Menalar Agama Langit: Glorifikasi Mukjizat Kristus dan Krishna.

שלום עליכם
السلام عليكم

Screen Shot 2018-06-21 at 14.34.14.png

Karya saya berupa riset akademik yang berjudul “Aryo-Semitic Philology: the Semitization of Vedas and Sanskrit Elements in Hebrew and Abrahamic Texts” (Surabaya: Airlangga University Press, 2018) yang menggunakan berbagai referensi langka tsb, diharapkan nantinya akan menghapus stigma negatif atas ajaran Hindu yang berdasar pada teks suci Weda, dan juga ajaran Zoroastrian yang berdasar pada teks suci Avesta. Namun kini, ironisnya keduanya justru dijustifikasi sebagai ‘agama bumi’ (earthly religions) oleh para pseudo-scholars. Padahal secara de facto keduanya merupakan tradisi keagamaan tertua, yakni tradisi keagamaan Brahmanic yang justru memiliki kesinambungan dengan tradisi keagamaan Abrahamic. Anehnya lagi, tradisi keagamaan Abrahamic secara de jure hanya dibatasi pada 3 agama utama: yakni agama Yahudi, Kristen, dan Islam yang kemudian secara teologis justru diklaim sebagai the heavenly religions (agama langit).

Namun, berdasarkan dominasi pengaruh bhs Sanskrit dan Persian yang muncul dalam teks2 suci berbahasa Hebrew, Syriac dan Arabic sebagaimana yang termaktub dalam teks Torah, Bible dan Quran justru membuktikan adanya pengaruh Vedic yang amat kuat dalam teks ketiga agama tersebut. Hasilnya, dapat disimpulkan bahwa teks Weda dan teks Avesta yang disebut sebagai tradisi keagamaan Brahmanic secara tektual ternyata teksnya lebih kuno dibanding tradisi keagamaan Abrahamic, dan itu berarti agama Hindu sebenarnya adalah the heavenly religion, dan tidak tepat bila disebut sebagai earthly religion.

Ini semata2 kajian akademik, yang tentu saja banyak orang yang tidak siap menerima kenyataan ini. Dan pasti buku ini sangat kontroversial; tapi sebagai peneliti dalam bidang philology (comparative linguistics), sudah sepatutnya saya siap menerima kritik dari para ahli.

Dalam hal ini, tentu saja seorang agamawan juga pasti sangat sukar untuk menerima kenyataan ini. Namun, bagaimanapun juga , ini adalah kajian akademis yang berujung pada fakta linguistik, fakta tekstual sastrawi, dan fakta historis yang menandakan adanya penanda migrasi teks dari tradisi Arya ke tradisi Semit. Adanya migrasi teks ini tentu saja akan mengabrasi klaim sepihak tentang dikotomisasi antara agama langit dan agama bumi. Dan hanya mereka yang berpikiran terbuka, berwawasan luas serta padat literatur yang mungkin bisa menjadikan karya ini sebagai bahan referensi untuk bernalar akan kesinambungan sejarah tradisi agama2 besar dunia beserta kitab sucinya.

Adanya kesinambungan sejarah tradisi agama rumpun Brahmanic (Arya) dengan rumpun Abrahamic (Semit), kita dapat membaca teks yang termaktub dalam kitab suci Mahabharata dan kitab Srimad Bhagavatam Purana yang amat penting dipelajari oleh para pengkaji. Kitab Mahabharata terdiri atas 9 jilid besar dan kitab Srimad Bhagavatam Purana juga ada 44 jilid besar. Mengapa keduanya patut dipelajari? Alasannya sederhana, kitab Mahabharata ibarat “the Gospel of Krishna” bagi komunitas Hindu, sedangkan kitab Srimad Bhagavatam Purana ibarat Apostolic Letters (Perjanjian Baru/New Testament).

Di dalam kedua kitab itu memuat banyak mukjizat Krishna.

  1. Krishna berjalan di atas air dan tidak tenggelam.
  2. Krishna menyembuhkan orang buta sehingga orang tersebut bisa melihat, hanya dng sentuhan kakinya.
  3. Krishna melipatgandakan makanan menjadi banyak sehingga para brahmana semuanya dapat makan hingga kenyang.
  4. Krishna membelah lautan sehingga kering, hingga Arjuna dan Subadra tidak tenggelam.
  5. Krishna menghentikan matahari dari hukum alam sehingga tidak bergeser dari tempatnya.
  6. Masih banyak mukjizat lain yang dilakukan Krishna.

Mukjizat yang dilakukan Krishna ternyata 100% ada kesejajaran dng mukjizat yang dilakukan Kristus dan Musa. Sejarah itu berulang, dan hal ini menjadi bukti bahwa narasi teks keagamaan Brahmanic bertradisi Arya ternyata juga migrasi menjadi narasi teks keagamaan Abrahamic bertradisi Semit. The Gospel of Krishna lebih kuno dibanding the Gospel of Christ. Amazing.

Di antara komunitas agama sering kali melakukan semacam selected judgment. Mukjizat yang dilakukan Kristus dianggap sebagai “sejarah” karena agama Kristen diklaim sebagai “agama langit.” Sementara itu, mukjizat yang dilakukan Krishna dianggap sebagai “legenda” atau “dongeng” karena agama Hindu dijustifikasi sebagai “agama bumi.” Ini merupakan tindakan yang tidak jujur dan pseudo-akademik.

Bila seorang Kristiani terlalu berani dan gegabah menjustifikasi bahwa teks “The Gospel” (Injil) atau pun “The New Testament” (Perjanjian Baru) dianggap lebih tua dibanding teks Veda Mahabharata, maka sebaiknya mereka merenungkan pernyataan S.N. Dasgupta, Ph.D. dalam karyanya “A History of Sanskrit Literature: Classical Period” (Calcutta: University of Calcutta, 1947), hlm. xlix sebagai berikut.

“Though the Mahabharata underwent probably more than one recension and though there have been many interpolations of stories and episodes yet it was probably substantially in a well-formed condition even before the Christian era.”

Bila seorang Kristiani berani dan terlalu gegabah menjustifikasi kisah kehidupan dan mukjizat Krishna hanya dianggap sebagai “dongeng”, maka sebaiknya mereka juga merenungkan pernyataan Christopher Isherwood dalam karyanya “The Upanishads”, hlm. 28 beliau berkata:

“Sri Krishna has been called the Christ of India. There are in facts, some striking parallels between the life of Krishna as related in the Bhagavatam and elsewhere and the life of Jesus of Nazareth. In both cases legend and fact mingle.”

(Sri Krishna disebut juga sebagai Kristus dari India. Adanya fakta kesejajaran yang amat mencolok antara kehidupan Krishna dengan kehidupan Kristus dari Nazaret – sebagaimana catatan yang termaktub dalam kitab Srimad Bhagavatam dan kitab2 lainnya. Dalam kasus keduanya, Kristus van Indie dan Kristus van Nazareth, legenda dan fakta telah bercampur aduk).

Jadi berdasarkan pada pernyataan S.N. Dasgupta, maka teks Veda Mahabharata adalah teks tertua dibanding teks Injil atau pun teks Perjanjian Baru. Bahkan berdasarkan pernyataan Christopher Isherwood tersebut, maka bisa dibuktikan bahwa dalam dokumen teks suci kedua agama ini (Hindu dan Kristen) ternyata kita dapat menemukan adanya upaya glorifikasi atas historisitas sang tokoh yang kemudian bergeser menjadi meta-historis. Itulah sebabnya kita harus bijaksana menghargai perbedaan dan keunikan iman siapapun. Belajar mengenai sesuatu, apalagi berkaitan dengan iman – maka itu suatu keniscayaan yang semakin mencerdaskan iman kita sendiri.

 

 

This entry was posted in Christology, Interfatith Dialog and tagged , , . Bookmark the permalink.