Sejarah Yang Terlupakan Part 6

Shalom ‘aleychem
Assalamu ‘alaykum

Yeshu (ha-Notzri) ben Panthera

Penyebutan istilah ha-Notzrim, yakni followers of the man of Nazareth – para pengikut orang Nazareth – termaktub dalam kitab Perjanjian Baru (Kisah Para Rasul 24:5). Konteks ayat tersebut sebenarnya berkaitan dng figur Paulus sebagai seorang tokoh sentral dari komunitas הנצרים (ha-Notzrim, sekte orang Nasrani). Sementara itu, nama Yeshu yang bergelar ha-Notzri sebagai nama tokoh sentral juga termaktub dalam kitab Talmud (B’rachot 17b, Sotah 47a). Sebutan ha-Notzri bukanlah nama seseorang, tetapi merujuk pada asal wilayah seseorang. Itulah sebabnya dalam kitab Talmud, sang tokoh disapa dng sebutan populer Yeshu ha-Notzri (Jesus of Nazareth), sebagaimana yang tertulis dalam kitab PB (Injil Lukas 18:37).

Ada satu hal yang sangat menarik berkaitan dengan status Yeshu ha-Notzri – Yesus orang Nazaret – yang dituduh oleh orang-orang Yahudi pada zamannya sebagai anak zinah dng menggunakan ungkapan khas kultur Semitik. Dalam teks Peshitta, yakni kitab Perjanjian Baru berbahasa Syro-Aramaic, nas Yohanes 8:41 tertulis demikian: חנן מן זניותא לא הוין (chanan min zaniuta lo hawayn) sejajar dng teks Perjanjian Baru terjemahan bhs Ibrani, yang berbunyi: אנחנו לא נולדנו מזנות (Anahnu lo noladnu mi zenut), yang artinya: ” Kami tidak dilahirkan dari zinah.” Istilah זנות (zenut) sejajar dng term Yunani ‘porneias’ yang bermakna ‘zinah’ sebagaimana yang termaktub dalam nas Yohanes 8:41, kitab Perjanjian Baru versi teks Greek New Testament (GNT). Istilah porneias dalam term Yunani, menurut Cleon L. Rogers JR dan Cleon L. Rogers III dalam karyanya The New Linguistic and Exegetical Key to the Greek New Testament bermakna fornication, unlawful sexual relation (Michigan: Zondervan Publishing House, 1998), hal. 203.

Ungkapan bergaya satire ” Kami tidak dilahirkan dari zinah” sebenarnya bukan ditujukan kepada mereka yang mengungkapkan ungkapan itu, tetapi sebaliknya – yakni ditujukan kepada lawan bicara. Ungkapan satire yang menyasar kepada Yesus yang dituduh oleh orang-orang Yahudi sebagai anak zinah tersebut juga dibenarkan oleh para pakar Alkitab. Silakan Anda baca tulisan Leon Morris, the Gospel According to John. Revised Edition. The New Inter ational Commentary on the New Testament (Cambridge, UK: William B. Eerdmans Publishing Company, 1995), hal. 409 ketika membahas Yohanes 8:41, dia menjelaskan:

” They answer that they are not illegitimate children which is a very curious response. They may be reviling Jesus. While they would not have given countenance to the Christian doctrine of the Virgin Birth, the Jews may well have known that there was something unusual about the birth of Jesus and have chosen to allude to it in this way. There was of course a Jewish slander that Jesus was born out of wedlock (see the passage cited in R. Travers Herford, Christianity in Talmud and Midrash (London, 1903, p. 35ff).

Pembacaan James D. Tabor terhadap teks Nag-Hammadi, khususnya the Gospel of Thomas, dalam karyanya berjudul The Jesus Dynasty (New York: Simon & Schuster, 2006), hal. 63 mengutip Sabda Yesus no. 105, teksnya berbunyi:

” One who knows his father and his mother will be called the son of whore.” Tatkala memahami Sabda Yesus no. 105 tersebut, James D. Tabor menyatakan: “many scholars have found in this crytic saying an echo of the ugly label that Jesus had faced throughout his life – namely that his mother Mary had become pregnant out of wedlock. The Gospel of Thomas has no birth stories or references to Joseph or to the virgin birth here in this text we appear to have some reflection of the illegitimacy story.”

Begitu juga Amy-Jill Levine and Marc Zvi Brettler dalam bukunya The Jewish Annotated New Testament (New York: Oxford University Press, 2011), hal. 176 tatkala menjelaskan teks Yohanes 8:41, keduanya menjelaskan dan sekaligus mengutip pernyataan dari Bapa Gereja kuno yang bernama St. Origin:

” We are not illegitimate, perhaps an implied contrast to Jesus’ supposed illegitimacy (Origin, Cels 1.28). Selain itu, pakar Alkitab dari kalangan Kristen Messianik yang bernama David H. Stern dalam bukunya Jewish New Testament Commentary: A Companion Volume to the Jewish New Testament, ketika menjelaskan Yohanes 8:41 dia bahkan secara tegas mengatakan: ” We are not illegitimate children, like you (implied)! Apparently they knew something about unusual circumstance of Yeshua’s birth. ” (Clarksville, USA: Jewish New Testament Publications, 1992), hal.183.

Marc Zvi Brettler dan David H. Stern keduanya terlahir dari kultur Ibrani. Keduanya pasti paham betul tentang suatu maksud di balik ekspresi ungkapan Ibrani itu. Apalagi ungkapan Ibrani yang bernada ejekan itu faktanya diucapkan oleh orang-orang Yahudi di hadapan Yesus – face to face. St. Origin, salah seorang Bapa Gereja kuno juga meneguhkan hal tsb sebagai ungkapan yang menyasar kepada status Yesus sebagai anak zinah. Tidak ada seorang pun dari antara Bapa Gereja kuno yang menentang pernyataan St. Origin. Dengan demikian, fakta ini membuktikan bahwa pernyataan orang-orang Yahudi yang termaktub pada Yohanes 8:41 itu sebenarnya menyasar kepada status Yesus sbg anak zinah. Itulah sebabnya David H. Stern tatkala mengomentari nas Yohanes 8:41, beliau menegaskan bahwa ungkapan mereka yang diucapkan di hadapan Yesus itu – menurut David H. Stern mengandung makna: “Kami tidak dilahirkan dari hasil perzinahan seperti kamu ! ”

Ekspresi ungkapan satire dalam kultur Semitik ini ternyata juga ada kesejajarannya dng teks Quran, meskipun setting-nya berbeda. Bila dalam teks Perjanjian Baru, ungkapan satire itu ditujukan kepada Yesus yang dituduh sebagai anak zinah, sedangkan ungkapan satire dalam teks Quran tersebut adalah pernyataan orang-orang Yahudi, tepatnya dewan Sanhedrin, yang pernyataan itu ditujukan kepada Maryam sebagai lawan bicara, yang dituduh sebagai pelaku zinah, dan ungkapan itu sebenarnya bukan ditujukan kepada ibunya Maryam. Yoel Yosef Rivlin, sang penerjemah Quran dalam bahasa Ibrani, tatkala menerjemahkan nas Qs. Maryam 19:27, teksnya tertulis demikian:

הוי אחות אהרון לא היה אביך איש בליעל ולא היתה אמך זונה

(פרשת מרים 19:27).

Ungkapan satire, yakni ungkapan ejekan yang disampaikan scr tidak langsung (indirectly), yang ditujukan di hadapan lawan memang merupakan common heritage antara tradisi Yahudi dan Arab, yang sama-sama berakar dari budaya Semitik. Dalam konteks ini, Yoel Yosef Rivlin menggunakan frase berikut: לא היחה אמך זונה (lo hayetah immecha zonah) yang artinya: “… ibumu bukanlah seorang pezinah” (Maryam 19:27). Frase ini merupakan ekspresi sindiran/ ejekan yang ditujukan kepada lawan bicara secara face to face, yakni ditujukan kepada Maryam – yang dituduh sebagai perempuan pezinah.

Dalam kitab Talmud Bavli (Nezikin traktat Sanhedrin 63a, 47a) atau pun pada bagian traktat-traktat lainnya, ternyata di dalam kitab Talmud hanya disebutkan 3 frase kunci (1) Yeshu ha-Notzri, (2) Yeshu ben Stada, (3) Yeshu ben Panthera. Saya tidak menemukan 1 pun frase yang menyebut nama Yeshu ben Yosef. Hal ini menjadi indikasi kuat bahwa dalam kitab Talmud nama Yeshu yang nasabnya disandarkan kepada Yosef benar-benar nihil, dan ini membuktikan bahwa status Yesus tidak diakui sebagai anak angkat Yusuf secara de jure atau pun anak biologis Yusuf secara de facto. Dengan kata lain, Yesus tidak memiliki nasab biologis dng Yusuf, bahkan Yesus juga tidak memiliki nasab yuridis dng Yusuf. Justru pada satu sisi, Yesus dalam kitab Talmud, ternyata nasab biologisnya dihubungkan dng tokoh historis yang bernama Panthera; dan pada sisi yang lain, nasab biologis Yesus juga dihubungkan dng tokoh historis yang disapa dng sebutan Stada. Mengenai tokoh historis yang bernama Panthera ini, James D. Tabor menyuguhkan sebuah bukti manuskrip yang ditulis pada 178 M., dalam teksnya tersebut adanya kisah hubungan antara Mary dan Panthera. James D. Tabor mengatakan:

” The earliest version of the Panthera story comes from a Greek philosopher named Celcus. In an anti-Christian work titled ‘On the True Doctrine’ written around A.D. 178, he relates a tale that Mary was pregnant by a Roman soldier named Panthera and was driven away by her husband as an adulterer…. Panthera is a real name, not a concocted term of slander.” (pp. 64-65).

Sementara itu, sapaan gelar Stada yang merupakan akronim dari ungkapan [Satit da mi ba’alah ], yang artinya: ” perempuan yang tidak setia kepada suaminya”, ternyata ungkapan itu ditujukan kepada sang ibu yang melahirkan Yesus, yakni Maryam. Ada hal menarik pada sapaan ejekan yang disematkan kepada Maryam tersebut, yakni term בעל (ba’al) yang artinya ‘suami.’ Dalam Torah, Sefer Devarim 22:13-22 terkait perikop ” Masalah Keperawanan”, ternyata status seorang suami disebut בעל (ba’al). Silakan Anda cermati Sefer Devarim 22:22. Istilah בעל (ba’al) utk menyebut sang suami merupakan istilah yang sangat lazim dalam kitab Torah, kitab Talmud dan kitab Quran. Dalam kitab Quran disebutkan ayat yang menggunakan term بعل (ba’al) pada teks berikut:

قالت يويلتىء الد وانا اجوز وهذا بعلي شيخا ان هذا لشيىء عجيب

(صورة هود 11:72)

ותאמר אוי לי האלד ואני זקנה וזא בעלי זכן

(פרשת הוד 11:72)

Va tomer oi liy haeled va ani zeqenah ve zeh ba’ali zaqen (Hud 11:72).

Istri (Ibrahim) berkata: ” Sungguh mengherankan, bagaimana aku akan melahirkan seorang anak, padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan suamiku ini sudah tua. Sungguh ini benar-benar sesuatu yang menakjubkan.”

Istilah بعلي (ba’liy) dalam bhs Arab sejajar dengan istilah בעלי (ba’aliy) dalam bhs Ibrani. Dengan demikian, bila dalam kitab Talmud, Maryam disapa dengan sebutan ha-Stada (Satit da mi ba’alah) yang artinya: ” sang perempuan yang tidak setia kepada suaminya “, ternyata sebutan בעל tsb bukanlah istilah rekayasa yang baru muncul pada era Kristen, yang kemudian mengkristal menjadi sebuah mitos. Bahkan istilah בעל tersebut telah eksis sejak era pra-Kristen sesui nas yang termaktub dalam Torah. Jadi tidak tepat bila sapaan ha-Stada itu sebuah imaji, tapi justru sebaliknya, yakni merupakan fakta historis yang terekam dalam dokumen yang telah disakralkan oleh masing-masing penganut agama.

Oleh karena itu, kita harus banyak membaca buku-buku agar kita lebih arif memahami berbedaan wacana sehingga kita tidak terlalu gegabah menyatakan sesuatu.

אלחמד ללה רב אלעלמין

Sejarah Yang Terlupakan Part 5

Shalom ‘aleychem
Assalamu ‘alaykum

 

Bunda Sang Nabi Seorang Yahudi

ברוך אתה הי אלהינו מלך העלם
רחםנא הי אלהינו על ישראל עמך
ועל ירושלים עירך
ועל ציון משכן כבודך
ועל מלכות בית דוד משיחך
ועל הבית הגדול והקדוש שנקרא שמך עליו.

David H. Stern dalam bukunya ‘Jewish New Testament Commentary (Jewish New Testament Publications, 281) menyatakan:

Jewish and non-Jewish descent are invariably traced through the mother, not the father. The child of a Jewish mother and a Gentile father is Jewish, the child of a Gentile mother and a Jewish father is Gentile …. Lawrence H. Schiffman has a chapter ‘The Jew by Birth’ in which he dates matrilineal Jewish descent to at least the second and probably the first century C.E., adducing as evidence Mishnah Kiddushin 3:12; Tosefta Kiddushin 4:16 and Josephus. Among the supportive biblical passages is Ezra 10:2-3.

Penjelasan David H. Stern tsb membuktikan bahwa status seseorang sebagai Jewish atau pun Gentile (Hebrew: Goyim) ditentukan dari garis ibu. Dengan demikian, menurut perspektif Mishnah maupun kitab Talmud, maka status Yesus adalah seorang Jewish, karena Maryam seorang Jewess sedangkan ayah biologis Yesus adalah seorang Gentile (Goyim) serdadu Romawi, yang bernama Panthera. Sementara itu, menurut perspektif Mishnah maupun kitab Talmud, status Sang Nabi SAW juga diakui sebagai seorang Jewish karena ibu kandungnya seorang Jewess, dan ayah kandungnya pun bukan sekedar seorang Arab Musta’ribah, tapi juga seorang Jewish, karena Abdullah ibn Abdul Muthalib adalah seorang Jewish, keturunan dari Salma binti Amr, yakni seorang perempuan Yahudi Musta’ribah. Dengan demikian, status Yesus sebagai seorang Jewish tidak sebanding bila dibandingkan dng status Sang Nabi SAW sebagai seorang Jewish, terutama mengacu pada tradisi Yahudi dan kitab Talmud. Mengapa demikian? Alasannya sederhana saja. Yesus memiliki silsilah biologis dari garis ibu sebagai penanda bahwa Yesus seorang Jewish, tetapi Yesus tidak memiliki silsilah biologis dari garis ayah sebagai penanda bahwa dirinya sebagai seorang Jewish. Sementara itu, Sang Nabi SAW memiliki silsilah biologis dari garis ayah sekaligus memiliki silsilah biologis dari garis ibu sebagai penanda bahwa Sang Nabi SAW adalah sepenuhnya seorang Jewish. Inilah perbedaan status antara Yesus dengan Sang Nabi SaW dalam pandangan tradisi Judaism.

Berdasarkan dokumen klasik yang berjudul
MANUAL of UNIVERSAL CHURCH HISTORY oleh DR John Alzog, volume 2 hal 192 disebutkan bahwa ibu kandung Sang Nabi SAW yang bernama Aminah binti Wahab sebenarnya adalah seorang Jewish – wanita Yahudi – bukan seorang penyembah berhala. Dalam sumber klasik Islam, dinyatakan bahwa Wahab ibn Abd Manaf itu bukanlah ayah kandungnya, tetapi pamannya, yang kemudian Aminah dititipkan kepada beliau, klen Quraisy. Dokumen Islam terkait pengasuhan Aminah oleh Wahab ibn Abd Manaf ini sekaligus memiliki alur biografi yang sejajar dengan pengasuhan Maryam oleh pamannya yang bernama Zechariyah. Maryam adalah ibunda Yesus, dan Maryam pengasuhannya dititipkan kepada Imam Zechariah, sebagaimana yang tercatat dalam Injil apokrif, yakni Injil Yakobus. Menurut Injil apokrif ini, Maryam adalah puteri Yoyakim dan Anne. Begitu juga Aminah yang berasal dari bani Zuhra di Yatsrib (Medinah) ternyata memiliki kekerabatan dng bani Quraisy di Mecca. Hal ini sangat masuk akal karena wanita Yahudi di Yatsrib banyak yang menikah dng kaum Quraisy di Mecca. Terkait dng bani Zuhra, Gordon Darnell Newby menyatakan:

” … some individuals and groups banded together for mutual interest and protection, like the reported 300 goldsmiths living in Zuhra, not all of whom were Jewish.”(A History of the Jews of Arabia, p.52).

Berdasarkan literatur Arab yang saya baca, Aminah berasal dari bani Khuza’a – sumber yang lain menyebut bani Zuhra, yakni komunitas Yahudi Musta’ribah, khususnya kaum Yahudi Temanim (Yahudi Yaman) yang pindah ke Yatsrib, dan komunitas ini secara genealogis berasal dari keturunan Exilarch.

Salma binti Amr sebagaimana yang telah saya ulas pada tulisan saya (Sejarah Yang Terlupakan Part 1) membuktikan bahwa Salma binti Amr berasal dari kalangan bani Najjar, yakni komunitas Yahudi Musta’ribah dari wilayah Yaman, yang migrasi ke Yatsrib. Martin Lings dalam karyanya yang berjudul ‘ Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik’ yang nama Muslimnya Abu Bakr Sirajuddin.juga menyatakan hal yang sama. Martin Lings asalnya adalah seorang Yahudi Aschenazi.

Menurutnya, bani Najjar memang bagian dari bani Khazraj, dan bani Khazraj bagian dari bani Qaylah. Dalam Piagam Madinah, bani Najjar diidentifikasi sbg kaum Yahudi Musta’ribah. Mereka bukanlah Arab ‘Aribah, dan juga bukan Arab Musta’ribah tapi bani Najjar adalah kaum Yahudi Musta’ribah yang migrasi ke Yatsrib dari Yaman. Itulah sebabnys bani Najjar disebut dalam literatur Ibrani sebagai kaum Yahudi Temanim.

Sementara itu, bani Khuza’a juga migrasi dari Yaman, asal usul keluarga besar Sayyidah Aminah. Kedua wanita Yahudi Musta’ribah ini memang kaum migran yang migrasi ke wilayah Yatsrib (Madinah) bersama para kaumnya pada era pra-Islam akibat hancurnya kerajaan Himyar di Yaman. Dan kedua klen ini berasal dari kaum keturunan Exilarch (bani Yehuda, keturunan Daud AS). Setelah wafatnya Raja Himyar yang terakhir, maka keluarga raja pun menyelamatkan diri menuju kawasan Yatsrib. Laporan tentang Yahudi Musta’ribah yang terkait dng royal family of the Tubba dari Yaman ini dapat dibaca dari kitab Shirah Nabawiyyah li Ibn Ishaq, dan dapat pula dibaca pada buku A History of the Jews of Arabia: from Ancient Times to Their Eclipse Under Islam karya Gordon Darnell Newby (University of South Carolina Press, 1988), 39.

Begitu juga bani Nadzir. Mereka adalah kaum Yahudi Musta’ribah yang pindah ke Yatsrib dari wilayah Palestina akibat peperangan/pemberontakan Yahudi tahun 70 M melawan kekaisaran Romawi. Menurut kitab المستدرك على الصحيحين (Mustadrak ‘ala ash -Shahihayn) karya al-Imam al-Hakim, dari kalangan bani Nadzir inilah seorang wanita Yahudi Musta’ribah yg bernama Shafiyah binti Huyai, keturunan Harun, keturunan Lewi, dipersunting oleh Sang Nabi SAW.

Gordon Darnell Newby (1988:53) juga menyatakan:

‘We are also told that some of the banu Aus and the banu Khazraj converted to Judaism or were converted by their mothers …..”

Ini sekaligus membuktikan adanya faktor garis ibu yang menentukan status seseorang sbg keturunan Yahudi. Kalau era sekarang, lelaki Yahudi diperbolehkan menikah dengan seorang Muslimah. Begitu juga sebaliknya, seorang perempuan Yahudi diperbolehkan menikah dng lelaki Muslim. Aturan ini sebenarnya rabbinical law yang berawal sejak era pra-Islam yang menyebut Islam sebagai Yishmaelim. Mereka dibolehkan menikah dng kaum Yishmaelim karena menurut Halacha mereka dianggap menjalankan 7 hukum Nuh (Noachic law). Itulah sebabnya pada era pra-Islam banyak lelaki keturunan Ishmael di Mecca menikah dng perempuan Yahudi di Yatsrib.

Prof. Uri Rubin dari Hebrew University, Israel, telah membahas persoalan perkawinan kaum Yahudi Musta’ribah dng kaum Yishmaelim era pra-Islam berdasarkan manuskrip yang berjudul Jamharat nasab Quraish wa Akhbariha karya Zubair ibn Bakkar. Prof. Uri Rubin menulis artikel berjudul ‘From Jahiliyya to Islam. Jerusalem Studies in Arabic and Islam. Part II (1986), p. 131. Institute of Asian and African Studies (the Magnes Press, Hebrew University, Jerusalem). Sementara itu, berkaitan dng nasab kaum Arab Musta’ribah era Islam, silakan Anda membaca kitab Al-Masra al-Rawi fi Manaqib al-Asyraf as-Saadah al-Alawi karya Ahmad ibn Muhammad Syili.

Sejarah Yang Terlupakan Part 4

Shalom ‘aleychem
Assalamu ‘alaykum

part-4a.jpgpart-4b.jpg

Toledoth Yeshu

Pinchas Lapide menyatakan:

” the Toledoth (Yeshu) neither denies the historicity of Jesus, nor conceals his miracles and cures, nor questions his Jewishness – for rabbinical law states that every son of a Jewish mother is a Jew (hlm. 76).

Aturan seperti ni juga tercatat dalam kitab Mishnah, traktat Kiddushin 3:12 sebagaimana yang dikompilasi oleh Rabbi Yudah ha-Nasi. Sefer Ben Ish Chay karya Rabbi Yosef Chayyim yang hidup di kota Baghdad juga menyatakan hal yang sama, yakni seseorang diakui sebagai Yahudi (his Jewishness) bila ibunya seorang Yahudi. Sefer Ben Ish Chay merupakan kitab Midrash Halacha yang populer dijadikan acuan oleh kalangan masyarakat Yahudi Musta’ribah di wilayah Arab, sejajar dng kitab Midrash Halacha yang disebut Sefer Kitzur Sulchan ‘Aruch karya Rabbi Yosef Karo yang populer dijadikan acuan di kalangan masyarakat Yahudi Eropa di wilayah Barat. Sefer Kitzur Sulchan Aruch dan Sefer Ben Ish Chay merupakan rabbinical law yang mengatur segala kehidupan kaum Yahudi, termasuk status seseorang.

Dengan demikian, tradisi Yahudi membenarkan bahwa seorang anak dianggap Yahudi dan mewarisi berkat Abraham bila ibunya adalah berdarah Yahudi, dan sang anak tersebut disunat. Dalam hal ini, Yesus anak Maria dan Timotius murid Paulus (Kisah Para Rasul 16:1-3), keduanya diakui sebagai keturunan Yahudi karena kedua ibu mereka adalah seorang Yahudi. Begitu juga status Abdul Muthalib, kakek Sang Nabi SAW – secara hukum – yakni berdasar Sefer Ben Ish Chay dapat disebut sebagai keturunan Yahudi, karena ibunya yang bernama Salma binti Amr, istri Hashim adalah seorang wanita Yahudi Musta’ribah dari bani Najjar di kota Yatsrib. Jadi tidak ada keistimewaan apapun bila status Yesus dibandingkan dng status Timotius, dan juga tidak ada keistimewaan apapun bila status Yesus dibandingkan dng status Abdul Muthalib. Bahkan tidak ada keistimewaan apapun bila Yesus dibandingkan dng Sang Nabi SAW, karena kakek beliau adalah keturunan Yahudi Musta’ribah dari bani Najjar. Jadi Yesus, Timotius, Abdul Muthalib dan Muhammad SAW semuanya adalah keturunan Yahudi. Ini bukan klaim agama Kristen atau pun klaim agama Islam, sebab yang menjadi acuan keyahudian seseorang berdasar pada rabbinical law, khususnya status keturunan kaum Yahudi Musta’ribah sebagaimana yang tercantum dalam Sefer Ben Ish Chay karya Rabbi Yosef Chayyim yang berasal dari Baghdad.

Fakta tekstual membuktikan bahwa dalam teks Peshitta, khususnya Injil Markus 6: 3, Yesus disebut sebagai ברה דמרים (brah d’Maryam) yang artinya: ” anak Maryam.” Yesus dalam kitab suci Quran bahkan lebih eksklusif disebut dng gelar ابن مريم (ibnu Maryam), yang artinya anak Maryam. Kesejajaran teks Peshitta dan kitab suci Quran ini membuktikan adanya link dng Sefer Ben Ish Chay yang berlaku dan dipraktekkan di kalangan masyarakat Yahudi Musta’ribah di Arabia. Ini adalah fakta sosial yang berlaku pada zamannya tentang identitas status seseorang yang diakui secara hukum sebagai keturunan Yahudi. Fakta sosial ini nampaknya juga mengalami sakralitas yang bernuansa teologis yang dikemas dalam format teks kitab suci. Dalam Sefer Ben Ish Chay, seorang ibu dapat memberi nama anaknya. Oleh karena itulah Hazna binti Hofnai, puteri seorang Exilarch ke-32 yang menjadi istri Asad ibn Hashim, faktanya sang putri Exilarch sendiri yang memberi nama anak perempuannya bernama Fathimah (فاطمة) sebagaimana nama yang tercantum dalam Targum Yonathan dalam bhs Judeo-Aramaic dan Sefer Pirkei de Rav Eliezer dalam bhs Ibrani (Hebrew) yang pada kedua kitab tersebut ternyata tertulis nama Phetima (פתימא). Dan menariknya kedua kitab tersebut telah eksis sejak era pra-Islam.

Sementara itu, teks Peshitta juga memberikan data yang sama bahwa Maria-lah yang pertama kali menerima perintah dari malaikat Gabriel agar anak yang akan dilahirkan itu harus diberi mana Yesus (Lukas 1: 31). Jadi yang memberi nama Yesus adalah Maria, bukan Yusuf; sebagaimana yang memberi nama Fathimah bukanlah Asad ibn Hashim, tapi Hazna binti Hofnai. Perdebatan di kalangan Kristen mengenai siapa sebenarnya yang pertama kali memberi nama Yesus dipicu akibat perbedaan originalitas bahasa asli kitab PB itu sendiri. Bila teks Peshitta dianggap teks yang asli (bukan terjemahan), maka PB versi Greek New Testament (GNT) yang menyebut bahwa Yusuf lah yang memberi nama Yesus dalam Injil Matius 1: 21, sebenarnya tidak akurat. Ketidakakuratan ini akibat penerjemahan teks yang kurang tepat. Dalam teks Peshitta, Injil Matius 1:21 tertulis תקרא שמה ישוע הו (tiqre shmeh Yeshu’ hu), yang terjemahannya bisa bermakna ganda “you will call him Jesus ” atau “she will call him Jesus “, tergantung kepada konteksnya. Menurut Kristen Ortodoks Assyria, pemahaman yg lebih tepat dari teks Injil Matius 1: 23 adalah “she will call him Jesus”, bukan ” you will call him Jesus “, yang berarti Maria-lah yang punya hak dan kewajiban memberi nama Yesus, anak yang akan dilahirkannya, sehingga tidak bertentangan dengan Lukas 1: 31. Hal ini mengindikasikan bahwa memang Maria yang lebih dulu menerima tugas memberi nama Yesus, berdasarkan perintah TUHAN melalui malaikat Gabriel. Dengan demikian, Yusuf tidak memiliki peran apapun dalam pemberian nama, dan juga tidak memiliki peran apapun dalam hal status Yesus, yakni yang menandai status legalitas keyahudian Yesus. Mengapa? Jawabannya tercantum dalam teks Peshitta, yang menyebutkan bahwa hak mutlak Maria saja yang memberi nama pada anak yang akan dilahirkannya, yakni Yesus (Lukas 1: 31; Matius 1:23).

Quran secara pasti menegaskan bahwa nama Maryam sebagai nasab yang sah dari Yesus. Hal ini mengindikasikan bahwa tidak ada lelaki manapun – menurut Quran – yg menjadi nasab Yesus dari jalur ayah, termasuk jalur dari Yusuf sendiri untuk menandai status legalitas keyahudian Yesus. Artinya, nasabnya tidak dikaitkan kepada seorang lelaki manapun sebagaimana anak-anak lainnya.

Baruch HASHEM. ברוך הי מלך העלם

Silakan baca artikel yang lain

Part 1
Part 2
Part 3