Tuhan kok beranak?, Tuhan kok MENJELMA jadi manusia…

Kanisah Orthodox Syria (KOS) mencoba mencari pembenaran melalui doktrin Islam dan Quran melalui tulisan yang konon dibuat oleh seseorang yang bernama Aisha Nurramdhani yang seorang Aktivis Muslimat NU, berikut:

 

Tanggapan kami:

  • Penulisnya mengaku sebagai Muslimah, bahkan nama yang dimilikinya sangat Islami, tetapi ironisnya, berdasarkan kajian analisis wacana, maka argumentasi yang dibangun dalam membandingkan antara Quran sebagai Kalimatullah dan Yesus sebagai Kalimatullah justru membuktikan bahwa sang penulis sendiri sangat mengenal teologi Kristiani tetapi nampak sangat tidak jeli dan sangat awam dengan ilmu kalam versi Islam. Fakta analisis wacana ini membuktikan bahwa sang penulis membangun opini berdasarkan doktrin keagamaan Kristen yang diyakininya yang sekaligus membuktikan kemahirannya dalam seluk beluk teologi khas Kristiani. Bahkan sang penulis sangat awam dalam Dirasah Muqaranah al-Adyan yang seharusnya sebagai world view (weltansaung) sang pengkaji lintas agama. Sang penulis begitu mengalami euforia utk melepaskan perspektif Islamnya tetapi pada saat yang sama justru sangat kesulitan dalam melepaskan perspektif kekistenannya dan mengalami absurditas dalam logika pemikirannya yang melintas batas doktrin yang dibangunnya sendiri. Mengapa? Dalam mempertanggung jawabkan iman Kristiani yang dianggapnya sangat logis, maka sang penulis menyatakan: ” Tuhan Maha Kuasa, tiada yang mustahil bagi-Nya. Jadi Tuhan bisa menjelma menjadi apapun, termasuk menjadi manusia; menyangkal bahwa Tuhan bisa menjelma menjadi manusia berarti menyangkal kemahakuasaan Tuhan.” Bila argumentasi ini dapat diterima secara jujur,  maka kemahakuasaan Tuhan tidak hanya dibatasi hanya 1 kali penjelmaan saja sebagai manusia dalam wujud Kristus (Yesus), sesuai ajaran Kristiani;  tetapi kemahakuasaan Tuhan justru bisa menjelma berkali-kali menjadi apapun, termasuk menjadi manusia dalam wujud Krishna, sesuai konsep inkarnasi dalam agama Hindu.  TUHAN pernah menjelma menjadi Matsya (Ikan), Kurma (Kura-kura), Waraha (manusia berkepala babi hutan), Narasimha (manusia berkepala singa), Wamana (manusia cebol), Parsuram (manusia Brahmana), Rama, dan Krishna, sebagai insan kamil.

Jadi sudah sepatutnya ajaran Hindu lebih membuktikan kemahakuasaan Tuhan untuk menjlema menjadi apapun dan berkali-kali menjelma, dibanding hanya sekali menjelma dan hanya menjelma sebagai manusia saja. Jika Tuhan bisa menjelma berkali-kali dalam berbagai bentuk dianggap bahwa Tuhan tidak Maha Kuasa, lalu bagaimana kita bisa mempertanggungjawabkan secara nalar bahwa Tuhan hanya mampu menjelma 1 kali saja dan itunpun dalam rupa manusia dan bukan dalam rupa setengah-manusia atau rupa hewan sekali pun?

Persoalnya, konsep menjelma/nuzul/inkarnasi itu nalar yang absurd ataukah tidak? Mereka sendiri bingung, menjelma sekali atau berkali-kali. Menjelma jadi manusia atau setengah manusia atau binatang? Lebih absurd lagi

  • Nubuatan mengenai Yesus sebagai Mesiah tidak bisa dibuktikan dari kitab TaNaKH. Satu ayat pun tidak ada soal itu. Apalagi nubuatan mengenai Tuhan datang menjelma menjadi manusia juga tidak pernah ada 1 ayat pun dalam TaNaKH. Mengapa? Dalam TaNaKH secara tegas dinyatakan bahwa Tuhan tidak SEPERTI manusia (anti-Mujassimah) dan Tuhan  tidak MENJADI manusia (tajassud al-kalimah). Silakan  buka referensi-referensi Yahadut.
  • Kesejajaran antara Quran sebagai Kalimatullah dan Yesus sebagai Kalimatullah sebagaimana yang ditawarkan oleh pihak Kristen – sebenarnya tidak tepat dan justru mengandung banyak kecacatan akut yang membuktikan atas ketidaksejajarannya. Mengapa? Kalau kita konsisten  mau  memparalelkan keduanya, maka memang faktanya semua umat Islam menganggap bahwa KITAB yakni mushaf Quran adalah makhluk, maka  MANUSIA yakni Yesus seharusnya dianggap makhluk juga. Bukankah tidak ada 1 pun sekte/firqah dalam Islam menganggap bahwa KITAB mushaf Quran itu ghairu makhluk (bukan makhluk)? Maka benar juga bila umat Islam menganggap bahwa sebenarnya MANUSIA Yesus itu juga makhluk.  Konsekwensinya Firman Allah yang menggunakan sarana media berupa KITAB yakni -mushaf Quran – bisa berubah, rusak, bahkan hilang adalah tanda kalau itu makhluk. Sama halnya dgn Firman Allah yang menggunakan sarana media berupa MANUSIA yakni Yesus  yang makan, minum dan mati. Itu semua tanda kalau Yesus adalah makhluk. Bukankah KITAB yakni mushaf Quran dan MANUSIA yakni Yesus paralel bahwa keduanya adalah makhluk? Jadi dalam konteks ini, MANUSIA Yesus sebagai Firman Allah adalah makhluk sebagaimana KITAB mushaf Quran juga sebagai makhluk.
  • Tidak ada seorang pun umat Islam, atau pun firqah dalam dunia Islam yang menyembah KITAB mushaf Quran yang adalah Firman Allah. Namun sebaliknya, tak ada 1 pun seorang Kristen, dari kalangan Ortodoks, Katolik dan Protestan (kecuali aliran Unitarian/Saksi Yehuwa) yang tidak menyembah MANUSIA Yesus yang adalah Firman Allah atau pun tidak menganggap bahwa MANUSIA Yesus adalah Firman Allah.  MANUSIA Yesus  sepenuhnya 100%  adalah Firman Allah (Yohanes 1:14) sedangkan KITAB mushaf Quran sepenuhnya 100% adalah bukan ghairu makhluk (bukan makhluk).

Apakah ada umat Islam yang menganggap bahwa KITAB mushaf Quran adalah Firman Allah yang nuzul dari sorga? Tidak ada!

Apakah ada umat Kristen yang menganggap bahwa MANUSIA Yesus adalah Firman Allah yang turun dari sorga? Ya, semua berkeyakinan seperti itu. Apakah ini paralel? Tidak!

Itulah bedanya mencari kebenaran dan mencari pembenaran. KOS takut dituduh musyrik, maka berlindung menggunakan jubah ilmu kalam Islam yang sebenarnya tidak paralel.

Ada nuzulul Quran – ada nuzulul Masih. Ada Maulid Nabi al-Mubarak, ada Iedul Milad al-Mubarak. ⇒ Inilah gaya Kristenisasi menggunakan istilah2 Islami dan istilah2 Qur’ani.

  • Umat Islam tidak ada kepentingan mengenai konsep kodrat ganda Yesus : “sepenuhnya insani” (kamil bi al-nasut), sekaligus “sepenuhnya ilahi” (kamil bi al-lahut) sebagai Kalimatullah. Mengapa? Karena hal ini tidak ada hubungannya dengan Quran sebagai Kalimatullah. Persoalan kondrat ganda pribadi Yesus hingga kini masih terbelah dua antara Kristen mazhab Kalsedon dan Kristen mazhab non-Kalsedon.  Antara Kristen Ortodok Koptik/Ortodoks Syria berseberangan dengan Kristen Ortodoks Yunani. Yang satu menganggap sesat yang lain. Yang satu menyebut menganut aliran monofisit adalah sesat dan yang satu menganggap aliran diplofisit adalah  sesat. Jadi persoalan kodrat ganda Yesus tidak ada hubungannya dengan labelisasi kodrat ganda Quran karena Quran tidak mengenal kodrat ganda sebagaimana yang dianggap oleh kaum Kristiani. Kodrat ganda Yesus sebagai Kalimatullah sepenuhnya adalah urusan internal kaum Kristen dan tidak ada kaitannya dengan Quran sebagai Kalimatullah yang didakwa juga memiliki kodrat ganda. Jika Quran dianggap memiliki kodrat ganda, maka pertanyaannya: apakah Quran sebagai Kalimatullah memiliki kodrat ganda diplofisit atau monofisit?

 

Silakan umat Kristen menjawabnya sendiri. Jadi kita tidak mungkin dapat membandingkannya dengan ajaran Islam itu sendiri mengenai kitab suci al-Quran al-Kariim yang dianggap oleh kaum Kristiani memiliki kodrat ganda. Bagaimanapun, sebenarnya konsep kodrat ganda dalam Kristen ini tidak ada dalam  Islam, dimana posisi Yesus dalam iman Kristen yang  dibandingkan sejajar dengan posisi al-Qur’an dalam iman Islam.

Perbandingannya sebenarnya bukan Yesus dengan Quran, tapi perbandingannya adalah antara firman Allah yang nuzul  kepada Nabi Muhammad di gua Hira pada perisitiwa Laylatul Qadr yang sejajar dengan Firman Allah yang nuzul kepada Yesus di sungai Yordan pada peristiwa Laylatul Quddus. Mengapa? Karena dalam Islam, Nabi Muhammad sekedar penerima Firman Allah, sebagaimana Yesus yang bergelar Sang Firman juga sekedar penerima Firman Allah. Menurut Quran dan Alkitab Perjanjian Baru, Yesus hanya disebut dengan gelar Sang Firman yang berasal dari Firman Allah KUN (jadilah). Posisi Nabi Muhammad tidak sejajar dengan Maria (Maryam), karena salah satunya bukan Nabi, meskipun keduanya adalah manusia kamil bi al-nasut (sepenuhnya manusia) menurut keyakinan masing-masing.

Jadi sebenarnya tidak ada hubungan paralel antara keyakinan Kristen mengenai Firman Allah yang menjadi manusia dengan keyakinan Islam akan Firman Allah yang kekal yang turun menjadi al-Qur’an atau nuzul al-Qur’an.

Dalam keyakinan Kristen, Yesus adalah 100% Allah (dalam kapasitasnya sbg Firman Tuhan) namun juga 100% manusia (dalam fisik insaninya). Ini tidak sama persis dengan Al Quran yang 100% Kalimatullah dan tetapi 100% sebagai KITAB mushaf Quran yang adalah makhluk. Hal ini karena memang tidak nyambung.

Dengan mensejajarkan Quran dengan Yesus berarti orang Kristen ibarat melempar batu sembunyi tangan. Supaya orang Islam bingung: ibarat makan buah simalakama, dimakan, bapak mati, tidak dimakan ibu mati. Mengatakan Yesus makhluk berarti mengatakan Quran juga makhluk, mengatakan Quran ghairu makhluk berarti harus juga mengatakan bahwa Yesus bukan makhluk.⁠⁠⁠⁠

Apakah mereka kaum Kristen berpendapat bahwa Firman Allah nuzul di sungai Yordan kepada Yesus itu dianggapnya bahwa TUHAN pun berinkarnasi dalam wujud sekumpulan huruf-huruf dan bunyi-bunyi yang dilahirkan melalui mulut-Nya atau Firman Tuhan nuzul di gua Hira juga merupakan bukti bahwa TUHAN pun berinkarnasi dalam wujud sekumpulan huruf-huruf dan bunyi-bunyi yang dilahirkan melalui mulut sang Utusan-Nya?  Tentu tidak.

KESIMPULAN.

  1. Pertama, Quran dan Bible sama-sama memiliki perspektif yang sejajar tentang siapa sebenarnya Yesus itu. Menurut Quran, Yesus adalah sekedar  makhluk yang diciptakan oleh Allah melalui Firman-Nya. Dia berfirman KUN (Jadilah engkau). Melalui kajian linguistik Arab, kata KUN merupakan fi’il amr yang merupakan kata kerja perintah mufrad (singular), maka konsekwensinya objeknya juga mufrad yakni  kata Kalimatulah (1 firman Allah); Allah tidak berfirman KUNU (Jadilah kalian semua) sehingga obyeknya jadi bentuk jama’ (plural). Apakah kaum Kristiani bisa bedakan antara fi’il amr bentuk mufrad (KUN) dan fi’il amr bentuk jama’ (KUN)? Apakah kaum Kristiani bisa bedakan antara istilah Arab-nya ” Firman Allah ” bentuk mufrad dan “Firman Allah ”  bentuk jama‘? Jelaslah bahwa dalam Quran Yesus disebut sebagai kalimatullah hanyalah sebagai GELAR, yang namanya Sang Firman,  karena Yesus diciptakan dari firman Allah yang berbunyi KUN (Jadilah) yang Allah firmankan itu. Hal ini ada kesejajaran dengan perspektif Bible bahwa Yesus disebut juga namanya sebagai Firman Allah (Wahyu 19:13) yakni Sang Firman. Itulah sebanya dalam Alkitab al-Muqaddas berbahasa Arab dikatakan: fil bad’i kana al-kalimah (pada mulanya adalah firman), teksnya tidak tertulis  fil bad’i kanat al-kalimah, kanat dalam bentuk muannats (feminin), tapi dalam bentuk kana (madzakkar/masculine). Hubungan antara kata kana (mudzakar) dengan kata kalimah membuktikan bahwa kata al-kalimah merupakan GELAR bagi kata mudzakkar. Di sinilah bukti kongkrit bahwa kata Kalimah hanya merupakan gelar saja, sehingga Yesus disebut  dengan gelar Sang Firman. Mengapa? Karena dia diciptakan dari firman Allah yang berbunyi KUN.
  2. Kedua, kalau umat Kristen mau memperbincangkan apakah Quran yang nuzul dari langit yang terdokumentasi dalam KITAB mushaf Quran itu makhluk atau ghairu makhluk, maka sebenarnya ada konsep yang sejajar dalam persoalan ini dalam dunia kekristenan. Dalam Kristen hal ini berkaitan dengan Firman Allah yang nuzul dari sorga  yang kemudian terdokumentasi dalam KITAB Injil (Matius, Markus, Lukas, Yohanes) itu makhluk atau ghairu makhluk? Jadi Firman Allah yang nuzul dari Lauhil Mahfudz konsepnya ada dalam Islam, sejajar dengan konsep Firman Allah yang nuzul dari langit/sorga dalam iman Kristen. Lihat Matius 3:17; Matius 17:5. Jadi sebenarnya ada hubungan paralel antara keyakinan Kristen mengenai Firman Allah yang kekal yang nuzul menjadi KITAB mushaf Injil dengan keyakinan Islam akan Kalam Allah yang kekal yang nuzul menjad KITAB  mushaf Qur’an.

Injil adalah 100% Firman Tuhan namun juga 100% adalah tulisan  dalam bentuk KITAB mushaf Injil. Sama persis dengan Al Quran yang 100% Kalimatullah dan 100% dalam bentuk KITAB mushaf Injil.

Secara fisik mungkin kitab/buku tersebut dapat rusak, robek, atau bahkan terbakar sampai habis. Namun ketika Firman Allah yang nuzul kepada Nabi SAW di gua Hira yang terdokumen dalam mushaf Quran atau pun Firman Allah yang nuzul dari sorga kepada Yesus di sungai Yordan yang terdokumen dalam mushaf Injil itu  rusak secara fisik, apakah artinya Firman Allah juga telah rusak? Tentu tidak.

Mushaf Al Quran yang kebetulan ketumpahan kopi: Pasti ada yang berkomentar aneh:

“Iiihh…. Kok lucu sih Firman Allah yang nuzul di gua Hira kepada Nabi SAW bisa rusak ketumpahan kopi? Bukan Firman Allah tuh namanya kalau bisa rusak!” Pernyataan ini sama halnya dengan menyatakan: “Iiih kok lucu sih Firman Allah yang nuzul di sungai Yordan kepada Yesus kok bisa rusak ketumpahan kopi!”

Jadi argumentasi seorang akademisi yang cerdas akan berkata jujur berbicara dua tema besar:

  1. Apakah Firman Allah yang nuzul kepada Nabi di gua Hira ataupun Firman Allah yang nuzul kepada Yesus di sungai Yordan itu Firman Allah yang kekal, ghairu makhluk atau makhluk?
  2. Apakah Firman Allah yang nuzul dan terdokumentasi dalam mushaf Quran dan mushaf Injil itu ghairu makhluk atau makhluk?

Silakan dijawab sendiri bila Anda orang yang jujur dan tidak standard ganda…

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *