Nusantara dalam Kitab Suci dan Kakawin Nagarakertagama

Bila teks keagamaan Hindu bertradisi Arya migrasi ke wilayah Nusantara, maka muncullah kosakata “Geni” (api) dalam bahasa Jawa, yang berasal dari kata “Agni” (api) dalam bahasa Sanskrit. Begitu pula munculnya kosakata “Santri” (orang yang belajar kitab-kitab Islam di pesantren) dalam bahasa Jawa merupakan bentuk Islamisasi dari terminologi keagamaan Hindu (Islamized Brahmanic term) yang asalnya diadopsi dari kosakata bahasa Tamil, yakni “Santri” (orang yang belajar kitab Veda dan Vedanta); dan istilah ini ternyata juga berasal dari kata “Sastri” (orang yang belajar kitab Veda dan Vedanta) dalam bahasa Sanskrit, sedangkan kitab Veda dan Vedanta itu sendiri disebut “Sastra” dalam bahasa Sanskrit. Jadi sebenarnya banyak kosakata Sanskrit yang diadopsi dalam bahasa Jawa. Hal ini membuktikan adanya kontak budaya dan kontak bahasa yang telah terjalin sejak lama antara tradisi besar peradaban Arya dengan peradaban Nusantara. Bahkan, adanya kontak budaya dan kontak bahasa antara bangsa Arya dan bangsa Nusantara justru sejak dini terdokumentasi dalam kitab suci Hindu, yakni kitab suci Ramayana. Hal ini dapat ditelusuri melalui istilah “Jawa” itu sendiri, yang dalam bahasa Jawa merupakan istilah geografis yang merujuk pada makna sebuah pulau, yang sejajar dengan istilah geografis khas Vedic Sanskrit, yakni istilah “Yava-dvipam.” Di antara para ahli memang ada perdebatan mengenai istilah Yava-dvipam yang termaktub dalam teks kitab suci Ramayana tersebut. Jadi ada 2 alternatif dalam membahas persoalan tersebut. Pertama, istilah Yava-dvipam merupakan istilah asli bhs Sanskrit yang kemudian mengalami proses Jawanisasi menjadi “Jawa-dwipa” yang artinya “pulau Jawa.” Hal ini tentu maknanya merujuk pada konteks wilayah Jawa. Kedua, istilah Yava-dwipam merupakan bentuk Indianisasi dari istilah Jawa-dwipa yang kemudian diadopsi dalam teks kitab suci Ramayana, karya Walmiki. Hal ini juga membuktikan sebuah fakta tentang adanya kontak budaya yang sangat luar biasa di masa kuno antara India dan Nusantara. Bukankah wilayah India disebut Voor Indie, sedangkan Nusantara disebut Achter Indie?

Prof. Mukunda Madhava Sharma menyatakan bahwa sekalipun apa yang ada di dalam kitab Ramayana tentang nama Yavadvipa diakui sebagai sebuah interpolasi, tetapi ini meniscayakan adanya fakta-fakta lain yang membuktikan di luar dugaan tentang adanya hubungan perdagangan di antara India dan Indonesia yang telah eksis sejak abad ke-1 M 1.  Dengan demikian, identitas wilayah Jawa memang telah tercatat dalam kitab suci Veda Ramayana, sehingga tidak mengherankan bila teks Veda akhirnya juga migrasi ke wilayah Nusantara, khususnya wilayah Jawa. Dalam Veda Ramayana, bagian Kiskinda-khanda 40:30 disebutkan:

yatnavanto Yava-dvipam
sapta rajyopa-sobhitam

(“Selanjutnya kalian akan memasuki wilayah pulau Jawa yang termasyhur, dan terdiri atas 7 kerajaan”).

Identitas wilayah Nusantara ternyata bukan hanya terdokumentasi dalam kitab suci Hindu, yakni kitab suci Ramayana. Namun, identitas wilayah Nusantara ternyata juga termaktub dalam kitab suci umat Islam, yakni kitab suci Quran. Dalam kitab suci Quran tertulis demikian:

ان الابرار يشربون من كاءس كان مزاجها كافورا

(سورة الانسان 76:5).

(“Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas yang berisi minuman yang campurannya adalah air kafur.”)

Menurut Tafsir DEPAG, “kafur” merupakan suatu mata air di sorga yang airnya putih dan baunya sedap serta enak sekali rasanya. Menurut Ibnu ‘Asyur, yang dimaksud dengan kata كافور (kafur) adalah sejenis minyak (damar) yang diperoleh dari pohon tertentu, sejenis pohon karas yang banyak terdapat di China dan Jawa – maksudnya Asia Tenggara 2.  Jadi, istilah كافور (kafur) bukanlah kosakata asli bahasa Arab, tetapi merupakan adopsi dari bahasa Melayu atau pun Jawa. Istilah كافور (kafur) dalam teks pewahyuan Quran, dengan demikian, diakui sebagai sebuah interpolasi dan sekaligus membuktikan adanya hubungan perdagangan antara Arabia dan Nusantara sejak era pra-Islam. Itulah sebabnya istilah كفور (kafur) yang merupakan terminologi khas bahasa Nusantara ini ternyata termaktub dalam teks kitab suci Quran. Itulah sebabnya pula dalam teks Arab klasik, orang-orang Jawa selalu dikenal oleh para penulis Arab dengan julukan Ashab al-Jawiyyin (orang-orang Asia Tenggara) yang bertutur dalam bahasa Melayu sebagai media lingua franca mereka, yakni bahasa persatuan dalam perdagangan. Hal ini sekaligus dapat disimpulkan bahwa fakta historis menandai adanya hubungan dagang sejak masa pra-Islam antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa di Asia Tenggara, khususnya Melayu dan Jawa. Sementara itu, sejak pasca-Islam, penerbit kitab-kitab Islam berbahasa Arab di Timur Tengah, misalnya Mustafa al-Babi al-Halabi (Kairo, Mesir), Dar al-Kutub Ilmiyyah dan Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi (Beirut, Lebanon), telah menerbitkan Tafsir Al-Jalalayn bil Lughah Al-Jawi (lit. “Tafsir Jalalayn dalam terjemahan bahasa Jawa”). Fakta ini sekaligus menandai eksistensi popularitas wacana bahasa Jawa-Kitabi di ranah internasional sebagai bahasa akademik, terutama di kalangan para akademisi Islam dan para ulama di Timur Tengah 3.

Mpu Prapanca, dalam Kakawin Nagarakertagama, pupuh 1.3. menyebutkan demikian:

san sri natha ri wilwatikta
haji rajasanagara wisesa bhupati, 
saksat janma bhataracnatha 
sira n anhilanaken i kalenkan in praja, 
hentyan bhumi jawatibhakti
manukula tumuluy i teken digantara.

(“Sang Maharaja di Wilwatikta Raja Rajasanagara yang sangat masyhur kekuasaannya, dia bagaikan jelmaan Bathara Natha yang menyirnakan kesengsaraan rakyatnya, seluruh bumi Jawa tunduk dan berbakti hingga sampai seluruh penjuru negeri lainnya”) 4.

Bila Mpu Prapanca dalam Nagarakertagama menyebut wilayah Nusantara dengan sebutan “bhumi Jawa” dan “digantara”, maka penyair Kalidasa yang hidup pada abad ke-4 M. juga menyebutkan kawasan ini dengan sebutan “dvipantara” yang merujuk pada kawasan Nusantara, yang dalam Kakawin Nagarakertagama – para penghuni kawasan ini disebut “won Nusantara” 5.

Pancasila dan Kebhinekaan Kita

Nahan hetu narendra bhakti
ri padha sri sakya sinhasthiti,
yatnagegwan i pancasila 
krtasanskarabhisekakrama

(“Demikian alasan Sang Raja mantap
berbakti pada kaki Sri Singha Sakya,
berusaha berpegang teguh pada Pancasila, lima kaidah tingkah laku utama, diresmikan
dalam tata upacara penobatan”) – Kakawin Nagarakertagama, pupuh 43.2. 6.

Tanggal 1 Juni 1945, pertama kalinya Bung Karno menuturkan istilah Pancasila yang merupakan hasil pembacaan akademiknya melalui karya sastra besar yang digubah pada era keemasan Majapahit, yakni Kakawin Sutasoma, karya Mpu Tantular. Dalam kakawin Sutasoma, Mpu Tantular menyatakan: “buat Bajrayana, Pancasila ya gegen den teki haywa lupa” (dalam melaksanakan ajaran Bajrayana, Pancasila harus dipegang teguh jangan sampai dilupakan) 7. Konsep Pancasila yang berlatar keagamaan Buddhis ini secara ideologis dibaca oleh Bung Karno dalam konteks kebangsaan yang lebih kompleks; dari paham keagamaan dinaikkan tingkat menjadi paham kebangsaan, dari paham teologis dinaikkan tingkat menjadi paham politis. Kedua pilar keagamaan dan kebangsaan ini oleh Bung Karno tidak dapat dipertentangkan, tetapi keduanya merupakan pilar kembar yang menopang keindonesiaan kita. Dalam kakawin Ramayana disebutkan adanya paduan 2 pilar utama tersebut:

prabhu tanpa wiku wrug ikang jagat, wiku tanpa prabhu sirna ikang jagat
(pemimpin tanpa pendeta/ulama – negara akan rusak, pendeta/ulama tanpa pemimpin lenyaplah negara). Oleh karena itu, dua pilar yang menopang keindonesiaan kita itu harus dapat kita wacanakan dari generasi ke generasi. Keduanya bukan saling menegasikan, tetapi keduanya dapat saling dipadukan. Kemampuan kecakapan dalam pengelolaan negara berbasis 2 pilar itu memang amat penting. Dengan kata lain, kebhinekaan kita dalam berbangsa meniscayakan adanya paduan keduanya dalam pengelolaan bangsa ini, yang telah ditakdirkan dalam keragaman kebudayaan dan keagamaan. Dengan demikian, rumah sederhana kita akan menjadi istana bagi penghuninya bila dipenuhi dengan kasih sayang dan damai sejahtera. Indonesia adalah rumah kebangsaan kita yang dibangun dengan derai air mata dan darah yang tertumpah demi kemerdekaan kita. Indonesia adalah rumah kebangsaan kita, pasti akan menjadi istana bagi para penghuninya bila dipenuhi dengan kasih sayang dan damai sejahtera di antara para penganut agama yang beragam dalam kebhinekaan, demi satu tujuan cita-cita bangsa, dan demi mewujudkan kebhinekaan kita dalam mewacanakan toleransi di antara tradisi iman yang beragam dalam bingkai kebangsaan. Dan tentu saja, semangat kebhinekaan ini juga telah diamanahkan oleh berbagai kitab suci, di antaranya kitab suci Rig-veda (Hindu), kitab suci Tehilim (Yahudi), kitab suci Bible (Kristen) dan kitab suci Quran (Islam).

Sam gacchadhvam sam vadadhvam
sam vo manamsi janatam, 
deva bhagam yatha
purve samjanana upasate.

(“Wahai umat manusia! Hiduplah dalam harmoni dan kerukunan. Hendaklah bersatu dan bekerja sama. Berbicaralah dengan satu bahasa dan ambillah keputusan dengan satu pikiran; seperti orang-orang suci di masa lalu yang telah melaksanakan kewajibannya, hendaklah kamu tidak goyah dalam melaksanakan kewajibanmu”).  Rig-veda X.191.2.

הנה מה-טוב ומה-נעים
שבת אחים גם יחד

Hinne ma tov u-ma na’im
shevet achim gam yachad.

“Sungguh alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun” 8.

يايها الناس انا خلقنكم من ذكر او انثى وجعلنكم شعوبا وقباءل لتعارفوا ان اكرمكم عند الله اتقكم ان الله عليم خبير

(سورة الحجرات 49:13)

(“Hai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan; dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi ALLAH ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya ALLAH Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”).

 

Footnotes:

  1. Lihat Mukunda Madhava Sharma. Unsur-unsur Bahasa Sanskerta dalam Bahasa Indonesia (Denpasar: Vyasa Sanggraha, 1985), p. 6
  2. Lihat M. Quraish Shihab. Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an. Volume XIV (Jakarta: Lentera Hati, 2012), p. 570.
  3. Lihat M. Ali. Urgensi Bahasa Jawa-Kitabi sebagai Identity Marker Kitab-kitab Turats Al-‘Arabi di Pesantren Jawa Timur (Yogyakarta: Elmatera, 2012), pp. 59-60.
  4. see Damaika dkk. Kakawin Nagarakertagama. Teks Asli dan Terjemahan (Yogyakarta: Narasi, 2018), p. 23
  5. Lihat Prof. Mukunda Madhava Sharma. Unsur-unsur Bahasa Sanskerta dalam Bahasa Indonesia (Denpasar: Vyasa Sanggraha, 1985), p. 6
  6. Lihat Damaika dkk. Kakawin Nagarakertagama. Teks Asli dan Terjemahan (Yogyakarta: Narasi, 2018), p. 145
  7. Lihat Soewito Santoso. Sutasoma: A Study of Javanese Vajrayana (New Delhi: International Academy of Indian Culture, 1975)
  8. Lihat Rabbanu Yosef Yitzhaq. Tehillim Ohel Yosef Yitzhaq (Brooklyn: Kehot Publication Society, 1992), pp. 162-163.
This entry was posted in Interfatith Dialog. Bookmark the permalink.