Pseudo-Gematria Terkait Analisis תלדת Toldot (Generasi) Ishmael PART 2

Kajian gematria memang amat tidak sederhana bila dibandingkan dengan kajian peshat, meskipun keduanya saling terkait. Dalam tradisi Judaism – kata, frase atau pun ayat dalam teks Torah dapat dikaji berdasar רמז (remez), lit. “allusion” atau pun פשט (peshat), lit. “simple meaning of the verse.” Dalam hal kajian רמז (remez) ini, Rav Yaakov Baal HaTurim menyebut גימטריא (gematria) yang merujuk pada kajian nilai angka (numerical value) sebagai bagiannya [1].

Kajian gematria memang sangat rumit, terutama untuk mengungkap atau pun menguak pesan teks di balik redaksional teks itu sendiri. Kajian gematria, terutama terkait istilah תולדת (toldot) sangat penting dipahami oleh semua penganut agama rumpun Abrahamic, khususnya sebagai sebuah wacana terbuka, yang dapat dipelajari secara akademik demi menjembatani kesalahpahaman di antara penganut agama-agama. Istilah תולדת (toldot) merupakan istilah khas dalam bahasa Ibrani Biblikal, yang kemudian diterjemahkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) dengan istilah “silsilah” atau “riwayat.” Pengertian yang lebih harafiah dari istilah ini dalam bahasa Inggris disebut “the birth” atau dalam bahasa Indonesia disebut “kelahiran” atau “generasi.”

Ada sebuah artikel penting yang dimuat dalam sebuah situs resmi dari salah satu organisasi keagamaan tertentu di Indonesia, yang telah membahas topik ini. Pembahasan mengenai istilah תולדת ( toldot ), terutama mengenai תולדת (toldot) Ishmael ternyata telah dijabarkan secara detail dalam artikel tersebut. Menurut artikel itu, ada beberapa rahasia besar dalam penggunaan term תולדת (toldot) sebagaimana yang termaktub dalam kitab Tanach. Menurut analisis gematria yang mereka paparkan, rahasia תולדת (toldot) tersebut hanya dapat dilihat dalam huruf Ibraninya dan terletak dalam pengejaannya.

RAHASIA 1

Kata atau istilah ini pertama kali muncul di Sefer Bereshit (kitab Kejadian) 2:4.

אֵ֣לֶּה תוֹלְד֧וֹת הַשָּׁמַ֛יִם וְהָאָ֖רֶץ בְּהִבָּֽרְאָ֑ם בְּי֗וֹםעֲשׂ֛וֹת יְהוָ֥ה אֱלֹהִ֖ים אֶ֥רֶץ וְשָׁמָֽיִם׃

Inilah generasi/ silsilah langit dan bumi ketika mereka diciptakan, pada hari dimana saat Hashem menciptakan langit dan bumi (Sefer Bereshit 2:4)

Di dalam ayat ini, kata toldot dieja dengan dua huruf vav (תוֹלְד֧וֹת). Huruf vav (ו) ini adalah sebuah piktografi yang menggambarkan manusia, dengan nilai angka gematria 6. Huruf vav (ו) dalam aksara Ibrani memiliki nilai angka 6. Angka 6 adalah angka manusia atau angka yang “melambangkan” manusia.

Di dalam budaya Yahudi Eropa (Aschenazim) ada sebuah ungkapan yang berbunyi, “Dia adalah seorang Mensch.” Mensch adalah bahasa Yiddish yang berarti “manusia”, tetapi “manusia” yang dimaksud di sini bukanlah sembarang manusia; apalagi merujuk pada manusia yang korup dan jahat. Mensch adalah manusia yang sempurna secara moral dan rohani, persis seperti yang TUHAN ciptakan pada mulanya. Apabila seseorang dikatakan seorang Mensch, maka artinya adalah dia seseorang yang secara rohani dan moral merupakan orang yang terpuji.

Huruf vav (ו) yang tertulis ganda di dalam kata toldot (תולדות) di sini melambangkan manusia jenis Mensch seperti itu. Bukan sembarang manusia. Adanya dua huruf vav (ו) di dalam kata toldot hendak menunjukkan bahwa silsilah manusia hasil “produksi” bumi dan surga ini merupakan orang-orang Mensch, manusia yang sebenarnya. Mengenai istilah “produksi” bumi dan surga, dan apa arti ungkapan ini, silakan membaca artikel “Generasi Surga dan Bumi“). 

RAHASIA 2

Istilah תולדת (toldot) berikutnya dapat dipelajari dalam Sefer Bereshit (Kejadian) 10:1 

וְאֵ֙לֶּה֙ תּוֹלְדֹ֣ת בְּנֵי־נֹ֔חַ שֵׁ֖ם חָ֣ם וָיָ֑פֶת וַיִּוָּלְד֥וּ לָהֶ֛ם בָּנִ֖ים אַחַ֥ר הַמַּבּֽוּל׃

Inilah generasi/ silsilah anak-anak Nuh – Shem, Ham, dan Yafet dan anak-anak yang dilahirkan bagi mereka setelah air bah. (Bereshit 10:1)

Kata toldot yang digunakan disini, kehilangan satu huruf vav (ו) pada suku kata ke-2, dan tertulis (תּוֹלְדֹ֣ת) sehingga hanya ada satu huruf vav (ו) pada suku kata pertama, atau pada awal kata. Hilangnya satu huruf vav (ו) menyatakan kepada kita bahwa generasi manusia yang disebut sesudah ini ternyata tidak semuanya adalah seorang Mensch. Salah satu di antara mereka menjadi manusia yang korup atau jahat. Kita mengetahui bahwa satu di antara anak-anak Nuh, yaitu Ham, rusak kelakuannya, jahat dan menyebabkan ayahnya mengutuk anak Ham. 

Kita dapat melihat ejaan yang sama di Sefer Bereshit 5:1 ketika Taurat menyebutkan silsilah/generasi Adam. Kita tahu bagaimana Kain berlaku jahat dan tidak berlaku sepantasnya sebagai seorang Mensch. Demikian juga ejaan istilah תולדת (toldot) tersebut dapat ditemukan di Sefer Bereshit 11:10 yang merujuk pada silsilah/generasi Shem, ternyata tidak semua anak-anak Shem menjadi Mensch) Begitu juga pada Sefer Bereshit 11:27 ditemukan silsilah/generasi Terah, ternyata tidak semua anak-anak Terah menjadi Mensch. Begitu juga pada Sefer Bereshit 25:19 juga tercantum silsilah Ishak, dua anak kembar, dan yang satu menjadi jahat. Bahkan, pada Sefer Bereshit 37:2 juga terdapat silsilah/ generasi Yakub, dan ternyata tidak semua keturunan Yakub menjadi seorang Mensch. 

RAHASIA 3

Ejaan yang berbeda lagi juga muncul dalam Sefer Bereshit 25:12 yang merujuk pada silsilah/generasi Ishmael.

וְאֵ֛לֶּה תֹּלְדֹ֥ת יִשְׁמָעֵ֖אל בֶּן־אַבְרָהָ֑ם אֲשֶׁ֨ר יָלְדָ֜ה הָגָ֧ר הַמִּצְרִ֛ית שִׁפְחַ֥ת שָׂרָ֖ה לְאַבְרָהָֽם׃

Inilah generasi/ silsilah Ishmael, anak Abraham yang dikandung oleh Hagar orang Mesir itu, pelayan Sarah, bagi Abraham. 
(Sefer Bereshit 25:12)

Dalam ejaan ini, bahkan tidak ada satu pun huruf vav (ו) yang dipakai dalam penulisan term toldot ini, yakni tertulis (תֹּלְדֹ֥ת). Hal ini hendak menunjukkan bahwa hampir mustahil untuk mencari seorang Mensch dari antara keturunan Ishmael. Hal ini semakin dipertegas dengan nubuat TUHAN kepada Hagar, yang menyatakan bagaimana sifat keturunan Ishmael ini nantinya.

וְה֤וּא יִהְיֶה֙ פֶּ֣רֶא אָדָ֔ם יָד֣וֹ בַכֹּ֔ל וְיַ֥ד כֹּ֖ל בּ֑וֹ

“Dia akan menjadi seperti pere adam – tangannya akan melawan tangan semua orang ….”

*****************

SANGGAHAN 1

Generasi ideal yang seluruh keturunannya berkarakter “mensch”, yang ditulis dengan menggunakan huruf vav (ו) ganda, sebagaimana yang tercatat dalam kitab Tanach ternyata faktanya tidak pernah ada. Idealnya, generasi yang seluruhnya berkarakter “mensch”, yakni manusia yang bermoral dan rohaninya sempurna diharapkan pernah ada. Namun, realitasnya keseluruhan silsilah/ generasi yang ideal ini ternyata tidak pernah ditemukan dalam pentas sejarah umat manusia. Bahkan, seluruh keturunan dari generasi/silsilah manusia yang ideal ini tidak pernah tercatat dalam kitab suci, sebagaimana kesaksian teks yang termaktub dalam kitab suci Tanach dan Quran. Tidak adanya kepaduan antara “das sein” dengan “das solen”; atau pun “das solen” yang faktanya tidak sama atau tidak berbanding lurus dengan “das sein”, maka hal ini meniscayakan sebuah kemustahilan. Artinya, dalam seluruh generasi tsb, seluruh manusia (keturunan) yang dilahirkan sebagai mensch, secara nalar – tipe generasi seperti ini tdk mungkin pernah ada. Analisis gematria berdasar pada penggunaan term toldot dengan ejaan huruf vav ganda – תולדות (toldot) yang merujuk pada generasi/silsilah ideal sebagai “mensch” justru membuktikan sebaliknya. Dengan demikian, pernyataan tersebut terbantahkan dengan munculnya term toldot – תולדות – dalam teks kitab suci yang memiliki double huruf vav (ו) tetapi realitasnya dalam silsilah tersebut terdapat generasi yang jahat. Fakta ini dapat dijumpai pada תולדות (toldot) atau generasi Perez, dan ternyata di antara keturunan/generasi Perez justru ada di antara mereka yang berlaku jahat di hadapan Hashem. 

וְאֵ֙לֶּה֙ תּוֹלְד֣וֹת פָּ֔רֶץ פֶּ֖רֶץ הוֹלִ֥יד אֶת־חֶצְרֽוֹן׃

” This is the line of Perez: Perez begot Hezron …. “
(Ruth : 4:18-22). 

Ini berarti, meskipun teksnya menggunakan term toldot dengan double huruf vav, תולדות – ternyata muncul juga generasi yang korup/ berlaku jahat (rasha’), lit. “wicked person”, dan tidak sepantasnya disebut sebagai seorang “mensch”, misalnya Raja Daud yang berzina dengan Batsyeba, istri Uria (2 Samuel 11: 1-27; 2 Samuel 12:1-25). Begitu juga Raja Salomo amat jahat di mata Hashem, dan menyembah ilah-ilah lain (1 Raja 11:5-8). Begitu juga Raja Manasye (2 Raja 21:1-18), Raja Amon (2 Raja 21: 19-26), Raja Yoahas (2 Raja 23: 31-35); ketiga orang ini adalah keturunan Perez yang jahat di mata Hashem. Jadi, meskipun nasab mereka mewarisi darah dari Perez, tetapi mereka termasuk generasi “untermensch” atau rasha’ (manusia rendah). Kemudian, ada satu lagi keturunan Perez yang berkarakter jahat (rasha’) di hadapan Hashem. Bahkan, sudah dikutuk oleh Hashem sendiri, yakni Raja Jechoniah alias Yoyakhin (Yeremia 22:30). 

Jika dikaitkan dengan silsilah Yesus menurut St. Matius, ini artinya bahwa tak ada seorang pun dari antara keturunan Jechoniah yang akan menjadi Messiah. Hal ini berarti mendiskualifikasi nama Yesus sebagai seorang Messiah. Maksudnya adalah Messiah memang harus berasal dari keturunan Daud, tetapi bukan dari nasab Jechoniah. 

St. Matius membiarkan nama Jechoniah dalam daftar silsilah Yesus, kemungkinan besar karena Raja Jechoniah alias Yoyakhin, ternyata namanya memang mirip dengan nama ayahnya, yakni Raja Yoyàkim. 

ו וַיִּשְׁכַּב יְהוֹיָקִים, עִם-jlאֲבֹתָיו; וַיִּמְלֹךְ יְהוֹיָכִין בְּנוֹ, תַּחְתָּיו.

“Kemudian Yoyakim mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya, maka Yoyakhin, anaknya, menjadi raja menggantikan dia.” (2 Raja 24:6)

Begitu tahu nama Jechoniah dikutuk oleh Hashem, St. Matius buru-buru menghilangkan nama Jechoniah. Namun, St. Matius ternyata lupa atau tidak bisa membedakan antara nama Yoyakim dan nama Yoyakhin; maka yang dihilangkan justru nama Yoyakim, yang sebenarnya itu adalah nama sang ayah dari Yoyakhin. Oleh sebab itulah, dengan menghilangkan nama Yoyakim, justru berakibat fatal pada pernyataan St. Matius sendiri dalam daftar silsilah Yesus (Matius 1:17), yang seharusnya jumlah generasi yang dipikirkannya ada 42 orang, ternyata hanya tercatat 41 orang. Awalnya, St. Matius hendak membuat gematria yang berpola 3 sets of fourteen (3 x 14 = 42) sesuai gematria nama דוד (David). Namun, data sejarah yang termaktub dalam kitab Tawarikh tersebut lebih dari 42 generasi, maka St. Matius dengan buru-buru memangkas 3 generasi dari Raja Daud dengan cara membuang 3 nama penting dalam silsilah tersebut. Hal ini tentu saja bertujuan agar jumlah silsilah tidak melebihi hitungan gematria 42, sebagaimana yang dipikirkannya. Namun, kesalahan St. Matius tetap berlanjut, dia terburu-buru membuang nama Jechoniah yang dikutuk Hashem, tetapi justru dia keliru – yang dibuang malah sebaliknya, yakni nama ayah dari Raja Jechoniah, yang bernama Raja Yoyakim, tanpa memikirkan akibatnya. Jadi, dengan membuang nama Raja Yoyakim, maka jumlah generasi yang dicatatnya hanya berjumlah 41 orang, bukan 42 orang. Keteledoran catatan St. Matius ini menjadi ahistoris dan tidak sesuai dengan gematria yang ditetapkannya sendiri, yakni dengan merujuk pada nama דוד (David) yang terdiri atas 3 huruf Ibrani yang numeriknya bernilai 14, sehingga total generasi seharusnya berjumlah 42 orang. 

Jadi, kasus misidentifikasi St. Matius terhadap tokoh Raja Yoyakim dan Raja Yoyakhin ini sangat menarik; meskipun namanya mirip dengan nama ayahnya, bukan berarti karakternya mirip dengan karakter ayahnya. Itulah sebabnya, Hashem menjatuhkan kutukan kepada Raja Yoyakhin, putra Raja Yoyakim, yang juga tertulis dalam nas kitab suci Tanach.

“Beginilah firman TUHAN: “Catatlah orang ini sebagai orang yang tak punya anak, sebagai laki-laki yang tidak pernah berhasil dalam hidupnya; sebab seorangpun dari keturunannya tidak akan berhasil duduk di atas takhta Daud dan memerintah kembali di Yehuda.” (Yeremia 22:30).

SANGGAHAN 2

Manusia yang berkarakter “mensch” untuk generasi jenis kedua ini, merupakan hal yg wajar, dan bisa diterima secara nalar. Ada tipe manusia yang disebut “ubermensch” (manusia unggul) atau tzadiq (righteous person) dan ada juga tipe manusia yang disebut “untermensch” (manusia rendah) atau rasha’ (wicked person). Dalam Sefer Bereshit 25:19 terkait generasi/silsilah Isaac, ternyata tertulis term toldot dengan ejaan kehilangan satu huruf vav, yakni tertulis תולדת (toldot), dan Esau sendiri sebenarnya dianggap sebagai keturunan Isaac yang berlaku jahat, yakni berkarakter rasha’ (wicked person), atau Esau dapat juga disebut sebagai “untermensch” (manusia rendah).

Namun, meskipun Edom (Esau) yang dicitrakan buruk dan jahat, ternyata pada תלדות (toldot) yakni silsilah generasi keturunannya, ditulis dengan menggunakan 1 huruf vav (ו); hal ini mengindikasikan bahwa di antara keturunan Esau akan ada generasi yang baik (ubermensch) dan ada pula generasi yang buruk (untermensch). Bahkan, pada generasi/ keturunan Edom, ada pula di antara mereka yang menjadi nabi-nabi, di antaranya Ayub, Elihu, Eliphaz, Bildad dan Zophar. Ini menjadi bukti bahwa di antara keturunan Esau ada generasi yang unggul, atau “ubermensch” atau “tzadiqim” (righteous persons). 

Pola silsilah/ generasi Esau menggunakan ejaan תלדות (toldot) dengan disertai 1 huruf vav (ו) sebagaimana pola silsilah/ generasi Yakub juga menggunakan ejaan תלדות (toldot) dengan disertai 1 huruf vav (ו). 

וְאֵ֛לֶּה תֹּלְד֥וֹת עֵשָׂ֖ו ה֥וּא אֱדֽוֹם׃

This is the line of Esau — that is, Edom.
(Sefer Bereshit 36:1).

אלה תלדות יעקב 

This is the line of Jacob (Sefer Bereshit 37:2)

Pola ejaan penulisan תלדות (toldot) pada generasi Esau dan Yakub mengindikasikan bahwa di antara keturunan mereka masing-masing akan muncul keturunan yang bertipe ubermensch (manusia unggul), dan ada juga dari antara keturunan mereka yang bertipe untermensch (manusia rendah) yang berlaku jahat. 

Siapakah Edom? Edom adalah nama lain dari Esau, dan generasi Esau tentu bukanlah generasi Yakub, karena keduanya merujuk pada 2 person yang berbeda. Namun, di antara keturunan Yakub dan keturunan Esau – akan muncul manusia-manusia yang menjadi nabi-nabi, dan di antara keturunan Yakub dan keturunan Esau – juga muncul manusia-manusia yang berkarakter jahat, untermensch (manusia rendah), atau pun rasha’ (wicked person). Itulah sebabnya term yang digunakan dalam toldot Yakub dan toldot Esau tersebut sepadan, yakni ejaannya hanya menggunakan 1 huruf vav (ו) saja, yakni תלדות. 

Raymond P. Scheindlin, a Professor of Medieval Hebrew Literature at the Jewish Theological Seminary of America explained that Job was a non-Israelite, probably as an Edomite, since Utz, Job’s homeland is connected elsewhere in the Bible with Edom, the desert territory to the Southeast of the Dead Sea; so also his friends, Zophar, Eliphaz Elihu and Bildad were non-Israelites, [2]

Begitu juga Rashi, dalam bukunya Perush ‘al ha-Torah, khususnya Sefer Devarim (kitab Ulangan) 33:2, ternyata dalam penjelasannya sang Rabbi berkata demikian: 

וזרח משעיר למו שפתח לבני עשו שיקבלו את התורה ולא רצו ספרי:
הופיע להם מהר פארן שהלך שם ופתח לבני ישמעאל שיקבלוה ולא רצו ספרי:
ואתה לישראל

Ve zarach mis-Seir lamo sheffatach le b’nei Esau sheyyeqabelu et hat-Torah ve lo ratzu sifrei. Hofi’a lahem saya Har Paran, shehalach sham u-fatach li b’nei Yishmael sheyyeqabbeluha ve lo ratzu sifrei. Ve atah le Yisrael.

("dan Dia Yang Maha Kudus muncul dari Seir kepada mereka. Maksudnya, Dia mempersembahkan kitab Torah kepada keturunan Esau penduduk Seir, bahwa mereka harus menerima Taurat, tetapi mereka tidak ingin melakukan isi kitab suci tersebut. Dia Yang maha Kudus bersinar kepada mereka dari gunung Paran. Maksudnya, Dia kemudian pergi ke sana dan mempersembahkan kitab Torah kepada keturunan Ismael, dan mereka harus menerimanya, tetapi ternyata mereka tidak berkeinginan untuk melakukannya kitab suci tersebut. Dan akhirnya, Dia Yang Maha Kudus datang kepada Israel ").

Komentar yang dikutip oleh Rashi dari teks Midrash ini penting untuk dipahami bahwa sejak semula Hashem sangat peduli kepada keturunan Esau. Namun, ada beberapa pertanyaan kritis berkaitan dengan kepeduliaan Hashem terhadap keturunan Esau tersebut. Pertama, mengapa sejak semula Hashem sangat peduli terhadap keturunan Esau (b’nei Esau) terutama berkaitan dengan anugerah pewahyuan Torah? Kedua, apakah hal ini ada kaitannya dengan rahasia penulisan תלדות (toldot) dengan ejaan 1 huruf vav (ו) yang meniscayakan adanya keturunan Esau, yakni בני עשו (b’nei Esau) yang nantinya akan menjadi nabi-nabi atau generasi keturunan Esau yang memiliki karakter ubermensch (manusia unggul)? Ketiga, mengapa sejak semula Hashem tidak peduli terhadap keturununan Yakub terkait anugerah pewahyuan kitab Torah dan justru yang dipedulikan lebih awal oleh Hashem adalah keturunan Esau? Keempat, teks Midrash tersebut menjadi bukti kuat, sebagaimana Hashem peduli terhadap keturunan Yakub, maka Hashem juga peduli terhadap b’nei Esau atau keturunan Esau. Kelima, bukankah Esau (Edom) dianggap sebagai manusia yang berkarakter jahat di mata Hashem tetapi mengapa keturunan/generasi Esau (b’nei Esau) dipedulikan oleh Hashem? Keenam, apakah kepeduliaan Hashem terhadap keturunan Esau (b’nei Esau) sebagaimana yang tercatat dalam teks Midrash itu mengisyaratkan adanya pewahyuan lain selain Torah kepada b’nei Esau?

Dalam karya monumental berbahasa Judeo-Arabic, RAMBAM pernah menulis surat kepada kaum Yahudi diaspora di Yaman tentang asal-usul identitas Ayub.

לאן איוב וצופר ובלדד ואליפז ואליהוא כלהם ענדנא אנביא ואן כאנו ליס מן ישראל (אגרת תימן)

Lianna Ayyub wa Shofar wa Bildad wa Elifaz wa Elihu kulluhum ‘indana Anbiya’ wa kanu laysa min Yisroil.

“Sesungguhnya Ayub, Zofar, Bildad, Elifaz, dan Elihu, mereka semuanya adalah Nabi-nabi, meskipun nasab mereka bukan keturunan Israel” (Iggeret Teyman)  [3]

Penjelasan RAMBAM dalam suratnya kepada orang-orang Yaman (Iggeret Teyman), dia berkata: “Ayub dan teman-temannya Tzofer, Bildad, Elifaz dan Elihu – mereka semua nabi-nabi yang telah menerima misi kenabian meskipun mereka nasabnya bukan keturunan Yahudi.” Apakah menurut RAMBAM, semua nabi-nabi yang disebut dalam Iggeret ha-Teyman, yakni Ayub, Tzofer, Bildad, Elifaz dan Elihu, mereka adalah para nabi dari keturunan Ham atau keturunan Shem? Apakah mereka keturunan Ishmael? Apakah mereka keturunan Esau? Penjelasan RAMBAM ini diperkuat dengan pernyataan Raymond P. Scheindlin, seorang Profesor Sastra Ibrani Abad Pertengahan di Seminari Teologi Yahudi Amerika juga menjelaskan bahwa Ayub adalah seorang non-Israel, mungkin sebagai orang Edom, karena Utz, tanah kelahiran Ayub terkait dengan tempat lain, yang dalam Alkitab disebut dengan wilayah Edom, yakni wilayah gurun yang terletak di arah tenggara kawasan Laut Mati; begitu juga teman-temannya, Zophar, Eliphaz Elihu dan Bildad adalah orang-orang non-Israel,  [4]

Dengan demikian, teks Torah dan teks Midrash telah membuktikan bahwa Hashem telah mengutus Musa sebagai seorang nabi dari antara keturunan Israel, dan Hashem juga mengutus Ayub sebagai seorang nabi dari antara keturunan Esau. 

SANGGAHAN 3

Menurut Sefer Bereshit 25:12 penulisan toldot yang merujuk pada generasi/silsilah Ishmael memang ejaan penulisannya tanpa menggunakan 1 pun huruf vav (ו), yakni tertulis תלדת (toldot). Fakta tekstual ejaan penulisan תלדת (toldot) seperti ini juga muncul terkait silsilah/ generasi keturunan Lewi. 

Berikut generasi menurut keturunan Lewi.

וְאֵ֨לֶּה שְׁמ֤וֹת בְּנֵֽי־לֵוִי֙ לְתֹ֣לְדֹתָ֔ם גֵּרְשׁ֕וֹן וּקְהָ֖ת וּמְרָרִ֑י וּשְׁנֵי֙ חַיֵּ֣י לֵוִ֔י שֶׁ֧בַע וּשְׁלֹשִׁ֛ים וּמְאַ֖ת שָׁנָֽה׃

These are the names of Levi’s sons by their lineage: Gershon, Kohath, and Merari; and the span of Levi’s life was 137 years.( Exodus 6:16).

וּבְנֵ֥י מְרָרִ֖י מַחְלִ֣י וּמוּשִׁ֑י אֵ֛לֶּה מִשְׁפְּחֹ֥ת הַלֵּוִ֖י לְתֹלְדֹתָֽם׃

The sons of Merari: Mahli and Mushi. These are the families of the Levites by their lineage.
(Exodus 6:19).

Dalam penulisan generasi/ keturunan Ishmael memang menggunakan ejaan toldot ( תלדת) tanpa ada satu pun huruf vav (ו). Namun, apakah hal ini membuktikan bahwa generasi/ keturunan Ishmael semuanya korup dan jahat atau “untermensch”? Dalam penulisan generasi/ keturunan Lewi juga menggunakan ejaan toldot (תלדת) tanpa ada satu pun huruf vav (ו). Apakah itu juga berarti bahwa generasi/keturunan Lewi yang mayoritas adalah generasi Kohen ha-Gadol dapat disebut bahwa mereka semua sebagai generasi yang korup dan jahat atau manusia bertipe “untermensch” (manusia rendah), hanya berdasar pada alasan sederhana, yakni karena dalam penulisan toldot-nya tidak dijumpai satu pun huruf vav (ו)? Fakta yang lebih mengejutkan lagi berdasarkan Tanach (1 Tawarikh 1:29), ternyata penulisan “toldot” Ishmael juga berpola ejaan תלדות (toldot), yakni dengan menggunakan 1 huruf vav (ו). Hal ini justru membuktikan bahwa di antara keturunan/ generasi Ishmael akan muncul tipe generasi ubermensch (manusia unggul) dan sekaligus juga akan muncul tipe generasi untermensch (manusa rendah), sebagaimana generasi Yakub, yang ejaan penulisan toldot-nya dengan menggunakan 1 huruf vav (ו) saja, yakni תלדות (toldot). 

אלה תלדות יעקב 

This is the line of Jacob (Sefer Bereshit 37:2). 

Silakan Anda secara jujur membandingkan pola ejaan penulisan תלדות יעקב (toldot Yakub) dalam teks Sefer Bereshit 37:2 dengan pola ejaan penulisan תלדותם בני ישמעאל (toldotem b’nei Yishmael) sebagaimana nas yang termaktub dalam Tanach (1 Tawarikh 1: 29). 

אֵ֖לֶּה תֹּלְדוֹתָ֑ם בְּכ֤וֹר יִשְׁמָעֵאל֙ נְבָי֔וֹת וְקֵדָ֥ר וְאַדְבְּאֵ֖ל וּמִבְשָֽׂם׃

This is their line: The first-born of Ishmael, Nebaioth; and Kedar, Abdeel, Mibsam.” (1 Tawarikh 1:29).

Para pembaca seharusnya juga bernalar secara kritis, terutama berkaitan dengan pola perbedaan ejaan penulisan “toldot” dalam teks Sefer Bereshit 25:12 menurut versi Masoretic Torah dan versi Samaritan Torah. Ejaan yang berbeda dalam kedua versi Torah tersebut, terkait teks Sefer Bereshit 25:12, yakni mengenai silsilah/ generasi Ishmael, memang sangat penting dikaji dalam hal ortografinya.

Menurut versi Masoretic Torah, ortografi penulisan kata תלדת (toldot), ternyata tidak disertai dengan penggunaan huruf vav (ו). Sebaliknya, menurut versi Samaritan Torah, ortografi penulisan kata תולדת (toldot) justru disertai dengan penggunaan huruf vav (ו). Demikianlah corak ortografis kedua versi Torah tersebut dapat dikaji oleh para pembaca.

1. Masoretic Torah version, tanpa menggunakan huruf vav.  [5]

וְאֵ֛לֶּה תֹּלְדֹ֥ת יִשְׁמָעֵ֖אל בֶּן־אַבְרָהָ֑ם אֲשֶׁ֨ר יָלְדָ֜ה הָגָ֧ר הַמִּצְרִ֛ית שִׁפְחַ֥ת שָׂרָ֖ה לְאַבְרָהָֽם׃

2. Samaritan Torah version, dengan menggunakan huruf vav. 

וְאֵ֛לֶּה תֹּולְדֹ֥ת יִשְׁמָעֵ֖אל בֶּן־אַבְרָהָ֑ם אֲשֶׁ֨ר יָלְדָ֜ה הָגָ֧ר הַמִּצְרִ֛ית שִׁפְחַ֥ת שָׂרָ֖ה לְאַבְרָהָֽם׃

“Inilah generasi/ silsilah Ishmael anak Abraham yang dikandung oleh Hagar orang Mesir itu, pelayan Sarah, bagi Abraham. (Sefer Bereshit 25:12),

Dalam ejaan versi teks Masoret (Masoretic Torah), memang tidak ada satu pun huruf vav (ו) yang digunakan, “toldot” (תֹּלְדֹ֥ת). Sebaliknya, ejaan versi teks Samaria (Samaritan Torah) justru huruf vav (ו) digunakan dalam penulisan ortigrafisnya, “toldot” (תולדת). Dengan membandingkan kedua pola ejaan/ ortografis menurut kedua versi Torah tersebut, maka analisis terhadap nas Sefer Bereshit 25:12 justru tidak relevan.

Rashi telah menjelaskan bahwa Ishmael adalah “orang benar”, yang berkenan di hadapan Hashem. Ishmael bukanlah seseorang yang berkarakter korup atau pun jahat, yang dalam bahasa Jerman disebut “untermensch” (manusia rendah), sebagaimana yang dituduhkan oleh sebagian orang. Ishmael adalah manusia bertipe “ubermensch” atau “the righteous man.” Sefer Bereshit 25:17

ואלה שני היי ישמעאל מאת שנה ושלשים שנה ושבע שנים ויגוע וימת ויאסף אל עמיו : 

Ve elleh shenei chayye Yishma’el meat shanah u-sheloshim shanah ve sheva’ shanim vay-yigva’ vay-yamat vay-yeasef el ‘ammaiv (Sefer Bereshit 25:17).

“These were the years of Ishmael’s life: a hundred years and thirty years and seven years, and he expired and he died, and was brought in to his people.”

Berdasarkan pada nas ayat Tanach tersebut, Rashi dalam “Parashas Chayei Sarah, Sefer Bereshit 24:17 beliau menjelaskan bahwa frase Ibrani yang berbunyi: vay-yigva’ (ויגוע), merujuk kepada Ishmael sebagai orang saleh (the righteous), ישמעאל הצדיק (Yishma’el ha-Tzadiq), lit. “Ishmael the Righteous”, karena Ishmael sendiri sebagai salah satu dari antara kumpulan orang-orang saleh, yakni Tzadiqim (צדיקים). Rashi berkata: ויגוע (vay-yigva’) lit. “and he expired” – lo ne’emrah gevi’ah elle be-tzadiqim (לא נאמרה גויעה אלא בצדיקים), lit. “expiring is not stated in Scripture except regarding the righteous.  [6]

Talmud Bavli, Baba Bathra 75b juga menjelaskan tentang kemuliaan orang saleh, הצדיק (ha-tzadiq) yang diciptakan oleh Hashem berdasar pada nama suci-Nya: “Three things were created on the basis of the name of the Holy One, צדיקים (tzadiqim), lit. “the Righteous”, המשיח (ha-Moshiach), lit. “the Messiah”, וירושלים (ve Yerushalayim), lit. “and Jerusalem (Talmud Bavli, masechet Baba Bathra 75b). ישמעאל (Yishmael) adalah orang saleh, seorang “ubermensch”, sebagaimana Messiah, keduanya diciptakan berdasar pada kemuliaan nama suci-Nya. Itulah sebabnya nama Ishmael disebut dengan namanya sebelum dia diciptakan. 

ששה נקראו בשמותן עד שלא נולדו. ואלו הן יצחק, וישמעאל, ומשה רבנו, ושלמה, ויאשיהו, ושמו של משיח

Shishshah niqreu bi-shemotan ‘ad shello noladu, ve ellu hen, Yitzhaq, ve Yishma’el, u-Moshe Rabbenu, u-Shlomoh, ve Yoshiyyahu, u-shemo shel ha-Moshiach

Six peoples were called by their names before they were begotten, and they are Isaac, Ishmael, Moses, Solomon, Josiah, and the name of King Messiah. [7]

Tanach juga mencatat generasi/ keturunan Ishmael yang bertipe manusia yang disebut “ubermensch” di antaranya: Yeter orang Ishmael (1 Tawarikh 2:17). Yeter memperanakkan Amasa, panglima tentara Israel dan keponakan Raja Daud. Hal itu berarti bahwa seorang dari keturunan Ishmael telah menikah dengan salah seorang putri keluarga Daud. Hal itu didukung oleh kasus Obil orang Ishmael, yang dipercaya oleh Raja Daud dan mengawasi unta-unta milik Raja Daud (1 Tawarikh 27:30-33).

Jadi pada intinya analisis thd frase תולדות -תלדות – תלדת adalah analisis yang tidak tepat dan terlalu gegabah. Marilah kita berpikir kritis dan tidak mengedepankan prasangka yang chauvinistic.

Footnotes:

  1. See Rabbi Nosson Scherman. Baal HaTurim Chumash. Bereishis/ Genesis (Brooklyn, New York: Mesorah Publications, Ltd., 2013), p. xvi. 
  2. See Raymon P. Scheindlin. “The Book of Job. Translation, Introduction and Notes (New York – London: W.W. Norton & Company, 1998), pp. 11-13.
  3. Lihat karya Abraham S. Halkin. Moses Maimonides’ Epistle to Yemen. The Arabic Original and The Three Hebrew Versions. Edited from Manuscripts with Introduction and Notes (New York: American Academy for Jewish Research, 1953), hlm. 50-52
  4. Lihat Raymon P. Scheindlin. “The Book of Job. Translation, Introduction and Notes (New York – London: W.W. Norton & Company, 1998), hlm. 11-13.
  5. See Mark Shoulson. The Torah: Jewish and Samaritan Versions Compared (New Jersey, USA: Evertype, 2008), p.63. 
  6. See Rabbi Yisrael Isser Zvi Herczeg. Phirush Rashi. Bereishis/Genesis. The Torah with Rashi’s Commentary, Translated, Annotated and Ellucidated (Brooklyn, New York: Mesorah Publications, Ltd., 1999), p.269.
  7. See Rav Eliezer. Pirke de Rav Eliezer ‘im be-Ur hab-Bayit hag-Gadol (Yerushalayim: Eshkol, 1965), p. 108
This entry was posted in Biblical Studies, Talmudic literature and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply