Project Saadia Gaon

Shalom ‘aleychem
Assalamu ‘alaykum
בשם  הי  הרחמן  והרחום
Project Saadia Gaon already  presented an academic text of the Torah in official Jewish Arabic which so-called the Targum Saadia.
For Sephardi and the Mizrachi Jews, the Targum Saadia is important to understand the Torah in Arabic as well as Targum Onkelos in Aramaic.
After reading the Targum, the one will find a new understanding on Islam based on the light of Judaism. However, Judaism has a common roots with Islam, similar but not the same. And the readers will get a new light to represent a dialogue in the paradigm of Abrahamic faiths.
Accrding to the Targum Saadia, Mecca and Medina belong to Shem. The Targum mentions the names of Macca and Medina as followed here (Genesis, chapter 10, verse 30):
לשון הקודש: בראשית, י, ל: וַיְהִי מוֹשָׁבָם מִמֵּשָׁא בֹּאֲכָה סְפָרָה הַר הַקֶּדֶם
תפסיר: ל) וכאן מסכנהם מן מכה. אלי’ אן תגי אלי’ אלמדינה אלי’ אלגבל אלשרקי
ערבית: :1030
وَكَانَ مَسْكَنُهُ مِنْ مَكَّةَ، إِلَى أَنْ تَجِيءَ إِلَى الْمَدِينَةِ إِلَى الجَبَلِ الشَّرْقِي
Noah has three sons, they are  Shem, Ham and Yafet. Both towns, Macca and Medina, belong to the descendants of Shem only, as below: Noah – Shem – Arpachshad – Shelach – Eber – Yoktan – 13 childrens. These Yoktan’s 13 children have settled in many places including the place Mesha [= Mecca] and Sefara [= Medina].
In other words, Macca and Medina belong to Shem’s descendants.
Ham is the father of Cush, Mizraim (the grandfather of the Palestinians), Phut and Canaan. The territory of the Palestinians is in North Sinai. The territory of Canaan is in the land of Israel.
Mecca and Medina exist 4 generations before the birth of Ishmael the son of Avraham which is a descendant of Shem on his father’s side  אברהם (Avraham), and is a descendant of Ham on his mother’s side  הגר (Hagar) a princess of Egypt, Paroh’s daughter. Does Ishmael belong to Shem’s descendants or to Ham’s descendants?
Ishmael will inherit the land of Shem, so that why Mecca and Medina belong to Ishmael’s descendants, ‘wich so-called the Arab Musta’ribah.
Posted in Biblical Studies | Leave a comment

Sejarah Yang Terlupakan Part 2

Shalom ‘aleychem
Assalamu ‘alaykum
Berdasarkan teks kitab Perjanjian Baru (PB), kita bisa menemukan data awal terkait silsilah Yesus. Namun, data silsilah Yesus yang termaktub dalam PB tersebut tidak dapat diverifikasi dng data sejarah pembanding di luar teks suci. Data silsilah Yesus dalam teks PB itu ternyata oleh komunitas beriman telah dianggap sebagai textus receptus yang narasi teksnya bersifat ipse dixit.  Dengan demikian, sakralisasi silsilah Yesus dalam Injil Matius dan Injil Lukas itu dipandang secara umum sebagai kebenaran mutlak silsilah Yesus an sich.  Dalam konteks ini,  masyarakat awam Kristiani lebih mengedepankan argumen nalar teologis dibanding mengedepankan argumen nalar kritis.
Bila kita belajar sejarah bangsa Israel secara sekuler, kita akan menemukan ide pengharapan mesianik yang telah mengkristal menjadi idiom keagamaan, idiom kebudayaan dan sekaligus menjelma sebagai idiom politik,  yang hal itu kemudian secara masif menjadi semacam ingatan kolektif yang diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya. Ide pengharapan mesianik itu dapat kita baca dalam dokumen sejarah  sebagai narasi politik masa kuno, dan dapat pula kita baca dalam konteks politik per se,  yang merupakan narasi sejarah masa kini.  Sebutan ‘anak Daud’ dan sebutan ‘anak Abraham’ yang mengusung ide pengharapan mesianik dan merupakan idiom kegamaan, idiom kebudayaaan sekaligus idiom politik itu, ternyata tidaklah muncul secara tiba-tiba dalam dokumen Injil Matius, tetapi  St. Matius ‘amat cerdas’ memanfaatkan isu idiom tersebut dalam menjustifikasi sang tokoh Yesus sebagai penggenapan atas ide pengharapan mesianik yang mewacana sebagai rekaman kolektif. Namun, dalam konteks ini,  St. Matius menawarkan argumen teologis, bukan berdasar pada argumentasi historis.  Itulah sebabnya, argumen teologis dalam rangka menggenapi ide pengharapan mesianik yang diklaim merujuk pada sang tokoh Yesus, ternyata diawali dng kalimat ‘inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham’ (Matius 1:1).
Dalam ingatan kolektif masyarakat Yahudi terkait ide pengharapan mesianik,  seorang Messiah harus (1) seorang laki-laki dan bukan seorang perempuan, (2) nasabnya harus bersambung dari jalur garis ayah (lineage of the father) karena sistem silsilah merujuk pada sistem patriakhal,  dan bukan bersambung pada jalur garis ibu, (3) dia nasabnya bersambung  kpd Raja Daud.  Seseorang tidak dapat diakui ke-Meshiah-annya bila sang tokoh tidak memiliki nasab dari jalur silsilah sang ayah. Namun seseorang dapat diakui ke-Yahudi-annya bila seseorang memiliki nasab dari jalur silsilah sang ibu. Jadi idiom pengharapan mesianik yang merujuk pada nasab jalur sang ayah sebagai penanda identitas (identity marker) lebih bernuansa khas politik keagamaan dibanding kebudayaan. Itulah sebabnya St. Matius ‘amat jenius’ menyiasati zamannya dalam menyusun silsilah Yesus agar bisa berterima bagi para pembacanya yang berlatar Yahudi.
Pada teks Injil Matius 1:1 St. Matius berbicara silsilah Yesus dalam konteks teologis, sebaliknya pada Injil Matius 1:16 ternyata St. Matius berbicara justru dalam konteks historis yang sebenarnya, karena secara de facto Yesus memang tidak memiliki nasab dari jalur Yusuf secara biologis. Itulah sebabnya, ada 2 pola politik redaksional yang digagas dalam tulisan silsilahnya. Pertama, susunan redaksi teks Injil Matius 1:2-15 yang berpola genetis, teks tersebut berbunyi: ‘Abraham memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub …. Matan memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yusuf’, sedangkan susunan redaksi teks  Matius 1:16 justru berubah 360% yakni berpola dogmatis, bukan berpola genetis: Ayatnya berbunyi: ‘ Yakub memperankkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.’ St. Matius tidak menulis: ‘ Yakub memperanakkan Yusuf, Yusuf memperanakkan Yesus, anak Maria yang disebut Kristus.’ Redaksional teks yang berpola dogmatis ini semakin menegaskan bahwa Yesus yang diklaim sbg Sang Messiah itu memang tidak memenuhi ide pengharapan mesianik khas Judaism. Namun, St. Matius berusaha keras utk meyakinkan pembacanya dng cara mengikuti pola gematria (number patterns). St. Matius benar-benar paham bahwa dalam ingatan kolektif agama Judaism yang terkait dng ide pengharapan mesianik selalu merujuk pada tokoh Daud, dan nasab Sang Messiah yang akan datang harus terbukti secara genetis bersambung kpd Daud dari jalur garis ayah, sebab hanya melalui benih Daud saja,  sang Messiah memiliki legitimasi historis, politis dan teologis.  Itulah sebabnya (1) nama personal Daud dan (2) gematria nama Daud, keduanya dijadikan sbg penegasan daftar silsilah Yesus (lihat Injil Matius 1: 17). Dalam hal ini, St. Matius memanfaatkan pola gematria. Ini membuktikan bahwa pola gematria (number patterns) itu bukanlah gagasan awal dari St. Matius, tetapi St. Matius sendiri hanya sekedar mengadopsi dan memanfaatkan pola gematria yang sebenarnya merupakan warisan kuno Judaism era pra-Kristen demi melegitimasi keyakinan St. Matius terhadap Sang Messiah yang direkayasanya. Jadi pola gematria sebagaimana yang termaktub dalam kitab Baal Haturim Chumash merupakan warisan penafsiran dalam memahami Torah yang telah eksis dalam Judaism sejak  era pra-Kristen yang selalu dikaitkan dng nama-nama tokoh sentral PL. Apalagi ide pengharapan mesianik dikaitkan dng tokoh keturunan biologis Daud sebagaimana yang selalu dipanjatkan oleh seluruh kaum Yahudi dalam setiap tefilah (shalat).
רחםנא  יהוה  אלהינו על  ישראל  עמך  ועל  ירושלים  עירך ועל  ציון  םשכן  כבודך  ועל  מלכות  בית  דוד םשיחך
 Rachemna HASHEM Eloheynu ‘al Yisrael ‘immecha ve ‘al Yerushalayim ‘irecha ve ‘al Zion mishkan kevodecha ve ‘al malchut beyt David Meshiche-cha.
” Have marcy we beg You HASHEM our God, on Your people Yisrael, on your city Yerusalem on Zion the resting place of Your glory, on the house of David Your Messiah. “
Istilah  בית דוד (beyt David) di atas sebenarnya merujuk pada ide pengharapan messianik atas kedatangan Sang Messiah yang akan datang, yang silsilah nasabnya berasal dari keluarga Daud dari garis jalur ayah secara biologis,  karena Daud sendiri juga seorang Messiah, dan secara gematria, yakni menghitung pola angka dalam nama  דוד   (David) memunculkan angka 14. Itulah sebabnya dalam teks Injil Matius 1:17 St. Matius melegitimasi angka 14 yang terkait dng nama Daud yang dihubungkan dng Yesus secara  dogmatis, dan bukan berpola genetis. Bahkan St. Matius  menghilangkan beberapa nama dalam bangunan rekayasa silsilah yang dibuatnya demi mencocokkan dng pola gematria itu, sehingga menghilangkan beberapa generasi yang seharusnya dimunculkan dalam silsilah. Namun bila nama-nama dalam beberapa generasi itu tidak dihilangkan sesuai yang tercatat dalam TaNaKH,  maka pola gematria nama David tidak bisa terpenuhi. Akibatnya, St. Matius menghilangkan sebagian data historis nama-nama generasi nenek moyang Yusuf demi mendapatkan pola dogmatis yang bisa dirangkai dalam menciptakan silsilah yang bisa dihubungkan dng Yesus secara teologis. Kebuntuan St. Matius dalam menyusun silsilah Yesus tersebut memang cacat secara historis dan genetis, demi terciptanya sebuah legitimasi yang bercorak teologis.
Seorang Bapa Gereja Kuno, St. Yulius Africanus (4 M.) menjelaskan bahwa Matthan berasal dari suku Yehuda melalui garis keturunan Daud dan Salomo. Matthan mengawini Estha yang melahirkan Yakub. Setelah kematian Matthan, maka Matthat (bukan Matthan) yang juga berasal dari suku Yehuda tetapi melalui garis keturunan Daud dan Nathan menikahi Estha (janda Matthan), yang kemudian melahirkan Eli. Maka Yakub dan Eli adalah saudara kandung dari satu ibu, yakni Estha. Eli meninggal tanpa meninggalkan seorang anak, dan Yakub harus mengawini istri Eli yang melahir
kan Yusuf. Maka Yusuf adalah anak kandung Yakub sekaligus juga adalah anak sulung Eli. Jadi Yusuf bukan anak angkat Eli, karena konsep anak angkat tidak dikenal dalam silsilah, yang dikenal hanyalah silsilah dalam perkawinan Levirat (Ulangan 25:5-6)

 

Dengan demikian,silsilah Injil Lukas dan silsilah Injil Matius hanya merujuk pada silsilah nasab Yusuf, dan silsilah Injil Lukas bukan merujuk pada silsilah Maria. Apalagi kaum awam Kristiani menyatakan bahwa Injil Matius dan Injil Lukas keduanya merujuk pada silsilah Yesus. Ini sangat bertentangan dng dokumen Bapa Gereja sebagaimana pernyataan St. Julius Africanus. Bapa Gereja yang lain, misalnya Theodoret juga menyatakan bahwa Yesus dan Yakobus memiliki ibu dng nama yang sama, yakni Maria. Namun yang satu, istri Yusuf dan yang satunya lagi, istri Klopas. Theodoret menjelaskan bahwa Maria ibunya Yakobus (Matius 27:56)  adalah saudara kandung Maria ibunya Yesus (Yohanes 19:25),  mereka berdua kakak beradik. Dan Maria ibunya Yakobus adalah istri Klopas yang mempunyai anak bernama Yoses selain Yakobus (Matius 15:40). Jadi, suami Maria ibunya Yakobus, yang bernama Klopas, dan suami Maria yang bernama Yusuf adalah juga kakak beradik. Jadi, silsilah Injil Lukas tidak ada kaitan sama sekali dng silsilah Maria. Lihat Ancient Christian Commentary on Scripture. New Testament VIII, hal. 15. Dengan demikian, silsilah Yesus dari jalur Maria memang benar-benar tidak tercatat dalam dokumen PB, dan Maria disebut sebagai keturunan Daud melalui Injil Apokrif Protoevangelion of James (PJ), bapak ibunya bernama Yoyakhim dan Anna. Gereja Ortodoks dan Gereja Katolik berpegang pada tradisi ini. Jadi, Yesus dapat disebut sebagai keturunan Yahudi hanya melalui jalur nasab Maria saja. Dan Yesus dapat pula diklaim oleh Gereja sebagai Messiah Yahudi hanya melalui garis darah dari pihak ibu saja, yakni Maria.

 

Kalau ada yang membantah bahwa Nabi Muhammad SAW itu ilegal disebut sbg keturunan Yahudi, dan juga ilegal disebut sbg Nabi Yahudi keturunan Daud AS, karena menurut kaum Kristiani –  Muhammad SAW scr eksplisit  bukan berasal dari benih Salomo AS, maka jawabannya sangat sederhana:
1. Dalam pandangan Judaism, Yesus dan Muhammad SAW keduanya hanya mempunyai jalur nasab dari garis ibu, dan  bukan dari garis ayah. Maka keduanya berhak disebut sebagai keturunan Yahudi, meskipun keduanya tidak dianggap sebagai Nabi Yahudi  atau pun Messiah Yahudi yang dinubuatkan dalam TaNaKH.  Berdasarkan  Talmud Bavli  yang terkodifikasi pada tahun 500 M., seseorang diakui secara legal/sah sebagai keturunan Yahudi meskipun hanya berasal dari garis ibu. Yesus pun diakui secara legal sebagai keturunan Yahudi,  meskipun nasabnya hanya melalui jalur garis ibu, yakni melalui nasab bunda Maryam dan bukan melalui nasab Yusuf. Bahkan hingga saat ini seseorang diakui secara legal sebagai keturunan  Yahudi hanya melalui jalur garis ibu saja.
2. Nabi Muhammad SAW tetap diakui sebagai keturunan Nabi Daud AS sebagaimana Yesus juga diakui sebagai keturunan Nabi Daud AS meskipun hanya melalui jalur Natan ben Daud AS, dan  bukan melalui jalur  Salomo ben Daud AS. Itu pun bila Injil Lukas diklaim sebagai silsilah Maria sebagaimana pemahaman kaum Protestan.  Lihat Injil Lukas pasal 3: 23-38, Yusuf bukan keturunan biologis Salomo, tapi keturunan biologis Nathan, dan Yesus  – menurut anggapan orang adalah anak Yusuf, suami bunda Maryam. Sekali lagi,  ini adalah pemahaman general para ahli Alkitab dari kalangan Kristen Protestan. Nasab Yesus faktanya hanya dari jalur ibu, yakni Maryam,  sedangkan nasab dari garis bapak tidak ada. Yusuf hanya ayah tiri Yesus, bukan ayah biologis Yesus. Sebaliknya,
Muhammad SAW nasab ayahnya jelas, yang termasuk klen Hasyim,  keturunan Ismail dan nasab ibundanya juga jelas. Nasab kakeknya  yakni Abdul Muthalib juga sangat jelas tentang siapa ayahnya dan siapa ibunya. Ayahnya bernama Hashim dan ibunya bernama Salma binti Amr.
3. Jika patokan kaum Kristiani terkait dng Yesus hanya mengacu pada  Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas dan Injil Yohanes saja, maka orang2 Yahudi dari kalangan rakyat jelata – mereka hanya mengenal Yesus sebagai anak tukang kayu yang bernama Yusuf, dan ibunya bernama Maria (Yohanes 6:42). Dan mereka pun juga tidak tahu kalau Yesus sebagai anak hasil perzinahan dng orang lain, karena sesuai dng ketuva (kontrak pernikahan sesuai Mishnah) antara Yusuf dan Maria, keduanya secara sah diakui sebagai suami istri.  Itu artinya rakyat jelata menganggap jelas ayah dan ibunya Yesus,  yang telah memiliki hubungan pernikahan yang sesuai Torah she be’al phe  (Matius 1:18-19). Dan penyebutan  rakyat jelata terhadap status Yesus sbg anak Yusuf itu pun hanya berdasarkan menurut anggapan orang (Lukas 3:23). Namun, pernyataan rakyat jelata yang menyebut Yesus sbg anak Daud atau pun menyebut Yesus sbg anak Yusuf tidak pernah dinyatakan oleh malaikat  Tuhan. Bahkan tidak pernah dinyatakan oleh para rabbi, imam-imam Lewi, kaum Saduki atau pun kaum Farisi. Jadi sebenarnya yang disebut sebagai anak Daud adalah Yusuf sendiri,  bukan Yesus, sebagaimana malaikat sendiri telah menyatakannya (Matius 1:20). Jadi rakyat jelata yang menyebut Yesus sebagai anak Daud – tentu saja tidak dapat dijadikan dalih/ bukti bahwa Yesus adalah anak biologis Yusuf. Apalagi mereka beranggapan bahwa Yesus adalah anak angkat Yusuf. Mereka sebagai rakyat jelata tidak pernah mengetahui atau pun berkata bahwa Yesus bukan anak Daud. Mereka juga tidak mengetahui bahwa Yesus bukan sebagai anak kandung Yusuf. Mereka juga tidak beranggapan bahwa Yesus sbg anak angkat Yusuf  sehingga Yesus disebut sebagai anak Daud, sebab konsep anak angkat dalam tradisi Yahudi tidak mereka kenal. Apalagi mengimani bahwa Yesus lahir oleh Roh Kudus. Dan tidak ada dalam pikiran mereka bahwa Firman Allah telah menjelma menjadi manusia yang bernama Yesus. Jadi satu-satunya alasan rakyat jelata menyebut Yesus sbg anak Daud karena Yesus adalah anak hasil perkawinan Maria dng Yusuf, dan Yusuf adalah anak Daud. Jadi mereka mengenal Yesus sebagai anak biologis Yusuf dari hasil perkawinannya dng Maria. Mengapa? Alasannya sederhana, karena secara sosial mereka sudah mengetahui ayahnya yang bernama Yusuf,  keturunan Daud.
Dalam hal ini kita tidak berbicara mengenai status seseorang itu diakui sebagai Nabi atau bukan, atau pun sebagai Moshiah atau bukan. Kita juga tidak berbicara mengenai seseorang itu diklaim sebagai Nabi yang dinubuatkan dalam TaNaKH atau tidak. Kita juga tidak memperdebatkan seseorang itu diklaim sebagai Moshiah yang dinubuatkan di dalam TaNaKH ataukah tidak. Dokumen Tariikh Islam mencatat bahwa manusia sejarah yang bernama Muhammad SAW darahnya bersambung dng seseorang yang bernama Salma binti Amr dari bani Najjar. Dia adalah wanita Yahudi Musta’ribah, karena bani Najjar adalah kaum Yahudi diaspora yang tinggal di Madinah. Jadi nasab Muhammad SAW ada tetesan darah dari Salma binti Amr. Artinya, darah ke-Yahudi-an Muhammad SAW hanya melalui Salma binti Amr, istri Hashim. Sementara itu, Yesus berdasarkan Injil Matius tidak ada tetesan darah dari Yusuf. Menurut tafsiran Gereja Ortodoks, silsilah Yesus pada Injil Lukas juga silsilah Yusuf, bukan silsilah Maria. Namun ada  sebagian penafsiran Kristen, terutama Kristen Protestan menyatakan bahwa Injil Lukas adalah silsilah Maria. Bila kita terima tafsiran Protestan ini maka darah ke-Yahudi-an Yesus hanya melalui Maria, istri Yusuf. Jadi tidak ada tetesan darah Yusuf pada Yesus karena Yesus lahir dari Roh Kudus menurut PB. Dan Yusuf bukan bapak biologis Yesus.
Sementara itu, menurut rabbi-rabbi, imam-imam Lewi dan kaum Farisi yang merepresentasikan pernyataan kaum elit  yang ada di lembaga Sanhedrin – yang pernyataan itu terdokumen dalam  Talmud Bavli,  dinyatakan bahwa bapak biologis Yesus adalah seorang goyim (orang Yunani), seorang serdadu Romawi yang bernama Panthera. Kita bisa baca Talmud Bavli sbg pembanding dalam masalah garis darah Yesus ini dari jalur ayah menurut pandangan lembaga Sanhedrin.  Jadi, tidak salah bila tak ada satu pun pernyataan dari kalangan Sanhedrin ini yang menyebut Yesus sbg anak Yusuf, ataupun menyebut Yesus sbg anak Daud karena mereka mengenal secara agama bahwa Yesus bukan anak biologis Yusuf meskipun Maria istri Yusuf.
Singkatnya, manusia sejarah yang bernama Yesus itu memang ‘tidak sempurna’  untuk menjadi Yahudi,  sebagaimana manusia sejarah yang bernama Muhammad SAW juga ‘tidak sempurna’ menjadi Yahudi. Namun, Judaism mengakui keduanya sbg keturunan Yahudi. Keduanya tidak ada tetesan darah ke-Yahudi-an dari pihak ayah.
Era pasca runtuhnya Bait Suci ke-1 dan ke-2,  status ke-Yahudi-an seseorang diakui sebagai keturunan Yahudi hanya merujuk pada garis darah ibu saja. Hingga kini, status  seseorang disebut sbg keturunan Yahudi ditandai dari mengalirnya garis darah dari pihak ibu.
Dalam TaNaKH memang status ke-Yahudi-an seseorang ditandai dng 2 cara: (1) anak melalui garis keturunan perkawinan ipar Ulangan 25:5-6. yg bukan anak biologis, (2) anak secara biologis melalui jalur garis darah sang ayah meskipun jalur garis darah sang ibu berasal dari goyim (non-Israel).
Jadi Ishmael disebut anak Avraham sesuai hukum TaNaKH, dan tidak ada seorang pun bisa menolak status Ishmael sebagai anak Avraham secara biologis, dan ini tidak masalah meskipun jalur ibunya seorang goyim dari Mesir. Itulah sebabnya Ishmael disebut dalam tradisi Islam sbg ‘Arab Musta’ribah (bukan Arab asli). Status Ishmael ini sama dng status Efraim dan Manasye, anak-anak Yusuf,  yang ibu kandungnya seorang goyim dari Mesir juga.  Bahkan King Salomo garis darah ibunya juga seorang goyim. Intinya: jika seseorang itu memiliki jalur garis ayah Israel dan jalur  garis ibu goyim, maka orang itu tetap dianggap keturunan Yahudi dalam pandangan Judaism. Bahkan, Yesus tidak ada istimewanya bila dibanding dng Muhammad SAW bila ditilik dari hukum TaNaKH, karena bila ditilik dari jalur garis darah ibunya memang wanita Yahudi, sedangkan berdasarkan jalur garis ayah ternyata keduanya goyim (non-Israel). Kakek kandung  Sang Nabi SAW berdarah Arab Musta’ribah,  sedangkan ayah kandung  Jesus berdarah Yunani, serdadu Romawi. Sebagaimana yang telah saya sebutkan sebelumnya, menurut kitab Talmud Bavli, juz Nezikin – traktat Sanhedrin 67a dinyatakan bahwa Yesus yang disebut Yeshu adalah anak kandung Stada, dng seseorang goyim yang bernama Panthera. Stada bukanlah sebuah nama, tapi sebutan yang ditujukan kepada Maria istri sah Yusuf. Stada adalah akronim dari frase Satit da mi ba’alah (perempuan yang tidak setia kepada suaminya). Fakta teks Bavli khususnya bagian traktat Sanhedrin 67a semakin memperjelas gambaran dalam PB. Itulah sebabnya imam-imam Lewi, para ahli Torat, orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki yang merupakan para tua-tua di lembaga Sanhedrin, ternyata tak pernah satu pun di antara mereka yang menyebut Yesus sebagai anak Yusuf, apalagi menyebutnya sbg anak Daud. Bahkan mereka mengabadikan ingatan kolektif mereka ttng Yesus sebagai pseudo-Mesiah dng akronim Yimach shemo ve zichro “
 May his name and his memory be blotted out ” (Tehilim 109:13). Namanya disebutkan Yeshu ha-Notzri (Talmud Bavli – juz B’rachot 17b, Sotah 47a. Dan Yeshu dinyatakan sbg pseudo-Mesiah yang disalib pada saat perayaan Paskah (Talmud Bavli, juz Nezikin – traktat Sanhedrin 43a. Lembaga Sanhedrin menolak Yesus sebagai Meshiah karena dalam tradisi rabbinik, Mesiah harus memenuhi 3 kriteria (1) seorang laki-laki, (2) nasabnya mengikuti garis darah sang ayah/patriakhal, (3) dia keturunan Daud. Bila tidak memenuhi 3 kriteria/syarat minimal ini, maka seseorang tidak dapat dinyatakan sbg Meshiah.
Selain itu, rakyat jelata yang respek terhadap dakwah Yesus, umumnya berprasangka baik terhadap status Yesus. Mereka umumnya mengangap bahwa Yesus adalah anak hasil perkawinan sah antara Yusuf dan Maria. Itulah sebabnya mereka menyebutnya dng sebutan Yesus anak Daud, atau pun dng sebutan Yesus anak Yusuf. Sebaliknya, rakyat jelata yang tidak respek terhadap dakwah Yesus dan menentangnya,  umumnya mereka berkeyakinan negatif terhadap status Yesus. Mereka tidak menyapanya dng sebutan Yesus anak Yusuf, atau pun menyapanya dng sebutan Yesus anak Daud. Namun, dengan ungkapan sindiran akut yang mereka ucapkan di hadapan Yesus, ternyata hal itu mengisyaratkan problem status Yesus. Mereka semua berkata dng nada sindiran di hadapan Yesus: ” Kami tidak dilahirkan dari zinah …. ” (Yohanes 8:41). Mengapa mereka secara serempak menggunakan ungkapan negatif tersebut di hadapan Yesus? Bukankah mereka semua mengenal Yusuf dan Maria? Mengapa mereka tidak menggunakan ungkapan lainnya di hadapan Yesus meskipun mereka menolak dakwah Yesus? Mengapa mereka menggunakan ungkapan yang terkait dng status Yesus sehingga mereka berkata seperti itu? Pertama,  fakta verbal negatif tersebut tidak mungkin mereka ucapkan bila tidak ada indikasi kebocoran informasi dari kalangan pihak Sanhedrin yang secara kelembagaan terdiri atas imam-imam Lewi, ahli Torat, kaum Farisi dan kaum Saduki. Kedua,  kalangan Sanhedrin pun juga tahu mengenai status Yesus ini dari sumber pertama, yakni Yusuf. Perkawinan Yusuf dan Maria merupakan status yang tercatat dalam kelembagaan Sanhedrin. Ini sesuai dng halacha.  Namun, faktanya Yusuf  berencana menceraikan Maria (Matius 1:18-19). Jadi sebenarnya Yusuf pun pada awalnya mencurigai Maria berselingkuh atau berzina dng orang lain sehingga terjadi kehamilan. Itulah sebabnya Yusuf hendak menceraikannya (Matius 1:19). Alasan dibalik rencana perceraian itulah yang kemudian dibaca oleh pihak Sanhedrin. Tidak salah bila Sanhedrin menyebut  Maria dng  sebutan  Stada – Satit da mi ba’alah  (perempuan  yg tdk setia pada  suaminya).
Dan akhirnya kebocoran informasi dari pihak Sanhedrin ini juga keluar kepada masyarakat umum. Dengan demikian, tidak salah bila mereka yang menentang dakwah Yesus, mereka melontarkan  ungkapan ejekan di hadapan Yesus, dan mereka berkata: ” Kami tidak dilahirkan dari zina.” Artinya, ungkapan itu sebenarnya ditujukan kpd Yesus, dan bukan ditujukan kepada masing-masing status pribadi mereka.
Bila seseorang menyatakan bahwa Yesus disebut sbg anak Daud karena dia memiliki jalur garis keturunan melalui Yusuf sesuai silsilah Injil Matius, maka di sinilah problem persoalannya. Karena Yusuf yang adalah suami Maria ternyata tidak memiliki saudara kandung siapapun dan Maria juga bukan mantan dari istri  siapapun. Bahkan Maria juga bukan mantan dari suami – saudara kandung Yusuf. Bila pernyataan dalam Talmud Bavli menyatakan bahwa Panthera adalah ayah biologis Yesus, maka itu bisa jadi  merupakan realitas sosial saat itu. Pertama, Panthera itu goyim bukan Israelite (Yahudi). Kedua, Panthera bukan saudara kandung Yusuf. Ketiga hubungan Panthera dng Maria bukan melalui cara perkawinan yang sah sesuai yang dihalalkan oleh TaNaKH.
Jadi kalau secara hukum TaNaKH,  status Yesus yang disebut anak Daud  yang dikaitkan dng Yusuf ternyata tidak memiliki makna apapun. Dalam hal ini saya tidak mempersoalkan status hukum Yusuf sebagai keturunan Daud melalui King Salomo,  dan laporan Injil Matius itu sesuai dng status hukum dalam TaNaKH, baik ditinjau dari status perkawinan ipar nenek moyang Yusuf maupun bila ditinjau dari status garis ayah biologis beliau. Namun yang kita kaji  ini adalah status hukum Yesus, bukan status hukum Yusuf. Yesus tidak memiliki status hukum apa2 bila dikatikan dng Yusuf. Kecuali status hukum Yesus sebagai seorang Yahudi  hanya melalui garis darah Maria saja. Sama seperti status hukum murid Paulus, yang bernama Timotius yang ibunya seorang Yahudi, dan ayahnya seorang Romawi yang lahir dari pernikahan yang sah. Bila Yusuf dalam pandangan Talmud Bavli diakui sebagai suami sah Maria, maka status Yesus tidak bisa dianggap sebagai anak kandung Yusuf, apalagi diklaim sebagai anak angkat Yusuf, karena konsep anak angkat tidak dikenal dalam TaNaKH. Apalagi ayah biologis Yesus bukan saudara kandung Yusuf, tapi menurut Talmud Bavli adalah Panthera, sang serdadu Romawi. Jadi status ke-Yahudi-an Yesus tidak terlalu istimewa dibanding dng status ke-Yahudi-an Muhammad SAW. Bahkan status ke-Yahudi-an Yesus juga tidak terlalu istimewa dibanding dng status ke-Yahudi-an Timotius, murid Paulus (Kisah 16:3)
Para penulis silsilah Yesus dalam Injil Matius dan Injil Lukas paham betul bahwa Meshiah harus berasal dari nasab Raja Daud secara patriakhal, bukan secara matriakhal. Inilah mengapa mereka memaparkan silsilah Yesus melalui Yusuf, yang diklaim sebagai ayah angkat secara yuridis,  dan tidak melalui Maria, jalur biologis Yesus.  Padahal mereka paham bahwa kelahiran Yesus scr ajaib,  dan tidak ada hubunganya dgn Yusuf sang tukang kayu. Jadi status jalur  ‘biologis’ tidak ada hubungan sama sekali antara Yesus & Yusuf. PB secara jelas mencatat bahwa  Maria mengandung dari Roh Kudus, bukan dari Yusuf. Hal ini sangat mungkin bahwa St. Matius dan St. Lukas hanya memiliki motif utk menyambungkan silsilah Yesus dgn Raja David demi menggenapi ciri2 Mesiah Yahudi, sesuai 3 syarat minimal sebagai Meshiah,  meskipun St. Matius dan St. Lukas mengetahui secara sadar bahwa nasab Yesus tidak ada relasinya dgn nasab Yusuf. Jadi, penulis Injil Matius dan Injil Lukas mengedepankan “perspektif teologis” dari pada “perspektif sejarah/historis.”
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa (1) para penulis Injil ingin menghubungkan Yesus dgn Daud utk mengenapi ciri2 Mesiah Yahudi, (2) para penulis Injil ingin memprioritaskan ‘aspek teologis’ untuk men-support ke-Mesiah-an Yesus, tetapi mengorbankan ‘aspek/sisi fakta sejarah/historis’ yang secara teologis Yesus dilahirkan Maria dari Roh Kudus, bukan dari benih Yusuf. Itulah sebabnya penulisan Injil Matius dan Injil Lukas lebih didominasi muatan teologis dari pada muatan historis, sehingga tidak jarang adanya ‘tabrakan/kontradiksi antara ‘muatan teologis & fakta historis’ dalam Injil itu sendiri.
Selanjutnya,  Yesus benar2  tidak bisa disebut sebagai  anak angkat Yusuf. Konnsep anak angkat tidak dikenal dalam tradisi Yahudi. Yesus itu anak istrinya Yusuf, bagaimana mungkin jadi anak angkatnya? Fir’aun mengangkat Musa sbg anak angkat, karena Musa bukan anak istrinya. Dan itu pun tradisi Mesir, bukan tradisi Yahudi.  Musa adalah anak orang Ibrani, atau  anak orang lain yang dibuang, lalu  diangkat menjadi anak angkat oleh Firaun. Sebaliknya, Yesus adalah anak Maria, Maria suami Yusuf,  bagaimana mungkin Yesus anak angkat Yusuf? Semoga tulisan ini menjadi bahan renungan bersama tentang status Yesus sebagai keturunan Yahudi berdasar kitab  Perjanjian Baru, dan status  Muhammad SAW juga  sebagai keturunan Yahudi – sesuai kitab  Tarikh  at-Thabari yang menyebut istrinya Qushai ibn Kilab yang bernama  Hubba , anak perempuan Hulail (Hillel) ibn Hubshiyyah, ketua  pimpinan bani Khuza’a. Silakan juga baca kitab Al-Mathalib karya  Abu Ubayda Ma’mar ibn Al-Mutsanna  (w. 210 H.) dan kitab  Mathalib al-Arab karya Ibn  Kalbi (w. 204 H.). Selain itu silakan baca tentang  bani Najjar yang nasabnya bersambung kpd Ahbariyyun  (hibr  – Jewish sages), dan Imam at-Thabari dalam  Tafsirrnya  menyatakan  bahwa istilah Hibr juga merujuk pada Ka’ab al-Ahbar/ Ka’ab al-Hibr, dan  dalam Talmud term  Haber merujuk pada   الحااخام (Al-Hakhom) atau  the Gaon. Abu Ayyub al-Anshari yg  nama aslinya adalah Khalid ibn Zayd ibn Kulayb dari bani Najjar, sama dng Salma  binti Amr juga dari bani  Najjar. Lihat kitab Usd  al-Ghabah fi Ma’rifah ash-Shahabah  karya Ibn al-Athir (555-630 H.),  Samhudi juz 1 halaman  189.
Posted in Biblical Studies | 1 Comment

The forgotten root: “They know him as they know their son”

Scriptures  are not just text of revelation which one must understand within the border of sacred theological paradigm  but it can also be approached as a collective memory of a profane history.  In this context one should not neglect to read re-examine the scriptures as veracious historical evidences through philology, this is what we will try to attempt in this post.

In the Qur’an there is an interesting keyword which we argue linguistically refer to prophetic claim:  abna‘ ( ابناء ):

لَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ ۖ وَإِنَّ فَرِيقًا مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ. الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

Those to whom We gave the Scripture know him as they know their own sons. But indeed, a party of them conceal the truth while they know [it]. The truth is from your Lord, so never be among the doubters. (Q 2:146-7)

The Quran thus told us that “Those to whom We gave the Scripture” ie the Israelites will  recognize  Prophet Muhammad like their own sons.  This consequently imply that Prophet Muhammad has legitimate right of the biblical prophecies via biological genealogies not only through his character, the signs he brought, and the truth of his message.

By employing the term  ابناء (abna’) in arabic, whih cognate with hebrew בני (b’ney), the Quran thus link the prophetic claim of Muhammad through genetic ancestry with the Israelites. Therefore this verse do not merely speaks allegory as, I am sure, many of used to think. 

Lets analyze this verse :

الذين اءتينهم الكتاب يعرفونه كما يعرفون ابناءهم

(2:46 البقرة)

Alladhīna ʾātaynāhumu l-kitāba yaʿrifūnahū ka-mā yaʿrifūna ʾabnāʾahum

אלה אשר נתנו להם את הספר מכירים אותו כפי שמכירים את בניכם

(2:146  סורת אלבקרה)     

Elleh asher natannu lachem et has-Sefer machchirim oto kefiy shemmachchirim et b’neychem [1]

Those to whom We gave the Scripture know him as they know their own sons.

(Al-Baqarah 2:146)

Traditional Historical sources in Tarikh Al Islam confirm the accuracy of the genetic link of the Prophet of Islam to Israelite because genealogically Prophet Muhammad (p) is not of a “pure” arab stock or A’rab ‘Aaribah العرب العاربة rather he is considered as “arabized” arab or A’rab Musta’ribah  العرب المستعربة .  This may surprise some but it should not. 

Hāshim ibn Abdul Manan (whom the tribe is named hence Banu Hashim or Hashemite)  the great-grandfather of Prophet Muhammad married to Salma bint Amr of Banu Najjar a priestly Israelite clan[2]  from the city of  Medina (Yathrib as known to the Arabs) the birthplace of the Prophet Muhammad. This makes Banu Hashim a unique both an Ishmaelite and Israelite clan and this comes as no surprise that this clan is prominent to this day[3].

We have textual evidence that the city of Medina is  always a city  of particular significant for the jews as in Targum Onkelos 10:30  which was written in Judeo Aramaic from 1AD there is reference of settlements of Joktanides[4] which is called מָדִינְחָא Medincha [5,6], and there is no reason to think that this is the city other than  Medina in Arabia. There must be particular reason why the Israelite clans, the large number of them, settled in the primary Arab city of Medina, I would assume this was to do with the prevailing messianic/prophetic expectation at that time of but that perhaps another topic for another post. The fact is to such a great extend Medina had been known by the Israelites 6 centuries prior to the advent prophet Muhammad, a Hashemite (qabilah banu Hashim), whom paternal bloodline are the descendants of  Patriarch Abraham through his first-born son and seed (zera), prophet Ishmael[7], but also claim maternal bloodline of priestly Israelite ancestry from the tribe of Banu Najjar.

Exceptional Clan Solidarity

To be sure, the solidarity of the Hashemite clan was exceptionally strong. In Tarikh Al Islam we learnt that although the message of Prophet Muhammad the hashemite   incited the resentment of other Arabic tribes, the Hashemites were always united to protect one of his son, whether they are believers or not to the point that other tribes enforced a economic and social boycott against the Hashemites. For years the hashemites lived in exile and endured misery and hunger. Never once Prophet Muhammad (p) stop in preaching the message of revelation still the Hashemite clan were always by his side with exceptional patience and fortitude because they believed the noteworthiness of Muhammad’s prophetic role[8].

Exilarch connection

Hāshim ibn Abdul Manan also married another woman Qaylah (or Hind) bint Amr ibn Malik of the Banu Khuza’a from whom he had a son Asad (who was Ali Ibn Abi Thalib‘s maternal grandfather the 4th Caliph, the cousin and son-in-law of Prophet Muhammad). Asad ibn Hāshim then married to Zahna bat Kafnai Gaon, an Exilarch[9] princess, the daughter of Kafnai Gaon of Baghdad, the 32th Babylonian Exilarch (C. 530 – C. 580/581): a very noble royal family who traced their ancestry through the Davidic patrilineal line/ Malkhut Beit David (מלכות בית דוד).  From this marriage Asad ibn Hāshim and Zahna bat Kafnai Gaon bore Fāṭimah bint Asad, who then was married to  Abu Thalib bin Abdul Muthalib ibn Hashim.

Fatimah the Blessed Memory

I will argue there must be a good reason why Asad ibn Hāshim and Zahna bat Kafnai named his daughter FāṭimahIt turns out that Fāṭimah is no ordinary for name in the Oral Torah. As a daughter of a prominent jewish leader, Hazna must realized the significance of this name and play part in choosing it as a good name for her daughter, a name from the collective memory of her tradition which is the wife of prophet Ishmael the noble patrilineal ancestor of her husband: פטימא Phetima.

Here is the text from Targum Jonathan on Genesis/Sefer Bereshit 21:21 found in most rabbinic bible Mikraot Gedolot (מקראות גדולות):

וְיָתִיב בְּמַדְבְּרָא דְפָּארָן וּנְסֵיב אִתְּתָא יַת עֲדִישָׁא וְתֵרְכָהּ וּנְסִיבַת לֵיהּ אִמֵיהּ יַת פְּטִימָא אִתְּתָא מֵאַרְעָא דְמִצְרָיִם

‘And he dwelt in the wilderness of Pharan and took for a wife Adisha, but put her away. And his mother took for him Phetima to wife from the land of Egypt.

And also it was no coincidence that Prophet Muhammad too also gave his youngest daughter (from Khadija), Fāṭimah. Even until now she is one of the most loved and revered woman figure and prominent character in the religion of Islam and after her name is most muslims give name to their daughter. It is the  most popular muslim girl’s names. Undoubtedly it is to do with divine plan to preserve this noble name Phetima פְּטִימָא  (Ar: Fāṭimah فاطمة‎‎)  for generations to come.

Their Own Son

The Ishmaelite – Israelite blood union within the Hashemite genealogy proved the mature and stable existence of religious and political axis between the Babylonian Exilarch  in Baghdad – and their counterpart in Yathrib in pre-Islamic Arabian peninsula (The Hijaz)  through the uniquely influential and mixed Ishmaelite and Israelite ancestry, the Hashemite clan.  Thus genealogically it makes perfect sense that the  Qur’an designate Prophet Muhammad as “their own son” for the Israelites (ie. those who had been given scriptures) not only  in the sense through the prophecies in the  Bible.

It may explain why when Prophet Muhammad made his Hijrah  هِجْرَة  and the city was soon renamed Madīnat مَـديـنـة, the the jews of Yathrib who had the upper hand with their large settlement and huge property never objected to the name. This is a strong indication that the jews had already familiar with the name which was medintā מְדִֽינְתָּא֙ in Judeo -Aramaic and they were there awaiting the arrival of a future prophet. This is further supported by the most prominent Gaonic Rabbi:  Saadia Gaon ben Yosef / Rasag who mentioned the location Mecca مكة and Medina المدينة for his rendering of Genesis/Bereishit10:30[10].

Notes

  1. Subhi ‘Ali ‘Adwi, הַקּוּראָן בְּלָשׁוֹן אַחֵר Ha-Qur’an BeLashon Akher, 2015.
  2. The Banu Najjar /  b’ney Naggar בני נגר  (Arabic: بنو نجّار) tribe literally translates to “Sons of the Carpenter.” It may also be hinting at a rabbinic lineage as the termנגר naggar in the Talmud signifies a learned, wise and literate in the Torah.  [Jesus the Jew: a historian’s reading of the Gospels by Geza Vermes 1983; p21-22 ] 
  3. This bloodline from Salma and their father Hashem, makes the Hashemites in specific, unique among their Ishmaelite clans in Arabia and the entire Middle East, as they  are both Ishmaelite by paternal descent, and also Israelite through maternal descent, from the Royal House of Judah, from whom the Bani an-Najjar originally descend.
  4. Joktanites: ancient Arab tribes of southern Arabian peninsula
  5. Onkelos on the Torah Bereishit Noach Ch 10:30 p57 by Drazin & Wagner
  6. Medincha or Medinta? Are we sure the Aramaic term is  מָדִינְחָא Medincha with chet? But as far as my knowledge of Aramaic goes I would expect the correct spelling should read מְדִֽינְתָּא֙ medintā  with taw. The latter simply  mean the “city” in singular exactly cognates with the arabic مدينة where the blessed city are known for until today.
  7. Lineage from Ishmael according to classical accounting are considered the “Arabized” arabs or A’rab Musta’ribah  العرب المستعربة . They were arabized because Ishmael had to learn arabic when je came to Mecca and subsequently married into arab tribe of Jurhum. From Ishmael came the “Northern Arabs” associated with Adnān and later to Prophet Muhamad (in contrast to the biblical Joktanites  which give rise to “Southern Arabs” like the Yemenis)
  8. ان الله اصطفى كنانة من ولد اسماعيل و اصطفى قريسا من كنانة واصطفى قريسا بني هاشم و اصطفى ني بني هاشم – صحيح مسلم

    Verily Allah granted eminence to Kinana from amongst the descendants of Isma’il, and he granted eminence to the Quraish amongst Kinana, and he granted eminence to Banu Hashim amonsgst the Quraish, and he granted me eminence from the tribe of Banu Hashim. (Sahih Muslim » The Book of Virtues).

  9. Exilarch (Heb: ראש גלות Rosh Galut, Aram: ריש גלותא Reysh Galuta or Resh Galvata, Ar: رأس الجالوت Raas al-Galut lit. “leader of the captives”) refers to the leaders of the Diaspora Jewish community in Babylon following the deportation of King Jeconiah and his court into Babylonian exile after the first fall of Jerusalem in 597 BCE
  10.  See my previous article entitled The Road to Shur in this blog.
Posted in Biblical Studies, Interfatith Dialog | Leave a comment

Sejarah Yang Terlupakan

Shalom ‘aleychem
Assalamu ‘alaykum

Teks kitab suci bukan sekedar dokumen pewahyuan dalam paradigma teologis yang bersifat sakral, tetapi teks tersebut dapat pula dibaca sebagai rekaman kolektif dalam ranah historis yang bersifat profan. Dalam konteks inilah kita harus berani melakukan ‘pembacaan ulang’ terhadap teks sakral itu berdasarkan pembuktian linguistik dan sejarah.

Bila kita membaca teks sakral ini ada kata kunci secara linguistik yakni istilah abna‘ ( ابناء ) yang terkait dengan klaim kenabian. Tatkala membahas Qs. Al-Baqarah 2:146 seorang Muslim berdarah Yahudi Aschenazim yang bernama Muhammad Asad, penulis the Message of the Qur’an menyatakan:

“this refers more explicit predictions of the future advent of the Prophet Muhammad.”

Istilah ابناء (abna’) dalam bahasa Arab ini sejajar dengn istilah בני (b’ney) dalam bahasa Ibrani/ Hebrew. Jadi teks kenabian pada ayat yang terkait dengan term tersebut bukan sekedar bermakna alegoris tapi justru berlatar biologis. Coba perhatikan ayat ini.

الذين اءتينهم الكتاب يعرفونه كما يعرفون ابناءهم

(Q البقرة 2:14)

אלה אשר נתנו להם את הספר מכירים אותו כפי שמכירים את בניכם

( סורת אלבקרה 2:146)

Elleh asher natannu lachem et has-Sefer machchirim oto kefiy shemmachchirim et b’neychem

Orang-orang yang telah Kami anugerahkan Al-Kitab mengenalnya (Muhammad SAW) seperti mengenal anak-anak mereka sendiri

(Al-Baqarah 2:146)

Berdasarkan bukti historis dari catatan teks2 Tarikh Islam, ternyata Nabi Muhammad SAW memang bukan disebut sebagai orang Arab ‘Aribah (Arab asli) tapi dia disebut sebagai orang Arab Musta’ribah (bukan asli Arab). Sementara itu, berdasarkan teks-teks Rabbinic dalam bahasa Ibrani (Hebrew), terutama Sefer ha-Galui yang membicarakan tentang Resh Geluta kaum Exilarch di Arabia dan Babilonia (the Babylonian Exilarchs), ternyata garis ibu Nabi Muhammad SAW itu bukan asli keturunan Quraish. Anda terhenyak dengan fakta ini?

Hasyim putra Quraish menikah dengan Salma binti Amr, dan Amr berasal dari bani Najjar, kaum Yahudi Musta’ribah di Yatsrib/ Medinta. Bani Najjar ini adalah kaum Yahudi diaspora yang tinggal di kota Yatsrib. Orang-orang Arab pra-Islam menyebutnya kota Yatsrib, sedangkan orang-orang Yahudi Musta’ribah menyebutnya bukan dengan sebutan Yatsrib tapi dengan sebutan Medinta, sebagaimana yang tercatat dalam Targum Onkelos yang tertulis dalam bahasa Judeo-Aramic sejak pada abad 1 M., era pra-Islam.

Jadi nama Medinta telah populer 6 abad sebelum era Islam. Kaum Yahudi Musta’ribah yakni kaum Yahudi Sephardim dan Mizrachim tahu betul wilayah Medinta ini sebelum Islam ada. Belum ada data yang menjelaskan mengapa kaum Yahudi Musta’ribah ini mendiami wilayah Yatsrib ini secara masif dan bergenerasi berdasarkan alasan2 historis, politis, ekonomi, sosial, kultural atau pun agama. Namun yang perlu digaris bawahi adalah identitas bani Hashim (anak cucu/keturunan Hashim) itu sendiri yang sangat unik, karena hanya melalui bani Hashim saja darah Ishmael dan darah Israel bercampur dalam satu klen/qabilah, yang kemudian dalam Tarikh Islam disebut qabilah bani Hashim.

Tentu saja dalam Tarikh Islam, terutama saat era kenabian juga ada catatan sejarah tentang penderitaan bani Hashim yang diboikot dan diasingkan/dibuang (exile) oleh suku-suku Arab lain gara-gara tampilnya seorang Nabi dari kalangan bani Hashim. Mengapa bukan hanya seorang/sekelompok orang dari keturunan bani Hashim yang diboikot dan dibuang atau diasingkan (exile)? Bukankah pengasingan itu berlangsung selama bertahun2 secara ekonomi, politik dan sosial? Mengapa seluruh bani Hashim yang dibuang (exile) dan bukan hanya Sang Nabi saja yang dibuang? Mengapa seluruh bani Hashim harus menanggung derita akibat ‘ulah’ satu orang di antara mereka dan seluruh bani Hashim siap membelanya? Nampaknya peristiwa sejarah pembuangan (exile) yang menimpa bani Hashim ini terkait juga dengan hadits Shahih Muslim.

ان الله اصطفى كنانة من ولد اسماعيل و اصطفى قريسا من كنانة واصطفى قريسا بني هاشم و اصطفى ني بني هاشم – صحيح مسلم

Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya ALLH telah memilih Kinanah dari antara keturunan Ishmael, dan memilih Quraish dari antara keturunan Kinanah dan memilih bani Hashim dari antara keturunan Quraish dan memilih aku – kata Nabi SAW – dari antara bani Hashim (H.R. Imam Muslim).

Hashim selain menikah dengan wanita Yahudi Musta’ribah dari bani Najjar yang bernama Salma binti Amr, yang melahirkan Syaiba (Abdul Muthalib), ternyata Hashim juga beristri wanita lain yang bernama Qaylah yang melahirkan baginya seorang anak bernama Asad. Asad ibn Hashim menikah dengan Zahna, putri seorang Resh Geluta kaum Exilarch ke-32 dari Babilonia yang bernama Hofnai, dan di Babilonia tersebut kaum exilarch ini di bawah pimpinan Resh Geluta (pimpinan kaum buangan), dan Resh Galuta sendiri secara Halacha adalah keturunan Nabi Daud AS.

Adik ipar Hushiel ben Hofnai yang bernama Asad ibn Hashim, yang menikah dengan Hazna binti Hofnai putri Exilarch ke-32 ini melahirkan Fathimah binti Asad, yang kemudian dinikahi oleh Abu Thalib bin Abdul Muthalib ibn Hashim. Namun, mengapa Asad ibn Hashim menamai putrinya dengan nama Fathimah? Apa hubungannya nama ini dengan Hazna binti Hofnai putri Exilarch ke-32 dari Babilonia? Sepertinya ada campur tangan Hazna dalam penamaan putrinya ini yang merupakan ingatan kolektifnya utk mengenang kembali nama lelulur dari keluarga suaminya, yakni Asad bin Hashim, keturunan Ishmael. Penamaan ini juga sebenarnya merupakan bukti bahwa nama Fathimah bukanlah nama asli Arab, tetapi nama khas Ibrani yang muncul dalam Targum Yonathan berbahasa Judeo-Aramaic yang ditulis pada abad ke-1 M. Ishmael dalam Tagum Yonathan beristri פטימא (Phetima) sesuai teks Targum Yonatahan, Sefer Bereshit 21:21 yang menyebut sbb:

ויתיב במדברא דפראן ונסיב אתחא ית עדישא ותרבה ונסיבת ליה אמיה ית פטימא אתהא מארעא דמצרים

‘And he dwelt in the wilderness of Pharan and took for a wife Adisha, but put her away. And his mother took for him Phatima to wife from the land of Egypt.

Jadi bani Hashim secara garis ibu – seutuhnya berdarah Yahudi dan sekaligus keturunan langsung Nabi Daud AS (1).

Data sejarah membuktikan adanya jalur politik dan keagamaan antara kaum Exilarch di Baghdad – Babilonia (Irak) dan di Medinta (Saudi Arabia) era pra-Islam. Hal ini bisa dibaca melalui kemapaman teks Targum Onkelos dalam bahasa Judeo-Aramaic yang tersebar di kalangan Yahudi yang bermukim di wilayah Yaman, Hijaz dan wilayah Babilonia, dan dibaca secara meluas oleh semua kaum Yahudi di wilayah tersebut (2).

Bahkan kemapanan hubungan kedua wilayah penting dan strategis ini dapat pula terbaca melalui kemunculan Targum Saadia berbahasa Judeo-Arabic yang menyebut nama Al-Madinah, sehingga tidak salah bila kaum Yahudi yang berdiaspora ke wilayah itu justru mendahului kedatangannya sebelum terbukukannya Targum Saadia dalam bahasa Judeo-Arabic, yang dalam Targum Onkelos disebut Medinta. Jadi Rav Saadia Gaon hanya merekam ingatan kolektif bangsa Yahudi tentang keberadaan wilayah Medinta ini dengan bahasa Judeo-Arabic, yg disebutnya Al-Madinah. Itulah sebabnya tatkala Nabi SAW hijrah ke kota Yatsrib, maka seluruh kaum Yahudi Musta’ribah tidak kaget tatkala Nabi SAW mengubah dan menamai kota tersebut dengan sebutan Al-Madinah menurut lisan bahasa Arabic, sedangkan kaum Yahudi Musta’ribah sejak era pra-Islam menyebutnya Medinta menurut lisan bahasa Judeo-Aramaic. Perpindahan Nabi SAW dari Mekkah ke kota Yatsrib yang disebut Medinta oleh kaum Yahudi Musta’ribah ternyata tidak hanya dibaca terkait dengan peristiwa Hijrah an sich, tapi sekaligus pula menandai dan melanjutkan peradaban leluhurnya di kota Yatsrib yang disebut Medinta, yang kemudian oleh Nabi SAW diteguhkannya kembali dengan nama Al-Madinah.

 

Notes:

  1. Jika Anda penasaran silakan membaca Jurnal terbitan Hebrew University berjudul ‘A Note on Early Marriage Links between Qurashis and Jewish Women’, see Jerusalem Studies in Arabic and Islam vol.10 (1987), references to Jewish ladies of “Noble Birth” are descended from the Exilarch.
  2. Silakan membaca buku The Targum of Onkelos to Genesis: A Critical Enquiry into the Value of the Text Exhibited by Yemen Mss. Compared with that of the European Recensian Together with Some Specimen Chapters of the Oriental Text (Henry Barnstein, 1896).
Posted in Biblical Studies, Interfatith Dialog | 1 Comment

[RILIS BUKU] Aryo-Semitic Philology: the Semitization of Vedas and Sanskrit Elements in Hebrew and Abrahamic Texts

Shalom ‘aleychem
Assalamu ‘alaykum

RILIS BUKU

Segera akan terbit dan rilis buku saya yang amat penting, demi menunjang materi perkuliahan, khususnya mata kuliah (1) Philology, (2) Lexicography. Buku yang akan rilis tersebut berjudul

Aryo-Semitic Philology: the Semitization of Vedas and Sanskrit Elements in Hebrew and Abrahamic Texts. (Surabaya: Airlangga University Press, 2017).

Kata Pengantar: Prof. Habib Zarbaliyev, Azerbaijan Diller Universiteti, professor in Sanskrit and Comparative Linguistics.

Epilog : Diah Ariani Arimbi, Ph.D. (Faculty of Humanities, Airlangga University).

Abstrak:
Karya akademik ini merupakan studi intertekstualitas dan analisis linguistik komparatif terhadap teks Hebrew and Abrahamic texts dengan teks Vedas. Buku ini mengeksplorasi wacana teks rumpun Semit dan Arya yang terekam dalam artefak kebudayaan bertradisi Abrahamik dan Brahmanik yang meniscayakan pararelisasi pesan substantif. Pararelisasi pesan tidak hanya berpijak pada latar similaritas linguistik tetapi juga merujuk pada kesejajaran formula teologis yang melingkupi teks dalam rentetan tradisi yang melahirkan teksnya. Teks tidak bisa dipandang sebagai sebuah teks yang independen, tetapi harus dipahami melalui proses pembacaan dalam konteksnya yang dapat dipastikan berkaitan erat dng teks liyan.

Teks hadir sebagai sebuah tenunan wacana yang melingkupi penjadian teks melalui proses adopsi, adaptasi, maupun reformulasi teks yang telah mapan dalam konteks rangkaian pewarisan tradisi.

Buku ini menggunakan analsis linguistik komparatif dan studi semiotik yang digagas oleh ahli semiotik asal Perancis, Julia Kristeva. Kajian semiotika kultural yang terbaca tidak dimaksudkan untuk menelanjangi wacana teks secara vulgar yang teralienasi dari konteks hiperrealitas teksnya, tetapi bertujuan utk menjelaskan penanda dalam teks yang melintas batas zaman, geografis, bahasa maupun tradisi serumpun melalui sistem transmisinya.

Selamat menantikan kehadiran buku ini bagi para pembaca. Silakan kunjungi web kami: The Yeshiva Institute agar mendapatkan info2 terbaru. Tehillah le’Donai ribon ha’olamim. Baruch HaShem.

Posted in Interfatith Dialog | Leave a comment

Do Kabalah really teach Divine Messiah?

 

Christian missionaries masquerading as Jews appeal to Kabalah that the Messiah is Hashem and therefore an object of worship. What Kabalistic masters really taught with regards to absolute unity of Hashem, and how we cannot apply any corporeality to Hashem in thought or speech, even allegory. The Sefirot are not divine persons, nor do they incarnate as human beings as erroneously being spread by misguided missionaries, who are trying to use “kabalah” to make their “trinity” doctrine of Hashem compatible with Judaism.

Posted in Counter Missionary | Leave a comment

Nuzul Al Qur’an & Nuzul At Tawraat (Shavuot)

Narrated by Abu Said, the freed slave of Bani Hashim, narrated by Imran Abu Awwam , from Qatada , from Abu Maleeh , from Waathilah bin Asqa that the Messenger of Allah, peace and blessings be upon him, said:

“The suhufs of Abraham, upon him be peace, were revealed on the first night of Ramadan. The Torah was revealed after six nights of Ramadan had passed. The Gospel was revealed after thirteen nights of Ramadan had passed. The Furqan (Al Qur’an) was revealed after twenty four nights of Ramadan had passed.” 1

According this Hadith which is also cited by ibn Kathir in his tafseer on  Qur’an 2:185; Ramadan is a very special month because this one month in the Islamic lunar calendar was the same month when the all the four sacred scriptures to four special Prophets: Abraham, Moses, Jesus and Muhammad. were revealed in the month of Ramadan.  

While I have not yet looked into how we would understand the revelation of the Injil on the thirteenth day of Ramadan, but interestingly Ramadan is the ninth month of the Islamic calendar and the Shavuot , a major Jewish festival for commemorating the revelation of the Torah is held on the month of Sivan which is also the ninth month of the Hebrew calendar (2).

From this hadith we learn that all revelation from God actually occurred in the same lunar month, but because the Jews, who also use the lunar calendar have modified the length of the year with a leap month seven times in every nineteen year cycle, so as to always keep the the ancient Jewish Hajj: the Sukkot in the fall season, they do not coincide. But every nine or ten times in a solar century Ramadan and Sivan will overlap. This happens this year,  Nuzul Al Qur’an (the revelation of the Qur’an) will be celebrated at the same time as Nuzul At Tawraat  (the revelation of the Qur’an or Shavuot as it is known to the Jews). Muslims and Jews throughout the world will rejoice at the same time.

Notes:


  1. أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : أُنْزِلَتْ صُحُفُ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ ، وَأُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ لِسِتٍّ مَضَيْنَ مِنْ رَمَضَانَ ، وَالْإِنْجِيلُ لِثَلَاثَ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ ، وَأُنْزِلَ الْفُرْقَانُ لِأَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ  Musnad Ahmad ibn Hanbal 16727

  2. https://en.wikipedia.org/wiki/Sivan
Posted in Interfatith Dialog | Leave a comment

Rabbi Ishmael on the sons of Ishmael

Menachem Ali & Eric bin Kisam

It is worth to mention that some Jewish classical exegetical text such as Pirkei deRabbi Eliezer פרקי דרבי אליעזר which is attributed to a first century jewish sage, a well known tannaite Rabbi Ishmael Eliezer ben Elisha who went by the title Kohen ha-Gadol /the great high priest contains several references which prophesied the building of Temple by bnei Yishmael, (the sons of Ishmael), in the Pirkei deRabbi Eliezer final chapter ie. 30 ¹, he list 15 things of what the son of Ishmael will do in the holy land at the End of Days, one is of particular interest:

Pirkei deRabbi Eliezer chapter 30

Hamishsha ‘ashar devarim ‘atidin bney Yishmael la’asot be eretz be acharit hay-yamim…Veyegederu peretsot chumot beyt hamiqdash veyibenu banin biheykal

Rabbi Ishmael said:

The sons of Ishmael will do fifteen things at the end of days…. They will rebuild the breaks in the wall of the beyt hamikdash (Al Aqsa ² or bayt al maqdis) and build a building in the heiykal (the central sanctuary of the Holy Temple)

Son of Ishmael refer to the Arabs in the Book of Genesis and in Islamic traditions too muslims see themselves as the progeny of prophet Ishmael. Considering the 600 years gap between the era of Rabbi Ishmael Eliezer and Islamic era of the prophet Muhammad, I find this passage astonishing. Could the return and rebuilding of the third Temple in Jerusalem has actually been fulfilled by the caliph Umar ibn Khatab on the Temple Mount (in 692 CE) by the building sanctuary to muslims known as Masjid Al Aqsa or bayt al maqdis. Of course many do jews do not recognize it that’s why because of this some speculates that some of the writings in Pirkei deRabbi Eliezer was composed around the beginning of the 8th century CE not the 1st century.

Regardless I find the idea that bnei Yishmael ie the arabs/muslims were the ones who actually rebuilt the third Temple are fascinating, think about it for a moment the divine scenario on the building of beyt hamikdash or bayt al maqdis in Jerusalem, it’s amazing how everything​ fits together.

  1. The First Temple was built by Salomo ben David ham-Melech ‘aleyv has-shalom, from an Israelite, descendant of Yaʿqūb (Jacob) bin Isḥāq (Isaac) binʾIbrāhīm‎ (Avraham) in the 10th century B.C.E. until 597 BCE following the destruction by the Babylonians.
  2. The Second Temple was built by Herod, a bney Edom, descendant of Esau, the elder son of Isaac, hence Esau bin Isḥāq (Isaac) binʾIbrāhīm‎ (Avraham) in 20/19 B.C.E untilRoman Emperor Titus destroyed the Temple in 70 CE.
  3. The Third Temple was built by the caliph Umar ibn Khatab, RadhiAllahu’anhu, who himself was a bnei Yishmael (the sons of Ishmael) from Quraish tribe descendant of Qedar bin Ismā’īl (Ishmael) binʾIbrāhīm‎ (Avraham) in 638 C.E. and it will remain there until the end of days

God Knows Best.

Notes

(1)

pirkei de rabbi eliezer 30
Published by Jerusalem: Eshkol J. Weinfeld & Co

(2)

The sanctity of of the holy sanctuary in Jerusalem is firmly established in the holy Qur’an 17:1. God says:

سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًۭا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

Exalted is He who took His Servant by night from al-Masjid al-Haram to al-Masjid al- Aqsa, whose surroundings We have blessed, to show him of Our signs. Indeed, He is the Hearing, the Seeing. (Sahih International)

Posted in Interfatith Dialog | Leave a comment

Answering Itzhak Shapira’s “Kosher Pig”

Itzhak Saphira

Written by Menachem Ali

Shalom ‘aleychem
Assalamu ‘alaykum

Baruch Atta Adonai Eloheynu Melech ha-‘olam, Elohey avoteynu ha-rishonim asher bara ha-shemayim ve ha-aretz.

Dear all

An Israeli Jewish Messianic Rabbi wrote a book ” the Return of the Kosher Pig: the Divine Messiah in Jewish Thought ” by (Rabbi) Itzhak Shapira (Maryland, USA: Messianic Jewish Publishers) to prove the divineship of Yeshu ha-Talui as the divine Messiah. He is a leader of Messianic group which so called Messianic Judaism.

” It is a fraudulent group of Evangelical Christians who disguise themselves and their rituals as Jews, to fool and trick ignorant Jews into the PURE IDOLATRY OF CHRISTIANITY. They are a well-trained group of charlatans, and are sadly too successful in their deceit. Definitely the work of Shaitan -Satan”, Avi Ibrahim said.

(Rabbi) Itzhak Shapira claimed that Yeshu ha-Talui is the divine Messhiah and G-d Himself, as HaShem in our rabbinical references. But after reading his book, I read many data in a speculative analysis and full in the paradigm of selected judgment. Even, he really corrupted the rabbinic texts, out of context. It is the first problem in the academic tradition.

The second, he claimed that B’nei Yishmael worshipped other god, the god of pagan, and crazy, his name is ALLH, not G-d of B’nei Yisrael, YHWH baruch Hu.

The Semitic scholars such as Philip K. Hitti in his book ” History of the Arabs: from the Earliest Times to the Present (New York: the Macmillan Company, 1951) proved that
He is the Owner of two dialects who is only ONE. All rabbinic references proved that ALLH and YHWH is similar and the same, neither begets, nor was He Begotten לא ילד ולא ילד

Surely He is the ONE and ONLY ONE G-d, G-d of our forefathers, HaShem habbore. In Arabic dialect, ALLH is called Al-Ism al-A’dzam (The Great NAME) as well as in Hebrew dialect, YHWH is called Ha-Shem (The NAME).

Rav Saadia Gaon ben Yosef al-Fayyumi zichrono livrachah, in his Targum Judeo-Arabic which so-called Chamesh Megilloth Sefer Ruth 2:12 יהוה אלהי ישראל he linguistically wrote as follows: אללה אלאה אסראיל (ALLH Ilahu Isroil). ALLH is not a translation of YHWH in Arabic, but the name is a dialect of YHWH in Arabic. Arabs called Him as the Great Name (Al-Ismu al-A’dzam), and Hebrews called Him as the Name (Ha-Shem).

Rav Saadia Gaon ben Yosef al-Fayyumi zichrono livrachah, in his Targum Judeo-Arabic which so-called Chamesh Megilloth Sefer Ruth 2:12 יהוה אלהי ישראל he linguistically wrote as follows: אללה אלאה אסראיל (ALLH Ilahu Isroil). ALLH is not a translation of YHWH in Arabic, but the name is a dialect of YHWH in Arabic. Arabs called Him as the Great Name (Al-Ismu al-A’dzam), and Hebrews called Him as the Name (Ha-Shem).

In his presentation via Youtube, he always refers to Sefer Ha-Galui. It means that he regards the Sefer is an authoritative work, written by the Gaon. In his book Sefer Ha-Galui, Rabbi Saadia write that his belonged to the noble family of Shelah son of Yehudah the 4th son of Yacov and counted among his ancestors Rabbi Hanina Ben Dosa (1st century CE). In 923 CE. he went to the rabbinical center of Torah in Babylon, joining the Talmudic academies of Pumbedita and Sura. He spent six months at the important Torah center in Aleppo – Syria – where he wrote his work ABTIDA’ KALAMNA (Ten Commitments), Arabic written with Hebrew letters which so called the Judeo-Arabic. To this day, this book is yearly read by Aleppo Jews on the holyday of TU BiShvat. The great Kabbalist Rabbi Yosef Chaim, the ” Ben Ish Hay ” praised Rabbi Saadia’s commentary which so called Targum ha-Tafsir be Aravit Chamesha Chumshe Torah in Judeo-Arabic warmly in his book of Halachot (part 2 parshat Ki Tetze, Hilchot Talmud Torah, item 25): ” …. and here in our town of Baghdad there is the Commentary of Rabbi Saadia on the Torah in Arabic. It includes many points very well clarified in the Arabic language and in order to understand the precious diamonds of his commentary and there he gives an example.” Ibn Ezra also stated in his commentary on the book of Genesis 2:12 ” the Gaon has acted for the glory of G-d by translating the Torah into the language of Ishmaelite and into their script so that no one can say that the Hebrew Torah contains words that nobody understands.” Even, the famous commentator Rashi in his commentary on Sefer Shemot 24:12 referred to Rabbi Saadia Gaon as Rabbenu Saadia (Our Teacher Saadia).

If (Rabbi) Itzhak Shapira reject Rabbi Saadia Gaon, he exactly rejects all of his references, including Ibn Ezra’ work and Rashi’s commentary. I think he will be a scholar, and not a pseudo-scholar.

.

Posted in Counter Missionary | Leave a comment

Ishmael dalam narasi kitab suci Yahudi dan Islam (Part VII) – Lokasi Al-Madinah: Mengkritisi Apologet Kristen tentang Wacana Pengaruh Islam dalam Targum Saadia

Lokasi Al-Madinah: Mengkritisi Apologet Kristen tentang Wacana Pengaruh Islam dalam Targum Saadia

By Menachem Ali

 

Pengantar

Isu adanya pengaruh istilah-istilah Islami khas Quran yang dituduhkan terhadap Targum Saadia oleh kaum apologet Kristen, ternyata telah memasuki babakan yang lebih masif dan intensif. Mereka menyadari betapa dahsyatnya peran Targum Saadia bagi umat Yahudi dan umat Islam, mereka pun menyadari bahwa Targum Saadia sebagai warisan dokumen Rabbinik yang amat penting ternyata dapat mengancam kemapanan teologi Kristiani dan sekaligus sbg penghalang Kristenisasi. Itulah sebabnya para apologet Kristen berupaya secara masif dan siatematis utk mewacanakan kecacatan Rav Saadia Gaon sbg sang Rabbi yang otoritarif dalam konteks sanad keilmuan Rabbinik, dan sekaligus mewacanakan invaliditas Targum Saadia sebagai Targum yang tdk otentik dalam penyingkap pesan Torah. Berkaitan dengan hal-hal tersebut, saya akan membedah keberatan mereka atas Targum Saadia berdasarkan 2 poin penting, dan tentu saja dalam pembahasannya saya menggunakan bahasa sederhana, bukan dengan bahasa akademik, yang biasanya saya gunakan untuk menulis jurnal.

  1. Kredibiltas Rasag yang Diragukan

Presiden Israel yang sekarang, Reuven Rivlin telah mengakui kredibilitas Targum Saadia sebagai karya luar biasa yang membuktikan keluhuran posisi Rav Saadia Gaon dalam tradisi Rabbinik. Lihat dan bacalah surat beliau kpd Rabbi Yomtov Haim di thread ini. Namun, seorang apologet Kristen yang bernama Jimmy Jeffry (JJ) dengan menggunakan data 2nd sources dari kalangan Orientalis Kristen, ia mengklaim bahwa Rasag ditentang oleh rabbi-rabbi masa thabaqat generasi Gaonim hingga para Rabbi masa thabaqat generasi Rishonim. Bahkan, Ibn Ezra konon juga dianggap menentang Rasag. Namun sayangnya, JJ tidak menunjukkan siapa nama-nama para Rabbi yang menentang kredibilitas Rasag. Fakta justru sebaliknya, Ibn Ezra sangat memuji Rasag. Rabbi Abraham Ibn Ezra (1089-1167 CE) tatkala menjelaskan nas Sefer Bereshit 2:11 dalam kitabnya Ibn ‘Ezra ‘al ha-Torah ‘im Phirush Otzer Chayyim, dia sangat memuji adanya Targum Saadia dalam bhs Judeo-Arabic, bahasa kaum Ishmael. Dia berkata:

Amar ha-Gaon le kavod HASHEM ka ‘Abor sa-Targum ha-Torah be leson Yishmael u be ktiv-tem shela yomeru ki yas be Torah mitzvoth lo yedo’anim.

“The Gaon said for the glory of God by translating the Torah into the language of the Ishmaelities and into their script, so that no one can say that the Hebrew Torah contains words that nobody understand.”
(Ibn Ezra ‘al ha-Torah ‘im Phirush Otzer Chayyim. Bereshit. Yerusalem, p. 69).

Pernyataan Ibn Ezra sendiri dalam kitabnya tsb menyatakan bhw dengan adanya Targum Saadia, maka hal itu merupakan bukti bahwa Ibn Ezra tidak menentang Rasag, justru memujinya. Bahkan tatkala Ibnu Ezra menjelaskan nas Sefer Bereshit 16:14 tentang be’er Laha Roi ternyata Ibn Ezra menjelaskan dng pernyataan tegas bhw Be’er Laha Roi adalah Be’er zamum (sumur mata air zam-zam), fakta teks iini justru membuktikan bahwa Ibn Ezra juga menguatkan penjelasan Rasag terkait ayat sebelumnya, yakni nas Sefer Bereshit 16:7 yang menyebut Syur dengan nama lain, yakni Hijr Al-Hijaz. Targum Onqelos menyebut Hagra, Targum Saadia menyebut Hijr Al-Hijaz sebagai penjelasan lokasi geografis Hagra, sedangkan Ibn Ezra menegaskan eksistensi sumur mata air zam-zam yang ada di lokasi geografis Al-Hijaz tersebut. Dengan demikian, Targum Saadia menyebut Hijr/Hajr Al-Hijaz sepadan dng Targum Onqelos menyebut Hagra, ini sekaligus membuktikan bahwa sebutan Hagra atau pun Hijr yang dimaksud itu merujuk pada wilayah Hijaz. Inilah penjelasan Targum Rasag atas Targum Onqelos, dan Perush Ibn Ezra juga menjelaskan ttng sumur Lahai Roi sebagai be’er zamum (sumur mata air zam-zam) yang juga semakin menjelaskan Targum Rasag berkaitan dng sumur zam-zam yang ada di wilayah Hijaz tersebut.

Maka, bila Orientalis Kristen menyatakan adanya pertentangan antara Rasag (Rav Saadia Gaon) dng Rabbi Ibn Ezra, maka hal ini sebenarnya hoax, sebab Ibn Ezra sendiri memuji Rasag dalam penjelasannya pada Sefer Bereshit 2:11 dan Sefer Bereshit 16:14. Jimmy Jeffry melakukan kesalahan besar yang bisa dikatakan sebagai pseudo-academic terkait dengan Rabbi Ibn Ezra. Mengapa? JJ membuat pernyataan hoax atas pribadi Ibn Ezra yang katanya menentang Rasag. Saya memaklumi tindakan Jimmy Jeffry tersebut akibat keterbatan sumber primer yang diaksesnya. Ini pun akibat ketidakcerdasannya bernalar secara kritis dalam mengakses sumber yang menjadi rujukannya melalui 2nd sources.

Begitu juga pernyataan JJ yang menyatakan bahwa para Rabbi juga banyak yang menentang Rasag. Benarkah itu? Rabbi Yomtov Haim ben Ya’akov Daknish Hacohen (manager Project Saadia Gaon) dalam karyanya berjudul Torah: Original Commentary in Arabic by Rabbi Saadia Gaon (Jerusalem, 2015, p.v beliau menyatakan:

” ….. The Rabbi Saadia Gaon’s Torah commentary is the most faitfull commentary ever written in the Arabic language. Over the last 15 centuries, no other Torah commentator in the Arabic language, except for Rabbi Saadia Gaon, has fulfilled as minimum two conditions for a faitful work, that he is Jewish and that he was worked directly from the original Hebrew Torah text. Thus Rabbi Saadia Gaon’s commentary set a standard of fidelity for all subsequent generations. The famous commentator Rashi (1040-1105 CE) in his commentary on Exodus (chapter 24:12) referred to Rabbi Saadia Gaon as Rabbenu [our teacher] Saadia.

The Great Kabbalist Rabbi Yosef Haim, the “Ben Ish Hai” (1834-1909 EC)
praised Rabbi Saadia’s commentary warmly in his book of Halachot (part 2, parashat Ki Tetze, Hilchot Talmud Torah, 25) ” … and here in our town of Baghdad there is the commentary of Rabbi Saadia on the Torah in Arabic. It includes many points very well clarified in the Arabic language … and in order to understand the precious diamonds of this commentary.” During the eleven centuries since the writing of the Rabbi Saadia’s commentary it has been studied widely, especially by Yamanite Jews who has used the Judeo-Arabic version of the commentary in their daily learning. The Judeo-Arabic Yemenite manuscripts’ version of the commentary has been printed along with the text of the Torah, beginning with the Jerusalem edition of 1894 CE. and continuing until today.”

(Rabbi Yomtov Haim ben Yaakov Daknish Hacohen. at-Tawrah: Tafsir al-Ashli min ma’ali al-Hakhom Saadia Gaon ibn Yusuf al-Fayyumi. Yerusalem, 2015, p.v).

Dengan demikian, tuduhan Rabbi-rabbi yang katanya banyak yang menentang Rav Saadia Gaon hanyalah hoax, dan ini merupakan alibi kaum apologetis Kristen untuk mendiskreditkan dan memarginalkan posisi Saadia Gaon.

  1. Pengaruh Istilah Quran dalam Targum Saadia.

Sebenarnya, dalam Targum Saadia memang terdapat kosakata yang sejajar dng kosakata Quran. Namun anehnya, kesejajaran itu terlalu terburu2 bila disimpulkan sebagai bentuk pengaruh Islam dalam Targum Saadia. Menurut saya, kesejajaran ini ada 2 opsi/alternatif. Pertama, apakah adanya kesamaan kosakata dalam Targum Saadia dan kosakata Quran bisa membuktikan bahwa Targum Saadia dipengaruhi Islam? Kedua, apakah kosakata Arab yang termaktub dalam Quran dan kosakata Judeo-Arabic yang termaktub dalam Targum Saadia sama-sama mewarisi common heritage bhs Arab era pra-Islam?

Opsi pertama yang diwacanakan oleh para apologet Kristen mengandung banyak kecatatan karena hanya berpijak pada 1 sisi, yakni hanya fokus pada kesamaan kosakata Arab yang dipakai pada keduanya, sebagaimana yang muncul dalam Targum Saadia dan Quran. Padahal fakta kajian perbandingan teks antara Targum Saadia dan Quran justru juga membuktikan adanya banyaknya ketidaksamaan kosakata yang dipakai di dalam keduanya. Adanya kesamaan/kesejajaran kosakata merupakan warisan pra-Islam, misalnya nama ALLH, qaryat, qura, Al-Madinah yang sudah dikenal oleh orang Arab pra-Islam dan kaum Yahudi Musta’ribah era pra-Islam, yang merupakan warisan bersama, dan bukan pengaruh Islam sama sekali. Justru banyaknya kosakata Yahudi Musta’ribah yang terekam dalam Targum Saadia yang justru berbeda dng Quran, hal ini semakin membuktikan bahwa Targum Saadia tidak mewarisinya dari Quran. Apalagi gramatika bahasa Judeo-Arabic dalam Targum Saadia berbeda sama sekali dng gramatika Quran, maupun gramatika bahasa Arab-Islam, yang membuktikan bahwa tidak adanya pengaruh Islam dalam Targum Saadia. Misalnya:

Redaksional teks Targum Saadia tertulis

  • Qain
  • Khanukh
  • Yitru
  • Abroham
  • Yishmail
  • Yishhaq

Redaksional teks Quran tertulis

Kajian linguistik diakronis antara kosakata dan gramatika yang berbeda antara Targum Saadia dng Quran akan saya bahas pada thread yang lain. Namun, thread ini akan fokus pada Sefer Bereshit 10:30 dan Sefer Bereshit 16:7. Dalam kedua nas tersebut, terdapat nama Al-Madinah dan Hijr Al-Hijaz dalam versi Targum Saadia yg sejajar dengan Targum Onqelos, yakni nama Medinta dan Hagra. Ini merupakan fakta tekstual yang tak bisa dibantah secara akademik. Oleh karena itu, ada upaya penetrasi wacana pseudo-academic dalam ranah publik yg dibangun tanpa dasar yang kokoh dengan asumsi-asumsi apologetik yang tak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Teori usang yang cacat akademik ini digemakan lagi, yang disebut sebagai teori “borrowing” atau teori ” influence ” yang sengaja diwacanakan ulang. Itulah sebabnya para apologet Kristen menyatakan adanya pengaruh Islam dalam Targum Saadia. Wacana ini sengaja dimunculkan dalam dialog Islam – Kristen yang ternyata saat ini memang banyak mendapat sorotan di kalangan para apologet Kristen, terutama Jimmy Jeffey (JJ) dan Teguh Hindarto (TH). Oleh karena itu, saya akan memaparkan kelemahan argumentasi pseudo-academic yang digagas oleh kedua apologet itu secara sederhana saja.

Targum Onqelos berbahasa Judeo-Aramaic dan Targum Rasag berbahasa Judeo-Arabic bagaikan 1 keping coin yang memiliki 2 sisi, yang penjelasannya saling melengkapi dan keduanya otoritatif dalam mempelajari teks kitab suci Torah. Bila seseorang mempelajari TaNaKH (Torah Neviem ve Khetuvim), yang disebut sebagai teks Masoret, tetapi menolak otoritas Targum Onqelos dan Targum Rasag, maka dia sama saja dengan tidak mengerti apa2 tentang TaNaKH. Itulah sebabnya, Rashi menjadikan Targum Onqelos dan Targum Saadia sebagai teks otoritatif dalam menjelaskan Torah. Rashi (Rabbi Shlomo ben Yitzhaq) menyebut nama Rabbi Saadia Gaon (Rasag) dengan sebutan Rabbanu Saadiyah (our teacher Saadia) dalam karyanya Perushi ‘al ha-Torah tatkala menjelaskan ayat yang termaktub dalam Sefer Shemot 24:12. Ini membuktikan bahwa Rashi memposisikan Saadia Gaon sebagai Rabbi otoritatif dalam pembelajaran Torah. Begitu juga Rashi memposisikan Onqelos sebagai figur otoritatif dalam pembelajaran Torah. Dalam karyanya yang berjudul Perushi ‘al ha-Torah, Rashi juga menyatakan Targumo dayyana (Targum renders it judge) tatkala menjelaskan ayat yang termaktub dalam Sefer Shemot 20:1

Begitu juga para rabbi lainnya yang berkarya pada era generasi Rishonim, seperti Ibn Ezra, Radak dan Ramban, termasuk munculnya TaNaKH dalam terjemahan bhs Yiddish yang umum dipakai di kalangan Yahudi Aschenazim pun justru mengutip dan saling menjelaskan terhadap otoritas Targum Onkelos dan Targum Rasag. Bahkan, Targum Rasag yang disebut Targum Chamisha Chumshe Torah be Leson ha-‘Aravit: Tafsir at-Taurah bi al- ‘Arabiyyah, karya Rabbanu Sa’adiyah ben Yosef Gaon diakui sangat otoritatif dan dianggap sebagai sumber klasik oleh kaum Yahudi Musta’ribah sejak dulu hingga kini. Oleh karena itu, relasi teks Masoret (TaNaKH), Targum Onqelos dan Targum Rasag amat signifikan dalam pembelajaran teks Rabbinik, khususnya Torah. Misalnya, nas Sefer Bereshit 16:14 dalam teks TaNaKH tertulis 2 nama lokasi geografis, yakni Kadesh dan Bered, sedangkan nas Sefer Bereshit 16:14 dalam teks Targum Onqelos tertulis Reqem dan Hagra. Apakah Onqelos salah dalam memahami Torah sehingga mengganti nama Kadesh menjadi Reqem dan sekaligus mengganti nama Bered menjadi Hagra? Apakah Onqelos sedang menggunakan nalar cocokologi dalam kitab Targum-nya? Apakah nama Kadesh dan Reqem memang merujuk pada nama lokasi geografis yang berbeda? Juga, apakah nama Bered dan Hagra mengacu pada nama lokasi geografis yang berbeda? Para rabbi tidak ada seorang pun di antara mereka yang menolak nama lokasi geografis Reqem dan Hagra sebagaimana yang termaktub dalam Targum Onqelos sebagai nama lain versi Judeo-Aramaic dari nama Kadesh dan Bared dalam bahasa Ibrani, dan tidak ada seorang pun di antara para Rabbi era generasi Rishonim yang menganggap bahwa nama Reqem dan Hagra sebagaimana yang termaktub dalam Targum Onqelos sebagai sebuah kesalahan penjelasan yang fatal, yang harus ditolak dan dianggap tidak otoritatif. Apakah ada seorang rabbi yang menyatakan bahwa nama Reqem dan Hagra dalam Targum Onqelos adalah sebuah nalar cocokologi, atau pun manipulasi kreatif dan bahkan kekeliruan akut akibat pengaruh Kristen, karena faktanya Targum Onqelos memang disusun pada era pasca-Kristen dan rampung disusun secara lengkap pada era pra-Islam? Sefer Bereshit 16:7 dalam TaNaKH tertulis nama Shur, sedangkan dalam Targum Onqelos tertulis nama Hagra. Mengapa nama Bered dalam Targum Onqelos (Sefer Bereshit 16:14) dan nama Shur dalam Targum Onqelos (Sefer Bereshit 16:7) sama-sama diganti dng nama Hagra dalam bahasa Aramaic? Mengapa Onqelos pemahamannya seakan-akan inkonsisten dalam kasus ini? Apakah benar Onqelos tidak konsisten sebagaimana tuduhan kaum apologet Kristen yang tak terpelajar? Bukankah nama Bered dan Shur secara tulisan tidak sama, tetapi mengapa keduanya disebut dengan nama yang sama yakni disebut dng nama Hagra? Apakah Bered, Shur dan Hagra merujuk pada lokasi geografis yang sama atau justru sebaliknya? Apakah Onqelos dalam hal ini menggunakan nalar cocokologi sebagaimana yang dituduhkan oleh kaum apologet Kristen? Begitu juga dalam Targum Saadia (Sefer Bereshit 16:7) tertulis nama Hijr al-Hijaz. Apakah itu berarti Rabbenu Saadia Gaon telah menggunakan nalar cocokologi? Dengan demikian, apakah Onqelos dalam Targum Judeo-Aramaic dan Saadia dalam Targum Judeo-Arabic keduanya telah menggunakan nalar cocokologi karena menyebut nama Bered dan Shur sebagai Hagra dan Hijr (al-Hijaz)? Apakah justru sebaliknya, bahwa nama Bered, Shur, Hagra dan Hijr (al-Hijaz) itu merujuk pada lokasi geografis yang sama dalam ekspresi bahasa yang berbeda, dan bukan dimaksudkan untuk merujuk pada lokasi geografis yang berbeda?

Bila kaum Kristiani menolak nama Hijr al-Hijaz sebagai padanan nama Shur sebagaimana yang termaktub dalam Targum Saadia, lalu mengapa mereka tidak menolak nama Hagra sebagai padanan nama Bered dan Shur sebagaimana yang termaktub dalam Targum Onqelos? Bukankah istilah Shur dan Bered itu bahasa Ibrani era Masoret? Bukankah istilah Hagra itu bahasa Judeo-Aramaic era Kristen? Bukankah istilah Hijr al-Hijaz itu bhs Judeo-Arabic era Islam? Apakah sebutan Hagra itu akibat pengaruh dan dominasi pandangan dunia Kristen atau pengaruh dari pandangan dunia Islam? Apakah sebutan Hijr Al-Hijaz itu juga akibat pengaruh dan dominasi dunia Islam atau pra-Islam? Istilah Al-Hijaz tidak tiba2 muncul di era Islam, justru telah eksis era pra-Islam. Apakah nama Hagra dan nama Hijr al-Hijaz yang termaktub dalam kedua Targum itu dianggap sebagai istilah yang keliru yang dilakukan oleh Onqelos dan Rasag? Kalau nama Shur yang diganti menjadi nama Hijr al-Hijaz dianggap keliru dan menyimpang, maka nama Bered dan Shur yang diganti menjadi nama Hagra juga harus dianggap lebih keliru dan sangat menyimpang. Bukankah kekeliruan Rasag hanya mengganti nama Shur menjadi nama Hijr al-Hijaz? Namun kekeliruan Onqelos lebih parah lagi karena Onqelos mengganti nama Bered sekaligus nama Shur menjadi satu nama, yakni Hagra. Bukankah nama Bered dan Shur jelas sekali merujuk pada nama yang berbeda? Namun sebaliknya, bila dalam hal ini Onqelos dianggap benar, maka Rasag seharusnya juga dianggap benar, begitu juga sebaliknya.

Adanya nama Hagra dalam Targum Onqelos, yang sejajar dengan nama Hijr (Al-Hijaz) dalam Targum Saadia, justru hal ini membuktikan adanya common heritage antara tradisi Yahudi dan Islam . Bahkan, adanya 3 kata kunci dalam Targum Onqelos yang menujuk lokasi Hagra (H-g-r), Medinta (M-d-n-t) dan Thur (Th-r) yang sepadan dengan 3 kata kunci dalam Targum Saadia yang menunjuk lokasi Hijr (H-j-r), Al-Madinat (M-d-n-t) dan Thur (Th-r) merupakan bukti eksisnya term2 tersebut sejak era pra-Islam dan bukan pengaruh islam. Apakah penggunaan leksikon Hagra, Medinta dan Thur dalam Targum Onqelos ini dipengaruhi tradisi Islam atau dipengaruhi Targum Saadia atau sebaliknya? Jika ketiga term Judeo-Aramic dalam Targum Onqelos itu dipengaruhi tradisi Islam, maka ini sangat mustahil karena Targum Onqelos sudah eksis sejak abad 1 M. Apakah istilah Medinta dan istilah Thur dalam Targum Onqelos ini dipengaruhi Quran dan tradisi Islam? Bukankah istilah Thur (gunung/pegunungan) dan Al-Madinat dalam Quran sejajar dng Medinta dan Thur dalam Targum Onqelos? Jadi, teori “pengaruh Islam”yang menyelinap dalam Targum Rasag yang dituduhkan oleh kaum apologet Kristen sangat tidak tepat, cacat, ber-standard ganda dan inkonsisten.

Targum Onqelos tertulis:
1. Hagra
2. Thur
3. Medinta (מדינתא)
4. Qirwin (קרוין) / Qirwayya (קרויא)
5. Qarta (קרתא)

Targum Saadia dan teks Quran tertulis:
1. Hijr
2. Thur
3. Al-Madinah (אלמדינה)
4. Qura (קרי)
5. Qaryat (קריה)

Tatkala menjelaskan Sefer Bereshit 16:7, ternyata dalam catatan kaki Targum Chamisha Chumshe Torah be Leson ‘Aravit le Rabbanu Saadiyah Gaon ben Yosef al-Fayyumi: Version Arabe du Pentateuque de R. Saadia Ben Josef Al-Fayyoumi. Notes Hebraiques (Paris: Ernest Leroux, Editeur, 1893), halaman 24 tertulis sbb:

Be derech Hijr Hijaz wa kana Targum Onqelos Hagra ve zehu eretz ha-‘Erev hamitz’it asher bo ‘Ir Mekah ha-Qadoshah le Yishmaelim u-Baka.

(ke jalan Hijr Hijaz dan pada Targum Onqelos Hagra dan hal itu merujuk tanah Arab yang orang2 penganut iman Ishmael bertujuan datang ke kota suci Makkah atau Bakka).

Jadi catatan kaki tersebut menegaskan bahwa Hagra dalam Targum Onqelos merujuk pada Hijr yang dikaitkan dng keberadaan Makkah di Hijaz, tanah Arab. Apalagi kata2 kunci dalam Targum Onqelos tersebut (Hagra – Madinta – Qirwayya -Qarta) semakin membuktikan bahwa leksikon Judeo-Arabic (Thur – Hjir – Al-Madinah – Qura – Qaryat) yang termaktub dalam Targum Saadia dan Quran hanya berfungsi mengkonfirmasi maksud yang sama sebagaimana Targum Onqelos; dan bukan membuktikan adanya pengaruh Islam dalam Targum Saadia.

Fakta sejarah juga telah membuktikan bahwa wilayah geografis Al-Hijaz itu meliputi kawasan Mecca dan Medina. Hal ini juga dibenarkan oleh Rasag dalam Targum-nya. Menurut Targum Rasag, Sefer Bereshit 16:7 yang menyebut nama Hijr Al-Hijaz terkait pula dengan Sefer Bereshit 10:30 yang menyebut nama Makkah dan nama Al-Madinat (baca: Al-Madinah), dan sepadan pula dengan Targum Onqelos yang menyebut nama Madinta. Bila seorang apologet Kristen menolak Targum Rasag hanya karena alasan redaksional penggunaan term Al-Madinat dalam Sefer Bereshit 10:30, dan hal ini mereka anggap ahistoris dan dianggap pengaruh Islam, bukankah redaksional penggunaan term Madinta dalam Targum Onqelos terkait Sefer Bereshit 10:30 juga ahistoris? Bukankah term Madinta ( M-d-n-t) dalam Targum Onqelos bhs Judeo-Aramaic dan term Al-Madinat (M-d-n-t) dalam Targum Saadia bahasa Judeo-Arabic ternyata keduanya itu maknanya sama yang merujuk pada makna proper name of place, dan bukan merujuk pada makna generic noun? Fakta membuktikan bahwa istilah Al-Madinat dalam Targum Rasag itu memang eksis pada era pasca-Islam, dan ketika menyebut ‘kota-kota’ lain ternyata Rasag tidak menggunakan istilah Al-Madinah, selain itu, istilah Madinta dalam Targum Onqelos bahkan lebih dulu eksis pada era pra-Islam.

Bila kita mempersoalkan atau pun meragukan validitas/keshahihan nama Al-Madinat (M-d-n-t) dalam Sefer Bereshit 10:30 versi Targum Saadia, maka sebenarnya kita juga perlu memperbicangkan ulang tentang keshahihan nama Madinta (M-d-n-t) dalam Sefer Bereshit 10:30 versi Targum Onqelos sebagai dokumen yang lebih kuno, yang telah eksis pada era pra-Islam sejak abad 1M., meskipun eksistensi nama Medinta (M-d-n-t) juga termaktub dalam Sefer Bereshit versi Targum Yonathan. Bahkan berdasarkan kajian analisis kritis, maka para apologet Kristen seharusnya mempertanyakan ulang eksistensi term Medinta (M-d-n-t), meskipun nama Medinta tersebut ternyata sudah ada dalam Targum Onqelos, yang ditulis sejak abad ke-1 M. tersebut yakni era pra-Islam.

Para apologet Kristen memang ingin memarginalkan Targum Saadia dng alasan teori “pengaruh Islam” dalam bingkai wacana akademik dengan alasan adanya nama Al-Madinat (baca: Al-Madinah) sbg akibat pengaruh Islam. Namun bagaimana dengan Targum Onqelos? Apakah Targum Onqelos juga dipengaruhi Islam karena dalam Targum tersebut ternyata juga tercantum nama Medinta? Di sini ada dua opsi. Pertama, nama Medinta diasumsikan telah disisipkan oleh orang Islam dalam Targum Onqelos, sehingga nama Medinta dianggap sbg bentuk Aram-isasi dari istilah Arab-Islam, yakni Al-Madinah. Asumsi ini tentu harus dapat dibuktikan secara kajian filologis tentang teks Targum Onqelos dengan meriset dan membandingkan manuskrip-manuskrip kuno kodeks Targum Onqelos yang memuat term Medinta (M-d-n-t) tersebut. Kedua, Targum Onqelos memang Targum palsu (pseudo-Targum) yang tidak bisa dijadikan rujukan oleh orang Kristen dng alasan apapun, meskipun ditulis pada abad ke-1 M. Bila Targum Onqelos dianggap palsu, maka tentu saja hal ini akan mengguncang dunia kekristenan. Para apologet Kristen memang kesulitan menjustifikasi Targum Onqelos sbg pseudo-Targum, karena mereka sendiri sangat bergantung pada teks Targum Onqelos utk menjustifikasi Yesus sbg Memra yang ilahi dan yang tak tercipta, sekaligus sebagai Meshiah yang Ilahi dan yang telah dinubuatkan dalam teks Targumim. Dengan demikian, kedua opsi ini dalam dunia kekristenan sangat dilematis.

Dalam Targum Onqelos bhs Judeo-Aramaic telah disebutkan nama מדינתא (Medinta), lihat Sefer Bereshit 10:30 versi Targum Onqelos. Ternyata istilah מדינתא (Medinta) dalam bhs Judeo-Aramaic itu sejajar dengan nama Al-Madinah dalam Targum Saadia bahasa Judeo-Arabic; kesejajaran ini bukan hanya sama secara fonologis, tapi juga sama dalam hal semantik-nya. Ini membuktikan adanya kesamaan nalar antara Targum Saadia dng Targum Onqelos yang memahami term Medinta dalam Targum Onqelos dan term Al-Madinah dalam Targum Rasag sebagai proper name of place (nama tempat) dan bukan merujuk hanya sekedar pada makna generic noun (istilah umum).

Berdasarkan hasil pembacaan teks Targum Onqelos dan Targum Saadia, ternyata istilah “kota-kota” disebut קרוין (qirwin) atau קרויא (qirwayya), kedua istilah ini menunjuk pada makna kota secara umum (generic noun) dalam bentuk jamak (plural), tetapi bila mengacu pada sebuah ” kota ” dalam makna umum (generic noun) yang bentuk tunggal (singular), maka disebut קרתא (qarta). Lihat Targum Onqelos dalam Sefer Bereshit 4:17; 11:4; 11:9; 22:17, Sefer Shemot 1:11, Sefer Bamidbar 13:28; 35:11 dan Sefer Devarim 19:2. Ternyata dalam Targum Saadia juga ada nalar konsistensi yang sama sebagaimana yang termaktub dalam Targum Onqelos, yakni berkaitan dengan istilah “kota” dan “kota-kota.” Dalam Targum Saadia tertulis Qara (q-r-y) sepadan dengan Qirwin (q-r-w-y-n) atau Qirwayya (q-r-w-y-a) dalam Targum Onqelos. Sementara itu, dalam Targum Saadia tertulis Qaryat (q-r-y-t) sepadan istilah Qarta (q-r-t-a) dalam Targum Onqelos. Dengan demikian, istilah2 Judeo-Aramaic yang termaktub dalam Targum Onqelos dan istilah2 Judeo-Arabic yang termaktub dalam Targum Saadia ini tidak ada hubungannya dng pengaruh Islam, meskipun dalam Quran juga digunakan istilah Qura dan Qaryat (baca: Qaryah).

Sementara itu, istilah מדינתא (Medinta) sebagai sebuah nama tempat (proper name) hanya tercantum dalam Sefer Bereshit 10:30 saja. Ini semakin jelas membuktikan bahwa istilah מדינתא (Medinta) dalam Targum Onqelos bukanlah merujuk pada wilayah yang tidak jelas, atau pun kota yang tidak teridentifikasi lokasinya. Itulah sebabnya dalam Targum Rasag, Rav Saadia menggunakan istilah Al-Madinah, yang merujuk pada kota Medina di wilayah Hijaz, yang sejajar dng istilah Medinta yang bermakna proper name (nama tempat) dalam Targum Onqelos. Orang-orang Yahudi Musta’ribah yang tinggal di Medina pada era Islam pasti akrab dng sebutan wilayah מדינתא (Medinta) sebagaimana yang termaktub dalam Targum Onqelos dalam bahasa Judeo-Aramaic yang merujuk pada eksistensi kota Medina, tempat kediaman mereka, dan yang telah menjadi common knowledge di antara mereka. Jadi Nabi SAW mengubah nama Yatsrib, yakni nama Arab (Arabic name) atau nama Medinta (Judeo-Aramaic) menjadi Al-Madinah sebagai nama Arab Islam (Islamic-Arabic name) sebenarnya hanya semacam konfirmasi/meneguhkan saja atas eksistensi kota tersebut dalam versi Islam, yang sebenarnya nama wilayah itu telah mereka kenal dalam dialek Judeo-Aramaic מדינתא (Medinta). Itulah juga sebabnya dalam Targum Rasag, Rav Saadia Gaon membubuhkan definite article (al-ma’rifah) pada nama Al-Madinah, yang berarti komunitas Yahudi Musta’ribah memahami kota tempat tinggal mereka yang dimaksud tersebut sudah jelas identitasnya dan kaum Yahudi Musta’ribah sendiri telah tinggal berabad2 lamanya di Medina bersama-sama suku Arab sebelum kemunculan agama Islam di pentas sejarah. Artinya, kaum Yahudi Musta’ribah yang tinggal di Medina, yang mengenal nama kota tersebut dengan istilah Judeo-Aramaic dng nama Medinta, merupakan de facto bahwa nama Medinta bukanlah pengaruh Islam atau ada hubungannya dng Islam. Nabi Muhammad SAW menyebut kota Medinta tersebut menjadi kota Al-Madinah hanya sekedar konfirmasi ulang atas eksistensi kota Medinta, nama versi Aramaic. Begitu juga, Rav Saadia Gaon menyebut Al-Madinah juga tidak ada hubungannya dng pengaruh Islam sebagaimana yang dituduhkan oleh kaum apologet Kristen. Mengapa? Sebab Saadia Gaon paham betul bahwa lokasi geografis kota Al-Madinah yang disebut Medinta dalam versi Aramaic, memang telah tertulis dalam Targum Onqelos sejak abad ke-1 M. Faktanya, kaum Yahudi Musta’ribah telah menghuni wilayah geografis kota Al-Madinah justru 5 abad sebelum Islam, dan mereka hidup dari generasi ke generasi di wilayah Medina (Aramaic: Medinta). Carole Hillenbrand dalam bukunya Islam. A New Historical Introduction menyatakan:

“In Medina the Arab already residing there were divided into two principal and mutually hostile tribal groups, the Aws and the Khazraj. Also living there were three important Jewish clans, the Banu Nadir, Banu Qaynuqa and Banu Qurayza which played an important part in the economic life of Medina.” (London: Thames and Hudson, 2015), p. 33

Teks Targum Onqelos terkait eksistensi nama Medinta, berbunyi demikian:

” …. mi Mesha mathei le Sephar Thur Medinta.”

(from Mesha as far as Sephar the mountain to Medina).

Rabbanu Saadia Gaon menegaskan pada teks Sefer Bereshit/Sifr Takwin: 10:29-30 berbahasa Judeo-Arabic sbb:

“Wa Ufir wa Hawilah wa Yubab kullu haula’u bani Qahthan. Wa kana maskanuhum min Makkah ila an taji ila Al-Madinah.…”

Jadi istilah “Al-Madinah” dalam Targum Saadia memang bukan pengaruh Islam dan juga tak ada sangkut pautnya dengan Islam. Al-Madinah hanya sekedar nama Judeo-Arabic dari nama Medinta yang termaktub dalam Targum Onqelos berbahasa Judeo-Aramaic.

Fakta teks Rabbinik ini justru menyatakan bahwa hal itu berkaitan dengan lokasi geografis Hagar dan Ishmael, dan tak ada teks Rabbinik yang menolaknya. Bahkan, Rasag, Ibn Ezra, Rashi, Radak bahkan Ramban pun tidak mengingkarinya.

 

Posted in Biblical Studies, Interfatith Dialog | Leave a comment