SIRAH AL-MASIH DAJJAL: "Mshikha Daggala" dari Teks Peshitta Aramaik hingga teks Islam.


Wacana terkait Al-Masih Dajjal (المسيح الدجال) tidak saja dikenal dalam literatur Islam, tetapi wacana Al-Masih Dajjal ternyata juga dikenal dalam literatur yang lebih kuno di Timur Tengah, terutama pada dokumen agama-agama Semitik, yang merujuk pada tradisi agama Yahudi dan tradisi agama Kristen. Dalam teks Peshitta abad ke-5 M., yang ditulis dalam bahasa Syro-Aramaic, istilah Al-Masih ad-Dajjal (المسيح الدجال) dikenal dengan sebutan Mshikha Daggala (ܡܫܝܚܐ ܕܓܠܐ), sedangkan dalam literatur Ibrani ternyata istilah tersebut disebut dengan sebutan Meshikhei sheqer (משיחי שקר). Meskipun berbeda dalam pelafalan diksinya, tetapi ketiganya merujuk pada makna yang sama, yaitu Mesias palsu – the false Messiah.


Injil Matius 24:24 versi Peshitta menyebutkan demikian.

ܢܩܽܘܡܽܘܢ ܓ݁ܶܝܪ ܡܫܺܝܚܶܐ ܕ݁ܰܓ݁ܳܠܶܐ ܘܰܢܒ݂ܺܝܶܐ ܕ݁ܟ݂ܰܕ݁ܳܒ݂ܽܘܬ݂ܳܐ ܘܢܶܬ݁ܠܽܘܢ ܐܳܬ݂ܘܳܬ݂ܳܐ ܪܰܘܪܒ݂ܳܬ݂ܳܐ ܐܰܝܟ݂ ܕ݁ܢܰܛܥܽܘܢ ܐܶܢ ܡܶܫܟ݁ܚܳܐ ܐܳܦ݂ ܠܰܓ݂ܒ݂ܰܝܳܐ ܀

Nqumun geir Mshikhe Daggale wa neviyye d’kaddavuta, w’nitlun atwata rawrwata. Eyk d’nath’on in mishkta af lagvayya.

Matthew 24:24 – For there shall arise false messiahs and prophets of untruth; and they shall give forth magnificent signs, so as to seduce, if possible, the chosen also.


Karena akan datang banyak Al-Masih palsu dan nabi-nabi palsu. Mereka akan memberikan tanda-tanda ajaib yang dahsyat serta juga berbagai mukjizat, supaya kalau bisa, mereka menyesatkan orang-orang pilihan-Nya juga


Sementara itu, teks Injil Matius 24:24 versi bahasa Arab tertulis demikian [1]:


فسيظهر مسحاء دجالون وانبياء كذابون يصنعون الايات والعجاءب العظيمة ليضللوا ان امكن حتى الذين اختراهم الله


“Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul, dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga.”


Ayat suci yang termaktub dalam Matius 24:24 yang tertulis dengan menggunakan istilah Syro-Aramaic ܡܫܝܼܚܹܐ ܕܲܓ̈ܵܠܹܐ (Mšīkhe daggale), ternyata ada kesejajaran episteme dengan istilah Arab, yakni مسحاء دجالون (Musakha-u dajjalun). Dan istilah Syro-Aramaic ܡܫܝܼܚܹܐ ܕܲܓ̈ܵܠܹܐ (Mšīkhe daggale) sebagaimana yang termaktub dalam teks Peshitta tersebut, ternyata berdasar pada kajian semantik leksikal bermakna ganda; yakni merujuk pada makna “the Anointed Ones” dalam konteks agamis dan politis.

Dalam Injil Matius 24:24 itu memang tertulis term plural, yakni ܡܫܝܼܚܹܐ ܕܲܓ̈ܵܠܹܐ Mšīkhe daggale. Pada istilah tersebut terdapat penanda “seyame” yakni sebagai penanda bentuk plural (jamak) atas kata Mšīkhe, yg secara maknawi membuktikan akan adanya ‘mesias-mesias’ yg ‘palsu’ (daggale – adjective, plural). Ayat ini mengkonfirmasi akan adanya kemunculan lebih dari seorang ‘mesias’ selain dari Al-Masih ad-Dajjal itu sendiri.


Teks Perjanjian Baru, terutama yang termaktub dalam nas (I Yohanes 2:22), ternyata juga mencatat bahwa Al-Masih ad-Dajjal (المسيح الدجال) merupakan sosok yang kontras dari Yesus (Isa) yang disebut sebagai Al-Masih (المسيح), sebagaimana catatan kitab suci [2]:.


فمن هو الكذاب الا الذي ينكر ان يسوع هو المسيح. هذا هو المسيح الدجال الذي ينكر الاب والابن معا.


fa man huwa al-kadzdzab illa alladzi yunkiru inna Yasu’ huwa Al-Masih. Hadza huwa Al-Masih ad-Dajjal alladzi yunkiru Al-Ab wal Ibn ma’an.


(Siapakah dia sang pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Al-Masih? Dia itu adalah Al-Masih ad-Dajjal, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak),


Menariknya, teks Peshitta berbahasa Syro-Aramaic menyebut المسيح الدجال (Al-Masih ad-Dajjal) dengan sebutan ܡܫܝܚܐ ܕܓܠܐ (Mshikha Daggala). Nas tersebut dengan ungkapan demikian:

ܡܰܢܽܘ ܕ݁ܰܓ݁ܳܠܳܐ ܐܶܠܳܐ ܐܶܢ ܐܰܝܢܳܐ ܕ݁ܟ݂ܳܦ݂ܰܪ ܕ݁ܝܶܫܽܘܥ ܠܳܐ ܗ݈ܘܳܐ ܡܫܺܝܚܳܐ ܗܳܢܳܐ ܗܽܘ ܡܫܺܝܚܳܐ ܕ݁ܰܓ݁ܳܠܳܐ ܗܰܘ ܕ݁ܟ݂ܳܦ݂ܰܪ ܒ݁ܰܐܒ݂ܳܐ ܟ݁ܳܦ݂ܰܪ ܐܳܦ݂ ܒ݁ܰܒ݂ܪܳܐ ܀ 

Mennu daggala ella in ayna d’kafar d’Isho la hawa Mshikha we hanaw ܡܫܝܚܐ ܕܓܠܐ – Mshikha Daggala. Haw d’kafar be Aba kafar af be Bra.

Who is a liar, if not he who denieth that Jesus is the Messiah? and this (one) is a false meshiha. He who denieth the Father, denieth also the Son;


Studi sejarah bangsa Yahudi pasca Isa (Yesus) serta munculnya klaim orang-orang yang mengaku sebagai ‘mesias-mesias’ dalam hal ini sangat penting utk dikaji, terutama bukunya Max Isaac Dimont dalam karyanya “Jews, God and History” (2018), dan bukunya Reza Aslan berjudul “Zealot: the Life and Times of Jesus of Nazareth” (New York: Random House, 2013).

Pax-Britannica, Fase ke-1


Tanda-tanda kemunculan Dajjal memang sudah dirasakan dalam tahun-tahun terakhir ini, yang ditandai adanya maraknya fitnah dan makar dimana-mana. Dajjal sendiri pun sudah disambut kedatangannya sejak berdirinya negara Israel pada tahun 1948, dan berdirinya negara Saudi Arabia pada tahun 1932 yang diprakarsai Pax-Britanica yang didirikan di bekas wilayah imperium Islam Ottoman pasca kekalahan poros Jerman dalam Perang Dunia I (PD ke-1). Itulah sebabnya, ada hubungan rahasia yang sangat mesra antara Israel – Saudi Arabia – UK tatkala kedua negara, yakni Israel dan Saudi Arabia didirikan, dan juga ada hubungan mesra antara Saudi Arabia – Israel – USA saat kota Yerusalem dijadikan sebagai ibukota resmi oleh negara Israel.


Persiapan kedatangan Dajjal pada fase ke-1 telah dimulai, yakni dengan berdirinya negara Israel, yang didirikan oleh orang-orang Jewish Zionists atas nama klaim agama Yahudi, meskipun kaum mayoritas Yahudi Ortodoks menolaknya. Sementara itu, negara Saudi Arabia juga telah didirikan oleh orang-orang Muslim Zionists atas nama klaim agama Islam, meskipun kaum mayoritas Muslim Sunni telah menolaknya. Tentu Anda masih ingat tokoh besar Zionist yang terlibat atas berdirinya negara Saudi Arabia, yakni Thomas Edward Lawrence yang dikenal sebagai Prince Lawrence of Arabia. Silakan Anda membaca buku penting karya Sir Ronald Storrs berjudul “Lawrence of Arabia: Zionism and Palestine” (New York: Penguin Books, 1937), dan karyanya Imran N. Hosein berjudul “The Caliphate, the Hejaz and the Saudi-Wahabi Nation-State” (New York: Masjid Dar al-Qur’an, 1996).

Pax-Americana, fase ke-2


Kini, fase ke-2 untuk menyambut kedatangan Dajjal juga dipersiapkan, yakni adanya pengakuan secara de jure atas kota Yerusalem sebagai ibukota resmi negara Israel oleh Saudi Arabia dan USA. Pada fase ke-1 ini banyak buku telah ditulis, yakni adanya gelombang migrasi kaum Yahudi secara besar-besaran menuju tanah Palestina, dan migrasi besar-besaran ini terjadi sejak tahun 1948 hingga kini. Berkaitan dengan persoalan gelombang migrasi kaum Yahudi ke tanah Palestina dan konflik yang melingkupinya, maka para pembaca dapat membaca 3 buku penting para sejarawan Yahudi berikut ini:

  1. (“The Fateful Triangle: Israel, the United States and the Palestines” karya Prof. Noam Chomsky (Montreal: Black Rose Books, 1984),
  2. “War and Peace in the Middle East: A Concise History” karya Prof. Aim Shlaim (New York: Penguin Books, 1995),
  3. “One State, Two States: Resolving the Israel/Palestine Conflict” karya Prof. Benny Morris (New Haven & London: Yale University Press, 2009).


Ketiga karya sejarawan Yahudi tersebut mewakili cara pandang yang berbeda, yang dua anti-Zionis, sedangkan yang satu pro-Zionis. Ketiganya dikenal sebagai “historian” yang sekarang sering dinamakan sebagai “mazhab sejarawan baru (New Historian)”. Ketiga profesor dengan pandangan yang berbeda bahkan berlawanan ini akan memberikan pandangan yang tidak sederhana tentang apa yang terjadi di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait konflik Israel – Palestina. Ketiga profesor tersebut menggunakan sumber data dalam negeri mereka. Prof. Ilan Pappe dan Prof. Benny Morris keduanya terkenal menggunakan sumber utama Israel, termasuk sumber paramiliter dan tulisan langsung para “Bapak Bangsa” sebelum negara Israel itu berdiri. Namun, keduanya memiliki pandangan yang bertolak belakang dan kesimpulan yang berbeda pula, meskipun hal itu merujuk pada sumber data yang sama. Sementara itu, Prof. Noam Chomsky adalah seorang ahli bahasa dan politik, sekaligus pengamat Amerika yang sangat kritis menilai kebijakan luar negeri USA.


Fakta fase ke-2 terkait persiapan kedatangan Dajjal adalah penahbisan kota Yerusalem sebagai ibukota resmi negara Israel. Maulana Imran N. Hosein telah menyatakan betapa pentingnya kota suci Jerusalem sebagai tanda Akhir Zaman, dan beliau ternyata telah menulis buku ttng Jerusalem tersebut pada tahun 2002. Itu artinya, sebelum Presiden USA Donald Trump secara resmi mengumumkan Jerusalem pada tahun 2017 sebagai ibukota negara Israel, maka Maulana Imran N. Hosein sendiri sudah menyatakannya. Dalam bukunya “Jerusalem in the Quran: An Islamic View of the Destiny of Jerusalem” (San Fernando: Masjid Jamiah, 2002), hlm. 21 Maulana Imran N. Hosein mengatakan: “the book begins, appropriately with the mystery of Jerusalem, the town in the Quran. Perhaps the reason for a mysterious treatment of the subject is because Islam has taught that Jerusalem is destined to play a central crucial role in the Last Age.”


Sejarah telah membuktikan. Pada tgl. 6 Desember 2017, presiden USA Donald Trump telah menyatakan dan mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel, dan presiden Donald Trump sendiri telah mengumumkan akan segera memindahkan kedutaan USA dari kota Tel-Aviv ke kota Yerusalem. Pada tgl. 23 Februari 2018, Departemen Luar Negeri USA juga mengumumkan kembali bahwa Kedutaan Besar USA secara resmi akan dibuka di Yerusalem pada tgl. 14 Mei 2018, bertepatan dengan 70 tahun berdirinya negara Israel. Kini, Kedutaan Besar USA di Israel terletak di kawasan Arnona, Yerusalem Barat. Ini adalah fakta sejarah yang tidak bisa ditolak oleh siapapun. USA dan Saudi Arabia kini telah mengakui Yerusalam sebagai ibukota resmi negara Israel secara de jure. Bahkan, Saudi Arabia sangat begitu dekat dan akrab dengan Israel.


Pax-Judaica, fase ke-3


Fase ke-3 utk menyambut Dajjal akan segera terjadi. Dajjal akan segera bertahta di Singgasana Solomo, Raja Israel. Guru mulia Maulana Imran N. Hosein telah menulis 3 buah buku berkaitan dengan tema besar ini, yakni

  1. “Jerusalem in the Quran: An Islamic View of the Destiny of Jerusalem” (2002),
  2. “Dajjal the Quran and Awwal al-Zaman: the Beginning of History” (2017),
  3. “The Quran, Dajjal and the Jasad” (2019).

Pada fase ke-3 tersebut, kedatangan Dajjal akan ditandai dengan sebuah tanda besar, yakni adanya pembangunan Bait Suci ke-3 di atas reruntuhan Masjid Al-Aqsa. Inilah tanda kehadiran sebenarnya dari Al-Masih Dajjal.

Rashi dan Rambam telah menyebutkan mengenai adanya pembangunan Bait Suci ke-3 sebagai Beyt ha-Miqdas tatkala Mesias yang ditungu-tunggu itu datang, sebagaimana yang tercatat dalam Mishneh Torah, Hilkhot Melachim 11:1,4 dan Talmud Yerushalmi, masechet Megillah 1:11.

Sirah Al-Masih Dajjal Bag.1: Keterkaitan Al-Masihu Dajjal dgn Yesus, Adam, Saudi, Israel & Yerusalem

Footnotes:

  1. Alkitab: Al-Kitab al-Muqaddas. Arab – Indonesia. ‘Arabiy – Indunisiy (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2003), hlm. 86
  2. Alkitab: Al-Kitab al-Muqaddas. Arab – Indonesia. ‘Arabiy – Indunisiy (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 3003), hlm. 765.

SIRAH AL-MASIH DAJJAL: “Mshikha Daggala” dari Teks Peshitta Aramaik hingga teks Islam.


Wacana terkait Al-Masih Dajjal (المسيح الدجال) tidak saja dikenal dalam literatur Islam, tetapi wacana Al-Masih Dajjal ternyata juga dikenal dalam literatur yang lebih kuno di Timur Tengah, terutama pada dokumen agama-agama Semitik, yang merujuk pada tradisi agama Yahudi dan tradisi agama Kristen. Dalam teks Peshitta abad ke-5 M., yang ditulis dalam bahasa Syro-Aramaic, istilah Al-Masih ad-Dajjal (المسيح الدجال) dikenal dengan sebutan Mshikha Daggala (ܡܫܝܚܐ ܕܓܠܐ), sedangkan dalam literatur Ibrani ternyata istilah tersebut disebut dengan sebutan Meshikhei sheqer (משיחי שקר). Meskipun berbeda dalam pelafalan diksinya, tetapi ketiganya merujuk pada makna yang sama, yaitu Mesias palsu – the false Messiah.


Injil Matius 24:24 versi Peshitta menyebutkan demikian.

ܢܩܽܘܡܽܘܢ ܓ݁ܶܝܪ ܡܫܺܝܚܶܐ ܕ݁ܰܓ݁ܳܠܶܐ ܘܰܢܒ݂ܺܝܶܐ ܕ݁ܟ݂ܰܕ݁ܳܒ݂ܽܘܬ݂ܳܐ ܘܢܶܬ݁ܠܽܘܢ ܐܳܬ݂ܘܳܬ݂ܳܐ ܪܰܘܪܒ݂ܳܬ݂ܳܐ ܐܰܝܟ݂ ܕ݁ܢܰܛܥܽܘܢ ܐܶܢ ܡܶܫܟ݁ܚܳܐ ܐܳܦ݂ ܠܰܓ݂ܒ݂ܰܝܳܐ ܀ 

Nqumun geir Mshikhe Daggale wa neviyye d’kaddavuta, w’nitlun atwata rawrwata. Eyk d’nath’on in mishkta af lagvayya.

Matthew 24:24 – For there shall arise false messiahs and prophets of untruth; and they shall give forth magnificent signs, so as to seduce, if possible, the chosen also.


Karena akan datang banyak Al-Masih palsu dan nabi-nabi palsu. Mereka akan memberikan tanda-tanda ajaib yang dahsyat serta juga berbagai mukjizat, supaya kalau bisa, mereka menyesatkan orang-orang pilihan-Nya juga


Sementara itu, teks Injil Matius 24:24 versi bahasa Arab tertulis demikian [1]:


فسيظهر مسحاء دجالون وانبياء كذابون يصنعون الايات والعجاءب العظيمة ليضللوا ان امكن حتى الذين اختراهم الله


“Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul, dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga.”


Ayat suci yang termaktub dalam Matius 24:24 yang tertulis dengan menggunakan istilah Syro-Aramaic ܡܫܝܼܚܹܐ ܕܲܓ̈ܵܠܹܐ (Mšīkhe daggale), ternyata ada kesejajaran episteme dengan istilah Arab, yakni مسحاء دجالون (Musakha-u dajjalun). Dan istilah Syro-Aramaic ܡܫܝܼܚܹܐ ܕܲܓ̈ܵܠܹܐ (Mšīkhe daggale) sebagaimana yang termaktub dalam teks Peshitta tersebut, ternyata berdasar pada kajian semantik leksikal bermakna ganda; yakni merujuk pada makna “the Anointed Ones” dalam konteks agamis dan politis.

Dalam Injil Matius 24:24 itu memang tertulis term plural, yakni ܡܫܝܼܚܹܐ ܕܲܓ̈ܵܠܹܐ Mšīkhe daggale. Pada istilah tersebut terdapat penanda “seyame” yakni sebagai penanda bentuk plural (jamak) atas kata Mšīkhe, yg secara maknawi membuktikan akan adanya ‘mesias-mesias’ yg ‘palsu’ (daggale – adjective, plural). Ayat ini mengkonfirmasi akan adanya kemunculan lebih dari seorang ‘mesias’ selain dari Al-Masih ad-Dajjal itu sendiri.


Teks Perjanjian Baru, terutama yang termaktub dalam nas (I Yohanes 2:22), ternyata juga mencatat bahwa Al-Masih ad-Dajjal (المسيح الدجال) merupakan sosok yang kontras dari Yesus (Isa) yang disebut sebagai Al-Masih (المسيح), sebagaimana catatan kitab suci [2]:.


فمن هو الكذاب الا الذي ينكر ان يسوع هو المسيح. هذا هو المسيح الدجال الذي ينكر الاب والابن معا.


fa man huwa al-kadzdzab illa alladzi yunkiru inna Yasu’ huwa Al-Masih. Hadza huwa Al-Masih ad-Dajjal alladzi yunkiru Al-Ab wal Ibn ma’an.


(Siapakah dia sang pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Al-Masih? Dia itu adalah Al-Masih ad-Dajjal, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak),


Menariknya, teks Peshitta berbahasa Syro-Aramaic menyebut المسيح الدجال (Al-Masih ad-Dajjal) dengan sebutan ܡܫܝܚܐ ܕܓܠܐ (Mshikha Daggala). Nas tersebut dengan ungkapan demikian:

ܡܰܢܽܘ ܕ݁ܰܓ݁ܳܠܳܐ ܐܶܠܳܐ ܐܶܢ ܐܰܝܢܳܐ ܕ݁ܟ݂ܳܦ݂ܰܪ ܕ݁ܝܶܫܽܘܥ ܠܳܐ ܗ݈ܘܳܐ ܡܫܺܝܚܳܐ ܗܳܢܳܐ ܗܽܘ ܡܫܺܝܚܳܐ ܕ݁ܰܓ݁ܳܠܳܐ ܗܰܘ ܕ݁ܟ݂ܳܦ݂ܰܪ ܒ݁ܰܐܒ݂ܳܐ ܟ݁ܳܦ݂ܰܪ ܐܳܦ݂ ܒ݁ܰܒ݂ܪܳܐ ܀ 

Mennu daggala ella in ayna d’kafar d’Isho la hawa Mshikha we hanaw ܡܫܝܚܐ ܕܓܠܐ – Mshikha Daggala. Haw d’kafar be Aba kafar af be Bra.

Who is a liar, if not he who denieth that Jesus is the Messiah? and this (one) is a false meshiha. He who denieth the Father, denieth also the Son;


Studi sejarah bangsa Yahudi pasca Isa (Yesus) serta munculnya klaim orang-orang yang mengaku sebagai ‘mesias-mesias’ dalam hal ini sangat penting utk dikaji, terutama bukunya Max Isaac Dimont dalam karyanya “Jews, God and History” (2018), dan bukunya Reza Aslan berjudul “Zealot: the Life and Times of Jesus of Nazareth” (New York: Random House, 2013).

Pax-Britannica, Fase ke-1


Tanda-tanda kemunculan Dajjal memang sudah dirasakan dalam tahun-tahun terakhir ini, yang ditandai adanya maraknya fitnah dan makar dimana-mana. Dajjal sendiri pun sudah disambut kedatangannya sejak berdirinya negara Israel pada tahun 1948, dan berdirinya negara Saudi Arabia pada tahun 1932 yang diprakarsai Pax-Britanica yang didirikan di bekas wilayah imperium Islam Ottoman pasca kekalahan poros Jerman dalam Perang Dunia I (PD ke-1). Itulah sebabnya, ada hubungan rahasia yang sangat mesra antara Israel – Saudi Arabia – UK tatkala kedua negara, yakni Israel dan Saudi Arabia didirikan, dan juga ada hubungan mesra antara Saudi Arabia – Israel – USA saat kota Yerusalem dijadikan sebagai ibukota resmi oleh negara Israel.


Persiapan kedatangan Dajjal pada fase ke-1 telah dimulai, yakni dengan berdirinya negara Israel, yang didirikan oleh orang-orang Jewish Zionists atas nama klaim agama Yahudi, meskipun kaum mayoritas Yahudi Ortodoks menolaknya. Sementara itu, negara Saudi Arabia juga telah didirikan oleh orang-orang Muslim Zionists atas nama klaim agama Islam, meskipun kaum mayoritas Muslim Sunni telah menolaknya. Tentu Anda masih ingat tokoh besar Zionist yang terlibat atas berdirinya negara Saudi Arabia, yakni Thomas Edward Lawrence yang dikenal sebagai Prince Lawrence of Arabia. Silakan Anda membaca buku penting karya Sir Ronald Storrs berjudul “Lawrence of Arabia: Zionism and Palestine” (New York: Penguin Books, 1937), dan karyanya Imran N. Hosein berjudul “The Caliphate, the Hejaz and the Saudi-Wahabi Nation-State” (New York: Masjid Dar al-Qur’an, 1996).

Pax-Americana, fase ke-2


Kini, fase ke-2 untuk menyambut kedatangan Dajjal juga dipersiapkan, yakni adanya pengakuan secara de jure atas kota Yerusalem sebagai ibukota resmi negara Israel oleh Saudi Arabia dan USA. Pada fase ke-1 ini banyak buku telah ditulis, yakni adanya gelombang migrasi kaum Yahudi secara besar-besaran menuju tanah Palestina, dan migrasi besar-besaran ini terjadi sejak tahun 1948 hingga kini. Berkaitan dengan persoalan gelombang migrasi kaum Yahudi ke tanah Palestina dan konflik yang melingkupinya, maka para pembaca dapat membaca 3 buku penting para sejarawan Yahudi berikut ini:

  1. (“The Fateful Triangle: Israel, the United States and the Palestines” karya Prof. Noam Chomsky (Montreal: Black Rose Books, 1984),
  2. “War and Peace in the Middle East: A Concise History” karya Prof. Aim Shlaim (New York: Penguin Books, 1995),
  3. “One State, Two States: Resolving the Israel/Palestine Conflict” karya Prof. Benny Morris (New Haven & London: Yale University Press, 2009).


Ketiga karya sejarawan Yahudi tersebut mewakili cara pandang yang berbeda, yang dua anti-Zionis, sedangkan yang satu pro-Zionis. Ketiganya dikenal sebagai “historian” yang sekarang sering dinamakan sebagai “mazhab sejarawan baru (New Historian)”. Ketiga profesor dengan pandangan yang berbeda bahkan berlawanan ini akan memberikan pandangan yang tidak sederhana tentang apa yang terjadi di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait konflik Israel – Palestina. Ketiga profesor tersebut menggunakan sumber data dalam negeri mereka. Prof. Ilan Pappe dan Prof. Benny Morris keduanya terkenal menggunakan sumber utama Israel, termasuk sumber paramiliter dan tulisan langsung para “Bapak Bangsa” sebelum negara Israel itu berdiri. Namun, keduanya memiliki pandangan yang bertolak belakang dan kesimpulan yang berbeda pula, meskipun hal itu merujuk pada sumber data yang sama. Sementara itu, Prof. Noam Chomsky adalah seorang ahli bahasa dan politik, sekaligus pengamat Amerika yang sangat kritis menilai kebijakan luar negeri USA.


Fakta fase ke-2 terkait persiapan kedatangan Dajjal adalah penahbisan kota Yerusalem sebagai ibukota resmi negara Israel. Maulana Imran N. Hosein telah menyatakan betapa pentingnya kota suci Jerusalem sebagai tanda Akhir Zaman, dan beliau ternyata telah menulis buku ttng Jerusalem tersebut pada tahun 2002. Itu artinya, sebelum Presiden USA Donald Trump secara resmi mengumumkan Jerusalem pada tahun 2017 sebagai ibukota negara Israel, maka Maulana Imran N. Hosein sendiri sudah menyatakannya. Dalam bukunya “Jerusalem in the Quran: An Islamic View of the Destiny of Jerusalem” (San Fernando: Masjid Jamiah, 2002), hlm. 21 Maulana Imran N. Hosein mengatakan: “the book begins, appropriately with the mystery of Jerusalem, the town in the Quran. Perhaps the reason for a mysterious treatment of the subject is because Islam has taught that Jerusalem is destined to play a central crucial role in the Last Age.”


Sejarah telah membuktikan. Pada tgl. 6 Desember 2017, presiden USA Donald Trump telah menyatakan dan mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel, dan presiden Donald Trump sendiri telah mengumumkan akan segera memindahkan kedutaan USA dari kota Tel-Aviv ke kota Yerusalem. Pada tgl. 23 Februari 2018, Departemen Luar Negeri USA juga mengumumkan kembali bahwa Kedutaan Besar USA secara resmi akan dibuka di Yerusalem pada tgl. 14 Mei 2018, bertepatan dengan 70 tahun berdirinya negara Israel. Kini, Kedutaan Besar USA di Israel terletak di kawasan Arnona, Yerusalem Barat. Ini adalah fakta sejarah yang tidak bisa ditolak oleh siapapun. USA dan Saudi Arabia kini telah mengakui Yerusalam sebagai ibukota resmi negara Israel secara de jure. Bahkan, Saudi Arabia sangat begitu dekat dan akrab dengan Israel.


Pax-Judaica, fase ke-3


Fase ke-3 utk menyambut Dajjal akan segera terjadi. Dajjal akan segera bertahta di Singgasana Solomo, Raja Israel. Guru mulia Maulana Imran N. Hosein telah menulis 3 buah buku berkaitan dengan tema besar ini, yakni

  1. “Jerusalem in the Quran: An Islamic View of the Destiny of Jerusalem” (2002),
  2. “Dajjal the Quran and Awwal al-Zaman: the Beginning of History” (2017),
  3. “The Quran, Dajjal and the Jasad” (2019).

Pada fase ke-3 tersebut, kedatangan Dajjal akan ditandai dengan sebuah tanda besar, yakni adanya pembangunan Bait Suci ke-3 di atas reruntuhan Masjid Al-Aqsa. Inilah tanda kehadiran sebenarnya dari Al-Masih Dajjal.

Rashi dan Rambam telah menyebutkan mengenai adanya pembangunan Bait Suci ke-3 sebagai Beyt ha-Miqdas tatkala Mesias yang ditungu-tunggu itu datang, sebagaimana yang tercatat dalam Mishneh Torah, Hilkhot Melachim 11:1,4 dan Talmud Yerushalmi, masechet Megillah 1:11.

Sirah Al-Masih Dajjal Bag.1: Keterkaitan Al-Masihu Dajjal dgn Yesus, Adam, Saudi, Israel & Yerusalem

Footnotes:

  1. Alkitab: Al-Kitab al-Muqaddas. Arab – Indonesia. ‘Arabiy – Indunisiy (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2003), hlm. 86
  2. Alkitab: Al-Kitab al-Muqaddas. Arab – Indonesia. ‘Arabiy – Indunisiy (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 3003), hlm. 765.

TAHUN BARU HIJRIYAH: Menalar Hijrah Sang Nabi SAW Bertepatan dengan Perayaan Yom Kippur


בסם אללה אלרחמן אלרחים

Teks kitab suci bukan sekedar dokumen pewahyuan dalam paradigma teologis yang bersifat sakral, tetapi teks tersebut dapat pula dibaca sebagai rekaman kolektif dalam ranah historis yang bersifat profan. Dalam konteks inilah kita harus berani melakukan ‘pembacaan ulang’ terhadap teks sakral itu berdasarkan pembuktian linguistik dan sejarah.

Bila kita membaca teks sakral ini ada kata kunci secara linguistik yakni istilah abna’ ( ابناء ) yang terkait dng klaim kenabian. Tatkala membahas Qs. Al-Baqarah 2:146 seorang Muslim berdarah Yahudi Aschenazim yang bernama Muhammad Asad, penulis the Message of the Qur’an menyatakan: “……. this refers more explicit predictions of the future advent of the Prophet Muhammad.” Istilah ابناء (abna’) dalam bahasa Arab ini sejajar dng istilah בני (b’ney) dalam bahasa Ibrani/ Hebrew. Jadi teks kenabian pada ayat yang terkait dng term tersebut bukan sekedar bermakna alegoris tapi justru berlatar biologis. Coba perhatikan ayat ini. 

الذين اءتينهم الكتاب يعرفونه كما يعرفون ابناءهم (البقرة 2:146)
אלה אשר נתנו להם את הספר מכירים אותו כפי שמכירים את בניכם  
( סורת אלבקרה 2:146)

Elleh asher natannu lachem et has-Sefer machchirim oto kefiy shemmachchirim et b’neychem

Orang-orang yang telah Kami anugerahkan Al-Kitab mengenalnya (Muhammad SAW) seperti mengenal anak-anak mereka sendiri

(Al-Baqarah 2:146).

Berdasarkan bukti historis dari catatan teks2 Tarikh Islam, ternyata Nabi Muhammad SAW memang bukan disebut sebagai orang Arab ‘Aribah (Arab asli) tapi dia disebut sebagai orang Arab Musta’ribah (bukan asli Arab). Sementara itu, berdasarkan teks-teks Rabbinic dalam bahasa Ibrani (Hebrew), terutama Sefer ha-Galui yang membicarakan tentang Resh Geluta kaum Exilarch di Arabia dan Babilonia (the Babylonian Exilarchs), ternyata garis darah matrilineal Nabi Muhammad SAW itu bukan asli keturunan Quraish. Anda terhenyak dengan fakta ini?

Hasyim putra Quraish menikah dengan Salma binti Amr, dan Amr berasal dari bani Najjar, kaum Yahudi Musta’ribah di Yatsrib/ Medinta. Bani Najjar ini adalah kaum Yahudi diaspora yang tinggal di kota Yatsrib. Orang-orang Arab pra-Islam menyebutnya kota Yatsrib, sedangkan orang-orang Yahudi Musta’ribah menyebutnya bukan dng sebutan Yatsrib tapi dengan sebutan Medinta, sebagaimana yang tercatat dalam Targum Onkelos yang tertulis dalam bahasa Judeo-Aramic sejak pada abad 1 M., era pra-Islam. Jadi nama Medinta telah populer 6 abad sebelum era Islam. Kaum Yahudi Musta’ribah yakni kaum Yahudi Sephardim dan Mizrachim tahu betul wilayah Medinta ini sebelum Islam ada. Belum ada data yang menjelaskan mengapa kaum Yahudi Musta’ribah ini mendiami wilayah Yatsrib ini secara masif dan bergenerasi berdasarkan alasan2 historis, politis, ekonomi, sosial, kultural atau pun agama. Namun yang perlu digarisbawahi adalah identitas bani Hashim (anak cucu/keturunan Hashim) itu sendiri yang sangat unik, karena hanya melalui bani Hashim saja darah Ishmael dan darah Israel bercampur dalam satu klen/qabilah, yang kemudian dalam Tarikh Islam disebut qabilah bani Hashim. Tentu saja dalam Tarikh Islam, terutama saat era kenabian juga ada catatan sejarah tentang penderitaan bani Hashim yang diboikot dan diasingkan/dibuang (exile) oleh suku2 Arab lain gara-gara tampilnya seorang Nabi dari kalangan bani Hashim. Mengapa bukan hanya seorang/sekelompok orang dari keturunan bani Hashim yang diboikot dan dibuang atau diasingkan (exile)? Bukankah pengasingan itu berlangsung selama bertahun2 secara ekonomi, politik dan sosial? Mengapa seluruh bani Hashim yang dibuang (exile) dan bukan hanya Sang Nabi saja yang dibuang? Mengapa seluruh bani Hashim harus menanggung derita akibat ‘ulah’ satu orang di antara mereka dan seluruh bani Hashim siap membelanya? Nampaknya peristiwa sejarah pembuangan (exile) yang menimpa bani Hashim ini terkait juga dng hadits Shahih Muslim.

ان الله اصطفى كنانة من ولد اسماعيل و اصطفى قريسا من كنانة واصطفى قريسا بني هاشم و اصطفى ني بني هاشم (صحيح مسلم )

Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya ALLH telah memilih Kinanah dari antara keturunan Ishmael, dan memilih Quraish dari antara keturunan Kinanah dan memilih bani Hashim dari antara keturunan Quraish dan memilih aku – kata Nabi SAW – dari antara bani Hashim

(H.R. Imam Muslim).

Hashim selain menikah dng wanita Yahudi Musta’ribah dari bani Najjar yang bernama Salma binti Amr, yang melahirkan Syaiba (Abdul Muthalib), ternyata Hashim juga beristri wanita lain yang bernama Qaylah yang melahirkan baginya seorang anak bernama Asad. Asad ibn Hashim menikah dengan Zahna, putri seorang Resh Geluta kaum Exilarch ke-32 dari Babilonia yang bernama Hofnai, dan di Babilonia tersebut kaum exilarch ini di bawah pimpinan Resh Geluta (pimpinan kaum buangan), dan Resh Galuta sendiri secara Halacha adalah keturunan Nabi Daud AS. 

Adik ipar Hushiel ben Hofnai yang bernama Asad ibn Hashim, yang menikah dng Hazna binti Hofnai putri Exilarch ke-32 ini melahirkan Fathimah binti Asad, yang kemudian dinikahi oleh Abu Thalib bin Abdul Muthalib ibn Hashim. Namun, mengapa Asad ibn Hashim menamai putrinya dng nama Fathimah? Apa hubungannya nama ini dng Hazna binti Hofnai putri Exilarch ke-32 dari Babilonia? Sepertinya ada campur tangan Hazna dalam penamaan putrinya ini yang merupakan ingatan kolektifnya utk mengenang kembali nama lelulur dari keluarga suaminya, yakni Asad bin Hashim, keturunan Ishmael. Penamaan ini juga sebenarnya merupakan bukti bahwa nama Fathimah (فاطمة) bukanlah nama asli Arab, tetapi nama khas Ibrani yang muncul dalam Targum Yonathan berbahasa Judeo-Aramaic yang ditulis pada abad ke-1 M. Ishmael dalam Tagum Yonathan beristri פטימא (Phetima) sesuai teks Targum Yonatahan, Sefer Bereshit 21:21 yang menyebut sbb:

ויתיב במדברא דפראן ונסיב אתחא ית עדישא ותרבה ונסיבת ליה אמיה ית פטימא אתהא מארעא דמצרים 

‘And he dwelt in the wilderness of Pharan and took for a wife Adisha, but put her away. And his mother took for him Phatima to wife from the land of Egypt. 

Jadi bani Hashim secara garis ibu (garis matrilineal) – seutuhnya berdarah Yahudi dan sekaligus keturunan langsung dari Nabi Daud AS, seorang b’nei Yisrael. Dengan demikian, menurut cara pandang bangsa Yahudi, nasab Sang Nabi SAW yang mengikuti garis perempuan (nenek) keturunan Yahudi, maka status Nabi Muhammad SAW adalah seorang Yahudi, dan bukan seorang Arab Quraish. Dalam hukum agama Yahudi yang disebut Halacha, seorang yang terlahir Yahudi akan selalu disebut Yahudi secara de jure, dan keyahudiannya itu diturunkan melalui garis keturunan ibu. Sebaliknya, menurut cara pandang bangsa Arab, nasab Sang Nabi SAW yang mengikuti garis laki-laki (kakek) keturunan Arab, maka status Nabi Muhammad SAW adalah seorang Arab Quraisy, dan bukan seorang Yahudi. Namun demikian, garis darah Sang Nabi SAW secara de facto ternyata mewakili 2 kecerdasan datuknya, yang juga sebagai keturunan 2 orang Nabi besar, yakni keturunan Ismalil AS dan juga keturunan Ishak AS. Jika Anda penasaran silakan membaca Jurnal terbitan Hebrew University berjudul ‘A Note on Early Marriage Links between Qurashis and Jewish Women’, (1)

Data sejarah membuktikan adanya jalur politik dan keagamaan antara kaum Exilarch di Baghdad – Babilonia (Irak) dan di Medinta (Saudi Arabia) serta di wilayah Yaman pada era pra-Islam. Hal ini bisa dibaca melalui kemapaman teks Targum Onkelos dalam bahasa Judeo-Aramaic yang tersebar di kalangan Yahudi yang bermukim di wilayah Yaman, wilayah Hijaz dan wilayah Babilonia, dan Targum Onkelos ini dibaca secara meluas oleh semua kaum Yahudi di wilayah tsb.(2)

Bahkan kemapanan hubungan ketiga wilayah penting dan strategis ini dapat pula terbaca melalui kemunculan Targum Saadia berbahasa Judeo-Arabic yang menyebut nama kawasan Al-Madinah, sehingga tidak salah bila kaum Yahudi yang berdiaspora ke wilayah itu justru mendahului kedatangannya sebelum terbukukannya Targum Saadia dalam bahasa Judeo-Arabic, yang dalam Targum Onkelos disebut Medinta. Jadi Rav Saadia Gaon hanya merekam ingatan kolektif bangsa Yahudi tentang keberadaan wilayah Medinta ini dengan bahasa Judeo-Arabic, yg disebutnya Al-Madinah. Itulah sebabnya tatkala Nabi SAW hijrah ke kota Yatsrib, maka seluruh kaum Yahudi Musta’ribah tidak kaget tatkala Nabi SAW mengubah dan menamai kota tsb dng sebutan Al-Madinah menurut lisan bhs Arabic, sedangkan kaum Yahudi Musta’ribah sejak era pra-Islam menyebutnya Medinta menurut lisan bahasa Judeo-Aramaic. 

Dengan demikian, nama khas Madinah memang bukanlah hal yang asing di kalangan komunitas Yahudi secara umum, dan khusus kaum Yahudi Musta’ribah di jazirah Arabia. Setidaknya nama Madinah telah disebutkan dalam Targum Onqelos berbahasa Aram dengan sebutan Medinta מדנת, dan fakta ini juga dikonfirmasi oleh Phillip K. Hitti dalam bukunya the History of the Arab. Jadi, sebelum Nabi SAW mengganti nama kuno Yatsrib menjadi المدينة (Madinah), sebenarnya komunitas Yahudi Musta’ribah telah lama mengenal nama kota itu dalam versi bhs Aram מדנת (Medinta) yang menunjuk pada lokasi yang saat itu disebut Yastrib. Menariknya, kitab suci Quran juga menyebut nama kuno Yatsrib (al-Ahzab 33:13), dan nama kuno itu tetap diabadikan sebagai penanda identitas peradaban Arab, dan juga nama barunya, yakni nama Al-Madinah, sebagai penanda identitas peradaban Islam, yang sebelumnya kaum Yahudi juga telah menyebut kota tersebut dengan nama kuno Medinta sebagai penanda identitas peradaban Yahudi. Oleh karena itu, perpindahan Nabi SAW dari Mekkah ke kota Yatsrib yang disebut Medinta oleh kaum Yahudi Musta’ribah ternyata tidak hanya dibaca terkait dng peristiwa Hijrah an sich, tapi sekaligus pula menandai dan melanjutkan peradaban leluhurnya di kota Yatsrib yang disebut Medinta, yang kemudian oleh Nabi SAW diteguhkannya kembali dng nama Al-Madinah. Bahkan, peristiwa hijrahnya Sang Nabi SAW ke Medinta tersebut bertepatan dengan perayaan kaum Yahudi, yang dikenal dengan sebutan Yom Kippur (Hari Penebusan dosa). Pada saat Yom Kippur inilah Setan tak dapat menguasainya, sebagaimana yang tertulis dalam kitab Talmud. Kitab Talmud telah mencatat bahwa dalam 1 tahun ada 365 hari, Setan memang mampu menguasai 364 hari seluruhnya, termasuk hari perayaan Paskah, sedangkan hari yang ke-365, Setan justru tak mampu menguasainya. Itulah yang disebut hari Yom Kippur. Itulah hari Ashura. Menariknya, Quran juga menyebutkan bahwa sebutan/ istilah يوم (“yaum”, lit. “a day”) disebutkan sebanyak 365 kali, dan tidak lebih dari itu. Pada hari istimewa tersebut, seluruh umat Yahudi berpuasa dan membaca doa shema’ Yisrael dan doa ratapan “ADONAI Selichot”, terutama saat mereka berziarah di Yerusalem, khususnya di kawasan tembok ratapan. 

“Ashura is Yom Kippur, and as Ashura carries with it all the theological assumptions of Yom Kippur. In the Rabbinic typology, the Yom Kippur is the Day of Resurrection. Then Ashura – Yom Kippur must fall in the 7th month (see 1 Kings 8:2), considering when the Prophet SAW arrived to Madina. If Ashura was the Yom Kippur in the Jewish month of Tishrei (lit. “fall”), it was Muharam the first month in 622 CE according to the modern Hijri calendar.”

عَنِ الشَّعْبِيِّ، أَنَّه قَالَ: أَرَّخَ بَنُو إِسْمَاعِيلَ مِنْ نَارِ إِبْرَاهِيمَ، ثُمَّ أَرَّخُوا مِنْ بُنْيَانِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ الْبَيْتَ، ثُمَّ أَرَّخُوا مِنْ مَوْتِ كَعْبِ بْنِ لُؤَيٍّ، ثُمَّ أَرَّخُوا مِنَ الْفِيلِ، ثُمَّ أَرَّخَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ مِنَ الْهِجْرَةِ، وَذَلِكَ سَنَةَ سَبْعَ عَشْرَةَ أَوْ ثَمَانِيَ عَشْرَةَ

وَرَوَى مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، وَعَنْ مُحَمَّدِ بْنِ صَالِحٍ، 

Bani Ishmael telah menetapkan kalender berdasarkan peristiwa-peristiwa penting: 

1. Ibrahim AS selamat dari api Namrud.
2. Ibrahim dan Ishmael membangun pondasi Ka’bah.
3. Wafatnya Ka’ab bin Lu’ay.
4. Kedatangan Abrahah bersama pasukan bergajah.
5. Hijrah Nabi SAW ke Madinah. 

(Lihat kitab “Bidayah al-Nihayah”, bab “Tarikh al-Islam fil Hijriyah”).

Berkaitan dng peristiwa hijrah Sang Nabi SAW menuju kota leluhur, yang saat itu disebut מדנת (Medinta), tatkala memasuki kota bersejarah tersebut ternyata Sang Nabi mengendarai seekor onta. Dan berkaitan dng hal ini, dalam suratnya yang disebut אגרת תימן (Iggeret Teyman), Rabbi Moshe ben Maimon (Rambam) menjelaskan kepada komunitas Yahudi Temanim di wilayah Yaman tentang nas yang termaktub dalam Yesaya 21:7 sbb.

שרכב חמור - הוא המשיה שנאמר בו (זכריה ט:ט). עני ורוכב על חמור ועל עיר בן אתנות. ובא תכף - עמידת רוכב על גמל והוא מלך ערב. 

She’rokev hamor hu ham-Moshiah shenne’emar bo (Zecharyah 9:9). ‘Ani ve rochev ‘al hamor ve ‘al ‘ayyir ben atonot, u vo techef – ’emidat rochev ‘al gamal, ve hu melech ‘Arab. 

Now the rider on donkey is Mashiah who is described as humble, riding on a donkey (Zachariah 9:9). He will come soon after the rise of the man riding a camel. That is the Arab empire/ the king of Arab.”

Bahkan, tatkala menjelaskan nas Tehillim 120:5 kepada komunitas Yahudi Temanim di Yaman, Rambam juga menjelaskan sbb:

וראו איך דכר קדר משאר בני ישמעאל - לפי שהאש הוא מבני קדר. 

U re’u iych zechar Qedar missear b’nei Yishmael lefiy she ha-ish hu mi b’nei Qedar. 

Note how the verse sets apart Kedar from the other children of Ishmael. This is done because as everyone knows that the man is a descendant of the people of Kedar. 

Berkaitan dng peristiwa hijrah Sang Nabi SAW menuju kota leluhur, yang saat itu disebut מדנת (Medinta), tatkala memasuki kota bersejarah tersebut ternyata Sang Nabi mengendarai seekor onta dan bertepatan dengan perayaan Yom Kippur? Dan berkaitan dng hal ini, dalam suratnya yang disebut אגרת תימן (Iggeret Teyman), Rabbi Moshe ben Maimon (Rambam) menjelaskan kepada komunitas Yahudi Temanim di wilayah Yaman tentang nas yang termaktub dalam Yesaya 21:7 sbb.

שרכב חמור - הוא המשיה שנאמר בו (זכריה ט:ט). עני ורוכב על חמור ועל עיר בן אתנות. ובא תכף - עמידת רוכב על גמל והוא מלך ערב. 

She’rokev hamor hu ham-Moshiah shenne’emar bo (Zecharyah 9:9). ‘Ani ve rochev ‘al hamor ve ‘al ‘ayyir ben atonot, u vo techef – ’emidat rochev ‘al gamal, ve hu melech ‘Arab. 

Now the rider on donkey is Mashiah who is described as humble, riding on a donkey (Zachariah 9:9). He will come soon after the rise of the man riding a camel. That is the Arab empire/ the king of Arab.”

Bahkan, tatkala menjelaskan nas Tehillim 120:5 kepada komunitas Yahudi Temanim di Yaman, Rambam juga menjelaskan sbb:

וראו איך דכר קדר משאר בני ישמעאל - לפי שהאש הוא מבני קדר. 

U re’u iych zechar Qedar missear b’nei Yishmael lefiy she ha-ish hu mi b’nei Qedar. 

Note how the verse sets apart Kedar from the other children of Ishmael. This is done because as everyone knows that the man is a descendant of the people of Kedar. 

Penjelasan dan ulasan Rabbi Moshe ben Maimon (Rambam) justru merupakan pernyataan teologis dan sekaligus pernyataan historis. Dalam konteks pernyataan teologis, Rambam hanya menyebut Muhammad SAW sebagai האש ha-Ish (Orang itu), tidak menyebutnya הנביא ha-Neviyya (Sang Nabi itu). Memang dalam hal ini Rambam tidak mengakui Muhammad SAW sebagai seorang Nabi karena ini menyangkut persoalan eksklusivitas pengakuan iman keagamaannya. Namun, dalam konteks pernyataan historis, Rambam mengakui bahwa Muhammad SAW adalah keturunan Kedar, keturunan Ishmael. Dan ini pernyataan dalam dokumen non-Islam, yang tidak ada kaitannya dng klaim keagamaan Islam yang menyatakan bahwa Muhammad SAW adalah seorang Nabi. Inilah fakta historis yang bisa dianggap sebagai dokumen pembanding.

Baruch HASHEM.

Footnotes

  1. See Jerusalem Studies in Arabic and Islam vol.10 (1987), references to Jewish ladies of “Noble Birth” are descended from the Exilarch.
  2. Silakan membaca buku The Targum of Onkelos to Genesis: A Critical Enquiry into the Value of the Text Exhibited by Yemen Mss. Compared with that of the European Recensian Together with Some Specimen Chapters of the Oriental Text (Henry Barnstein, 1896).

KESEMPURNAAN QURAN ATAS KITAB SUCI AGAMA SAMAWI

Dialog teologis (interfaith dialogue) merupakan bentuk dialog yang lebih banyak melibatkan para ahli. Tujuan utama dialog teologis ini lebih menekankan pada kajian teks-teks suc agama-agama, dan bukan sekedar pendalaman iman terhadap Quran semata, tetapi juga memahami bagaimana relasi Quran dengan kitab-kitab sebelumnya. Dialog teologis sekarang ini begitu masif disuarakan dan digelar di berbagai komunitas keagamaan di negara-negara Eropa, Amerika, Timur Tengah dan Afrika. Prof. Idris as-Salawy, penulis buku “Manuscrits Arabes en Occident Musalman” المخطوطات العربية في الغرب الاسلامية (Marocco, Dar al-Baidha’: Muassasah al-Malik ‘Abdul ‘Aziz, 1990), serta Prof. Raymond Farrin, seorang muallaf dan juga sebagai Associate Professor of Arabic Studies di the American University of Kuwait telah menulis buku “Structure and Quranic Interpretation: A Study of Symmetry and Coherence in Islam’s Holy Text” (Oregon: White Cloud Press, 2014). Kedua buku tersebut penting sebagai bacaan, terutama untuk memahami relasi teks Quran dengan teks-teks kitab agama-agama. Begitu juga karya Prof. Ahmad Shahlan, seorang professor di bidang Semitic Studies di Marocco yang berjudul قضايا من اصول موسى الى البابا بنديكت XVI (Rabat: Mathba’ah al-Risalah, 2016), buku ini sangat pemting utk membaca teks-teks Semit.

Menurut saya ada 3 ranah/bidang dialog teologis yang perlu kita suarakan di bumi Indonesia ini.

  1. Dar al-Taqrib bayn al-madzahib al-Islamiyah (Islamic Studies)
  2. Dar al-Taqrib bayn al-Adyan al-Samiyah (Semitic Studies)
  3. Dar al-Taqrib bayn al-Adyan al-Samawiyah (Aryo-Semitic Studies)

Dalam konteks dialog teologis ini saya akan menjelaskan relasi teks suci agama-agama bertradisi Semit dan Arya. Menurut saya, tidak ada pembedaan dikotomis antara sebutan “agama-agama langit” dan “agama-agama bumi”, sebab semua agama yang ada di muka bumi saat ini asal-usulnya pasti berasal dari langit. Islam datang untuk meluruskan, mengoreksi dan menyempurnakannya melalui kitab suci Quran, sebagaimana yang tersirat dalam teks Qs. al-Baqarah 2:106.

Kitab suci semua agama bukanlah sebuah teks sakral yang berdiri sendiri. Namun, kitab suci semua agama menegaskan semacam mata rantai yang menyadarkan kita tentang adanya konsep “One Word Many Versions” sesuai konteks zamannya. Dengan demikian, semua kitab suci ada semacam “common heritage” sebagaimana yang termaktub dalam kitab-kitab suci, dan Quran telah mengkonfirmasikannya. Misalnya, Mazmur 37:29[1] tertulis demikian:

צדיקים יירשו ארץ וישכנו לעד עליה. תהלים 37:29

“Orang-orang benar mewarisi bumi dan mereka akan tinggal selama-lamanya di bumi” (Tehilim 37:29).

Kitab suci Quran juga menyebutkan ayat yang sejajar, yang meneguhkan pernyataan kitab Mazmur dan sekaligus mengkonfirmasinya, yakni berkaitan dengan keberadaan orang-orang benar, atau pun orang-orang saleh. Qs. Al-Anbiya 21:105 menyebutkan demikian:

ولقد كتبنا في الزبور من بعد الذكر ان الارض يرثها عبادى الصلحون

Ayat ini sekaligus menegaskan bahwa hanya orang-orang saleh saja yang disebut “as-Shalikhun” (الصلحون) yang memiliki karakter kenabian. Itulah sebabnya ayat yang berkaitan dengan “orang-orang saleh” ternyata terletak pada Qs. Al-Anbiya’ (lit. “para Nabi”).

WEDA MAHABHARATA DAN TORAH: Menalar Ulang Kuasa Teks Suci:

הרא קרישנה הרא קרישנה
קרישנה קרישנה הרא הרא
הרא רמה הרא רמה
רמה רמה הרא הרא

Hitungan kalendar Yahudi, sekarang ini adalah 5779, sejajar dng kalender Masehi yakni 2019 M. Hitungan kalendar Kristen sekarang adalah 2019, sedangkan hitungan kalender Budha sekarang ini adalah 2563. Jadi kelahiran Sang Budha lebih awal dan lebih tua dibanding kelahiran Sang Kristus, 2019 M. Bila Sang Budha sebagai avatara ke-9 maka Sri Krishna adalah avatara ke-8. Jadi berkaitan dengan kajian kesejarahan, maka Krishna tidak mungkin eranya sezaman dengan Kristus. Artinya, masa kehidupan Krishna jauh lebih terdahulu dibanding era kehidupan Kristus. Vyasa-deva sang kompilator kitab Mahabharata saja hidup sebelum era Sang Buddha. Itu berarti bahwa Krishna memang dilahirkan jauh sebelum era Sang Buddha.

Dalam kitab Srimad Baghavatam Purana I.3.24. disebutkan:

tatah kalau sampravrtte
sammohaya sura dvisam
Buddho namnanjaya sutah
kikatesu bhavisyati.

“then the beginning of Kali-yuga, the Lord will appear as Lord Buddha, the son of Anjana in Kikatesu – the province of Gaya (Bihar) just for the purpose of delucing those who are envious of the faithful theist.”

Hitungan kalender Yahudi dimulai sejak pasca banjir Nuh. Persoalannya: cerita mengenai banjir Nuh itu terkodifikasi dalam Torah yang diterima oleh Musa, dan jarak antara Nuh hingga masa Nabi Musa itu ratusan tahun. Jadi wajar bila kehidupan Krishna lebih dulu ada dibanding masa kehidupan Musa. Dengan demikian, amat wajar bila ada kesejajaran cerita (common narrative) antara kitab Torah dan kitab Mahabharata, similar but not exactly the same.

Di dalam kitab Torah disebutkan adanya tokoh yang bernama Kain yang membunuh Habel, dan kemudian akhirnya Kain dikutuk serta diusir oleh TUHAN, migrasi menuju wilayah Timur (lihat Sefer Bereshit/Genesis 4:11-16). Pada Sefer Bereshit 4:16 ayatnya berbunyi demikian: וישב בארץ נוד קדמת עדן – vayyesev be-eretz Nod qidmat Eden (“dan dia/Kain menetap di tanah Nod, di sebelah Timur Eden”). Kain memang pergi ke arah Timur – yang dalam bahasa Hebrew (Ibrani) disebut “qidmat” (קדמת), yang berasal dari akar kata “qedem” (קדם), dan wilayah Timur itu yakni menuju kawasan Nod (נוד). Rashi (Rabbi Shlomo ben Yitzhak) menyatakan Istilah nama wilayah Nod bermakna “wandering” – the land where exiles wander about …… Notably, the eastern region always forms a place of refuge for murderers.” [1] . Rashi menafsirkannya sebagai wilayah הרוצחים – ha’rotzechim (para pembunuh). Sementara itu, di dalam kitab Mahabharata disebutkan adanya tokoh yang bernama Aswattama yang membunuh keturunan Pandawa, dan kemudian akhirnya Aswattama dikutuk oleh Krishna dan diusir, serta migrasi menuju wilayah Barat. Berkaitan ttg tokoh Aswattama yg diusir Sri Krishna hingga ke wilayah Arva-sthan yang merupakan wilayah kaum Mleccha (non-Arya) ini amat penting dikaji. Dalam bhs Sanskrit, istilah Arva-sthan berasal dari gabungan 2 kata kunci yakni Arva (migrasi/berpindah) + sthan (wilayah), coba bandingkan dng sebutan “Hindu-sthan” dalam bahasa Urdu, yang bermakna “wilayah Hindu.” Istilah Hindusthan juga berasal dari gabungan 2 kata kunci yakni Hindu (lembah Hindu/Sindhu) + sthan (wilayah).

Istilah “Arva” ini sepadan dengan istilah bahasa-bahasa rumpun Semit, terutama bahasa Arab dan Ibrani. Dalam bahasa Arab misalnya, muncul kata عرب (‘Arab) dan dalam bahasa Ibrani (Hebrew) muncul juga kata עבר (‘Ever/ ‘Eber) yang kedua istilah Semitic tersebut bermakna “nomad”, “berpindah”, “migrasi” dan “menyeberang.” Intinya istilah Arva atau Arva(n) terkait dng tradisi masyarakat Urban yang meniscayakan komunitas migrasi. Dan dalam kamus bahasa Sanskrit karya Vaman Shivram Apte ‘The Practical Sanskrit – English Dictionary’ (New Delhi: Motilal Banarsidas, 1987) atau pun karya Sir Monier Monier-Williams berjudul “A Sanskrit English Dictionary: Etymologically and Philologically Arranged with Special Reference to Cognate Indo-European Languages” (New Delhi: Motilal Banarsidas Publishers, 2011) ternyata dijelaskan bahwa istilah Arva(n) juga bermakna: “kejam”, “kasar”, “pembunuh.” Hal ini juga dibenarkan oleh pakar embriologi bhs Sanskrit, Made Harimbawa. Jadi Arva-sthan adalah wilayah Arva(n) yakni wilayah “para pembunuh.” Itulah sebabnya Aswattama telah migrasi ke wilayah Arvasthan dan memulai peradaban dan agama baru di sana. Bahkan Aswattama dikutuk hidup sangat lama (chiranjivi) utk memperbaiki kesalahannya dan menuntun anak keturunannya di wilayah “para pembunuh.” Begitu juga sang tokoh dari tradisi Semit yang bernama Kain, dia dikutuk hidup sangat lama utk memperbaiki kesalahannya dan agar dapat menuntun keturunannya di wilayah “para pembunuh.” Cerita yg sangat paralel ini sangat menarik. Kajian teks ini tentu saja akan menjembatani relasi kajian kesastraan yang berkaitan dengan analisis teks dari segi kebahasaan. Dalam konteks ideologi kepengarangan yang berbasis narasi pengisahan ini, apakah sang tokoh yang bernama Kain itu yang menyebarkan teks Semit ke wilayah Arya? Atau sebaliknya, justru sang tokoh yang bernama Aswatama itulah yang menyebarkan teks Arya ke wilayah Semit? Persoalan migrasi teks suci tersebut tergantung dari sudut pandang iman masing-masing.

Berdasarkan pembuktian manuskrip, kitab Mahabharata faktanya memang lebih tua dibanding kitab Torah (Pentateuch). Tulisan tangan tertua dari Taurat itu abad ke-2 SM., yakni manuskrip the Dead Sea Scrolls (naskah Laut Mati), sedangkan manuskrip yang berisi kutipan-kutipan bacaan teks kitab Mahabharata yang termaktub dalam buku gramatika bahasa Sanskrit karya Panini itu ternyata telah ditulis pada abad ke-4 SM. Jadi pastinya teks Mahabharata justru jauh lebih tua atau lebih kuno dari pada teks Torah (Pentateuch/ the Old Testament) karena secara de facto teks Panini ditulis pada abad ke-4 SM.

Bila Abraham lahir sekitar tahun 2165 SM., maka Sri Krishna telah lahir 4000 tahun SM. Jadi dengan demikian agama Hindu lebih tua dibanding agama Yahudi, dan Sri Krishna telah ada sebelum Abraham dilahirkan. Bahkan agama Hindu (Brahmanic religion) telah eksis sebelum kelahiran agama-agama Abrahamik yang disebut Abrahamic religions: Yahudi, Kristen dan Islam. Apalagi fakta membuktikan bahwa cerita mengenai Abraham justru termaktub dalam kitab Torah, kitab yang ditulis oleh Musa yang mana jarak antara Abraham dan Musa sendiri itu ratusan tahun. Jadi penentuan tahun kelahiran Abraham masih spekulatif. Satu-satunya alat bukti yang valid adalah menggunakan analisis terhadap teks TaNaKH (the Old Testaments) itu sendiri melalui kajian linguistik komparatif (filologis), yaitu dengan cara melacak adanya pengaruh kosakata Vedic Sanskrit dan Persia (Arya) dalam bahasa Ibrani Masoret (Semit). Silakan Anda pelajari karya Prof. James Barr dalam karyanya yang berjudul “Comparative Philology and the Text of the Old Testaments (Oxford: Clarendon Press, 1968), khususnya pada hlm. 101 – 111 beliau secara khusus membahas tentang subtema: “Loanwords and Words of non-Semitic Origin.”

Dalam buku saya berjudul “Aryo-Semitic Philology: the Semitization of Vedas and Sanskrit Elements in Hebrew and Abrahamic Texts (Surabaya: Airlangga University Press, 2018) terdapat kajian yang patut dipertimbangkan. Dalam karya riset saya ini hanya sekedar melanjutkan dan memperdalam kajian Prof. James Barr, Ph.D. yang saya fokuskan tentang adanya Sanskrit Loanwords dalam Biblical Hebrew sebagaimana yang termaktub dalam The Old Testaments (Perjanjian Lama). Hal ini semakin mempertegas validitas adanya migrasi teks Arya ke wilayah Semit.

Istilah הדו (Hoddu) dalam kitab TaNaKH (Torah Neviem ve Khetuvim) berbahasa Ibrani, sebagaimana yang termaktub dalam kitab Esther (Sefer Esther) yang ditulis di wilayah tradisi Arya, ternyata term הדו (Hoddu) merupakan istilah kosakata Sanskrit yang ter-Ibrani-kan atau Hebraized Sanskrit term. Dengan kata lain, istilah הדו (Hoddu) merupakan kosakata Judeo-Sanskrit sebagai bentuk Ibranisasi dari kosakata khas keagamaan Hindu dari tradisi Arya yang kemudian diadopsi dalam bahasa Ibrani Masoret (Biblical Hebrew).

Teks keagamaan Hindu bertradisi Arya ini migrasi ke wilayah Semit, maka muncullah kosakata “Hoddu” dalam bahasa Ibrani, yang berasal dari kata “Hindhu” dalam bahasa Sanskrit. Dan, istilah “Hindhu” dalam bahasa Sanskrit itu ternyata juga sepadan dng sebutan “Hindustan” dalam bahasa Urdu. Begitu pula munculnya istilah Ibrani תוכיים (tukiyyim, “parrots”) dalam Perjanjian Lama (the Old Testament) yang termaktub dalam kitab Raja2 (the book of Kings) dan kitab Tawarikh (the book of Chronicles) ternyata asalnya merupakan adopsi dari kosakata Tamil “tukiyyim” (parrots), dan istilah ini ternyata berasal dari kosakata bahasa Sanskrit yakni “sukim” (parrots). Menariknya, dalam kitab Talmud, Bava Batra 15.a.2 disebutkan:

 וירמיה כתב ספרו וספר מלכים וקינות 

(ve Yermiyahu katav sefero ve sefer Melachim ve Qinot – Jeremias scripsit librum suum et librum Regum et Threnos), yang artinya: “dan Nabi Yeremiyah sendiri yang telah menulis kitab Yeremiyah, begitu juga kitab Raja-raja dan kitab Ratapan.”

Dan fakta historis membuktikan bahwa Nabi Yeremiyah menulis kitab-kitab tersebut di wilayah yang terhegemoni tradisi Arya. Dengan demikian, tidaklah mengherankan bila istilah תוכיים (tukiyyim) merupakan bentuk Ibranisasi dari kosakata Sanskrit (“sukim”) yang bisa disebut sebagai Hebraized-Sanskrit term. Amazing.

Kajian berdasarkan analitis sejarah, linguistik, filologi, sastra, inskripsi, dan agama memang amat menarik untuk ditindaklanjuti. Itulah kewajiban kita para akademisi untuk jujur pada disiplin keilmuan masing-masing.

Footnotes

  1. (Sefer Bereshit/Genesis: A New Translation With A Commentary Anthologized from Talmudic, Midrashic and Rabbinic Sources, Brooklyn: Mesorah Publications, 2009:158)

QURBAN ABRAHAM DALAM HADITS DAN MIDRASH RABBAH

BAMBANG NOORSENA: ISMAIL YANG DIKURBANKAN

Kitab Hadits merupakan kitab sumber otoritas kedua setelah Quran dalam ajaran agama Islam, sebagaimana kitab Midrash Rabbah sebagai תורה שבעל-פה (Torah she be ‘alphe) merupakan kitab sumber otoritas kedua setelah kitab Chumash sebagai תורה שבכתב (Torah she bichtav) dalam agama Yahudi. Teks matan hadits versi Islam yang berkaitan dengan siapa yang akan dijadikan qurban memang disebutkan adanya 2 versi penyebutan nama, sebagaimana teks midrash agada versi Yahudi juga menyebutkan adanya 2 versi tentang usia sang putera, saat dia akan dijadikan qurban. Bahkan, ada 2 versi kitab Chumash (Torah she bichtav) yang menyebutkan adanya 2 versi nama lokasi atau tempat qurban yang berbeda, sebagaimana yang disebutkan antara versi teks kitab Torah Samaritan dan versi teks kitab Torah Masoret (Masorah).

Jadi, berkaitan dengan identitas nama sang putera yang dijadikan qurban oleh Abraham menurut teks matan hadits, memang ada 2 versi yakni disebutkan nama Ishmael dan nama Ishaq. Meskipun dalam kitab Chumash (Torah she bichtav) tertulis nama Ishaq, tetapi dalam teks midrash agada (Torah she be ‘alphe) ternyata juga disebutkan adanya 2 versi usia Ishaq saat dijadikan qurban, yakni usia 37 tahun dan usia 5 tahun. Bahkan, Torah she bichtav (the Chumash) menyebutkan adanya 2 versi nama lokasi atau nama tempat yang berbeda saat Ishaq akan dijadikan qurban oleh Abraham, yakni tanah Moreh dan tanah Moriah. Dengan kata lain, sebagaimana yang termaktub pada teks versi hadits, yang pertama menyebutkan nama Ishmael, dan yang kedua menyebutkan nama Ishaq. Jadi hadits menyebutkan tentang siapa yang akan dijadikan qurban oleh Abraham memang berbeda-beda, sebagaimana adanya kontroversi tentang umur (usia) Ishaq saat dijadikan qurban oleh Abraham juga berbeda-beda, dan bahkan identitas nama lokasi atau nama tempat saat Ishaq akan dijadikan qurban oleh Abraham juga berbeda-beda. Perbedaan mengenai identitas nama sang putera, keakuratan usia dan identitas nama lokasi terkait peristiwa qurban memang merupakan 3 hal yang amat kontroversial dalam teks kitab Hadits, kitab Chumash (Torah she bichtav) dan kitab Midrash Rabbah (Torah she be ‘alphe). Hal inilah yang tidak dipahami atau sengaja tidak diuraikan oleh Bambang Noersena dalam paparannya.

Bambang Noorsena memang sengaja “menyerang” atau mempersoalkan sisi perbedaan teks matan hadits terkait dengan qurban, sebagaimana yang termaktub dalam kitab Hadits, tetapi Bambang Noersena sengaja “tidak menyerang” atau tidak mempersoalkan sisi perbedaan teks midrash agada terkait dengan qurban, sebagaimana yang termaktub dalam Midrash Rabbah. Bahkan, Bambang Noersena juga “tidak menyerang” atau tidak mempersoalkan sisi perbedaan teks Chumash (Torah she bichtav) terkait perbedaan qurban. Anda bisa melihat perbedaan teks Sefer Bereshit 22:2 antara teks Torah versi Masorah (Masoret) dan teks Torah versi Samaritan; versi pertama menyebut מריה (Moriah), sedangkan versi kedua menyebut מרה (Moreh). Perbedaan penulisan mengacu pada kata/ term מרה (Mem – Resh – Hey) dan term מריה (Mem – Resh – Yod – Hey). Perbedaan penulisan itu ternyata mengacu hanya pada 1 huruf saja, yakni huruf י (Yod). Namun, perbedaan itu bukan sekedar perbedaan dialek dalam tuturan, atau pun perbedaan ortografi dalam penulisan, tetapi justru perbedaan penggunaan huruf י (Yod) tersebut mengacu pada perbedaan makna dan wilayah geografis yang dimaksud. Torah versi Masorah menyebut מריה (Moriah) merujuk pada lokasi sakral di bukit Zion, di kota Yerusalem, wilayah Israel bagian selatan; sedangkan Torah versi Samaria menyebut מרה (Moreh) merujuk pada lokasi sakral di bukit Gerizim, di kota Nablus, wilayah Israel bagian utara. Keberadaan bukit Gerizim ini termaktub dalam Torah versi Samaria dan Torah versi Masorah, dan penyebutan nama kota Nablus di kawasan Moreh tersebut juga termaktub dalam Targum Aravit (Judeo-Arabic Targum), yakni sebuah Targum dan Tafsir tertua versi bhs Arab dalam tradisi agama Yahudi, sebuah karya “magnus opus” dari Rabbenu Saadia Gaon (Rasag). Padahal kota Sikhem dalam teks aslinya yang berbahasa Ibrani justru tertulis עיר שכם (‘ir Shechem), lit. “kota Sikhem.” Meskipun demikian, penyebutan kota Nablus itu merupakan bentuk Arabisasi dari nama kuno kota dari bhs Ibrani, yang disebut kota Sikhem. Lihatlah Targum Aravit karya Rasag, khususnya Sefer Bereshit 33:18 tertulis:

ת'ם ודכ'ל יעקוב סאלמא אלי קריה נאבלס אלתי פי אלבלד כנעאן

“tsumma dakhala Ya’kub saliman ila qaryah Nablus allati fi al-balad Kan’an.” (Kemudian Yakub memasuki dengan selamat menuju ke kota Nablus), see J. Derenbourg. Tafsir al-Tawrah bi Al-‘Arabiyyah: Version Arabe du Pentateuque de R. Saadia ben Iosef Al-Fayyoumi (Paris: Ernest Leroux, Editeour, 1893), pp. 54-55

Abu Al-Hasan Ishaq ash-Shuri, adalah seorang Kahin (Imam) dari agama Israel Samaritan, pemimpin tertinggi kaum Samaria. Abu Al-Hasan Ishaq ash-Shuri telah menerjemahkan kitab suci Torah Samaritan dari bahasa Ibrani ke bahasa Arab. Menurutnya, sebutan kota Nablus merupakan nama Arab dari kota Sechem versi teks Torah Samaritan. Lihat Sefer Bereshit 33:18 teksnya tertulis demikian.

جاء يعقوب سالما الى مدينة نابلس التي في ارض كنعان

“ja-a Ya’kub saliman ila madinah Nablus allati fi ardhi Kan’an.” (Yakub telah datang dengan aman menuju ke kota Nablus yang terletak di tanah Kanaan), see Al-Kahin as-Samiri Abu Al-Hasan Ishaq ash-Shuri. At-Tawrah as-Samiriyyah: Tarjamah min Al-‘Ibraniyyah ila Al-‘Arabiyyah (Al-Qahirah: Dar Al-Jil, 2007), p.68

Dengan demikian, nama kota Sechem dalam bahasa Ibrani memiliki nama Arab dengan sebutan Nablus. Hal ini bukanlah sebuah kesalahan terjemahan yang fatal dari sebuah interpretasi gegabah dari Rabbenu Saadia Gaon. Penyebutan versi Arab tersebut pasti merupakan ingatan kolektif yang diakui bersama yang berasal dari tradisi kaum Yahudi dan kaum Samaria. Bahkan, Imam tertinggi kaum Samaria juga telah memahami nama kota itu dengan sebutan yang sama. Bukti tekstual ini merupakan fakta yang tidak bisa dibantah oleh siapapun.

Kota שכם (Shechem) di kawasan מרה (Moreh) ini bukan hanya dikenal di zaman Yakub, tetapi kota שכם (Shechem) di kawasan מרה (Moreh) ini justru telah dikenal oleh Abraham sejak awal kedatangannya di wilayah Kanaan. Silakan Anda cermati teks Sefer Bereshit 12:6. Menariknya, Rabbenu Saadia Gaon dan Al-Kahin Abu Al-Hasan Ishaq ash-Shuri ternyata sama-sama menerjemahkan sebutan kota Shechem dengan nama Arabnya, yakni kota Nablus. Rabbi Saadia Gaon menerjemahkan demikian.

פטאף אברם פי אלבלד אלי מוצ'ע נאבלוס ואלי מרג' ממרה ואלכנעאני חיניד' כאן מקימא פי אלבלד

“fathafa Abram fi al-balad ila mawdhi’i Nablus wa ila marji mi-Moreh wa al-Kan’ani khinaidzin kana muqiman fi al-balad.” (Abram berjalan melalui negeri itu sampai ke suatu tempat dekat Sikhem, yakni pohon terbantin di Moreh. Waktu itu orang Kanaan diam di negeri itu), see J. Derenbourg. Tafsir al-Tawrah bi Al-‘Arabiyyah. Version Arabe du Pentateuque (Paris: Ernest Leroux, Editeur, 1893), p. 19

Bila dalam kitab Hadits, perbedaan teks merujuk pada perbedaan nama sang putera yang akan dijadikan qurban, justru dalam kitab Chumash (Torah she be bichtav), perbedaan teks merujuk pada perbedaan nama “maqam” atau lokasi atau nama tempat yang akan dijadikan qurban. Mengapa dalam konteks ini Bambang Noersena tidak berbicara secara fair? Bukankah perbedaan nama “maqam” atau nama lokasi tempat qurban lebih substansial utk diperdebatkan atau pun dikritisi dibanding perbedaan nama sang putera Abraham yang akan dijadikan qurban? Perbedaan nama “maqam” tempat qurban Abraham justru menjadi pemicu dan menjadi sebab perbedaan qiblat sebagai arah sembahyang antara kaum Samaria dan kaum Yahudi, dan sekaligus menjadi penyebab perbedaan tempat pelaksanaan qurban sembelihan perayaan Paskah antara kaum Yahudi dan kaum Samaria. Bukankah mereka sama-sama merujuk pada kitab suci yang sama yakni kitab Torah? Bukankah konsekuensi perbedaan nama “maqam” ini lebih fatal dibanding perbedaan nama sang putera Abraham yang akan menjadi qurban? Umat Islam sejak dulu hingga kini memiliki qiblat yang sama, berhaji di tempat yang sama, dan ber-qurban di hari yang sama, dan merujuk pada kitab suci Quran yang sama, meskipun dalam hadits ada penyebutan nama putera Abraham yang berbeda sebagai sang putera yang akan dijadikan qurban. Dengan demikian, hal ini semakin jelas. Umat Islam mentradisikan ibadah qurban di tempat yang sama meskipun nama putera Abraham yang di-qurban-kan disebutkan nama yang berbeda. Sebaliknya, umat Israel mentradisikan ibadah qurban di tempat yang berbeda karena nama “maqam” tempat qurban Abraham disebutkan nama yang berbeda pula, meskipun nama putera Abraham yang di-qurban-kan itu disebutkan nama yang sama. Inilah fakta yang tidak dapat dipungkiri oleh siapapun. Bukankah kitab suci Chumash merupakan bagian dari kitab suci Perjanjian Lama (the Old Testament) bagi agama Kristiani? Mengapa perbedaan teks mengenai identitas nama lokasi atau nama tempat qurban Abraham antara kitab suci Perjanjian Lama dengan kitab suci Chumash (Torah Samaritan) tidak dibedah secara adil dalam pembahasannya kepada publik? Kejujuran merupakan modal intelektual yang niscaya sebagai seorang akademisi.

Ulasan Rabbi Bachya ben Asher dalam Tafsir-nya מדרש רבינו בחיי על חמשה חומשי תורה (Midrash Rabbenu Bachya ‘al Chamisha Chumshe Torah) menjelaskan bahwa tatkala dijadikan qurban, Ishaq telah berusia 37 tahun, dan saat itu dia disebut sebagai הנער (ha-na’ar). Meskipun berdasarkan narasi teks midrash agada ditemukan adanya perbedaan usia tatkala Ishaq dijadikan qurban, tetapi Rabbi Bachya melalui proses selektif, justru lebih condong memilih teks midrash agada yang menjelaskan adanya penyebutan usia Ishaq tatkala dijadikan qurban oleh Abraham, yaitu usia 37 tahun, dibanding usia 5 tahun. Rabbi Bachya dalam hal ini lebih condong pada nas yang termaktub dalam teks Midrash Bereshit Rabbah 56:11, dan Rabbi Bachya juga merujuk pada kitab tafsir tertua berbahasa Ibrani atas kitab Bereshit, ditulis oleh Rabbi Eliezer pada Abad ke-1, dan karyanya kemudian dikenal dengan judul Pirke Rabbi Eliezer. Silakan Anda memeriksa kitab Pirke Rabbi Eliezer pasal 31 (Yerushlayim: Eschol, hlm. קד).

בן שבע ושלשים שנה היה יצחק בלכתו אל הר המוריה

“Ben sheba’ u-sheloshim shanah hayah Yitzhaq belachto el har ha-Moriyyah …. “

“Sang putera yakni Ishaq telah berusia 37 tahun tatkala dia pergi ke puncak gunung Moria …”

Sebaliknya, Rabbi Ibn Ezra dalam kitab tafsirnya atas kitab Torah sangatlah menarik. Dia justru menolak otoritas kedua narasi dari teks midrash agada terkait usia Ishaq tatkala dia dijadikan qurban oleh Abraham. Rabbi Ibn Ezra mengatakan:

“Our sages, of blessed memory, say that Isaac was 37 years old at the time of binding. If this be a tradition, we will accept it. However, from a strictly logical point of view it is unacceptable. If Isaac was an adult at that time, then his piety should have been revealed in Scripture and his reward should be double that of his father for willingly having submitted himself to be sacrificed. Yet Scripture says nothing concerning Isaac’s great self-sacrifice. Others say that Isaac was 5 years old at the time of his binding. This, too, is unacceptable, since Isaac carried the wood for the sacrificial pyre. A child of five would be unable to carry that much wood. It thus appears logical to assume that Isaac was close to 13 years old and that Abraham overpowered him and bound him against his will. Proof of this can be seen from the fact that Abraham hid his intention from Isaac and told him, “God will provide Himself the lamb for a burnt-offering, my son (Bereshit 22:8). Abraham knew that if he said: “You are to be the burnt-offering,” Isaac would quite possibly have fled”, see Bereshit 22:4

Dengan demikian, penjelasan teks midrash agada terkait versi usia Ishaq 37 tahun atau pun versi usia Ishaq 5 tahun, keduanya ternyata ditolak oleh Ibn Ezra sebagai teks midrash agada yang shahih. Dia mengatakan bahwa anak yang akan dijadikan qurban itu pasti usia 13 tahun dan ini terkait dengan nalar yang valid. Faktanya, semua kitab Miqraot Gedolot le-Chumash, pasti memuat Tafsir Rashi dan Tafsir Ibn Ezra, dan kitab Tafsir Ibn Ezra ini dijadikan rujukan otoritatif oleh semua komunitas Yahudi Aschenazim. Bahkan, komunitas Yahudi Sephardim menganggap kitab Tafsir Ibn Ezra sebagai kitab tafsir yang otoritatif dan kitab ini juga dianggap sebagai kitab tafsir tertua atas kitab Chumash (Torah she bichtav), tentu saja berdampingan dengan kitab Tafsir Rasag. Bagi kaum Yahudi Aschenazim, mereka merujuk pada kitab Tafsir Rashi dan kitab Tafsir Ibn Ezra, sedangkan bagi komunitas Yahudi Sephardim, mereka merujuk pada kitab Tafsir Rasag dan kitab Tafsir Ibn Ezra. Dengan demikian, kitab Tafsir Ibn Ezra memiliki posisi amat penting dalam pemikiran Rabbinik bagi semua komunitas Yahudi.

Ada hal yang sangat menarik berkaitan dengan pentingnya usia 5 tahun dan usia 13 tahun dalam tradisi Yahudi, sehingga signifikansi usia tersebut termaktub dalam kitab Torah (Bible), kitab Midrash Bereshit Rabbah, dan kitab Talmud. Dalam kitab Talmud disebutkan demikian:

“Jehudah ben Tama used to say: “At the age of 5 one is ready to study the Bible, at 10 to study the Mishnah, at 13 to observe the Commandments (Mitzvoth), at 15 to study the Talmud, at 18 to get married, at 20 to start earning a livelihood, at 30 to enter into one’s full strength, at 40 to show discernment, at 50 to give counsel, at 60 to start feeling old, at 70 to turn white, at 80 for travail and trouble, at 90 for senility; and at 100 … for death”, see Lewis Browne. The Wisdom of Israel: An Anthology (New York: the Modern Library, 1945), p. 184

Sefer Bereshit 17:25-26 menyebutkan demikian:

“Dan Ishmael, anaknya, berumur 13 tahun ketika dikerat kulit khatannya. Pada hari itu juga Abraham dan Ishmael, anaknya, disunat.”

Kitab Sefer Bereshit 17:25 menyatakan bahwa Ishmael mendapatkan ברית מילה (B’rit Milah) melalui kewajiban sunat saat dia berumur 13 tahun, dan pada saat usia 13 tahun itulah Ishmael mulai disebut sebagai “son of the Commandments” yang dalam bahasa Ibrani disebut בר מצוה (bar Mitzvah), yang menunjukkan usia kematangan keagamaan sang putera. Dalam agama Yahudi mengenal adanya 613 mitzvoth, dan dalam Sefer Hachinuch, mitzvoth urutan yang ke-2 adalah kewajiban bersunat, yakni מצות מילה (mitzvoth Milah). Dalam konteks ini, Ishmael disunat oleh Abraham dengan tangannya sendiri, sesuai kesaksian nas kitab suci (Sefer Bereshit 17:23). Jadi usia 13 tahun bukanlah usia yang tidak memiliki makna apapun, tapi justru ketepatan usia 13 tahun bagi Ishmael merupakan usia “penanda” yang sangat signifikan menurut midrash halacha, sebagaimana penjelasan yang termaktub dalam kitab Talmud.

Dalam teks Sefer Bereshit (Genesis) 18:7 juga disebutkan nas yang demikian:

“Lalu berlarilah Abraham kepada lembu sapinya, dia mengambil seekor anak lembu yang empuk dan baik dagingnya dan diserahkan kepada bujangnya , lalu orang ini segera mengolahnya.”

Istilah “bujangnya” dalam versi Alkitab terjemahan bahasa Indonesia terkait teks Sefer Bereshit 18:7 memang bermasalah. Alkitab versi berbahasa Ibrani, teks aslinya tertulis אל הנער (el ha-na’ar). Rashi menjelaskan זה ישמעעאל (zeh Yishmael), lit. “ini adalah Ishmael”, לחנכו במצות (le hannecho be mitzvoth), lit. “Instruct him in performance of religious Commandments.” Rashi dalam hal ini mengutip teks midrash agada yang shahih, sebagaimana yang termaktub dalam Midrash Bereshit Rabbah 48:13. Dalam hal ini, mengapa Rashi dalam penjelasannya mengaitkan Ishmael dengan mitzvoth (commandments)? Apakah ini juga terkait dengan penanda usia Ishmael yang saat itu berumur 13 tahun, yang disebut sebagai “bar-mitzvah”? Silakan Anda merenungkannya. Menariknya lagi, berdasarkan pada nas Sefer Bereshit 18:7 tersebut, Rasag (Rabbi Saadia Gaon) juga memahami frase אל הנער (el ha-na’ar) dalam bahasa Ibrani tersebut diterjemahkan menjadi אלי אלג’לאם (ila al-ghulam), sebagaimana yang tertulis dalam Targum Aravit-nya, yakni Judeo-Arabic Targum. Mengapa Rasag menyebut dengan sebutan אלג’לאם (al-ghulam) terkait ayat yang termaktub dalam Sefer Bereshit 18:7 tersebut? Ini merupakan fakta tekstual bahwa Rasag memang benar-benar memahami sosok yang dimaksud pada ayat ini memang merujuk kepada Ishmael – bukan kepada yang lain – meskipun teks bahasa Ibraninya menyebut dengan istilah הנער (ha-na’ar). Rasag juga pasti telah membaca dua kitab utama dalam tradisi agama Yahudi, yakni kitab Midrash Bereshit Rabbah dan kitab Pirke Rabbi Eliezer yang menjelaskan siapa sebenarnya הנער (ha-na’ar) yang dimaksud pada ayat tersebut. Fakta membuktikan bahwa kitab Midrash Bereshit Rabbah dan kitab Pirke Rabbi Eliezer justru menegaskan nama Ishmael. Itulah sebabnya, Rabbi Saadia Gaon menggunakan istilah אלג’לאם (al-ghulam), yang bermakna “sang putra” (sang anak) pada teks Sefer Bereshit 18:7. Dengan demikian, Rabbi Eliezer, Rabbenu Saadia Gaon, Rashi, dan Rabbenu Ibnu Ezra semuanya telah sepakat mengenai sosok yang dimaksud pada ayat Sefer Bereshit 18:7 ternyata mengacu kepada Ishmael, dan bukan kepada anak yang lain, apalagi mengacu kepada orang lain. Itulah sebabnya Abraham tidak menyembelihnya sendiri anak lembu tersebut, tetapi menyerahkannya kepada Ishmael, sang puteranya sendiri, utk menyembelihnya. Hal ini bertujuan agar Ishmael dapat melaksanakan mitzvoth ke-5 dari antara 613 mitzvoth, yakni kewajiban מצות שחיטת (mitzvoth Sechithot), menyembelih binatang sebagai seorang Suchat sesuai aturan hukum.

Selain itu, ada hal yang lebih penting lagi terkait dengan qurban Abraham, yang menurut saya sangat serius utk diperbincangkan dalam ranah lintas iman. Pada Sefer Bereshit 22:3 ternyata Abraham membawa 2 bujangnya. Siapakah yang dimaksud kedua bujang Abraham tersebut? Kitab utama dalam tradisi agama Yahudi, yakni kitab Midrash Bereshit Rabbah dan kitab Tafsir Rabbi Eliezer ternyata menyebut 2 nama, yakni Eliezer dan Ishmael. Ringkasnya, kitab Tafsir Rabbi Eliezer sebagai kitab tafsir tertua dalam tradisi agama Yahudi, ternyata menyebutkan nama Ishmael sebagai sosok yang juga dibawa serta oleh Abraham untuk melaksanakan perintah qurban tersebut. Menariknya, Rabbi Saadia Gaon ben Yosef menerjemahkan ג’לאמיה (ghulamayhi), lit. “dua anaknya.” Ini merupakan fakta penting yang tidak dapat ditolak oleh akademisi manapun bahwa istilah “bujang” pada versi Alkitab terjemahan bahasa Indonesia yang merujuk pada nas Sefer Bereshit 22:3 itu justru mengacu kepada Ishmael yang disebut sebagai “ghulam” (anak) oleh Rabbenu Saadia Gaon. Jadi, Ishmael adalah pribadi istimewa yang juga terlibat dalam peristiwa qurban Abraham tersebut. Menariknya, Rabbenu Saadia Gaon menyebut Ishaq dengan sebutan אבנה (ibnahu), lit. “anaknya”, bukan dengan sebutan ג’לאמה (ghulamahu), lit. “anaknya”, lihat Targum Aravit 22:3. Yang lebih menarik lagi, QS. ash-Shaffat 37:2 ayatnya berbunyi:

فبشرنه بغلام حليم

“maka Kami berikan kabar gembira kepadanya atas kelahiran ghulam (anak) yang penyantun.”

Dengan demikian, Tafsir Rasag atas teks Bereshit 22:3 yang menyebut dengan sebutan ג’לאם (ghulam) kepada Ishmael, ternyata ada kesejajaran dengan sebutan غلام (ghulam) yang merujuk kepada anak yang akan dijadikan sebagai qurban oleh Abraham menurut teks Quran, lihat QS. ash-Shaffat 37:2.

Dengan demikian, jika Rabbi Ibn Ezra lebih condong pada batasan usia 13 tahun tatkala sang putera dijadikan qurban, ini merupakan indikasi kuat bahwa peristiwa qurban itu sebenarnya tertuju kepada Ishmael saat usianya mencapai usia bar Mitzvah, yakni usia 13 tahun; dan peristiwa ini pasti terjadi sebelum Ishaq dilahirkan. Ketepatan usia sebagai “bar Mitzvah” sangat penting bila dikaitkan dengan peristiwa qurban, karena Ishmael disuruh Abraham menyembelih anak lembu ternyata Ishmael saat itu juga berumur 13 tahun, dan sesuai catatan kitab suci, saat itu Ishaq faktanya belum dilahirkan (Sefer Bereshit 18:7-15.

1. Ishmael disunat usia 13 tahun.
2. Ishmael disembelih usia 13 tahun.
3. Ishmael menyembelih usia 13 tahun.

Tafsir al-Jalalayn juga menyebutkan batas minimal usia بلغ (balagha) itu 13 tahun, dan pada usia 13 tahun inilah sang putera akan dijadikan qurban. Hal itu sebagaimana pembahasan QS. ash-Shaffat 37:102 yang memuat penafsiran ayat فلما بلغ معه السعي (fa lamma balagha ma’ahu as-sa’ya), khususnya membahas makna kata بلغ (balagha): قيل سبع سنين وقيل ثلاث عشرة سنة (qila sab’a sinin wa qila stalasta ‘ashrah shanah), lit. “dikatakan: 27 tahun dan 13 tahun.” Jadi, pengertian بلغ (balagha) dalam Tafsir al-Jalalayn itu ada yang merujuk pada batas usia 13 tahun, dan ada juga yang merujuk pada batas usia 27 tahun.

Berkaitan dengan hadits-hadits yang kontroversial tentang nama sang “dzabih” , yakni sang putera yang akan diqurbankan oleh Abraham, maka hal itu merupakan berdebatan internal umat Islam sendiri, sebagaimana berkaitan dengan nas yang termaktub dalam teks Torah versi Masorah dan versi Samaritan yang kontroversial tentang nama “maqam”, yakni lokasi sakral tatkala sang putera akan diqurbankan oleh Abraham, maka hal itu juga merupakan perdebatan internal bagi umat yang berpegang pada kitab suci Torah, yakni antara umat Yahudi dengan umat Samaritan, dan sekaligus perdebatan antara umat Samaritan dan umat Kristen. Selain itu, berkaitan dengan peristiwa qurban Abraham, memang ada ikhtilaf antara teks kitab suci Torah dengan teks kitab suci Quran. Menurut teks Quran, peristiwa qurban Abraham itu terjadi sebelum Ishaq dilahirkan, sesuai nas QS. ash-Shaffat 37:102-111, sedangkan berita gembira tentang kelahiran Ishaq diceritakan pada ayat QS. ash-Shaffat 37:112. Sebaliknya, menurut teks Torah, peristiwa qurban Abraham itu terjadi setelah kelahiran Ishaq, sesuai nas Sefer Bereshit 21:1-7; Sefer Bereshit 22:1-18. Namun, ada pertanyaan yang sulit terjawab:

1. Bukankah perintah qurban itu diwahyukan oleh TUHAN kepada Abraham tatkala ia berada di Bersyeba, wilayah negeri orang Filistin? Sefer Bereshit 21:33-34

2. Hagar dan Ishmael berada di Bersyeba, wilayah kawasan Paran. Sefer Bereshit 21:14

3. Bukankah setelah pelaksanaan qurban tersebut Abraham kembali lagi ke Bersyeba dan tinggal di Bersyeba? Sefer Bereshit 22:19.

4. Bukankah Abraham selama hidupnya tidak pernah berada di Bersyeba, kecuali saat sebelum dan setelah peristiwa perintah qurban?

5. Bukankah selama hidupnya Sarah tidak pernah berada di Bersyeba?

6. Sarah akhirnya meninggal di Kiryat Arba, kota Hebron, wilayah negeri orang Kanaan, dan Abraham datang dan meratapinya di sana. Sefer Bereshit 23:1-2. Jadi, Sarah meninggal dunia di Hebron, dan Abraham datang meratapinya di sana. Kita tentu akan bertanya. Pertama, Abraham datang darimana? Kedua, mengapa Sarah meninggal?

Pertama, Rashi menjelaskan: ויבו אברהם (vay-yavo Avraham), lit. “and Abraham came”, מבאר שבע (mib-Beer-sheva’), lit. “from Beer-sheba” לספד לשקה ולבכתה (li sephod le Sarah we livkotah), lit. “to eulogize Sarah and to bewail her. Penjelasan Rashi ini menegaskan bahwa Abraham datang dari Bersyeba menuju ke Hebron.

Kedua, Rashi menjelaskan: ונסמכה שרה לעקדת יצחק (we nismechah mitat Sarah le’aqdat Yitzhaq), “Sarah’s death is juxtaposed with the binding of Isaac.” Penjelasan Rashi ini juga menegaskan bahwa Sarah tidak pernah berada di Bersyeba, tempat Hagar dan Ishmael. Dan Sarah meninggal akibat “berita tentang perintah qurban” tsb. Itu artinya, saat turun perintah qurban, Abraham sedang berada di Bersyeba dan Sarah tidak bersama-sama dengan Abraham di Bersyeba. Dan, setelah melaksanakan perintah qurban itu, Abraham ternyata tidak kembali ke Hebron, tetapi justru kembali ke Bersyeba. Bukankah Sarah tidak sedang berada di Bersyeba? Siapa yang sedang berada di Bersyeba? Abraham kembali ke Hebron dari Bersyeba justru tatkala Sarah meninggal dunia.

Dengan demikian, siapakah sebenarnya sang putera yang diqurbankan oleh Abraham? Silakan Anda menjawab sendiri.