Ishmael dalam narasi kitab suci Yahudi dan Islam (Part V) – Lima Pilar Penjagaan Torah atas Ishmael

Lima Pilar Penjagaan Torah atas Ishmael

By Menachem Ali

 

Bila seseorang mempelajari Torah dan Quran secara serius dan jujur, maka ia akan menemukan hal-hal yang menakjubkan dan bahkan melampai batas-batas nalarnya. Oleh karena itulah saya ingin share kepada pembaca berkaitan dengan 5 pilar penjagaan Torah atas diri Ishmael berdasarkan teks-teks Rabbinik.

1. Kakeknya Ishmael

Shem ben Noah adalah kakeknya Ishmael dan Ishak. Ishmael adalah generasi ke-12 dari Nuh melalui Abraham, sebagaimana Ishak adalah generasi ke-12 dari Nuh melalui Abraham. Menurut kitab suci Torah, hanya Ishmael dan Ishak saja yang disebut sebagai zera’ Abraham (benih Abraham), sedangkan anak-anak yang lain hanya disebut sebagai b’ney Keturah (anak-anak Ketura), istri Abraham. Bila Abraham sesuai dng silsilah dalam Torah adalah generasi ke-11 dari Nuh, maka Shem adalah generasi ke-2 dari Nuh.

Siapakah sebenarnya Shem ben Nuh? Dalam kitab suci Torah, disebutkan adanya sosok yang disebut Melkisedek yang bertemu dng Abraham. Ternyata dalam teks-teks Rabbinik, yakni Targum Yonathan dan kitab Sefer Hayashar disebutkan bahwa Melkisedek itu adalah gelar dari Shem ben Nuh. Artinya, Shem ben Nuh itu adalah kakeknya Ishmael, dan dia punya silsilah, punya ayah dan punya ibu. Itulah sebabnya dalam Torah dinyatakan bahwa Shem ben Nuh disebut sebagai generasi ke-2 dari Nuh dalam rangkaian 12 generasi dari Nuh hingga Ishmael atau Ishak (Sefer Bereshit 10:1-32; 11:10-26; 16:16; 21:1-4). Namun anehnya, dalam Injil Lukas 3:34-36 disebutkan silsilah antara Nuh hingga Ishak ada 13 generasi bukan 12 generasi sebagaimana yang tercatat dalam Torah, dan ini merupakan sebuah penyimpangan bahkan kesalahan fatal dalam tinjauan nalar Rabbinik. Bahkan penyimpangan ini lebih fatal lagi, karena Melisedek dinyatakan tidak mempunyai silsilah, tidak berbapak dan tidak beribu, dan juga tanpa permulaan waktu dan tanpa mempunyai akhir kehidupan (Ibrani 7:1-3) yang narasi ini tentu saja bertabrakan dan menyimpang secara total sebagaimana yang tercatat dalam Torah.

2. Ayahnya Ishmael

Ishmael disebut sebagai zera’ (benih) Abraham sebagaimana Ishak juga disebut sebagai zera’ (benih) Abraham. Dalam Targum Yonathan, sebelum Ishmael dan Ishak dilahirkan, Abraham mengalami ujian luar biasa, yakni dibakar di api Nimrod. Kisah ujian iman Abraham ini juga tercatat dalam Quran (Qs. al-Anbiya’ 21:68-69), dan kisah Abraham yang dibakar di api Namrud dalam Quran ini ada kesejajaran dengan kisah Abraham dibakar oleh Nimrod sebagaimana yang tercatat dalam Targum Yonathan. Bagi kaum Yahudi, Targum Yonathan adalah bagian dari Torah she be’al phe (Torah Lisan berdasarkan sanad keilmuan Rabbinik). Jadi, kisah ujian iman Abraham yang mengalami hukuman bakar di api Namrud diakui sebagai wahyu dan fakta historis bagi kaum Yahudi dan kaum Muslim, meskipun kaum Nasrani menuduhnya sebagai kisah legenda/fiktif.

3. Ibunya Ishmael

Nama Hagar, istri Abraham, tercatat 12 kali dalam Torah, sebagaimana nama Ishmael, anak Hagar juga tercatat 12 kali dalam Quran, dan bahkan nama Kedar, cucu Hagar ternyata juga tercatat 12 kali dalam TaNaKH. Tidak ada seorang pun yang bisa menghapus 12 kali penyebutan nama Hagar dalam Torah sehingga berkurang jumlah penyebutan namanya dalam Torah, dan tidak akan ada seorang pun yang mampu memanipulasi jumlah penyebutan nama Hagar dalam Torah sehingga berkurang/bertambah dari 12 kali penyebutan namanya, sebagaimana tidak ada seorang pun yang mampu mengingkarinya sebagai wanita bangsawan, yakni puteri Firaun sebagaimana yang tercatat dalam teks Rabbinik, lihat Rashi Pherushi ha-Torah.

4. Istrinya Ishmael

Kitab Suci Torah mencatat bahwa Hagar mencarikan istri bagi Ishmael (Sefer Bereshit 21:21), tetapi siapakah nama istri Ishmael? Targum Yonathan dan Pirke de Rav Eliezer mencatat bahwa istri Ishmael bernama Phetimah. Jadi nama Phetimah bukanlah nama Arab atau pun nama Islam, tetapi merupakan nama yang sudah ada sejak era pra-Islam. Begitu juga nama-nama tukang sihir di Mesir yang menentang Musa tidak disebutkan namanya secara rinci (Sefer Shemot 7:8-13), tetapi Paulus mencatatnya, yakni Yanes dan Yambres (2 Timotius 3:8). Nama Yanes dan Yambres bukanlah nama Ibrani atau pun nama khas Yahudi, tetapi merupakan nama dalam bhs Koptik, bahasa kaum Firaun, dan nama Yanes atau pun Yambres ini sebelumnya memang telah tercatat dalam Targum Yonathan (Sefer Bemidbar 22:22) dan kemudian Targum Yonathan ini dikutip dalam tulisan Paulus (2 Timotius 3:8). Namun anehnya, kaum Kristen menuduh bahwa nama Phetimah dalam Targum Yonathan itu pengaruh Islam dan dianggap palsu bahkan rekayasa, sedangkan nama Yanes dan Yambres dalam Targum Yonathan dianggap asli wahyu dan bukan rekayasa. Jadi menurut nalar Kristen, nama Phetimah dan kisah Abraham yang dibakar di api Namrud yang termaktub dalam Targum Yonathan dianggap fiktif dan bukan wahyu TUHAN, sedangkan nama Yanes dan Yambres yang termaktub dalam Targum Yonathan dinaggap fakta dan wahyu TUHAN. Pernyataan kaum Apologet Kristen ini ibarat: ” … ayam di pekarangan rumah sendiri dikatakan unggas, bebek di pekarangan tetangga dikatakan mamalia. Gajah di pelupuk mata tak tampak, kuman di seberang lautan tampak.” Inilah nalar Kristiani yang absurd.

5. Kediaman Ishmael

Nama Makkah yang tercatat dalam Targum Saadia bhs Judeo-Arabic (Sefer Bereshit 10:30) dianggap tidak valid oleh orang Kristen. Padahal nama Makkah juga tercatat dalam kitab suci Quran (Qs. Al-Fath 48:24). Nama Bakkah yang tercatat dalam Targum Samaritan bhs Judeo-Arabic (Sefer Bereshit 10:30) juga dianggap tidak valid oleh orang Kristen. Padahal nama Bakkah juga tercatat dalam kitab suci Quran (Qs. Ali Imran 3:96). Anehnya, nama Nazaret yang tidak tercatat dalam TaNaKH, Targum Onqelos, Targum Yonathan, Targum Yerushalmi, Targum Saadia, Targum Samaritan, kitab Midrash dan teks2 Rabbinik yang lainnya justru dianggap valid hanya berdasar klaim sepihak kitab suci Kristen sebagaimana yang termaktub dalam Matius 2:23. Padahal nama Nazareth tak satu pun muncul dalam teks TaNaKH sebagaimana yang diklaim oleh Matius telah ditulis oleh para nabi. Padahal para Nabi maupun para Rabbi pra-Kristen tak pernah mencatat nama Nazaret sama sekali. Inilah nalar absurd dalam beragama yang maunya menang sendiri.

Baruch HASHEM.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *