Dharma dalam Kitab Suci Agama-agama.

Kitab suci semua agama bukanlah sebuah teks sakral yang berdiri sendiri. Namun, kitab suci semua agama menegaskan semacam mata rantai yang menyadarkan kita tentang adanya konsep “One Word Many Versions” atau “Satu Pewahyuan dalam Kebhinekaan.” Begitu juga Quran sebagai kitab suci umat Islam ternyata memiliki mata rantai dengan kitab-kitab suci berbagai agama, khususnya berkaitan dengan persoalan Dharma. Dalam kitab suci Quran, khususnya ayat yang berbunyi:

اذا جاء نصر الله والفتح. ورايت الناس يدخلون في دين الله افواجا. فسبح بحمد ربك واستغفره انه كان توابا. سورة النصر

“Apabila telah datang pertolongan ALLAH dan kemenangan, dan kamu lihat seluruh manusia masuk ke dalam Din ALLAH dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat (al-Nashr 110:1-3).

Dalam bahasa Indonesia, istilah دين (Din) sering diterjemahkan “agama”, Istilah دين (Din) dalam bahasa Arab sebagaimana yang termaktub dalam kitab suci Quran, ternyata ada kesejajaran dengan istilah דינה (Dina) dalam bahasa Aram, sebagaimana yang termaktub dalam kitab agama Yahudi yakni kitab תלמוד בבלי (Talmud Bavli) yang teksnya berbunyi: דינה דמלכותא דינה (Dina de-malkhuta Dina, yakni “Hukum Langit yang mencerminkan Kebenaran”) 1. Dengan demikian, makna دين (Din) ataupun דינה (Dina) sejatinya menegaskan adanya “Hukum kekal sorgawi”, yang disebut “Agama” yang meniscayakan nilai “Kebenaran.”

Itulah sebabnya, ayat yang berbunyi ورايت الناس يدخلون في دين الله افواجا (wa ra’aitan nasa yadkhuluna fi Dinillahi afwaja), ternyata dalam Quran versi terjemahan bahasa Hindi, terbitan Dar As-Salam, Saudi Arabia (2005) justru istilah دين (Din) maknanya disejajarkan dengan Dharma, yang dalam Quran terjemahan versi bahasa Hindi tertulis demikian: aur tu logon ko ALLAH ke Dharma ki taraf jhudha ke jhudha ata dekha le.

Secara lengkap, teks Qs. Al-Nashr 110:1-3 terjemahan versi bahasa Hindi berbunyi demikian:

1. Jab ALLAH ki madad aur vijay hasil ho jaye. 
2. Aur tu logon ko ALLAH ke Dharma ki taraf jhudha ke jhudha ata dhekha le.
3. To tu apne Rab ko mahima (tasbih) aur tarif karne men lag, aur us se mafi ki dua kar, besak waha maf karne wala hai. 2

Sementara itu, Sri Krishna bersabda kepada Arjuna dalam kitab suci Bhagavad-gita, canto 4.7-8 disebutkan demikian:

Yadā yadā hi dharmasya
glānir bhavati bhārata
abhyutthānam adharmasya 
tadātmanam srjāmy aham

paritrānāya sādhūnām 
vināśāya ca duskrtām 
dharma samsthāpanarthāya 
sambavāmi yuge yuge” 
(Bhagavad Gītā, 4.7-8).

(“Kapanpun dan dimanapun pelaksanaan Dharma merosot dan hal-hal yang bertentangan dengan Dharma merajalela – pada waktu itulah Aku sendiri turun menjelma, wahai putera keluarga Bharata (Arjuna). Untuk menyelamatkan orang-orang saleh, membinasakan orang jahat dan untuk menegakkan kembali prinsip-prinsip Dharma, Aku sendiri muncul pada setiap zaman” 3.

Dalam teks asli berbahasa Sanskrit, kitab suci Bhagavad-gita menegaskan adanya keberpihakan dan pembelaan Sri Krishna terhadap prinsip Dharma, yang tidak bisa dikompromikan dengan tindakan adharma, demi melindungi para Sadhu (orang Saleh), sebagaimana yang termaktub dalam teks Bahagavad-gita versi bahasa Indonesia. Menariknya, teks Bhagavad-gita versi bahasa Arab, ternyata istilah Dharma dalam bahasa Vedic Sanskrit disepadankan dengan istilah الدين (ad-Din) dalam bahasa Arab, dan istilah adharma dalam bahasa Vedic Sanskrit disejajarkan dengan istilah الكفر (al-Kufr) dalam bahasa Arab. Dalam teks Bhagavad-gita 4.7 versi bahasa Arab disebutkan demikian:

كلما وحيثما هناك انخفاض ممارسة الشعاءر الدينية يا سليل بهرت ويسود الكفر في ذلك الوقت انزل بذاتي.4

Begitu juga dalam kitab suci Dhammapada, bab Pandhita Vagga IV. 78-79 Sang Budha juga bersabda mengenai tegaknya prinsip Dhamma, dan bergaul dengan purisuttame (orang baik, orang saleh), dan bukan bergaul dengan purisadhame (orang jahat). Dalam teks Dhammapada bahasa Pali, Sang Budha bersabda demikian:

Na bhaje papake mitte
Na bhaje purisadhame
Bhajetha mitte kalyane 
Bhajetha purisuttame.

Dhammapiti sukham seti
Vippasannena cetasa
Ariyappavedite dhamme
Sada ramati pandhito.

Janganlah berteman dengan teman-teman yang jahat, janganlah bergaul dengan orang-orang jahat; bertemanlah dengan teman-teman yang baik, bergaullah dengan orang-orang baik. Ia yang mengerti Dhamma hidup berbahagia dengan pikiran yang jernih dan tenang. Orang bijaksana selalu berbahagia dalam Dhamma yang telah dibabarkan oleh para Ariya 5.

Dalam kitab suci Dhammapada, Pandhita Vagga IV. 78-79 versi bahasa Jawa dan bahasa Mandarin disebutkan demikian:

Aja kekancan karo wong candhala, , aja kekancan karo wong nistha; ananging srawunga karo wong kang becik bebudine, srawunga karo wong kang luhur bebudene. 
Dheweke kang wawuh Dhamma bakal begja uripe sarta tentrem pikire. Manungsa kang wicaksana tansah suka gembira sajroning ajaran kang kababarake dening Para Minulya.

Mo I ok yu ciau, mo yu pei bii ce, Ing I san yu siau, ing yu kau sa ng sek.
Teh yin fa (swui) che, hsin chin er an lok. 6

 

Dengan demikian, semua kitab suci ada semacam common heritage (warisan bersama) yang kekal abadi, terutama berkaitan dengan prinsip Kebenaran, yakni Dharma dalam bahasa Sanskrit/ Hindi, atau pun Dhamma dalam bahasa Pali, yang sejajar dengan الدين (ad-Din) dalam bahasa Arab, atau pun דינה (Dina) dalam bahasa Aram. Tentu saja tegaknya prinsip Dharma tersebut terkait pula dengan keniscayaaan hadirnya keberadaan orang-orang benar, atau orang-orang saleh, yang disebut dalam berbagai kitab suci dengan sebutan Sadhunam, Purisuttame, As-Shalihun (الصلحون), atau pun Tzadiqim (צדיקים), yang semua istilah yang termaktub dalam kitab-kitab suci tersebut faktanya merujuk kepada “orang-orang benar” yang hidup dalam Kebenaran (Dharma). Hal ini sebagaimana yang termaktub dalam kitab Mazmur 37:29 7.

צדיקים יירשו ארץ וישכנו לעד עליה. תהלים 37:29

“Orang-orang benar mewarisi bumi dan mereka akan tinggal selama-lamanya di bumi” (Tehilim 37:29).

Kitab suci Quran juga menyebutkan ayat yang sejajar, yang meneguhkan pernyataan kitab Mazmur dan sekaligus mengkonfirmasinya, yakni berkaitan dengan keberadaan orang-orang benar, atau pun orang-orang saleh. Qs. Al-Anbiya 21:105 menyebutkan demikian:

ولقد كتبنا في الزبور من بعد الذكر ان الارض يرثها عبادى الصلحون

Ayat ini sekaligus menegaskan bahwa hanya orang-orang saleh saja (الصلحون) yang memiliki karakter kenabian. Itulah sebabnya ayat yang berkaitan dengan “orang-orang saleh” ternyata terletak pada surat Al-Anbiya’ (lit. “Nabi-nabi”). Menariknya, dalam “Serat Wedhatama”, KGPAA Mangkunegara IV juga menyebutkan keberadaan orang-orang benar atau orang-orang saleh tsb. Beliau menulis dalam bentuk tembang, genre Pangkur, larik ke-3 dinyatakan:

Nggugu karsane priyangga,
nora nganggo peparah lamun angling,
lumuh ingaran balilu,
uger guru aleman,
nanging janma ingkang wus waspadeng semu, sinamun ing samudana, sasadhon ingadu manis

(hanya menuruti kehendak pribadi, tidak memakai aturan jikalau berucap, tidak mau dikatakan tidak cerdas, sukanya selalu disanjung-sanjung, adapun manusia yg sudah memahami pasemon, sesuatu yg disamarkan, maka segala perkataannya akan disamarkan dalam bentuk ungkapan yg utama, yang indah) 8.

 

Istilah “Sasadhon” dalam bahasa Jawa memang berasal dari istilah Sadhu, dari bahasa Kawi (Jawa Kuno), yang ternyata juga diadopsi dari bahasa Sanskrit. Istilah Sadhu dalam bahasa Sanskrit memang bermakna sama dengan istilah Sadhu dalam bahasa Kawi yang berarti “utama”, “mulia”, “berbudi”, atau “baik hati” 9. Dengan demikian, Serat Wedhatama menyuarakan hal yang sama tentang karakter kesalehan seseorang dalam hal mengedepankan keutamaan/ kesucian perkataan dan tindakan, sebagimana karakter seorang Sadhu. Itulah hakekat kemanusiaan kita.

Manu Smrti-Veda dan Hukum Nuh.

Kita semua dari berbagai latar agama yang bermacam-macam, dan kita sebenarnya berasal dari keturunan orang yang saleh, yang naik ke bahtera Nuh. Itulah sebabnya kita dapat berkata: אנחנו בני אב אחד – Anahnu b’nei Av echad (Kita berasal dari Bapa yang satu), yakni Nuh atau Manu, dan dialah sebenarnya nenek moyang kita semua, yang saat itu selamat dari peristiwa banjir besar yang melanda seluruh permukaan bumi, dan semua yang tidak beriman dan melakukan tindakan yang tidak saleh, tak seorang pun diselamatkan, semuanya tenggelam.

Dalam kitab agama Hindu, yakni kitab Manu Smriti-veda yang populer disebut kitab Manawa Dharmasastra, Pratamodyayah. 65 tertulis ayat demikian “Ratrih svapnaya bhutanam cestayai karma yanamahah” (malam untuk beristirahat dan siang untuk bekerja bagi makhluk hidup). Ayat suci Hindu ini ternyata ada kesejajaran dengan Qs. Al-Rum 30:23. Ini adalah kesejajaran antara ayat suci kedua agama besar, yakni Hindu dan Islam.

“Manu Smriti-veda, name of the most important text on the social and religious obligations (dharma) of Hindus. The work was composed in Sanskrit, probably about the first century B.C.E. or first century C.E. and has some 2,685 verses… Almost half the verses of this text attributed to the sage Manu are found also in the Mahabharata’s twelfth and thirteenth books, though it is unclear which text has borrowed from the other” 10

Berdasarkan penjelasan Bruce M. Sullivan tersebut di atas, maka kitab Manu Smriti-veda merupakan kitab suci Hindu yang berkaitan dengan kitab hukum yang mengatur persoalan sosial dan kewajiban keagamaan. Menariknya, kitab Manu Smriti-veda ini ternyata ada relasi teks dengan kitab suci Mahabharata. Padahal berdasarkan latar sejarah, peristiwa dan penulisan kitab Mahabharata ternyata jauh lebih tua dibanding latar sejarah kelahiran ketokohan Abraham. Dan ini berarti agama-agama Abrahamik yang merujuk pada 3 agama besar, yakni Yahudi, Kristen dan Islam faktanya memang belum lahir dalam pentas sejarah. Fakta ini akan lebih menarik lagi bila dikaji berdasarkan pembuktian studi manuskrip tertua antara manuskrip berbahasa Ibrani yang secara filologis dapat dibandingkan dengan manuskrip berbahasa Sanskrit. Salah satu fakta tekstual terkait dengan kisah mengenai Abraham dan kisah Nuh yang berkaitan dengan peristiwa banjir besar, ternyata justru termaktub dalam Sefer Bereshit, kitab ini ditemukan di gua Qumran yang disebut sebagai bagian dari the Dead Sea Scrolls. Usia manuskrip Sefer Bereshit atau pun Genesis Apocryphon berdasar calibrated age range melalui uji Carbon-14 sekitar 209 – 117 BCE atau 73 B.C.E – 14 C.E. dan ini ternyata tidak lebih dari the first century BCE. or the first century C.E. 11.

Kitab Manu Smriti-veda sebagai kitab hukum memang diwahyukan TUHAN dan diterima oleh Manu pasca peristiwa banjir besar yang menenggelamkan seluruh bumi. Manu diperintahkan TUHAN untuk membuat bahtera besar sehingga hanya Manu dan keluarganya yang selamat dari banjir besar tersebut. Hal ini sebagaimana yang tercatat dalam kitab suci Srimad Bhagavatam Purana. I.15.

rupam sa jagrhe matsyam
caksusodadhi-samplave
navy aropya mahi-mayyam
apad vaivastavam manum.

“When there was a complete inundation after the period of the Caksusa Manu and the whole world was deep within water, THE LORD accepted the form of a fish and protected Vaivasvata Manu – the father of man, keeping him up on an Ark”, see AC. Bhaktivedanta Swami Prabhupada. Srimad Bhagavatam of Krishna Dvaipayana Vyasa. First Canto. (Mumbai, India: the Bhaktivedanta Book Trust, 1995), p. 147

Itulah sebabnya, kitab hukum yang diterima Manu ini disebut juga kitab Manu Smriti-veda atau disebut kitab Manawa Dharmasastra. Menariknya, nama Manu seakar dengan penyebutan “Man” atau “human” dalam bahasa English, yang satu rumpun dengan bahasa Sanskrit, dan dari istilah Manu inilah kita semua disebut “Manusia”, sebab kita semua adalah keturunan Manu yang selamat dari perisitwa banjir besar tersebut. Menariknya, istilah Manu dalam bahasa Sanskrit bermakna “berpikir” atau “kecerdasan”, dan itulah sebabnya “manusia” dalam dunia filsafat disebut “animale rationale.” Sementara itu, dalam tradisi agama-agama Abrahamic bertradisi Semitik, tokoh Manu ini ternyata sejajar dan identik dengan figur Nuh (نوح) ataupun Noach (נוח), yang juga diperintahkan oleh TUHAN untuk membuat bahtera besar. Pasca peristiwa banjir besar itulah maka akhirnya TUHAN memberikan hukum Nuh (Noach) yang kemudian disebut Noachic Laws, sebagaimana yang tercatat dalam kitab Mishnah, sebagai Torah she be’al phe bagi penganut agama Yahudi.

 

Footnotes:

  1. Lihat Talmud Bavli, masekhet Nedarim 28a, Baba Kama 113a-b
  2. Lihat karya Maulana Mochammad Junandhi. Mukhtashar Tafsir Ahsan Al-Bayan bi al-Lughah al-Hindiyyah (Medinah, Saudi Arabia: Dar as-Salam, 2005), p. 1148
  3. Lihat AC. Bhaktivedanda Swami Prabhupada. Bhagavad-gita Menurut Aslinya (Jakarta: The Bhaktivedanta Book Trust, 1973), pp. 222-224
  4. Lihat karya AC. Bhaktivedanta Swami Prabhupada. Al-Bhagavad-gita Kama Hiya. Ni’matul Ilahiyyah. (Tel-Aviv, Israel: The Bhaktivedanta Book Trust, 2018), p. 218
  5. Lihat R. Surya Widya. Dhammapada. Kitab Suci Agama Buddha. Khudakka Nikaya (Jakarta: Yayasan Abdi Dhamma Indonesia, 2002), pp. 30-31
  6. Lihat Willy S. Kitab Suci Dhammapada (Mojokerto: Maha Wihara Mojopahit, 1989, pp. 78-79
  7. Lihat Harav Yosef Yitzhaq. Sefer Tehilim: Ohel Yosef Yitzhaq (Brooklyn: Kehot Publication Society, 1992), p. 46
  8. Lihat karya Yusro Edy Nugroho. Serat Wedhatama: Sebuah Masterpiece Jawa dalam Respons Pembaca (Semarang: Mimbar – The Ford Foundation, 2001), p. 125.
  9. Lihat Prof. Dr. S. Wojowarsito. Kamus Kawi – Indonesia (Bandung: CV Pengarang, 1977), p. 229
  10. Lihat Bruce M. Sullivan. The A to Z of Hinduism (New Delhi: Vision Books Pvt. Ltd., 2003), p. 128
  11. Lihat Philip R. Davies. The Complete World of the Dead Sea Scrolls (London: Thames & Hudson Ltd., 2011), p. 74
This entry was posted in Interfatith Dialog and tagged , , . Bookmark the permalink.