Ishmael dalam narasi kitab suci Yahudi dan Islam (Part II)

Nama Bakkah dalam Tiga Kitab Suci

By Menachem Ali

Kajian filologi dan linguistik itu penting, terutama kajian linguistik komparatif

Kajian filologi dan linguistik itu penting, terutama kajian linguistik komparatif yang berkaitan dng eksistensi nama Bakkah.

  • Sejak semula sudah saya katakan bahwa tidak ada seorang pun yang bisa dan sukses menghapus nama Bakka dalam TaNaKH (Yahudi), Perjanjian Lama (Kristen) ataupun Quran (Muslim). Jadi siapapun mereka, agama apapun yang mereka ikuti sebagai latar keimanannya, yang berasal dari ketiga agama itu, pasti tak akan mampu menghapus nama original Bakka dalam ketiga kitab suci tersebut. Hal ini sudah kita pahami bersama. Apakah ada di antara kita yang keberatan dng pernyataan saya ini bahwa nama Bakka hingga sekarang masih tetap kekal abadi sebagaimana yang tercatat dalam ketiga kitab suci itu?
  • Nama Bakka dalam TaNaKH, Perjanjian Lama, dan Quran ternyata adalah nama yang berkaitan dng nama lokasi geografis, dan bukan menunjuk pada nama orang atau pun karakter seseorang. Dan itu juga kita sudah sepakati. Apakah ada di antara kita yang keberatan dengan pernyataan saya ini?
  • Nama Bakka yang termaktub dalam TaNaKH (Yahudi), Perjanjian Lama (Kristen), dan Quran (Islam) hanya terkait dengan Lembah, dan bukan terkait dng Gunung, dan juga bukan terkait dng Pantai sekalipun. Bukankah hal ini juga sudah kita sepakati? Adakah yang keberatan dengan pernyataan saya ini?
  • Nama Bakka yang terkait dng Lembah itu ternyata juga ada mata air, ini adalah kata kunci untuk mengidentifikasi lokasi penting itu bahwa di Bakka selain berupa Lembah juga bermata air. Ini telah disepati oleh ketiga agama, sebagaimana yang termaktub dalam ketiga kitab suci. Cobalah baca secara teliti Mazmur 84:7 tertulis secara tegas ada mata air yang terdapat di wilayah Lembah Bakka ini. Jadi ada nama Bakka – Lembah – mata air, tiga hal ini sebagai 3 ciri lokasi geografis yang dimaksud. Nama al-Hijaz, Makkah, sumur di El Rai sebagai beer zamum (sumur mata air zamzam), Hag le Yeshmaelim (ibadah Hajji bagi kaum Ishmael) itu juga dibahas oleh para rabbi. Namun, yang mengatakan demikian adalah RavSag, Ibn Ezra, Radak. Bahkan Rashi maupun Ramban pun tidak menyangkalnya. Rabbi-rabbi angkatan generasi Gaonim hingga generasi Rishonim tidak ada 1 pun yang menyangkalnya. Kalau Anda bisa membuktikan hal itu tidak benar maka jangan berimajinasi tapi tunjukkan bukti. Jadi salah besar bila yang mengatakan itu saya pribadi.

Bacalah dengan teliti.

Berkaitan dengan penjelasan TaNaKH khususnya mengenai kisah Hagar dan Yishmael yang termaktub dalam Sefer Bereshit 16:7 – 14 yang berkaitan dng sumur mata air zam-zam serta nama wilayah Makkah yang termaktub dalam Sefer Bereshit 10:30 yang keduanya dikaitkan sebagai le Hag shemo le Yishmaelim (sebagai ibadah Hajji bagi kaum penganut iman Yishmael) silakan para pembaca dapat merujuk pada sumber2 Rabbinik yang ditulis oleh Rabbi-rabbi Yahudi sejak generasi Gaonim hingga generasi Akharonim, yakni Ravsag (Rav Saadia Gaon), Rav Avraham ben Ezra (Ibn Ezra), dan Radak (Rav David Kimchi), yang sudah saya uraian panjang lebar di artikel saya. Mazmur 84:7 dalam teks TaNaKH yang disebut teks Masoret berbahasa Ibrani, ternyata tertulis nama Bakka sebagai (i) nama lokasi geografis, (ii) lokasi geografis itu berupa lembah (Hebrew: emeq). Dalam Quran juga tertulis nama Bakkah sebagai (i) nama lokasi geografis, (ii) lokasi geografis itu berupa lembah (Arab: wadi). Inilah kesejajaran kitab suci TaNaKH dan Quran yang scr jelas tertulis seperti itu.

Penafsiran orang terhadap nama Bakka dalam Mazmur 84:7 bukan merujuk pada lokasi geografis di Bakkah yang terletak di Saudi Arabia itu urusan sang penafsir, tapi yang menjadi catatan bahwa keduanya menyebut nama Bakka dan keduanya berupa lembah. Orang boleh saja berkata bahwa Ismail dalam Quran bukanlah Yishmael dalam TaNaKH meskipun namanya ada kemiripan, itu juga hak setiap orang utk menyatakannya. Saya tidak berhak menghakiminya. Kalau nama Bakka dalam Mazmur 84:7 bukan merujuk pada nama Bakkah di wilayah Hijaz, lalu mengapa Rav Saadia Gaon (RavSag) dalam Targum Judeo-Arabic menyebut istilah Al-Hijaz pada Bereshit 16:7 sebagai nama lain dari Syur? Dan mengapa juga Ibn Ezra menyebut beer zamum (sumur zam-zam) dalam Perush ‘al ha-Torah, Sefer Bereshit 16:7 ? Sefer Bereshit/ kitab Kejadian 16: 13: El Roi: Tuhan melihat kesusahan dan penderitaan yg dialami Hagar, lalu Tuhan mengirim Malaikat untuk membantunya, pada ayat 14, identifikasi sbg sumur mata air zam zam:

Sefer Bereshit16:14

Beer Lachai:

Pada tahun kemudian, sumur itu adalah rasanya seperti hidup, demikianlah pada setiap tahun, Yishmaelim (orang2 yang menganut iman Ishmael) berziarah ke sumur itu, maka smpai pada hari ini sumur itu disebut dengan beer zamum (Sumur zam-zam)

  • Letak geografis wilayah Bakka yang di Lembah dan ada mata air di sana ternyata lokasinya berada di arah selatan Yerusalem, juga disepakati antara Yahudi, Kristen dan Islam. Adakah sesuatu yang salah dalam hal ini? Tidak khan?
  • Yerusalem lokasinya di Gunung, sedangkan Bakka lokasinya di Lembah. Mazmur 84:7 (Kristen) dan Tehillim 84:7 (Yahudi) sama-sama bersepakat bahwa ayat-ayat itu terkait dng Bait Suci di Yerusalem dan pelaksanaan ibadah Hag (Hebrew: Hag, cf. Arab: Hajji) di Yerusalem: ” ….. sambil berjalan kekuatan mereka semakin besar hingga masing2 menghadap HASHEM (Tuhan) di Zion (Mazmur 84:7). Di Zion (Yerusalem) terkait dng Bait ALLH di gunung; dan orang2 ber-pilgrimage/ber-hajji/berziarah ke Yerusalem (Mazmur 84:5-6). Dalam Midrash Vayikra Rabba fol. 174.4 dan Midrash Bamidbar Rabba fol. 250.4 disebutkan: natan be-tzafon yabo va yebnah et bah shehu Melech ha-Mashiah shehu naton be darom (the King Meshiah is placed on the North shall come and build the House of Sanctuary which is placed on the South – Raja Mesias yang berkedudukan di Utara akan datang dan membangun Bait Suci yang terletak di Selatan). Tidak ada Bait Suci di arah selatan Yerusalem kecuali Bait Suci yang yang dibangun di arah selatan Yerusalem yang disebut dng nama Bakka. Ini sebagai bukti ada 2 Bait Suci, yang satu berada di Gunung Yerusalem, dan yang satu berada di Lembah Bakka. Apakah ada Bait Suci di Selatan Yerusalem yang lokasinya disebut Lembah Bakka? Rabbi Saadia Gaon, Ibn Ezra, dan Radak pun tahu soal ini. Ada yang menyangkal? Ini bukan pendapat rabbi-rabbi secara pribadi tetapi pengajaran Rabbinik, yang merupakan pengajaran Torah she be’al phe yang diterima Musa, dan yang tertulis dalam kitab Midrash dan diwariskan antargenerasi.

Siapapun boleh melakukan pengecekan secara akademik terhadap postingan teks Ibrani yang saya tunjukkan tersebut. Marilah kita baca teks Rabbinik itu secara seksama dan bersama-sama, agar saling bisa mengjngatkan kalau di antara kita ada yang salah baca.

Penjelasan dari kitab Pherushi Rabbenu Saadia Gaon ‘al ha-Torah, terbitan Mossad Harav Quq, Yerusalem, tertulis demikian:

Pada Bereshit 10:30 dkatakan: le Mesha Makkah 54 Sefarah Medinah 55 …. ” dan pada catatan kaki no. 54 tertulis

‘ir falachen ha-Muslimim hayado’ah be Hijaz.

(Mesha adalah Makkah 54, Safarah adalah Madinah 55 ….. dan pada catatan kaki nomor 54 ternyata ada penjelasan yang berbunyi: ” kota penting bagi kaum Muslim yang dikenal di wilayah al-Hijaz.)

Kalimat yang berbunyi: ‘Ir falachen ha-Muslimim hayado’ah be Hijaz bisa diterjemahkan:

  1. Kota perdagangan (‘Ir falachen) bagi kaum Muslim yang dikenal di wilayah Hijaz.
  2. Kota penting (‘Ir falachen) bagi kaum Muslim yang dikenal di wilayah Hijaz.
  3. Dalam bhs Ibrani, ternyata istilah falachen sama dengan istilah falachun dalam bhs Arab.

Sekarang mari kita bandingkan kitab terbitan Mossad Harav Kook, Yerusalem, di dalamnya ada pernyataan Radak (Rabbi David Kimchi) yang merujuk pada otoritas RavSag, yang termaktub dalam kitab Torat Chayyim Chameshah Chumshe Torah. Sefer Bereshit ‘im ha-Haftharat ve ‘im Pherushi Targum ha-Tafsir shel Rav Saadia Gaon (RavSag), Pherush Rabbenu Hananel, Pherush Rabbenu Shlomoh Yitzhaq (Rashi), Pherush Rabbenu Shemu’el bar Rav Meir (Rashbam), Pherush Rabbenu Avraham Ibn Ezra (Ibn Ezra), Perush Rabbenu David Kimchi (Radak).

Kitab ini adalah himpunan pengajaran Torah she be’al phe (Torat Lisan) yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dalam sanad mata rantai keilmuan Rabbinik.

Bila nama Makkah di kawasan al-Hijaz telah tercatat dalam literatur penjelasan Rabbinik. Maka yang lebih menakjubkan adalah penjelasan dalam literatur Gereja Ortodoks Koptik di Mesir, yang juga mengakui keberadaan Makkah ini, sebagaimana yang termaktub dalam Qamus Alkitab al-Muqaddas.

أما البلسان الحقيقي الذي ذكره المؤلفون القدماء فهو “بلسم مكة ” الذي مازالت مصر تستورده من شبه الجزيرة العربية – كما كان الأمر قديماً – وهو عصير الشجرة المعروفة علمياً باسم (Balsamo Dendron Apabatsmum) والتي تنمو في جنوب الجزيرة العربية وفي الحبشة، وهي شجرة صغيرة غير منتظمة الشكل، قشرتها ضاربة إلى الصفرة في لون شجرة الدلب.” دائرة المعارف الكتابية ج 2 ص: 189

Keterangan itu diperkuat juga dalam site St.Takla dalam “Qamus Alkitab al-Muqaddas” dalam entri kata “pohon buka'”, dikatakan bahwa pohon buka’ ini terdapat di negara-negara Arab dekat Mekkah.

ربما يُقْصَد به “شجر البلسم” أو ما يشبهه. ففي بلاد العرب، قرب مكة شجر بهذا الاسم. يشبه “شجر البلسم” أو “البلسان”، وله عصارة بيضاء لامعة. وقد سمى شجر البُكا، نسبة لأن تلك الأشجار تنضح بالصموغ، أو نسبة لقطرات الندى التي تقع عليه

Seluruh terjemahan Arabic Bible versi Krristen enggan menyebutkan kata lembah ” Bakkah” (بكة) dan memilih menerjemahkan dgn kata ” lembah Buka’ (وادي البكاء) yang bermakna Lembah Tangisan atau ” lembah Balsam” (وادي البلسان). Ironisnya, meskipun mrk berusaha menutupi-nutupi kata Bakkah dan menggantinya dgn kata2 yang lain, kita msh tetap menemukan bukti atau data bahwa lembah “Balsam” itu memang sebenarnya terdapat di Mekkah. Data ini bisa kita lihat dlm “Bible Encyclopedia dlm bhs Arab”, 2/187: “Adapun Balsam yang disebutkan oleh para penulis klasik itu adalah “Balsan Mekkah” yang mana negara Mesir masih mengimpornya sampai sekarang dari Jazirah Arab. Pohon Balsam inilah yang dikenal dalam bahasa ilmiah dengan sebutan “balsamodendron opobalsamum”.

Sementara itu, dalam “Keil & Delitzsch Commentary on the Old Testament, Psalms 84 juga disebutkan bahwa Pohon buka’ atau balsam tumbuh dan sering didapati di lembah Mekkah. lihat teks komentar tersebut:

“and such a tree is the Arab. (baka’un), resembling the balsam-tree, which is very common in the arid valley of Mecca ….

Ini linknya: http://www.studylight.org/commentaries/kdo/psalms-84.html#1

  • Penerjemahan nama Bakka dalam Tehillim (Yahudi), Mazmur (Kristen) dan Quran (Islam) juga sudah kita sepakati, yakni bisa diterjemahkan: (1) the Valley of Weeping, (2) the Valley of Balsam Tree. Yahudi, Kristen dan Muslim menyepakati penerjemahan keduanya.
  1. Emeq ha-Bakka dalam TaNaKH (Yuhudi) Artinya: Lembah Tangisan, Lembah Balsam.
  2. Emeq ha-Bakka dalam Mazmur (Kristen) Artinya: Lembah Tangisan, Lembah Balsam.
  3. Wadi Bakkah dalam Quran (Islam) Artinya: Lembah Tangisan, Lembah Balsam.

Jadi apa yang hendak disangkal soal Bakka ini? Tidak ada bukan?

Para penafsir Kristen tidak ada yang berpendapat seragam mengenai lokasi Bakka sebagaimana yang dimaksud dalam Mazmur 84:7. Hal ini membuktikan bahwa semua penafsiran ttng nama Bakka dalam tradisi Kristiani itu sangat spekulatif dan tidak meyakinkan. Namun anehnya, para penafsir Kristen juga mengakui bahwa Mekkah juga bisa jadi sebagai lokasi yang dimaksud dalam kitab Mazmur 84:7. Ketiga lokasi Bakka yang dimaksud itu adalah:

  1. Bakka ada di Lebanon, wilayah utara Yerusalem.
  2. Bakka ada di lembah Refaim, selatan Yerusalem.
  3. Bakka ada di lembah Makkah, selatan Yerusalem.

Penafsiran mengenai dimana sebenarnya lokasi geografis Bakka itu, maka hal itu tidak bisa dianggap sebagai tafsiran yang benar bila hanya mempertahankan ego penafsiran versi Islam dan penafsiran versi Kristen. Oleh karena itu kita harus merujuk sumber yang netral, yakni dengan merujuk penjelasan teks2 Rabbinik dari kalangan Yahudi sendiri. Mengapa? Sebab penjelasan teks2 Rabbinik adalah penjelasan otoritatif; merekalah yang empunya TaNaKH, dan pemilik asli kitab suci TaNaKH (Torah Neviem ve Khetuvim) yg di dalamnya tercantum kekal abadi nama Bakka sebagaimana yang termaktub dalam kitab suci mereka, bukan kitab suci saya dan bukan kitab suci Anda.

Faktanya, teks Rabbinik justru menyatakan bahwa hal itu berkaitan dng Hagar dan Ishmael, dan tak ada teks Rabbinik yang menolaknya. Bahkan, RavSag, Ibn Ezra, Rashi, Radak bahkan Ramban pun tidak. Penjelasan teks2 Rabbinik ini kalau dalam Kristen sejajar dng teks2 Apostolik (penjelasan Bapa Gereja Kuno).

Berdasarkan pembacaan saya dalam buku2 Tafsiran Alkitab Kristen, ternyata tidak ada penjelasan yang baku, solit, dan meyakinkan mengenai nas Mazmur 84:7, malah terkesan ambigu, dan spekulatif dan bersifat spekulatif.

  1. Ditafsirkan itu adalah Bakka yang ada di Lebanon. Apakah ada penjelasan adanya mata air di lembah Lebanon? Apakah ada peziarah datang dari wilayah Lebanon ke Yerusalem?
  2. Ditafsirkan itu adalah Bakka yang ada di lembah Refaim. Pertanyaannya; apakah ada mata air di lembah Refaim? Bukankah nama Refaim berbeda dengan nama Bakka? Dimana hubungannya antara Bakka dan Refaim? Bukankah namanya jelas berbeda? Apa hubungannya? Bukankah masalah Lembah Bakka berkaitan dng ibadah ziarah sedangkan Lembah Refaim berkaitan dng peperangan dng orang Filistin? Bagaimana nalarnya?
  3. Jadi penafsiran lokasi geografis nama Bakka yang ada di Lebanon dan di Refaim hanyalah penàfsiran alternatif spekulatif, dan bukan penafsiran tunggal absolut. Bahkan, nama Bakka ada juga yang menafsirkan secara alegoris, bukan penafsiran ttng lokasi geografis. Menurut penafsiran alegoris, Mazmur 84:7 itu, sebenarnya sedang mengekspresikan hasrat seorang peziarah menghadap Tuhan di puncak dimana: ” Sekalipun turun melewati lembah yg dalam/ lembah tangisan/ lembah ratapan/ lembah yg kering, mereka akan merubahnya ( seperti banyak) air dan makin kuat menghadap Tuhan di bukit. JADI ITU FIRMAN BAHASA PUISI MENGENAI ‘HASRAT’ MENGHADAP TUHAN.

Artinya, sekalipun turun melewati lembah kesusahan diubah menjadi lembah kekuatan. Jadi menurutnya, kalaupun Makkah berasal dari kata Bakka karena rumpun Semitik, berarti itu hanya sebutan bentuk karakter sebuah tempat bukan nama eksklusif suatu tempat.

Dengan demikian, penafsiran Kristiani terhadap Mazmur 84:7 sebenarnya tidak valid, tapi penafsiran alternatif dan spekulatif yang dapat diklasifikasikan menjadi 2, yakni:

  1. Penafsiran Alegoris yang berkaitan dng karakter suatu tempat dan bukan berkaitan dng nama eksklusif suatu tempat.
  2. Penafsiran Historis yang berkaitan dng lokasi geografis nama eksklusif suatu tempat, dan bukan berkaitan dng karakter suatu tempat. Dalam konteks lokasi geografis ini pun tidak solit tapi beragam.

Jadi mempertahankan iman tanpa dasar fakta yang kuat dan teruji secara lintas referensi agama, bagaikan mendirikan rumah di atas pasir. Tapi iman yang diteguhkan dng data secara lintas referensi bagaikan mendirikan rumah di atas batu karang. Semoga menjadi renungan bersama.

Aamiin.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *