Sejarah Yang Terlupakan Part 6

Shalom ‘aleychem
Assalamu ‘alaykum

Yeshu (ha-Notzri) ben Panthera

Penyebutan istilah ha-Notzrim, yakni followers of the man of Nazareth – para pengikut orang Nazareth – termaktub dalam kitab Perjanjian Baru (Kisah Para Rasul 24:5). Konteks ayat tersebut sebenarnya berkaitan dng figur Paulus sebagai seorang tokoh sentral dari komunitas הנצרים (ha-Notzrim, sekte orang Nasrani). Sementara itu, nama Yeshu yang bergelar ha-Notzri sebagai nama tokoh sentral juga termaktub dalam kitab Talmud (B’rachot 17b, Sotah 47a). Sebutan ha-Notzri bukanlah nama seseorang, tetapi merujuk pada asal wilayah seseorang. Itulah sebabnya dalam kitab Talmud, sang tokoh disapa dng sebutan populer Yeshu ha-Notzri (Jesus of Nazareth), sebagaimana yang tertulis dalam kitab PB (Injil Lukas 18:37).

Ada satu hal yang sangat menarik berkaitan dengan status Yeshu ha-Notzri – Yesus orang Nazaret – yang dituduh oleh orang-orang Yahudi pada zamannya sebagai anak zinah dng menggunakan ungkapan khas kultur Semitik. Dalam teks Peshitta, yakni kitab Perjanjian Baru berbahasa Syro-Aramaic, nas Yohanes 8:41 tertulis demikian: חנן מן זניותא לא הוין (chanan min zaniuta lo hawayn) sejajar dng teks Perjanjian Baru terjemahan bhs Ibrani, yang berbunyi: אנחנו לא נולדנו מזנות (Anahnu lo noladnu mi zenut), yang artinya: ” Kami tidak dilahirkan dari zinah.” Istilah זנות (zenut) sejajar dng term Yunani ‘porneias’ yang bermakna ‘zinah’ sebagaimana yang termaktub dalam nas Yohanes 8:41, kitab Perjanjian Baru versi teks Greek New Testament (GNT). Istilah porneias dalam term Yunani, menurut Cleon L. Rogers JR dan Cleon L. Rogers III dalam karyanya The New Linguistic and Exegetical Key to the Greek New Testament bermakna fornication, unlawful sexual relation (Michigan: Zondervan Publishing House, 1998), hal. 203.

Ungkapan bergaya satire ” Kami tidak dilahirkan dari zinah” sebenarnya bukan ditujukan kepada mereka yang mengungkapkan ungkapan itu, tetapi sebaliknya – yakni ditujukan kepada lawan bicara. Ungkapan satire yang menyasar kepada Yesus yang dituduh oleh orang-orang Yahudi sebagai anak zinah tersebut juga dibenarkan oleh para pakar Alkitab. Silakan Anda baca tulisan Leon Morris, the Gospel According to John. Revised Edition. The New Inter ational Commentary on the New Testament (Cambridge, UK: William B. Eerdmans Publishing Company, 1995), hal. 409 ketika membahas Yohanes 8:41, dia menjelaskan:

” They answer that they are not illegitimate children which is a very curious response. They may be reviling Jesus. While they would not have given countenance to the Christian doctrine of the Virgin Birth, the Jews may well have known that there was something unusual about the birth of Jesus and have chosen to allude to it in this way. There was of course a Jewish slander that Jesus was born out of wedlock (see the passage cited in R. Travers Herford, Christianity in Talmud and Midrash (London, 1903, p. 35ff).

Pembacaan James D. Tabor terhadap teks Nag-Hammadi, khususnya the Gospel of Thomas, dalam karyanya berjudul The Jesus Dynasty (New York: Simon & Schuster, 2006), hal. 63 mengutip Sabda Yesus no. 105, teksnya berbunyi:

” One who knows his father and his mother will be called the son of whore.” Tatkala memahami Sabda Yesus no. 105 tersebut, James D. Tabor menyatakan: “many scholars have found in this crytic saying an echo of the ugly label that Jesus had faced throughout his life – namely that his mother Mary had become pregnant out of wedlock. The Gospel of Thomas has no birth stories or references to Joseph or to the virgin birth here in this text we appear to have some reflection of the illegitimacy story.”

Begitu juga Amy-Jill Levine and Marc Zvi Brettler dalam bukunya The Jewish Annotated New Testament (New York: Oxford University Press, 2011), hal. 176 tatkala menjelaskan teks Yohanes 8:41, keduanya menjelaskan dan sekaligus mengutip pernyataan dari Bapa Gereja kuno yang bernama St. Origin:

” We are not illegitimate, perhaps an implied contrast to Jesus’ supposed illegitimacy (Origin, Cels 1.28). Selain itu, pakar Alkitab dari kalangan Kristen Messianik yang bernama David H. Stern dalam bukunya Jewish New Testament Commentary: A Companion Volume to the Jewish New Testament, ketika menjelaskan Yohanes 8:41 dia bahkan secara tegas mengatakan: ” We are not illegitimate children, like you (implied)! Apparently they knew something about unusual circumstance of Yeshua’s birth. ” (Clarksville, USA: Jewish New Testament Publications, 1992), hal.183.

Marc Zvi Brettler dan David H. Stern keduanya terlahir dari kultur Ibrani. Keduanya pasti paham betul tentang suatu maksud di balik ekspresi ungkapan Ibrani itu. Apalagi ungkapan Ibrani yang bernada ejekan itu faktanya diucapkan oleh orang-orang Yahudi di hadapan Yesus – face to face. St. Origin, salah seorang Bapa Gereja kuno juga meneguhkan hal tsb sebagai ungkapan yang menyasar kepada status Yesus sebagai anak zinah. Tidak ada seorang pun dari antara Bapa Gereja kuno yang menentang pernyataan St. Origin. Dengan demikian, fakta ini membuktikan bahwa pernyataan orang-orang Yahudi yang termaktub pada Yohanes 8:41 itu sebenarnya menyasar kepada status Yesus sbg anak zinah. Itulah sebabnya David H. Stern tatkala mengomentari nas Yohanes 8:41, beliau menegaskan bahwa ungkapan mereka yang diucapkan di hadapan Yesus itu – menurut David H. Stern mengandung makna: “Kami tidak dilahirkan dari hasil perzinahan seperti kamu ! ”

Ekspresi ungkapan satire dalam kultur Semitik ini ternyata juga ada kesejajarannya dng teks Quran, meskipun setting-nya berbeda. Bila dalam teks Perjanjian Baru, ungkapan satire itu ditujukan kepada Yesus yang dituduh sebagai anak zinah, sedangkan ungkapan satire dalam teks Quran tersebut adalah pernyataan orang-orang Yahudi, tepatnya dewan Sanhedrin, yang pernyataan itu ditujukan kepada Maryam sebagai lawan bicara, yang dituduh sebagai pelaku zinah, dan ungkapan itu sebenarnya bukan ditujukan kepada ibunya Maryam. Yoel Yosef Rivlin, sang penerjemah Quran dalam bahasa Ibrani, tatkala menerjemahkan nas Qs. Maryam 19:27, teksnya tertulis demikian:

הוי אחות אהרון לא היה אביך איש בליעל ולא היתה אמך זונה

(פרשת מרים 19:27).

Ungkapan satire, yakni ungkapan ejekan yang disampaikan scr tidak langsung (indirectly), yang ditujukan di hadapan lawan memang merupakan common heritage antara tradisi Yahudi dan Arab, yang sama-sama berakar dari budaya Semitik. Dalam konteks ini, Yoel Yosef Rivlin menggunakan frase berikut: לא היחה אמך זונה (lo hayetah immecha zonah) yang artinya: “… ibumu bukanlah seorang pezinah” (Maryam 19:27). Frase ini merupakan ekspresi sindiran/ ejekan yang ditujukan kepada lawan bicara secara face to face, yakni ditujukan kepada Maryam – yang dituduh sebagai perempuan pezinah.

Dalam kitab Talmud Bavli (Nezikin traktat Sanhedrin 63a, 47a) atau pun pada bagian traktat-traktat lainnya, ternyata di dalam kitab Talmud hanya disebutkan 3 frase kunci (1) Yeshu ha-Notzri, (2) Yeshu ben Stada, (3) Yeshu ben Panthera. Saya tidak menemukan 1 pun frase yang menyebut nama Yeshu ben Yosef. Hal ini menjadi indikasi kuat bahwa dalam kitab Talmud nama Yeshu yang nasabnya disandarkan kepada Yosef benar-benar nihil, dan ini membuktikan bahwa status Yesus tidak diakui sebagai anak angkat Yusuf secara de jure atau pun anak biologis Yusuf secara de facto. Dengan kata lain, Yesus tidak memiliki nasab biologis dng Yusuf, bahkan Yesus juga tidak memiliki nasab yuridis dng Yusuf. Justru pada satu sisi, Yesus dalam kitab Talmud, ternyata nasab biologisnya dihubungkan dng tokoh historis yang bernama Panthera; dan pada sisi yang lain, nasab biologis Yesus juga dihubungkan dng tokoh historis yang disapa dng sebutan Stada. Mengenai tokoh historis yang bernama Panthera ini, James D. Tabor menyuguhkan sebuah bukti manuskrip yang ditulis pada 178 M., dalam teksnya tersebut adanya kisah hubungan antara Mary dan Panthera. James D. Tabor mengatakan:

” The earliest version of the Panthera story comes from a Greek philosopher named Celcus. In an anti-Christian work titled ‘On the True Doctrine’ written around A.D. 178, he relates a tale that Mary was pregnant by a Roman soldier named Panthera and was driven away by her husband as an adulterer…. Panthera is a real name, not a concocted term of slander.” (pp. 64-65).

Sementara itu, sapaan gelar Stada yang merupakan akronim dari ungkapan [Satit da mi ba’alah ], yang artinya: ” perempuan yang tidak setia kepada suaminya”, ternyata ungkapan itu ditujukan kepada sang ibu yang melahirkan Yesus, yakni Maryam. Ada hal menarik pada sapaan ejekan yang disematkan kepada Maryam tersebut, yakni term בעל (ba’al) yang artinya ‘suami.’ Dalam Torah, Sefer Devarim 22:13-22 terkait perikop ” Masalah Keperawanan”, ternyata status seorang suami disebut בעל (ba’al). Silakan Anda cermati Sefer Devarim 22:22. Istilah בעל (ba’al) utk menyebut sang suami merupakan istilah yang sangat lazim dalam kitab Torah, kitab Talmud dan kitab Quran. Dalam kitab Quran disebutkan ayat yang menggunakan term بعل (ba’al) pada teks berikut:

قالت يويلتىء الد وانا اجوز وهذا بعلي شيخا ان هذا لشيىء عجيب

(صورة هود 11:72)

ותאמר אוי לי האלד ואני זקנה וזא בעלי זכן

(פרשת הוד 11:72)

Va tomer oi liy haeled va ani zeqenah ve zeh ba’ali zaqen (Hud 11:72).

Istri (Ibrahim) berkata: ” Sungguh mengherankan, bagaimana aku akan melahirkan seorang anak, padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan suamiku ini sudah tua. Sungguh ini benar-benar sesuatu yang menakjubkan.”

Istilah بعلي (ba’liy) dalam bhs Arab sejajar dengan istilah בעלי (ba’aliy) dalam bhs Ibrani. Dengan demikian, bila dalam kitab Talmud, Maryam disapa dengan sebutan ha-Stada (Satit da mi ba’alah) yang artinya: ” sang perempuan yang tidak setia kepada suaminya “, ternyata sebutan בעל tsb bukanlah istilah rekayasa yang baru muncul pada era Kristen, yang kemudian mengkristal menjadi sebuah mitos. Bahkan istilah בעל tersebut telah eksis sejak era pra-Kristen sesui nas yang termaktub dalam Torah. Jadi tidak tepat bila sapaan ha-Stada itu sebuah imaji, tapi justru sebaliknya, yakni merupakan fakta historis yang terekam dalam dokumen yang telah disakralkan oleh masing-masing penganut agama.

Oleh karena itu, kita harus banyak membaca buku-buku agar kita lebih arif memahami berbedaan wacana sehingga kita tidak terlalu gegabah menyatakan sesuatu.

אלחמד ללה רב אלעלמין

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *