Telaah Kritis Atas Konsep Penebus Dosa Vs Penghapus (Pembebas) Dosa

שלום עליכם

Isaiah-muhammad-shine

Isaiah Vision (Yeshayahu 21:7)

Rasul ﷺ yang keberadaannya sebagai “pre-existent Person” merupakan konsep Qur’ani sebagaimana yang termaktub dalam Qs. Ali Imran 3:81.

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُم مِّن كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنصُرُنَّهُ ۚ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَىٰ ذَٰلِكُمْ إِصْرِي ۖ قَالُوا أَقْرَرْنَا ۚ قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُم مِّنَ الشَّاهِدِينَ

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”.

Berdasarkan ayat tersebut diinformasikan bahwa אללה (ALLH) atau HASHEM baruch Hu telah mengikat/membuat perjanjian agung (a great covenant) kepada seluruh nabi-nabi, tanpa kecuali – tentang akan datangnya Sang Rasul ﷺ pada masa yang akan datang dan wajib bagi seluruh nabi-nabi itu untuk beriman kepada Sang Rasul tersebut.

Pada ayat tersebut ada tiga kata kunci:

  1. Pertama, term ميثق (mitsaq) yang dalam Quran terjemah Ibrani disebut ברית רבה (berit rabah) yakni perjanjian agung yang amat dahsyat. TUHAN berfirman dengan menggunakan istilah ميثق tersebut merupakan isyarat betapa pentingnya perjanjian tersebut, yang meneguhkan kepada kita bahwa perjanjian yang diikat sendiri oleh TUHAN itu sebenarnya bukanlah perjanjian biasa, tapi merupakan perjanjian luar biasa dan perjanjian yang sangat serius.
  2. Kedua, term النبين (al-nabiyyin) yang secara literal ditujukan kepada semua nabi-nabi yang sudah dikenal itu. Jadi istilah النبين (al-nabiyyin) merupakan nabi-nabi yang dikenal oleh Ahl al-Kitab (the owner of the Book) sebagai nabi-nabi yang menyejarah secara de facto sebagai sosok nabi-nabi yang historis. Itulah sebabnya, term نبين (nabiyyin, prophets) dikuatkan dengan tambahan ال (al) yakni al-ma’rifah sebagai definite article. Dan dalam Quran terjemah Ibrani tertulis term הנביאים (ha-nevi’im yang bermakna ‘the prophets‘). Dalam tata bahasa/gramatika Ibrani, huruf ה (hay) yang mengikat/melekat pada sebuah kata benda disebut sebagai ‘hay hayiddiah.’ Hal ini bermakna huruf ה (hay) yang melekat pada kata tersebut mengindikasikan bahwa term הוביאים (the prophets/nabi-nabi itu) tersebut sosok/figur mereka telah dikenal oleh sang komunikator dan sang komunikan. Hal ini sebagaimana penjelasan Rabbi David Kimchi zichrono lifracha (Radak zl’t) dalam kitabnya ספר מכלול להרד”ק אסופת כללים בדקדוק לשון הקודש. Dengan demikian kita bisa mengenal seluruh nabi-nabi itu secara pasti dan mereka telah mengikat perjanjian agung itu secara kolektif bersama TUHAN.
  3. Ketiga, term رسول (Rasul) yang secara literal bermakna Rasul, sejajar dengan term שליח (Shaliyach) dalam Quran terjemah Ibrani. Mengapa ada pembedaan penggunaan term رسول (Rasul) dengan term النبين (seluruh nabi-nabi itu) dalam ayat Qs. Ali Imran [3]: 81 tersebut? Ini merupakan isyarat bahwa term رسول (Rasul) pada ayat tersebut merujuk pada pra-eksistensinya, bukan merujuk pada eksistensi fisik kemanusiannya yang historis yang lahir pada tahun 571 M. Itulah sebabnya semua kitab Tafsir secara de jure menyatakan bahwa term رسول tersebut mengacu kepada pra-eksistensi Muhammadﷺ sebelum dia dilahirkan. Jadi ada
    1. Pra-eksistensi Sang Rasulﷺ, dan ada
    2. Eksistensi kemanusian Sang Rasulﷺ. Dan berdasar ayat itu pula adanya pembeda,
      1. Isi perjanjian agung itu sendiri, yang merujuk kepada Sang Rasulﷺ sebagai pribadi yang berpra-eksistensi,
      2. Semua nabi-nabi yang mengikat perjanjian agung itu bersama TUHAN dan mereka berikrar mengenai dia sebagai isi perjanjian agung yang amat dahsyat itu.

Itulah sebabnya Abraham mengingat ‘Perjanjian Agung’ itu sebagai rekaman kolektif; dan Abraham memohon agar eksistensi kemanusiaan Sang Rasulﷺ itu nanti dilahirkan dari benihnya melalui Ishmael sebagaimana yang tercatat dalam Qs. Al-Baqarah [2]: 129.

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.

Pada Qs. as-Shaff [61]:6

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُم مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِن بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ ۖ فَلَمَّا جَاءَهُم بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَٰذَا سِحْرٌ مُّبِينٌ

Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)”. Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata”.

Yesus juga mengingat ‘Perjanjian Agung’ itu sehingga dia menyatakan kalimat yang hampir sama sebagaimana yang diucapkan oleh Abraham. Bila Abraham menyebut dengan ungkapan kata kunci رسولا (Rasulan) tanpa menyebut NAMA person, tetapi hanya menyebutkan tugas agung yang eksklusif dari sang person yang dimaksud, yakni ويزكيهم (“wa yuzakkīhim“) yang bermakna “dan menghapus dosa mereka” atau “dan membersihkan dosa mereka” atau “dan menyucikan dosa mereka”), maka Yesus menyebut dengan ungkapan kata kunci رسولا (Rasulan) sekaligus menyebut NAMA person tersebut, meskipun Yesus tidak menyebutkan tugas agung yang eksklusif dari Sang Rasulﷺ. Jadi, Abraham tidak menyebut NAMA Sang Rasul ﷺ, sedangkan Yesus menyebut NAMA Sang Rasul ﷺ. Ini merupakan bukti kongkrit bahwa Abraham dan Yesus sebenarnya mengenal pra-eksistensi Sang Rasulﷺ sebelum kelahiran eksistensi kemanusiaan Sang Rasulﷺ, dan keduanya menggunakan term yang sama, yakni term رسولا (Rasulan).

Itulah sebabnya Abraham meminta dengan penuh kerinduan kepada TUHAN agar sosok yang pra-eksistensi itu muncul dari benih Abraham sendiri melalui Ishmael. Begitu juga Yesus mengenal pra-eksistensi Sang Rasul SAW, sehingga beliau sendiri menyebutkan NAMA person Sang Rasul ﷺ. Dengan demikian, Sang Rasul ﷺ sebenarnya sudah ada sebelum Abraham ada (Al-Baqarah [2]:129); dan Sang Rasul ﷺ juga sudah ada sebelum Yesus ada (as-Shaff [61]:6).

Fakta membuktikan bahwa Abraham dalam doanya menggunakan ungkapan 2 kata kunci, yakni:

  1. Term رسولا (Rasulan) yg mengisyaratkan pra-eksistensi Sang Rasul ﷺ,
  2. Term ويزكيهم (“wa yuzakkīhim”) yang artinya: ‘dan menghapus dosa mereka’ atau ‘dan menyucikan dosa mereka’ atau ‘dan membebaskan dosa mereka.’ Dan term ini fakta tekstualnya dalam Quran tdk pernah ditujukan kepada nabi-nabi lainnya kecuali kepada Sang Rasul ﷺ. Lihat Qs. Ali Imran [3]: 164, Qs. Al-Jumu’ah [62]:2.

Begitu juga Sang Rasul ﷺ lebih dulu ada meskipun secara fisik kemanusiannya belum dilahirkan. Itulah sebabnya Yesus telah menyatakannya kepada b’nei Yisrael mengenai kedatangan Sang Rasul ﷺ sekitar 500 tahun sebelum kelahiran Sang Rasul ﷺ itu sendiri.

Menurut Qs. Al-Baqarah [2]:129 penggunaan kata kunci يُزَكِّيْهِمْ itu sendiri sebenarnya terdiri dari subyek (seorang pelaku, yang merujuk kepada seorang figur spesial), predikat (tindakan spesial dari sang figur), dan obyek (sasaran). Bahkan, verbal/fi’il mudhari’ tersebut bila ditilik berdasar konteks ayatnya, sesuai gramatika bahasa Arab justru membuktikan bahwa Sang Rasul ﷺ memang belum dilahirkan dan tindakannya bermakna tindakan di masa depan yang akan dilakukan Sang Rasul ﷺ itu sendiri. Term يزكي (yuzakkī, yang bermakna “menghapus dosa/menyucikan dosa”) dalam bahasa Arab Quran sebagaimana yang termaktub dalam ayat ini sebenarnya seakar dengan term זכה (zakkah) dalam bahasa Ibrani Biblikal. Lihat teks TaNaKH, khususnya Sefer Shemot/kitab Keluaran 30:34, yang diartikan “pure”, dari kata kerja/verb זכך ( zikkech) yang artinya “to purify.” Uniknya, kajian berdasar gematria Quran, nama محمد (Muhammad) sebagai nama Sang Rasul ﷺ disebutkan sebanyak 4 kali, sejajar dengan penyebutan tindakan spesial Sang Rasul SAW yang redasional ayat-ayatnya juga menggunakan verbal يزكي (yuzakkī, yang bermakna “menyucikan dosa”/menghapus dosa”), dan lagi verbal ini merujuk kepadanya sebanyak 4 kali. Nama Sang Rasul ﷺ

Nama Sang Rasulﷺ
1. Ali Imran 3:144
2. Al-Ahzab 33:40
3. Muhammad 47:2
4. Al-Fath 48:29

Peran/tindakan spesial Sang Rasulﷺ
1. Al-Baqarah 2:129
2. Al-Baqarah 2:151
3. Ali Imran 3:77
4. Al-Jumu’ah 62:2

Renungan:

  1. Menurut Injil Yohanes, Yesus bersabda: “Sebelum Abraham jadi, Aku telah Ada (Yohanes 8:58). Nabi Yahya AS juga bersabda mengenai Yesus, katanya: “Dialah yang datang sesudah aku, yang sudah ada sebelum aku ….” (Yohanes 1:27). Begitu juga Quran menjelaskan bahwa Sang Rasul ﷺ telah ada sebelum Abraham ada (Al-Baqarah [2]:129). Bahkan, Sang Rasul ﷺ yang akan datang itu juga sudah ada sebelum Yesus ada (as-Shaffat [61]:6).
  2. Bila semua nabi-nabi tersebut beriman kepada Sang Rasul ﷺ, meskipun mereka tidak pernah bertemu dengan Sang Rasul ﷺ, maka Sang Rasul ﷺ juga pernah bersabda: “Berbahagialah mereka yang beriman kepadaku, meskipun mereka tidak pernah bertemu/berjumpa dengan aku. Merekalah احواني (ikhwani).” Para sahabat bertanya kepada Sang Rasul ﷺ: “Apakah mereka itu adalah kami semua para sahabatmu wahai Sang Rasul ﷺ?” Maka Sang Rasul ﷺ pun akhirnya menjawab: “Tidak! Kamu semua adalah اصحابي (para sahabat-ku), sedangkan mereka yang tak pernah melihat dan tak pernah berjumpa denganku, namun mereka beriman kepadaku, mereka adalah احواني (para saudara-ku).”
  3. Berbahagialah kita yang tak pernah melihat/berjumpa dengan Sang Rasul ﷺ tetapi beriman kepadanya, sebagaimana para nabi juga beriman kepadanya, meskipun mereka tak pernah melihat dan berjumpa dengan Sang Rasul ﷺ. Inilah derajat keimanan para nabi yang amat sempurna. Mengapa? Mereka beriman kepada Sang Rasul ﷺ, meskipun mereka juga tak pernah bertemu/berjumpa dengan Sang Rasul ﷺ.
  4. Istilah يزكي (yuzakki) ini sederhana, yakni: “menyucikan.” Persoalannya: (i) menyucikan apa? Menyucikan jiwa? Menyucikan jiwa dari apa? Menyucikan jiwa dari dosa? Menyucikan jiwa dari dosa apa? Alternatif jawabannya adalah menyucikan jiwa dari dosa kesyirikan, menyucikan jiwa dari dosa kotoran hati, menyucikan jiwa dari dosa kemaksiatan, menyucikan jiwa dari dosa hal-hal negatif lainnya. Namun, bukankah semua itu intinya adalah menyucikan dosa atau menghapus dosa? Bila istilah يزكي penjelasannya hanya merujuk pada menyucikan jiwa dari kesyirikan (kemusyrikan); bukankah itu tindakan seruan umum tugas kenabian yang diemban oleh seluruh nabi-nabi dalam mengajarkan TAUHID sebagaimana yang termaktub dalam Quran? Lalu apa istimewanya tugas khusus Sang Rasulﷺ yang mana istilah يزكي itu sendiri tidak pernah dinisbatkan kepada nabi-nabi lain? Jumhur ulama semua sepakat bahwa siapapun yang beriman kepada Sang Rasulﷺ, mengakui risalahnya maka semua dosa-dosanya saat sebelum menjadi Muslim, maka dosa-dosanya akan diampuni. Inilah jaminan keselamatan dan jaminan penghapusan/pengampunan dosa. Jiwanya telah disucikan dari dosa. Tidak perlu ada ‘tumbal’ melalui penyaliban. Selain itu, dosa-dosa yang dilakukan pasca menjadi Muslim, justru nantinya akan mendapatkan syafaat dari Sang Rasulﷺ. Inilah jaminan kita atas keselamatan kita.

    Oleh karena itu kita harus merenungkan ulang istilah يزكي ini sebagaimana pengharapan kita akan keselamatan kita.

    1. Istilah يزكي (yuzakki) tidak pernah dinisbatkan kepada nabi2 lain kecuali kpd Sang Rasulﷺ. Ini fakta Quran. Kalau term بشير (basyir) dan نذير (nadzir) dinisbatkan kepada semua nabi termasuk Sang Rasulﷺ. Ini juga fakta Quran. Berarti term يزكي yang dinisbatkan hanya kepada Sang Rasulﷺ ada sesuatu yang special dibanding nabi-nabi yang lain.
    2. Untuk memahami makna istilah يزكي yang dinisbatkan kepada Sang Rasulﷺ (Al-Baqarah 2:151; Al-Baqarah 2:129; Ali Imran 3:164; Al-Jumu’ah 62:2) bisa dibandingkan dengan makna dari istilah يزكي yang juga dinisbatkan kepada ALLH (Al-Baqarah 2:174; Ali Imran 3:77).

    Dengan membaca artikel saya ini, maka saudara-saudara kita umat Kristiani bisa belajar melalui Quran tentang kedudukan dan tugas khusus Sang Rasulﷺ yang tidak dimiliki oleh nabi-nabi lain, termasuk Yesus Kristus. Dengan demikian, umat Kristiani tidak perlu lagi ‘jualan’ tentang Yesus sebagai Sang Penebus dosa kepada kita, karena kita umat Islam sudah punya konsep yang lebih menjanjikan. Artinya, konsep Islam tentang Sang Penghapus dosa lebih menjanjikan dibanding konsep Kristen tentang Sang Penebus dosa. Dan, umat Islam tidak perlu lagi disesatkan dengan ‘iming-iming’ ttng penebusan dosa oleh Yesus Kristus. Quran menyatakan bahwa mereka yang percaya/beriman kepada Sang Rasulﷺ – maka mereka telah terbebas dari semua dosa terdahulu dan terjamin masuk ke dalam sorga melalui syafaat Sang Rasulﷺ. Amal perbuatan baik (amal shalih) bagi seorang Muslim merupakan bukti iman yang akan menempatkan mereka di bagian terbaik dari lapis-lapis tingkatan sorga.

    Jadi, Islam memang tidak mengenal Sang Penebus dosa, tapi Islam mengenal Sang Penghapus dosa/Sang Pembebas dosa, dan ini merujuk pada tugas yang utama dan agung dari Sang Rasulﷺ.

  5. Ajaran Kristen mengenal Sang Juru Selamat, yang disebut Al-Masih (المسيح). Perjanjian Baru menyatakan bahwa Yesus disebut Al-Masih karena sebagai Sang Penebus dosa melalui tiang salib (soteriologi). Sebutan Al-Masih (Orang Yang Diurapi) bagi Yesus merupakan gelar yang khas. Ajaran Penebusan dosa meniscayakan adanya IMAN kepada Yesus dan adanya tindakan “pembebasan dosa DENGAN syarat”, yakni dosa tidak akan dihapuskan tanpa adanya pengganti yang memikul beban dosa itu sendiri, yakni adanya konsep “Dia Yang Menggantikan Demi Pembebasan Dosa.” Inilah yang disebut “konsep substitusi” dalam ajaran Soteriologi. Sementara itu, ajaran Islam juga mengenal Sang Juru Selamat, yang disebut Khatam Al-Nabiyyin (خاتم النبين). Sebutan Khatam Al-Nabiyyin (Meterai Para Nabi) sebagaimana yang termaktub dalam Qs. Al-Ahzab 33:40 merupakan gelar yang khas bagi Sang Rasulﷺ. Gelar khas ini tentu terkait dengan isi Perjanjian Agung yang diikat TUHAN bersama semua nabi-nabi (Qs. Ali Imran 3:81). Quran telah menyatakan bahwa Sang Rasulﷺ sebagai Khatam Al-Nabiyyin memiliki tugas khusus yakni sebagai Sang Penghapus dosa atau “Dia Yang Menyucikan Dosa.” Ajaran Penghapusan dosa meniscayakan IMAN kepada Sang Rasul SAW dan tindakan “pembebasan dosa TANPA syarat”, yakni dosa akan dihapuskan tanpa adanya pengganti yang memikul beban dosa itu sendiri, yakni tidak mengenal adanya konsep “Dia Yang Menggantikan Demi Pembebasan Dosa.” Menurut Quran, pembebasan dosa TANPA syarat itu sangat sederhana. . Sang Rasul ﷺ hanya diperintahkan untuk berkata: לכו בעקבותי אוהבכם יהוה ומוחל לכם על חטאיכם [lechu be ‘iqvotai ohavchem ADONAI u-mochel lachem ‘al chathoeichem], yang artinya: “Ikutlah aku, maka ALLH akan mencintai kalian dan akan mengampuni semua dosa-dosa kalian.” (Ali Imran 3:31). Inilah keunikan masing-masing kedua ajaran agama antara Islam dan Kristen. Jadi, ada Juru Selamat menurut versi Islam, yang bergelar Khatam Al-Nabiyyin; dan ada Juru Selamat yang bergelar Al-Masih. Konsep yang similar, but not exactly the same.
This entry was posted in Interfatith Dialog and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.