Ishmael dalam narasi kitab suci Yahudi dan Islam (Part I)

Tafsir Rav Saadia Gaon: Perbedaan Eksistensi Mekkah dan Nazaret

By Menachem Ali

שבוע טוב לכולם

Shalom ‘aleychem

Kaum Kristiani mencoba membangun wacana untuk memarginalkan karya RavSag dengan cara pembuktian yang tidak akademik, dan penuh asumsi. Hal ini tentu diwacanakan secara masif di hadapan publik Muslim dan Kristiani agar posisi sentral RavSag diragukan peranannya. Padahal dalam peradaban intelektual Yahadut sejak era generasi Gaonim hingga era generasi Akharonim, RavSag sangat sentral posisinya, dan sangat agung kredibilitasnya sebagai pewaris keilmuan pendahulunya, yakni para rabbi era generasi Gaonim yang berkarya dalam pelembagaan Yeshiva di kota Baghdad, pasca runtuhnya kelembagaan Yeshiva di Palestina, yang diluluhlantakkan oleh Romawi pada tahun 70 M.

Kaum Kristiani menyatakan tentang adanya beberapa bukti pengaruh Islam melalui leksikon Arab-Islam yang termaktub dalam karya RavSag; yang menurutnya bukan karena mewarisi tradisi Yahudi Musta’ribah, tapi justru RavSag menyisipkan ajaran Islam ke dalam teks kitab Torah dalam versi Targum Judeo-Arabic sebagai karya monumentalnya. Menurutnya, ada beberapa kosakata Islami yang sengaja disisipkan oleh RavSag, misalnya istilah Imam yang menjadi kata pengganti Kohen; padahal ada istilah Kahin dalam bahasa Arab yang lebih sejajar dengan istilah Kohen dalam bahasa Ibrani.

Wacana kecurigaan atau pun pengaruh leksikon Arab-Islam yang diwacanakan kaum Kristiani ini sebenarnya tidak tepat. Kalau istilah Imam dianggap merupakan pengaruh Islam, karena Rav Saadia Gaon tidak memakai kata Kahin (Arab) sebagai paralelisasi kata Kohen (Ibrani), lalu mengapa Rav Saadia Gaon tidak menggunakan kata ilah dalam karya Tafsir-nya tatkala utk menggantikan kata Eloah dalam Torah? Mengapa justru RavSag menggantikan kata Eloah (Ibrani) dng kata Rabb (Arab)? Apakah istilah Rabb juga pengaruh Islam dalam karya RavSag? Bukankah istilah Imam dan istilah Rabb keduanya ada dalam teks kitab suci Quran? Dalam Targum Judeo-Arabic terkait Sefer Devarim 6:4, RavSag menulis demikian:

Teks tersebut bila di-Latin-kan akan berbunyi demikian:

I’lam ya Israil inna ALLH Rabbuna ALLH al-wahid.

Sementara itu, bila teks tersebut kemudian dialihaksarakan ke dalam huruf Arab, maka bentuk tulisannya seperti ini.

اعلم يا اسرايل ان الله ربنا الله الوحد

Coba perhatikan, pada teks tersebut terdapat kata Rabb. Apakah ini bisa dijadikan acuan bahwa RavSag terpengaruh ajaran Islam karena menggantikan kata Ibrani yakni Eloah (dalam Sefer Devarim 6:4) menjadi Rabb. Padahal sebenarnya istilah Eloah ada padanannya dng istilah ilah dalam bahasa Arab khas komunitas Yahudi Musta’ribah?

Dalam karya RavSag tercantum nama Khanukh, nama Syalach, nama Qayin dan nama Yitro, bukan nama Idris, nama Shalih, nama Qabil dan nama Syuaib. Ini bukti valid bahwa RavSag tdk dipengaruhi Islam.

Kalau tuduhan ini kita terapkan pada Bible Arab, apakah Bible Arab juga dipengaruhi leksikon Quran karena di dalamnya juga termaktub istilah Rabb? Bukankah banyak kosakata Islami yang dapat diidentifikasi terdapat juga dalam Bible Arab? Kita harus bisa membuktikan ini secara filologis dan kajian bahasa politik pada masanya, bukan sekedar asumsi politik an sich.

Dalam konteks ini, kita harus paham dulu, apa yang dimaksud dng era Gaonim pada masa itu. Sarjana Kristen mayoritas tidak paham sistem kelembagaan Yeshiva ini. Dalam tradisi Yeshiva sebenarnya menyuarakan pendapat pribadi adalah sesuatu yang tidak bisa dibenarkan; apalagi tanpa sanad keguruan, tetapi apa pun yang ditulis oleh sang Rabbi selalu dalam bingkai sanad keguruan, dan hanya mengkompilasi ajaran yang diterustradisikan antargenerasi dalam konteks mata rantai/ sanad keguruan rabbinik sejak era Soferim, Tana’im, Amoraim, Saboraim, Gaonim hingga era Rishonim. RavSag adalah pewaris keilmuan era Gaonim sedangkan Rashi adalah pewaris keilmuan era Rishonim. Dalam karyanya yg berjudul Sefer Ha-Galui, RavSag menyebutkan nasab leluhurnya hingga kepada Shelah ben Yehudah ben Yaakov ben Yitzhaq ben Avraham; di antara nasab leluhurnya ada Rabbi Hanina ben Dosa yang hidup sezaman dng Rabbi Yonathan ben Uziel penulis Targum Yonathan, murid Rabbi Hillel, Rabbi Hanina dan Rabbi Yonathan keduanya adalah rabbi-rabbi terkenal dalam jajaran thabaqat generasi Tana’im sedangkan Rabbi Hillel adalah rabbi terkenal pada jajaran generasi Soferim. Rabbi Saadia Gaon (RavSag) menggantikan posisi Rabbi Yomtov Kahane ben Yaakov sbg suksesinya memimpin Yeshiva di Pumbedita dan Sura, Babylonia. Jadi RavSag adalah penerus mata rantai keilmuan rabbi-rabbi generasi Gaonim sebelumnya. Rashi pun mengakui otoritasnya dan menyebutnya sbg Rabbenu Saadia (guru kami Saadia), lihat Pherush Rashi ‘al ha-Torah (Sefer Shemot 24:12). Ibn Ezra dalam karyanya Ibn Ezra Pherush ‘al ha-Torah (Sefer Bereshit 2:11) juga mengakui otoritas RavSag. Rashi selain merujuk pada otoriitas RavSag, ia juga merujuk pada otoritas Targum Onqelos karya Onqelos murid Rabbi Akiva, generasi para Tana’im. Lihat Pherush Rashi, sefer Bereshit 16:14 menyatakanya sbg me-Targumo. Rashi, Ibn Ezra, Ramban dan Radak adalah jajaran para rabbi dalam thabaqat generasi Rishonim. Ramban mengutip Rashi dan Ibn Ezra; begitu juga Radak sebagai salah satu jajaran para Rabbi generasi Rishonim juga mengutip RavSag sebagai otoritas dalam thabaqat generasi Gaonim.

Dalam Torat Chaim dijelaskan, Radak mengatakan tentang nas Kejadian 10:30 demikian:

u – Mesha, Targum Rav Sa’adiyah z”l Mekka she halochim ha- Yishma’elim le Hag shem

(dan nama Mesya dalam Targum Rav Saadia adalah Mekkah tempat pelaksnaan syariat kaum penganut ajaran iman Ishmael (Yishma’elim), yakni kaum Muslim yang disebut dng nama ibadah Hajji).

Begitu juga Ibn Ezra dalam kitabnya Ibn Ezra ‘al ha-Torah ‘im Pherush Otzcher Chayyim juga mengkonfirmasi pernyataan RavSag.

Sefer Bereshit 16:13 El Roi: Tuhan melihat kesusahan dan penderitaan yg dialami Hagar, lalu Tuhan mengirim Malaikat untuk membantunya, pd ayat 14, identifikasi dng nama sumur zam-zam.

Sefer Bereshit 16:14

Beer Lachai:

pada tahun kemudian, sumur itu adalah rasanya seperti hidup,demikianlah pada setiap tahun, Yishmaelim (orang2 Ishmael) berziarah ke sumur itu, maka sampai pada hari ini sumur itu disebut dengan beer zamum (sumur zam-zam).

Istilah zamum (Ibrani) , zumi (Koptik) dan zam-zam (Arab).

Inilah bukti otoritas mata rantai keguruan rabbinik yang tak terbantahkan antara RavSag, Ibn Ezra dan Radak. Berkaitan dng keberadaan nama Makkah sebagaimana yang dijelaskan oleh Radak, sang Rabbi dari generasi Rishonim, justru dikuatkan pula oleh Ibn Ezra dalam kitabnya yang berjudul Ibn Ezra ‘al ha-Torah. ‘Im Pherush Otzer Chayyim; beliau juga dari angkatan generasi Rishonim yang sering menjadi rujukan Ramban, sang Rabbi yang juga berasal dari angkatan generasi Rishonim. Jadi rabbi-rabbi angkatan generasi Rishonim ternyata juga merujuk RavSag sebagai otoritas tertinggi dari angkatan generasi Gaonim. Artinya, inilah pengetahuan kolektif yang diturunkan dalam sanad keguruan Rabbinik dari satu generasi ke generasi berikutnya berkaitan dng eksistensi nama Makkah sebagai tempat pelaksanaan syariat ibadah Hajji kaum Yishma’elim (Muslim). Kesimpulannya, nama Makkah tercantum dalam kitab suci Quran, dan juga termaktub dalam karya RavSag yang dikonfirmasi kebenarannya oleh Ibn Ezra dan Radak, serta yang termaktub dalam teks Masoret, yakni termaktub dalam kitab Mazmur.

Ini tidak membuktikan bahwa RavSag menyisipkan ajaran Islam ke dalam Torah. Namun justru Quran mengkonfirmasi pernyataan Torah melalui otoritas sanad keilmuan Rabbinik. Bahkan nama Mekkah justru lebih akurat eksistensinya dalam teks-teks Rabbinik dibanding dng keberadaan nama Nazareth yang diklaim oleh Matius, yang katanya telah tertulis dalam kitab nabi-nabi (Matius 2:23). Nas tersebut berbunyi: ” Setibanya di sana ia pun tinggal di sebuah kota yang bernama Nazareth. Hal ini terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh Nabi-nabi bahwa ia akan disebut Orang Nazareth.” Kitab nabi-nabi mana dalam TaNaKH yang menyebutkan nama Nazareth? Literatur rabbi-rabbi angkatan generasi mana saja yang menyebutkan nama Nazareth? Tidak ada satu pun. Bahkan, nama Nazareth juga tidak termaktub dalam Torah (kitab Musa), kitab Mazmur dan juga kitab Nabi-nabi manapun. Jadi nama Nazareth yang merujuk pada nama lokasi geografis sebagaimana yang dimaksud oleh St. Matius ternyata tidak pernah disebutkan secara jelas dalam kitab TaNaKH (Torah, Nevi’em ve Khetuvim), literatur Apokrifa, literatur Pseudographa, atau pun literatur Deuterokanonika. Bahkan sumber-sumber Yahudi seperti Talmud dan sejarawan kuno Yahudi yakni Flavius Yosephus juga tidak pernah menyebutkannya. Itulah perbedaan pembuktian nama Mekkah dan nama Nazareth yang keotentikannya tidak sama dan tidak seimbang bila ditelusuri berdasarkan dokumen kitab TaNaKH dan sumber-sumber literatur Rabbinik.

Berkaitan dengan nama Nazareth, sebagaimana yang tertulis dalam Injil Matius 2:23 itu sangat jelas, St. Matius memang menunjuk pada nama wilayah, yakni lokasi geografi (a place) dalam bahasa Ibrani-nya Natzeret, a resident of Natzaret. St. Matius dalam teks tersebut tidak bermaksud lain kecuali hanya menunjuk pada makna a place (wilayah). Itulah sebabnya nama Natzeret juga muncul lagi dalam Lukas 1:26 dan Yohanes 1:46 yang menunjuk pada nama wilayah/ nama lokasi geografis, a place of Natzeret (Hebrew: Natzeret).  Natanael pernah bertanya : “Mungkinkah sesuatu yg baik datang dari Nazaret?” (Yohanes 1:46). Jadi nama Nazeret hanya mengacu pada nama tempat, bukan nama orang atau kesejajarannya dengan asal usul kata. Itulah sebabnya Yesus disapa dengan sebutan Yesus dari Nazaret (Matius 10:47; Matius 14:67; Matius 16:6).

Bahkan saat Yesus disalibkan di kayu salib tertulis kata-kata ” Yesus orang Nazaret, Raja orang Yahudi.” (Yohanes 19:19). St. Matius sangat konsisten menyebut Nazareth sebagai nama geografis. Bandingkan dengan nama Bakka (Mazmur 84:5) yang tertulis dalam teks Masoret Ibrani juga menunjuk pada nama geografis/ wilayah (a place) atau tepatnya a place of Bakka; dan dalam Targum Judeo-Arabic karya Rav Saadia Gaon tertulis nama Bakkah, juga menunjuk pada nama wilayah (a place, a resident); bukan nama orang atau nama sifat dll. Kalau nama Natzeret yang seharusnya jelas menunjuk pada nama wilayah, lalu orang Kristen mengait-ngaitkan/mencocok-cocokkan dengan kata Nazirite (Bilangan 6:1-23) yakni sebagai nazar (Hebrew: natzir) dan sebagai tunas (Hebrew: netzer) dengan mengutip teks Yesaya 11:1, Yesaya 60:21-22 yang dianggap adanya kaitan dengan nubuatan tentang Yesus; maka ini sangat tidak tepat. Dalam Injil Matius 2:23, St. Matius tidak pernah menunjuk teks manapun dalam TaNaKH sebagai rujukannya. Maka, ada upaya kreatif para apologet Kristen untuk mencari-cari/ menghubung-hubungkannya dengan nas/ayat yang termaktub dalam kitab Nabi Yesaya berdasarkan kemiripan bunyi/kata. Bahkan, para apologet Kristen hanya berhasil mencocok-cocokkannya dengan kitab Nabi Yesaya saja, dan gagal ketika mencari dalil kemiripan bunyi kata tersebut dengan kitab Nabi-nabi lain. Padahal jelas St. Matius mengatakan : “…… genaplah firman yang disampaikan oleh Nabi-nabi bahwa ia akan disebut Orang Nazareth.” (Matius 2:23). Ini sebuah upaya kreatif yang tidak efektif dan gagal total. Gagal pada tahap yang pertama, kemudian melangkah pada tahap yang kedua, yakni dng dalih bahwa nubuat yang dimaksud dalam Matius 2:23 itu menunjuk pada tema teologis nubuatan mesianik, bukan kutipan hurufiah nama Nazareth yang termaktub dalam kitab Nabi-nabi. Kalau nalar seperti ini kita ikuti, seseorang juga bisa mengajukan bukti lain atas teks teologis nubuatan mesianik mengenai Yesus, khususnya berkaitan dengan adanya nama Yesus (Hebrew: Yeshu) yang termaktub dalam TaNaKH, khususnya kitab Mazmur 109:13. Rabbi-rabbi Yahudi, bisa saja mengait-ngaitkan/mencocok-cocokkan nama Yeshu dengan nubuatan yang termaktub dalam Mazmur 109:13 sebagai nabi palsu, karena namanya memang telah dinubuatkan dalam teks tersebut yang berbunyi: Yimach shemo v’zichro (May his name and memory be blotted out) = Yeshu. Jadi nama Yeshu memang sudah dinubuatkan dalam kitab Mazmur 109:13 agar namanya dikeluarkan dari jajaran nama nabi-nabi bangsa Israel. Nalar seperti ini apakah bisa dibenarkan bila dibaca dari konsep Rabbinik? …Silakan Anda jawab sendiri.

Dengan demikian, nama Nazaret sebagaimana yang dimaksud oleh St. Matius dalam Matius 2:23 sebenarnya adalah nama wilayah, nama tempat, bukan menunjuk pada nama orang, atau kualitas seseorang ataupun kemiripan bunyi kata. Mohon dipahami scr baik.

Berkaitan dng pembahasan nama Nazareth atau pun nama Mekkah; nama Makkah dalam Targum Judeo-Arabic kompilasi Rabbi Saadia Gaon (RavSag) tidak ada kaitannya dengan seseorang mau beriman kepada Sang Nabi dari Mekkah atau tidak; itu masalah lain. Tulisan saya ini berkaitan dng eksistensi nama Makkah saja, yang ternyata termaktub dalam dokumen Rabbinik. Masalahnya justru sebaliknya, tidak ada 1 pun dokumen yang menyebut eksistensi nama Nazareth sebagaimana yang diklaim oleh Matius 2:23. Hal ini tentu saja juga tidak ada kaitannya kita mau percaya Yesus sebagai Sang Nabi dari Nazareth itu telah dinubuatkan oleh para nabi bani Israel ataukah tidak. Sekali lagi pahami maksud tulisan saya ini scr tepat. Fakta membuktikan bahwa eksistensi nama Nazareth dalam kitab nabi-nabi yang termaktub dalam kitab TaNaKH (Perjanjian Lama) ternyata nihil; dan bila keberadaan nama Nazareth dalam dokumen Ibrani, atau dokumen Targum Judeo-Aramaic atau pun Targum Judeo-Arabic seandainya ada, maka justru sangat menarik bila hal itu tercatat dalam dokumen Rabbinik tersebut.

Namun, fakta telah membuktikan.

  1. Nama Makkah jelas tercantum.
  2. Nama Nazareth jelas tidak tercantum.

Selanjutnya, bila wacana pengaruh (influence) Islam dalam Targum RavSag yang diwacanakan kaum Kristen ini kita cermati secara teliti, maka ketiadaan nama al-Hijaz dalam Quran membuktikan bahwa RavSag yang mencantumkan nama al-Hijaz dalam Tafsirnya, justru tidak dipengaruhi oleh bahasa Arab Islam tapi justru melestarikan bahasa Yahudi Musta’ribah, dan itu ditulis dalam aksara Judeo-Arabic, dan bukan ditulis dalam aksara Arab; yang membuktikan bahwa Tafsir-nya itu diperuntukkan utk orang dalam (komunitas Yahudi) dan bukan untuk orang luar (komunitas Muslim). Bukankah Targum juga ditulis dalam bhs Judeo-Aramaic yang membuktikan bahwa Targum Onqelos dan Targum Yonathan yang ditulis dalam bahasa Judeo-Aramaic tersebut utk konsumsi orang dalam (kaum Yahudi), dan bukan utk dikomsumsi oleh orang luar (kaum Kristen)? Bila tuduhan kaum Kristiani terhadap Targum Judeo-Arabic karya RavSag ini bisa dianggap benar, maka tuduhan serupa dapat dialamatkan pada karya Onqelos murid Rabbi Akiva dan Yonathan ben Uziel murid Rabbi Hillel yang keduanya menulis karya Targum Judeo-Aramaic, yakni Targum Onqelos dan Targum Yonathan. Pertama, bukankah kedua Targum Judeo-Aramaic itu telah ditulis pada era pasca-Kristen? Kedua, bukankah di dalamnya juga banyak tersisipkan ajaran Kristen? Ketiga, bukankah di dalam kedua Targum Judeo-Aramaic itu terdapat banyak sekali kosakata Kristiani?

Jadi, Targum dalam bahasa Judeo-Aramaic itu dipastikan hanya utk orang dalam (kaum Yahudi), dan bukan utk orang luaran (kaum Kristen). Orang Kristen hanya bisa memahami teks Peshitta yang ditulis dalam bahasa Syro-Aramaic beraksara Estrangelo, bukan aksara Judeo-Aramaic. Begitu juga bahasa Yahudi Musta’ribah ditulis dng aksara Judeo-Arabic hanya ditulis untuk dikonsumsi oleh orang dalam saja (komunitas Yahudi), dan bukan untuk dikonsumsi oleh luaran (kaum Muslim). Orang Islam di negeri Arab tidak akan paham bahasa Judeo-Arabic ini. Jadi, bahasa Judeo-Aramaic dan bahasa Judeo-Arabic adalah bahasa rahasia bagi kaum Yahudi Mizrachim dan Sephardim; sama dengan fungsi bahasa Yiddish, dan bahasa Yiddish ini adalah bahasa rahasia kaum Yahudi Aschenazim. Oleh karena itu, bagaimana nalar/logisnya bahwa bahasa Judeo-Arabic sebagai bahasa rahasia justru utk membenarkan agama Islam? Dan bagaimana mungkin karya Tafsir RavSag yang ditulis dng menggunakan bahasa Judeo-Arabic ditulis olehnya untuk membela iman ajaran islam? Menurut saya, teori ‘pengaruh’ yang dituduhkan oleh kaum Kristiani pada karya RavSag ini sangat tidak tepat dan tdk bertanggung jawab, dan sekaligus tidak fear dalam menyatakan keakuratan Targum Judeo-Arabic yang sangat otoritatif ini dalam konteks kajian akademik. Mengapa mereka bertindak tidak jujur? Alasannya karena ada agenda terselubung dan amat utama, yakni mereka sengaja menutup akses kaum Kristen awam dan kaum Muslim yang kurang referensi bacaan, agar mereka tidak mengkaji tulisan2 Rabbinik sehingga mudah ‘dibohongi.’

Pada masa Gaonim, orang Arab Islam hanya paham aksara Arab, mereka tidak mengerti aksara/bahasa rahasia Judeo-Arabic. Ini adalah bahasa politik keagamaan yang hanya orang dalam yang dapat memahaminya.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *