Tanggapan terhadap apologet kristen JJ “VALLEY OF BACA IS MECCA? (Bagian 1)”

Seorang apologet kristen dengan nama FB  Jimmy Jeffrey (JJ)  memberikan tanggapan sehubungan dengan tulisan TYI mengenai eksistensi Makkah dan Nazaret  dalam kitab suci Yahudi dan Islam.

Berikut adalah tanggapan TYI (Eric ben Kisam/ אריך) dari tulisan JJ

—♦♦Ξ♦♦—


JJ>>

1. Kajian Linguistik kata Baca & Mecca

Apakah secara etimologi & leksikal kata Baka sama dengan Mecca?

Mecca adalah kata dalam bahasa Inggris yang merujuk pada sebuah tempat di Arabia. Namun transliterasi yang lebih dekat pengucapan Arabic yaitu kata Makkah. Menariknya dalam Quran selain menyebut kata Mecca/Makkah (QS 48:24) juga digunakan kata lain yang mirip yaitu Bakkah (QS 3:96).

QS 48:24

 وَهُوَ الَّذِي كَفَّ أَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ عَنْهُمْ بِبَطْنِ مَكَّةَ مِنْ بَعْدِ أَنْ أَظْفَرَكُمْ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا

Yusuf Ali: And it is He Who has restrained their hands from you and your hands from them in the midst of Makka, after that He gave you the victory over them. And God sees well all that ye do.

QS 3:96

 اِنَّ اوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَلَمِينَ

Yusuf Ali: The first House (of worship) appointed for men was that at Bakka: Full of blessing and of guidance for all kinds of beings:

M Ali dan umumnya muslim lain beranggapan Bakkah (Becca) sama dengan Makkah (Mecca) dan huruf m & b bersifat interchangeable. Namun menurut sarjana muslim Becca dan Mecca itu berbeda. “…The Ka’ba is most often associated with Mecca or Becca. Although most people believe these two words to be interchangeable, in fact there is major distinction between them. According to Muslim scholars, Becca is the sacred site immediately surrounding the Ka’ba, and Mecca the Peaceful City that houses them both..”. Oliver Leaman, The Quran: An Encyclopedia, Page 337.

Jika Bakkah dengan Makkah berbeda apalagi Baka dalam Bible yang jelas-jelas berbeda. Sehingga Bakkah/Makkah tidak tepat dikatakan sinonim dengan Baka melainkan homonim yaita kata yang sama atau mirip namun artinya berbeda.

Kedua kata Bakkah & Makkah muncul masing-masing hanya pada satu ayat, sehingga kita sulit menemukan akar katanya secara etimologi dalam Arabic (hapax legomena). Maka arti leksikal dari kata merujuk pada nama tempat yang dibatasi konteks dari kata tersebut. Becca merujuk pada lokasi seputar Kaba sedangkan Mecca merujuk pada kotanya.


Yang dimaksud Leaman itu adalah pandangan mufassir seperti  ibn ʿUmar al-Zamakhsharī (d. 538/ 1144), dalam Al Kashshaaf ‘an Haqaa’iq al-Tanziil wa ‘Uyuun al-Aqaawiil fii Wujuuh al-Ta’wiil [ الكشاف عن حقائق التنزيل وعيون الأقاويل في وجوه التأويل] tidak berarti Makkah dan Bakkah itu berbeda makna.  Ini salah sama sekali, dalam kitab yang sama dan entry yang sama pada ayat 3:96 al-Zamakhsharī menulis:

Makkah dan Bakkah adalah SINONIM  beda pengejaan namun bermakna sama, karena huruf “ba” ب  dan “mim” م umum bisa dipertukarkan dalam pengejaan bahasa Arab seperti kata Nabiit dan Namiit.  

Ini juga pandangan mayoritas Ulama lughah (Arabic linguists), bahwa  huruf”ba” ب  dan “mim” م  bisa dipertukarkan  sehingga kata “(M)akkah” dan “(B)akkah” adalah SINONIM atau kata yang sama.


JJ>>

Sekarang kita bandingkan dengan kata Baka dalam Bible.

Mazmur/Psalm/Tehilim 84:6 (84:7)

 ֹבְרֵי בְּעֵמֶק הַבָּכָא מַעְיָן יְשִׁיתוּהוּ גַּם־בְּרָכוֹת יַעְטֶה מוֹרֶה

JPS: Passing through the valley of Baca they make it a place of springs; yea, the early rain clotheth it with blessings.

NIV: As they pass through the Valley of Baka, they make it a place of springs; the autumn rains also cover it with pools.

Kata bâkâ’ baw-kaw’ menurut Strong’s Hebrew & Greek Dictionaries memiliki arti leksikal: weeping; Baca, a valley in Palestine. Ada beberapa kemungkinan kata Baka ini dimaknai, pertama; dimaknai secara alegoris merujuk pada makna “weeping” (kekelaman, kesedihan, penderitaan), kedua dimaknai secara literal yaitu nama sebuah tempat bernama Baka dan, ketiga kombinasi keduanya yaitu secara literal merujuk pada sebuah tempat bernama Baka dimana tempat itu penuh dengan kekelaman & penderitaan (weeping) atau sebuah tempat yang sulit, kering, tandus dsb.

Dari tiga kemungkinan ini, maka yang paling reasonable kemungkinan ketiga dan selanjutnya kemungkinan pertama. Kemungkinan kedua yaitu sekedar nama Baka tanpa ada arti dibalik nama itu jelas tidaklah tepat. Bukti penunjangnya yaitu referensi dari Septuaginta/LXX (τὴν κοιλάδα τοῦ κλαυθμῶνος) yang artinya through the valley of weeping. Bahkan dalam Targum Psalm digunakan frase “valleys of Gehenna” yang artinya lebih keras, kata “Gehenna” dalam Judaism merujuk pada Neraka dan hal yang sama juga dituliskan dalam Talmud (Mas. Eiruvin 19a). Sehingga semakin jelas kata Baka tidak bisa dilepaskan kaitannya dengan makna “weeping”.

Jika kita bandingkan dengan kata Bakkah/Makkah dari kajian arti leksikalnya jelas tidak memiliki kaitannya. Karena kata Baka dalam Mazmur 84:6 bukanlah sekedar nama tanpa makna dibalik kata tersebut. Sedangkan kata Bakkah/Makkah tidak memiliki makna apapun selain hanya sekedar nama tempat yang kemudian menimbulkan makna terminologis seperti Umm al-Qurā (أم القرى) yang artinya “mother of all settlements”.

Klaim bahwa terdapat nama-nama kuno untuk Makkah jelas tidak didukung data sejarah yang valid. Klaim untuk kata Baka dalam kitab Asatir tidak didukung data karena terindikasi kuat teks tersebut sebuah interpolasi karena pengaruh Islam. Klaim untuk kata Mesha dari tafsiran Saadia Gaon juga tidak kuat. Demikian pula kata Baka dalam Mazmur 84:6 terbukti secara linguistik tidak ada kaitannya dengan kata Makkah/Mecca.


JJ berusaha mengaburkan pembaca dengan seolah-olah mengutip  STRONG Concordance tentang  arti dasar kata Ibrani BAKA בָּכָא kemudian buru-buru memberikan kesimpulan nya sendiri, ini sangat tidak ilmiah.

Pertama . ada inidkasi pengelabuan disini,  untuk ayat Mazmur/Psalm/Tehilim 84:6 (84:7) , STRONG entry yang benar adalah 1056 bukan 1058.

Disini jelas sekali bahwa BAKA בָּכָא adalah suatu Proper Name Location atau nama suatu tempat atau lokasi geografis bukan merujuk pada arti alegoris.

Kedua, bentukan kata בָּכָא Strong’s Hebrew 1056 hanya disebutkan satu kali dalam TaNakH , apalagi bentukan nya menggunakan kata definite article הַ yang menunjukkan suatu tempat yang sangat spesial dimana akan menjadi tujuan ziarah bagi umat beriman menuju ke Beit ALLH.  Sangat spekulatif jika frase עֵמֶק הַבָּכָא (’emeq ha Baka’) dihubung-hubungkan dengan akar kata  בָּכָה (bakah, “to meratap”), untuk memaksakan penterjemahan menjadi  “lembah ratapan” atau “lembah tangisan”

 

Tehilim 84 : 5-7

Ketiga kalau kita melihat konteks nya  Tehilim 84 , coba perhatikan terjemahan Yahudi diatas , maka tidak dapat dipungkiri  kota Makkah adalah betul-betul lokasi geografis yang sama dengan yang dimaksud Baka בָּכָא karena:

  1. Hingga kini Makkah adalah dimana adanya nya Rumah Beit בָּ֫יִת ALLH dimana namanya selalu ditinggikan Selah סֶ֫לָה  SELAMANYA.
  2. Hingga kini Makkah adalah tempat dimana manusia melakukan Ziarah (pilgrimage)
  3. Hingga kini Makkah dikenal sebagai tempat yang memiliki mata air (spring) mayan מַעְיָן yang penuh dengan rahmatNya barakah בְּרָכָה sehingga jutaan orang membawa pulang air tersebut ke seluruh pelosok dunia.

JJ>>

2. Lembah Bermata Air?

Selanjutnya M Ali menyatakan bahwa penyebutan Bakkah itu terkait dengan lembah dan menurutnya ini telah disepakati. Umumnya di kalangan Jewish & Christian Scholars beranggapan kata Baka dalam Mazmur 84 dimaknai secara literal merujuk pada lembah yang anda kaitannya dengan makna kataa “weeping”. Namun ada juga yang memaknai secara alegoris dan tidak merujuk pada sebuah tempat secara literal. Kata בָּכָא (bâkâ’) dalam teks tersebut dikaitkan dengan kata עֵמֶק (êmeq) yang artinya lembah (valley) sehingga hampir semua English Bible version menerjemahkan menjadi valley of Baca, oleh LAI “lembah Baka”. Nah.. dari kata kunci “Lembah” ini point M Ali mulai masuk, berikut ulasannya:

“… Nama Bakka yang terkait dng Lembah itu ternyata juga ada mata air, ini adalah kata kunci untuk mengidentifikasi lokasi penting itu bahwa di Bakka selain berupa Lembah juga bermata air. Ini telah disepati oleh ketiga agama, sebagaimana yang termaktub dalam ketiga kitab suci. Cobalah baca secara teliti Mazmur 84:7 tertulis secara tegas ada mata air yang terdapat di wilayah Lembah Bakka ini. Jadi ada nama Bakka – Lembah – mata air, tiga hal ini sebagai 3 ciri lokasi geografis yang dimaksud.

Nama al-Hijaz, Makkah, sumur di El Rai sebagai beer zamum (sumur mata air zamzam), Hag le Yeshmaelim (ibadah Hajji bagi kaum Ishmael) itu juga dibahas oleh para rabbi. Namun, yang mengatakan demikian adalah RavSag, Ibn Ezra, Radak. Bahkan Rashi maupun Ramban pun tidak menyangkalnya. Rabbi-rabbi angkatan generasi Gaonim hingga generasi Rishonim tidak ada 1 pun yang menyangkalnya. Kalau Anda bisa membuktikan hal itu tdk benar maka jangan berimajinasi tapi tunjukkan bukti. Jadi salah besar bila yang mengatakan itu saya pribadi…

Kalau nama Bakka dalam Mazmur 84:7 bukan merujuk pada nama Bakkah di wilayah Hijaz, lalu mengapa Rav Saadia Gaon (RavSag) dalam Targum Judeo-Arabic menyebut istilah Al-Hijaz pada Bereshit 16:7 sebagai nama lain dari Syur? Dan mengapa juga Ibn Ezra menyebut beer zamum (sumur zam-zam) dalam Perush ‘al ha-Torah, Sefer Bereshit 16:7?…”

—————-

M Ali mencoba membangun hubungan antara “mata air” dalam Mazmur 84 dengan mata air saat peristiwa Hagar & Ismael di padang gurun dan mata air zam-zam di Mecca Arabia. Apakah ketiga hal itu saling berkaitan dan merujuk pada tempat yang sama? Untuk menjawabnya,  mari kita lihat terlebih dahulu konteksnya dari Mazmur 84 tsb.

Konteks ayat ini tentang kerinduan yang mendalam dari bani Korah untuk berada di rumah TUHAN. Ada sukacita dan kebahagian yang besar bagi orang-orang yang diam di rumah TUHAN. Kebahagian itu juga dimiliki bagi mereka yang berhasrat untuk berziarah ke rumah TUHAN yang ada di Sion. Bagi mereka yang akan beziarah akan melewati sebuah lembah yang penuh penderitaan yang bisa diartikan sebuah lembah yang memiliki medan yang berat seperti kering, tandus dsb. Namun karena kerinduan yang sangat besar, maka medan yang berat itu bisa mereka dilewati yaitu saat datangnya hujan yang akan memunculkan mata-mata air.

Rabbi David Kimchi (Radak) 1160-1235M dalam Commentary-nya menyebutkan “.. A waterless valley..” untuk valley of Baca. Para peziarah melihat tanda turun hujan pertama di musim dingin sebagai tanda untuk melakukan perjalanan ke Sion, sebagaimana dijelaskan dalam The Jewish Study Bible “… The early rain falls in the land of Israel at the beginning of winter. This reference suggests that the pilgrimage is for the festival of Sukkot, just before the start of the rainy season, when prayers for rain are offered..”. Pada saat itulah Tuhan memberikan mata-mata air pada tempat yang kering tersebut “…God opens for them fountains in the wilderness, and springs in the dry places..” (Adam Clarke).

Berdasarkan penjelasan dari konteks Mazmur 84, maka mata air yang dimaksud bukan mata air tunggal yang menonjol seperti mata air yang ditemukan Hagar & Ismael atau mata air Zam-zam di Mecca Arabia. Melainkan mata-mata air (jamak) yang muncul pada tempat yang kering tersebut saat musim hujan. Tidak ada catatan dalam Bible pada masa sebelum & sesudahnya tentang keberadaan sebuah mata air yang menonjol di tempat tersebut (valley of Baca) yang dikaitkan dengan mata air yang ditemukan Hagar & Ismael. Apalagi dikaitkan dengan mata air Zam-zam yang sama sekali tidak ada kaitannya.

Point M Ali tentang sebuah lembah yang bermata air jelas tidak valid karena mata air yang dimaksud dalam teks Mazmur 84 tersebut bukanlah sebuah mata air tunggal yang menonjol. Sehingga point itu tidak bisa menjadi dasar untuk menjustifikasi lembah itu merujuk ke Mecca.


Kata Ibrani  untuk “mata air” yang digunakan Tehilim 84:7 adalah  Ma’yan מַעְיָ֣ן dalam bentuk tunggal .

overei be’emeq habbakha ma’yan yeshithuhu gam-berakhoth ya’teh moreh

Transgressors in the valley of weeping make it into a fountain; also with blessings they enwrap [their] Teacher. [Judaica Press]

begitu pula dalam targum aram , kata “mata air” yang digunakan adalah ma’ayana מַעֲיָנָא dalam bentuk tunggal.

rashi’aya de’avrin im omeqei gehinam bakhyan bikhyetha heikh ma’ayana yeshawineih lechod birkhan ya’atoph lidthayvin le’ulephan oraytheih

The wicked who cross over the valleys of Gehenna, weeping – he will make their weeping like a fountain; also those who return to the teaching of his Torah he will cover with blessings. [Edward M. Cook]

Walau kita tahu bahwa tagum menggunakan gaya bahasa yang bersifat kiasan , disini istilah BAKA בָּכָא merujuk pada lokasi geografis tertentu dimana didalam nya ada mata air yang tunggal dan istimewa yang membawa rahmat. Bukan merujuk pada mata air secara umum apalagi  jamak.

Ibn Ezra yang sanad keilimuan nya merupakan rujukan utama dari David Kimchi menjelaskan Mazmur 84:7  sejajar dengan penjelasan Ibn Ezra tentang sumur zam-zam. pada  Be’er LaChai Ro’i di Bereshit /Genesis 16:14

Dalam penjelasan In Ezra tesebut dikisahkan  Hagar pergi ke Semenanjung Arabia bukan ke Mesir dan “mata air” yang dimaksud adalah Bi’ir Zimum באר זמום  atau dalam edisi lain tertulis Bi’ir ZimZum באר זמזום , dimana kaum Yishmaelim (artinya: umat muslim) tiap tahun merayakan mata air ini.

Pendapat ini dikuatkan oleh Rabbi Saadia Gaon, seorang Rabbi paling terkemuka era Gaon dalam  karya magnus opus nya Attarjamah Al’arabiyyah Attawrah الترجمة العربية للتوراة  dalam Kisah perjumpaan Hagar dalam Genesis 16:7:

فو جدها مالك اللّٰه على عين ماء في البرية على على التي في طريق الحجاز

Terjemahan harfiahnya :

“Malaikat Allah menemukan dia (Hagar) dalam perjalanan nya menuju mata air di suatu gurun dalam perjalanan nya menuju Al Hijaz

kata Al-Hijaz disini adalah letak geografis daerah Arab Saudi sekarang, dimana MAKKAH berada, baca tafsir Rabbi Saadia dimana  beliau menulis dalam tafsir Genesis/Bereishit 10:30, dimana beliau menyebutkan lokasi Mesha  מֵשָׁ֑א  dan  Sephar סְפָ֖רָ sebagai  MAKKAH  مكة and Madinah  المدينة.

Hal ini adalah fakta yang kekal abadi tidak dapat terbantahkan bahwa Lembah mata air yang dimaksud dalam Tehilim/Mazmur adalah tidak lain dan tidak bukan adalah kota Suci MAKKAH dimana ada sumur ZAM ZAM yang penuh berkah dan mengalir dari gurun secara abadi.

JJ juga mengutip The Jewish Study Bible tetapi lagi-lagi dia sengaja mengutip sepotong sepotong sehingga mengaburkan esensi yang aktualnya disampaikan, berikut kami kutip komentar secara utuh dalam untuk Tehilim ayat 84:7

Valley of Baca is an unknown place on the way to the Temple. Some interpret this as the valley of Rephaim, where the baca trees grow (2 Sam. 5.22– 24). The early rain falls in the land of Israel in mid-fall. This reference suggests that the pilgrimage is for the festival of Sukkot, just before the start of the rainy season, when prayers for rain are offered.”

Disini jelas sekali bahwa JSB menulis secara tegas bahwa BAKKA adalah sebuah lokasi geografis, bukan sesuatu yang bersifat alegoris atau kiasan seperti yang hendak digiring JJ. Masalah ada beberapa pandangan yang menafsirkan lokasi geografis tersebut adalah lembah Refaim dimana pohon BAKA tumbuh itu bukan konsensus mutlak dan  wajar saja jika JBS tidak menampilkan penafsiran yang mendukung penafsiran kaum muslim, namun intinya BAKKA adalah sebuah lokasi geografis, bukan sesuatu yang bersifat alegoris atau kiasan.

Dalam kitab suci Quran tertulis nama Makkah (Qs. 48:24) dan nama Bakkah (Qs. 3:96) karena itu ekspresi tulisan bhs Arab Qurani, sedangkan dalam teks Targum Saadia Gaon aksara Judeo-Arabic tertulis Makkah (Sefer Bereshit 10:30), dan Radak dalam Torat Chaim mengekspresikan tulisannya dalam bahasa Ibrani Rabbinik (Rabbinical Hebrew) tertulis Maka (Sefer Bereshit 10:30), sedangkan dalam Mazmur 84:7 ekspresi Biblical Hebrew tertulis Baka, sama dengan yang termaktub dalam Targum Samaritan aksara Judeo Arabic tertulis Baka (Sefer Bereshit 10:30). Jadi ekspresi penulisan nama lokasi yang dimaksud intinya merujuk pada lokasi geografis yang sama.

Makkah – Bakkah (Quranic Arabic dan Judeo-Arabic) – Maka (Rabbinical Hebrew) – Baka (Biblical Hebrew/Samaritan-Arabic).

Kesimpulannya:

Lokasi yang dimaksud dalam Quran, Targum Samaritan, Targum Saadia Gaon, dan Sefer Tehillim sudah jelas merujuk pada lokasi yang sama dan identik, tapi kaum Kristiani punya banyak alasan utk menciptakan lokasisasi sehingga banyak alternatif penafsiran yang subyektif. Lokasi yang sebenarnya valid menjadi invalid gara2 upaya lokalisasi. Beda antara Lokasi dan Lokalisasi. Lokasi adalah tempat yg real & fakta yg disebutkan dlm ayat Mazmur tersebut, sedangkan lokalisasi adalah mencari-cari alasan dan bukti yg merujuk suatu tempat tertentu untuk membuktikan klaimnya. termasuk peta yg dianggap historis, padahal peta selalu berkembang dan banyak situs2 sejarah yg mempunyai tempat berbeda-beda..

Lokasi jelas-jelas valid:
Makkah – Bakkah – Maka – Baka. Secara kajian linguistik nama-nama itu ada kesejajaran, dan faktanya merujuk pada lokasi geografis yang sama.

Lokalisasi jelas-jelas invalid.
Lembah Baka – Lembah Petra – Lembah Bochim – Lembah Refaim – Lembah Lebanon. Secara kajian linguistik nama-nama itu tidak ada kesejajaran, dan faktanya merujuk pada lokalisasi geografis yang berbeda.


JJ>>

Ada banyak ayat dalam Bible yang menyebutkan tentang mata air yang muncul dari lembah-lembah dan di daerah yang kering. Apakah berarti mata-mata air itu merujuk ke mata air yang ditemukan Hagar & Ismael atau mata air Zam-zam? Hak_1:15  Mzm 104:10,  Yes_41:18  


Ini adalah argumentasi lemah, ada banyak istilah EL dalam TaNaKH namun apakah ini semua sama? tentu orang yang memiliki intelek tidak perlu menjawab argumen seperti ini. Tentu Mata air lain nya tidak lah sama dengan mata air yang disebut dalam Tehilim 84.


JJ>>

Pengasosian mata air Zam-zam dan mata air yang ditemukan Hagar & Ismael merupakan upaya apologetis pihak Islam untuk menjustifikasi keberadaan Mecca menurut Bible. Memang ada rabbi-rabbi yang mengaitkan beberapa letak geografis dalam Torah dengan tradisi Islam seperti Saadia Gaon & Abraham Ibn Ezra, namun jika dikaji dengan cermat kaitan yang dimaksudkan tidaklah valid. Pembahasan masalah ini seperti mengulas tentang Saadia Gaon akan dibahas tersendiri. Namun tidak semua rabbi di abad-abad pertengahan itu sependapat dengan ketiga rabbi tsb. Rabbi Rashi & Ramban dikatakan tidak menyangkal hal tersebut, tetapi bukan berarti mereka menyetujui juga.

Rabbi yang sering dijadikan rujuan untuk membenarkan beberapa point dari muslim terutama Saadia Gaon, justru mempertahankan Judaism & otentitas Torah dari serangan muslim scholars. Hal ini berarti mereka meragukan otentitas Quran. “..The Jews took up the defense of their scripture in polemical and apologetical tracts that were usually for internal consumption. In Iraq Saadya Gaon and his Karaite contemporary Yaqūb al-Qirqisānī…In later centuries it was formidable Jewish scholars like Jehudah ha-Levi (d. 1141 c.e.), Abraham b. Daud (d. 1181 c.e.), Moses Maimonides (d. 1204 c.e.), and Solomon Ibn Adret (d. 1310 c.e.)..who defended Judaism and its Torah against the attacks of the Muslim scholars” Jane Dammen McAuliffe, Editor, Encyclopaedia of the Quran, Volume Five: Si-Z, Brill, Leiden-Boston, 2006, Topic: Torah by Camilla P. Adang, page 309.


Lagi lagi JJ mengutip sesuatu  dan memberikan kesimpulan yang tidak sesuai dangan kutipan nya, dalam upaya menjatuhkan reputasi R’Saadia Gaon dimata kaum muslim disini klaim JJ seolah olah beliau meragukan otentitas Al Qur’an padahal TIDAK ADA ungkapan tersebut yang di ucapkan R’ Saadia seperti yang di klaim JJ.

Tentu R’Saadia adalah seorang rabbi Yahudi bukan seorang ulama muslim, tentunya beliau tidak akan mendakwahkan atau menjalankan menjalankan ajaran agama sesuai syariat Islam, namun secara ESENSI tidak pernah ada perbedaan yang mendasar antara syariat Islam dengan ajaran Yahudi apalagi dalam aspek aspek fundamental yang kredo dan akidah agama masing-masing. Dalam halacha resmi umat Yahudi para rabbi -rabbi senior melarang orang yahudi untuk masuk rumah ibadah sesembahan agama lain karena termasuk dalam kategori “avodah zarah” atau “pemujaan berhala” yang dosa nya sangat besar, namun larangan ini tidak berlaku kepada agama Islam termasuk rumah ibadahnya dalam hal ini Masjid. Umat yahudi diperboleh kan berdoa dan beribadah dalam Masjid.

R’Rambam seorang rabbi yahudi paling berpengaruh di abad pertengahan yang hidup dalam tanah Islam Andalusia serta menyaksikan sendiri dan mengetahui peribadatan umat muslim dengan tegas menyatakan bahwa Islam tidak masuk dalam kategori “avodah zarah”, dalam Responsa 448, R’Rambam menulis

Musa ben Maimun Responsa 448

“Kaum Yishmaelim  ini (umat muslim) bukanlah penyembah berhala sama sekali. Semua sudah di hapus dari mulut dan hati mereka, mereka meESA kan HASHEM tanpa kecuali,.. dengan demikian semua umat muslim kini, termasuk istri-istri dan anak-anak sudah menghilangkan kepercayaan yang salah dan segala bentuk kesalahan dan kebodohon ada pada hal lain…namun dalam halnya keESA an HASHEM, mereka tidak ada kesalahan sama sekali.”

Justru rabbi-rabbi Yahudi berpengaruh seperti R’Rambam berbeda dengan pandangan  terhadap agama kristen, beliau secara terbuka menganggap agama kristen sebagai  “avodah zarah” atau penyembah berhala atau sesembahan asing dari Tuhannya orang Israel alias agama kafir. 

Dalam  Mishneh Torah, Hilchot Avodah Zarah 9:4, R’Rambam berkomentar tentang agama kristen:

ha-notseriyim ovedei avodah zarah hen

“Orang-orang kristen adalah  penyembah berhala…” (Mishneh Torah, Hilchot Avodah Zarah 9:4).

diulang oleh R’Rambam  di  Hilchot Ma’achalot Assurot 4:4 (para. 7  dalam edisi lain). Juga, R’Rambam menyamakan agama kristen dengan istilah kaphranut כַּפְרָנוּת (“kafir”) pada  Hilchot T’shuvah 3:17 (para. 8 dalam edisi lain).

Menerima atau menolak Nabi Muhammad atau Al Qur’an itu masalah pebedaan menerima nubuatan dan argumen ini tidak ada hububungan nya dengan lokasi geografis BAKA dan MAKKAH dari sumber-sumber rabbinik.


JJ>>

Jika kita mengkaji literatur rabbinik yang telah dikompilasi dalam Talmud & Mishnah termasuk Targum parafrase Aramaic dari Hebrew Bible. Tidak ada data yang menunjukan pengasosiasian lokasi-lokasi geografis berkaitan dengan para patriakh seperti Abraham & Ismael dengan tradisi Islam. Demikian pula dalam tulisan sejarawan Yahudi seperti Joshepus & Philo serta berbagai literatur jewish apokriph & pseudopigrapha, kita tidak akan menemukan hal tersebut.

Mari kita lihat kekeliruan dari Saadia Gaon & Ibn Ezra yang mengasosiasikan mata air atau sumur Lahai Roi dengan mata air Zam-zam. Ternyata mata air Lahai Roi berbeda dengan mata air yang ditemukan Hagar & Ismael saat pengembaraan di Padang Gurun.

Kej 16:13-14  Kemudian Hagar menamakan TUHAN yang telah berfirman kepadanya itu dengan sebutan: “Engkaulah El-Roi.” Sebab katanya: “Bukankah di sini kulihat Dia yang telah melihat aku? Sebab itu sumur tadi disebutkan orang: sumur Lahai-Roi; letaknya antara Kadesh dan Bered.

Kej 21:19 Lalu Allah membuka mata Hagar, sehingga ia melihat sebuah sumur; ia pergi mengisi kirbatnya dengan air, kemudian diberinya anak itu minum.

Mata air atau sumur Lahai Roi ditemukan oleh Hagar saat Ismael belum lahir dan lokasinya berada diantara kadesh dan Bered, jelas bukan di Mecca Arabia. Sedangkan pihak Islam menganggap mata air Zam-zam adalah mata air yang ditemukan Hagar & Ismael diantara bukit Safa & Marwah. Mata air yang ditemukan Hagar & Ismael itu letaknya di padang Bersyeba, nanti setelah itu mereka kemudian menetap di Padang Paran. Upaya pihak muslim seperti Yaqut al-Hamawi seorang geografer Syria di abad-12 yang mengaitkan padang Paran dengan Faran yang dianggap nama lain Mecca jelas tidaklah tepat, malah terkesan dicocok-cocokan. Baik padang Bersyeba maupun padang Paran itu sendiri letaknya bukan di Mecca Arabia. Masalah Paran akan dikaji lebih detail dalam pembahasan tersendiri. Tetapi pointnya jelas bahwa mata air Zam-zam tidak ada kaitannya dengan mata air yang  ditemukan Hagar (Lahai Roi) atau yang ditemukah Hagar & Ismael di padang Bersyeba.

Kembali ke pokok pembahasan, jadi jelaslah bahwa upaya M Ali untuk mengaitkan mata air Zam-zam dengan mata air yang disebutkan dalam Mazmur 84:6 adalah upaya sia-sia dan terkesan dicocok-cocokan.


Terlihat disini JJ membuat opini liar tidak berdasar.  Coba kita lihat John Gill’s exposition of the Bible (JGEB) yang terkemuka pada Kej 16:14 

 

JGEB, membenarkan pendapat yang mengatakan bahwa:

  1. Beer lahai roi adalah lokasi dimana Hagar memberikan minum kepada Ishmael (jadi berhubungan dengan Kej 16:7 dimana Hagar sudah memiliki anak Ishmael)
  2. Lokasi Kadesh dan Bered adalah daerah gurun di Arabia

Masalah nya JJ berusaha untuk mencari banyak alasan utk menciptakan lokalisasi sehingga banyak alternatif penafsiran yang subyektif. Lokasi yang sebenarnya valid menjadi invalid gara2 upaya lokalisasi. Beda antara Lokasi dan Lokalisasi. Lokasi adalah tempat yg real & fakta yg disebutkan dlm ayat Mazmur tersebut, sedangkan lokalisasi adalah mencari-cari alasan dan bukti yg merujuk suatu tempat tertentu untuk membuktikan klaimnya. termasuk peta yg dianggap historis, padahal peta selalu berkembang dan banyak situs2 sejarah yg mempunyai penyebutan yang berbeda-beda dari lokasi geografis yang sama

Dalam kitab suci Quran tertulis nama Makkah (Qs. 48:24) dan nama Bakkah (Qs. 3:96) karena itu ekspresi tulisan bhs Arab Qurani, sedangkan dalam teks Targum Saadia Gaon aksara Judeo-Arabic tertulis Makkah (Sefer Bereshit 10:30), dan Radak dalam Torat Chaim mengekspresikan tulisannya dalam bahasa Ibrani Rabbinik (Rabbinical Hebrew) tertulis Maka (Sefer Bereshit 10:30), sedangkan dalam Mazmur 84:7 ekspresi Biblical Hebrew tertulis Baka, sama dengan yang termaktub dalam Targum Samaritan aksara Judeo Arabic tertulis Baka (Sefer Bereshit 10:30). Jadi ekspresi penulisan nama lokasi yang dimaksud intinya merujuk pada lokasi geografis yang sama:

  • Makkah – Bakkah (Quranic Arabic dan Judeo-Arabic)
  • Maka (Rabbinical Hebrew)
  • Baka (Biblical Hebrew/Samaritan-Arabic).

Makkah – Bakkah – Maka – Baka. Secara kajian linguistik nama-nama itu ada kesejajaran, dan faktanya merujuk pada lokasi geografis yang sama.

Lokalisasi jelas-jelas invalid.
Lembah Baka – Lembah Petra – Lembah Bochim – Lembah Refaim – Lembah Lebanon. Secara kajian linguistik nama-nama itu tidak ada kesejajaran, dan faktanya merujuk pada lokalisasi geografis yang berbeda.

—♦♦Ξ♦♦—

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *