Kesinambungan Agama  Rumpun Brahmanic dan Rumpun Abrahamic

שלום עליכם
السلام عليكم

Ada relasi antara teks suci rumpun agama2 Brahmanic dan teks suci rumpun agama2 Abrahamic. Kesinambungan itu dibuktikan dengan adanya elemen linguistik rumpun kebahasaan Aryan yang termaktub dalam teks-teks Abrahamic (Semit), yang ternyata banyak mengadopsi kosakata asing (loanwords) dari bahasa Persian dan Sanskrit. Itu berarti eksistensi teks Avestic dan Vedic tidak bisa diabaikan posisinya dalam relasi antarteks dari tradisi Arya dan Semit. Tentu saja, kajian ini tidak mencakup studi teologis yang meniscayakan justifikasi mengenai mana agama yang benar dan mana agama yang salah. Justru karya ini hanya fokus pada kajian linguistiknya semata. Kalau kajian ini terfokus pada ranah teologis dikhawatirkan pasti akan memicu konflik. Oleh karena itu, saya menghindari hal tersebut, dan hanya mengedepankan “meeting point” dalam konteks menggali adanya “common narative-nya” saja.

Dalam agama Hindu, terutama kitab Agni Purana menyatakan bahwa bahasa Sanskrit merupakan bahasa para dewa yang disebut sebagai sadhu-bhasa (bahasa suci orang suci). Bahasa Sanskrit ini dianggap bahasa suci yang dituturkan oleh Krishna, yang posisinya dijustifikasi sebagai “high level” dibanding bhs Prakrit, sedangkan bahasa Prakrit hanya disebut sebagai manusi-bhasa (bahasa manusia), bahasa yang posisinya rendah. Secara de facto, bahasa Sanskrit memang hanya dipahami oleh para sadhu, rakyat kebanyakan hanya bisa memahami bahasa Prakrit, bukan bahasa Sanskrit. Itulah sebabnya, para sadhu bertutur dalam bahasa Sanskrit, dan Sri Krishna sendiri yang akan melindungi para sadhu.

Kitab suci Bhagavad-gita, Sloka 4.7-8.
Sri Krishna bersabda:

yada yada hi dharmasya
glanir bhavati bharata
abhyuttanam adharmasya
tadatmanam srjamy aham

paritranaya sadhunam 
vinasaya ca duskrtam
dharma-samstapanarthaya
sambhavami yuge yuge.

“Kapan pun dan dimana pun pelaksanaan dharma merosot, dan hal-hal yang bertentangan dengan dharma merajalela – pada waktu itulah Aku sendiri menjelma, wahai putera keluarga Bharata. Untuk menyelamatkan para sadhu (orang saleh), membinasakan orang jahat dan utk menegakkan kembali prinsip-prinsip dharma, Aku sendiri muncul pada setiap zaman.”

Sri Krishna bersabda tentang “dharma” dalam bahasa Sanskrit. Namun, tatkala Sang Budha datang sebagai avatar ke-9 sebagaimana yang juga dibenarkan dalam kitab agama Hindu, yakni kitab Srimad Bhagavatam Purana, Sang Budha justru tidak mengucapkan “dharma” dalam bahasa Sanskrit, tetapi beliau bersabda tentang “dhamma” dalam bahasa Prakrit. Inilah fakta bahwa Sang Budha ternyata memang menuturkan sabda-sabdanya dalam bahasa Prakrit, bukan dalam bahasa Sanskrit.

Kitab suci Dammapada, Pandita Vagga 4.79
Sang Budha bersabda:

dhammapita sukham seti
vippasannena cetasa
Ariyappavedite dhamme
sada ramati pandito.

“Ia yang mengerti dhamma hidup berbahagia dengan pikiran yang jernih dan tenang. Orang bijaksana selalu berbahagia dalam dhamma yang telah dibabarkan oleh para Ariya.”

Berdasarkan teks kitab suci Bhagavad-gita dan Dhammapada tersebut membuktikan adanya perbedaan bahasa yang dituturkan oleh Sri krishna dan Sang Budha. Namun, perbedaan penggunaan bahasa tersebut bukan sekedar perbedaan pelafalan “dharma” dalam bahasa Sanskrit menjadi “dhamma” dalam bahasa Prakrit, justru berbedaan penggunaan bahasa itu mengekspresikan penanda identitas yang meniscayakan perebutan wacana ttng superioritas bahasa Prakrit dibanding bahasa Sanskrit. Itulah sebabnya, saat Sang Budha membabarkan sabda-sabdanya dalam bahasa Prakrit, maka posisi bahasa Sanskrit sebagai bahasa suci para sadhu dan sebagai bahasa suci dalam penulisan pewahyuan kitab suci Veda tersebut ternyata dijungkirbalikkan posisinya. Bahasa Prakrit akhirnya “naik kelas” menggantikan posisi bhs Sanskrit. Itulah sebabnya Sang Budha bertutur dalam bahasa Prakrit, bahasa yang dianggap “rendah” oleh para sadhu pada zamannya, dan Sang Budha sendiri dalam menyampaikan sabda-sabdanya – beliau tidak mau menuturkannya dalam bahasa suci Sanskrit. Dalam konteks ini, Sang Budha memelopori “gerakan perlawanan anti kemapanan” yang akhirnya para bhikkhu, yakni para murid Sang Budha menjadikan bahasa Prakrit sebagai bahasa suci dalam tuturan para bhikkhu dan sebagai bahasa suci dalam penulisan pewahyuan kitab suci Tripitaka. Narada Mahathera dalam karyanya yang berjudul “Buddhism in a Nutshell/ Intisari Agama Buddha” (Semarang: Yayasan Dhamma Phala, 2002), hlm. 10 menyebutkan bahwa kanonisasi dan kodifikasi kitab suci Tripitaka telah dirampungkan sejak era pra-Kristen, tepatnya tahun 83 SM. pada masa Raja Vattagamani Abhaya saat memerintah di Srilangka.

Dengan demikian, Sri Krishna dan para sadhu menjadikan bahasa Sanskrit sebagai bahasa suci dan sebagai bahasa “kelas tinggi”, sedangkan bahasa Prakrit dijustifikasi sebagai bahasa “kelas rendah.” Sebaliknya, Sang Budha dan para bhikkhu menjadikan bahasa Prakrit (Pali) sebagai bahasa suci dan sebagai bahasa “kelas tinggi”, sedangkan bahasa Sanskrit sebaliknya. Inilah fakta adanya “revolution in the name of revelation.”

Rashi dan Ramban dalam kitabnya juga menyebutkan bahwa bahasa Ibrani disebut sebagai לשון הקדש “leson haq-qodesh” (bahasa suci). Bahasa Ibrani (Hebrew) ini merupakan bahasa para nabi dan bahasa para rabbi, sekaligus sebagai bahasa pewahyuan kitab suci TaNaKH (Torah Neviem ve Khetuvim) dalam agama Yahudi. Hal ini sebagaimana penjelasan Rashi dalam kitabnya פירושי רש”י על התורה (Pherushi Rashi ‘al ha-Torah) dan Ramban dalam kitabnya פרוש הרמב”ן על התורה (Pherush ha-Ramban ‘al ha-Torah). Nabi Musa juga menyampaikan firman-Nya dan menuturkan doa berkat dalam bahasa Ibrani (Hebrew), dan bukan dalam bahasa Aramaic. Dalam Sefer Devarim/Deuteronomy 33:29 Musa menuturkan doa berkat sbb.

אשריך ישראל מי כמוך
עם נושע ביהוה מגן עזרך
ואשר-חרב גאותך ויכחשו
איביך לך
ואתה על במותימו תדרך

Ashreikha Yisrael mi kemokha?
‘Am nosha’ ba DONAI magen ‘ezrekha.
Ve asher cherev ga’avatekha ve yikkachashu
oiveikha lakha 
Ve atta ‘al bemoteimo tidrokh.

“Berbahagialah engkau hai Israel. Siapakah yang seperti engkau? Suatu umat yang diselamatkan oleh TUHAN, perisai penolongmu; dan Dialah pedang kejayaannmu. Dan yang memusuhimu akan ngeri terhadapmu, dan engkau akan berjejak di tempat-tempat tinggi mereka.”

Dalam kitab Ratapan 3:9 Nabi Jeremiah juga menyatakan dalam bhs Ibrani:

“Rabba emunateka.”
(Great is Thy faithfulness)

Dalam kitab Mazmur 27:4 Nabi Daud juga menyatakan dalam bhs Ibrani:

“le-bakker be-hekalo.”
(and to inquire in His temple).

Nabi-nabi dalam kitab TaNaKH bertutur dalam bahasa Ibrani sebagai bahasa suci לשון הקדש (leson haq-qodesh). Bahasa Ibrani juga menjadi bahasa suci dan bahasa utama tulisan para rabbi. Itulah sebabnya teks-teks penjelasan para rabbi atas kitab TaNaKH disebut kitab מקראות גדולות (Mikraot Gedolot), yang juga disebut sebagai Rabbinic Bible (Alkitab Rabbinik). Namun, pada saat yang sama, ternyata bahasa Galilaean Aramaic atau Syriac dianggap bukan sebagai bahasa suci, dan dianggap sebagai bhs “kelas rendah”, yakni bahasa rakyat kebanyakan. Tatkala Kristus datang dan menyatakan dirinya sebagai nabi yang dijanjikan menurut kitab TaNaKH (Torah Neviem ve Khetuvim), maka dia menuturkan sabda-sabdanya dalam bahasa Suryani (Syriac), bukan dalam bhs Ibrani (Hebrew). Dalam the Gospel of Matthew 6:9-13 Sang Kristus bersabda dan mengajarkan doa dalam bahasa Syriac yang disebut Galilaean Aramaic sbb:

“Abunan de-bismayya
yitkaddas semak
tete malkutak 
tehe sibyonak
hekma de-bismayya hekden be-ar’a

lahman de-yoma 
hab lan yoma den
usebok lan hoben
hek disbaknan le-hayyaben
wela ta’linan le nisyona
‘ella passinan min bisa.”

(Our Father in heaven
hallowed be Thy name.
Thy kingdom come
Thy will be done
As in the heaven so on earth.

Our daily bread
give us today
And forgive us our debts as we forgive our debtors.
And lead us not into temptation but deliver us from evil).

Rev. C.F. Burney, MA., D.Litt. dalam karyanya “The Poetry of our Lord: An Examination of the Formal Elements of Hebrew Poetry in the Discourses of Jesus Christ” (Oxford: The Clarendon Press, 1925), hlm. 113 menyebutkan doa “Bapa Kami” dalam bahasa Galilaean Aramaic. Begitu juga Matthew Black dalam karyanya “An Aramaic Approach to the Gospel and Acts” (Oxford: The Clarendon Press, 1957) dan F.F. Bruce, MA. dalam karyanya “The Books and the Parchments: Some Chapters on the Transmission of the Bible (London: Pickering & Inglis Ltd., 1953), hlm. 55 juga menyebutkan bahwa Kristus menyampaikan sabda-sabdanya dalam bahasa Aramaic, bukan dalam bahasa Hebrew, misalnya: talitha qumi, efata, Elahi Elahi lema shebaqtani.

F.F. Bruce menyatakan:

“We have one or two short sentences preserved in Aramaic from the lips of Christ himself such as “talitha qumi” in Mark 5:41 (little girl get up), “ephphatha” representing a dialect form of “ithpattach” in Mark 7:34 (be opened), and the cry of dereliction on the Cross, “Eloi Eloi lama sabachthani” (Elahi Elahi lema shebaqtani) in Mark 15:34. These last words are not the Hebrew original of Psalms 22:1 which runs “Eli Eli lama azabtani, but an Aramaic version.”

Bible NIV juga menyebutkan 3 bahasa yang tertulis di kayu salib saat Kristus disalibkan, yakni bahasa Aramaic, Latin dan Yunani. John 19:19-20.

“Pilate had a notice prepared and fastened to the cross. It read: Jesus of Nazareth the King of the Jews. Many of the Jews read this sign, for the place where Jesus was crucified was near the city and the sign was written in Aramaic, Latin and Greek.”

Dalam Perjanjian Baru berbahasa Ibrani (Hebrew New Testament), the Gospel of Mark 5:41 tertulis demikian.

הוא אחז את ידה הילדה
ואמר אליה טליתא קומי שתרגומו
נערה קומי – אני אומר לך

Hu achaz et yadah shel hay-yaleddah
ve amar aleyha: thaleta qumi shetargumo na’arah qumi -ani omer lakh

Pada Mark 5:41 membuktikan bahwa frase טליתא קומי (thalita qumi) adalah frase non-Hebrew. Itulah sebabnya diikuti dengan kata תרגומו (targumo) yang bermakna “artinya”, dan kemudian diikuti dengan frase Hebrew (Ibrani), yakni נערה קומי (na’arah qumi). Ini membuktikan bahwa frase טליתא קומי (thalita qumi) adalah frase Aramaic, yang sekaligus menegaskan bahwa Kristus memang berbicara dalam bhs Aramaic.

David H. Stern dalam karyanya “Jewish New Testament Commentary: A Companion Volume to the Jewish New Testament (Clarksville, USA: Jewish New Testament Publications, 1992), hlm. 90 juga menyebutkan bahwa tatkala membahas Mark 5:41 beliau berkata: “talita kumi. Little girl, get up! in Aramaic.”

Biible NIV juga menyebutkan bahwa Sang Kristus berbicara kepada Saul juga dalam bahasa Aramaic.

Acts 26:14-15

“We all fell to the ground and I heard a voice saying to me in Aramaic, ‘Saul Saul why do you persecute me? It is hard for you to kick against the goads. Then I asked: ‘Who are you Lord?’ I am Jesus whom you are persecuting, the Lord replied.”

Kisah Para Rasul 26:14-15

“Dan ketika kami semuanya rebah ke tanah, aku mendengar suatu suara yang berbicara kepadaku dan yang berkata dalam bahasa Aramaic: ‘Saul Saul mengapa engkau menganiaya aku? … Maka aku berkata: ‘Siapakah engkau Tuan? Dan dia berkata: ‘Akulah Yesus yang sedang engkau aniaya.”

Sejarah membuktikan bahwa bahasa Ibrani (Hebrew) hanya dipahami oleh para rabbi, sedangkan rakyat kebanyakan hanya memahami bahasa Aramaic. Tatkala Sang Kristus datang, maka bahasa Ibrani ternyata posisinya dijungkirbalikkan, dan bahasa Aramaic atau Syriac ‘naik kelas’ menggantikan posisi bahasa Ibrani. Bahkan, tatkala agama Kristen telah mapan dan bahasa Syriac telah menjadi bahasa suci para rahib serta sebagai bahasa suci dalam penulisan pewahyuan teks Peshitta, ironisnya saat itu, bahasa Arab posisinya juga “amat rendah.” Pada era pra-Islam, orang-orang Arab yang menjadi Kristen juga tidak menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa liturgi ataupun sebagai ekspresi bahasa keagamaan. Itulah sebabnya tidak ada satu pun bukti Alkitab berbahasa Arab era pra-Islam. Bahkan, semua versi terjemahan Alkitab bhs Arab terpengaruh gramatika bhs Arab khas Islam. Fakta sejarah membuktikan bahwa orang-orang Arab Kristen era pra-Islam hanya menggunakan bahasa Arab dalam tuturan lokal terbatas yang bersifat non-keagamaan.

Namun tatkala Islam datang, bahasa Arab “naik kelas” dan menjadi bahasa suci dalam penulisan pewahyuan teks Quran, dan bahasa Syriac akhirnya dijungkirbalikkan posisinya; dan bhs Arab kemudian menjadi bahasa wahyu menggantikan posisi bahasa Syriac itu sendiri.

Dalam studi linguistik, bahasa dan kesucian sebenarnya merupakan 2 hal yang berbeda. Bahasa itu bersifat netral. Namun dalam konteks keagamaan, keduanya secara teologis akhirnya dipahami oleh komunitas keagamaan bersifat recto and verso. Jadi entitas bahasa itu sebenarnya tidak an sich bersifat suci, dan kini telah kehilangan akarnya. Padahal bahasa menjadi suci justru akibat “pengaruh” dari pewahyuan yang dituturkan oleh sang tokoh suci atau teks suci itu sendiri. Sekali lagi, ini aspek kajian non-teologis, yang tentu saja berbeda dengan pandangan para teolog.

Karya saya berjudul “Aryo-Semitic Philology: Semitization of Vedas dan Sanskrit Elements in Hebrew and Abrahamic Texts” (Surabaya: Airlangga University Press, 2018) membahas tuntas kitab2 suci agama rumpun Abrahamic berdasarkan kajian linguistik historis (filologis), dan khususnya Quran yang menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa suci – menurut Muslim (bukan menurut saya sebagai peneliti), memang sebagai teks yang final, corpus tertutup, tidak ada lagi kitab suci pasca-Quran. Ini tentu sekali lagi menurut perspektif masing2 agama bisa beda. Poin saya “One Word Manys Versions“.

Screen Shot 2018-06-28 at 17.08.53.png

This entry was posted in Interfatith Dialog and tagged , , , . Bookmark the permalink.