Sejarah Yang Terlupakan Part  3

Shalom ‘aleychem
Assalamu ‘alaykum
 בסמלל  אלרחמן  אלרחים
Sejarah Yang Terlupakan
Part  3
By: Menachem Ali
Adanya benang merah antara narasi kitab Talmud dan Injil Matius terkait person yang sama yang merujuk kepada pribadi Yesus,  merupakan suatu kajian yang amat menarik. Apalagi benang merah itu  bukan merujuk pada  person yang berbeda, terutama berkaitan dng status Yesus. Kita harus paham betul tentang apa yang sedang dipikirkan Yusuf  dan motif apa yang melatarinya sehingga ia ingin menceraikan Maria yang dalam kondisi hamil (Matius 1:9). Yusuf berkeyakinan tentang adanya peristiwa perzinahan, ada orang lain yang telah menghamili Maria, dan kehamilan itu menjadi bukti bahwa Maria tidak setia kepada suaminya. Hal ini sejajar dng informasi Talmud yang menyebut Yeshu putera Stada, yakni Yeshu anak dari Stada (Satit da mi ba’alah – yang artinya:  Yeshu anak dari wanita yang tidak setia kepada suaminya, Talmud Bavli, juz Nezikin – traktat 67a ). Tidak ada dalam catatan di luar Talmud atau pun catatan di luar Injil mengenai tokoh historis personal Yesus yang lain (another Jesus) yang terkait dng tokoh Stada (Satit da mi ba’alah), kecuali tokoh sentral yang termaktub dalam PB. Tokoh yang disebut Stada juga tidak pernah eksis dalam catatan sejarah manapun kecuali dalam kitab-kitab Rabbinic yang ditujukan kpd manusia historis yang bernama Yeshu dan Maria istri Yusuf, sebagaimana yang tercatat dalam Injil Matius.
Dalam Talmud  Bavli juga disebut  seseorang yang bernama  Yeshu ben Panthera, dan Yeshu ben Panthera ini disalib pada perayaan Paskah karena didakwa melakukan sihir dan menyesatkan banyak orang Israel (Talmud Bavli, juz Nezikin – traktat 43a). Teksnya berbunyi:
” Pada Sabbat perayaan Paskah, Yeshu orang Nazaret digantung di kayu salib, sebab selama 40 hari sebelum eksekusi dijalankan, muncul seorang pemberita yang mengatakan: ” Inilah Yeshu ha-Notzri yang akan dirajam dng batu sebab dia telah mempraktekkan sihir dan magis yang mempengaruhi orang-orang Israel agar murtad. Barang siapa dapat mengatakan sesuatu utk membelanya hendaklah tampil dan membelanya.” Namun, karena tidak ada seorang pun yang tampil untuk membelanya, dia pun digantung di kayu salib pada saat perayaan Paskah. ” 
Berdasarkan teks Talmud ini, peristiwa penyaliban yang didakwakan kpd sang tokoh yang bernama Yeshu ha-Notzri (Yesus orang Nazaret) ternyata terkait dng praktek sihir dan magis yang mempengaruhi bangsa Israel murtad. Sebenarnya, tindakan sihir dan tindakan mukjizat hanyalah pembeda  istilah,  yang hakekatnya sama, yang keduanya  sebenarnya  mengacu pada karya keajaiban. Karya ajaib itulah yang menyebabkan Yeshu disalib pada perayaan Paskah menurut Talmud, dan dng  karya ajaib itu pula yang menyebabkan Yeshu disalib pada perayaan Paskah menurut catatan Injil (PB). Bahkan Flavius Josephus pun mencatat sang tokoh Yesus yang disalib pada perayaan Paskah ini juga  melakukan karya yang dianggap ajaib oleh para pengikutnya, tetapi akhirnya dia dihukum mati, dan para pengikutnya menyebutnya sebagai Kristus. Silakan Anda yang penasaran dng narasi sejarawan Abad 1 M tersebut agar  membaca the works of Josephus. Menariknya,  mata rantai narasi ketokohan yang sama, yakni Yeshu yang melakukan karya ajaib dan akhirnya  dijatuhi hukuman salib pada perayaan Paskah ternyata juga  tercatat secara linear dalam Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas, Injil Yohanes, Talmud Bavli dan karya Flavius Josephus. Tidak ada tokoh Yeshu lain dalam catatan sejarah manapun yang disalibkan gara2 perbuatan karya ajaib itu kecuali sang tokoh sentral dalam PB. 
Fakta sejarah juga membuktikan bahwa kitab Talmud mengalami pembakaran besar2an di Eropa. Bila kitab Talmud tidak ada hubungannya dng tokoh Yesus versi PB, maka tidak ada alasan yang bisa dibenarkan atas peristiwa pembakaran secara besar-besaran terhadap kitab Talmud tersebut. Paus Gregory IX memerintahkan pembakaran secara besar-besaran atas seluruh kitab Talmud tahun 1240 di Paris. Juga dekrit Paus Clement IV tahun 1264  memerintahkan  hal yang sama. Begitu juga para Paus yang lainnya. Jadi sangat tidak bisa dinalar bila kasus pembakaran terhadap  kitab Talmud  tersebut tidak ada  hubungannya dng Yesus dari Nazaret. Apalagi dalam Talmud Bavli secara tegas menyebut nama Yeshu ha-Notzri (Yesus orang Nazaret).  Silakan baca buku the Essential Talmud by Adin Steinsaltz. khususnya sub-topik: the persecution dan banning of the Talmud, hal. 81- 85. Karena alasan pembakaran kitab Talmud secara masif itulah, maka para Rabbi Abad Pertengahan mengeluarkan kebijakan untuk merevisi Talmud terkait ungkapan redaksional yang terlalu vulgar dan diganti dng ungkapan redaksional yg lebih soft, terutama yg ada kaitannya dng simbol-simbol kekristenan. Orang yang menekuni varian2 redaksional dalam teks Talmud akan memahami tentang perbedaan teks dan latar apa yang menyebabkan kemunculan varian teks  tsb. Misalnya teks Talmud tertua tertulis ‘Kutukan bagi kaum Notzrim (Kristen), tetapi versi terbaru lebih soft tertulis ‘Kutukan bagi kaum Minim (Bid’ah) dan tidak  menyebut nama  Notzrim (orang Kristen) secara terus terang dan vulgar. Namun, sebenarnya  para rabbi  tahu siapa yang dimaksud kaum Minim itu sebagaimana para rabbi juga tahu siapa yang dimaksud Yeshu putera Stada dan Yeshu ben Panthera sebagaimana yang tercatat dalam Talmud tersebut.
Penyebutan frase Yeshu ha-Notzri (Jesus of Nazaret) sebagaimana yang tercatat dalam Talmud ( Talmud Bavli – traktat B’rachot 17b dan traktat Sotah 47a) dan penyebutan ungkalan  Yimach shemo ve zichro (semoga namanya dilenyapkan) yang merupakan akronim  yang ditujukan kpd  nama Yeshu, maka ini sbg indikasi kuat bahwa tidak ada tokoh historis lain yang bernama Yeshu yang sangat dicaci kecuali merujuk kpd Yeshu ha-Notzri. Adakah tokoh Yesus yang lain dari Nazaret yang lahir era pra-Kristen selain Yesus yg disebut Kristus? Adakah tokoh Yesus yang lain dari Nazaret yang lahir pada era pasca-Kristen selain Yesus yang disebut Kristus?  Jawabannya pasti nihil.
” No wonder that faithful Jews tabooed the name of Jesus and spoke instead of ‘the nameless one’ or ‘that one.’  When they had to use his name – as they were occasionally compelled to do by Church authorities – they transcribed it as the acronym of the biblical curse “Yimach shemo ve zichro ” (May his name and his memory be blotted (Psalms 109:13; Deuteronomy 9:14). ” see Israelis, Jews and Jesus by Pinchas Lapide, pp. 99-100
Jadi kesimpulannya, kitab Talmud tidak pernah membicarakan ttng Yesus yang lain (another Jesus) kecuali merujuk kpd Jesus of the New Testament yang melakukan perbuatan sihir dan menyesatkan bangsa Israel, sehingga dia dihukum salib pada perayaan Paskah.
Selain didakwa mengajarkan sihir dan magis, Yeshu juga dianggap telah menyimpang ajarannya, terkait dua pilar utama (1) pengajaran  Emunah (Aqidah) yang dianggap menyimpang dan (2) pengajaran Halacha (Syariat) yang juga dianggap menyimpang. Contoh sederhana,  Yesus mengajarkan penyimpangan 2 pilar utama tersebut di antaranya:
1. Penyimpangan Emunah (Aqidah) yang mengajarkan Trinitas, yang  bertentangan dng pilar utama dalam Tauhid agama Yahudi. Yesus berkata: ” ….. dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. ” (Matius 28:19).
2. Penyimpangan Halacha (Syariat) yang mengajarkan tidak berlakunya kembali kiblat Bait Suci di Yerusalem  (Baytul Maqdis) dan sekaligus merevisi pemindahan kiblat itu kepada dirinya sebagai Bait Suci yang baru. Yesus berkata: ” Rombak Bait Allah ini dan dalam 3 hari Aku akan mendirikannya kembali.”  Lalu kata orang Yahudi kepadanya: ” Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?” Tetapi yang dimaksudkannya dengan Bait Allah itu ialah tubuh-Nya sendiri (Yohanes 2:19-21; Matius 26: 41-42).
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *