Answering Itzhak Shapira’s “Kosher Pig”

Itzhak Saphira

Written by Menachem Ali

Shalom ‘aleychem
Assalamu ‘alaykum

Baruch Atta Adonai Eloheynu Melech ha-‘olam, Elohey avoteynu ha-rishonim asher bara ha-shemayim ve ha-aretz.

Dear all

An Israeli Jewish Messianic Rabbi wrote a book ” the Return of the Kosher Pig: the Divine Messiah in Jewish Thought ” by (Rabbi) Itzhak Shapira (Maryland, USA: Messianic Jewish Publishers) to prove the divineship of Yeshu ha-Talui as the divine Messiah. He is a leader of Messianic group which so called Messianic Judaism.

” It is a fraudulent group of Evangelical Christians who disguise themselves and their rituals as Jews, to fool and trick ignorant Jews into the PURE IDOLATRY OF CHRISTIANITY. They are a well-trained group of charlatans, and are sadly too successful in their deceit. Definitely the work of Shaitan -Satan”, Avi Ibrahim said.

(Rabbi) Itzhak Shapira claimed that Yeshu ha-Talui is the divine Messhiah and G-d Himself, as HaShem in our rabbinical references. But after reading his book, I read many data in a speculative analysis and full in the paradigm of selected judgment. Even, he really corrupted the rabbinic texts, out of context. It is the first problem in the academic tradition.

The second, he claimed that B’nei Yishmael worshipped other god, the god of pagan, and crazy, his name is ALLH, not G-d of B’nei Yisrael, YHWH baruch Hu.

The Semitic scholars such as Philip K. Hitti in his book ” History of the Arabs: from the Earliest Times to the Present (New York: the Macmillan Company, 1951) proved that
He is the Owner of two dialects who is only ONE. All rabbinic references proved that ALLH and YHWH is similar and the same, neither begets, nor was He Begotten לא ילד ולא ילד

Surely He is the ONE and ONLY ONE G-d, G-d of our forefathers, HaShem habbore. In Arabic dialect, ALLH is called Al-Ism al-A’dzam (The Great NAME) as well as in Hebrew dialect, YHWH is called Ha-Shem (The NAME).

Rav Saadia Gaon ben Yosef al-Fayyumi zichrono livrachah, in his Targum Judeo-Arabic which so-called Chamesh Megilloth Sefer Ruth 2:12 יהוה אלהי ישראל he linguistically wrote as follows: אללה אלאה אסראיל (ALLH Ilahu Isroil). ALLH is not a translation of YHWH in Arabic, but the name is a dialect of YHWH in Arabic. Arabs called Him as the Great Name (Al-Ismu al-A’dzam), and Hebrews called Him as the Name (Ha-Shem).

Rav Saadia Gaon ben Yosef al-Fayyumi zichrono livrachah, in his Targum Judeo-Arabic which so-called Chamesh Megilloth Sefer Ruth 2:12 יהוה אלהי ישראל he linguistically wrote as follows: אללה אלאה אסראיל (ALLH Ilahu Isroil). ALLH is not a translation of YHWH in Arabic, but the name is a dialect of YHWH in Arabic. Arabs called Him as the Great Name (Al-Ismu al-A’dzam), and Hebrews called Him as the Name (Ha-Shem).

In his presentation via Youtube, he always refers to Sefer Ha-Galui. It means that he regards the Sefer is an authoritative work, written by the Gaon. In his book Sefer Ha-Galui, Rabbi Saadia write that his belonged to the noble family of Shelah son of Yehudah the 4th son of Yacov and counted among his ancestors Rabbi Hanina Ben Dosa (1st century CE). In 923 CE. he went to the rabbinical center of Torah in Babylon, joining the Talmudic academies of Pumbedita and Sura. He spent six months at the important Torah center in Aleppo – Syria – where he wrote his work ABTIDA’ KALAMNA (Ten Commitments), Arabic written with Hebrew letters which so called the Judeo-Arabic. To this day, this book is yearly read by Aleppo Jews on the holyday of TU BiShvat. The great Kabbalist Rabbi Yosef Chaim, the ” Ben Ish Hay ” praised Rabbi Saadia’s commentary which so called Targum ha-Tafsir be Aravit Chamesha Chumshe Torah in Judeo-Arabic warmly in his book of Halachot (part 2 parshat Ki Tetze, Hilchot Talmud Torah, item 25): ” …. and here in our town of Baghdad there is the Commentary of Rabbi Saadia on the Torah in Arabic. It includes many points very well clarified in the Arabic language and in order to understand the precious diamonds of his commentary and there he gives an example.” Ibn Ezra also stated in his commentary on the book of Genesis 2:12 ” the Gaon has acted for the glory of G-d by translating the Torah into the language of Ishmaelite and into their script so that no one can say that the Hebrew Torah contains words that nobody understands.” Even, the famous commentator Rashi in his commentary on Sefer Shemot 24:12 referred to Rabbi Saadia Gaon as Rabbenu Saadia (Our Teacher Saadia).

If (Rabbi) Itzhak Shapira reject Rabbi Saadia Gaon, he exactly rejects all of his references, including Ibn Ezra’ work and Rashi’s commentary. I think he will be a scholar, and not a pseudo-scholar.

.

Leave a comment

Ishmael dalam narasi kitab suci Yahudi dan Islam (Part VII) – Lokasi Al-Madinah: Mengkritisi Apologet Kristen tentang Wacana Pengaruh Islam dalam Targum Saadia

Lokasi Al-Madinah: Mengkritisi Apologet Kristen tentang Wacana Pengaruh Islam dalam Targum Saadia

By Menachem Ali

 

Pengantar

Isu adanya pengaruh istilah-istilah Islami khas Quran yang dituduhkan terhadap Targum Saadia oleh kaum apologet Kristen, ternyata telah memasuki babakan yang lebih masif dan intensif. Mereka menyadari betapa dahsyatnya peran Targum Saadia bagi umat Yahudi dan umat Islam, mereka pun menyadari bahwa Targum Saadia sebagai warisan dokumen Rabbinik yang amat penting ternyata dapat mengancam kemapanan teologi Kristiani dan sekaligus sbg penghalang Kristenisasi. Itulah sebabnya para apologet Kristen berupaya secara masif dan siatematis utk mewacanakan kecacatan Rav Saadia Gaon sbg sang Rabbi yang otoritarif dalam konteks sanad keilmuan Rabbinik, dan sekaligus mewacanakan invaliditas Targum Saadia sebagai Targum yang tdk otentik dalam penyingkap pesan Torah. Berkaitan dengan hal-hal tersebut, saya akan membedah keberatan mereka atas Targum Saadia berdasarkan 2 poin penting, dan tentu saja dalam pembahasannya saya menggunakan bahasa sederhana, bukan dengan bahasa akademik, yang biasanya saya gunakan untuk menulis jurnal.

  1. Kredibiltas Rasag yang Diragukan

Presiden Israel yang sekarang, Reuven Rivlin telah mengakui kredibilitas Targum Saadia sebagai karya luar biasa yang membuktikan keluhuran posisi Rav Saadia Gaon dalam tradisi Rabbinik. Lihat dan bacalah surat beliau kpd Rabbi Yomtov Haim di thread ini. Namun, seorang apologet Kristen yang bernama Jimmy Jeffry (JJ) dengan menggunakan data 2nd sources dari kalangan Orientalis Kristen, ia mengklaim bahwa Rasag ditentang oleh rabbi-rabbi masa thabaqat generasi Gaonim hingga para Rabbi masa thabaqat generasi Rishonim. Bahkan, Ibn Ezra konon juga dianggap menentang Rasag. Namun sayangnya, JJ tidak menunjukkan siapa nama-nama para Rabbi yang menentang kredibilitas Rasag. Fakta justru sebaliknya, Ibn Ezra sangat memuji Rasag. Rabbi Abraham Ibn Ezra (1089-1167 CE) tatkala menjelaskan nas Sefer Bereshit 2:11 dalam kitabnya Ibn ‘Ezra ‘al ha-Torah ‘im Phirush Otzer Chayyim, dia sangat memuji adanya Targum Saadia dalam bhs Judeo-Arabic, bahasa kaum Ishmael. Dia berkata:

Amar ha-Gaon le kavod HASHEM ka ‘Abor sa-Targum ha-Torah be leson Yishmael u be ktiv-tem shela yomeru ki yas be Torah mitzvoth lo yedo’anim.

“The Gaon said for the glory of God by translating the Torah into the language of the Ishmaelities and into their script, so that no one can say that the Hebrew Torah contains words that nobody understand.”
(Ibn Ezra ‘al ha-Torah ‘im Phirush Otzer Chayyim. Bereshit. Yerusalem, p. 69).

Pernyataan Ibn Ezra sendiri dalam kitabnya tsb menyatakan bhw dengan adanya Targum Saadia, maka hal itu merupakan bukti bahwa Ibn Ezra tidak menentang Rasag, justru memujinya. Bahkan tatkala Ibnu Ezra menjelaskan nas Sefer Bereshit 16:14 tentang be’er Laha Roi ternyata Ibn Ezra menjelaskan dng pernyataan tegas bhw Be’er Laha Roi adalah Be’er zamum (sumur mata air zam-zam), fakta teks iini justru membuktikan bahwa Ibn Ezra juga menguatkan penjelasan Rasag terkait ayat sebelumnya, yakni nas Sefer Bereshit 16:7 yang menyebut Syur dengan nama lain, yakni Hijr Al-Hijaz. Targum Onqelos menyebut Hagra, Targum Saadia menyebut Hijr Al-Hijaz sebagai penjelasan lokasi geografis Hagra, sedangkan Ibn Ezra menegaskan eksistensi sumur mata air zam-zam yang ada di lokasi geografis Al-Hijaz tersebut. Dengan demikian, Targum Saadia menyebut Hijr/Hajr Al-Hijaz sepadan dng Targum Onqelos menyebut Hagra, ini sekaligus membuktikan bahwa sebutan Hagra atau pun Hijr yang dimaksud itu merujuk pada wilayah Hijaz. Inilah penjelasan Targum Rasag atas Targum Onqelos, dan Perush Ibn Ezra juga menjelaskan ttng sumur Lahai Roi sebagai be’er zamum (sumur mata air zam-zam) yang juga semakin menjelaskan Targum Rasag berkaitan dng sumur zam-zam yang ada di wilayah Hijaz tersebut.

Maka, bila Orientalis Kristen menyatakan adanya pertentangan antara Rasag (Rav Saadia Gaon) dng Rabbi Ibn Ezra, maka hal ini sebenarnya hoax, sebab Ibn Ezra sendiri memuji Rasag dalam penjelasannya pada Sefer Bereshit 2:11 dan Sefer Bereshit 16:14. Jimmy Jeffry melakukan kesalahan besar yang bisa dikatakan sebagai pseudo-academic terkait dengan Rabbi Ibn Ezra. Mengapa? JJ membuat pernyataan hoax atas pribadi Ibn Ezra yang katanya menentang Rasag. Saya memaklumi tindakan Jimmy Jeffry tersebut akibat keterbatan sumber primer yang diaksesnya. Ini pun akibat ketidakcerdasannya bernalar secara kritis dalam mengakses sumber yang menjadi rujukannya melalui 2nd sources.

Begitu juga pernyataan JJ yang menyatakan bahwa para Rabbi juga banyak yang menentang Rasag. Benarkah itu? Rabbi Yomtov Haim ben Ya’akov Daknish Hacohen (manager Project Saadia Gaon) dalam karyanya berjudul Torah: Original Commentary in Arabic by Rabbi Saadia Gaon (Jerusalem, 2015, p.v beliau menyatakan:

” ….. The Rabbi Saadia Gaon’s Torah commentary is the most faitfull commentary ever written in the Arabic language. Over the last 15 centuries, no other Torah commentator in the Arabic language, except for Rabbi Saadia Gaon, has fulfilled as minimum two conditions for a faitful work, that he is Jewish and that he was worked directly from the original Hebrew Torah text. Thus Rabbi Saadia Gaon’s commentary set a standard of fidelity for all subsequent generations. The famous commentator Rashi (1040-1105 CE) in his commentary on Exodus (chapter 24:12) referred to Rabbi Saadia Gaon as Rabbenu [our teacher] Saadia.

The Great Kabbalist Rabbi Yosef Haim, the “Ben Ish Hai” (1834-1909 EC)
praised Rabbi Saadia’s commentary warmly in his book of Halachot (part 2, parashat Ki Tetze, Hilchot Talmud Torah, 25) ” … and here in our town of Baghdad there is the commentary of Rabbi Saadia on the Torah in Arabic. It includes many points very well clarified in the Arabic language … and in order to understand the precious diamonds of this commentary.” During the eleven centuries since the writing of the Rabbi Saadia’s commentary it has been studied widely, especially by Yamanite Jews who has used the Judeo-Arabic version of the commentary in their daily learning. The Judeo-Arabic Yemenite manuscripts’ version of the commentary has been printed along with the text of the Torah, beginning with the Jerusalem edition of 1894 CE. and continuing until today.”

(Rabbi Yomtov Haim ben Yaakov Daknish Hacohen. at-Tawrah: Tafsir al-Ashli min ma’ali al-Hakhom Saadia Gaon ibn Yusuf al-Fayyumi. Yerusalem, 2015, p.v).

Dengan demikian, tuduhan Rabbi-rabbi yang katanya banyak yang menentang Rav Saadia Gaon hanyalah hoax, dan ini merupakan alibi kaum apologetis Kristen untuk mendiskreditkan dan memarginalkan posisi Saadia Gaon.

  1. Pengaruh Istilah Quran dalam Targum Saadia.

Sebenarnya, dalam Targum Saadia memang terdapat kosakata yang sejajar dng kosakata Quran. Namun anehnya, kesejajaran itu terlalu terburu2 bila disimpulkan sebagai bentuk pengaruh Islam dalam Targum Saadia. Menurut saya, kesejajaran ini ada 2 opsi/alternatif. Pertama, apakah adanya kesamaan kosakata dalam Targum Saadia dan kosakata Quran bisa membuktikan bahwa Targum Saadia dipengaruhi Islam? Kedua, apakah kosakata Arab yang termaktub dalam Quran dan kosakata Judeo-Arabic yang termaktub dalam Targum Saadia sama-sama mewarisi common heritage bhs Arab era pra-Islam?

Opsi pertama yang diwacanakan oleh para apologet Kristen mengandung banyak kecatatan karena hanya berpijak pada 1 sisi, yakni hanya fokus pada kesamaan kosakata Arab yang dipakai pada keduanya, sebagaimana yang muncul dalam Targum Saadia dan Quran. Padahal fakta kajian perbandingan teks antara Targum Saadia dan Quran justru juga membuktikan adanya banyaknya ketidaksamaan kosakata yang dipakai di dalam keduanya. Adanya kesamaan/kesejajaran kosakata merupakan warisan pra-Islam, misalnya nama ALLH, qaryat, qura, Al-Madinah yang sudah dikenal oleh orang Arab pra-Islam dan kaum Yahudi Musta’ribah era pra-Islam, yang merupakan warisan bersama, dan bukan pengaruh Islam sama sekali. Justru banyaknya kosakata Yahudi Musta’ribah yang terekam dalam Targum Saadia yang justru berbeda dng Quran, hal ini semakin membuktikan bahwa Targum Saadia tidak mewarisinya dari Quran. Apalagi gramatika bahasa Judeo-Arabic dalam Targum Saadia berbeda sama sekali dng gramatika Quran, maupun gramatika bahasa Arab-Islam, yang membuktikan bahwa tidak adanya pengaruh Islam dalam Targum Saadia. Misalnya:

Redaksional teks Targum Saadia tertulis

  • Qain
  • Khanukh
  • Yitru
  • Abroham
  • Yishmail
  • Yishhaq

Redaksional teks Quran tertulis

Kajian linguistik diakronis antara kosakata dan gramatika yang berbeda antara Targum Saadia dng Quran akan saya bahas pada thread yang lain. Namun, thread ini akan fokus pada Sefer Bereshit 10:30 dan Sefer Bereshit 16:7. Dalam kedua nas tersebut, terdapat nama Al-Madinah dan Hijr Al-Hijaz dalam versi Targum Saadia yg sejajar dengan Targum Onqelos, yakni nama Medinta dan Hagra. Ini merupakan fakta tekstual yang tak bisa dibantah secara akademik. Oleh karena itu, ada upaya penetrasi wacana pseudo-academic dalam ranah publik yg dibangun tanpa dasar yang kokoh dengan asumsi-asumsi apologetik yang tak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Teori usang yang cacat akademik ini digemakan lagi, yang disebut sebagai teori “borrowing” atau teori ” influence ” yang sengaja diwacanakan ulang. Itulah sebabnya para apologet Kristen menyatakan adanya pengaruh Islam dalam Targum Saadia. Wacana ini sengaja dimunculkan dalam dialog Islam – Kristen yang ternyata saat ini memang banyak mendapat sorotan di kalangan para apologet Kristen, terutama Jimmy Jeffey (JJ) dan Teguh Hindarto (TH). Oleh karena itu, saya akan memaparkan kelemahan argumentasi pseudo-academic yang digagas oleh kedua apologet itu secara sederhana saja.

Targum Onqelos berbahasa Judeo-Aramaic dan Targum Rasag berbahasa Judeo-Arabic bagaikan 1 keping coin yang memiliki 2 sisi, yang penjelasannya saling melengkapi dan keduanya otoritatif dalam mempelajari teks kitab suci Torah. Bila seseorang mempelajari TaNaKH (Torah Neviem ve Khetuvim), yang disebut sebagai teks Masoret, tetapi menolak otoritas Targum Onqelos dan Targum Rasag, maka dia sama saja dengan tidak mengerti apa2 tentang TaNaKH. Itulah sebabnya, Rashi menjadikan Targum Onqelos dan Targum Saadia sebagai teks otoritatif dalam menjelaskan Torah. Rashi (Rabbi Shlomo ben Yitzhaq) menyebut nama Rabbi Saadia Gaon (Rasag) dengan sebutan Rabbanu Saadiyah (our teacher Saadia) dalam karyanya Perushi ‘al ha-Torah tatkala menjelaskan ayat yang termaktub dalam Sefer Shemot 24:12. Ini membuktikan bahwa Rashi memposisikan Saadia Gaon sebagai Rabbi otoritatif dalam pembelajaran Torah. Begitu juga Rashi memposisikan Onqelos sebagai figur otoritatif dalam pembelajaran Torah. Dalam karyanya yang berjudul Perushi ‘al ha-Torah, Rashi juga menyatakan Targumo dayyana (Targum renders it judge) tatkala menjelaskan ayat yang termaktub dalam Sefer Shemot 20:1

Begitu juga para rabbi lainnya yang berkarya pada era generasi Rishonim, seperti Ibn Ezra, Radak dan Ramban, termasuk munculnya TaNaKH dalam terjemahan bhs Yiddish yang umum dipakai di kalangan Yahudi Aschenazim pun justru mengutip dan saling menjelaskan terhadap otoritas Targum Onkelos dan Targum Rasag. Bahkan, Targum Rasag yang disebut Targum Chamisha Chumshe Torah be Leson ha-‘Aravit: Tafsir at-Taurah bi al- ‘Arabiyyah, karya Rabbanu Sa’adiyah ben Yosef Gaon diakui sangat otoritatif dan dianggap sebagai sumber klasik oleh kaum Yahudi Musta’ribah sejak dulu hingga kini. Oleh karena itu, relasi teks Masoret (TaNaKH), Targum Onqelos dan Targum Rasag amat signifikan dalam pembelajaran teks Rabbinik, khususnya Torah. Misalnya, nas Sefer Bereshit 16:14 dalam teks TaNaKH tertulis 2 nama lokasi geografis, yakni Kadesh dan Bered, sedangkan nas Sefer Bereshit 16:14 dalam teks Targum Onqelos tertulis Reqem dan Hagra. Apakah Onqelos salah dalam memahami Torah sehingga mengganti nama Kadesh menjadi Reqem dan sekaligus mengganti nama Bered menjadi Hagra? Apakah Onqelos sedang menggunakan nalar cocokologi dalam kitab Targum-nya? Apakah nama Kadesh dan Reqem memang merujuk pada nama lokasi geografis yang berbeda? Juga, apakah nama Bered dan Hagra mengacu pada nama lokasi geografis yang berbeda? Para rabbi tidak ada seorang pun di antara mereka yang menolak nama lokasi geografis Reqem dan Hagra sebagaimana yang termaktub dalam Targum Onqelos sebagai nama lain versi Judeo-Aramaic dari nama Kadesh dan Bared dalam bahasa Ibrani, dan tidak ada seorang pun di antara para Rabbi era generasi Rishonim yang menganggap bahwa nama Reqem dan Hagra sebagaimana yang termaktub dalam Targum Onqelos sebagai sebuah kesalahan penjelasan yang fatal, yang harus ditolak dan dianggap tidak otoritatif. Apakah ada seorang rabbi yang menyatakan bahwa nama Reqem dan Hagra dalam Targum Onqelos adalah sebuah nalar cocokologi, atau pun manipulasi kreatif dan bahkan kekeliruan akut akibat pengaruh Kristen, karena faktanya Targum Onqelos memang disusun pada era pasca-Kristen dan rampung disusun secara lengkap pada era pra-Islam? Sefer Bereshit 16:7 dalam TaNaKH tertulis nama Shur, sedangkan dalam Targum Onqelos tertulis nama Hagra. Mengapa nama Bered dalam Targum Onqelos (Sefer Bereshit 16:14) dan nama Shur dalam Targum Onqelos (Sefer Bereshit 16:7) sama-sama diganti dng nama Hagra dalam bahasa Aramaic? Mengapa Onqelos pemahamannya seakan-akan inkonsisten dalam kasus ini? Apakah benar Onqelos tidak konsisten sebagaimana tuduhan kaum apologet Kristen yang tak terpelajar? Bukankah nama Bered dan Shur secara tulisan tidak sama, tetapi mengapa keduanya disebut dengan nama yang sama yakni disebut dng nama Hagra? Apakah Bered, Shur dan Hagra merujuk pada lokasi geografis yang sama atau justru sebaliknya? Apakah Onqelos dalam hal ini menggunakan nalar cocokologi sebagaimana yang dituduhkan oleh kaum apologet Kristen? Begitu juga dalam Targum Saadia (Sefer Bereshit 16:7) tertulis nama Hijr al-Hijaz. Apakah itu berarti Rabbenu Saadia Gaon telah menggunakan nalar cocokologi? Dengan demikian, apakah Onqelos dalam Targum Judeo-Aramaic dan Saadia dalam Targum Judeo-Arabic keduanya telah menggunakan nalar cocokologi karena menyebut nama Bered dan Shur sebagai Hagra dan Hijr (al-Hijaz)? Apakah justru sebaliknya, bahwa nama Bered, Shur, Hagra dan Hijr (al-Hijaz) itu merujuk pada lokasi geografis yang sama dalam ekspresi bahasa yang berbeda, dan bukan dimaksudkan untuk merujuk pada lokasi geografis yang berbeda?

Bila kaum Kristiani menolak nama Hijr al-Hijaz sebagai padanan nama Shur sebagaimana yang termaktub dalam Targum Saadia, lalu mengapa mereka tidak menolak nama Hagra sebagai padanan nama Bered dan Shur sebagaimana yang termaktub dalam Targum Onqelos? Bukankah istilah Shur dan Bered itu bahasa Ibrani era Masoret? Bukankah istilah Hagra itu bahasa Judeo-Aramaic era Kristen? Bukankah istilah Hijr al-Hijaz itu bhs Judeo-Arabic era Islam? Apakah sebutan Hagra itu akibat pengaruh dan dominasi pandangan dunia Kristen atau pengaruh dari pandangan dunia Islam? Apakah sebutan Hijr Al-Hijaz itu juga akibat pengaruh dan dominasi dunia Islam atau pra-Islam? Istilah Al-Hijaz tidak tiba2 muncul di era Islam, justru telah eksis era pra-Islam. Apakah nama Hagra dan nama Hijr al-Hijaz yang termaktub dalam kedua Targum itu dianggap sebagai istilah yang keliru yang dilakukan oleh Onqelos dan Rasag? Kalau nama Shur yang diganti menjadi nama Hijr al-Hijaz dianggap keliru dan menyimpang, maka nama Bered dan Shur yang diganti menjadi nama Hagra juga harus dianggap lebih keliru dan sangat menyimpang. Bukankah kekeliruan Rasag hanya mengganti nama Shur menjadi nama Hijr al-Hijaz? Namun kekeliruan Onqelos lebih parah lagi karena Onqelos mengganti nama Bered sekaligus nama Shur menjadi satu nama, yakni Hagra. Bukankah nama Bered dan Shur jelas sekali merujuk pada nama yang berbeda? Namun sebaliknya, bila dalam hal ini Onqelos dianggap benar, maka Rasag seharusnya juga dianggap benar, begitu juga sebaliknya.

Adanya nama Hagra dalam Targum Onqelos, yang sejajar dengan nama Hijr (Al-Hijaz) dalam Targum Saadia, justru hal ini membuktikan adanya common heritage antara tradisi Yahudi dan Islam . Bahkan, adanya 3 kata kunci dalam Targum Onqelos yang menujuk lokasi Hagra (H-g-r), Medinta (M-d-n-t) dan Thur (Th-r) yang sepadan dengan 3 kata kunci dalam Targum Saadia yang menunjuk lokasi Hijr (H-j-r), Al-Madinat (M-d-n-t) dan Thur (Th-r) merupakan bukti eksisnya term2 tersebut sejak era pra-Islam dan bukan pengaruh islam. Apakah penggunaan leksikon Hagra, Medinta dan Thur dalam Targum Onqelos ini dipengaruhi tradisi Islam atau dipengaruhi Targum Saadia atau sebaliknya? Jika ketiga term Judeo-Aramic dalam Targum Onqelos itu dipengaruhi tradisi Islam, maka ini sangat mustahil karena Targum Onqelos sudah eksis sejak abad 1 M. Apakah istilah Medinta dan istilah Thur dalam Targum Onqelos ini dipengaruhi Quran dan tradisi Islam? Bukankah istilah Thur (gunung/pegunungan) dan Al-Madinat dalam Quran sejajar dng Medinta dan Thur dalam Targum Onqelos? Jadi, teori “pengaruh Islam”yang menyelinap dalam Targum Rasag yang dituduhkan oleh kaum apologet Kristen sangat tidak tepat, cacat, ber-standard ganda dan inkonsisten.

Targum Onqelos tertulis:
1. Hagra
2. Thur
3. Medinta (מדינתא)
4. Qirwin (קרוין) / Qirwayya (קרויא)
5. Qarta (קרתא)

Targum Saadia dan teks Quran tertulis:
1. Hijr
2. Thur
3. Al-Madinah (אלמדינה)
4. Qura (קרי)
5. Qaryat (קריה)

Tatkala menjelaskan Sefer Bereshit 16:7, ternyata dalam catatan kaki Targum Chamisha Chumshe Torah be Leson ‘Aravit le Rabbanu Saadiyah Gaon ben Yosef al-Fayyumi: Version Arabe du Pentateuque de R. Saadia Ben Josef Al-Fayyoumi. Notes Hebraiques (Paris: Ernest Leroux, Editeur, 1893), halaman 24 tertulis sbb:

Be derech Hijr Hijaz wa kana Targum Onqelos Hagra ve zehu eretz ha-‘Erev hamitz’it asher bo ‘Ir Mekah ha-Qadoshah le Yishmaelim u-Baka.

(ke jalan Hijr Hijaz dan pada Targum Onqelos Hagra dan hal itu merujuk tanah Arab yang orang2 penganut iman Ishmael bertujuan datang ke kota suci Makkah atau Bakka).

Jadi catatan kaki tersebut menegaskan bahwa Hagra dalam Targum Onqelos merujuk pada Hijr yang dikaitkan dng keberadaan Makkah di Hijaz, tanah Arab. Apalagi kata2 kunci dalam Targum Onqelos tersebut (Hagra – Madinta – Qirwayya -Qarta) semakin membuktikan bahwa leksikon Judeo-Arabic (Thur – Hjir – Al-Madinah – Qura – Qaryat) yang termaktub dalam Targum Saadia dan Quran hanya berfungsi mengkonfirmasi maksud yang sama sebagaimana Targum Onqelos; dan bukan membuktikan adanya pengaruh Islam dalam Targum Saadia.

Fakta sejarah juga telah membuktikan bahwa wilayah geografis Al-Hijaz itu meliputi kawasan Mecca dan Medina. Hal ini juga dibenarkan oleh Rasag dalam Targum-nya. Menurut Targum Rasag, Sefer Bereshit 16:7 yang menyebut nama Hijr Al-Hijaz terkait pula dengan Sefer Bereshit 10:30 yang menyebut nama Makkah dan nama Al-Madinat (baca: Al-Madinah), dan sepadan pula dengan Targum Onqelos yang menyebut nama Madinta. Bila seorang apologet Kristen menolak Targum Rasag hanya karena alasan redaksional penggunaan term Al-Madinat dalam Sefer Bereshit 10:30, dan hal ini mereka anggap ahistoris dan dianggap pengaruh Islam, bukankah redaksional penggunaan term Madinta dalam Targum Onqelos terkait Sefer Bereshit 10:30 juga ahistoris? Bukankah term Madinta ( M-d-n-t) dalam Targum Onqelos bhs Judeo-Aramaic dan term Al-Madinat (M-d-n-t) dalam Targum Saadia bahasa Judeo-Arabic ternyata keduanya itu maknanya sama yang merujuk pada makna proper name of place, dan bukan merujuk pada makna generic noun? Fakta membuktikan bahwa istilah Al-Madinat dalam Targum Rasag itu memang eksis pada era pasca-Islam, dan ketika menyebut ‘kota-kota’ lain ternyata Rasag tidak menggunakan istilah Al-Madinah, selain itu, istilah Madinta dalam Targum Onqelos bahkan lebih dulu eksis pada era pra-Islam.

Bila kita mempersoalkan atau pun meragukan validitas/keshahihan nama Al-Madinat (M-d-n-t) dalam Sefer Bereshit 10:30 versi Targum Saadia, maka sebenarnya kita juga perlu memperbicangkan ulang tentang keshahihan nama Madinta (M-d-n-t) dalam Sefer Bereshit 10:30 versi Targum Onqelos sebagai dokumen yang lebih kuno, yang telah eksis pada era pra-Islam sejak abad 1M., meskipun eksistensi nama Medinta (M-d-n-t) juga termaktub dalam Sefer Bereshit versi Targum Yonathan. Bahkan berdasarkan kajian analisis kritis, maka para apologet Kristen seharusnya mempertanyakan ulang eksistensi term Medinta (M-d-n-t), meskipun nama Medinta tersebut ternyata sudah ada dalam Targum Onqelos, yang ditulis sejak abad ke-1 M. tersebut yakni era pra-Islam.

Para apologet Kristen memang ingin memarginalkan Targum Saadia dng alasan teori “pengaruh Islam” dalam bingkai wacana akademik dengan alasan adanya nama Al-Madinat (baca: Al-Madinah) sbg akibat pengaruh Islam. Namun bagaimana dengan Targum Onqelos? Apakah Targum Onqelos juga dipengaruhi Islam karena dalam Targum tersebut ternyata juga tercantum nama Medinta? Di sini ada dua opsi. Pertama, nama Medinta diasumsikan telah disisipkan oleh orang Islam dalam Targum Onqelos, sehingga nama Medinta dianggap sbg bentuk Aram-isasi dari istilah Arab-Islam, yakni Al-Madinah. Asumsi ini tentu harus dapat dibuktikan secara kajian filologis tentang teks Targum Onqelos dengan meriset dan membandingkan manuskrip-manuskrip kuno kodeks Targum Onqelos yang memuat term Medinta (M-d-n-t) tersebut. Kedua, Targum Onqelos memang Targum palsu (pseudo-Targum) yang tidak bisa dijadikan rujukan oleh orang Kristen dng alasan apapun, meskipun ditulis pada abad ke-1 M. Bila Targum Onqelos dianggap palsu, maka tentu saja hal ini akan mengguncang dunia kekristenan. Para apologet Kristen memang kesulitan menjustifikasi Targum Onqelos sbg pseudo-Targum, karena mereka sendiri sangat bergantung pada teks Targum Onqelos utk menjustifikasi Yesus sbg Memra yang ilahi dan yang tak tercipta, sekaligus sebagai Meshiah yang Ilahi dan yang telah dinubuatkan dalam teks Targumim. Dengan demikian, kedua opsi ini dalam dunia kekristenan sangat dilematis.

Dalam Targum Onqelos bhs Judeo-Aramaic telah disebutkan nama מדינתא (Medinta), lihat Sefer Bereshit 10:30 versi Targum Onqelos. Ternyata istilah מדינתא (Medinta) dalam bhs Judeo-Aramaic itu sejajar dengan nama Al-Madinah dalam Targum Saadia bahasa Judeo-Arabic; kesejajaran ini bukan hanya sama secara fonologis, tapi juga sama dalam hal semantik-nya. Ini membuktikan adanya kesamaan nalar antara Targum Saadia dng Targum Onqelos yang memahami term Medinta dalam Targum Onqelos dan term Al-Madinah dalam Targum Rasag sebagai proper name of place (nama tempat) dan bukan merujuk hanya sekedar pada makna generic noun (istilah umum).

Berdasarkan hasil pembacaan teks Targum Onqelos dan Targum Saadia, ternyata istilah “kota-kota” disebut קרוין (qirwin) atau קרויא (qirwayya), kedua istilah ini menunjuk pada makna kota secara umum (generic noun) dalam bentuk jamak (plural), tetapi bila mengacu pada sebuah ” kota ” dalam makna umum (generic noun) yang bentuk tunggal (singular), maka disebut קרתא (qarta). Lihat Targum Onqelos dalam Sefer Bereshit 4:17; 11:4; 11:9; 22:17, Sefer Shemot 1:11, Sefer Bamidbar 13:28; 35:11 dan Sefer Devarim 19:2. Ternyata dalam Targum Saadia juga ada nalar konsistensi yang sama sebagaimana yang termaktub dalam Targum Onqelos, yakni berkaitan dengan istilah “kota” dan “kota-kota.” Dalam Targum Saadia tertulis Qara (q-r-y) sepadan dengan Qirwin (q-r-w-y-n) atau Qirwayya (q-r-w-y-a) dalam Targum Onqelos. Sementara itu, dalam Targum Saadia tertulis Qaryat (q-r-y-t) sepadan istilah Qarta (q-r-t-a) dalam Targum Onqelos. Dengan demikian, istilah2 Judeo-Aramaic yang termaktub dalam Targum Onqelos dan istilah2 Judeo-Arabic yang termaktub dalam Targum Saadia ini tidak ada hubungannya dng pengaruh Islam, meskipun dalam Quran juga digunakan istilah Qura dan Qaryat (baca: Qaryah).

Sementara itu, istilah מדינתא (Medinta) sebagai sebuah nama tempat (proper name) hanya tercantum dalam Sefer Bereshit 10:30 saja. Ini semakin jelas membuktikan bahwa istilah מדינתא (Medinta) dalam Targum Onqelos bukanlah merujuk pada wilayah yang tidak jelas, atau pun kota yang tidak teridentifikasi lokasinya. Itulah sebabnya dalam Targum Rasag, Rav Saadia menggunakan istilah Al-Madinah, yang merujuk pada kota Medina di wilayah Hijaz, yang sejajar dng istilah Medinta yang bermakna proper name (nama tempat) dalam Targum Onqelos. Orang-orang Yahudi Musta’ribah yang tinggal di Medina pada era Islam pasti akrab dng sebutan wilayah מדינתא (Medinta) sebagaimana yang termaktub dalam Targum Onqelos dalam bahasa Judeo-Aramaic yang merujuk pada eksistensi kota Medina, tempat kediaman mereka, dan yang telah menjadi common knowledge di antara mereka. Jadi Nabi SAW mengubah nama Yatsrib, yakni nama Arab (Arabic name) atau nama Medinta (Judeo-Aramaic) menjadi Al-Madinah sebagai nama Arab Islam (Islamic-Arabic name) sebenarnya hanya semacam konfirmasi/meneguhkan saja atas eksistensi kota tersebut dalam versi Islam, yang sebenarnya nama wilayah itu telah mereka kenal dalam dialek Judeo-Aramaic מדינתא (Medinta). Itulah juga sebabnya dalam Targum Rasag, Rav Saadia Gaon membubuhkan definite article (al-ma’rifah) pada nama Al-Madinah, yang berarti komunitas Yahudi Musta’ribah memahami kota tempat tinggal mereka yang dimaksud tersebut sudah jelas identitasnya dan kaum Yahudi Musta’ribah sendiri telah tinggal berabad2 lamanya di Medina bersama-sama suku Arab sebelum kemunculan agama Islam di pentas sejarah. Artinya, kaum Yahudi Musta’ribah yang tinggal di Medina, yang mengenal nama kota tersebut dengan istilah Judeo-Aramaic dng nama Medinta, merupakan de facto bahwa nama Medinta bukanlah pengaruh Islam atau ada hubungannya dng Islam. Nabi Muhammad SAW menyebut kota Medinta tersebut menjadi kota Al-Madinah hanya sekedar konfirmasi ulang atas eksistensi kota Medinta, nama versi Aramaic. Begitu juga, Rav Saadia Gaon menyebut Al-Madinah juga tidak ada hubungannya dng pengaruh Islam sebagaimana yang dituduhkan oleh kaum apologet Kristen. Mengapa? Sebab Saadia Gaon paham betul bahwa lokasi geografis kota Al-Madinah yang disebut Medinta dalam versi Aramaic, memang telah tertulis dalam Targum Onqelos sejak abad ke-1 M. Faktanya, kaum Yahudi Musta’ribah telah menghuni wilayah geografis kota Al-Madinah justru 5 abad sebelum Islam, dan mereka hidup dari generasi ke generasi di wilayah Medina (Aramaic: Medinta). Carole Hillenbrand dalam bukunya Islam. A New Historical Introduction menyatakan:

“In Medina the Arab already residing there were divided into two principal and mutually hostile tribal groups, the Aws and the Khazraj. Also living there were three important Jewish clans, the Banu Nadir, Banu Qaynuqa and Banu Qurayza which played an important part in the economic life of Medina.” (London: Thames and Hudson, 2015), p. 33

Teks Targum Onqelos terkait eksistensi nama Medinta, berbunyi demikian:

” …. mi Mesha mathei le Sephar Thur Medinta.”

(from Mesha as far as Sephar the mountain to Medina).

Rabbanu Saadia Gaon menegaskan pada teks Sefer Bereshit/Sifr Takwin: 10:29-30 berbahasa Judeo-Arabic sbb:

“Wa Ufir wa Hawilah wa Yubab kullu haula’u bani Qahthan. Wa kana maskanuhum min Makkah ila an taji ila Al-Madinah.…”

Jadi istilah “Al-Madinah” dalam Targum Saadia memang bukan pengaruh Islam dan juga tak ada sangkut pautnya dengan Islam. Al-Madinah hanya sekedar nama Judeo-Arabic dari nama Medinta yang termaktub dalam Targum Onqelos berbahasa Judeo-Aramaic.

Fakta teks Rabbinik ini justru menyatakan bahwa hal itu berkaitan dengan lokasi geografis Hagar dan Ishmael, dan tak ada teks Rabbinik yang menolaknya. Bahkan, Rasag, Ibn Ezra, Rashi, Radak bahkan Ramban pun tidak mengingkarinya.

 

Leave a comment

Ishmael dalam narasi kitab suci Yahudi dan Islam (Part VI) – Dimana Lokasi Hijr Al-Hijaz dan Al-Jafar dalam Targum Saadia?

Dimana Lokasi Hijr Al-Hijaz dan Al-Jafar dalam Targum Saadia?

By Menachem Ali

 

Tulisan sederhana ini bertujuan utk membedah nalar absurd dari Jimmy Jeffry, sang apologet Kristen yang tidak paham linguistic studies.

Dalam Targum Saadia, terkait Sefer Bereshit 25:18, Rabbi Saadia Gaon (Rasag) menyebut Shur dengan nama lain, yakni Al-Jafar. Sementara itu, dalam Sefer Bereshit 16:7, Rasag menyebut Shur dengan nama yang lain lagi, yakni Hijr Al-Hijaz. Nama Al-Jafar dalam Targum Saadia merujuk pada nama lokasi geografis, sebagaimana nama Hijr Al-Hijaz dalam Targum Saadia juga merujuk pada nama lokasi geografis. Nama Al-Jafar dan nama Hijr Al-Hijaz dalam Targum Saadia yang mengacu pada nama lokasi geografis ini bersifat saling menjelaskan, dan bukan saling menegasikan.

Nama Al-Jafar sebagai nama lokasi geografis tersebut ternyata diteguhkan pula dengan pernyataan Flavius Josephus dalam karyanya The Antiquities of the Jews 12.4.

“These inhabited all the country from Ephrates to the Read Sea and called it Nabatene.”

Flavius Josephus, seorang sejarawan Yahudi abad 1 M., mengidentifikasi nama Shur berkaitan dengan Read Sea (kawasan Laut Merah). Hal ini senada dengan kawasan Al-Jafar yang dimaksud oleh Rabbi Saadia Gaon (Rasag) dalam Sefer Bereshit 25:18. Rasag paham betul lokasi geografis yang bernama Al-Jafar yang berada di kawasan Laut Merah ini, sehingga beliau menyebut nama Al-Jafar dengan nama lain, yakni nama Hijr Al-Hijaz sebagaimana yang termaktub dalam Sefer Bereshit 14:7.

Rasag juga paham betul terkait nama lokasi geografis yang disebut Hagra dalam Targum Onqelos dalam bahasa Judeo-Aramaic tersebut. Dalam konteks ini, sebutan nama Hijr dalam Targum Saadia, yang sejajar dengan nama Hagra, merupakan kata kunci dalam memahami makna nama Hijr secara tepat, sebagaimana yang dimaksud dalam Targum Saadia. Itulah sebabnya Rasag dalam Targum-nya menyebut nama Hijr dlm bhs Judeo-Arabic, yang secara linguistik sepadan dengan nama Hagra dalam bhs Judeo-Aramaic.

Istilah “sepadan” yang saya maksud dalam kedua Targum tersebut adalah kesejajaran makna yang merujuk pada nama lokasi geografis. Ini terbukti bila istilah Hagra dan Hijr tersebut keduanya dikaji berdasarkan pada domain linguistik rumpun bahasa-bahasa Semitik, terutama dari aspek fonologis (bunyi), morfologis (kata), dan semantis (terutama makna leksikal sekaligus makna terminologisnya). Jadi, nama Hagra (H-g-r) dan Hijr (H-j-r) telah terbukti secara linguistik ternyata keduanya memang merujuk pada nama lokasi geografis. Pemahaman Rasag tentang Hijr yang mengacu pada nama lokasi geografis ini dipertegas dng ditambahkannya istilah Al-Hijaz sebagai kata penjelas di belakang nama Hijr, dan istilah Al-Hijaz itu sendiri memang mengacu pada makna lokasi geografis.

Dengan kata lain, Rasag sekaligus menambahkan penjelasan Al-Hijaz di belakang nama Hijr tersebut, agar komunitas Yahudi Musta’ribah sbg pembaca Targum Judeo-Arabic dapat memahami bahwa Al-Hijaz itu sebagai nama lain dari Hagra. Bila nama Al-Hijaz dalam Targum Saadia merujuk pada nama lokasi geografis, maka nama Hijr dalam Targum Saadia juga merujuk pada nama lokasi geografis, sebagaimana nama Hagra dalam Targum Onqelos yang juga merujuk pada nama lokasi geografis. Bahkan sebutan Al-Jafar dan Hijr Al-Hijaz dalam Targum Saadia dikuatkan dgn penjelasan Flavius Josephus sebagai kawasan Laut Merah. Bukankah secara geografis, Hijaz itu berada di kawasan Laut Merah?

Bila seorang apologet Kristen menyatakan bahwa nama Hagra dalam Targum Onqelos dan nama Hijr dalam Targum Saadia memiliki makna yang berbeda secara leksikal dan makna terminologisnya, sebenarnya ini pemahaman orang yang sangat awam dalam bidang linguistik, apalagi bidang linguistik Semitik. Bukankah secara linguistik kata H-g-r (Hagra) dan kata H-j-r (Hijr/Hajar) faktanya sama-sama merujuk pada nama lokasi geografis yang sama? Kalau kata Hijr dikaitkan dengan Hajar Aswad sedangkan kata Hagra diklaim tidak ada kaitannya dng Hajar Aswad, bukankah kata Hajar dan kata Hagra keduanya secara leksikal bermakna batu? Sejak kapan Rasag mengaitkan Hijr dengan Hajar Aswad? Kenapa kata Hijr dalam Targum Saadia tidak dikaitkan dengan Hijr Ismail saja? Itu nalar imaji seorang apologet Kristen yang tidak paham bahasa Judeo-Aramaic dan bahasa Judeo-Arabic, dan mencoba memanipulasi makna Hagra dan Hijr atau Hajar secara berbeda. Ini namanya bernalar secara pseudo-academic yang absurd. Bagaimana mungkin kata Hijr atau pun kata Hajar dan kata Hagra secara semantik leksikal tidak ada hubungannya secara linguistik?

Nama Hijr dalam Targum Saadia, atau pun dibaca Hajar, telah dijelaskan oleh Rasag sendiri, ternyata tidak ada kaitannya sama sekali dengan Hajar Al-Aswad, tetapi dikaitkan dng Al-Hijaz, yang istilah ini merujuk pada nama lokasi geografis. Pada catatan kaki Targum Chamisha Chumshe Torah be Leson ‘Aravit le Rabbenu Saadia Gaon ben Yosef al-Fayyumi terdapat penjelasan sbb:

Transliteration:

” … be derech Hijr Hijaz wa kana Targum Onqelos Hagra ve zehu eretz ha-‘Erev hamatz’it asher bo ‘Ir Mekah ha-qadoshah le Yishma’elim u-Baka. “

(ke jalan Hijr Hijaz, dan pada Targum Onqelos disebut Hagra, dan kawasan itu berada di tanah Arabia, yang orang datang di kota Mecca yang kudus bagi kaum penganut iman Ishmael atau Bakka.”

Jadi, penyebutan Hijr Al-Hijaz oleh Rasag dalam Targum-nya bukan merujuk pada nama obyek berupa hajar (batu) an sich, dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan nama obyek batu yang disebut Hajar Aswad, tetapi nama Hijr yang dimaksud oleh Rasag dalam Targum-nya adalah nama tempat atau nama lokasi geografis yang amat khusus dan menjadi semacam common knowledge di kalangan internal kaum Yahudi Musta’ribah yang merujuk pada kawasan Al-Hijaz. Itulah sebabnya, yang termaktub dalam Targum Saadia adalah frase nama Hijr Al-Hijaz atau bisa dibaca Hajar Al-Hijaz, tetapi frase yang muncul tidak tertulis nama Hajar Al-Aswad. Bila nama Hijr atau Hajar yang dimaksud oleh Rabbi Saadia Gaon (Rasag) tersebut merujuk pada nama Hajar Al-Aswad, maka pasti dalam Sefer Bereshit 14:7 versi Targum Judeo-Arabic tersebut tertulis nama Hajar Al-Aswad dan bukan tertulis Hijr Al-Hijaz. Dengan demikian, istilah Hagra dalam Targum Onqelos yang ditulis pada abad 1 M. merujuk pada kawasan Laut Merah sebagaimana yang ditulis oleh Flavius Josephus (abad 1 M.). dan Rabbi Saadia Gaon menyebutnya sebagai kawasan Al-Hijaz sebagai penjelas nama Hijr/Hajar dalam Targum Saadia, sepadan dengan nama Hagra dalam Targum Onqelos.

Leave a comment

God is One – not a triune nor a compound deity

shema

God is ONE, this is the core creed of Monotheism. This oneness of God as an aspect of His absolute nature, must be understood properly in order to worship HIM.

Maimonides[1] had laid out a principle to understand the Oneness of God based on the Hebrew Bible. The Oneness which is absolute and unique, a Oneness that knows no parallel:

The Oneness of God, (may He be blessed), which is to say that we believe that God, who is the cause of everything, is ONE.

and not like one of a pair
and not like one of a group
and not like one person that can be divided into many units
and not like a simple body which is numerically one [but] can be infinitely divided.

rather God, may He be blessed, is ONE in a oneness that has no unity like it.
and this is the second principle, [and] it is indicated by that which is stated:

“Hear O Israel, God is our Lord, God is One.”


screen-shot-2017-02-23-at-12-09-55

Maimonides’ 2nd of  13 Principles of Faith shloshah eshor y’sodot


Maimonides ruled out any possibility that  that the Hebrew adjective echad אחד actually means a “compound unity” like those trinitarian expositors who love to argue that the shema foreshadow trinity.  The oneness of God is independent of anything thus rejects the subtle influences of polytheism which could exist even in a monotheistic system that is to say that the Almighty God ever involved in the act of begetting and came down as man[2].

It is striking that the most important Hebrew creed the Shema remains preserved in the Qur’ān, in Sūrat al-ikhlāṣ:

Surah Al-Ikhlas.gif

It employs its Arabic homophonic noun Ahad أَحَد, instead of the more pertinent adjective واحد Wāhid [3].  Muslim scholars have long established that, grammatically the word ahad conveys an uncountable oneness. It is not one in a series like wāhid. It is a singular, unique entity. It is referring specifically to God’s essence, which is absolutely singular and utterly unique in His attributes. No one is like Him in any way[4].

Thus the Qur’an clearly affirms and corrects two powerful earlier creeds, the Shema and the Nicene, and set itself as the ultimate universal monotheistic creed [5].


Notes

  1. Maimonides is also known an as Rabbi Moshe ben Maimon (Ar: موسى بن ميمون‎‎ Mūsā bin Maymūnor Rambam  (1137 – 1204 CE). He was considered the greatest intellectual and spiritual figure of post-Talmudic Judaism. He wrote authoritative works of philosophy, Halacha, commentary, and responsa. His works were all foundational in their field. He was the first to produce a comprehensive commentary on the entire Mishnah. All of his works were written in Judeo-Arabic except for Mishnah Torah, which was written in Hebrew.  He and his descendants served as Negidim (leaders) of Egyptian jews for five generations.
  2. Nicene creed: “And in one Lord Jesus Christ, the Son of God, begotten of the Father [the only-begotten; that is, of the essence of the Father, God of God,] Light of Light, very God of very God, begotten, not made, being of one substance with the Father”; …”Who for us men, and for our salvation, came down and was incarnate and was made man“;
  3. Allah’s name al-Wāhid (the One) appears in twenty-two verses of the Qur’ān. The name al-Ahad appears only once, in the 112th chapter of the Qur’an: al-Ikhlās.
  4. There is nothing like unto Him, and He is the Seeing, the Hearing.” [Sūrah al-Shūrā: 11]
  5. Angelika Neuwirth, Two Faces of the Qur’ān: Qur’ān and Muṣḥaf, Oral Tradition, 25/1 (2010): p. 151-153.
    Verse 3—”He did not beget nor is he begotten”; lam yalid wa-lam yūlad—is a reverse echo of the Nicene creed; it rejects the emphatic affirmation of Christ’s sonship—begotten, not made; gennêthenta, ou poiêthenta—by a no less emphatic double negation. A negative theology is established through the inversion of a locally familiar religious text. This negative theology is summed up in verse 4—“And there is none like Him”; wa-lam yakun lahu kufuwan aḥad. The verse that introduces a Qur’ānic hapax legomenon, kufuwun, “equal in rank,” to render the core concept of homoousios, not only inverts the Nicene formula of Christ’s being of one substance with God—homoousios to patri—but also forbids thinking of any being as equal in substance with God, let alone a son.
Leave a comment

Tanggapan terhadap apologet kristen JJ “VALLEY OF BACA IS MECCA? (Bagian 1)”

Seorang apologet kristen dengan nama FB  Jimmy Jeffrey (JJ)  memberikan tanggapan sehubungan dengan tulisan TYI mengenai eksistensi Makkah dan Nazaret  dalam kitab suci Yahudi dan Islam.

Berikut adalah tanggapan TYI (Eric ben Kisam/ אריך) dari tulisan JJ

—♦♦Ξ♦♦—


JJ>>

1. Kajian Linguistik kata Baca & Mecca

Apakah secara etimologi & leksikal kata Baka sama dengan Mecca?

Mecca adalah kata dalam bahasa Inggris yang merujuk pada sebuah tempat di Arabia. Namun transliterasi yang lebih dekat pengucapan Arabic yaitu kata Makkah. Menariknya dalam Quran selain menyebut kata Mecca/Makkah (QS 48:24) juga digunakan kata lain yang mirip yaitu Bakkah (QS 3:96).

QS 48:24

 وَهُوَ الَّذِي كَفَّ أَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ عَنْهُمْ بِبَطْنِ مَكَّةَ مِنْ بَعْدِ أَنْ أَظْفَرَكُمْ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا

Yusuf Ali: And it is He Who has restrained their hands from you and your hands from them in the midst of Makka, after that He gave you the victory over them. And God sees well all that ye do.

QS 3:96

 اِنَّ اوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَلَمِينَ

Yusuf Ali: The first House (of worship) appointed for men was that at Bakka: Full of blessing and of guidance for all kinds of beings:

M Ali dan umumnya muslim lain beranggapan Bakkah (Becca) sama dengan Makkah (Mecca) dan huruf m & b bersifat interchangeable. Namun menurut sarjana muslim Becca dan Mecca itu berbeda. “…The Ka’ba is most often associated with Mecca or Becca. Although most people believe these two words to be interchangeable, in fact there is major distinction between them. According to Muslim scholars, Becca is the sacred site immediately surrounding the Ka’ba, and Mecca the Peaceful City that houses them both..”. Oliver Leaman, The Quran: An Encyclopedia, Page 337.

Jika Bakkah dengan Makkah berbeda apalagi Baka dalam Bible yang jelas-jelas berbeda. Sehingga Bakkah/Makkah tidak tepat dikatakan sinonim dengan Baka melainkan homonim yaita kata yang sama atau mirip namun artinya berbeda.

Kedua kata Bakkah & Makkah muncul masing-masing hanya pada satu ayat, sehingga kita sulit menemukan akar katanya secara etimologi dalam Arabic (hapax legomena). Maka arti leksikal dari kata merujuk pada nama tempat yang dibatasi konteks dari kata tersebut. Becca merujuk pada lokasi seputar Kaba sedangkan Mecca merujuk pada kotanya.


Yang dimaksud Leaman itu adalah pandangan mufassir seperti  ibn ʿUmar al-Zamakhsharī (d. 538/ 1144), dalam Al Kashshaaf ‘an Haqaa’iq al-Tanziil wa ‘Uyuun al-Aqaawiil fii Wujuuh al-Ta’wiil [ الكشاف عن حقائق التنزيل وعيون الأقاويل في وجوه التأويل] tidak berarti Makkah dan Bakkah itu berbeda makna.  Ini salah sama sekali, dalam kitab yang sama dan entry yang sama pada ayat 3:96 al-Zamakhsharī menulis:

Makkah dan Bakkah adalah SINONIM  beda pengejaan namun bermakna sama, karena huruf “ba” ب  dan “mim” م umum bisa dipertukarkan dalam pengejaan bahasa Arab seperti kata Nabiit dan Namiit.  

Ini juga pandangan mayoritas Ulama lughah (Arabic linguists), bahwa  huruf”ba” ب  dan “mim” م  bisa dipertukarkan  sehingga kata “(M)akkah” dan “(B)akkah” adalah SINONIM atau kata yang sama.


JJ>>

Sekarang kita bandingkan dengan kata Baka dalam Bible.

Mazmur/Psalm/Tehilim 84:6 (84:7)

 ֹבְרֵי בְּעֵמֶק הַבָּכָא מַעְיָן יְשִׁיתוּהוּ גַּם־בְּרָכוֹת יַעְטֶה מוֹרֶה

JPS: Passing through the valley of Baca they make it a place of springs; yea, the early rain clotheth it with blessings.

NIV: As they pass through the Valley of Baka, they make it a place of springs; the autumn rains also cover it with pools.

Kata bâkâ’ baw-kaw’ menurut Strong’s Hebrew & Greek Dictionaries memiliki arti leksikal: weeping; Baca, a valley in Palestine. Ada beberapa kemungkinan kata Baka ini dimaknai, pertama; dimaknai secara alegoris merujuk pada makna “weeping” (kekelaman, kesedihan, penderitaan), kedua dimaknai secara literal yaitu nama sebuah tempat bernama Baka dan, ketiga kombinasi keduanya yaitu secara literal merujuk pada sebuah tempat bernama Baka dimana tempat itu penuh dengan kekelaman & penderitaan (weeping) atau sebuah tempat yang sulit, kering, tandus dsb.

Dari tiga kemungkinan ini, maka yang paling reasonable kemungkinan ketiga dan selanjutnya kemungkinan pertama. Kemungkinan kedua yaitu sekedar nama Baka tanpa ada arti dibalik nama itu jelas tidaklah tepat. Bukti penunjangnya yaitu referensi dari Septuaginta/LXX (τὴν κοιλάδα τοῦ κλαυθμῶνος) yang artinya through the valley of weeping. Bahkan dalam Targum Psalm digunakan frase “valleys of Gehenna” yang artinya lebih keras, kata “Gehenna” dalam Judaism merujuk pada Neraka dan hal yang sama juga dituliskan dalam Talmud (Mas. Eiruvin 19a). Sehingga semakin jelas kata Baka tidak bisa dilepaskan kaitannya dengan makna “weeping”.

Jika kita bandingkan dengan kata Bakkah/Makkah dari kajian arti leksikalnya jelas tidak memiliki kaitannya. Karena kata Baka dalam Mazmur 84:6 bukanlah sekedar nama tanpa makna dibalik kata tersebut. Sedangkan kata Bakkah/Makkah tidak memiliki makna apapun selain hanya sekedar nama tempat yang kemudian menimbulkan makna terminologis seperti Umm al-Qurā (أم القرى) yang artinya “mother of all settlements”.

Klaim bahwa terdapat nama-nama kuno untuk Makkah jelas tidak didukung data sejarah yang valid. Klaim untuk kata Baka dalam kitab Asatir tidak didukung data karena terindikasi kuat teks tersebut sebuah interpolasi karena pengaruh Islam. Klaim untuk kata Mesha dari tafsiran Saadia Gaon juga tidak kuat. Demikian pula kata Baka dalam Mazmur 84:6 terbukti secara linguistik tidak ada kaitannya dengan kata Makkah/Mecca.


JJ berusaha mengaburkan pembaca dengan seolah-olah mengutip  STRONG Concordance tentang  arti dasar kata Ibrani BAKA בָּכָא kemudian buru-buru memberikan kesimpulan nya sendiri, ini sangat tidak ilmiah.

Pertama . ada inidkasi pengelabuan disini,  untuk ayat Mazmur/Psalm/Tehilim 84:6 (84:7) , STRONG entry yang benar adalah 1056 bukan 1058.

Disini jelas sekali bahwa BAKA בָּכָא adalah suatu Proper Name Location atau nama suatu tempat atau lokasi geografis bukan merujuk pada arti alegoris.

Kedua, bentukan kata בָּכָא Strong’s Hebrew 1056 hanya disebutkan satu kali dalam TaNakH , apalagi bentukan nya menggunakan kata definite article הַ yang menunjukkan suatu tempat yang sangat spesial dimana akan menjadi tujuan ziarah bagi umat beriman menuju ke Beit ALLH.  Sangat spekulatif jika frase עֵמֶק הַבָּכָא (’emeq ha Baka’) dihubung-hubungkan dengan akar kata  בָּכָה (bakah, “to meratap”), untuk memaksakan penterjemahan menjadi  “lembah ratapan” atau “lembah tangisan”

 

Tehilim 84 : 5-7

Ketiga kalau kita melihat konteks nya  Tehilim 84 , coba perhatikan terjemahan Yahudi diatas , maka tidak dapat dipungkiri  kota Makkah adalah betul-betul lokasi geografis yang sama dengan yang dimaksud Baka בָּכָא karena:

  1. Hingga kini Makkah adalah dimana adanya nya Rumah Beit בָּ֫יִת ALLH dimana namanya selalu ditinggikan Selah סֶ֫לָה  SELAMANYA.
  2. Hingga kini Makkah adalah tempat dimana manusia melakukan Ziarah (pilgrimage)
  3. Hingga kini Makkah dikenal sebagai tempat yang memiliki mata air (spring) mayan מַעְיָן yang penuh dengan rahmatNya barakah בְּרָכָה sehingga jutaan orang membawa pulang air tersebut ke seluruh pelosok dunia.

JJ>>

2. Lembah Bermata Air?

Selanjutnya M Ali menyatakan bahwa penyebutan Bakkah itu terkait dengan lembah dan menurutnya ini telah disepakati. Umumnya di kalangan Jewish & Christian Scholars beranggapan kata Baka dalam Mazmur 84 dimaknai secara literal merujuk pada lembah yang anda kaitannya dengan makna kataa “weeping”. Namun ada juga yang memaknai secara alegoris dan tidak merujuk pada sebuah tempat secara literal. Kata בָּכָא (bâkâ’) dalam teks tersebut dikaitkan dengan kata עֵמֶק (êmeq) yang artinya lembah (valley) sehingga hampir semua English Bible version menerjemahkan menjadi valley of Baca, oleh LAI “lembah Baka”. Nah.. dari kata kunci “Lembah” ini point M Ali mulai masuk, berikut ulasannya:

“… Nama Bakka yang terkait dng Lembah itu ternyata juga ada mata air, ini adalah kata kunci untuk mengidentifikasi lokasi penting itu bahwa di Bakka selain berupa Lembah juga bermata air. Ini telah disepati oleh ketiga agama, sebagaimana yang termaktub dalam ketiga kitab suci. Cobalah baca secara teliti Mazmur 84:7 tertulis secara tegas ada mata air yang terdapat di wilayah Lembah Bakka ini. Jadi ada nama Bakka – Lembah – mata air, tiga hal ini sebagai 3 ciri lokasi geografis yang dimaksud.

Nama al-Hijaz, Makkah, sumur di El Rai sebagai beer zamum (sumur mata air zamzam), Hag le Yeshmaelim (ibadah Hajji bagi kaum Ishmael) itu juga dibahas oleh para rabbi. Namun, yang mengatakan demikian adalah RavSag, Ibn Ezra, Radak. Bahkan Rashi maupun Ramban pun tidak menyangkalnya. Rabbi-rabbi angkatan generasi Gaonim hingga generasi Rishonim tidak ada 1 pun yang menyangkalnya. Kalau Anda bisa membuktikan hal itu tdk benar maka jangan berimajinasi tapi tunjukkan bukti. Jadi salah besar bila yang mengatakan itu saya pribadi…

Kalau nama Bakka dalam Mazmur 84:7 bukan merujuk pada nama Bakkah di wilayah Hijaz, lalu mengapa Rav Saadia Gaon (RavSag) dalam Targum Judeo-Arabic menyebut istilah Al-Hijaz pada Bereshit 16:7 sebagai nama lain dari Syur? Dan mengapa juga Ibn Ezra menyebut beer zamum (sumur zam-zam) dalam Perush ‘al ha-Torah, Sefer Bereshit 16:7?…”

—————-

M Ali mencoba membangun hubungan antara “mata air” dalam Mazmur 84 dengan mata air saat peristiwa Hagar & Ismael di padang gurun dan mata air zam-zam di Mecca Arabia. Apakah ketiga hal itu saling berkaitan dan merujuk pada tempat yang sama? Untuk menjawabnya,  mari kita lihat terlebih dahulu konteksnya dari Mazmur 84 tsb.

Konteks ayat ini tentang kerinduan yang mendalam dari bani Korah untuk berada di rumah TUHAN. Ada sukacita dan kebahagian yang besar bagi orang-orang yang diam di rumah TUHAN. Kebahagian itu juga dimiliki bagi mereka yang berhasrat untuk berziarah ke rumah TUHAN yang ada di Sion. Bagi mereka yang akan beziarah akan melewati sebuah lembah yang penuh penderitaan yang bisa diartikan sebuah lembah yang memiliki medan yang berat seperti kering, tandus dsb. Namun karena kerinduan yang sangat besar, maka medan yang berat itu bisa mereka dilewati yaitu saat datangnya hujan yang akan memunculkan mata-mata air.

Rabbi David Kimchi (Radak) 1160-1235M dalam Commentary-nya menyebutkan “.. A waterless valley..” untuk valley of Baca. Para peziarah melihat tanda turun hujan pertama di musim dingin sebagai tanda untuk melakukan perjalanan ke Sion, sebagaimana dijelaskan dalam The Jewish Study Bible “… The early rain falls in the land of Israel at the beginning of winter. This reference suggests that the pilgrimage is for the festival of Sukkot, just before the start of the rainy season, when prayers for rain are offered..”. Pada saat itulah Tuhan memberikan mata-mata air pada tempat yang kering tersebut “…God opens for them fountains in the wilderness, and springs in the dry places..” (Adam Clarke).

Berdasarkan penjelasan dari konteks Mazmur 84, maka mata air yang dimaksud bukan mata air tunggal yang menonjol seperti mata air yang ditemukan Hagar & Ismael atau mata air Zam-zam di Mecca Arabia. Melainkan mata-mata air (jamak) yang muncul pada tempat yang kering tersebut saat musim hujan. Tidak ada catatan dalam Bible pada masa sebelum & sesudahnya tentang keberadaan sebuah mata air yang menonjol di tempat tersebut (valley of Baca) yang dikaitkan dengan mata air yang ditemukan Hagar & Ismael. Apalagi dikaitkan dengan mata air Zam-zam yang sama sekali tidak ada kaitannya.

Point M Ali tentang sebuah lembah yang bermata air jelas tidak valid karena mata air yang dimaksud dalam teks Mazmur 84 tersebut bukanlah sebuah mata air tunggal yang menonjol. Sehingga point itu tidak bisa menjadi dasar untuk menjustifikasi lembah itu merujuk ke Mecca.


Kata Ibrani  untuk “mata air” yang digunakan Tehilim 84:7 adalah  Ma’yan מַעְיָ֣ן dalam bentuk tunggal .

overei be’emeq habbakha ma’yan yeshithuhu gam-berakhoth ya’teh moreh

Transgressors in the valley of weeping make it into a fountain; also with blessings they enwrap [their] Teacher. [Judaica Press]

begitu pula dalam targum aram , kata “mata air” yang digunakan adalah ma’ayana מַעֲיָנָא dalam bentuk tunggal.

rashi’aya de’avrin im omeqei gehinam bakhyan bikhyetha heikh ma’ayana yeshawineih lechod birkhan ya’atoph lidthayvin le’ulephan oraytheih

The wicked who cross over the valleys of Gehenna, weeping – he will make their weeping like a fountain; also those who return to the teaching of his Torah he will cover with blessings. [Edward M. Cook]

Walau kita tahu bahwa tagum menggunakan gaya bahasa yang bersifat kiasan , disini istilah BAKA בָּכָא merujuk pada lokasi geografis tertentu dimana didalam nya ada mata air yang tunggal dan istimewa yang membawa rahmat. Bukan merujuk pada mata air secara umum apalagi  jamak.

Ibn Ezra yang sanad keilimuan nya merupakan rujukan utama dari David Kimchi menjelaskan Mazmur 84:7  sejajar dengan penjelasan Ibn Ezra tentang sumur zam-zam. pada  Be’er LaChai Ro’i di Bereshit /Genesis 16:14

Dalam penjelasan In Ezra tesebut dikisahkan  Hagar pergi ke Semenanjung Arabia bukan ke Mesir dan “mata air” yang dimaksud adalah Bi’ir Zimum באר זמום  atau dalam edisi lain tertulis Bi’ir ZimZum באר זמזום , dimana kaum Yishmaelim (artinya: umat muslim) tiap tahun merayakan mata air ini.

Pendapat ini dikuatkan oleh Rabbi Saadia Gaon, seorang Rabbi paling terkemuka era Gaon dalam  karya magnus opus nya Attarjamah Al’arabiyyah Attawrah الترجمة العربية للتوراة  dalam Kisah perjumpaan Hagar dalam Genesis 16:7:

فو جدها مالك اللّٰه على عين ماء في البرية على على التي في طريق الحجاز

Terjemahan harfiahnya :

“Malaikat Allah menemukan dia (Hagar) dalam perjalanan nya menuju mata air di suatu gurun dalam perjalanan nya menuju Al Hijaz

kata Al-Hijaz disini adalah letak geografis daerah Arab Saudi sekarang, dimana MAKKAH berada, baca tafsir Rabbi Saadia dimana  beliau menulis dalam tafsir Genesis/Bereishit 10:30, dimana beliau menyebutkan lokasi Mesha  מֵשָׁ֑א  dan  Sephar סְפָ֖רָ sebagai  MAKKAH  مكة and Madinah  المدينة.

Hal ini adalah fakta yang kekal abadi tidak dapat terbantahkan bahwa Lembah mata air yang dimaksud dalam Tehilim/Mazmur adalah tidak lain dan tidak bukan adalah kota Suci MAKKAH dimana ada sumur ZAM ZAM yang penuh berkah dan mengalir dari gurun secara abadi.

JJ juga mengutip The Jewish Study Bible tetapi lagi-lagi dia sengaja mengutip sepotong sepotong sehingga mengaburkan esensi yang aktualnya disampaikan, berikut kami kutip komentar secara utuh dalam untuk Tehilim ayat 84:7

Valley of Baca is an unknown place on the way to the Temple. Some interpret this as the valley of Rephaim, where the baca trees grow (2 Sam. 5.22– 24). The early rain falls in the land of Israel in mid-fall. This reference suggests that the pilgrimage is for the festival of Sukkot, just before the start of the rainy season, when prayers for rain are offered.”

Disini jelas sekali bahwa JSB menulis secara tegas bahwa BAKKA adalah sebuah lokasi geografis, bukan sesuatu yang bersifat alegoris atau kiasan seperti yang hendak digiring JJ. Masalah ada beberapa pandangan yang menafsirkan lokasi geografis tersebut adalah lembah Refaim dimana pohon BAKA tumbuh itu bukan konsensus mutlak dan  wajar saja jika JBS tidak menampilkan penafsiran yang mendukung penafsiran kaum muslim, namun intinya BAKKA adalah sebuah lokasi geografis, bukan sesuatu yang bersifat alegoris atau kiasan.

Dalam kitab suci Quran tertulis nama Makkah (Qs. 48:24) dan nama Bakkah (Qs. 3:96) karena itu ekspresi tulisan bhs Arab Qurani, sedangkan dalam teks Targum Saadia Gaon aksara Judeo-Arabic tertulis Makkah (Sefer Bereshit 10:30), dan Radak dalam Torat Chaim mengekspresikan tulisannya dalam bahasa Ibrani Rabbinik (Rabbinical Hebrew) tertulis Maka (Sefer Bereshit 10:30), sedangkan dalam Mazmur 84:7 ekspresi Biblical Hebrew tertulis Baka, sama dengan yang termaktub dalam Targum Samaritan aksara Judeo Arabic tertulis Baka (Sefer Bereshit 10:30). Jadi ekspresi penulisan nama lokasi yang dimaksud intinya merujuk pada lokasi geografis yang sama.

Makkah – Bakkah (Quranic Arabic dan Judeo-Arabic) – Maka (Rabbinical Hebrew) – Baka (Biblical Hebrew/Samaritan-Arabic).

Kesimpulannya:

Lokasi yang dimaksud dalam Quran, Targum Samaritan, Targum Saadia Gaon, dan Sefer Tehillim sudah jelas merujuk pada lokasi yang sama dan identik, tapi kaum Kristiani punya banyak alasan utk menciptakan lokasisasi sehingga banyak alternatif penafsiran yang subyektif. Lokasi yang sebenarnya valid menjadi invalid gara2 upaya lokalisasi. Beda antara Lokasi dan Lokalisasi. Lokasi adalah tempat yg real & fakta yg disebutkan dlm ayat Mazmur tersebut, sedangkan lokalisasi adalah mencari-cari alasan dan bukti yg merujuk suatu tempat tertentu untuk membuktikan klaimnya. termasuk peta yg dianggap historis, padahal peta selalu berkembang dan banyak situs2 sejarah yg mempunyai tempat berbeda-beda..

Lokasi jelas-jelas valid:
Makkah – Bakkah – Maka – Baka. Secara kajian linguistik nama-nama itu ada kesejajaran, dan faktanya merujuk pada lokasi geografis yang sama.

Lokalisasi jelas-jelas invalid.
Lembah Baka – Lembah Petra – Lembah Bochim – Lembah Refaim – Lembah Lebanon. Secara kajian linguistik nama-nama itu tidak ada kesejajaran, dan faktanya merujuk pada lokalisasi geografis yang berbeda.


JJ>>

Ada banyak ayat dalam Bible yang menyebutkan tentang mata air yang muncul dari lembah-lembah dan di daerah yang kering. Apakah berarti mata-mata air itu merujuk ke mata air yang ditemukan Hagar & Ismael atau mata air Zam-zam? Hak_1:15  Mzm 104:10,  Yes_41:18  


Ini adalah argumentasi lemah, ada banyak istilah EL dalam TaNaKH namun apakah ini semua sama? tentu orang yang memiliki intelek tidak perlu menjawab argumen seperti ini. Tentu Mata air lain nya tidak lah sama dengan mata air yang disebut dalam Tehilim 84.


JJ>>

Pengasosian mata air Zam-zam dan mata air yang ditemukan Hagar & Ismael merupakan upaya apologetis pihak Islam untuk menjustifikasi keberadaan Mecca menurut Bible. Memang ada rabbi-rabbi yang mengaitkan beberapa letak geografis dalam Torah dengan tradisi Islam seperti Saadia Gaon & Abraham Ibn Ezra, namun jika dikaji dengan cermat kaitan yang dimaksudkan tidaklah valid. Pembahasan masalah ini seperti mengulas tentang Saadia Gaon akan dibahas tersendiri. Namun tidak semua rabbi di abad-abad pertengahan itu sependapat dengan ketiga rabbi tsb. Rabbi Rashi & Ramban dikatakan tidak menyangkal hal tersebut, tetapi bukan berarti mereka menyetujui juga.

Rabbi yang sering dijadikan rujuan untuk membenarkan beberapa point dari muslim terutama Saadia Gaon, justru mempertahankan Judaism & otentitas Torah dari serangan muslim scholars. Hal ini berarti mereka meragukan otentitas Quran. “..The Jews took up the defense of their scripture in polemical and apologetical tracts that were usually for internal consumption. In Iraq Saadya Gaon and his Karaite contemporary Yaqūb al-Qirqisānī…In later centuries it was formidable Jewish scholars like Jehudah ha-Levi (d. 1141 c.e.), Abraham b. Daud (d. 1181 c.e.), Moses Maimonides (d. 1204 c.e.), and Solomon Ibn Adret (d. 1310 c.e.)..who defended Judaism and its Torah against the attacks of the Muslim scholars” Jane Dammen McAuliffe, Editor, Encyclopaedia of the Quran, Volume Five: Si-Z, Brill, Leiden-Boston, 2006, Topic: Torah by Camilla P. Adang, page 309.


Lagi lagi JJ mengutip sesuatu  dan memberikan kesimpulan yang tidak sesuai dangan kutipan nya, dalam upaya menjatuhkan reputasi R’Saadia Gaon dimata kaum muslim disini klaim JJ seolah olah beliau meragukan otentitas Al Qur’an padahal TIDAK ADA ungkapan tersebut yang di ucapkan R’ Saadia seperti yang di klaim JJ.

Tentu R’Saadia adalah seorang rabbi Yahudi bukan seorang ulama muslim, tentunya beliau tidak akan mendakwahkan atau menjalankan menjalankan ajaran agama sesuai syariat Islam, namun secara ESENSI tidak pernah ada perbedaan yang mendasar antara syariat Islam dengan ajaran Yahudi apalagi dalam aspek aspek fundamental yang kredo dan akidah agama masing-masing. Dalam halacha resmi umat Yahudi para rabbi -rabbi senior melarang orang yahudi untuk masuk rumah ibadah sesembahan agama lain karena termasuk dalam kategori “avodah zarah” atau “pemujaan berhala” yang dosa nya sangat besar, namun larangan ini tidak berlaku kepada agama Islam termasuk rumah ibadahnya dalam hal ini Masjid. Umat yahudi diperboleh kan berdoa dan beribadah dalam Masjid.

R’Rambam seorang rabbi yahudi paling berpengaruh di abad pertengahan yang hidup dalam tanah Islam Andalusia serta menyaksikan sendiri dan mengetahui peribadatan umat muslim dengan tegas menyatakan bahwa Islam tidak masuk dalam kategori “avodah zarah”, dalam Responsa 448, R’Rambam menulis

Musa ben Maimun Responsa 448

“Kaum Yishmaelim  ini (umat muslim) bukanlah penyembah berhala sama sekali. Semua sudah di hapus dari mulut dan hati mereka, mereka meESA kan HASHEM tanpa kecuali,.. dengan demikian semua umat muslim kini, termasuk istri-istri dan anak-anak sudah menghilangkan kepercayaan yang salah dan segala bentuk kesalahan dan kebodohon ada pada hal lain…namun dalam halnya keESA an HASHEM, mereka tidak ada kesalahan sama sekali.”

Justru rabbi-rabbi Yahudi berpengaruh seperti R’Rambam berbeda dengan pandangan  terhadap agama kristen, beliau secara terbuka menganggap agama kristen sebagai  “avodah zarah” atau penyembah berhala atau sesembahan asing dari Tuhannya orang Israel alias agama kafir. 

Dalam  Mishneh Torah, Hilchot Avodah Zarah 9:4, R’Rambam berkomentar tentang agama kristen:

ha-notseriyim ovedei avodah zarah hen

“Orang-orang kristen adalah  penyembah berhala…” (Mishneh Torah, Hilchot Avodah Zarah 9:4).

diulang oleh R’Rambam  di  Hilchot Ma’achalot Assurot 4:4 (para. 7  dalam edisi lain). Juga, R’Rambam menyamakan agama kristen dengan istilah kaphranut כַּפְרָנוּת (“kafir”) pada  Hilchot T’shuvah 3:17 (para. 8 dalam edisi lain).

Menerima atau menolak Nabi Muhammad atau Al Qur’an itu masalah pebedaan menerima nubuatan dan argumen ini tidak ada hububungan nya dengan lokasi geografis BAKA dan MAKKAH dari sumber-sumber rabbinik.


JJ>>

Jika kita mengkaji literatur rabbinik yang telah dikompilasi dalam Talmud & Mishnah termasuk Targum parafrase Aramaic dari Hebrew Bible. Tidak ada data yang menunjukan pengasosiasian lokasi-lokasi geografis berkaitan dengan para patriakh seperti Abraham & Ismael dengan tradisi Islam. Demikian pula dalam tulisan sejarawan Yahudi seperti Joshepus & Philo serta berbagai literatur jewish apokriph & pseudopigrapha, kita tidak akan menemukan hal tersebut.

Mari kita lihat kekeliruan dari Saadia Gaon & Ibn Ezra yang mengasosiasikan mata air atau sumur Lahai Roi dengan mata air Zam-zam. Ternyata mata air Lahai Roi berbeda dengan mata air yang ditemukan Hagar & Ismael saat pengembaraan di Padang Gurun.

Kej 16:13-14  Kemudian Hagar menamakan TUHAN yang telah berfirman kepadanya itu dengan sebutan: “Engkaulah El-Roi.” Sebab katanya: “Bukankah di sini kulihat Dia yang telah melihat aku? Sebab itu sumur tadi disebutkan orang: sumur Lahai-Roi; letaknya antara Kadesh dan Bered.

Kej 21:19 Lalu Allah membuka mata Hagar, sehingga ia melihat sebuah sumur; ia pergi mengisi kirbatnya dengan air, kemudian diberinya anak itu minum.

Mata air atau sumur Lahai Roi ditemukan oleh Hagar saat Ismael belum lahir dan lokasinya berada diantara kadesh dan Bered, jelas bukan di Mecca Arabia. Sedangkan pihak Islam menganggap mata air Zam-zam adalah mata air yang ditemukan Hagar & Ismael diantara bukit Safa & Marwah. Mata air yang ditemukan Hagar & Ismael itu letaknya di padang Bersyeba, nanti setelah itu mereka kemudian menetap di Padang Paran. Upaya pihak muslim seperti Yaqut al-Hamawi seorang geografer Syria di abad-12 yang mengaitkan padang Paran dengan Faran yang dianggap nama lain Mecca jelas tidaklah tepat, malah terkesan dicocok-cocokan. Baik padang Bersyeba maupun padang Paran itu sendiri letaknya bukan di Mecca Arabia. Masalah Paran akan dikaji lebih detail dalam pembahasan tersendiri. Tetapi pointnya jelas bahwa mata air Zam-zam tidak ada kaitannya dengan mata air yang  ditemukan Hagar (Lahai Roi) atau yang ditemukah Hagar & Ismael di padang Bersyeba.

Kembali ke pokok pembahasan, jadi jelaslah bahwa upaya M Ali untuk mengaitkan mata air Zam-zam dengan mata air yang disebutkan dalam Mazmur 84:6 adalah upaya sia-sia dan terkesan dicocok-cocokan.


Terlihat disini JJ membuat opini liar tidak berdasar.  Coba kita lihat John Gill’s exposition of the Bible (JGEB) yang terkemuka pada Kej 16:14 

 

JGEB, membenarkan pendapat yang mengatakan bahwa:

  1. Beer lahai roi adalah lokasi dimana Hagar memberikan minum kepada Ishmael (jadi berhubungan dengan Kej 16:7 dimana Hagar sudah memiliki anak Ishmael)
  2. Lokasi Kadesh dan Bered adalah daerah gurun di Arabia

Masalah nya JJ berusaha untuk mencari banyak alasan utk menciptakan lokalisasi sehingga banyak alternatif penafsiran yang subyektif. Lokasi yang sebenarnya valid menjadi invalid gara2 upaya lokalisasi. Beda antara Lokasi dan Lokalisasi. Lokasi adalah tempat yg real & fakta yg disebutkan dlm ayat Mazmur tersebut, sedangkan lokalisasi adalah mencari-cari alasan dan bukti yg merujuk suatu tempat tertentu untuk membuktikan klaimnya. termasuk peta yg dianggap historis, padahal peta selalu berkembang dan banyak situs2 sejarah yg mempunyai penyebutan yang berbeda-beda dari lokasi geografis yang sama

Dalam kitab suci Quran tertulis nama Makkah (Qs. 48:24) dan nama Bakkah (Qs. 3:96) karena itu ekspresi tulisan bhs Arab Qurani, sedangkan dalam teks Targum Saadia Gaon aksara Judeo-Arabic tertulis Makkah (Sefer Bereshit 10:30), dan Radak dalam Torat Chaim mengekspresikan tulisannya dalam bahasa Ibrani Rabbinik (Rabbinical Hebrew) tertulis Maka (Sefer Bereshit 10:30), sedangkan dalam Mazmur 84:7 ekspresi Biblical Hebrew tertulis Baka, sama dengan yang termaktub dalam Targum Samaritan aksara Judeo Arabic tertulis Baka (Sefer Bereshit 10:30). Jadi ekspresi penulisan nama lokasi yang dimaksud intinya merujuk pada lokasi geografis yang sama:

  • Makkah – Bakkah (Quranic Arabic dan Judeo-Arabic)
  • Maka (Rabbinical Hebrew)
  • Baka (Biblical Hebrew/Samaritan-Arabic).

Makkah – Bakkah – Maka – Baka. Secara kajian linguistik nama-nama itu ada kesejajaran, dan faktanya merujuk pada lokasi geografis yang sama.

Lokalisasi jelas-jelas invalid.
Lembah Baka – Lembah Petra – Lembah Bochim – Lembah Refaim – Lembah Lebanon. Secara kajian linguistik nama-nama itu tidak ada kesejajaran, dan faktanya merujuk pada lokalisasi geografis yang berbeda.

—♦♦Ξ♦♦—

Leave a comment

 Ishmael dalam narasi kitab suci Yahudi dan Islam (Part V) – Lima Pilar Penjagaan Torah atas Ishmael

Lima Pilar Penjagaan Torah atas Ishmael

By Menachem Ali

 

Bila seseorang mempelajari Torah dan Quran secara serius dan jujur, maka ia akan menemukan hal-hal yang menakjubkan dan bahkan melampai batas-batas nalarnya. Oleh karena itulah saya ingin share kepada pembaca berkaitan dengan 5 pilar penjagaan Torah atas diri Ishmael berdasarkan teks-teks Rabbinik.

1. Kakeknya Ishmael

Shem ben Noah adalah kakeknya Ishmael dan Ishak. Ishmael adalah generasi ke-12 dari Nuh melalui Abraham, sebagaimana Ishak adalah generasi ke-12 dari Nuh melalui Abraham. Menurut kitab suci Torah, hanya Ishmael dan Ishak saja yang disebut sebagai zera’ Abraham (benih Abraham), sedangkan anak-anak yang lain hanya disebut sebagai b’ney Keturah (anak-anak Ketura), istri Abraham. Bila Abraham sesuai dng silsilah dalam Torah adalah generasi ke-11 dari Nuh, maka Shem adalah generasi ke-2 dari Nuh.

Siapakah sebenarnya Shem ben Nuh? Dalam kitab suci Torah, disebutkan adanya sosok yang disebut Melkisedek yang bertemu dng Abraham. Ternyata dalam teks-teks Rabbinik, yakni Targum Yonathan dan kitab Sefer Hayashar disebutkan bahwa Melkisedek itu adalah gelar dari Shem ben Nuh. Artinya, Shem ben Nuh itu adalah kakeknya Ishmael, dan dia punya silsilah, punya ayah dan punya ibu. Itulah sebabnya dalam Torah dinyatakan bahwa Shem ben Nuh disebut sebagai generasi ke-2 dari Nuh dalam rangkaian 12 generasi dari Nuh hingga Ishmael atau Ishak (Sefer Bereshit 10:1-32; 11:10-26; 16:16; 21:1-4). Namun anehnya, dalam Injil Lukas 3:34-36 disebutkan silsilah antara Nuh hingga Ishak ada 13 generasi bukan 12 generasi sebagaimana yang tercatat dalam Torah, dan ini merupakan sebuah penyimpangan bahkan kesalahan fatal dalam tinjauan nalar Rabbinik. Bahkan penyimpangan ini lebih fatal lagi, karena Melisedek dinyatakan tidak mempunyai silsilah, tidak berbapak dan tidak beribu, dan juga tanpa permulaan waktu dan tanpa mempunyai akhir kehidupan (Ibrani 7:1-3) yang narasi ini tentu saja bertabrakan dan menyimpang secara total sebagaimana yang tercatat dalam Torah.

2. Ayahnya Ishmael

Ishmael disebut sebagai zera’ (benih) Abraham sebagaimana Ishak juga disebut sebagai zera’ (benih) Abraham. Dalam Targum Yonathan, sebelum Ishmael dan Ishak dilahirkan, Abraham mengalami ujian luar biasa, yakni dibakar di api Nimrod. Kisah ujian iman Abraham ini juga tercatat dalam Quran (Qs. al-Anbiya’ 21:68-69), dan kisah Abraham yang dibakar di api Namrud dalam Quran ini ada kesejajaran dengan kisah Abraham dibakar oleh Nimrod sebagaimana yang tercatat dalam Targum Yonathan. Bagi kaum Yahudi, Targum Yonathan adalah bagian dari Torah she be’al phe (Torah Lisan berdasarkan sanad keilmuan Rabbinik). Jadi, kisah ujian iman Abraham yang mengalami hukuman bakar di api Namrud diakui sebagai wahyu dan fakta historis bagi kaum Yahudi dan kaum Muslim, meskipun kaum Nasrani menuduhnya sebagai kisah legenda/fiktif.

3. Ibunya Ishmael

Nama Hagar, istri Abraham, tercatat 12 kali dalam Torah, sebagaimana nama Ishmael, anak Hagar juga tercatat 12 kali dalam Quran, dan bahkan nama Kedar, cucu Hagar ternyata juga tercatat 12 kali dalam TaNaKH. Tidak ada seorang pun yang bisa menghapus 12 kali penyebutan nama Hagar dalam Torah sehingga berkurang jumlah penyebutan namanya dalam Torah, dan tidak akan ada seorang pun yang mampu memanipulasi jumlah penyebutan nama Hagar dalam Torah sehingga berkurang/bertambah dari 12 kali penyebutan namanya, sebagaimana tidak ada seorang pun yang mampu mengingkarinya sebagai wanita bangsawan, yakni puteri Firaun sebagaimana yang tercatat dalam teks Rabbinik, lihat Rashi Pherushi ha-Torah.

4. Istrinya Ishmael

Kitab Suci Torah mencatat bahwa Hagar mencarikan istri bagi Ishmael (Sefer Bereshit 21:21), tetapi siapakah nama istri Ishmael? Targum Yonathan dan Pirke de Rav Eliezer mencatat bahwa istri Ishmael bernama Phetimah. Jadi nama Phetimah bukanlah nama Arab atau pun nama Islam, tetapi merupakan nama yang sudah ada sejak era pra-Islam. Begitu juga nama-nama tukang sihir di Mesir yang menentang Musa tidak disebutkan namanya secara rinci (Sefer Shemot 7:8-13), tetapi Paulus mencatatnya, yakni Yanes dan Yambres (2 Timotius 3:8). Nama Yanes dan Yambres bukanlah nama Ibrani atau pun nama khas Yahudi, tetapi merupakan nama dalam bhs Koptik, bahasa kaum Firaun, dan nama Yanes atau pun Yambres ini sebelumnya memang telah tercatat dalam Targum Yonathan (Sefer Bemidbar 22:22) dan kemudian Targum Yonathan ini dikutip dalam tulisan Paulus (2 Timotius 3:8). Namun anehnya, kaum Kristen menuduh bahwa nama Phetimah dalam Targum Yonathan itu pengaruh Islam dan dianggap palsu bahkan rekayasa, sedangkan nama Yanes dan Yambres dalam Targum Yonathan dianggap asli wahyu dan bukan rekayasa. Jadi menurut nalar Kristen, nama Phetimah dan kisah Abraham yang dibakar di api Namrud yang termaktub dalam Targum Yonathan dianggap fiktif dan bukan wahyu TUHAN, sedangkan nama Yanes dan Yambres yang termaktub dalam Targum Yonathan dinaggap fakta dan wahyu TUHAN. Pernyataan kaum Apologet Kristen ini ibarat: ” … ayam di pekarangan rumah sendiri dikatakan unggas, bebek di pekarangan tetangga dikatakan mamalia. Gajah di pelupuk mata tak tampak, kuman di seberang lautan tampak.” Inilah nalar Kristiani yang absurd.

5. Kediaman Ishmael

Nama Makkah yang tercatat dalam Targum Saadia bhs Judeo-Arabic (Sefer Bereshit 10:30) dianggap tidak valid oleh orang Kristen. Padahal nama Makkah juga tercatat dalam kitab suci Quran (Qs. Al-Fath 48:24). Nama Bakkah yang tercatat dalam Targum Samaritan bhs Judeo-Arabic (Sefer Bereshit 10:30) juga dianggap tidak valid oleh orang Kristen. Padahal nama Bakkah juga tercatat dalam kitab suci Quran (Qs. Ali Imran 3:96). Anehnya, nama Nazaret yang tidak tercatat dalam TaNaKH, Targum Onqelos, Targum Yonathan, Targum Yerushalmi, Targum Saadia, Targum Samaritan, kitab Midrash dan teks2 Rabbinik yang lainnya justru dianggap valid hanya berdasar klaim sepihak kitab suci Kristen sebagaimana yang termaktub dalam Matius 2:23. Padahal nama Nazareth tak satu pun muncul dalam teks TaNaKH sebagaimana yang diklaim oleh Matius telah ditulis oleh para nabi. Padahal para Nabi maupun para Rabbi pra-Kristen tak pernah mencatat nama Nazaret sama sekali. Inilah nalar absurd dalam beragama yang maunya menang sendiri.

Baruch HASHEM.

Leave a comment

Ishmael dalam narasi kitab suci Yahudi dan Islam (Part IV)

Makkah: Tempat Suci Kaum Ishmael

By Menachem Ali

Kitab suci Torah dan Quran bagaikan 1 keping mata uang. Sekeping mata uang, pasti memiliki dua sisi yang saling melengkapi; begitu juga keberadaan Torah dan Quran bagaikan 2 sisi pewahyuan ilahi yang narasinya saling melengkapi dan memiliki keunikan masing2, terutama dalam menarasikan sosok Ishmael. Dalam kitab suci Quran, nama Ishmael hanya disebutkan 12 kali saja, tetapi tidak dirinci siapakah nama anak-anak Ishmael itu. Sebalinya, dalam kitab suci Torah, nama anak-anak Ishmael disebutkan 12 orang dan dirinci siapakah nama-nama mereka (Sefer Bereshit 25:13-18). Bahkan, ibunya Ishmael yang bernama Hagar ternyata hanya disebutkan 12 kali saja dalam kitab suci Torah, sebanding juga dengan nama Kedar yang faktanya dalam TaNaKH juga disebutkan 12 kali saja. Siapakah Kedar? Dialah salah satu nama dari 12 nama anak-anak Ishmael. Apakah ini sebuah kebetulan atau sebuah rekayasa ilahi yang mengandung pesan tersembunyi dalam bentuk pengulangan kata/nama tersebut dalam teks kitab suci? Silakan renungkan sendiri.

Bila umat Kristen menyebut seseorang yang beragama Islam dengan sebutan ” orang Bani Kedar ” maka kaum Yahudi menyebut orang-orang yang beragama Islam dengan sebutan Yishmaelim (kaum Ishmael). Inilah fakta sejarah yang tidak bisa dibantah oleh siapapun. Bukankah Bani Kedar itu keturunan Kedar? Bukankah Kedar itu keturunan Ishmael? Bukankah nama Kedar dalam kitab Perjanjian Lama (Kristen) disebutkan 12 kali? Bukankah nama Kedar dalam kitab TaNaKH (Yahudi) juga disebutkan 12 kali? Bukankah nama Ishmael dalam Quran juga disebutkan 12 kali? Apakah ini sebuah kebetulan atau rekayasa ilahi yang mengandung pesan tersembunyi? Ada pertanyaan sederhana yang dipikirkan oleh kaum Kabbalist dari kalangan Yahudi Ortodoks mengenai penyebutan populer istilah Yishmaelim yang sering disematkan oleh Rabbi-rabbi Yahudi kepada kaum Muslim dan istilah Bani Kedar yang disematkan oleh orang2 Kristen kepada kaum Muslim. Istilah Yishmaelim ternyata memilki nilai gematria 501, sedangkan kata ‘kepala’ (Ibrani: rosh) juga memiliki nilai gematria 501; ini merupakan isyarat bahwa Kedar adalah kepala kaum Ishmael. Jadi tidak salah bila menyebut Yishmaelim (kaum Ishmael) maksudnya sama dengan menyebut Bani Kedar (keturunan Kedar) yang kedua sebutan itu ditujukan kepada kaum Muslim. Apakah ini kebetulan? Silakan Anda jawab sendiri.

  • Nama Hagar disebutkan 12 kali dalam Torah
  • Nama Ishmael disebutkan 12 kali dalam Quran
  • Nama Kedar disebutkan 12 kali dalam TaNaKH

Dalam Pherushi Rashi ‘al ha-Torah, Rabbi Shlomo ben Yitzhak (Rashi) menyatakan bahwa yang dimaksud ha-Na’ar dalam Sefer Bereshit 18:7 itu adalah Yishmael, ….. el ha-Na’ar zeh Yishmael (kepada anak muda yang dimaksud dialah Ishmael). Sejajar dengan Rashi, dalam Targum Judeo-Arabic, Rabbi Saadia Gaon (RavSag) menyebut ISHMAEL dengan sebutan Ghulam (Sefer Bereshit 18:7), sedangkan dalam Quran, Ishmael disebut sebagai Ghulam chalim (Qs. As-Shaffat 37:101). Dalam TaNaKH, istilah Na’ar selalu bernuansa positif, sejajar dengan istilah Ghulam yang dalam Quran selalu bernuansa positif. Itulah sebabnya ada narasi kebersamaan Abraham scr spiritual bersama Ishmael tatkala menyambut tamu utusan TUHAN, dan Ishmael melaksanakan mitzvoth atas perintah Abraham, sekaligus sebagai mitra setianya (Sefer Bereshit 18:7) sejajar dengan narasi kebersamaan Abraham secara spiritual bersama Ishmael tatkala membangun rumah TUHAN, dan Ishmael menjadi mitra Abraham dalam membangun rumah TUHAN itu (Qs. Al-Baqarah 2:127-128). Kisah kebersamaan Abraham dan Ishmael ini kekal abadi dalam kedua kitab suci dan saling melengkapi, yang mengajak pembaca agar memahami betapa taatnya Ishmael kepada Abraham. Kisah kebersamaan keduanya membangun rumah TUHAN di kota Makkah memang tidak dijelaskan secara rinci di dalam kitab suci Torah, tetapi kisah keduanya yang menjadi latar pelaksanaan ibadah Hajji di kota Mekkah dijelaskan dalam teks2 Rabbinik. RavSag menjelaskan nas Bereshit 10:30 dengan menyebut Mesha sebagai mana lain dari Makkah; dan Rabbi David Kimchi (Radak) menjelaskan secara rinci:

” …… Mesha, Targum Rav Saadiyah z”l Makka sheholachim ha-Yishmaelim le Hag shemo”

(Mesha, dalam Targum Rav Saadia Gaon – semoga namanya kekal abadi – yang dimaksud adalah Mekkah tempat pelaksanaan syariat bagi kaum Yishmaelim yang namanya ibadah Hajji). Jadi dalam teks Torat Chaim ini mengakui bahwa ibadah Hajji ada kaitan dengan Makkah dan ibadah Hajji ini ada kaitan khusus dengan Yishmaelim. Apa itu yang dimaksud dengan istilah Yishmaelim dalam teks2 Rabbinik? Yishmaelim (kaum Yishmael) adalah bentuk jamak dari Yishmael (nama Yishmael ben Avraham). Jadi benarlah bahwa Makkah terkait dengan Ishmael dan Ishmael terkait dengan Makkah. Itulah sebabnya di Makkah ada Ka’bah (Bait Suci) yang dibangun oleh keduanya, dan yang di sampingnya ada jejak maqam Ibrahim dan ada juga Hijr Ishmael. Inilah situs/ jejak spiritual yang kekal abadi di tanah Hijaz.

Dan istilah tanah Hijaz ini juga disebutkan oleh RavSag dalam Sefer Bereshit 16:7.

Transliterasi:

Fa wajadaha malak ALLH ‘ala ‘ayn ma fi al-bariyyah. ‘Ala al-‘ayn fi thariq Hajar Al-Hijaz.

(Maka malaikat ALLH menjumpai dia di dekat mata air di padang gurun, suatu mata air yang berada di sisi jalan Hajar Al-Hijaz).

Lihat juga pernyataan Radak dalam Torat Chaim, Sefer Bereshit 10:30.

פרק י פסוק ל פירוש א

After the dispersal of mankind, these sons of Yokton chose for themselves the land extending eastward from the valley of the Euphrates and Tigris. Rav Saadyah gaon understands the meaning of the word Mesha as what is known nowadays as Mecca, the city to which the Muslims make their pilgrimage.

Dengan demikian, Mekkah terkait dengan Ishmael tak bisa terbantahkan, dan Makkah terkait dng tempat suci bagi kaum Ishmael juga tak dapat terbantahkan. Inilah keunikan masing2 narasi kitab suci dalam memperkenalkan siapakah sebenarnya sosok Ishmael ini.

Semoga artikel ini menjadi renungan kita bersama. Baruch HASHEM.

Leave a comment

 Ishmael dalam narasi kitab suci Yahudi dan Islam (Part III)

Masjid dan Synagoga: Refleksi Piagam Machpelah

By Menachem Ali

 

Jewish people give Muslims key to their synagogue after town’s mosque burns down

Agama Yahudi dan agama Islam bukanlah agama yang harus saling diperseterukan. Kita harus belajar dari negeri Palestina. Mengapa? Sebab di wilayah Palestina inilah terdapat kota Hebron; dan di kota Hebron inilah terpahat situs abadi yang menjadi saksi adanya Piagam Gua Machpelah. Di gua Machpelah inilah Yishmael dan Yitzhaq bersama2 memakamkan jenazah Abraham yang telah melahirkan keduanya sebagai anak-anak yang saleh. Derai air mata keduanya tatkala memakamkan jasad ayahnya ke liang lahat dng tangan mereka sendiri dan melepas kepergian Abraham utk bertemu HaShem (TUHAN) di alam keabadian. Silakan Anda membaca dengan seksama kitab Torah, Sefer Bereshit 25:7-9.

Kini, kaum Yishmaelim (kaum Muslim yang meneruskan ajaran Ishmael) meneladani Ishmael dan berziarah ke pusara datuk mereka dan melaksanakan shalat di masjid Hebron – tempat makam Abraham – sambil menyebut shalawat Ibrahimiyyah dalam shalat, mereka membaca:

“….. Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ali Muhammad kama shallayta ‘ala Ibrahim wa ali Ibrahim …..”

Begitu juga, kaum Yahudi juga menjalankan tefilah di masjid Hebron sambil membaca doa:

” .. baruch atta ADONAI Eloheynu Melech ha-olam. Elohey avoteynu Elohey Avraham Elohey Yitzhaq V’lohey Ya’akov ….”

Cobalah Anda saksikan di sana, Anda akan merasakan sesuatu yang amat mengharukan kini sedang terjadi. Yang satu menyebut nama Abraham dalam bahasa Arab, yang satu menyebut nama Abraham dalam bhs Ibrani. Sungguh, Abraham tersenyum menyaksikan umat Islam dan umat Yahudi bertemu di pusara Abraham dan memanggil namanya di depan jasad Abraham sang ayahanda tercinta.

Kini, masyarakat Yahudi di New York meminjamkan synagoga sebagai tempat ibadah kaum Muslim; dan sebelumnya juga di New York umat Islam telah meminjamkan masjid mereka utk tefilah sebagai tempat ibadah umat Yahudi. Tetapi sesuai dng halacha, yakni syariat agama Yahudi, umat Yahudi diharamkan meminjamkan synagoga mereka untuk tempat ibadah umat Kristen. Mengapa? Ini berkaitan dng halacha (syariat Yahudi) yang harus dipahami oleh penganut agama lain. Maka, sudah sepatutnya kita harus belajar dari umat Muslim dan umat Yahudi di USA utk mewacanakan sikap toleransi sesuai kaidah syariat kedua belah komunitas iman. In sha ALLH. Baruch HaShem.

Namun demikian, ada saja orang2 yang tidak paham bahwa peristiwa ini dianggap hanya sebagai politik pencitraan yang diwacanakan kepada publik agar terkesan adanya toleransi antara umat Muslim dan umat Yahudi. Menurut saya, kecurigaan dan asumsi mereka sebenarnya tidak berdasar dan mereka sebenarnya juga tidak paham ajaran syariat Islam dan ajaran halacha Yahudi. Ada yang tidak paham tapi terlalu banyak berbicara dan merasa lebih paham dari pada mereka yang telah memahami kedua agama Abrahamic tersebut.

Dalam ajaran halacha (syariat) agama Yahudi, umat Yahudi boleh memakan sembelihan umat Islam karena dianggap kosher. Apa itu kosher? Istilah Ibrani ini sama dengan halal dalam Quran. Dan mengapa sembelihan itu dianggap kosher? Pertama, karena sembelihan itu disembelih dengan menyebut nama ALLH, Ism al-a’dzam (the Great Name) dalam tata penyembelihan syariat Islam, yang menurut halacha agama Yahudi diakui sejajar dengan nama YHWH, ha-Shem (the Name). Seandainya nama ALLH dalam halacha (syariat) agama Yahudi dianggap sebagai nama berhala, maka pasti para Rabbi sejak zaman dulu hingga sekarang akan mengharamkan sembelihan umat Islam itu utk dikonsumsi oleh umat Yahudi se-dunia. Kedua, penyembelihan dalam syariat Islam itu dilakukan dengan cara menghadap kiblat di Mekkah, dan ini dianggap kosher dalam halacha agama Yahudi, sebagaimana yang termaktub dalam kitab2 Responsa Rabbinik, misalnya kitab Kitzur Sulchan Aruch. Seandainya Bait Suci di Mekkah yang dijadikan kiblat oleh umat Islam dalam penyembelihan dianggap sebagai kiblat penyembahan berhala yang bernama ALLH maka bisa dipastikan halacha (syariat) agama Yahudi akan mengharamkan umat Yahudi se-dunia untuk mengkonsumsi hasil sembelihan umat Islam. Dan 2 alasan ini telah tertulis dalam kitab2 penting agama Yahudi lainnya.

Rashi (Rabbi Shlomo ben Yitzhaq) adalah Rabbi Besar pada masa generasi Rishonim yang diakui otoritasnya. Rashi telah menyatakan dalam Perushi Rashi ‘al ha-Torah ketika menjelaskan Sefer Bereshit 18:7 bahwa tatkala Abraham mengambil seekor anak lembu yang empuk dan baik, lalu menyerahkan dan memerintahkan kepada seorang anak muda dan segeralah anak muda itu menyembelihnya/mengolahnya – el ha-Na’ar (to the youth/ anak muda), Rashi menyatakan ha-Na’ar zeh Yishmael (anak muda itu adalah Yishmael) le hannevo be mitzvoth (Abraham mengajarkan kepadanya utk melaksanakan mitzvoth). Penyembelihan adalah salah satu dan bukan satu-satunya dari mitzvoth yang diajarkan Abraham kepada Yishmael, dan umat Islam meneruskan mitzvoth yang diterima Yishmael dari ayahnya. Itulah sebabnya umat Yahudi menyebut para pengikut ajaran Islam dng sebutan Yishmaelim, yakni kaum penerus iman Ishmael. Bahkan Mekkah yang berkaitan dng tempat kediaman Yishmael pun juga diakui sebagai kebenaran oleh para Rabbi Besar yang memiliki otoritas dalam penjelasan Torah. Kalau penyembelihan umat Islam dianggap kosher oleh kaum Yahudi, padahal penyembelihan itu dilakukan dng cara menghadap Ka’bah Bait Suci di Mekkah, maka inilah bukti kongkrit pengakuan ajaran Rabbinik atas eksistensi kebenaran lokasi geografis Makkah sebagai tempat kediaman Ishmael. Rabbi Besar David Kimchi (Radak) yang merujuk pada otoritas Rabbi Besar Saadia ben Yosef (RavSag), pada kitab Torat Chaim, khususnya pada penjelasan nama Mesha, David Kimchi menyatakan:

Mesha, Targum Rav Saadia Gaon z”l Mekka she holachim ha-Yishmaelim le Hag shem

(nama Mesha dalam Targum Rav Saadia Gaon – semoga Eloqim menyucikan jiwanya – adalah Mekkah tempat pelaksanaan syariat bagi kaum Yishmaelim (kaum penganut iman Ishmael/Muslim) yang namanya ibadah Hajji.

Inilah bukti adanya pengakuan valid dalam kitab2 Rabbinik bahwa Mekkah memang sudah mereka kenal, bukan saja secara historis tapi juga secara teologis. Artinya, nama Mekkah dalam Targum Judeo-Arabic (Targum Saadia) adalah nama lain dari Mesha dalam teks Masoret Ibrani; sebagaimana nama Al-Hijaz dalam Targum Judeo-Arabic (Targum Saadia) adalah nama lain dari Hagra dalam Targum Judeo-Aramaic (Targum Onqelos) dan sekaligus nama lain dari Syur dalam teks Masoret Ibrani (Sefer Bereshit 10:30; 16:7).

Nama lokasi geografis bisa berbeda tetapi secara historis hal itu diakui oleh para Rabbi merujuk pada lokasi geografis yang sama. Itu semua akibat perbedaan/pergeseran lintas bahasa dari bahasa Ibrani, bahasa Aramaic hingga bahasa Arab. Inilah eksistensi lokasi geografis Mekkah yang dikenal oleh para Rabbi dalam konteks historis. Selanjutnya, Mekkah bagi para Rabbi juga merujuk pada aspek teologis. Artinya, Mekkah adalah kiblat yang di dalamnya ada Bait Suci bagi kaum Yishma’elim dalam menjalankan syariat ibadah Hajji. Di sinilah diagungkan nama HaShem (TUHAN) yang disembah oleh Abraham dan Yishmael dan bukan sebagai kiblat penyembahan berhala sebagaimana yang sering dituduhkan oleh kaum Kristen kepada umat Islam. Berdasarkan alasan-alasan historis dan teologis inilah maka halacha (syariat) agama Yahudi menghalalkannya. Itulah sebabnya sembelihan umat Islam dianggap kosher dan masjid umat Islam pun dianggap kosher.

Baruch HASHEM.

Leave a comment

 Ishmael dalam narasi kitab suci Yahudi dan Islam (Part II)

Nama Bakkah dalam Tiga Kitab Suci

By Menachem Ali

Kajian filologi dan linguistik itu penting, terutama kajian linguistik komparatif

Kajian filologi dan linguistik itu penting, terutama kajian linguistik komparatif yang berkaitan dng eksistensi nama Bakkah.

  • Sejak semula sudah saya katakan bahwa tidak ada seorang pun yang bisa dan sukses menghapus nama Bakka dalam TaNaKH (Yahudi), Perjanjian Lama (Kristen) ataupun Quran (Muslim). Jadi siapapun mereka, agama apapun yang mereka ikuti sebagai latar keimanannya, yang berasal dari ketiga agama itu, pasti tak akan mampu menghapus nama original Bakka dalam ketiga kitab suci tersebut. Hal ini sudah kita pahami bersama. Apakah ada di antara kita yang keberatan dng pernyataan saya ini bahwa nama Bakka hingga sekarang masih tetap kekal abadi sebagaimana yang tercatat dalam ketiga kitab suci itu?
  • Nama Bakka dalam TaNaKH, Perjanjian Lama, dan Quran ternyata adalah nama yang berkaitan dng nama lokasi geografis, dan bukan menunjuk pada nama orang atau pun karakter seseorang. Dan itu juga kita sudah sepakati. Apakah ada di antara kita yang keberatan dengan pernyataan saya ini?
  • Nama Bakka yang termaktub dalam TaNaKH (Yahudi), Perjanjian Lama (Kristen), dan Quran (Islam) hanya terkait dengan Lembah, dan bukan terkait dng Gunung, dan juga bukan terkait dng Pantai sekalipun. Bukankah hal ini juga sudah kita sepakati? Adakah yang keberatan dengan pernyataan saya ini?
  • Nama Bakka yang terkait dng Lembah itu ternyata juga ada mata air, ini adalah kata kunci untuk mengidentifikasi lokasi penting itu bahwa di Bakka selain berupa Lembah juga bermata air. Ini telah disepati oleh ketiga agama, sebagaimana yang termaktub dalam ketiga kitab suci. Cobalah baca secara teliti Mazmur 84:7 tertulis secara tegas ada mata air yang terdapat di wilayah Lembah Bakka ini. Jadi ada nama Bakka – Lembah – mata air, tiga hal ini sebagai 3 ciri lokasi geografis yang dimaksud. Nama al-Hijaz, Makkah, sumur di El Rai sebagai beer zamum (sumur mata air zamzam), Hag le Yeshmaelim (ibadah Hajji bagi kaum Ishmael) itu juga dibahas oleh para rabbi. Namun, yang mengatakan demikian adalah RavSag, Ibn Ezra, Radak. Bahkan Rashi maupun Ramban pun tidak menyangkalnya. Rabbi-rabbi angkatan generasi Gaonim hingga generasi Rishonim tidak ada 1 pun yang menyangkalnya. Kalau Anda bisa membuktikan hal itu tidak benar maka jangan berimajinasi tapi tunjukkan bukti. Jadi salah besar bila yang mengatakan itu saya pribadi.

Bacalah dengan teliti.

Berkaitan dengan penjelasan TaNaKH khususnya mengenai kisah Hagar dan Yishmael yang termaktub dalam Sefer Bereshit 16:7 – 14 yang berkaitan dng sumur mata air zam-zam serta nama wilayah Makkah yang termaktub dalam Sefer Bereshit 10:30 yang keduanya dikaitkan sebagai le Hag shemo le Yishmaelim (sebagai ibadah Hajji bagi kaum penganut iman Yishmael) silakan para pembaca dapat merujuk pada sumber2 Rabbinik yang ditulis oleh Rabbi-rabbi Yahudi sejak generasi Gaonim hingga generasi Akharonim, yakni Ravsag (Rav Saadia Gaon), Rav Avraham ben Ezra (Ibn Ezra), dan Radak (Rav David Kimchi), yang sudah saya uraian panjang lebar di artikel saya. Mazmur 84:7 dalam teks TaNaKH yang disebut teks Masoret berbahasa Ibrani, ternyata tertulis nama Bakka sebagai (i) nama lokasi geografis, (ii) lokasi geografis itu berupa lembah (Hebrew: emeq). Dalam Quran juga tertulis nama Bakkah sebagai (i) nama lokasi geografis, (ii) lokasi geografis itu berupa lembah (Arab: wadi). Inilah kesejajaran kitab suci TaNaKH dan Quran yang scr jelas tertulis seperti itu.

Penafsiran orang terhadap nama Bakka dalam Mazmur 84:7 bukan merujuk pada lokasi geografis di Bakkah yang terletak di Saudi Arabia itu urusan sang penafsir, tapi yang menjadi catatan bahwa keduanya menyebut nama Bakka dan keduanya berupa lembah. Orang boleh saja berkata bahwa Ismail dalam Quran bukanlah Yishmael dalam TaNaKH meskipun namanya ada kemiripan, itu juga hak setiap orang utk menyatakannya. Saya tidak berhak menghakiminya. Kalau nama Bakka dalam Mazmur 84:7 bukan merujuk pada nama Bakkah di wilayah Hijaz, lalu mengapa Rav Saadia Gaon (RavSag) dalam Targum Judeo-Arabic menyebut istilah Al-Hijaz pada Bereshit 16:7 sebagai nama lain dari Syur? Dan mengapa juga Ibn Ezra menyebut beer zamum (sumur zam-zam) dalam Perush ‘al ha-Torah, Sefer Bereshit 16:7 ? Sefer Bereshit/ kitab Kejadian 16: 13: El Roi: Tuhan melihat kesusahan dan penderitaan yg dialami Hagar, lalu Tuhan mengirim Malaikat untuk membantunya, pada ayat 14, identifikasi sbg sumur mata air zam zam:

Sefer Bereshit16:14

Beer Lachai:

Pada tahun kemudian, sumur itu adalah rasanya seperti hidup, demikianlah pada setiap tahun, Yishmaelim (orang2 yang menganut iman Ishmael) berziarah ke sumur itu, maka smpai pada hari ini sumur itu disebut dengan beer zamum (Sumur zam-zam)

  • Letak geografis wilayah Bakka yang di Lembah dan ada mata air di sana ternyata lokasinya berada di arah selatan Yerusalem, juga disepakati antara Yahudi, Kristen dan Islam. Adakah sesuatu yang salah dalam hal ini? Tidak khan?
  • Yerusalem lokasinya di Gunung, sedangkan Bakka lokasinya di Lembah. Mazmur 84:7 (Kristen) dan Tehillim 84:7 (Yahudi) sama-sama bersepakat bahwa ayat-ayat itu terkait dng Bait Suci di Yerusalem dan pelaksanaan ibadah Hag (Hebrew: Hag, cf. Arab: Hajji) di Yerusalem: ” ….. sambil berjalan kekuatan mereka semakin besar hingga masing2 menghadap HASHEM (Tuhan) di Zion (Mazmur 84:7). Di Zion (Yerusalem) terkait dng Bait ALLH di gunung; dan orang2 ber-pilgrimage/ber-hajji/berziarah ke Yerusalem (Mazmur 84:5-6). Dalam Midrash Vayikra Rabba fol. 174.4 dan Midrash Bamidbar Rabba fol. 250.4 disebutkan: natan be-tzafon yabo va yebnah et bah shehu Melech ha-Mashiah shehu naton be darom (the King Meshiah is placed on the North shall come and build the House of Sanctuary which is placed on the South – Raja Mesias yang berkedudukan di Utara akan datang dan membangun Bait Suci yang terletak di Selatan). Tidak ada Bait Suci di arah selatan Yerusalem kecuali Bait Suci yang yang dibangun di arah selatan Yerusalem yang disebut dng nama Bakka. Ini sebagai bukti ada 2 Bait Suci, yang satu berada di Gunung Yerusalem, dan yang satu berada di Lembah Bakka. Apakah ada Bait Suci di Selatan Yerusalem yang lokasinya disebut Lembah Bakka? Rabbi Saadia Gaon, Ibn Ezra, dan Radak pun tahu soal ini. Ada yang menyangkal? Ini bukan pendapat rabbi-rabbi secara pribadi tetapi pengajaran Rabbinik, yang merupakan pengajaran Torah she be’al phe yang diterima Musa, dan yang tertulis dalam kitab Midrash dan diwariskan antargenerasi.

Siapapun boleh melakukan pengecekan secara akademik terhadap postingan teks Ibrani yang saya tunjukkan tersebut. Marilah kita baca teks Rabbinik itu secara seksama dan bersama-sama, agar saling bisa mengjngatkan kalau di antara kita ada yang salah baca.

Penjelasan dari kitab Pherushi Rabbenu Saadia Gaon ‘al ha-Torah, terbitan Mossad Harav Quq, Yerusalem, tertulis demikian:

Pada Bereshit 10:30 dkatakan: le Mesha Makkah 54 Sefarah Medinah 55 …. ” dan pada catatan kaki no. 54 tertulis

‘ir falachen ha-Muslimim hayado’ah be Hijaz.

(Mesha adalah Makkah 54, Safarah adalah Madinah 55 ….. dan pada catatan kaki nomor 54 ternyata ada penjelasan yang berbunyi: ” kota penting bagi kaum Muslim yang dikenal di wilayah al-Hijaz.)

Kalimat yang berbunyi: ‘Ir falachen ha-Muslimim hayado’ah be Hijaz bisa diterjemahkan:

  1. Kota perdagangan (‘Ir falachen) bagi kaum Muslim yang dikenal di wilayah Hijaz.
  2. Kota penting (‘Ir falachen) bagi kaum Muslim yang dikenal di wilayah Hijaz.
  3. Dalam bhs Ibrani, ternyata istilah falachen sama dengan istilah falachun dalam bhs Arab.

Sekarang mari kita bandingkan kitab terbitan Mossad Harav Kook, Yerusalem, di dalamnya ada pernyataan Radak (Rabbi David Kimchi) yang merujuk pada otoritas RavSag, yang termaktub dalam kitab Torat Chayyim Chameshah Chumshe Torah. Sefer Bereshit ‘im ha-Haftharat ve ‘im Pherushi Targum ha-Tafsir shel Rav Saadia Gaon (RavSag), Pherush Rabbenu Hananel, Pherush Rabbenu Shlomoh Yitzhaq (Rashi), Pherush Rabbenu Shemu’el bar Rav Meir (Rashbam), Pherush Rabbenu Avraham Ibn Ezra (Ibn Ezra), Perush Rabbenu David Kimchi (Radak).

Kitab ini adalah himpunan pengajaran Torah she be’al phe (Torat Lisan) yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dalam sanad mata rantai keilmuan Rabbinik.

Bila nama Makkah di kawasan al-Hijaz telah tercatat dalam literatur penjelasan Rabbinik. Maka yang lebih menakjubkan adalah penjelasan dalam literatur Gereja Ortodoks Koptik di Mesir, yang juga mengakui keberadaan Makkah ini, sebagaimana yang termaktub dalam Qamus Alkitab al-Muqaddas.

أما البلسان الحقيقي الذي ذكره المؤلفون القدماء فهو “بلسم مكة ” الذي مازالت مصر تستورده من شبه الجزيرة العربية – كما كان الأمر قديماً – وهو عصير الشجرة المعروفة علمياً باسم (Balsamo Dendron Apabatsmum) والتي تنمو في جنوب الجزيرة العربية وفي الحبشة، وهي شجرة صغيرة غير منتظمة الشكل، قشرتها ضاربة إلى الصفرة في لون شجرة الدلب.” دائرة المعارف الكتابية ج 2 ص: 189

Keterangan itu diperkuat juga dalam site St.Takla dalam “Qamus Alkitab al-Muqaddas” dalam entri kata “pohon buka'”, dikatakan bahwa pohon buka’ ini terdapat di negara-negara Arab dekat Mekkah.

ربما يُقْصَد به “شجر البلسم” أو ما يشبهه. ففي بلاد العرب، قرب مكة شجر بهذا الاسم. يشبه “شجر البلسم” أو “البلسان”، وله عصارة بيضاء لامعة. وقد سمى شجر البُكا، نسبة لأن تلك الأشجار تنضح بالصموغ، أو نسبة لقطرات الندى التي تقع عليه

Seluruh terjemahan Arabic Bible versi Krristen enggan menyebutkan kata lembah ” Bakkah” (بكة) dan memilih menerjemahkan dgn kata ” lembah Buka’ (وادي البكاء) yang bermakna Lembah Tangisan atau ” lembah Balsam” (وادي البلسان). Ironisnya, meskipun mrk berusaha menutupi-nutupi kata Bakkah dan menggantinya dgn kata2 yang lain, kita msh tetap menemukan bukti atau data bahwa lembah “Balsam” itu memang sebenarnya terdapat di Mekkah. Data ini bisa kita lihat dlm “Bible Encyclopedia dlm bhs Arab”, 2/187: “Adapun Balsam yang disebutkan oleh para penulis klasik itu adalah “Balsan Mekkah” yang mana negara Mesir masih mengimpornya sampai sekarang dari Jazirah Arab. Pohon Balsam inilah yang dikenal dalam bahasa ilmiah dengan sebutan “balsamodendron opobalsamum”.

Sementara itu, dalam “Keil & Delitzsch Commentary on the Old Testament, Psalms 84 juga disebutkan bahwa Pohon buka’ atau balsam tumbuh dan sering didapati di lembah Mekkah. lihat teks komentar tersebut:

“and such a tree is the Arab. (baka’un), resembling the balsam-tree, which is very common in the arid valley of Mecca ….

Ini linknya: http://www.studylight.org/commentaries/kdo/psalms-84.html#1

  • Penerjemahan nama Bakka dalam Tehillim (Yahudi), Mazmur (Kristen) dan Quran (Islam) juga sudah kita sepakati, yakni bisa diterjemahkan: (1) the Valley of Weeping, (2) the Valley of Balsam Tree. Yahudi, Kristen dan Muslim menyepakati penerjemahan keduanya.
  1. Emeq ha-Bakka dalam TaNaKH (Yuhudi) Artinya: Lembah Tangisan, Lembah Balsam.
  2. Emeq ha-Bakka dalam Mazmur (Kristen) Artinya: Lembah Tangisan, Lembah Balsam.
  3. Wadi Bakkah dalam Quran (Islam) Artinya: Lembah Tangisan, Lembah Balsam.

Jadi apa yang hendak disangkal soal Bakka ini? Tidak ada bukan?

Para penafsir Kristen tidak ada yang berpendapat seragam mengenai lokasi Bakka sebagaimana yang dimaksud dalam Mazmur 84:7. Hal ini membuktikan bahwa semua penafsiran ttng nama Bakka dalam tradisi Kristiani itu sangat spekulatif dan tidak meyakinkan. Namun anehnya, para penafsir Kristen juga mengakui bahwa Mekkah juga bisa jadi sebagai lokasi yang dimaksud dalam kitab Mazmur 84:7. Ketiga lokasi Bakka yang dimaksud itu adalah:

  1. Bakka ada di Lebanon, wilayah utara Yerusalem.
  2. Bakka ada di lembah Refaim, selatan Yerusalem.
  3. Bakka ada di lembah Makkah, selatan Yerusalem.

Penafsiran mengenai dimana sebenarnya lokasi geografis Bakka itu, maka hal itu tidak bisa dianggap sebagai tafsiran yang benar bila hanya mempertahankan ego penafsiran versi Islam dan penafsiran versi Kristen. Oleh karena itu kita harus merujuk sumber yang netral, yakni dengan merujuk penjelasan teks2 Rabbinik dari kalangan Yahudi sendiri. Mengapa? Sebab penjelasan teks2 Rabbinik adalah penjelasan otoritatif; merekalah yang empunya TaNaKH, dan pemilik asli kitab suci TaNaKH (Torah Neviem ve Khetuvim) yg di dalamnya tercantum kekal abadi nama Bakka sebagaimana yang termaktub dalam kitab suci mereka, bukan kitab suci saya dan bukan kitab suci Anda.

Faktanya, teks Rabbinik justru menyatakan bahwa hal itu berkaitan dng Hagar dan Ishmael, dan tak ada teks Rabbinik yang menolaknya. Bahkan, RavSag, Ibn Ezra, Rashi, Radak bahkan Ramban pun tidak. Penjelasan teks2 Rabbinik ini kalau dalam Kristen sejajar dng teks2 Apostolik (penjelasan Bapa Gereja Kuno).

Berdasarkan pembacaan saya dalam buku2 Tafsiran Alkitab Kristen, ternyata tidak ada penjelasan yang baku, solit, dan meyakinkan mengenai nas Mazmur 84:7, malah terkesan ambigu, dan spekulatif dan bersifat spekulatif.

  1. Ditafsirkan itu adalah Bakka yang ada di Lebanon. Apakah ada penjelasan adanya mata air di lembah Lebanon? Apakah ada peziarah datang dari wilayah Lebanon ke Yerusalem?
  2. Ditafsirkan itu adalah Bakka yang ada di lembah Refaim. Pertanyaannya; apakah ada mata air di lembah Refaim? Bukankah nama Refaim berbeda dengan nama Bakka? Dimana hubungannya antara Bakka dan Refaim? Bukankah namanya jelas berbeda? Apa hubungannya? Bukankah masalah Lembah Bakka berkaitan dng ibadah ziarah sedangkan Lembah Refaim berkaitan dng peperangan dng orang Filistin? Bagaimana nalarnya?
  3. Jadi penafsiran lokasi geografis nama Bakka yang ada di Lebanon dan di Refaim hanyalah penàfsiran alternatif spekulatif, dan bukan penafsiran tunggal absolut. Bahkan, nama Bakka ada juga yang menafsirkan secara alegoris, bukan penafsiran ttng lokasi geografis. Menurut penafsiran alegoris, Mazmur 84:7 itu, sebenarnya sedang mengekspresikan hasrat seorang peziarah menghadap Tuhan di puncak dimana: ” Sekalipun turun melewati lembah yg dalam/ lembah tangisan/ lembah ratapan/ lembah yg kering, mereka akan merubahnya ( seperti banyak) air dan makin kuat menghadap Tuhan di bukit. JADI ITU FIRMAN BAHASA PUISI MENGENAI ‘HASRAT’ MENGHADAP TUHAN.

Artinya, sekalipun turun melewati lembah kesusahan diubah menjadi lembah kekuatan. Jadi menurutnya, kalaupun Makkah berasal dari kata Bakka karena rumpun Semitik, berarti itu hanya sebutan bentuk karakter sebuah tempat bukan nama eksklusif suatu tempat.

Dengan demikian, penafsiran Kristiani terhadap Mazmur 84:7 sebenarnya tidak valid, tapi penafsiran alternatif dan spekulatif yang dapat diklasifikasikan menjadi 2, yakni:

  1. Penafsiran Alegoris yang berkaitan dng karakter suatu tempat dan bukan berkaitan dng nama eksklusif suatu tempat.
  2. Penafsiran Historis yang berkaitan dng lokasi geografis nama eksklusif suatu tempat, dan bukan berkaitan dng karakter suatu tempat. Dalam konteks lokasi geografis ini pun tidak solit tapi beragam.

Jadi mempertahankan iman tanpa dasar fakta yang kuat dan teruji secara lintas referensi agama, bagaikan mendirikan rumah di atas pasir. Tapi iman yang diteguhkan dng data secara lintas referensi bagaikan mendirikan rumah di atas batu karang. Semoga menjadi renungan bersama.

Aamiin.

Leave a comment

 Ishmael dalam narasi kitab suci Yahudi dan Islam (Part I)

Tafsir Rav Saadia Gaon: Perbedaan Eksistensi Mekkah dan Nazaret

By Menachem Ali

שבוע טוב לכולם

Shalom ‘aleychem

Kaum Kristiani mencoba membangun wacana untuk memarginalkan karya RavSag dengan cara pembuktian yang tidak akademik, dan penuh asumsi. Hal ini tentu diwacanakan secara masif di hadapan publik Muslim dan Kristiani agar posisi sentral RavSag diragukan peranannya. Padahal dalam peradaban intelektual Yahadut sejak era generasi Gaonim hingga era generasi Akharonim, RavSag sangat sentral posisinya, dan sangat agung kredibilitasnya sebagai pewaris keilmuan pendahulunya, yakni para rabbi era generasi Gaonim yang berkarya dalam pelembagaan Yeshiva di kota Baghdad, pasca runtuhnya kelembagaan Yeshiva di Palestina, yang diluluhlantakkan oleh Romawi pada tahun 70 M.

Kaum Kristiani menyatakan tentang adanya beberapa bukti pengaruh Islam melalui leksikon Arab-Islam yang termaktub dalam karya RavSag; yang menurutnya bukan karena mewarisi tradisi Yahudi Musta’ribah, tapi justru RavSag menyisipkan ajaran Islam ke dalam teks kitab Torah dalam versi Targum Judeo-Arabic sebagai karya monumentalnya. Menurutnya, ada beberapa kosakata Islami yang sengaja disisipkan oleh RavSag, misalnya istilah Imam yang menjadi kata pengganti Kohen; padahal ada istilah Kahin dalam bahasa Arab yang lebih sejajar dengan istilah Kohen dalam bahasa Ibrani.

Wacana kecurigaan atau pun pengaruh leksikon Arab-Islam yang diwacanakan kaum Kristiani ini sebenarnya tidak tepat. Kalau istilah Imam dianggap merupakan pengaruh Islam, karena Rav Saadia Gaon tidak memakai kata Kahin (Arab) sebagai paralelisasi kata Kohen (Ibrani), lalu mengapa Rav Saadia Gaon tidak menggunakan kata ilah dalam karya Tafsir-nya tatkala utk menggantikan kata Eloah dalam Torah? Mengapa justru RavSag menggantikan kata Eloah (Ibrani) dng kata Rabb (Arab)? Apakah istilah Rabb juga pengaruh Islam dalam karya RavSag? Bukankah istilah Imam dan istilah Rabb keduanya ada dalam teks kitab suci Quran? Dalam Targum Judeo-Arabic terkait Sefer Devarim 6:4, RavSag menulis demikian:

Teks tersebut bila di-Latin-kan akan berbunyi demikian:

I’lam ya Israil inna ALLH Rabbuna ALLH al-wahid.

Sementara itu, bila teks tersebut kemudian dialihaksarakan ke dalam huruf Arab, maka bentuk tulisannya seperti ini.

اعلم يا اسرايل ان الله ربنا الله الوحد

Coba perhatikan, pada teks tersebut terdapat kata Rabb. Apakah ini bisa dijadikan acuan bahwa RavSag terpengaruh ajaran Islam karena menggantikan kata Ibrani yakni Eloah (dalam Sefer Devarim 6:4) menjadi Rabb. Padahal sebenarnya istilah Eloah ada padanannya dng istilah ilah dalam bahasa Arab khas komunitas Yahudi Musta’ribah?

Dalam karya RavSag tercantum nama Khanukh, nama Syalach, nama Qayin dan nama Yitro, bukan nama Idris, nama Shalih, nama Qabil dan nama Syuaib. Ini bukti valid bahwa RavSag tdk dipengaruhi Islam.

Kalau tuduhan ini kita terapkan pada Bible Arab, apakah Bible Arab juga dipengaruhi leksikon Quran karena di dalamnya juga termaktub istilah Rabb? Bukankah banyak kosakata Islami yang dapat diidentifikasi terdapat juga dalam Bible Arab? Kita harus bisa membuktikan ini secara filologis dan kajian bahasa politik pada masanya, bukan sekedar asumsi politik an sich.

Dalam konteks ini, kita harus paham dulu, apa yang dimaksud dng era Gaonim pada masa itu. Sarjana Kristen mayoritas tidak paham sistem kelembagaan Yeshiva ini. Dalam tradisi Yeshiva sebenarnya menyuarakan pendapat pribadi adalah sesuatu yang tidak bisa dibenarkan; apalagi tanpa sanad keguruan, tetapi apa pun yang ditulis oleh sang Rabbi selalu dalam bingkai sanad keguruan, dan hanya mengkompilasi ajaran yang diterustradisikan antargenerasi dalam konteks mata rantai/ sanad keguruan rabbinik sejak era Soferim, Tana’im, Amoraim, Saboraim, Gaonim hingga era Rishonim. RavSag adalah pewaris keilmuan era Gaonim sedangkan Rashi adalah pewaris keilmuan era Rishonim. Dalam karyanya yg berjudul Sefer Ha-Galui, RavSag menyebutkan nasab leluhurnya hingga kepada Shelah ben Yehudah ben Yaakov ben Yitzhaq ben Avraham; di antara nasab leluhurnya ada Rabbi Hanina ben Dosa yang hidup sezaman dng Rabbi Yonathan ben Uziel penulis Targum Yonathan, murid Rabbi Hillel, Rabbi Hanina dan Rabbi Yonathan keduanya adalah rabbi-rabbi terkenal dalam jajaran thabaqat generasi Tana’im sedangkan Rabbi Hillel adalah rabbi terkenal pada jajaran generasi Soferim. Rabbi Saadia Gaon (RavSag) menggantikan posisi Rabbi Yomtov Kahane ben Yaakov sbg suksesinya memimpin Yeshiva di Pumbedita dan Sura, Babylonia. Jadi RavSag adalah penerus mata rantai keilmuan rabbi-rabbi generasi Gaonim sebelumnya. Rashi pun mengakui otoritasnya dan menyebutnya sbg Rabbenu Saadia (guru kami Saadia), lihat Pherush Rashi ‘al ha-Torah (Sefer Shemot 24:12). Ibn Ezra dalam karyanya Ibn Ezra Pherush ‘al ha-Torah (Sefer Bereshit 2:11) juga mengakui otoritas RavSag. Rashi selain merujuk pada otoriitas RavSag, ia juga merujuk pada otoritas Targum Onqelos karya Onqelos murid Rabbi Akiva, generasi para Tana’im. Lihat Pherush Rashi, sefer Bereshit 16:14 menyatakanya sbg me-Targumo. Rashi, Ibn Ezra, Ramban dan Radak adalah jajaran para rabbi dalam thabaqat generasi Rishonim. Ramban mengutip Rashi dan Ibn Ezra; begitu juga Radak sebagai salah satu jajaran para Rabbi generasi Rishonim juga mengutip RavSag sebagai otoritas dalam thabaqat generasi Gaonim.

Dalam Torat Chaim dijelaskan, Radak mengatakan tentang nas Kejadian 10:30 demikian:

u – Mesha, Targum Rav Sa’adiyah z”l Mekka she halochim ha- Yishma’elim le Hag shem

(dan nama Mesya dalam Targum Rav Saadia adalah Mekkah tempat pelaksnaan syariat kaum penganut ajaran iman Ishmael (Yishma’elim), yakni kaum Muslim yang disebut dng nama ibadah Hajji).

Begitu juga Ibn Ezra dalam kitabnya Ibn Ezra ‘al ha-Torah ‘im Pherush Otzcher Chayyim juga mengkonfirmasi pernyataan RavSag.

Sefer Bereshit 16:13 El Roi: Tuhan melihat kesusahan dan penderitaan yg dialami Hagar, lalu Tuhan mengirim Malaikat untuk membantunya, pd ayat 14, identifikasi dng nama sumur zam-zam.

Sefer Bereshit 16:14

Beer Lachai:

pada tahun kemudian, sumur itu adalah rasanya seperti hidup,demikianlah pada setiap tahun, Yishmaelim (orang2 Ishmael) berziarah ke sumur itu, maka sampai pada hari ini sumur itu disebut dengan beer zamum (sumur zam-zam).

Istilah zamum (Ibrani) , zumi (Koptik) dan zam-zam (Arab).

Inilah bukti otoritas mata rantai keguruan rabbinik yang tak terbantahkan antara RavSag, Ibn Ezra dan Radak. Berkaitan dng keberadaan nama Makkah sebagaimana yang dijelaskan oleh Radak, sang Rabbi dari generasi Rishonim, justru dikuatkan pula oleh Ibn Ezra dalam kitabnya yang berjudul Ibn Ezra ‘al ha-Torah. ‘Im Pherush Otzer Chayyim; beliau juga dari angkatan generasi Rishonim yang sering menjadi rujukan Ramban, sang Rabbi yang juga berasal dari angkatan generasi Rishonim. Jadi rabbi-rabbi angkatan generasi Rishonim ternyata juga merujuk RavSag sebagai otoritas tertinggi dari angkatan generasi Gaonim. Artinya, inilah pengetahuan kolektif yang diturunkan dalam sanad keguruan Rabbinik dari satu generasi ke generasi berikutnya berkaitan dng eksistensi nama Makkah sebagai tempat pelaksanaan syariat ibadah Hajji kaum Yishma’elim (Muslim). Kesimpulannya, nama Makkah tercantum dalam kitab suci Quran, dan juga termaktub dalam karya RavSag yang dikonfirmasi kebenarannya oleh Ibn Ezra dan Radak, serta yang termaktub dalam teks Masoret, yakni termaktub dalam kitab Mazmur.

Ini tidak membuktikan bahwa RavSag menyisipkan ajaran Islam ke dalam Torah. Namun justru Quran mengkonfirmasi pernyataan Torah melalui otoritas sanad keilmuan Rabbinik. Bahkan nama Mekkah justru lebih akurat eksistensinya dalam teks-teks Rabbinik dibanding dng keberadaan nama Nazareth yang diklaim oleh Matius, yang katanya telah tertulis dalam kitab nabi-nabi (Matius 2:23). Nas tersebut berbunyi: ” Setibanya di sana ia pun tinggal di sebuah kota yang bernama Nazareth. Hal ini terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh Nabi-nabi bahwa ia akan disebut Orang Nazareth.” Kitab nabi-nabi mana dalam TaNaKH yang menyebutkan nama Nazareth? Literatur rabbi-rabbi angkatan generasi mana saja yang menyebutkan nama Nazareth? Tidak ada satu pun. Bahkan, nama Nazareth juga tidak termaktub dalam Torah (kitab Musa), kitab Mazmur dan juga kitab Nabi-nabi manapun. Jadi nama Nazareth yang merujuk pada nama lokasi geografis sebagaimana yang dimaksud oleh St. Matius ternyata tidak pernah disebutkan secara jelas dalam kitab TaNaKH (Torah, Nevi’em ve Khetuvim), literatur Apokrifa, literatur Pseudographa, atau pun literatur Deuterokanonika. Bahkan sumber-sumber Yahudi seperti Talmud dan sejarawan kuno Yahudi yakni Flavius Yosephus juga tidak pernah menyebutkannya. Itulah perbedaan pembuktian nama Mekkah dan nama Nazareth yang keotentikannya tidak sama dan tidak seimbang bila ditelusuri berdasarkan dokumen kitab TaNaKH dan sumber-sumber literatur Rabbinik.

Berkaitan dengan nama Nazareth, sebagaimana yang tertulis dalam Injil Matius 2:23 itu sangat jelas, St. Matius memang menunjuk pada nama wilayah, yakni lokasi geografi (a place) dalam bahasa Ibrani-nya Natzeret, a resident of Natzaret. St. Matius dalam teks tersebut tidak bermaksud lain kecuali hanya menunjuk pada makna a place (wilayah). Itulah sebabnya nama Natzeret juga muncul lagi dalam Lukas 1:26 dan Yohanes 1:46 yang menunjuk pada nama wilayah/ nama lokasi geografis, a place of Natzeret (Hebrew: Natzeret).  Natanael pernah bertanya : “Mungkinkah sesuatu yg baik datang dari Nazaret?” (Yohanes 1:46). Jadi nama Nazeret hanya mengacu pada nama tempat, bukan nama orang atau kesejajarannya dengan asal usul kata. Itulah sebabnya Yesus disapa dengan sebutan Yesus dari Nazaret (Matius 10:47; Matius 14:67; Matius 16:6).

Bahkan saat Yesus disalibkan di kayu salib tertulis kata-kata ” Yesus orang Nazaret, Raja orang Yahudi.” (Yohanes 19:19). St. Matius sangat konsisten menyebut Nazareth sebagai nama geografis. Bandingkan dengan nama Bakka (Mazmur 84:5) yang tertulis dalam teks Masoret Ibrani juga menunjuk pada nama geografis/ wilayah (a place) atau tepatnya a place of Bakka; dan dalam Targum Judeo-Arabic karya Rav Saadia Gaon tertulis nama Bakkah, juga menunjuk pada nama wilayah (a place, a resident); bukan nama orang atau nama sifat dll. Kalau nama Natzeret yang seharusnya jelas menunjuk pada nama wilayah, lalu orang Kristen mengait-ngaitkan/mencocok-cocokkan dengan kata Nazirite (Bilangan 6:1-23) yakni sebagai nazar (Hebrew: natzir) dan sebagai tunas (Hebrew: netzer) dengan mengutip teks Yesaya 11:1, Yesaya 60:21-22 yang dianggap adanya kaitan dengan nubuatan tentang Yesus; maka ini sangat tidak tepat. Dalam Injil Matius 2:23, St. Matius tidak pernah menunjuk teks manapun dalam TaNaKH sebagai rujukannya. Maka, ada upaya kreatif para apologet Kristen untuk mencari-cari/ menghubung-hubungkannya dengan nas/ayat yang termaktub dalam kitab Nabi Yesaya berdasarkan kemiripan bunyi/kata. Bahkan, para apologet Kristen hanya berhasil mencocok-cocokkannya dengan kitab Nabi Yesaya saja, dan gagal ketika mencari dalil kemiripan bunyi kata tersebut dengan kitab Nabi-nabi lain. Padahal jelas St. Matius mengatakan : “…… genaplah firman yang disampaikan oleh Nabi-nabi bahwa ia akan disebut Orang Nazareth.” (Matius 2:23). Ini sebuah upaya kreatif yang tidak efektif dan gagal total. Gagal pada tahap yang pertama, kemudian melangkah pada tahap yang kedua, yakni dng dalih bahwa nubuat yang dimaksud dalam Matius 2:23 itu menunjuk pada tema teologis nubuatan mesianik, bukan kutipan hurufiah nama Nazareth yang termaktub dalam kitab Nabi-nabi. Kalau nalar seperti ini kita ikuti, seseorang juga bisa mengajukan bukti lain atas teks teologis nubuatan mesianik mengenai Yesus, khususnya berkaitan dengan adanya nama Yesus (Hebrew: Yeshu) yang termaktub dalam TaNaKH, khususnya kitab Mazmur 109:13. Rabbi-rabbi Yahudi, bisa saja mengait-ngaitkan/mencocok-cocokkan nama Yeshu dengan nubuatan yang termaktub dalam Mazmur 109:13 sebagai nabi palsu, karena namanya memang telah dinubuatkan dalam teks tersebut yang berbunyi: Yimach shemo v’zichro (May his name and memory be blotted out) = Yeshu. Jadi nama Yeshu memang sudah dinubuatkan dalam kitab Mazmur 109:13 agar namanya dikeluarkan dari jajaran nama nabi-nabi bangsa Israel. Nalar seperti ini apakah bisa dibenarkan bila dibaca dari konsep Rabbinik? …Silakan Anda jawab sendiri.

Dengan demikian, nama Nazaret sebagaimana yang dimaksud oleh St. Matius dalam Matius 2:23 sebenarnya adalah nama wilayah, nama tempat, bukan menunjuk pada nama orang, atau kualitas seseorang ataupun kemiripan bunyi kata. Mohon dipahami scr baik.

Berkaitan dng pembahasan nama Nazareth atau pun nama Mekkah; nama Makkah dalam Targum Judeo-Arabic kompilasi Rabbi Saadia Gaon (RavSag) tidak ada kaitannya dengan seseorang mau beriman kepada Sang Nabi dari Mekkah atau tidak; itu masalah lain. Tulisan saya ini berkaitan dng eksistensi nama Makkah saja, yang ternyata termaktub dalam dokumen Rabbinik. Masalahnya justru sebaliknya, tidak ada 1 pun dokumen yang menyebut eksistensi nama Nazareth sebagaimana yang diklaim oleh Matius 2:23. Hal ini tentu saja juga tidak ada kaitannya kita mau percaya Yesus sebagai Sang Nabi dari Nazareth itu telah dinubuatkan oleh para nabi bani Israel ataukah tidak. Sekali lagi pahami maksud tulisan saya ini scr tepat. Fakta membuktikan bahwa eksistensi nama Nazareth dalam kitab nabi-nabi yang termaktub dalam kitab TaNaKH (Perjanjian Lama) ternyata nihil; dan bila keberadaan nama Nazareth dalam dokumen Ibrani, atau dokumen Targum Judeo-Aramaic atau pun Targum Judeo-Arabic seandainya ada, maka justru sangat menarik bila hal itu tercatat dalam dokumen Rabbinik tersebut.

Namun, fakta telah membuktikan.

  1. Nama Makkah jelas tercantum.
  2. Nama Nazareth jelas tidak tercantum.

Selanjutnya, bila wacana pengaruh (influence) Islam dalam Targum RavSag yang diwacanakan kaum Kristen ini kita cermati secara teliti, maka ketiadaan nama al-Hijaz dalam Quran membuktikan bahwa RavSag yang mencantumkan nama al-Hijaz dalam Tafsirnya, justru tidak dipengaruhi oleh bahasa Arab Islam tapi justru melestarikan bahasa Yahudi Musta’ribah, dan itu ditulis dalam aksara Judeo-Arabic, dan bukan ditulis dalam aksara Arab; yang membuktikan bahwa Tafsir-nya itu diperuntukkan utk orang dalam (komunitas Yahudi) dan bukan untuk orang luar (komunitas Muslim). Bukankah Targum juga ditulis dalam bhs Judeo-Aramaic yang membuktikan bahwa Targum Onqelos dan Targum Yonathan yang ditulis dalam bahasa Judeo-Aramaic tersebut utk konsumsi orang dalam (kaum Yahudi), dan bukan utk dikomsumsi oleh orang luar (kaum Kristen)? Bila tuduhan kaum Kristiani terhadap Targum Judeo-Arabic karya RavSag ini bisa dianggap benar, maka tuduhan serupa dapat dialamatkan pada karya Onqelos murid Rabbi Akiva dan Yonathan ben Uziel murid Rabbi Hillel yang keduanya menulis karya Targum Judeo-Aramaic, yakni Targum Onqelos dan Targum Yonathan. Pertama, bukankah kedua Targum Judeo-Aramaic itu telah ditulis pada era pasca-Kristen? Kedua, bukankah di dalamnya juga banyak tersisipkan ajaran Kristen? Ketiga, bukankah di dalam kedua Targum Judeo-Aramaic itu terdapat banyak sekali kosakata Kristiani?

Jadi, Targum dalam bahasa Judeo-Aramaic itu dipastikan hanya utk orang dalam (kaum Yahudi), dan bukan utk orang luaran (kaum Kristen). Orang Kristen hanya bisa memahami teks Peshitta yang ditulis dalam bahasa Syro-Aramaic beraksara Estrangelo, bukan aksara Judeo-Aramaic. Begitu juga bahasa Yahudi Musta’ribah ditulis dng aksara Judeo-Arabic hanya ditulis untuk dikonsumsi oleh orang dalam saja (komunitas Yahudi), dan bukan untuk dikonsumsi oleh luaran (kaum Muslim). Orang Islam di negeri Arab tidak akan paham bahasa Judeo-Arabic ini. Jadi, bahasa Judeo-Aramaic dan bahasa Judeo-Arabic adalah bahasa rahasia bagi kaum Yahudi Mizrachim dan Sephardim; sama dengan fungsi bahasa Yiddish, dan bahasa Yiddish ini adalah bahasa rahasia kaum Yahudi Aschenazim. Oleh karena itu, bagaimana nalar/logisnya bahwa bahasa Judeo-Arabic sebagai bahasa rahasia justru utk membenarkan agama Islam? Dan bagaimana mungkin karya Tafsir RavSag yang ditulis dng menggunakan bahasa Judeo-Arabic ditulis olehnya untuk membela iman ajaran islam? Menurut saya, teori ‘pengaruh’ yang dituduhkan oleh kaum Kristiani pada karya RavSag ini sangat tidak tepat dan tdk bertanggung jawab, dan sekaligus tidak fear dalam menyatakan keakuratan Targum Judeo-Arabic yang sangat otoritatif ini dalam konteks kajian akademik. Mengapa mereka bertindak tidak jujur? Alasannya karena ada agenda terselubung dan amat utama, yakni mereka sengaja menutup akses kaum Kristen awam dan kaum Muslim yang kurang referensi bacaan, agar mereka tidak mengkaji tulisan2 Rabbinik sehingga mudah ‘dibohongi.’

Pada masa Gaonim, orang Arab Islam hanya paham aksara Arab, mereka tidak mengerti aksara/bahasa rahasia Judeo-Arabic. Ini adalah bahasa politik keagamaan yang hanya orang dalam yang dapat memahaminya.

Leave a comment