mengalami berkali-kali penyesuaian dan pengeditan, Maka, sangat gegabah bila para rabbi generasi Amoraim didakwa telah membuat ‘legenda’ padahal mereka mewarisinya dari generasi Tanaim yang telah menjadi saksi fakta atas peristiwa itu.

Apalagi para rabbi dari generasi Amoraim dianggap melakukan gejala anakronisme, yakni mencampuraduk kisah orang Mesir itu dgn Yesus. Apalagi Jimmy Jeffrey secara apriori mendakwa kitab Talmud tidak valid bila narasi teksnya berkaitan informasi mengenai sejarah, dan tidak bisa diandalkan. Sekali lagi, sejarah menurut siapa? Sejarah dibuat atas kepentingan penguasa dan motif politik yang melatarinya. Bukankah kitab PB dan kitab Talmud adalah rekaman sejarah pergolakan wacana yang saling menafikan antara Judaism dan Kristen? Sejarah adalah rekaman politik masa lalu yang berfungsi sebagai legitimasi ‘ kebenaran ‘ yang memihak, yang kemudian disakralkan menjadi sebuah teks suci, bukan kebenaran yang netral, apa adanya.

Posted in Rabbinic studies | Tagged , | Leave a comment

Sejarah Yang Terlupakan Part 6

Shalom ‘aleychem
Assalamu ‘alaykum

Yeshu (ha-Notzri) ben Panthera

Penyebutan istilah ha-Notzrim, yakni followers of the man of Nazareth – para pengikut orang Nazareth – termaktub dalam kitab Perjanjian Baru (Kisah Para Rasul 24:5). Konteks ayat tersebut sebenarnya berkaitan dng figur Paulus sebagai seorang tokoh sentral dari komunitas הנצרים (ha-Notzrim, sekte orang Nasrani). Sementara itu, nama Yeshu yang bergelar ha-Notzri sebagai nama tokoh sentral juga termaktub dalam kitab Talmud (B’rachot 17b, Sotah 47a). Sebutan ha-Notzri bukanlah nama seseorang, tetapi merujuk pada asal wilayah seseorang. Itulah sebabnya dalam kitab Talmud, sang tokoh disapa dng sebutan populer Yeshu ha-Notzri (Jesus of Nazareth), sebagaimana yang tertulis dalam kitab PB (Injil Lukas 18:37).

Ada satu hal yang sangat menarik berkaitan dengan status Yeshu ha-Notzri – Yesus orang Nazaret – yang dituduh oleh orang-orang Yahudi pada zamannya sebagai anak zinah dng menggunakan ungkapan khas kultur Semitik. Dalam teks Peshitta, yakni kitab Perjanjian Baru berbahasa Syro-Aramaic, nas Yohanes 8:41 tertulis demikian: חנן מן זניותא לא הוין (chanan min zaniuta lo hawayn) sejajar dng teks Perjanjian Baru terjemahan bhs Ibrani, yang berbunyi: אנחנו לא נולדנו מזנות (Anahnu lo noladnu mi zenut), yang artinya: ” Kami tidak dilahirkan dari zinah.” Istilah זנות (zenut) sejajar dng term Yunani ‘porneias’ yang bermakna ‘zinah’ sebagaimana yang termaktub dalam nas Yohanes 8:41, kitab Perjanjian Baru versi teks Greek New Testament (GNT). Istilah porneias dalam term Yunani, menurut Cleon L. Rogers JR dan Cleon L. Rogers III dalam karyanya The New Linguistic and Exegetical Key to the Greek New Testament bermakna fornication, unlawful sexual relation (Michigan: Zondervan Publishing House, 1998), hal. 203.

Ungkapan bergaya satire ” Kami tidak dilahirkan dari zinah” sebenarnya bukan ditujukan kepada mereka yang mengungkapkan ungkapan itu, tetapi sebaliknya – yakni ditujukan kepada lawan bicara. Ungkapan satire yang menyasar kepada Yesus yang dituduh oleh orang-orang Yahudi sebagai anak zinah tersebut juga dibenarkan oleh para pakar Alkitab. Silakan Anda baca tulisan Leon Morris, the Gospel According to John. Revised Edition. The New Inter ational Commentary on the New Testament (Cambridge, UK: William B. Eerdmans Publishing Company, 1995), hal. 409 ketika membahas Yohanes 8:41, dia menjelaskan:

” They answer that they are not illegitimate children which is a very curious response. They may be reviling Jesus. While they would not have given countenance to the Christian doctrine of the Virgin Birth, the Jews may well have known that there was something unusual about the birth of Jesus and have chosen to allude to it in this way. There was of course a Jewish slander that Jesus was born out of wedlock (see the passage cited in R. Travers Herford, Christianity in Talmud and Midrash (London, 1903, p. 35ff).

Pembacaan James D. Tabor terhadap teks Nag-Hammadi, khususnya the Gospel of Thomas, dalam karyanya berjudul The Jesus Dynasty (New York: Simon & Schuster, 2006), hal. 63 mengutip Sabda Yesus no. 105, teksnya berbunyi:

” One who knows his father and his mother will be called the son of whore.” Tatkala memahami Sabda Yesus no. 105 tersebut, James D. Tabor menyatakan: “many scholars have found in this crytic saying an echo of the ugly label that Jesus had faced throughout his life – namely that his mother Mary had become pregnant out of wedlock. The Gospel of Thomas has no birth stories or references to Joseph or to the virgin birth here in this text we appear to have some reflection of the illegitimacy story.”

Begitu juga Amy-Jill Levine and Marc Zvi Brettler dalam bukunya The Jewish Annotated New Testament (New York: Oxford University Press, 2011), hal. 176 tatkala menjelaskan teks Yohanes 8:41, keduanya menjelaskan dan sekaligus mengutip pernyataan dari Bapa Gereja kuno yang bernama St. Origin:

” We are not illegitimate, perhaps an implied contrast to Jesus’ supposed illegitimacy (Origin, Cels 1.28). Selain itu, pakar Alkitab dari kalangan Kristen Messianik yang bernama David H. Stern dalam bukunya Jewish New Testament Commentary: A Companion Volume to the Jewish New Testament, ketika menjelaskan Yohanes 8:41 dia bahkan secara tegas mengatakan: ” We are not illegitimate children, like you (implied)! Apparently they knew something about unusual circumstance of Yeshua’s birth. ” (Clarksville, USA: Jewish New Testament Publications, 1992), hal.183.

Marc Zvi Brettler dan David H. Stern keduanya terlahir dari kultur Ibrani. Keduanya pasti paham betul tentang suatu maksud di balik ekspresi ungkapan Ibrani itu. Apalagi ungkapan Ibrani yang bernada ejekan itu faktanya diucapkan oleh orang-orang Yahudi di hadapan Yesus – face to face. St. Origin, salah seorang Bapa Gereja kuno juga meneguhkan hal tsb sebagai ungkapan yang menyasar kepada status Yesus sebagai anak zinah. Tidak ada seorang pun dari antara Bapa Gereja kuno yang menentang pernyataan St. Origin. Dengan demikian, fakta ini membuktikan bahwa pernyataan orang-orang Yahudi yang termaktub pada Yohanes 8:41 itu sebenarnya menyasar kepada status Yesus sbg anak zinah. Itulah sebabnya David H. Stern tatkala mengomentari nas Yohanes 8:41, beliau menegaskan bahwa ungkapan mereka yang diucapkan di hadapan Yesus itu – menurut David H. Stern mengandung makna: “Kami tidak dilahirkan dari hasil perzinahan seperti kamu ! ”

Ekspresi ungkapan satire dalam kultur Semitik ini ternyata juga ada kesejajarannya dng teks Quran, meskipun setting-nya berbeda. Bila dalam teks Perjanjian Baru, ungkapan satire itu ditujukan kepada Yesus yang dituduh sebagai anak zinah, sedangkan ungkapan satire dalam teks Quran tersebut adalah pernyataan orang-orang Yahudi, tepatnya dewan Sanhedrin, yang pernyataan itu ditujukan kepada Maryam sebagai lawan bicara, yang dituduh sebagai pelaku zinah, dan ungkapan itu sebenarnya bukan ditujukan kepada ibunya Maryam. Yoel Yosef Rivlin, sang penerjemah Quran dalam bahasa Ibrani, tatkala menerjemahkan nas Qs. Maryam 19:27, teksnya tertulis demikian:

הוי אחות אהרון לא היה אביך איש בליעל ולא היתה אמך זונה

(פרשת מרים 19:27).

Ungkapan satire, yakni ungkapan ejekan yang disampaikan scr tidak langsung (indirectly), yang ditujukan di hadapan lawan memang merupakan common heritage antara tradisi Yahudi dan Arab, yang sama-sama berakar dari budaya Semitik. Dalam konteks ini, Yoel Yosef Rivlin menggunakan frase berikut: לא היחה אמך זונה (lo hayetah immecha zonah) yang artinya: “… ibumu bukanlah seorang pezinah” (Maryam 19:27). Frase ini merupakan ekspresi sindiran/ ejekan yang ditujukan kepada lawan bicara secara face to face, yakni ditujukan kepada Maryam – yang dituduh sebagai perempuan pezinah.

Dalam kitab Talmud Bavli (Nezikin traktat Sanhedrin 63a, 47a) atau pun pada bagian traktat-traktat lainnya, ternyata di dalam kitab Talmud hanya disebutkan 3 frase kunci (1) Yeshu ha-Notzri, (2) Yeshu ben Stada, (3) Yeshu ben Panthera. Saya tidak menemukan 1 pun frase yang menyebut nama Yeshu ben Yosef. Hal ini menjadi indikasi kuat bahwa dalam kitab Talmud nama Yeshu yang nasabnya disandarkan kepada Yosef benar-benar nihil, dan ini membuktikan bahwa status Yesus tidak diakui sebagai anak angkat Yusuf secara de jure atau pun anak biologis Yusuf secara de facto. Dengan kata lain, Yesus tidak memiliki nasab biologis dng Yusuf, bahkan Yesus juga tidak memiliki nasab yuridis dng Yusuf. Justru pada satu sisi, Yesus dalam kitab Talmud, ternyata nasab biologisnya dihubungkan dng tokoh historis yang bernama Panthera; dan pada sisi yang lain, nasab biologis Yesus juga dihubungkan dng tokoh historis yang disapa dng sebutan Stada. Mengenai tokoh historis yang bernama Panthera ini, James D. Tabor menyuguhkan sebuah bukti manuskrip yang ditulis pada 178 M., dalam teksnya tersebut adanya kisah hubungan antara Mary dan Panthera. James D. Tabor mengatakan:

” The earliest version of the Panthera story comes from a Greek philosopher named Celcus. In an anti-Christian work titled ‘On the True Doctrine’ written around A.D. 178, he relates a tale that Mary was pregnant by a Roman soldier named Panthera and was driven away by her husband as an adulterer…. Panthera is a real name, not a concocted term of slander.” (pp. 64-65).

Sementara itu, sapaan gelar Stada yang merupakan akronim dari ungkapan [Satit da mi ba’alah ], yang artinya: ” perempuan yang tidak setia kepada suaminya”, ternyata ungkapan itu ditujukan kepada sang ibu yang melahirkan Yesus, yakni Maryam. Ada hal menarik pada sapaan ejekan yang disematkan kepada Maryam tersebut, yakni term בעל (ba’al) yang artinya ‘suami.’ Dalam Torah, Sefer Devarim 22:13-22 terkait perikop ” Masalah Keperawanan”, ternyata status seorang suami disebut בעל (ba’al). Silakan Anda cermati Sefer Devarim 22:22. Istilah בעל (ba’al) utk menyebut sang suami merupakan istilah yang sangat lazim dalam kitab Torah, kitab Talmud dan kitab Quran. Dalam kitab Quran disebutkan ayat yang menggunakan term بعل (ba’al) pada teks berikut:

قالت يويلتىء الد وانا اجوز وهذا بعلي شيخا ان هذا لشيىء عجيب

(صورة هود 11:72)

ותאמר אוי לי האלד ואני זקנה וזא בעלי זכן

(פרשת הוד 11:72)

Va tomer oi liy haeled va ani zeqenah ve zeh ba’ali zaqen (Hud 11:72).

Istri (Ibrahim) berkata: ” Sungguh mengherankan, bagaimana aku akan melahirkan seorang anak, padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan suamiku ini sudah tua. Sungguh ini benar-benar sesuatu yang menakjubkan.”

Istilah بعلي (ba’liy) dalam bhs Arab sejajar dengan istilah בעלי (ba’aliy) dalam bhs Ibrani. Dengan demikian, bila dalam kitab Talmud, Maryam disapa dengan sebutan ha-Stada (Satit da mi ba’alah) yang artinya: ” sang perempuan yang tidak setia kepada suaminya “, ternyata sebutan בעל tsb bukanlah istilah rekayasa yang baru muncul pada era Kristen, yang kemudian mengkristal menjadi sebuah mitos. Bahkan istilah בעל tersebut telah eksis sejak era pra-Kristen sesui nas yang termaktub dalam Torah. Jadi tidak tepat bila sapaan ha-Stada itu sebuah imaji, tapi justru sebaliknya, yakni merupakan fakta historis yang terekam dalam dokumen yang telah disakralkan oleh masing-masing penganut agama.

Oleh karena itu, kita harus banyak membaca buku-buku agar kita lebih arif memahami berbedaan wacana sehingga kita tidak terlalu gegabah menyatakan sesuatu.

אלחמד ללה רב אלעלמין

Posted in Miscellaneous, Rabbinic studies | Tagged , | Leave a comment

Sejarah Yang Terlupakan Part 5

Shalom ‘aleychem
Assalamu ‘alaykum

 

Bunda Sang Nabi Seorang Yahudi

ברוך אתה הי אלהינו מלך העלם
רחםנא הי אלהינו על ישראל עמך
ועל ירושלים עירך
ועל ציון משכן כבודך
ועל מלכות בית דוד משיחך
ועל הבית הגדול והקדוש שנקרא שמך עליו.

David H. Stern dalam bukunya ‘Jewish New Testament Commentary (Jewish New Testament Publications, 281) menyatakan:

Jewish and non-Jewish descent are invariably traced through the mother, not the father. The child of a Jewish mother and a Gentile father is Jewish, the child of a Gentile mother and a Jewish father is Gentile …. Lawrence H. Schiffman has a chapter ‘The Jew by Birth’ in which he dates matrilineal Jewish descent to at least the second and probably the first century C.E., adducing as evidence Mishnah Kiddushin 3:12; Tosefta Kiddushin 4:16 and Josephus. Among the supportive biblical passages is Ezra 10:2-3.

Penjelasan David H. Stern tsb membuktikan bahwa status seseorang sebagai Jewish atau pun Gentile (Hebrew: Goyim) ditentukan dari garis ibu. Dengan demikian, menurut perspektif Mishnah maupun kitab Talmud, maka status Yesus adalah seorang Jewish, karena Maryam seorang Jewess sedangkan ayah biologis Yesus adalah seorang Gentile (Goyim) serdadu Romawi, yang bernama Panthera. Sementara itu, menurut perspektif Mishnah maupun kitab Talmud, status Sang Nabi SAW juga diakui sebagai seorang Jewish karena ibu kandungnya seorang Jewess, dan ayah kandungnya pun bukan sekedar seorang Arab Musta’ribah, tapi juga seorang Jewish, karena Abdullah ibn Abdul Muthalib adalah seorang Jewish, keturunan dari Salma binti Amr, yakni seorang perempuan Yahudi Musta’ribah. Dengan demikian, status Yesus sebagai seorang Jewish tidak sebanding bila dibandingkan dng status Sang Nabi SAW sebagai seorang Jewish, terutama mengacu pada tradisi Yahudi dan kitab Talmud. Mengapa demikian? Alasannya sederhana saja. Yesus memiliki silsilah biologis dari garis ibu sebagai penanda bahwa Yesus seorang Jewish, tetapi Yesus tidak memiliki silsilah biologis dari garis ayah sebagai penanda bahwa dirinya sebagai seorang Jewish. Sementara itu, Sang Nabi SAW memiliki silsilah biologis dari garis ayah sekaligus memiliki silsilah biologis dari garis ibu sebagai penanda bahwa Sang Nabi SAW adalah sepenuhnya seorang Jewish. Inilah perbedaan status antara Yesus dengan Sang Nabi SaW dalam pandangan tradisi Judaism.

Berdasarkan dokumen klasik yang berjudul
MANUAL of UNIVERSAL CHURCH HISTORY oleh DR John Alzog, volume 2 hal 192 disebutkan bahwa ibu kandung Sang Nabi SAW yang bernama Aminah binti Wahab sebenarnya adalah seorang Jewish – wanita Yahudi – bukan seorang penyembah berhala. Dalam sumber klasik Islam, dinyatakan bahwa Wahab ibn Abd Manaf itu bukanlah ayah kandungnya, tetapi pamannya, yang kemudian Aminah dititipkan kepada beliau, klen Quraisy. Dokumen Islam terkait pengasuhan Aminah oleh Wahab ibn Abd Manaf ini sekaligus memiliki alur biografi yang sejajar dengan pengasuhan Maryam oleh pamannya yang bernama Zechariyah. Maryam adalah ibunda Yesus, dan Maryam pengasuhannya dititipkan kepada Imam Zechariah, sebagaimana yang tercatat dalam Injil apokrif, yakni Injil Yakobus. Menurut Injil apokrif ini, Maryam adalah puteri Yoyakim dan Anne. Begitu juga Aminah yang berasal dari bani Zuhra di Yatsrib (Medinah) ternyata memiliki kekerabatan dng bani Quraisy di Mecca. Hal ini sangat masuk akal karena wanita Yahudi di Yatsrib banyak yang menikah dng kaum Quraisy di Mecca. Terkait dng bani Zuhra, Gordon Darnell Newby menyatakan:

” … some individuals and groups banded together for mutual interest and protection, like the reported 300 goldsmiths living in Zuhra, not all of whom were Jewish.”(A History of the Jews of Arabia, p.52).

Berdasarkan literatur Arab yang saya baca, Aminah berasal dari bani Khuza’a – sumber yang lain menyebut bani Zuhra, yakni komunitas Yahudi Musta’ribah, khususnya kaum Yahudi Temanim (Yahudi Yaman) yang pindah ke Yatsrib, dan komunitas ini secara genealogis berasal dari keturunan Exilarch.

Salma binti Amr sebagaimana yang telah saya ulas pada tulisan saya (Sejarah Yang Terlupakan Part 1) membuktikan bahwa Salma binti Amr berasal dari kalangan bani Najjar, yakni komunitas Yahudi Musta’ribah dari wilayah Yaman, yang migrasi ke Yatsrib. Martin Lings dalam karyanya yang berjudul ‘ Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik’ yang nama Muslimnya Abu Bakr Sirajuddin.juga menyatakan hal yang sama. Martin Lings asalnya adalah seorang Yahudi Aschenazi.

Menurutnya, bani Najjar memang bagian dari bani Khazraj, dan bani Khazraj bagian dari bani Qaylah. Dalam Piagam Madinah, bani Najjar diidentifikasi sbg kaum Yahudi Musta’ribah. Mereka bukanlah Arab ‘Aribah, dan juga bukan Arab Musta’ribah tapi bani Najjar adalah kaum Yahudi Musta’ribah yang migrasi ke Yatsrib dari Yaman. Itulah sebabnys bani Najjar disebut dalam literatur Ibrani sebagai kaum Yahudi Temanim.

Sementara itu, bani Khuza’a juga migrasi dari Yaman, asal usul keluarga besar Sayyidah Aminah. Kedua wanita Yahudi Musta’ribah ini memang kaum migran yang migrasi ke wilayah Yatsrib (Madinah) bersama para kaumnya pada era pra-Islam akibat hancurnya kerajaan Himyar di Yaman. Dan kedua klen ini berasal dari kaum keturunan Exilarch (bani Yehuda, keturunan Daud AS). Setelah wafatnya Raja Himyar yang terakhir, maka keluarga raja pun menyelamatkan diri menuju kawasan Yatsrib. Laporan tentang Yahudi Musta’ribah yang terkait dng royal family of the Tubba dari Yaman ini dapat dibaca dari kitab Shirah Nabawiyyah li Ibn Ishaq, dan dapat pula dibaca pada buku A History of the Jews of Arabia: from Ancient Times to Their Eclipse Under Islam karya Gordon Darnell Newby (University of South Carolina Press, 1988), 39.

Begitu juga bani Nadzir. Mereka adalah kaum Yahudi Musta’ribah yang pindah ke Yatsrib dari wilayah Palestina akibat peperangan/pemberontakan Yahudi tahun 70 M melawan kekaisaran Romawi. Menurut kitab المستدرك على الصحيحين (Mustadrak ‘ala ash -Shahihayn) karya al-Imam al-Hakim, dari kalangan bani Nadzir inilah seorang wanita Yahudi Musta’ribah yg bernama Shafiyah binti Huyai, keturunan Harun, keturunan Lewi, dipersunting oleh Sang Nabi SAW.

Gordon Darnell Newby (1988:53) juga menyatakan:

‘We are also told that some of the banu Aus and the banu Khazraj converted to Judaism or were converted by their mothers …..”

Ini sekaligus membuktikan adanya faktor garis ibu yang menentukan status seseorang sbg keturunan Yahudi. Kalau era sekarang, lelaki Yahudi diperbolehkan menikah dengan seorang Muslimah. Begitu juga sebaliknya, seorang perempuan Yahudi diperbolehkan menikah dng lelaki Muslim. Aturan ini sebenarnya rabbinical law yang berawal sejak era pra-Islam yang menyebut Islam sebagai Yishmaelim. Mereka dibolehkan menikah dng kaum Yishmaelim karena menurut Halacha mereka dianggap menjalankan 7 hukum Nuh (Noachic law). Itulah sebabnya pada era pra-Islam banyak lelaki keturunan Ishmael di Mecca menikah dng perempuan Yahudi di Yatsrib.

Prof. Uri Rubin dari Hebrew University, Israel, telah membahas persoalan perkawinan kaum Yahudi Musta’ribah dng kaum Yishmaelim era pra-Islam berdasarkan manuskrip yang berjudul Jamharat nasab Quraish wa Akhbariha karya Zubair ibn Bakkar. Prof. Uri Rubin menulis artikel berjudul ‘From Jahiliyya to Islam. Jerusalem Studies in Arabic and Islam. Part II (1986), p. 131. Institute of Asian and African Studies (the Magnes Press, Hebrew University, Jerusalem). Sementara itu, berkaitan dng nasab kaum Arab Musta’ribah era Islam, silakan Anda membaca kitab Al-Masra al-Rawi fi Manaqib al-Asyraf as-Saadah al-Alawi karya Ahmad ibn Muhammad Syili.

Posted in Rabbinic studies | Tagged , , | Leave a comment