HAJI DAN SUMUR ZAMZAM

שלום עליכם

Quran menyebutkan ayat penting berkaitan dengan situs bukit Shafa dan situs bukit Marwah sebagai bagian dari situs suci pelaksanaan ibadah Haji, dan ini tentu saja terkait langsung dengan latar belakang adanya kemunculan sumur zamzam. Hal ini dapat dibaca pada nas Qs. Al-Baqarah 2:158

ان الصفا والمروة من شعاءرالله

(“Inna ash-Shafa wa al-Marwata min sha’airi-LLAH ..”)

הנה אצ-צפא ואל-מרוה מטקסי יהוה

(“Hinne atz-Tzafa ve al-Marvah mith-thiqsei ADONAI …”)

Dalam Quran memang disebutkan penyebutan situs bukit Shafa dan situs bukit Marwah, tetapi Quran tidak menyebutkan adanya penyebutan situs sumur zamzam. Sebaliknya, kitab Torah memang hanya menyebutkan narasi peristiwa Hagar, bunda Ishmael yang hal ini terkait kemunculan situs “sumur Lahai” (sumur zamzam), tetapi dalam Torah tidak disebutkan penjelasan mengenai adanya situs bukit Shafa dan situs bukit Marwah yang menjadi sebab akibat kemunculan sumur Lahai (sumur zamzam). Namun, kedua teks suci ini tidak saling bertentangan, justru saling melengkapi dan saling menguatkan tentang adanya latar belakang kemunculan sumur zamzam. Itulah sebabnya, Rav Nosson Scherman dalam Le’ houmach: Chamisha Chumshe Torah. Le’ edition Edmond J. Safra, terkait nas Sefer Bereshit 16:14 beliau menyatakan bahwa sumur tersebut akhirnya menjadi tempat doa di masa depan, lihat Sefer Bereshit 24:62. Rav Nosson Scherman ketika mengomentari ayat ini beliau berkata: Par la suite, ce puits est devenu un lieu de priere, voir plus loin, Sefer Bereshit 24:62 (Brooklyn, New York: Mesorah Publications, Ltd., 2015), hlm. 75

Rabbi Bachya ben Asher ketika menjelaskan istilah באר לחי (Be’er Lahai) pada Sefer Bereshit 16:14 beliau berkata:

כי בכל שנה היו הישמעאלים חוגגים אל הבאר הזה גם היום יקרא באר זמזם

(ki be khol shanah hayu hay-Yisma’elim choggim el ha-be’er hazzeh gam hay-yom yiqqare be’er zamzam). Artinya: “karena setiap tahun ada orang-orang keturunan Ismael yang melaksanakan ibadah haji menuju sumur ini, dan juga sekarang ini disebut sumur zamzam.”

Ibn Ezra ketika menjelaskan nas Sefer Bereshit 16:14 terkait istilah באר זמזם (Be’er zamzam) juga telah menyatakan dengan tegas:

כי בכל שנה היו חוגגים הישמעאלים אל הבאר הזות גם היום יקרא באר זמזם

(ki be khol shanah hayu choggim hay-Yishmaelim el ha-Be’er hazzot gam hay-yom yiqqare Be’er zamzam). Artinya: “karena setiap tahun ada orang-orang keturunan Ishmael yang berhaji menuju sumur itu dan juga sekarang ini sumur tersebut disebut sumur zumzam.”

Dalam dokumen-dokumen Rabbinik, kesinambungan tradisi intelektual Rabbi Bachya ben Asher hingga Rabbi Ibn Ezra dapat ditelusuri secara akademik. Rabbi Bachya ben Asher (1255 – 1340 M.) murid utama Rabbi Shlomo ben Avraham Aderet/Rashba (1235 – 1310 M), dan Rashba adalah murid utama Rabbi Moshe ben Nachman/Ramban (1194 – 1270 M.), sedangkan Ramban sendiri sangat akrab dengan karya intelektual Rabbi Avraham Ibn Ezra (1089 – 1164 M.). Karya Ibn Ezra אבן עזרא על התורה (Ibn Ezra ‘al ha-Torah) ini merupakan karya yang disusun berdasar Torah she be’al phe (Torah Lisan).

Itulah sebabnya dalam buku עיונים בלשונות הראב”ע karya Abe Lipshitz (Chicago: the College of Jewish Studies Press, 1969) disebutkan adanya banyak kutipan dari karya Ibn Ezra yang termaktub dalam tulisan-tulisan rabbi-rabbi otoritatif era Rishonim, dan kebenaran teksnya dikonfirmasi oleh mereka sendiri, di antaranya Rabbi David Kimchi/Radak (1160 – 1235 M.), Rabbi Moshe ben Nachman/ Nachmanides (1194 – 1270 M.), Rabbi Bachya ben Asher (1255 -1340 M.) dan para Tosafis yang pernyataan mereka juga termaktub dalam teks Gemara, Talmud Bavli.

Rabbi Moshe ben Maimon/ Maimonides (1135 – 1204 M.) berkata:

“study them (Ibn Ezra’s words) with intelligence, understanding and deep insight.”

H. Norman Strickman, Ibn Ezra’s Commentary on the Pentateuch. Genesis. Bereshit (New York: Menorah Publishing Company, 1988), p. xxii

Baka Makkah.jpg

This entry was posted in Interfatith Dialog, Talmudic literature and tagged , , , . Bookmark the permalink.