Sejarah Yang Terlupakan Part 8

Shalom ‘aleychem
Assalamu ‘alaykum

Kajian Baal Haturim:
Ishmael hingga Sang Nabi SAW

Bila kita membaca Chamisha Chumshe Torah berbahasa Ibrani dengan berbasis pemahaman khas Baal Haturim, dan membaca kitab-kitab dalam hal lintas agama, kita akan menemukan kode-kode gematria yang bisa menjadi bahan renungan bagi siapapun.

Dalam Chamisha Chumshe Torah atau pun TaNaKH ternyata disebutkan adanya 12 generasi dari Noach hingga Yishmael atau pun Yitzhaq. Lihat Sefer Bereshit 10:1; Sefer Bereshit 11:10-32; I Tawarikh 1:17-28

  1. Noach
  2. Shem
  3. Arpachshad
  4. Shelah
  5. Ever
  6. Peleg
  7. Re’u
  8. Seruq
  9. Nahor
  10. Terah
  11. Avraham
  12. Yishmael – Yitzhaq

Bila kita membaca Quran, kita juga menemukan nama Ishmael disebut 12 kali saja. Dan bila kita membaca kitab TaNaKH, kita juga akan menemukan nama Kedar, yakni salah satu nama dari 12 nama anak-anak Ishmael (Sefer Bereshit 25:13-18), ternyata nama Kedar tersebut hanya disebut 12 kali juga. Hal ini sejajar dng nama Hagar istri Avraham, ternyata juga disebut hanya 12 kali saja dalam Chamisha Chumshe Torah. Di sinilah kode-kode itu mulai terbaca:

Nama اسما عيل (Isma’il) dalam kitab Quran yang teksnya berbahasa Arab tercantum 12 kali pengulangan.

  1. Al-Baqarah 2:125
  2. Al-Baqarah 2:127
  3. Al-Baqarah 2:133
  4. Al-Baqarah 2:136
  5. Al-Baqarah 2:140
  6. Ali Imran 3:84
  7. An-Nisa’ 4:163
  8. Al-An’am 6:86
  9. Ibrahim 14:39
  10. Maryam 19:54
  11. Al-Anbiya’ 21:85
  12. Shad 38:48

Nama קדר (Kedar) juga penyebutannya diulang 12 kali dalam seluruh kitab TaNaKH yang disebut teks Masoret Ibrani. Anda harus melacaknya dari teks Ibrani, bukan teks bhs Inggris atau pun bhs Indonesia.

  1. Kejadian 25:13
  2. I Tawarikh 1:29
  3. Mazmur 120:5
  4. Kidung Agung 1:5
  5. Yesaya 21:16
  6. Yesaya 21:17
  7. Yesaya 42:11
  8. Yesaya 60:7
  9. Yeremia 2:10
  10. Yeremia 49:28
  11. Yeremia 49:28 (2 x pengulangan)
  12. Yehezmiel 27:21

Nama הגר (Hagar) yakni nama istri Abraham, bukan sebutan הגרים atau sebutan הגריאים dan juga bukan sebutan הגרי. Jadi hanya merujuk pada nama istri Abraham, yakni Hagar saja yang dimaksud, ternyata dalam TaNaKH bhs Ibrani terulang juga 12 kali pengulangan. Oleh karena itu, jangan sekali-kali membuka fakta tekstual ini dng memakai Alkitab bhs Inggris ataupun terjemahan Alkitab dalam berbagai bahasa apapun. Bahkan Alkitab bhs Indonesia sekalipun.

  1. Sefer Bereshit 16:1
  2. Sefer Bereshit 16:3
  3. Sefer Bereshit 16:4
  4. Sefer Bereshit 16:8
  5. Sefer Bereshit 16: 15
  6. Sefer Bereshit 16:15 (2 x pengulangan)
  7. Sefer Bereshit 16:16
  8. Sefer Bereshit 21:9
  9. Sefer Bereshit 21:14
  10. Sefer Bereshit 21:17
  11. Sefer Beresbit 21:17 (2 x pengulangan)
  12. Sefer Bereshit 25:12

Tatkala membahas Sefer Bereshit 16:1 Rashi (Rabbi Shlomo ben Yitzhaq) juga menjelaskan bahwa Hagar, yang namanya tertulis 12 kali dalam Chamisha Chumshe Torah, ternyata Hagar adalah בת פרעה היתה (bat Par’oh hayetah), artinya: ‘Hagar, dia adalah anak perempuan/putri Firaun.’ Silakan Anda membaca penjelasan Rashi dalam kitabnya yang berjudul Ferush Rashi ‘al ha-Torah: Sefer Bereshit (New York: Mesorah Publications, 2011), hal. 154.

Begitu juga Targum Yonathan ben Uziel berbahasa Judeo-Aramaic yang ditulis pada abad ke-1 M, ternyata ditemukan data otentik mengenai istri Ishmael yang telah melahirkan 12 putera, termasuk putra Ishmael yang bernama Kedar. Dalam Targum Yonathan, terdapat data bahwa Ishmael beristri seorang perempuan yang bernama פטימא (Phetima) sesuai teks Targum Yonatahan, Sefer Bereshit 21:21 yang menyebut sbb:

ויתיב במדברא דפראן ונסיב אתחא ית עדישא ותרבה ונסיבת ליה אמיה ית פטימא אתהא מארעא דמצרים

‘And he dwelt in the wilderness of Pharan and took for a wife Adisha, but put her away. And his mother took for him Phatima to wife from the land of Egypt.

Sementara itu, dalam Pirkei de Rav Eliezer juga dijelaskan bahwa Abraham merestui פטימא (Phetima) sebagai istri Ishmael, serta mendoakan Ishmael dan keluarganya.

פרקי רבי אליעזר
פרק שלשים

ושלחה אמו ולקחה לו אשה מבית אביה ושמה פטומה. עוד לאחר שלוש שנים הלכ אברהם לראות את ישמעאל בנו. ונשבע לשרה כפעםראשונה. שאינו יורד מן הגמל במקום שישמעאל שרוי שם. והגיע לשם בחצי היום ומצא שם אשתו של ישמעאל. אמר לח, היכן הוא ישמעאל. אמרה לו הלך הוא ואמו לרעות את הגמלים במדבר. אמר לה תני לי מצט לחם ומצט מים כי עיפה נפשי מדרך המדבר. הוציאה ונתנה לו. עמד אברהם והיה מתפלל לפני הקדוש ברוך הוא על בנו. ונתמלא ביתו של ישמעאל מכל טוב. ממין הברכות.

Teks berdasarkan Pirkei de Rav Eliezer tersebut membuktikan bahwa Abraham memberkati Ishmael dan istrinya, yakni Phetima. Hal ini terbaca pada teks yang berbunyi sbb:

עמד אברהם והיה מתפלל לפני הקדוש ברוך הוא על בנו.

‘Amad Avraham ve hayah mi tefellel li pheney haq-qadosh baruch Hu ‘al beno.

Abraham bangkit dan berdoa utk anaknya (Ishmael) di hadapan Sang Maha Suci – terberkatilah Dia.

Berikut terjemahan lengkap dari teks tersebut:

” His mother (Hagar) sent and took for him a wife from her father’s house and her name was Phetima. Again after three years Abraham went to see his son Ishmael having sworn to Sarah as on the first occasion that he would not descend from the camel in the place where Ishmael dwelt. He came there at midday and found there Ishmael’s wife. He said to her: ‘Where is Ishmael?’ He replied to him: ‘ He has gone with his mother to feed the camels in the desert. He said to her: ‘Give me a little bread and water for my soul is faint after the journey of the desert. She fetched it and gave it to him. Abraham arose and prayed before the Holy One blessed be He for his son and thereupon Ishmael’s house was filled with all good things of the various blessings.”

Berdasarkan penjelasan dari Pirkei de Rav Eliezer ini, ternyata Hagar telah mengambil Phetima dari rumah Firaun, מבית אביה – mi beyt avih (dari rumah ayahnya), utk dinikahkan dng Ishmael. (his mother sent and took for him a wife from her father’s house and her name was Phetima).

Fakta ini membuktikan bahwa Hagar, Phetima dan Ishmael tidaklah kembali tinggal di negeri Firaun, tetapi justru keluar dari rumah Firaun. Bahkan keluar dari negeri Firaun. Keluar dari rumah Firaun bukan hanya sebagai penanda perpindahan secara geografis, tetapi sekaligus sebagai penanda perpindahan secara teologis. Jadi Phetima dibawa keluar oleh Hagar dari rumah Firaun dng tujuan: ” to cleanse Phetima from the idols of her father’s house.” Hal yang dilakukan oleh Hagar (the daughter of Pharaoh) terhadap Phetima sama persis sebagaimana yang dilakukan oleh Bithiah (the daughter of Pharaoh). ” She (Bithiah) went down to cleanse herself from the idols of her father’s house.” Fakta tekstual ini dapat dibaca dalam kitab Talmud.

R. Simon b. Pazzi once introduced an exposition of the Book of Chronicles as follows: ‘All thy words are one, and we know how to find their inner meaning’. [It is written], And his wife the Jewess bore Jered the father of Gedor, and Heber the father of Socho, and Jekuthiel the father of Zanoah, and these are the sons of Bithya the daughter of Pharaoh, whom Mered took. Why was she [the daughter of Pharaoh] called a Jewess? Because she repudiated idolatry, as it is written, And the daughter of Pharaoh went down to bathe in the river, and R. Johanan, [commenting on this,] said that she went down to cleanse herself from the idols of her father’s house. ‘Bore’: But she only brought him [Moses] up? – This tells us that if anyone brings up an orphan boy or girl in his house, the Scripture accounts it as if he had begotten him. ‘Jered’: this is Moses. Why was he called Jered? Because manna came down [yarad] for Israel in his days (Talmud Bavli, traktat Megillah 13a).

Fakta historis yang melibatkan perjalanan hidup Abraham, Hagar, Ishmael serta Phetima sebagaimana yang termaktub dalam Targum Yonathan dan Pirkei de Rav Eliezer semakin meneguhkan adanya makna dibalik fakta tekstual dalam TaNaKH (Torah Neviem ve Khetuvim) dan Quran yang membuktikan bahwa antara Noach – Ishmael ada 12 generasi, dan Ishmael yang berputra 12 orang juga disebut namanya 12 kali. Ibunya Ishmael yakni Hagar juga disebut 12 kali, dan anaknya Ishmael, yakni Kedar juga disebut 12 kali.

Ishmael disebut Arab Musta’ribah, dan Kedar juga disebut Arab Musta’ribah. Jadi, Arab Musta’ribah ini salah satunya dikenal melalui Kedar bin Ishmael. Dan dalam tulisan Maimonides (Rabbi Moshe ben Maymon), yang disebut אגרות הרמבם (Iggerot ha-Rambam) ternyata disebutkan bahwa Sang Nabi SAW adalah keturunan Kedar ben Yishmael. Kedar inilah yang memperanakkan Quraish, dan fakta sejarah juga membuktikan bahwa antara Quraish hingga Sang Nabi SAW ternyata ada 12 generasi, dan Quraish ini adalah keturunan Kedar ben Yishmael.

  1. Quraish
  2. Ghalib
  3. Lu’ai
  4. Ka’ab
  5. Murrah
  6. Kilab
  7. Qushai
  8. Abd. Manaf
  9. Hashim
  10. Abdul Muthalib
  11. Abdullah
  12. Sang Nabi SAW

الذين اءتينهم الكتاب يعرفونه كما يعرفون ابناءهم)

(البقرة 2:146)

אלה אשר נתנו להם את הספר מכירים אותו כפי שמכירים את בניכם
( סורת אלבקרה 2:146)

Elleh asher natannu lachem et has-Sefer machchirim oto kefiy shemmachchirim et b’neychem (Al-Baqarah 2:146).

Orang-orang yang telah Kami anugerahkan Al-Kitab mengenalnya (Muhammad SAW) seperti mengenal anak-anak mereka sendiri (Al-Baqarah 2:146)

ان الله اصطفى كنانة من ولد اسماعيل و اصطفى قريسا من كنانة واصطفى قريسا بني هاشم و اصطفى ني بني هاشم (صحيح مسلم )

Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya ALLH telah memilih Kinanah dari antara keturunan Ishmael, dan memilih Quraish dari antara keturunan Kinanah dan memilih bani Hashim dari antara keturunan Quraish dan memilih aku – kata Nabi SAW – dari antara bani Hashim (H.R. Imam Muslim).

Hashim, dari kalangan bani Ishmael, yang disebut kaum Arab Musta’ribah menikah dengan Salma bin Amr dari kalangan bani Israel, yang disebut kaum Yahudi Musta’ribah. Itulah sebabnya keturunan mereka disebut bani Hashim yang membedakan mereka dari kaum Arab Aribah dan kaum Arab Musta’ribah lainnya.

Nasab biologis Sang Nabi SAW dari jalur ayah, ternyata secara genetis nasabnya bersambung kepada Yishmael melalui Hashim. Begitu juga nasab biologis Sang Nabi SAW dari jalur ibu, ternyata secara genetis nasabnya bersambung kepada Yitzhaq melalui Salma binti Amr.

Dan yang pasti, Yizhaq dan Yishmael masing-masing adalah generasi ke-12 dari Noach melalui Avraham. Ini bila dilacak melalui kitab Torah.

Dengan demikian, rangkain kode-kode antara TaNaKH dan Quran berkaitan dng nasab Sang Nabi SAW bisa jadi merupakan kebetulan, atau bisa jadi ada semacam grand design-Nya yang sengaja telah dimapankan-Nya. Fakta ini agak berbeda bila kita bandingkan dng nasab yang dinisbatkan kepada Yesus yang berpola 14 generasi, sebagaimana dalam Injil Matius. Meskipun menggunakan pola gematria, ternyata bila silsilah Yesus yang tercantum pada Injil Matius yang kemudian dibandingkan dng TaNaKH justru banyak ketidakcocokan dan terkesan dipaksakan. Banyak nama-nama yang tercantum dalam TaNaKH justru dibuang demi menyesuaikan dng pola 14 generasi. Bila nama-nama itu tdk dibuang, maka St. Matius kesulitan menerapkan pola gematria 14 generasi tsb, karena faktanya dalam catatan silsilah dalam TaNaKH justru tercatat lebih dari 14 generasi. Bahkan ditambahkan juga nama-nama yang tidak tercatat dalam TaNaKH yang kemudian dirangkai pada silsilah Yesus demi terciptanya pola gematria yang secara de facto tidak sesuai dng catatan yang termaktub dalam kitab TaNaKH apa adanya. St. Lukas dalam Injilnya justru beliau mencantumkan nama-nama fiktif yang tidak tercantum dalam kitab TaNaKH dalam rangka merangkai silsilah Yesus Kristus. Dalam Injil Lukas 3:34-36 tercantum 2 nama manusia fiktif yang tidak tercatat dalam TaNaKH yang dicampuradukkan dng nama-nama manusia historis.

  1. Noach
  2. Shem
  3. Arpachshad
  4. Kenan
  5. Salmon
  6. Ever
  7. Peleg
  8. Reu
  9. Serug
  10. Nahor
  11. Terah
  12. Abraham
  13. Yitzhaq

Ada 13 generasi antara Noach hingga Yitzhaq menurut catatan Injil Lukas, dan hal ini tidak sejajar dng catatan TaNaKH yang mencatat hanya ada 12 generasi antara Noach hingga Yitzhaq. Apakah catatan kitab TaNaKH milik kaum Yahudi yang keliru? Apakah catatan kitab Injil Lukas yang keliru? Apakah nama Salmon dalam Injil Lukas adalah nama lain dari Shelah dalam catatan TaNaKH? Saya tidak menemukan teks Rabbinik yang bisa dijadikan pembanding yang kedua nama itu merujuk pada person yang sama. Nama Kenan yang tercantum dalam Injil Lukas juga tidak tercantum dalam kitab TaNaKH atau pun teks Rabbinic yang lain. Hal yang mungkin justru adanya error dalam catatan Injil Lukas. Itulah bedanya real gematria dan pseudo-gematria.

Baruch HASHEM.

Leave a comment

Sejarah Yang Terlupakan Part 7

Shalom ‘aleychem
Assalamu ‘alaykum

 

Genealogy Discussion:
Yeshu Ben Stada dan Yeshu Ben Panthera

Jimmy Jeffry telah berupaya membangun sebuah ‘wacana baru’ tentang status Yesus kepada para pembacanya. Hal ini dilakukan untuk menepis pencitraan negatif terhadap sang tokoh (Yesus) sebagaimana narasi yang telah termaktub dalam kitab Talmud. Jimmy Jeffrey berupaya menggiring opini publik untuk menyatakan bahwa Yesus dalam kitab Talmud itu tidak valid atau pun ahistoris. Padahal redaksional teks yang termaktub dalam kitab Talmud dan kitab PB menegaskan adanya ingatan kolektif yang sama atas peristiwa historis yang menyangkut sang tokoh itu sendiri. Dalam kitab Talmud redaksional teksnya menggunakan sebutan Yeshu Ben Stada yang menyematkan pencitraan negatif, sedangkan dalam kitab PB redaksional teksnya menggunakan sebutan Yeshu Ben Miryam yang menyematkan pencitraan positif. Kedua pola redaksional ini sebenarnya menyuguhkan data historis yang sama, yang menandai adanya kedekatan kesamaan wacana, yakni sang tokoh Miryam yang disapa dng gelar Stada; akronim dari Satit da mi ba’alah (sang perempuan yang tidak setia kepada suaminya).

Jimmy Jeffrey telah menuliskan bantahan panjang lebar tentang pandangan orang-orang Yahudi terhadap Yesus berdasarkan literatur rabbinik berkaitan dng Yesus sebagai anak hasil dari perzinahan. Jimmy Jeffrey juga mengakui bahwa kajian historis tentang pandangan literatur rabbinik ini memang cukup komprehensif sebagaimana yang telah saya sajikan pada ” Sejarah Yang Terlupakan Part ke-6: Yeshu Ben Panthera.” Namun, pada tulisan bantahannya yang berjudul ” Genealogy Discussion: Series 3 ” Jimmy Jeffrey sengaja menggiring opini kepada para pembacanya untuk berpandangan bahwa narasi Yeshu ha-Notzri yang disapa dng sebutan Yeshu Ben Stada atau Yeshu Ben Panthera sebagaimana yang termaktub dalam kitab Talmud merupakan narasi fakta historis yang merujuk pad Yesus yang lain (the other Jesus), dan bukan merujuk kepada Yeshu ha-Notzri yang disapa dng sebutan Yeshu Ben Miryam sebagaimana versi PB. Selain itu, Jimmy Jeffrey juga tidak kritis mencermati informasi yang disajikan dari data tekstual yang terekspresi dalam kitab Talmud, dan sekaligus tidak kritis bahkan terkesan ipse dixit terhadap data historis sebagai bantahan yang dipaparkannya, tanpa memperhatikan detail dari informasi tersebut.

Perbedaan pandangan antara Yahudi dng Kristen terkait tokoh Yeshu Ben Stada dan Yeshu Ben Miryam itu adalah fakta historis yang sama-sama berakar pada ingatan kolektif masyarakat pendukungnya. Teks Talmud dan teks PB yang disakralkan oleh masing-masing agama tidaklah pernah lahir dalam ruang hampa. Masing-masing teks tersebut memiliki keunikan dari hasil ingatan kolektif yang kemudian menjadi keyakinan kolektif masing-masing pemilik teks. Pandangan Yahudi yg terekam dalam kitab Talmud dan ulasan para scholars yang saya sajikan dalam tulisan saya tersebut memang pada prinsipnya menolak konsep the virgin birth. Hal ini tidak ada sangkut pautnya dng ketidaan daya kritis saya terhadap pandangan itu, terutama terkait pandagan Quran tentang sang tokoh Yeshu ha-Nitzri (Yesus orang Nazareth). Teks Quran terkait konsep the virgin birth tidak memiliki daya otoritas atas peristiwa yang terjadi menyangkut Yeshu ha-Notzi, karena Quran bukanlah teks yang berperan sebagai saksi fakta, tetapi Quran hanya bisa diajukan sebagai teks yang berperan sebagai saksi ahli. Itu pun tidak penting, karena kesaksian Quran sebagai teks saksi ahli hanya bersifat sekunder, tetapi tidak dijadikan sebagai alat bukti. Bukankah Quran baru terbit 600-an tahun kemudian pasca peristiwa itu terjadi? Jadi tidak penting menjadikan Quran sebagai alat bukti, apalagi diposisikan sebagai teks yang berperan sebagai saksi fakta, karena Quran – dalam tinjauan ilmu hukum – hanya memiliki nilai sebatas teks yang berperan sebagai saksi ahli, bukan teks yang berperan sebagai saksi fakta.

Oleh karena itu, teks Quran yang baru muncul 600-an tahun setelah peristiwa itu terjadi, maka sangat tidak mungkin bila teks tsb dijadikan alat bukti yang otoritatif. Namun Quran dalam konteks ini hanya sebatas merekam data pertarungan wacana yang memang benar2 faktual terjadi dalam sejarah. Pertarungan wacana itu dipotret secara apa adanya dalam redaksional teks Quran. Pada satu sisi, Yeshu ha-Notzri disebut sebagai Ben Stada, yakni anak dari seorang perempuan yg tdk setia kepada suaminya, sebagaimana teks yang termaktub dalam dalam Talmud. Sementara itu, wacana yang menyejarah ini pun tertulis dalam Qs. Maryam 19:27 yang menyebut Maryam sebagai wanita pezinah. Pada sisi yang lain, Quran juga menyuguhkan fakta lain yang merekam wacana tandingan ttng konsep the virgin birth, yakni kelahiran Yesus dari seorang perawan (Qs. Maryam 19:20). Di sinilah posisi Quran yang berperan sebagai saksi ahli dng cara menyuguhkan wacana alternatif. Di sinilah adanya penilaian Quran sebagai wacana penyeimbang terhadap pertarungan wacana yang telah mapan sebelumnya, dan yang telah menyejarah itu, terutama berkaitan dng anggapan orang-orang Yahudi dan Kristen terhadap Yesus dan Maryam yang ternarasikan dalam kitab Talmud dan kitab PB. Jadi sangat tidak mungkin bila Quran dijadikan sebagai bukti otoritatif, karena faktanya tdk ada dokumen pembanding apapun yang menyatakan bahwa Yesus anak seorang perawan selain teks PB yang telah ada 600-an tahun sebelum kitab Quran ditulis. Jika Injil mengatakan bahwa Yesus anak seorang perawan, apakah penulis Injil mengetahui kejadian itu sebagai saksi mata? Ternyata tidak demikian. Penulis Injil yang merekam kejadian itu hanya berperan sebagai testimoni de auditum, yakni kesaksian yang cuma katanya -katanya, dan tdk ada yg tahu secara langsung atas peristiwa the Virgin Birth itu. Dengan demikian, meskipun Quran membenarkan konsep Virginity, tetapi teks Quran sama sekali tidak menolak adanya peristiwa tuduhan perzinahan yang dialamatkan kepada Maryam, sebagaimana yg diceritakan dalam teks Talmud yang disapa dng sebutan ha-Stada – Satit da mi ba’alah (sang perempuan yg tidak setia kepada suaminya).

Jimmy Jeffrey dalam ulasan bantahannya telah mengakui adanya masalah perubahan redaksional teks yang terjadi dalam kitab Talmud & literatur rabbinik lainnya, terutama berkaitan dengan rujukan kepada Yesus sebagaimana yang tercatat dalam PB. Jimmy Jeffrey mengakui bahwa teks yang berkaitan dgn Yesus telah mengalami sentuhan pengeditan dari pihak Yahudi karena faktor tekanan dari kekristenan saat itu. Dalam sejarah terdapat pihak2 tertentu dlm kekristenan yang sangat keras terhadap orang-orang Yahudi sehingga menyita & membakar manuskrip2 kitab Talmud, Midrash dan literatur rabbinik lainnya. Bahkan Jimmy Jeffrey mengutip pernyataan Morris Goldstein dalam bukunya Jesus in the Jewish Tradition, New York: Macmillan Publishing Co, 1950, yang menyajikan data otentik yang cukup gamblang menjelaskan hal ini, terutama mengenai perintah dari otoritas Yahudi untuk menghilangkan rujukan2 tentang Yesus dari Nazareth dalam kitab Mishnah dan teks Gemara atau pun mengubahnya, sehingga rujukan yg berkaitan dgn Yesus telah berubah bentuknya. Menururnya, dari teks Talmud Babilonia kita bisa melihat pada catatan kakinya mengenai versi yg belum disensor tsb. Buku bacaan Jimmy Jeffrey yang menyitir ulasan Morris Goldstein terkait adanya pembakaran, pengeditan dan perubahan redaksional teks yang berkaitan dng seluk beluk ketokohan Yeshu ha-Notzri sebagaimana yang termaktub dalam teks Talmud itu juga diakui oleh Adin Steinsaltz dalam bukunya The Essential Talmud (Basic Books, 1976). Perubahan dan pengeditan redaksional teks dalam Talmud, bahkan pembakaran besar-besaran terhadap kitab Talmud terkait pencitraan negatif ketokohan Yesus versi PB ternyata tidak dibaca secara kritis oleh Jimmy Jeffrey, sehingga dia menyimpulkan bahwa nama-nama seperti Yeshu Ben Stada & Yeshu Ben Panthera dalam kitab Talmud yang ada saat ini tidak dianggap merujuk pada Yesus dari Nazareth, Yeshu ha-Notzri sebagaimana yang termaktub dalam PB. Jimmy Jeffrey sekan-akan menutup mata tentang latar historis dan alasan apa yang menjadi penyebab adanya pembakaran, pengeditan redaksional Talmud sebagaimana yang telah diulas sebelumnya. Bahkan Jimmy Jeffrey tidak mencamtumkan detail alasan pembakaran dan pengeditan teks Talmud itu secara gamblang. Padahal ulasan Morris Goldstein itu telah dijadikannya sebagai argumentum ad persona. Jimmy Jeffrey tidak cermat melihat detail redaksional teks Talmud saat ini yang dianggapnya bukan merupakan bagian dari hasil pengeditan dan perubahan/revisi teks yang menjadi penyebab atau pun pemicu adanya pembakaran kitab Talmud. Ini menurut saya merupakan nalar yang absurd. Anehnya, Jimmy Jeffrey juga langsung mengadopsi pemahaman ahistoris bahwa Yeshu Ben Stada itu bukan Yesus anak Maryam, yakni Yeshu Ben Miryam sebagaimana yang tercantum dalam PB. Jadi secara tegas disimpulkan bahwa redaksional teks Yeshu Ben Stada itu bukanlah bagian dari teks kekristenan yang mengalami pengeditan dan perubahan. Ini merupakan argumentasi yang tidak mengedepankan nalar kiritis, tapi lebih mengedepankan nalar ahistoris.

Demi melempangkan nalar ahistorisnya, Jimmy Jeffrey mengutip pernyataan R.T. France yang mengingatkan agar kita berhati-hati mengambil informasi “sejarah” dari literatur rabbinik, karena menurutnya sejarah itu sendiri bukan merupakan pokok pembahasan dari para rabbi. Informasi sejarah hanya muncul sebagai ilustrasi untuk uraian yg berkaitan dgn hukum dan teologi (France R.T. The Evidence for Jesus, Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1986). Kitab Talmud dalam pandangan Judaism bukan sekedar kumpulan midrash Halacha yang menyangkut persoalan hukum, tetapi juga merupakan kumpulan midrash Aggada yang penyangkut persoalan teologi dan sejarah. Bukankah Rabbi-rabbi telah menginstruksikan adanya penyesuaian dan pengeditan teks Talmud akibat tragedi pembakaran dari pihak Gereja yang berkuasa saat itu? Jadi teks yang dianggap ‘ ancaman ‘ yang merupakan teks historis itu dihilangkan dan sekaligus disamarkan dng menggunakan pola kebahasaan khas Rabbinik yang hanya kaum terpelajar Yeshiva saja yang memahami pesan historis dibalik teks yang mengalami pengeditan itu, sesuai pengajaran di Yeshiva yang diwariskan dari generasi ke generasi. Substansi historis tetap sama, yakni berkaitan dng ketokohan Jesus Christ meskipun redaksional teksnya mengalami pengeditan demi menghindari ketegangan yang kontra produktif. Dalam hal ini Jimmy Jeffrey kurang “berhati-hati” dan gagal melihat teks2 tsb dlm Talmud sebagai sebuah pengeditan dan penyesuaian yang sebenarnya tetap mengandung fakta historis yang telah disamarkan subyeknya.

Dalam teks Talmud Babilonia yg menyebutkan nama Yeshu Ben Stada & Yeshu Ben Panthera dapat dibaca pada bagian teks
Talmud, Masechet Shabbath 104b:

HE WHO SCRATCHES A MARK ON HIS FLESH, [etc.] It was taught. R. Eliezer said to the Sages: But did not Ben Stada bring forth witchcraft from Egypt by means of scratches18 [in the form of charms] upon his flesh? Versi yg tdk disensor: Was he then the son of Stada: surely he was the son of Pandira? Said R. Hisda: The husband was Stada, the paramour was Pandira. But the husband was Pappos b. Judah? — His mother was Stada. But his mother was Miriam the hairdresser? — It is as we say in Pumbeditha: This one has been unfaithful to (lit., ‘turned away from’ — satath da) her husband. — On the identity of Ben Stada v. Sanh., Sonc. ed., p. 456, n. 5.

Menurut analisis Travers Herford sebagaimana yang dikutip Jimmy Jeffrey – jika Ben Stada yg dimaksud adalah Yesus, dan nama Maria (Miriam) sebagai Stada yang bersuamikan Pappos ben Judah (Yehuda), maka muncul anakronisme di sini. Karena Pappos ben Judah hidup sezaman dgn rabbi Akiba yaitu sekitar thn 135 M.

“..Pappos ben Jehudah, whom the Gemara alleges to have been the husband of the mother of Jesus, is the name of a man who lived a century after Jesus, and who is said to have been so suspicious of his wife that he locked her into the house whenever he went out (b. Gitt. 90a ). He was contemporary with, and a friend of, R. Aqiba ; and one of the two conflicting opinions concerning the epoch of Jesus places him also in the time of Aqiba. Travers Herford, Christianity in Talmud & Midrash, William & Norgate, London, 1953 page 40.

Jadi Ben Stada disebut berasal dari Mesir & membawa sihir dari sana, penyebutan Ben Stada ini lebih merujuk pada orang Mesir sebagaimana tertulis dlm PB, Kis 21:38 “Jadi engkau bukan orang Mesir itu, yang baru-baru ini menimbulkan pemberontakan dan melarikan empat ribu orang pengacau bersenjata ke padang gurun?” Keterangan dlm PB ini sejalan dgn tulisan Joshepus, Antiquities 20:8:6

“.. Moreover, there came out of Egypt (20) about this time to Jerusalem one that said he was a prophet, and advised the multitude of the common people to go along with him to the Mount of Olives… Now when Felix was informed of these things, he ordered his soldiers to take their weapons, and came against them with a great number of horsemen and footmen from Jerusalem, and attacked the Egyptian and the people that were with him…”

Jimmy Jeffrey ternyata tidak hati-hati dan gagal paham membaca ulasan Flavius Josephus. Bahkan Jimmy Jeffrey juga gagal paham mengenai ulasan rabbinik mengenai Yeshu ha-Notzei yang merupakan perlawanan wacana (counter discourse) terhadap wacana khas kekristenan yang termaktub dalam PB, dan kedua wacana itu sebenarnya fakta historis yang terjadi pada zamannya sebagai sebuah rekaman kolektif yang saling menafikan. Dalam kitab Talmud, Ben Stada disamakan dgn Ben Pandera (Panthera) yang memang dalam Talmud pada bagian yg lain Ben Pandera lebih merujuk pada Jesus Christ seperti dlm Talmud Babilonia: Abodah Zarah 27b dan Talmud Yerusalem: Shabbath 14d & Abodah Zarah 40d. Dengan demikian, penyebutan Ben Stada yang merujuk kpd Jesus Christ jelas terkait dng Ben Panthera, dan sangat akurat relasi redaksional teksnya yang faktanya mengalami berkali-kali penyesuaian dan pengeditan, Maka, sangat gegabah bila para rabbi generasi Amoraim didakwa telah membuat ‘legenda’ padahal mereka mewarisinya dari generasi Tanaim yang telah menjadi saksi fakta atas peristiwa itu.

Apalagi para rabbi dari generasi Amoraim dianggap melakukan gejala anakronisme, yakni mencampuraduk kisah orang Mesir itu dgn Yesus. Apalagi Jimmy Jeffrey secara apriori mendakwa kitab Talmud tidak valid bila narasi teksnya berkaitan informasi mengenai sejarah, dan tidak bisa diandalkan. Sekali lagi, sejarah menurut siapa? Sejarah dibuat atas kepentingan penguasa dan motif politik yang melatarinya. Bukankah kitab PB dan kitab Talmud adalah rekaman sejarah pergolakan wacana yang saling menafikan antara Judaism dan Kristen? Sejarah adalah rekaman politik masa lalu yang berfungsi sebagai legitimasi ‘ kebenaran ‘ yang memihak, yang kemudian disakralkan menjadi sebuah teks suci, bukan kebenaran yang netral, apa adanya.

Leave a comment

Sejarah Yang Terlupakan Part 6

Shalom ‘aleychem
Assalamu ‘alaykum

Yeshu (ha-Notzri) ben Panthera

Penyebutan istilah ha-Notzrim, yakni followers of the man of Nazareth – para pengikut orang Nazareth – termaktub dalam kitab Perjanjian Baru (Kisah Para Rasul 24:5). Konteks ayat tersebut sebenarnya berkaitan dng figur Paulus sebagai seorang tokoh sentral dari komunitas הנצרים (ha-Notzrim, sekte orang Nasrani). Sementara itu, nama Yeshu yang bergelar ha-Notzri sebagai nama tokoh sentral juga termaktub dalam kitab Talmud (B’rachot 17b, Sotah 47a). Sebutan ha-Notzri bukanlah nama seseorang, tetapi merujuk pada asal wilayah seseorang. Itulah sebabnya dalam kitab Talmud, sang tokoh disapa dng sebutan populer Yeshu ha-Notzri (Jesus of Nazareth), sebagaimana yang tertulis dalam kitab PB (Injil Lukas 18:37).

Ada satu hal yang sangat menarik berkaitan dengan status Yeshu ha-Notzri – Yesus orang Nazaret – yang dituduh oleh orang-orang Yahudi pada zamannya sebagai anak zinah dng menggunakan ungkapan khas kultur Semitik. Dalam teks Peshitta, yakni kitab Perjanjian Baru berbahasa Syro-Aramaic, nas Yohanes 8:41 tertulis demikian: חנן מן זניותא לא הוין (chanan min zaniuta lo hawayn) sejajar dng teks Perjanjian Baru terjemahan bhs Ibrani, yang berbunyi: אנחנו לא נולדנו מזנות (Anahnu lo noladnu mi zenut), yang artinya: ” Kami tidak dilahirkan dari zinah.” Istilah זנות (zenut) sejajar dng term Yunani ‘porneias’ yang bermakna ‘zinah’ sebagaimana yang termaktub dalam nas Yohanes 8:41, kitab Perjanjian Baru versi teks Greek New Testament (GNT). Istilah porneias dalam term Yunani, menurut Cleon L. Rogers JR dan Cleon L. Rogers III dalam karyanya The New Linguistic and Exegetical Key to the Greek New Testament bermakna fornication, unlawful sexual relation (Michigan: Zondervan Publishing House, 1998), hal. 203.

Ungkapan bergaya satire ” Kami tidak dilahirkan dari zinah” sebenarnya bukan ditujukan kepada mereka yang mengungkapkan ungkapan itu, tetapi sebaliknya – yakni ditujukan kepada lawan bicara. Ungkapan satire yang menyasar kepada Yesus yang dituduh oleh orang-orang Yahudi sebagai anak zinah tersebut juga dibenarkan oleh para pakar Alkitab. Silakan Anda baca tulisan Leon Morris, the Gospel According to John. Revised Edition. The New Inter ational Commentary on the New Testament (Cambridge, UK: William B. Eerdmans Publishing Company, 1995), hal. 409 ketika membahas Yohanes 8:41, dia menjelaskan:

” They answer that they are not illegitimate children which is a very curious response. They may be reviling Jesus. While they would not have given countenance to the Christian doctrine of the Virgin Birth, the Jews may well have known that there was something unusual about the birth of Jesus and have chosen to allude to it in this way. There was of course a Jewish slander that Jesus was born out of wedlock (see the passage cited in R. Travers Herford, Christianity in Talmud and Midrash (London, 1903, p. 35ff).

Pembacaan James D. Tabor terhadap teks Nag-Hammadi, khususnya the Gospel of Thomas, dalam karyanya berjudul The Jesus Dynasty (New York: Simon & Schuster, 2006), hal. 63 mengutip Sabda Yesus no. 105, teksnya berbunyi:

” One who knows his father and his mother will be called the son of whore.” Tatkala memahami Sabda Yesus no. 105 tersebut, James D. Tabor menyatakan: “many scholars have found in this crytic saying an echo of the ugly label that Jesus had faced throughout his life – namely that his mother Mary had become pregnant out of wedlock. The Gospel of Thomas has no birth stories or references to Joseph or to the virgin birth here in this text we appear to have some reflection of the illegitimacy story.”

Begitu juga Amy-Jill Levine and Marc Zvi Brettler dalam bukunya The Jewish Annotated New Testament (New York: Oxford University Press, 2011), hal. 176 tatkala menjelaskan teks Yohanes 8:41, keduanya menjelaskan dan sekaligus mengutip pernyataan dari Bapa Gereja kuno yang bernama St. Origin:

” We are not illegitimate, perhaps an implied contrast to Jesus’ supposed illegitimacy (Origin, Cels 1.28). Selain itu, pakar Alkitab dari kalangan Kristen Messianik yang bernama David H. Stern dalam bukunya Jewish New Testament Commentary: A Companion Volume to the Jewish New Testament, ketika menjelaskan Yohanes 8:41 dia bahkan secara tegas mengatakan: ” We are not illegitimate children, like you (implied)! Apparently they knew something about unusual circumstance of Yeshua’s birth. ” (Clarksville, USA: Jewish New Testament Publications, 1992), hal.183.

Marc Zvi Brettler dan David H. Stern keduanya terlahir dari kultur Ibrani. Keduanya pasti paham betul tentang suatu maksud di balik ekspresi ungkapan Ibrani itu. Apalagi ungkapan Ibrani yang bernada ejekan itu faktanya diucapkan oleh orang-orang Yahudi di hadapan Yesus – face to face. St. Origin, salah seorang Bapa Gereja kuno juga meneguhkan hal tsb sebagai ungkapan yang menyasar kepada status Yesus sebagai anak zinah. Tidak ada seorang pun dari antara Bapa Gereja kuno yang menentang pernyataan St. Origin. Dengan demikian, fakta ini membuktikan bahwa pernyataan orang-orang Yahudi yang termaktub pada Yohanes 8:41 itu sebenarnya menyasar kepada status Yesus sbg anak zinah. Itulah sebabnya David H. Stern tatkala mengomentari nas Yohanes 8:41, beliau menegaskan bahwa ungkapan mereka yang diucapkan di hadapan Yesus itu – menurut David H. Stern mengandung makna: “Kami tidak dilahirkan dari hasil perzinahan seperti kamu ! ”

Ekspresi ungkapan satire dalam kultur Semitik ini ternyata juga ada kesejajarannya dng teks Quran, meskipun setting-nya berbeda. Bila dalam teks Perjanjian Baru, ungkapan satire itu ditujukan kepada Yesus yang dituduh sebagai anak zinah, sedangkan ungkapan satire dalam teks Quran tersebut adalah pernyataan orang-orang Yahudi, tepatnya dewan Sanhedrin, yang pernyataan itu ditujukan kepada Maryam sebagai lawan bicara, yang dituduh sebagai pelaku zinah, dan ungkapan itu sebenarnya bukan ditujukan kepada ibunya Maryam. Yoel Yosef Rivlin, sang penerjemah Quran dalam bahasa Ibrani, tatkala menerjemahkan nas Qs. Maryam 19:27, teksnya tertulis demikian:

הוי אחות אהרון לא היה אביך איש בליעל ולא היתה אמך זונה

(פרשת מרים 19:27).

Ungkapan satire, yakni ungkapan ejekan yang disampaikan scr tidak langsung (indirectly), yang ditujukan di hadapan lawan memang merupakan common heritage antara tradisi Yahudi dan Arab, yang sama-sama berakar dari budaya Semitik. Dalam konteks ini, Yoel Yosef Rivlin menggunakan frase berikut: לא היחה אמך זונה (lo hayetah immecha zonah) yang artinya: “… ibumu bukanlah seorang pezinah” (Maryam 19:27). Frase ini merupakan ekspresi sindiran/ ejekan yang ditujukan kepada lawan bicara secara face to face, yakni ditujukan kepada Maryam – yang dituduh sebagai perempuan pezinah.

Dalam kitab Talmud Bavli (Nezikin traktat Sanhedrin 63a, 47a) atau pun pada bagian traktat-traktat lainnya, ternyata di dalam kitab Talmud hanya disebutkan 3 frase kunci (1) Yeshu ha-Notzri, (2) Yeshu ben Stada, (3) Yeshu ben Panthera. Saya tidak menemukan 1 pun frase yang menyebut nama Yeshu ben Yosef. Hal ini menjadi indikasi kuat bahwa dalam kitab Talmud nama Yeshu yang nasabnya disandarkan kepada Yosef benar-benar nihil, dan ini membuktikan bahwa status Yesus tidak diakui sebagai anak angkat Yusuf secara de jure atau pun anak biologis Yusuf secara de facto. Dengan kata lain, Yesus tidak memiliki nasab biologis dng Yusuf, bahkan Yesus juga tidak memiliki nasab yuridis dng Yusuf. Justru pada satu sisi, Yesus dalam kitab Talmud, ternyata nasab biologisnya dihubungkan dng tokoh historis yang bernama Panthera; dan pada sisi yang lain, nasab biologis Yesus juga dihubungkan dng tokoh historis yang disapa dng sebutan Stada. Mengenai tokoh historis yang bernama Panthera ini, James D. Tabor menyuguhkan sebuah bukti manuskrip yang ditulis pada 178 M., dalam teksnya tersebut adanya kisah hubungan antara Mary dan Panthera. James D. Tabor mengatakan:

” The earliest version of the Panthera story comes from a Greek philosopher named Celcus. In an anti-Christian work titled ‘On the True Doctrine’ written around A.D. 178, he relates a tale that Mary was pregnant by a Roman soldier named Panthera and was driven away by her husband as an adulterer…. Panthera is a real name, not a concocted term of slander.” (pp. 64-65).

Sementara itu, sapaan gelar Stada yang merupakan akronim dari ungkapan [Satit da mi ba’alah ], yang artinya: ” perempuan yang tidak setia kepada suaminya”, ternyata ungkapan itu ditujukan kepada sang ibu yang melahirkan Yesus, yakni Maryam. Ada hal menarik pada sapaan ejekan yang disematkan kepada Maryam tersebut, yakni term בעל (ba’al) yang artinya ‘suami.’ Dalam Torah, Sefer Devarim 22:13-22 terkait perikop ” Masalah Keperawanan”, ternyata status seorang suami disebut בעל (ba’al). Silakan Anda cermati Sefer Devarim 22:22. Istilah בעל (ba’al) utk menyebut sang suami merupakan istilah yang sangat lazim dalam kitab Torah, kitab Talmud dan kitab Quran. Dalam kitab Quran disebutkan ayat yang menggunakan term بعل (ba’al) pada teks berikut:

قالت يويلتىء الد وانا اجوز وهذا بعلي شيخا ان هذا لشيىء عجيب

(صورة هود 11:72)

ותאמר אוי לי האלד ואני זקנה וזא בעלי זכן

(פרשת הוד 11:72)

Va tomer oi liy haeled va ani zeqenah ve zeh ba’ali zaqen (Hud 11:72).

Istri (Ibrahim) berkata: ” Sungguh mengherankan, bagaimana aku akan melahirkan seorang anak, padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan suamiku ini sudah tua. Sungguh ini benar-benar sesuatu yang menakjubkan.”

Istilah بعلي (ba’liy) dalam bhs Arab sejajar dengan istilah בעלי (ba’aliy) dalam bhs Ibrani. Dengan demikian, bila dalam kitab Talmud, Maryam disapa dengan sebutan ha-Stada (Satit da mi ba’alah) yang artinya: ” sang perempuan yang tidak setia kepada suaminya “, ternyata sebutan בעל tsb bukanlah istilah rekayasa yang baru muncul pada era Kristen, yang kemudian mengkristal menjadi sebuah mitos. Bahkan istilah בעל tersebut telah eksis sejak era pra-Kristen sesui nas yang termaktub dalam Torah. Jadi tidak tepat bila sapaan ha-Stada itu sebuah imaji, tapi justru sebaliknya, yakni merupakan fakta historis yang terekam dalam dokumen yang telah disakralkan oleh masing-masing penganut agama.

Oleh karena itu, kita harus banyak membaca buku-buku agar kita lebih arif memahami berbedaan wacana sehingga kita tidak terlalu gegabah menyatakan sesuatu.

אלחמד ללה רב אלעלמין

Leave a comment

Sejarah Yang Terlupakan Part 5

Shalom ‘aleychem
Assalamu ‘alaykum

 

Bunda Sang Nabi Seorang Yahudi

ברוך אתה הי אלהינו מלך העלם
רחםנא הי אלהינו על ישראל עמך
ועל ירושלים עירך
ועל ציון משכן כבודך
ועל מלכות בית דוד משיחך
ועל הבית הגדול והקדוש שנקרא שמך עליו.

David H. Stern dalam bukunya ‘Jewish New Testament Commentary (Jewish New Testament Publications, 281) menyatakan:

Jewish and non-Jewish descent are invariably traced through the mother, not the father. The child of a Jewish mother and a Gentile father is Jewish, the child of a Gentile mother and a Jewish father is Gentile …. Lawrence H. Schiffman has a chapter ‘The Jew by Birth’ in which he dates matrilineal Jewish descent to at least the second and probably the first century C.E., adducing as evidence Mishnah Kiddushin 3:12; Tosefta Kiddushin 4:16 and Josephus. Among the supportive biblical passages is Ezra 10:2-3.

Penjelasan David H. Stern tsb membuktikan bahwa status seseorang sebagai Jewish atau pun Gentile (Hebrew: Goyim) ditentukan dari garis ibu. Dengan demikian, menurut perspektif Mishnah maupun kitab Talmud, maka status Yesus adalah seorang Jewish, karena Maryam seorang Jewess sedangkan ayah biologis Yesus adalah seorang Gentile (Goyim) serdadu Romawi, yang bernama Panthera. Sementara itu, menurut perspektif Mishnah maupun kitab Talmud, status Sang Nabi SAW juga diakui sebagai seorang Jewish karena ibu kandungnya seorang Jewess, dan ayah kandungnya pun bukan sekedar seorang Arab Musta’ribah, tapi juga seorang Jewish, karena Abdullah ibn Abdul Muthalib adalah seorang Jewish, keturunan dari Salma binti Amr, yakni seorang perempuan Yahudi Musta’ribah. Dengan demikian, status Yesus sebagai seorang Jewish tidak sebanding bila dibandingkan dng status Sang Nabi SAW sebagai seorang Jewish, terutama mengacu pada tradisi Yahudi dan kitab Talmud. Mengapa demikian? Alasannya sederhana saja. Yesus memiliki silsilah biologis dari garis ibu sebagai penanda bahwa Yesus seorang Jewish, tetapi Yesus tidak memiliki silsilah biologis dari garis ayah sebagai penanda bahwa dirinya sebagai seorang Jewish. Sementara itu, Sang Nabi SAW memiliki silsilah biologis dari garis ayah sekaligus memiliki silsilah biologis dari garis ibu sebagai penanda bahwa Sang Nabi SAW adalah sepenuhnya seorang Jewish. Inilah perbedaan status antara Yesus dengan Sang Nabi SaW dalam pandangan tradisi Judaism.

Berdasarkan dokumen klasik yang berjudul
MANUAL of UNIVERSAL CHURCH HISTORY oleh DR John Alzog, volume 2 hal 192 disebutkan bahwa ibu kandung Sang Nabi SAW yang bernama Aminah binti Wahab sebenarnya adalah seorang Jewish – wanita Yahudi – bukan seorang penyembah berhala. Dalam sumber klasik Islam, dinyatakan bahwa Wahab ibn Abd Manaf itu bukanlah ayah kandungnya, tetapi pamannya, yang kemudian Aminah dititipkan kepada beliau, klen Quraisy. Dokumen Islam terkait pengasuhan Aminah oleh Wahab ibn Abd Manaf ini sekaligus memiliki alur biografi yang sejajar dengan pengasuhan Maryam oleh pamannya yang bernama Zechariyah. Maryam adalah ibunda Yesus, dan Maryam pengasuhannya dititipkan kepada Imam Zechariah, sebagaimana yang tercatat dalam Injil apokrif, yakni Injil Yakobus. Menurut Injil apokrif ini, Maryam adalah puteri Yoyakim dan Anne. Begitu juga Aminah yang berasal dari bani Zuhra di Yatsrib (Medinah) ternyata memiliki kekerabatan dng bani Quraisy di Mecca. Hal ini sangat masuk akal karena wanita Yahudi di Yatsrib banyak yang menikah dng kaum Quraisy di Mecca. Terkait dng bani Zuhra, Gordon Darnell Newby menyatakan:

” … some individuals and groups banded together for mutual interest and protection, like the reported 300 goldsmiths living in Zuhra, not all of whom were Jewish.”(A History of the Jews of Arabia, p.52).

Berdasarkan literatur Arab yang saya baca, Aminah berasal dari bani Khuza’a – sumber yang lain menyebut bani Zuhra, yakni komunitas Yahudi Musta’ribah, khususnya kaum Yahudi Temanim (Yahudi Yaman) yang pindah ke Yatsrib, dan komunitas ini secara genealogis berasal dari keturunan Exilarch.

Salma binti Amr sebagaimana yang telah saya ulas pada tulisan saya (Sejarah Yang Terlupakan Part 1) membuktikan bahwa Salma binti Amr berasal dari kalangan bani Najjar, yakni komunitas Yahudi Musta’ribah dari wilayah Yaman, yang migrasi ke Yatsrib. Martin Lings dalam karyanya yang berjudul ‘ Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik’ yang nama Muslimnya Abu Bakr Sirajuddin.juga menyatakan hal yang sama. Martin Lings asalnya adalah seorang Yahudi Aschenazi.

Menurutnya, bani Najjar memang bagian dari bani Khazraj, dan bani Khazraj bagian dari bani Qaylah. Dalam Piagam Madinah, bani Najjar diidentifikasi sbg kaum Yahudi Musta’ribah. Mereka bukanlah Arab ‘Aribah, dan juga bukan Arab Musta’ribah tapi bani Najjar adalah kaum Yahudi Musta’ribah yang migrasi ke Yatsrib dari Yaman. Itulah sebabnys bani Najjar disebut dalam literatur Ibrani sebagai kaum Yahudi Temanim.

Sementara itu, bani Khuza’a juga migrasi dari Yaman, asal usul keluarga besar Sayyidah Aminah. Kedua wanita Yahudi Musta’ribah ini memang kaum migran yang migrasi ke wilayah Yatsrib (Madinah) bersama para kaumnya pada era pra-Islam akibat hancurnya kerajaan Himyar di Yaman. Dan kedua klen ini berasal dari kaum keturunan Exilarch (bani Yehuda, keturunan Daud AS). Setelah wafatnya Raja Himyar yang terakhir, maka keluarga raja pun menyelamatkan diri menuju kawasan Yatsrib. Laporan tentang Yahudi Musta’ribah yang terkait dng royal family of the Tubba dari Yaman ini dapat dibaca dari kitab Shirah Nabawiyyah li Ibn Ishaq, dan dapat pula dibaca pada buku A History of the Jews of Arabia: from Ancient Times to Their Eclipse Under Islam karya Gordon Darnell Newby (University of South Carolina Press, 1988), 39.

Begitu juga bani Nadzir. Mereka adalah kaum Yahudi Musta’ribah yang pindah ke Yatsrib dari wilayah Palestina akibat peperangan/pemberontakan Yahudi tahun 70 M melawan kekaisaran Romawi. Menurut kitab المستدرك على الصحيحين (Mustadrak ‘ala ash -Shahihayn) karya al-Imam al-Hakim, dari kalangan bani Nadzir inilah seorang wanita Yahudi Musta’ribah yg bernama Shafiyah binti Huyai, keturunan Harun, keturunan Lewi, dipersunting oleh Sang Nabi SAW.

Gordon Darnell Newby (1988:53) juga menyatakan:

‘We are also told that some of the banu Aus and the banu Khazraj converted to Judaism or were converted by their mothers …..”

Ini sekaligus membuktikan adanya faktor garis ibu yang menentukan status seseorang sbg keturunan Yahudi. Kalau era sekarang, lelaki Yahudi diperbolehkan menikah dengan seorang Muslimah. Begitu juga sebaliknya, seorang perempuan Yahudi diperbolehkan menikah dng lelaki Muslim. Aturan ini sebenarnya rabbinical law yang berawal sejak era pra-Islam yang menyebut Islam sebagai Yishmaelim. Mereka dibolehkan menikah dng kaum Yishmaelim karena menurut Halacha mereka dianggap menjalankan 7 hukum Nuh (Noachic law). Itulah sebabnya pada era pra-Islam banyak lelaki keturunan Ishmael di Mecca menikah dng perempuan Yahudi di Yatsrib.

Prof. Uri Rubin dari Hebrew University, Israel, telah membahas persoalan perkawinan kaum Yahudi Musta’ribah dng kaum Yishmaelim era pra-Islam berdasarkan manuskrip yang berjudul Jamharat nasab Quraish wa Akhbariha karya Zubair ibn Bakkar. Prof. Uri Rubin menulis artikel berjudul ‘From Jahiliyya to Islam. Jerusalem Studies in Arabic and Islam. Part II (1986), p. 131. Institute of Asian and African Studies (the Magnes Press, Hebrew University, Jerusalem). Sementara itu, berkaitan dng nasab kaum Arab Musta’ribah era Islam, silakan Anda membaca kitab Al-Masra al-Rawi fi Manaqib al-Asyraf as-Saadah al-Alawi karya Ahmad ibn Muhammad Syili.

Leave a comment

Sejarah Yang Terlupakan Part 4

Shalom ‘aleychem
Assalamu ‘alaykum

part-4a.jpgpart-4b.jpg

Toledoth Yeshu

Pinchas Lapide menyatakan:

” the Toledoth (Yeshu) neither denies the historicity of Jesus, nor conceals his miracles and cures, nor questions his Jewishness – for rabbinical law states that every son of a Jewish mother is a Jew (hlm. 76).

Aturan seperti ni juga tercatat dalam kitab Mishnah, traktat Kiddushin 3:12 sebagaimana yang dikompilasi oleh Rabbi Yudah ha-Nasi. Sefer Ben Ish Chay karya Rabbi Yosef Chayyim yang hidup di kota Baghdad juga menyatakan hal yang sama, yakni seseorang diakui sebagai Yahudi (his Jewishness) bila ibunya seorang Yahudi. Sefer Ben Ish Chay merupakan kitab Midrash Halacha yang populer dijadikan acuan oleh kalangan masyarakat Yahudi Musta’ribah di wilayah Arab, sejajar dng kitab Midrash Halacha yang disebut Sefer Kitzur Sulchan ‘Aruch karya Rabbi Yosef Karo yang populer dijadikan acuan di kalangan masyarakat Yahudi Eropa di wilayah Barat. Sefer Kitzur Sulchan Aruch dan Sefer Ben Ish Chay merupakan rabbinical law yang mengatur segala kehidupan kaum Yahudi, termasuk status seseorang.

Dengan demikian, tradisi Yahudi membenarkan bahwa seorang anak dianggap Yahudi dan mewarisi berkat Abraham bila ibunya adalah berdarah Yahudi, dan sang anak tersebut disunat. Dalam hal ini, Yesus anak Maria dan Timotius murid Paulus (Kisah Para Rasul 16:1-3), keduanya diakui sebagai keturunan Yahudi karena kedua ibu mereka adalah seorang Yahudi. Begitu juga status Abdul Muthalib, kakek Sang Nabi SAW – secara hukum – yakni berdasar Sefer Ben Ish Chay dapat disebut sebagai keturunan Yahudi, karena ibunya yang bernama Salma binti Amr, istri Hashim adalah seorang wanita Yahudi Musta’ribah dari bani Najjar di kota Yatsrib. Jadi tidak ada keistimewaan apapun bila status Yesus dibandingkan dng status Timotius, dan juga tidak ada keistimewaan apapun bila status Yesus dibandingkan dng status Abdul Muthalib. Bahkan tidak ada keistimewaan apapun bila Yesus dibandingkan dng Sang Nabi SAW, karena kakek beliau adalah keturunan Yahudi Musta’ribah dari bani Najjar. Jadi Yesus, Timotius, Abdul Muthalib dan Muhammad SAW semuanya adalah keturunan Yahudi. Ini bukan klaim agama Kristen atau pun klaim agama Islam, sebab yang menjadi acuan keyahudian seseorang berdasar pada rabbinical law, khususnya status keturunan kaum Yahudi Musta’ribah sebagaimana yang tercantum dalam Sefer Ben Ish Chay karya Rabbi Yosef Chayyim yang berasal dari Baghdad.

Fakta tekstual membuktikan bahwa dalam teks Peshitta, khususnya Injil Markus 6: 3, Yesus disebut sebagai ברה דמרים (brah d’Maryam) yang artinya: ” anak Maryam.” Yesus dalam kitab suci Quran bahkan lebih eksklusif disebut dng gelar ابن مريم (ibnu Maryam), yang artinya anak Maryam. Kesejajaran teks Peshitta dan kitab suci Quran ini membuktikan adanya link dng Sefer Ben Ish Chay yang berlaku dan dipraktekkan di kalangan masyarakat Yahudi Musta’ribah di Arabia. Ini adalah fakta sosial yang berlaku pada zamannya tentang identitas status seseorang yang diakui secara hukum sebagai keturunan Yahudi. Fakta sosial ini nampaknya juga mengalami sakralitas yang bernuansa teologis yang dikemas dalam format teks kitab suci. Dalam Sefer Ben Ish Chay, seorang ibu dapat memberi nama anaknya. Oleh karena itulah Hazna binti Hofnai, puteri seorang Exilarch ke-32 yang menjadi istri Asad ibn Hashim, faktanya sang putri Exilarch sendiri yang memberi nama anak perempuannya bernama Fathimah (فاطمة) sebagaimana nama yang tercantum dalam Targum Yonathan dalam bhs Judeo-Aramaic dan Sefer Pirkei de Rav Eliezer dalam bhs Ibrani (Hebrew) yang pada kedua kitab tersebut ternyata tertulis nama Phetima (פתימא). Dan menariknya kedua kitab tersebut telah eksis sejak era pra-Islam.

Sementara itu, teks Peshitta juga memberikan data yang sama bahwa Maria-lah yang pertama kali menerima perintah dari malaikat Gabriel agar anak yang akan dilahirkan itu harus diberi mana Yesus (Lukas 1: 31). Jadi yang memberi nama Yesus adalah Maria, bukan Yusuf; sebagaimana yang memberi nama Fathimah bukanlah Asad ibn Hashim, tapi Hazna binti Hofnai. Perdebatan di kalangan Kristen mengenai siapa sebenarnya yang pertama kali memberi nama Yesus dipicu akibat perbedaan originalitas bahasa asli kitab PB itu sendiri. Bila teks Peshitta dianggap teks yang asli (bukan terjemahan), maka PB versi Greek New Testament (GNT) yang menyebut bahwa Yusuf lah yang memberi nama Yesus dalam Injil Matius 1: 21, sebenarnya tidak akurat. Ketidakakuratan ini akibat penerjemahan teks yang kurang tepat. Dalam teks Peshitta, Injil Matius 1:21 tertulis תקרא שמה ישוע הו (tiqre shmeh Yeshu’ hu), yang terjemahannya bisa bermakna ganda “you will call him Jesus ” atau “she will call him Jesus “, tergantung kepada konteksnya. Menurut Kristen Ortodoks Assyria, pemahaman yg lebih tepat dari teks Injil Matius 1: 23 adalah “she will call him Jesus”, bukan ” you will call him Jesus “, yang berarti Maria-lah yang punya hak dan kewajiban memberi nama Yesus, anak yang akan dilahirkannya, sehingga tidak bertentangan dengan Lukas 1: 31. Hal ini mengindikasikan bahwa memang Maria yang lebih dulu menerima tugas memberi nama Yesus, berdasarkan perintah TUHAN melalui malaikat Gabriel. Dengan demikian, Yusuf tidak memiliki peran apapun dalam pemberian nama, dan juga tidak memiliki peran apapun dalam hal status Yesus, yakni yang menandai status legalitas keyahudian Yesus. Mengapa? Jawabannya tercantum dalam teks Peshitta, yang menyebutkan bahwa hak mutlak Maria saja yang memberi nama pada anak yang akan dilahirkannya, yakni Yesus (Lukas 1: 31; Matius 1:23).

Quran secara pasti menegaskan bahwa nama Maryam sebagai nasab yang sah dari Yesus. Hal ini mengindikasikan bahwa tidak ada lelaki manapun – menurut Quran – yg menjadi nasab Yesus dari jalur ayah, termasuk jalur dari Yusuf sendiri untuk menandai status legalitas keyahudian Yesus. Artinya, nasabnya tidak dikaitkan kepada seorang lelaki manapun sebagaimana anak-anak lainnya.

Baruch HASHEM. ברוך הי מלך העלם

Silakan baca artikel yang lain

Part 1
Part 2
Part 3

Leave a comment

Sejarah Yang Terlupakan Part  3

Shalom ‘aleychem
Assalamu ‘alaykum
 בסמלל  אלרחמן  אלרחים
Sejarah Yang Terlupakan
Part  3
By: Menachem Ali
Adanya benang merah antara narasi kitab Talmud dan Injil Matius terkait person yang sama yang merujuk kepada pribadi Yesus,  merupakan suatu kajian yang amat menarik. Apalagi benang merah itu  bukan merujuk pada  person yang berbeda, terutama berkaitan dng status Yesus. Kita harus paham betul tentang apa yang sedang dipikirkan Yusuf  dan motif apa yang melatarinya sehingga ia ingin menceraikan Maria yang dalam kondisi hamil (Matius 1:9). Yusuf berkeyakinan tentang adanya peristiwa perzinahan, ada orang lain yang telah menghamili Maria, dan kehamilan itu menjadi bukti bahwa Maria tidak setia kepada suaminya. Hal ini sejajar dng informasi Talmud yang menyebut Yeshu putera Stada, yakni Yeshu anak dari Stada (Satit da mi ba’alah – yang artinya:  Yeshu anak dari wanita yang tidak setia kepada suaminya, Talmud Bavli, juz Nezikin – traktat 67a ). Tidak ada dalam catatan di luar Talmud atau pun catatan di luar Injil mengenai tokoh historis personal Yesus yang lain (another Jesus) yang terkait dng tokoh Stada (Satit da mi ba’alah), kecuali tokoh sentral yang termaktub dalam PB. Tokoh yang disebut Stada juga tidak pernah eksis dalam catatan sejarah manapun kecuali dalam kitab-kitab Rabbinic yang ditujukan kpd manusia historis yang bernama Yeshu dan Maria istri Yusuf, sebagaimana yang tercatat dalam Injil Matius.
Dalam Talmud  Bavli juga disebut  seseorang yang bernama  Yeshu ben Panthera, dan Yeshu ben Panthera ini disalib pada perayaan Paskah karena didakwa melakukan sihir dan menyesatkan banyak orang Israel (Talmud Bavli, juz Nezikin – traktat 43a). Teksnya berbunyi:
” Pada Sabbat perayaan Paskah, Yeshu orang Nazaret digantung di kayu salib, sebab selama 40 hari sebelum eksekusi dijalankan, muncul seorang pemberita yang mengatakan: ” Inilah Yeshu ha-Notzri yang akan dirajam dng batu sebab dia telah mempraktekkan sihir dan magis yang mempengaruhi orang-orang Israel agar murtad. Barang siapa dapat mengatakan sesuatu utk membelanya hendaklah tampil dan membelanya.” Namun, karena tidak ada seorang pun yang tampil untuk membelanya, dia pun digantung di kayu salib pada saat perayaan Paskah. ” 
Berdasarkan teks Talmud ini, peristiwa penyaliban yang didakwakan kpd sang tokoh yang bernama Yeshu ha-Notzri (Yesus orang Nazaret) ternyata terkait dng praktek sihir dan magis yang mempengaruhi bangsa Israel murtad. Sebenarnya, tindakan sihir dan tindakan mukjizat hanyalah pembeda  istilah,  yang hakekatnya sama, yang keduanya  sebenarnya  mengacu pada karya keajaiban. Karya ajaib itulah yang menyebabkan Yeshu disalib pada perayaan Paskah menurut Talmud, dan dng  karya ajaib itu pula yang menyebabkan Yeshu disalib pada perayaan Paskah menurut catatan Injil (PB). Bahkan Flavius Josephus pun mencatat sang tokoh Yesus yang disalib pada perayaan Paskah ini juga  melakukan karya yang dianggap ajaib oleh para pengikutnya, tetapi akhirnya dia dihukum mati, dan para pengikutnya menyebutnya sebagai Kristus. Silakan Anda yang penasaran dng narasi sejarawan Abad 1 M tersebut agar  membaca the works of Josephus. Menariknya,  mata rantai narasi ketokohan yang sama, yakni Yeshu yang melakukan karya ajaib dan akhirnya  dijatuhi hukuman salib pada perayaan Paskah ternyata juga  tercatat secara linear dalam Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas, Injil Yohanes, Talmud Bavli dan karya Flavius Josephus. Tidak ada tokoh Yeshu lain dalam catatan sejarah manapun yang disalibkan gara2 perbuatan karya ajaib itu kecuali sang tokoh sentral dalam PB. 
Fakta sejarah juga membuktikan bahwa kitab Talmud mengalami pembakaran besar2an di Eropa. Bila kitab Talmud tidak ada hubungannya dng tokoh Yesus versi PB, maka tidak ada alasan yang bisa dibenarkan atas peristiwa pembakaran secara besar-besaran terhadap kitab Talmud tersebut. Paus Gregory IX memerintahkan pembakaran secara besar-besaran atas seluruh kitab Talmud tahun 1240 di Paris. Juga dekrit Paus Clement IV tahun 1264  memerintahkan  hal yang sama. Begitu juga para Paus yang lainnya. Jadi sangat tidak bisa dinalar bila kasus pembakaran terhadap  kitab Talmud  tersebut tidak ada  hubungannya dng Yesus dari Nazaret. Apalagi dalam Talmud Bavli secara tegas menyebut nama Yeshu ha-Notzri (Yesus orang Nazaret).  Silakan baca buku the Essential Talmud by Adin Steinsaltz. khususnya sub-topik: the persecution dan banning of the Talmud, hal. 81- 85. Karena alasan pembakaran kitab Talmud secara masif itulah, maka para Rabbi Abad Pertengahan mengeluarkan kebijakan untuk merevisi Talmud terkait ungkapan redaksional yang terlalu vulgar dan diganti dng ungkapan redaksional yg lebih soft, terutama yg ada kaitannya dng simbol-simbol kekristenan. Orang yang menekuni varian2 redaksional dalam teks Talmud akan memahami tentang perbedaan teks dan latar apa yang menyebabkan kemunculan varian teks  tsb. Misalnya teks Talmud tertua tertulis ‘Kutukan bagi kaum Notzrim (Kristen), tetapi versi terbaru lebih soft tertulis ‘Kutukan bagi kaum Minim (Bid’ah) dan tidak  menyebut nama  Notzrim (orang Kristen) secara terus terang dan vulgar. Namun, sebenarnya  para rabbi  tahu siapa yang dimaksud kaum Minim itu sebagaimana para rabbi juga tahu siapa yang dimaksud Yeshu putera Stada dan Yeshu ben Panthera sebagaimana yang tercatat dalam Talmud tersebut.
Penyebutan frase Yeshu ha-Notzri (Jesus of Nazaret) sebagaimana yang tercatat dalam Talmud ( Talmud Bavli – traktat B’rachot 17b dan traktat Sotah 47a) dan penyebutan ungkalan  Yimach shemo ve zichro (semoga namanya dilenyapkan) yang merupakan akronim  yang ditujukan kpd  nama Yeshu, maka ini sbg indikasi kuat bahwa tidak ada tokoh historis lain yang bernama Yeshu yang sangat dicaci kecuali merujuk kpd Yeshu ha-Notzri. Adakah tokoh Yesus yang lain dari Nazaret yang lahir era pra-Kristen selain Yesus yg disebut Kristus? Adakah tokoh Yesus yang lain dari Nazaret yang lahir pada era pasca-Kristen selain Yesus yang disebut Kristus?  Jawabannya pasti nihil.
” No wonder that faithful Jews tabooed the name of Jesus and spoke instead of ‘the nameless one’ or ‘that one.’  When they had to use his name – as they were occasionally compelled to do by Church authorities – they transcribed it as the acronym of the biblical curse “Yimach shemo ve zichro ” (May his name and his memory be blotted (Psalms 109:13; Deuteronomy 9:14). ” see Israelis, Jews and Jesus by Pinchas Lapide, pp. 99-100
Jadi kesimpulannya, kitab Talmud tidak pernah membicarakan ttng Yesus yang lain (another Jesus) kecuali merujuk kpd Jesus of the New Testament yang melakukan perbuatan sihir dan menyesatkan bangsa Israel, sehingga dia dihukum salib pada perayaan Paskah.
Selain didakwa mengajarkan sihir dan magis, Yeshu juga dianggap telah menyimpang ajarannya, terkait dua pilar utama (1) pengajaran  Emunah (Aqidah) yang dianggap menyimpang dan (2) pengajaran Halacha (Syariat) yang juga dianggap menyimpang. Contoh sederhana,  Yesus mengajarkan penyimpangan 2 pilar utama tersebut di antaranya:
1. Penyimpangan Emunah (Aqidah) yang mengajarkan Trinitas, yang  bertentangan dng pilar utama dalam Tauhid agama Yahudi. Yesus berkata: ” ….. dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. ” (Matius 28:19).
2. Penyimpangan Halacha (Syariat) yang mengajarkan tidak berlakunya kembali kiblat Bait Suci di Yerusalem  (Baytul Maqdis) dan sekaligus merevisi pemindahan kiblat itu kepada dirinya sebagai Bait Suci yang baru. Yesus berkata: ” Rombak Bait Allah ini dan dalam 3 hari Aku akan mendirikannya kembali.”  Lalu kata orang Yahudi kepadanya: ” Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?” Tetapi yang dimaksudkannya dengan Bait Allah itu ialah tubuh-Nya sendiri (Yohanes 2:19-21; Matius 26: 41-42).
1 Comment

Project Saadia Gaon

Shalom ‘aleychem
Assalamu ‘alaykum
בשם  הי  הרחמן  והרחום
Project Saadia Gaon already  presented an academic text of the Torah in official Jewish Arabic which so-called the Targum Saadia.
For Sephardi and the Mizrachi Jews, the Targum Saadia is important to understand the Torah in Arabic as well as Targum Onkelos in Aramaic.
After reading the Targum, the one will find a new understanding on Islam based on the light of Judaism. However, Judaism has a common roots with Islam, similar but not the same. And the readers will get a new light to represent a dialogue in the paradigm of Abrahamic faiths.
Accrding to the Targum Saadia, Mecca and Medina belong to Shem. The Targum mentions the names of Macca and Medina as followed here (Genesis, chapter 10, verse 30):
לשון הקודש: בראשית, י, ל: וַיְהִי מוֹשָׁבָם מִמֵּשָׁא בֹּאֲכָה סְפָרָה הַר הַקֶּדֶם
תפסיר: ל) וכאן מסכנהם מן מכה. אלי’ אן תגי אלי’ אלמדינה אלי’ אלגבל אלשרקי
ערבית: :1030
وَكَانَ مَسْكَنُهُ مِنْ مَكَّةَ، إِلَى أَنْ تَجِيءَ إِلَى الْمَدِينَةِ إِلَى الجَبَلِ الشَّرْقِي
Noah has three sons, they are  Shem, Ham and Yafet. Both towns, Macca and Medina, belong to the descendants of Shem only, as below: Noah – Shem – Arpachshad – Shelach – Eber – Yoktan – 13 childrens. These Yoktan’s 13 children have settled in many places including the place Mesha [= Mecca] and Sefara [= Medina].
In other words, Macca and Medina belong to Shem’s descendants.
Ham is the father of Cush, Mizraim (the grandfather of the Palestinians), Phut and Canaan. The territory of the Palestinians is in North Sinai. The territory of Canaan is in the land of Israel.
Mecca and Medina exist 4 generations before the birth of Ishmael the son of Avraham which is a descendant of Shem on his father’s side  אברהם (Avraham), and is a descendant of Ham on his mother’s side  הגר (Hagar) a princess of Egypt, Paroh’s daughter. Does Ishmael belong to Shem’s descendants or to Ham’s descendants?
Ishmael will inherit the land of Shem, so that why Mecca and Medina belong to Ishmael’s descendants, ‘wich so-called the Arab Musta’ribah.
Leave a comment

Sejarah Yang Terlupakan Part 2

Shalom ‘aleychem
Assalamu ‘alaykum
Berdasarkan teks kitab Perjanjian Baru (PB), kita bisa menemukan data awal terkait silsilah Yesus. Namun, data silsilah Yesus yang termaktub dalam PB tersebut tidak dapat diverifikasi dng data sejarah pembanding di luar teks suci. Data silsilah Yesus dalam teks PB itu ternyata oleh komunitas beriman telah dianggap sebagai textus receptus yang narasi teksnya bersifat ipse dixit.  Dengan demikian, sakralisasi silsilah Yesus dalam Injil Matius dan Injil Lukas itu dipandang secara umum sebagai kebenaran mutlak silsilah Yesus an sich.  Dalam konteks ini,  masyarakat awam Kristiani lebih mengedepankan argumen nalar teologis dibanding mengedepankan argumen nalar kritis.
Bila kita belajar sejarah bangsa Israel secara sekuler, kita akan menemukan ide pengharapan mesianik yang telah mengkristal menjadi idiom keagamaan, idiom kebudayaan dan sekaligus menjelma sebagai idiom politik,  yang hal itu kemudian secara masif menjadi semacam ingatan kolektif yang diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya. Ide pengharapan mesianik itu dapat kita baca dalam dokumen sejarah  sebagai narasi politik masa kuno, dan dapat pula kita baca dalam konteks politik per se,  yang merupakan narasi sejarah masa kini.  Sebutan ‘anak Daud’ dan sebutan ‘anak Abraham’ yang mengusung ide pengharapan mesianik dan merupakan idiom kegamaan, idiom kebudayaaan sekaligus idiom politik itu, ternyata tidaklah muncul secara tiba-tiba dalam dokumen Injil Matius, tetapi  St. Matius ‘amat cerdas’ memanfaatkan isu idiom tersebut dalam menjustifikasi sang tokoh Yesus sebagai penggenapan atas ide pengharapan mesianik yang mewacana sebagai rekaman kolektif. Namun, dalam konteks ini,  St. Matius menawarkan argumen teologis, bukan berdasar pada argumentasi historis.  Itulah sebabnya, argumen teologis dalam rangka menggenapi ide pengharapan mesianik yang diklaim merujuk pada sang tokoh Yesus, ternyata diawali dng kalimat ‘inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham’ (Matius 1:1).
Dalam ingatan kolektif masyarakat Yahudi terkait ide pengharapan mesianik,  seorang Messiah harus (1) seorang laki-laki dan bukan seorang perempuan, (2) nasabnya harus bersambung dari jalur garis ayah (lineage of the father) karena sistem silsilah merujuk pada sistem patriakhal,  dan bukan bersambung pada jalur garis ibu, (3) dia nasabnya bersambung  kpd Raja Daud.  Seseorang tidak dapat diakui ke-Meshiah-annya bila sang tokoh tidak memiliki nasab dari jalur silsilah sang ayah. Namun seseorang dapat diakui ke-Yahudi-annya bila seseorang memiliki nasab dari jalur silsilah sang ibu. Jadi idiom pengharapan mesianik yang merujuk pada nasab jalur sang ayah sebagai penanda identitas (identity marker) lebih bernuansa khas politik keagamaan dibanding kebudayaan. Itulah sebabnya St. Matius ‘amat jenius’ menyiasati zamannya dalam menyusun silsilah Yesus agar bisa berterima bagi para pembacanya yang berlatar Yahudi.
Pada teks Injil Matius 1:1 St. Matius berbicara silsilah Yesus dalam konteks teologis, sebaliknya pada Injil Matius 1:16 ternyata St. Matius berbicara justru dalam konteks historis yang sebenarnya, karena secara de facto Yesus memang tidak memiliki nasab dari jalur Yusuf secara biologis. Itulah sebabnya, ada 2 pola politik redaksional yang digagas dalam tulisan silsilahnya. Pertama, susunan redaksi teks Injil Matius 1:2-15 yang berpola genetis, teks tersebut berbunyi: ‘Abraham memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub …. Matan memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yusuf’, sedangkan susunan redaksi teks  Matius 1:16 justru berubah 360% yakni berpola dogmatis, bukan berpola genetis: Ayatnya berbunyi: ‘ Yakub memperankkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.’ St. Matius tidak menulis: ‘ Yakub memperanakkan Yusuf, Yusuf memperanakkan Yesus, anak Maria yang disebut Kristus.’ Redaksional teks yang berpola dogmatis ini semakin menegaskan bahwa Yesus yang diklaim sbg Sang Messiah itu memang tidak memenuhi ide pengharapan mesianik khas Judaism. Namun, St. Matius berusaha keras utk meyakinkan pembacanya dng cara mengikuti pola gematria (number patterns). St. Matius benar-benar paham bahwa dalam ingatan kolektif agama Judaism yang terkait dng ide pengharapan mesianik selalu merujuk pada tokoh Daud, dan nasab Sang Messiah yang akan datang harus terbukti secara genetis bersambung kpd Daud dari jalur garis ayah, sebab hanya melalui benih Daud saja,  sang Messiah memiliki legitimasi historis, politis dan teologis.  Itulah sebabnya (1) nama personal Daud dan (2) gematria nama Daud, keduanya dijadikan sbg penegasan daftar silsilah Yesus (lihat Injil Matius 1: 17). Dalam hal ini, St. Matius memanfaatkan pola gematria. Ini membuktikan bahwa pola gematria (number patterns) itu bukanlah gagasan awal dari St. Matius, tetapi St. Matius sendiri hanya sekedar mengadopsi dan memanfaatkan pola gematria yang sebenarnya merupakan warisan kuno Judaism era pra-Kristen demi melegitimasi keyakinan St. Matius terhadap Sang Messiah yang direkayasanya. Jadi pola gematria sebagaimana yang termaktub dalam kitab Baal Haturim Chumash merupakan warisan penafsiran dalam memahami Torah yang telah eksis dalam Judaism sejak  era pra-Kristen yang selalu dikaitkan dng nama-nama tokoh sentral PL. Apalagi ide pengharapan mesianik dikaitkan dng tokoh keturunan biologis Daud sebagaimana yang selalu dipanjatkan oleh seluruh kaum Yahudi dalam setiap tefilah (shalat).
רחםנא  יהוה  אלהינו על  ישראל  עמך  ועל  ירושלים  עירך ועל  ציון  םשכן  כבודך  ועל  מלכות  בית  דוד םשיחך
 Rachemna HASHEM Eloheynu ‘al Yisrael ‘immecha ve ‘al Yerushalayim ‘irecha ve ‘al Zion mishkan kevodecha ve ‘al malchut beyt David Meshiche-cha.
” Have marcy we beg You HASHEM our God, on Your people Yisrael, on your city Yerusalem on Zion the resting place of Your glory, on the house of David Your Messiah. “
Istilah  בית דוד (beyt David) di atas sebenarnya merujuk pada ide pengharapan messianik atas kedatangan Sang Messiah yang akan datang, yang silsilah nasabnya berasal dari keluarga Daud dari garis jalur ayah secara biologis,  karena Daud sendiri juga seorang Messiah, dan secara gematria, yakni menghitung pola angka dalam nama  דוד   (David) memunculkan angka 14. Itulah sebabnya dalam teks Injil Matius 1:17 St. Matius melegitimasi angka 14 yang terkait dng nama Daud yang dihubungkan dng Yesus secara  dogmatis, dan bukan berpola genetis. Bahkan St. Matius  menghilangkan beberapa nama dalam bangunan rekayasa silsilah yang dibuatnya demi mencocokkan dng pola gematria itu, sehingga menghilangkan beberapa generasi yang seharusnya dimunculkan dalam silsilah. Namun bila nama-nama dalam beberapa generasi itu tidak dihilangkan sesuai yang tercatat dalam TaNaKH,  maka pola gematria nama David tidak bisa terpenuhi. Akibatnya, St. Matius menghilangkan sebagian data historis nama-nama generasi nenek moyang Yusuf demi mendapatkan pola dogmatis yang bisa dirangkai dalam menciptakan silsilah yang bisa dihubungkan dng Yesus secara teologis. Kebuntuan St. Matius dalam menyusun silsilah Yesus tersebut memang cacat secara historis dan genetis, demi terciptanya sebuah legitimasi yang bercorak teologis.
Seorang Bapa Gereja Kuno, St. Yulius Africanus (4 M.) menjelaskan bahwa Matthan berasal dari suku Yehuda melalui garis keturunan Daud dan Salomo. Matthan mengawini Estha yang melahirkan Yakub. Setelah kematian Matthan, maka Matthat (bukan Matthan) yang juga berasal dari suku Yehuda tetapi melalui garis keturunan Daud dan Nathan menikahi Estha (janda Matthan), yang kemudian melahirkan Eli. Maka Yakub dan Eli adalah saudara kandung dari satu ibu, yakni Estha. Eli meninggal tanpa meninggalkan seorang anak, dan Yakub harus mengawini istri Eli yang melahir
kan Yusuf. Maka Yusuf adalah anak kandung Yakub sekaligus juga adalah anak sulung Eli. Jadi Yusuf bukan anak angkat Eli, karena konsep anak angkat tidak dikenal dalam silsilah, yang dikenal hanyalah silsilah dalam perkawinan Levirat (Ulangan 25:5-6)

 

Dengan demikian,silsilah Injil Lukas dan silsilah Injil Matius hanya merujuk pada silsilah nasab Yusuf, dan silsilah Injil Lukas bukan merujuk pada silsilah Maria. Apalagi kaum awam Kristiani menyatakan bahwa Injil Matius dan Injil Lukas keduanya merujuk pada silsilah Yesus. Ini sangat bertentangan dng dokumen Bapa Gereja sebagaimana pernyataan St. Julius Africanus. Bapa Gereja yang lain, misalnya Theodoret juga menyatakan bahwa Yesus dan Yakobus memiliki ibu dng nama yang sama, yakni Maria. Namun yang satu, istri Yusuf dan yang satunya lagi, istri Klopas. Theodoret menjelaskan bahwa Maria ibunya Yakobus (Matius 27:56)  adalah saudara kandung Maria ibunya Yesus (Yohanes 19:25),  mereka berdua kakak beradik. Dan Maria ibunya Yakobus adalah istri Klopas yang mempunyai anak bernama Yoses selain Yakobus (Matius 15:40). Jadi, suami Maria ibunya Yakobus, yang bernama Klopas, dan suami Maria yang bernama Yusuf adalah juga kakak beradik. Jadi, silsilah Injil Lukas tidak ada kaitan sama sekali dng silsilah Maria. Lihat Ancient Christian Commentary on Scripture. New Testament VIII, hal. 15. Dengan demikian, silsilah Yesus dari jalur Maria memang benar-benar tidak tercatat dalam dokumen PB, dan Maria disebut sebagai keturunan Daud melalui Injil Apokrif Protoevangelion of James (PJ), bapak ibunya bernama Yoyakhim dan Anna. Gereja Ortodoks dan Gereja Katolik berpegang pada tradisi ini. Jadi, Yesus dapat disebut sebagai keturunan Yahudi hanya melalui jalur nasab Maria saja. Dan Yesus dapat pula diklaim oleh Gereja sebagai Messiah Yahudi hanya melalui garis darah dari pihak ibu saja, yakni Maria.

 

Kalau ada yang membantah bahwa Nabi Muhammad SAW itu ilegal disebut sbg keturunan Yahudi, dan juga ilegal disebut sbg Nabi Yahudi keturunan Daud AS, karena menurut kaum Kristiani –  Muhammad SAW scr eksplisit  bukan berasal dari benih Salomo AS, maka jawabannya sangat sederhana:
1. Dalam pandangan Judaism, Yesus dan Muhammad SAW keduanya hanya mempunyai jalur nasab dari garis ibu, dan  bukan dari garis ayah. Maka keduanya berhak disebut sebagai keturunan Yahudi, meskipun keduanya tidak dianggap sebagai Nabi Yahudi  atau pun Messiah Yahudi yang dinubuatkan dalam TaNaKH.  Berdasarkan  Talmud Bavli  yang terkodifikasi pada tahun 500 M., seseorang diakui secara legal/sah sebagai keturunan Yahudi meskipun hanya berasal dari garis ibu. Yesus pun diakui secara legal sebagai keturunan Yahudi,  meskipun nasabnya hanya melalui jalur garis ibu, yakni melalui nasab bunda Maryam dan bukan melalui nasab Yusuf. Bahkan hingga saat ini seseorang diakui secara legal sebagai keturunan  Yahudi hanya melalui jalur garis ibu saja.
2. Nabi Muhammad SAW tetap diakui sebagai keturunan Nabi Daud AS sebagaimana Yesus juga diakui sebagai keturunan Nabi Daud AS meskipun hanya melalui jalur Natan ben Daud AS, dan  bukan melalui jalur  Salomo ben Daud AS. Itu pun bila Injil Lukas diklaim sebagai silsilah Maria sebagaimana pemahaman kaum Protestan.  Lihat Injil Lukas pasal 3: 23-38, Yusuf bukan keturunan biologis Salomo, tapi keturunan biologis Nathan, dan Yesus  – menurut anggapan orang adalah anak Yusuf, suami bunda Maryam. Sekali lagi,  ini adalah pemahaman general para ahli Alkitab dari kalangan Kristen Protestan. Nasab Yesus faktanya hanya dari jalur ibu, yakni Maryam,  sedangkan nasab dari garis bapak tidak ada. Yusuf hanya ayah tiri Yesus, bukan ayah biologis Yesus. Sebaliknya,
Muhammad SAW nasab ayahnya jelas, yang termasuk klen Hasyim,  keturunan Ismail dan nasab ibundanya juga jelas. Nasab kakeknya  yakni Abdul Muthalib juga sangat jelas tentang siapa ayahnya dan siapa ibunya. Ayahnya bernama Hashim dan ibunya bernama Salma binti Amr.
3. Jika patokan kaum Kristiani terkait dng Yesus hanya mengacu pada  Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas dan Injil Yohanes saja, maka orang2 Yahudi dari kalangan rakyat jelata – mereka hanya mengenal Yesus sebagai anak tukang kayu yang bernama Yusuf, dan ibunya bernama Maria (Yohanes 6:42). Dan mereka pun juga tidak tahu kalau Yesus sebagai anak hasil perzinahan dng orang lain, karena sesuai dng ketuva (kontrak pernikahan sesuai Mishnah) antara Yusuf dan Maria, keduanya secara sah diakui sebagai suami istri.  Itu artinya rakyat jelata menganggap jelas ayah dan ibunya Yesus,  yang telah memiliki hubungan pernikahan yang sesuai Torah she be’al phe  (Matius 1:18-19). Dan penyebutan  rakyat jelata terhadap status Yesus sbg anak Yusuf itu pun hanya berdasarkan menurut anggapan orang (Lukas 3:23). Namun, pernyataan rakyat jelata yang menyebut Yesus sbg anak Daud atau pun menyebut Yesus sbg anak Yusuf tidak pernah dinyatakan oleh malaikat  Tuhan. Bahkan tidak pernah dinyatakan oleh para rabbi, imam-imam Lewi, kaum Saduki atau pun kaum Farisi. Jadi sebenarnya yang disebut sebagai anak Daud adalah Yusuf sendiri,  bukan Yesus, sebagaimana malaikat sendiri telah menyatakannya (Matius 1:20). Jadi rakyat jelata yang menyebut Yesus sebagai anak Daud – tentu saja tidak dapat dijadikan dalih/ bukti bahwa Yesus adalah anak biologis Yusuf. Apalagi mereka beranggapan bahwa Yesus adalah anak angkat Yusuf. Mereka sebagai rakyat jelata tidak pernah mengetahui atau pun berkata bahwa Yesus bukan anak Daud. Mereka juga tidak mengetahui bahwa Yesus bukan sebagai anak kandung Yusuf. Mereka juga tidak beranggapan bahwa Yesus sbg anak angkat Yusuf  sehingga Yesus disebut sebagai anak Daud, sebab konsep anak angkat dalam tradisi Yahudi tidak mereka kenal. Apalagi mengimani bahwa Yesus lahir oleh Roh Kudus. Dan tidak ada dalam pikiran mereka bahwa Firman Allah telah menjelma menjadi manusia yang bernama Yesus. Jadi satu-satunya alasan rakyat jelata menyebut Yesus sbg anak Daud karena Yesus adalah anak hasil perkawinan Maria dng Yusuf, dan Yusuf adalah anak Daud. Jadi mereka mengenal Yesus sebagai anak biologis Yusuf dari hasil perkawinannya dng Maria. Mengapa? Alasannya sederhana, karena secara sosial mereka sudah mengetahui ayahnya yang bernama Yusuf,  keturunan Daud.
Dalam hal ini kita tidak berbicara mengenai status seseorang itu diakui sebagai Nabi atau bukan, atau pun sebagai Moshiah atau bukan. Kita juga tidak berbicara mengenai seseorang itu diklaim sebagai Nabi yang dinubuatkan dalam TaNaKH atau tidak. Kita juga tidak memperdebatkan seseorang itu diklaim sebagai Moshiah yang dinubuatkan di dalam TaNaKH ataukah tidak. Dokumen Tariikh Islam mencatat bahwa manusia sejarah yang bernama Muhammad SAW darahnya bersambung dng seseorang yang bernama Salma binti Amr dari bani Najjar. Dia adalah wanita Yahudi Musta’ribah, karena bani Najjar adalah kaum Yahudi diaspora yang tinggal di Madinah. Jadi nasab Muhammad SAW ada tetesan darah dari Salma binti Amr. Artinya, darah ke-Yahudi-an Muhammad SAW hanya melalui Salma binti Amr, istri Hashim. Sementara itu, Yesus berdasarkan Injil Matius tidak ada tetesan darah dari Yusuf. Menurut tafsiran Gereja Ortodoks, silsilah Yesus pada Injil Lukas juga silsilah Yusuf, bukan silsilah Maria. Namun ada  sebagian penafsiran Kristen, terutama Kristen Protestan menyatakan bahwa Injil Lukas adalah silsilah Maria. Bila kita terima tafsiran Protestan ini maka darah ke-Yahudi-an Yesus hanya melalui Maria, istri Yusuf. Jadi tidak ada tetesan darah Yusuf pada Yesus karena Yesus lahir dari Roh Kudus menurut PB. Dan Yusuf bukan bapak biologis Yesus.
Sementara itu, menurut rabbi-rabbi, imam-imam Lewi dan kaum Farisi yang merepresentasikan pernyataan kaum elit  yang ada di lembaga Sanhedrin – yang pernyataan itu terdokumen dalam  Talmud Bavli,  dinyatakan bahwa bapak biologis Yesus adalah seorang goyim (orang Yunani), seorang serdadu Romawi yang bernama Panthera. Kita bisa baca Talmud Bavli sbg pembanding dalam masalah garis darah Yesus ini dari jalur ayah menurut pandangan lembaga Sanhedrin.  Jadi, tidak salah bila tak ada satu pun pernyataan dari kalangan Sanhedrin ini yang menyebut Yesus sbg anak Yusuf, ataupun menyebut Yesus sbg anak Daud karena mereka mengenal secara agama bahwa Yesus bukan anak biologis Yusuf meskipun Maria istri Yusuf.
Singkatnya, manusia sejarah yang bernama Yesus itu memang ‘tidak sempurna’  untuk menjadi Yahudi,  sebagaimana manusia sejarah yang bernama Muhammad SAW juga ‘tidak sempurna’ menjadi Yahudi. Namun, Judaism mengakui keduanya sbg keturunan Yahudi. Keduanya tidak ada tetesan darah ke-Yahudi-an dari pihak ayah.
Era pasca runtuhnya Bait Suci ke-1 dan ke-2,  status ke-Yahudi-an seseorang diakui sebagai keturunan Yahudi hanya merujuk pada garis darah ibu saja. Hingga kini, status  seseorang disebut sbg keturunan Yahudi ditandai dari mengalirnya garis darah dari pihak ibu.
Dalam TaNaKH memang status ke-Yahudi-an seseorang ditandai dng 2 cara: (1) anak melalui garis keturunan perkawinan ipar Ulangan 25:5-6. yg bukan anak biologis, (2) anak secara biologis melalui jalur garis darah sang ayah meskipun jalur garis darah sang ibu berasal dari goyim (non-Israel).
Jadi Ishmael disebut anak Avraham sesuai hukum TaNaKH, dan tidak ada seorang pun bisa menolak status Ishmael sebagai anak Avraham secara biologis, dan ini tidak masalah meskipun jalur ibunya seorang goyim dari Mesir. Itulah sebabnya Ishmael disebut dalam tradisi Islam sbg ‘Arab Musta’ribah (bukan Arab asli). Status Ishmael ini sama dng status Efraim dan Manasye, anak-anak Yusuf,  yang ibu kandungnya seorang goyim dari Mesir juga.  Bahkan King Salomo garis darah ibunya juga seorang goyim. Intinya: jika seseorang itu memiliki jalur garis ayah Israel dan jalur  garis ibu goyim, maka orang itu tetap dianggap keturunan Yahudi dalam pandangan Judaism. Bahkan, Yesus tidak ada istimewanya bila dibanding dng Muhammad SAW bila ditilik dari hukum TaNaKH, karena bila ditilik dari jalur garis darah ibunya memang wanita Yahudi, sedangkan berdasarkan jalur garis ayah ternyata keduanya goyim (non-Israel). Kakek kandung  Sang Nabi SAW berdarah Arab Musta’ribah,  sedangkan ayah kandung  Jesus berdarah Yunani, serdadu Romawi. Sebagaimana yang telah saya sebutkan sebelumnya, menurut kitab Talmud Bavli, juz Nezikin – traktat Sanhedrin 67a dinyatakan bahwa Yesus yang disebut Yeshu adalah anak kandung Stada, dng seseorang goyim yang bernama Panthera. Stada bukanlah sebuah nama, tapi sebutan yang ditujukan kepada Maria istri sah Yusuf. Stada adalah akronim dari frase Satit da mi ba’alah (perempuan yang tidak setia kepada suaminya). Fakta teks Bavli khususnya bagian traktat Sanhedrin 67a semakin memperjelas gambaran dalam PB. Itulah sebabnya imam-imam Lewi, para ahli Torat, orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki yang merupakan para tua-tua di lembaga Sanhedrin, ternyata tak pernah satu pun di antara mereka yang menyebut Yesus sebagai anak Yusuf, apalagi menyebutnya sbg anak Daud. Bahkan mereka mengabadikan ingatan kolektif mereka ttng Yesus sebagai pseudo-Mesiah dng akronim Yimach shemo ve zichro “
 May his name and his memory be blotted out ” (Tehilim 109:13). Namanya disebutkan Yeshu ha-Notzri (Talmud Bavli – juz B’rachot 17b, Sotah 47a. Dan Yeshu dinyatakan sbg pseudo-Mesiah yang disalib pada saat perayaan Paskah (Talmud Bavli, juz Nezikin – traktat Sanhedrin 43a. Lembaga Sanhedrin menolak Yesus sebagai Meshiah karena dalam tradisi rabbinik, Mesiah harus memenuhi 3 kriteria (1) seorang laki-laki, (2) nasabnya mengikuti garis darah sang ayah/patriakhal, (3) dia keturunan Daud. Bila tidak memenuhi 3 kriteria/syarat minimal ini, maka seseorang tidak dapat dinyatakan sbg Meshiah.
Selain itu, rakyat jelata yang respek terhadap dakwah Yesus, umumnya berprasangka baik terhadap status Yesus. Mereka umumnya mengangap bahwa Yesus adalah anak hasil perkawinan sah antara Yusuf dan Maria. Itulah sebabnya mereka menyebutnya dng sebutan Yesus anak Daud, atau pun dng sebutan Yesus anak Yusuf. Sebaliknya, rakyat jelata yang tidak respek terhadap dakwah Yesus dan menentangnya,  umumnya mereka berkeyakinan negatif terhadap status Yesus. Mereka tidak menyapanya dng sebutan Yesus anak Yusuf, atau pun menyapanya dng sebutan Yesus anak Daud. Namun, dengan ungkapan sindiran akut yang mereka ucapkan di hadapan Yesus, ternyata hal itu mengisyaratkan problem status Yesus. Mereka semua berkata dng nada sindiran di hadapan Yesus: ” Kami tidak dilahirkan dari zinah …. ” (Yohanes 8:41). Mengapa mereka secara serempak menggunakan ungkapan negatif tersebut di hadapan Yesus? Bukankah mereka semua mengenal Yusuf dan Maria? Mengapa mereka tidak menggunakan ungkapan lainnya di hadapan Yesus meskipun mereka menolak dakwah Yesus? Mengapa mereka menggunakan ungkapan yang terkait dng status Yesus sehingga mereka berkata seperti itu? Pertama,  fakta verbal negatif tersebut tidak mungkin mereka ucapkan bila tidak ada indikasi kebocoran informasi dari kalangan pihak Sanhedrin yang secara kelembagaan terdiri atas imam-imam Lewi, ahli Torat, kaum Farisi dan kaum Saduki. Kedua,  kalangan Sanhedrin pun juga tahu mengenai status Yesus ini dari sumber pertama, yakni Yusuf. Perkawinan Yusuf dan Maria merupakan status yang tercatat dalam kelembagaan Sanhedrin. Ini sesuai dng halacha.  Namun, faktanya Yusuf  berencana menceraikan Maria (Matius 1:18-19). Jadi sebenarnya Yusuf pun pada awalnya mencurigai Maria berselingkuh atau berzina dng orang lain sehingga terjadi kehamilan. Itulah sebabnya Yusuf hendak menceraikannya (Matius 1:19). Alasan dibalik rencana perceraian itulah yang kemudian dibaca oleh pihak Sanhedrin. Tidak salah bila Sanhedrin menyebut  Maria dng  sebutan  Stada – Satit da mi ba’alah  (perempuan  yg tdk setia pada  suaminya).
Dan akhirnya kebocoran informasi dari pihak Sanhedrin ini juga keluar kepada masyarakat umum. Dengan demikian, tidak salah bila mereka yang menentang dakwah Yesus, mereka melontarkan  ungkapan ejekan di hadapan Yesus, dan mereka berkata: ” Kami tidak dilahirkan dari zina.” Artinya, ungkapan itu sebenarnya ditujukan kpd Yesus, dan bukan ditujukan kepada masing-masing status pribadi mereka.
Bila seseorang menyatakan bahwa Yesus disebut sbg anak Daud karena dia memiliki jalur garis keturunan melalui Yusuf sesuai silsilah Injil Matius, maka di sinilah problem persoalannya. Karena Yusuf yang adalah suami Maria ternyata tidak memiliki saudara kandung siapapun dan Maria juga bukan mantan dari istri  siapapun. Bahkan Maria juga bukan mantan dari suami – saudara kandung Yusuf. Bila pernyataan dalam Talmud Bavli menyatakan bahwa Panthera adalah ayah biologis Yesus, maka itu bisa jadi  merupakan realitas sosial saat itu. Pertama, Panthera itu goyim bukan Israelite (Yahudi). Kedua, Panthera bukan saudara kandung Yusuf. Ketiga hubungan Panthera dng Maria bukan melalui cara perkawinan yang sah sesuai yang dihalalkan oleh TaNaKH.
Jadi kalau secara hukum TaNaKH,  status Yesus yang disebut anak Daud  yang dikaitkan dng Yusuf ternyata tidak memiliki makna apapun. Dalam hal ini saya tidak mempersoalkan status hukum Yusuf sebagai keturunan Daud melalui King Salomo,  dan laporan Injil Matius itu sesuai dng status hukum dalam TaNaKH, baik ditinjau dari status perkawinan ipar nenek moyang Yusuf maupun bila ditinjau dari status garis ayah biologis beliau. Namun yang kita kaji  ini adalah status hukum Yesus, bukan status hukum Yusuf. Yesus tidak memiliki status hukum apa2 bila dikatikan dng Yusuf. Kecuali status hukum Yesus sebagai seorang Yahudi  hanya melalui garis darah Maria saja. Sama seperti status hukum murid Paulus, yang bernama Timotius yang ibunya seorang Yahudi, dan ayahnya seorang Romawi yang lahir dari pernikahan yang sah. Bila Yusuf dalam pandangan Talmud Bavli diakui sebagai suami sah Maria, maka status Yesus tidak bisa dianggap sebagai anak kandung Yusuf, apalagi diklaim sebagai anak angkat Yusuf, karena konsep anak angkat tidak dikenal dalam TaNaKH. Apalagi ayah biologis Yesus bukan saudara kandung Yusuf, tapi menurut Talmud Bavli adalah Panthera, sang serdadu Romawi. Jadi status ke-Yahudi-an Yesus tidak terlalu istimewa dibanding dng status ke-Yahudi-an Muhammad SAW. Bahkan status ke-Yahudi-an Yesus juga tidak terlalu istimewa dibanding dng status ke-Yahudi-an Timotius, murid Paulus (Kisah 16:3)
Para penulis silsilah Yesus dalam Injil Matius dan Injil Lukas paham betul bahwa Meshiah harus berasal dari nasab Raja Daud secara patriakhal, bukan secara matriakhal. Inilah mengapa mereka memaparkan silsilah Yesus melalui Yusuf, yang diklaim sebagai ayah angkat secara yuridis,  dan tidak melalui Maria, jalur biologis Yesus.  Padahal mereka paham bahwa kelahiran Yesus scr ajaib,  dan tidak ada hubunganya dgn Yusuf sang tukang kayu. Jadi status jalur  ‘biologis’ tidak ada hubungan sama sekali antara Yesus & Yusuf. PB secara jelas mencatat bahwa  Maria mengandung dari Roh Kudus, bukan dari Yusuf. Hal ini sangat mungkin bahwa St. Matius dan St. Lukas hanya memiliki motif utk menyambungkan silsilah Yesus dgn Raja David demi menggenapi ciri2 Mesiah Yahudi, sesuai 3 syarat minimal sebagai Meshiah,  meskipun St. Matius dan St. Lukas mengetahui secara sadar bahwa nasab Yesus tidak ada relasinya dgn nasab Yusuf. Jadi, penulis Injil Matius dan Injil Lukas mengedepankan “perspektif teologis” dari pada “perspektif sejarah/historis.”
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa (1) para penulis Injil ingin menghubungkan Yesus dgn Daud utk mengenapi ciri2 Mesiah Yahudi, (2) para penulis Injil ingin memprioritaskan ‘aspek teologis’ untuk men-support ke-Mesiah-an Yesus, tetapi mengorbankan ‘aspek/sisi fakta sejarah/historis’ yang secara teologis Yesus dilahirkan Maria dari Roh Kudus, bukan dari benih Yusuf. Itulah sebabnya penulisan Injil Matius dan Injil Lukas lebih didominasi muatan teologis dari pada muatan historis, sehingga tidak jarang adanya ‘tabrakan/kontradiksi antara ‘muatan teologis & fakta historis’ dalam Injil itu sendiri.
Selanjutnya,  Yesus benar2  tidak bisa disebut sebagai  anak angkat Yusuf. Konnsep anak angkat tidak dikenal dalam tradisi Yahudi. Yesus itu anak istrinya Yusuf, bagaimana mungkin jadi anak angkatnya? Fir’aun mengangkat Musa sbg anak angkat, karena Musa bukan anak istrinya. Dan itu pun tradisi Mesir, bukan tradisi Yahudi.  Musa adalah anak orang Ibrani, atau  anak orang lain yang dibuang, lalu  diangkat menjadi anak angkat oleh Firaun. Sebaliknya, Yesus adalah anak Maria, Maria suami Yusuf,  bagaimana mungkin Yesus anak angkat Yusuf? Semoga tulisan ini menjadi bahan renungan bersama tentang status Yesus sebagai keturunan Yahudi berdasar kitab  Perjanjian Baru, dan status  Muhammad SAW juga  sebagai keturunan Yahudi – sesuai kitab  Tarikh  at-Thabari yang menyebut istrinya Qushai ibn Kilab yang bernama  Hubba , anak perempuan Hulail (Hillel) ibn Hubshiyyah, ketua  pimpinan bani Khuza’a. Silakan juga baca kitab Al-Mathalib karya  Abu Ubayda Ma’mar ibn Al-Mutsanna  (w. 210 H.) dan kitab  Mathalib al-Arab karya Ibn  Kalbi (w. 204 H.). Selain itu silakan baca tentang  bani Najjar yang nasabnya bersambung kpd Ahbariyyun  (hibr  – Jewish sages), dan Imam at-Thabari dalam  Tafsirrnya  menyatakan  bahwa istilah Hibr juga merujuk pada Ka’ab al-Ahbar/ Ka’ab al-Hibr, dan  dalam Talmud term  Haber merujuk pada   الحااخام (Al-Hakhom) atau  the Gaon. Abu Ayyub al-Anshari yg  nama aslinya adalah Khalid ibn Zayd ibn Kulayb dari bani Najjar, sama dng Salma  binti Amr juga dari bani  Najjar. Lihat kitab Usd  al-Ghabah fi Ma’rifah ash-Shahabah  karya Ibn al-Athir (555-630 H.),  Samhudi juz 1 halaman  189.
1 Comment

The forgotten root: “They know him as they know their son”

Scriptures  are not just text of revelation which one must understand within the border of sacred theological paradigm  but it can also be approached as a collective memory of a profane history.  In this context one should not neglect to read re-examine the scriptures as veracious historical evidences through philology, this is what we will try to attempt in this post.

In the Qur’an there is an interesting keyword which we argue linguistically refer to prophetic claim:  abna‘ ( ابناء ):

لَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ ۖ وَإِنَّ فَرِيقًا مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ. الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

Those to whom We gave the Scripture know him as they know their own sons. But indeed, a party of them conceal the truth while they know [it]. The truth is from your Lord, so never be among the doubters. (Q 2:146-7)

The Quran thus told us that “Those to whom We gave the Scripture” ie the Israelites will  recognize  Prophet Muhammad like their own sons.  This consequently imply that Prophet Muhammad has legitimate right of the biblical prophecies via biological genealogies not only through his character, the signs he brought, and the truth of his message.

By employing the term  ابناء (abna’) in arabic, whih cognate with hebrew בני (b’ney), the Quran thus link the prophetic claim of Muhammad through genetic ancestry with the Israelites. Therefore this verse do not merely speaks allegory as, I am sure, many of used to think. 

Lets analyze this verse :

الذين اءتينهم الكتاب يعرفونه كما يعرفون ابناءهم

(2:46 البقرة)

Alladhīna ʾātaynāhumu l-kitāba yaʿrifūnahū ka-mā yaʿrifūna ʾabnāʾahum

אלה אשר נתנו להם את הספר מכירים אותו כפי שמכירים את בניכם

(2:146  סורת אלבקרה)     

Elleh asher natannu lachem et has-Sefer machchirim oto kefiy shemmachchirim et b’neychem [1]

Those to whom We gave the Scripture know him as they know their own sons.

(Al-Baqarah 2:146)

Traditional Historical sources in Tarikh Al Islam confirm the accuracy of the genetic link of the Prophet of Islam to Israelite because genealogically Prophet Muhammad (p) is not of a “pure” arab stock or A’rab ‘Aaribah العرب العاربة rather he is considered as “arabized” arab or A’rab Musta’ribah  العرب المستعربة .  This may surprise some but it should not. 

Hāshim ibn Abdul Manan (whom the tribe is named hence Banu Hashim or Hashemite)  the great-grandfather of Prophet Muhammad married to Salma bint Amr of Banu Najjar a priestly Israelite clan[2]  from the city of  Medina (Yathrib as known to the Arabs) the birthplace of the Prophet Muhammad. This makes Banu Hashim a unique both an Ishmaelite and Israelite clan and this comes as no surprise that this clan is prominent to this day[3].

We have textual evidence that the city of Medina is  always a city  of particular significant for the jews as in Targum Onkelos 10:30  which was written in Judeo Aramaic from 1AD there is reference of settlements of Joktanides[4] which is called מָדִינְחָא Medincha [5,6], and there is no reason to think that this is the city other than  Medina in Arabia. There must be particular reason why the Israelite clans, the large number of them, settled in the primary Arab city of Medina, I would assume this was to do with the prevailing messianic/prophetic expectation at that time of but that perhaps another topic for another post. The fact is to such a great extend Medina had been known by the Israelites 6 centuries prior to the advent prophet Muhammad, a Hashemite (qabilah banu Hashim), whom paternal bloodline are the descendants of  Patriarch Abraham through his first-born son and seed (zera), prophet Ishmael[7], but also claim maternal bloodline of priestly Israelite ancestry from the tribe of Banu Najjar.

Exceptional Clan Solidarity

To be sure, the solidarity of the Hashemite clan was exceptionally strong. In Tarikh Al Islam we learnt that although the message of Prophet Muhammad the hashemite   incited the resentment of other Arabic tribes, the Hashemites were always united to protect one of his son, whether they are believers or not to the point that other tribes enforced a economic and social boycott against the Hashemites. For years the hashemites lived in exile and endured misery and hunger. Never once Prophet Muhammad (p) stop in preaching the message of revelation still the Hashemite clan were always by his side with exceptional patience and fortitude because they believed the noteworthiness of Muhammad’s prophetic role[8].

Exilarch connection

Hāshim ibn Abdul Manan also married another woman Qaylah (or Hind) bint Amr ibn Malik of the Banu Khuza’a from whom he had a son Asad (who was Ali Ibn Abi Thalib‘s maternal grandfather the 4th Caliph, the cousin and son-in-law of Prophet Muhammad). Asad ibn Hāshim then married to Zahna bat Kafnai Gaon, an Exilarch[9] princess, the daughter of Kafnai Gaon of Baghdad, the 32th Babylonian Exilarch (C. 530 – C. 580/581): a very noble royal family who traced their ancestry through the Davidic patrilineal line/ Malkhut Beit David (מלכות בית דוד).  From this marriage Asad ibn Hāshim and Zahna bat Kafnai Gaon bore Fāṭimah bint Asad, who then was married to  Abu Thalib bin Abdul Muthalib ibn Hashim.

Fatimah the Blessed Memory

I will argue there must be a good reason why Asad ibn Hāshim and Zahna bat Kafnai named his daughter FāṭimahIt turns out that Fāṭimah is no ordinary for name in the Oral Torah. As a daughter of a prominent jewish leader, Hazna must realized the significance of this name and play part in choosing it as a good name for her daughter, a name from the collective memory of her tradition which is the wife of prophet Ishmael the noble patrilineal ancestor of her husband: פטימא Phetima.

Here is the text from Targum Jonathan on Genesis/Sefer Bereshit 21:21 found in most rabbinic bible Mikraot Gedolot (מקראות גדולות):

וְיָתִיב בְּמַדְבְּרָא דְפָּארָן וּנְסֵיב אִתְּתָא יַת עֲדִישָׁא וְתֵרְכָהּ וּנְסִיבַת לֵיהּ אִמֵיהּ יַת פְּטִימָא אִתְּתָא מֵאַרְעָא דְמִצְרָיִם

‘And he dwelt in the wilderness of Pharan and took for a wife Adisha, but put her away. And his mother took for him Phetima to wife from the land of Egypt.

And also it was no coincidence that Prophet Muhammad too also gave his youngest daughter (from Khadija), Fāṭimah. Even until now she is one of the most loved and revered woman figure and prominent character in the religion of Islam and after her name is most muslims give name to their daughter. It is the  most popular muslim girl’s names. Undoubtedly it is to do with divine plan to preserve this noble name Phetima פְּטִימָא  (Ar: Fāṭimah فاطمة‎‎)  for generations to come.

Their Own Son

The Ishmaelite – Israelite blood union within the Hashemite genealogy proved the mature and stable existence of religious and political axis between the Babylonian Exilarch  in Baghdad – and their counterpart in Yathrib in pre-Islamic Arabian peninsula (The Hijaz)  through the uniquely influential and mixed Ishmaelite and Israelite ancestry, the Hashemite clan.  Thus genealogically it makes perfect sense that the  Qur’an designate Prophet Muhammad as “their own son” for the Israelites (ie. those who had been given scriptures) not only  in the sense through the prophecies in the  Bible.

It may explain why when Prophet Muhammad made his Hijrah  هِجْرَة  and the city was soon renamed Madīnat مَـديـنـة, the the jews of Yathrib who had the upper hand with their large settlement and huge property never objected to the name. This is a strong indication that the jews had already familiar with the name which was medintā מְדִֽינְתָּא֙ in Judeo -Aramaic and they were there awaiting the arrival of a future prophet. This is further supported by the most prominent Gaonic Rabbi:  Saadia Gaon ben Yosef / Rasag who mentioned the location Mecca مكة and Medina المدينة for his rendering of Genesis/Bereishit10:30[10].

Notes

  1. Subhi ‘Ali ‘Adwi, הַקּוּראָן בְּלָשׁוֹן אַחֵר Ha-Qur’an BeLashon Akher, 2015.
  2. The Banu Najjar /  b’ney Naggar בני נגר  (Arabic: بنو نجّار) tribe literally translates to “Sons of the Carpenter.” It may also be hinting at a rabbinic lineage as the termנגר naggar in the Talmud signifies a learned, wise and literate in the Torah.  [Jesus the Jew: a historian’s reading of the Gospels by Geza Vermes 1983; p21-22 ] 
  3. This bloodline from Salma and their father Hashem, makes the Hashemites in specific, unique among their Ishmaelite clans in Arabia and the entire Middle East, as they  are both Ishmaelite by paternal descent, and also Israelite through maternal descent, from the Royal House of Judah, from whom the Bani an-Najjar originally descend.
  4. Joktanites: ancient Arab tribes of southern Arabian peninsula
  5. Onkelos on the Torah Bereishit Noach Ch 10:30 p57 by Drazin & Wagner
  6. Medincha or Medinta? Are we sure the Aramaic term is  מָדִינְחָא Medincha with chet? But as far as my knowledge of Aramaic goes I would expect the correct spelling should read מְדִֽינְתָּא֙ medintā  with taw. The latter simply  mean the “city” in singular exactly cognates with the arabic مدينة where the blessed city are known for until today.
  7. Lineage from Ishmael according to classical accounting are considered the “Arabized” arabs or A’rab Musta’ribah  العرب المستعربة . They were arabized because Ishmael had to learn arabic when je came to Mecca and subsequently married into arab tribe of Jurhum. From Ishmael came the “Northern Arabs” associated with Adnān and later to Prophet Muhamad (in contrast to the biblical Joktanites  which give rise to “Southern Arabs” like the Yemenis)
  8. ان الله اصطفى كنانة من ولد اسماعيل و اصطفى قريسا من كنانة واصطفى قريسا بني هاشم و اصطفى ني بني هاشم – صحيح مسلم

    Verily Allah granted eminence to Kinana from amongst the descendants of Isma’il, and he granted eminence to the Quraish amongst Kinana, and he granted eminence to Banu Hashim amonsgst the Quraish, and he granted me eminence from the tribe of Banu Hashim. (Sahih Muslim » The Book of Virtues).

  9. Exilarch (Heb: ראש גלות Rosh Galut, Aram: ריש גלותא Reysh Galuta or Resh Galvata, Ar: رأس الجالوت Raas al-Galut lit. “leader of the captives”) refers to the leaders of the Diaspora Jewish community in Babylon following the deportation of King Jeconiah and his court into Babylonian exile after the first fall of Jerusalem in 597 BCE
  10.  See my previous article entitled The Road to Shur in this blog.
Leave a comment

Sejarah Yang Terlupakan

Shalom ‘aleychem
Assalamu ‘alaykum

Teks kitab suci bukan sekedar dokumen pewahyuan dalam paradigma teologis yang bersifat sakral, tetapi teks tersebut dapat pula dibaca sebagai rekaman kolektif dalam ranah historis yang bersifat profan. Dalam konteks inilah kita harus berani melakukan ‘pembacaan ulang’ terhadap teks sakral itu berdasarkan pembuktian linguistik dan sejarah.

Bila kita membaca teks sakral ini ada kata kunci secara linguistik yakni istilah abna‘ ( ابناء ) yang terkait dengan klaim kenabian. Tatkala membahas Qs. Al-Baqarah 2:146 seorang Muslim berdarah Yahudi Aschenazim yang bernama Muhammad Asad, penulis the Message of the Qur’an menyatakan:

“this refers more explicit predictions of the future advent of the Prophet Muhammad.”

Istilah ابناء (abna’) dalam bahasa Arab ini sejajar dengn istilah בני (b’ney) dalam bahasa Ibrani/ Hebrew. Jadi teks kenabian pada ayat yang terkait dengan term tersebut bukan sekedar bermakna alegoris tapi justru berlatar biologis. Coba perhatikan ayat ini.

الذين اءتينهم الكتاب يعرفونه كما يعرفون ابناءهم

(Q البقرة 2:14)

אלה אשר נתנו להם את הספר מכירים אותו כפי שמכירים את בניכם

( סורת אלבקרה 2:146)

Elleh asher natannu lachem et has-Sefer machchirim oto kefiy shemmachchirim et b’neychem

Orang-orang yang telah Kami anugerahkan Al-Kitab mengenalnya (Muhammad SAW) seperti mengenal anak-anak mereka sendiri

(Al-Baqarah 2:146)

Berdasarkan bukti historis dari catatan teks2 Tarikh Islam, ternyata Nabi Muhammad SAW memang bukan disebut sebagai orang Arab ‘Aribah (Arab asli) tapi dia disebut sebagai orang Arab Musta’ribah (bukan asli Arab). Sementara itu, berdasarkan teks-teks Rabbinic dalam bahasa Ibrani (Hebrew), terutama Sefer ha-Galui yang membicarakan tentang Resh Geluta kaum Exilarch di Arabia dan Babilonia (the Babylonian Exilarchs), ternyata garis ibu Nabi Muhammad SAW itu bukan asli keturunan Quraish. Anda terhenyak dengan fakta ini?

Hasyim putra Quraish menikah dengan Salma binti Amr, dan Amr berasal dari bani Najjar, kaum Yahudi Musta’ribah di Yatsrib/ Medinta. Bani Najjar ini adalah kaum Yahudi diaspora yang tinggal di kota Yatsrib. Orang-orang Arab pra-Islam menyebutnya kota Yatsrib, sedangkan orang-orang Yahudi Musta’ribah menyebutnya bukan dengan sebutan Yatsrib tapi dengan sebutan Medinta, sebagaimana yang tercatat dalam Targum Onkelos yang tertulis dalam bahasa Judeo-Aramic sejak pada abad 1 M., era pra-Islam.

Jadi nama Medinta telah populer 6 abad sebelum era Islam. Kaum Yahudi Musta’ribah yakni kaum Yahudi Sephardim dan Mizrachim tahu betul wilayah Medinta ini sebelum Islam ada. Belum ada data yang menjelaskan mengapa kaum Yahudi Musta’ribah ini mendiami wilayah Yatsrib ini secara masif dan bergenerasi berdasarkan alasan2 historis, politis, ekonomi, sosial, kultural atau pun agama. Namun yang perlu digaris bawahi adalah identitas bani Hashim (anak cucu/keturunan Hashim) itu sendiri yang sangat unik, karena hanya melalui bani Hashim saja darah Ishmael dan darah Israel bercampur dalam satu klen/qabilah, yang kemudian dalam Tarikh Islam disebut qabilah bani Hashim.

Tentu saja dalam Tarikh Islam, terutama saat era kenabian juga ada catatan sejarah tentang penderitaan bani Hashim yang diboikot dan diasingkan/dibuang (exile) oleh suku-suku Arab lain gara-gara tampilnya seorang Nabi dari kalangan bani Hashim. Mengapa bukan hanya seorang/sekelompok orang dari keturunan bani Hashim yang diboikot dan dibuang atau diasingkan (exile)? Bukankah pengasingan itu berlangsung selama bertahun2 secara ekonomi, politik dan sosial? Mengapa seluruh bani Hashim yang dibuang (exile) dan bukan hanya Sang Nabi saja yang dibuang? Mengapa seluruh bani Hashim harus menanggung derita akibat ‘ulah’ satu orang di antara mereka dan seluruh bani Hashim siap membelanya? Nampaknya peristiwa sejarah pembuangan (exile) yang menimpa bani Hashim ini terkait juga dengan hadits Shahih Muslim.

ان الله اصطفى كنانة من ولد اسماعيل و اصطفى قريسا من كنانة واصطفى قريسا بني هاشم و اصطفى ني بني هاشم – صحيح مسلم

Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya ALLH telah memilih Kinanah dari antara keturunan Ishmael, dan memilih Quraish dari antara keturunan Kinanah dan memilih bani Hashim dari antara keturunan Quraish dan memilih aku – kata Nabi SAW – dari antara bani Hashim (H.R. Imam Muslim).

Hashim selain menikah dengan wanita Yahudi Musta’ribah dari bani Najjar yang bernama Salma binti Amr, yang melahirkan Syaiba (Abdul Muthalib), ternyata Hashim juga beristri wanita lain yang bernama Qaylah yang melahirkan baginya seorang anak bernama Asad. Asad ibn Hashim menikah dengan Zahna, putri seorang Resh Geluta kaum Exilarch ke-32 dari Babilonia yang bernama Hofnai, dan di Babilonia tersebut kaum exilarch ini di bawah pimpinan Resh Geluta (pimpinan kaum buangan), dan Resh Galuta sendiri secara Halacha adalah keturunan Nabi Daud AS.

Adik ipar Hushiel ben Hofnai yang bernama Asad ibn Hashim, yang menikah dengan Hazna binti Hofnai putri Exilarch ke-32 ini melahirkan Fathimah binti Asad, yang kemudian dinikahi oleh Abu Thalib bin Abdul Muthalib ibn Hashim. Namun, mengapa Asad ibn Hashim menamai putrinya dengan nama Fathimah? Apa hubungannya nama ini dengan Hazna binti Hofnai putri Exilarch ke-32 dari Babilonia? Sepertinya ada campur tangan Hazna dalam penamaan putrinya ini yang merupakan ingatan kolektifnya utk mengenang kembali nama lelulur dari keluarga suaminya, yakni Asad bin Hashim, keturunan Ishmael. Penamaan ini juga sebenarnya merupakan bukti bahwa nama Fathimah bukanlah nama asli Arab, tetapi nama khas Ibrani yang muncul dalam Targum Yonathan berbahasa Judeo-Aramaic yang ditulis pada abad ke-1 M. Ishmael dalam Tagum Yonathan beristri פטימא (Phetima) sesuai teks Targum Yonatahan, Sefer Bereshit 21:21 yang menyebut sbb:

ויתיב במדברא דפראן ונסיב אתחא ית עדישא ותרבה ונסיבת ליה אמיה ית פטימא אתהא מארעא דמצרים

‘And he dwelt in the wilderness of Pharan and took for a wife Adisha, but put her away. And his mother took for him Phatima to wife from the land of Egypt.

Jadi bani Hashim secara garis ibu – seutuhnya berdarah Yahudi dan sekaligus keturunan langsung Nabi Daud AS (1).

Data sejarah membuktikan adanya jalur politik dan keagamaan antara kaum Exilarch di Baghdad – Babilonia (Irak) dan di Medinta (Saudi Arabia) era pra-Islam. Hal ini bisa dibaca melalui kemapaman teks Targum Onkelos dalam bahasa Judeo-Aramaic yang tersebar di kalangan Yahudi yang bermukim di wilayah Yaman, Hijaz dan wilayah Babilonia, dan dibaca secara meluas oleh semua kaum Yahudi di wilayah tersebut (2).

Bahkan kemapanan hubungan kedua wilayah penting dan strategis ini dapat pula terbaca melalui kemunculan Targum Saadia berbahasa Judeo-Arabic yang menyebut nama Al-Madinah, sehingga tidak salah bila kaum Yahudi yang berdiaspora ke wilayah itu justru mendahului kedatangannya sebelum terbukukannya Targum Saadia dalam bahasa Judeo-Arabic, yang dalam Targum Onkelos disebut Medinta. Jadi Rav Saadia Gaon hanya merekam ingatan kolektif bangsa Yahudi tentang keberadaan wilayah Medinta ini dengan bahasa Judeo-Arabic, yg disebutnya Al-Madinah. Itulah sebabnya tatkala Nabi SAW hijrah ke kota Yatsrib, maka seluruh kaum Yahudi Musta’ribah tidak kaget tatkala Nabi SAW mengubah dan menamai kota tersebut dengan sebutan Al-Madinah menurut lisan bahasa Arabic, sedangkan kaum Yahudi Musta’ribah sejak era pra-Islam menyebutnya Medinta menurut lisan bahasa Judeo-Aramaic. Perpindahan Nabi SAW dari Mekkah ke kota Yatsrib yang disebut Medinta oleh kaum Yahudi Musta’ribah ternyata tidak hanya dibaca terkait dengan peristiwa Hijrah an sich, tapi sekaligus pula menandai dan melanjutkan peradaban leluhurnya di kota Yatsrib yang disebut Medinta, yang kemudian oleh Nabi SAW diteguhkannya kembali dengan nama Al-Madinah.

 

Notes:

  1. Jika Anda penasaran silakan membaca Jurnal terbitan Hebrew University berjudul ‘A Note on Early Marriage Links between Qurashis and Jewish Women’, see Jerusalem Studies in Arabic and Islam vol.10 (1987), references to Jewish ladies of “Noble Birth” are descended from the Exilarch.
  2. Silakan membaca buku The Targum of Onkelos to Genesis: A Critical Enquiry into the Value of the Text Exhibited by Yemen Mss. Compared with that of the European Recensian Together with Some Specimen Chapters of the Oriental Text (Henry Barnstein, 1896).
1 Comment