Ishmael dalam narasi kitab suci Yahudi dan Islam (Part VI) – Dimana Lokasi Hijr Al-Hijaz dan Al-Jafar dalam Targum Saadia?


Tulisan sederhana ini bertujuan utk membedah nalar absurd dari Jimmy Jeffry, sang apologet Kristen yang tidak paham linguistic studies.

Dalam Targum Saadia, terkait Sefer Bereshit 25:18, Rabbi Saadia Gaon (Rasag) menyebut Shur dengan nama lain, yakni Al-Jafar. Sementara itu, dalam Sefer Bereshit 16:7, Rasag menyebut Shur dengan nama yang lain lagi, yakni Hijr Al-Hijaz. Nama Al-Jafar dalam Targum Saadia merujuk pada nama lokasi geografis, sebagaimana nama Hijr Al-Hijaz dalam Targum Saadia juga merujuk pada nama lokasi geografis. Nama Al-Jafar dan nama Hijr Al-Hijaz dalam Targum Saadia yang mengacu pada nama lokasi geografis ini bersifat saling menjelaskan, dan bukan saling menegasikan. genesis 16-7

Nama Al-Jafar sebagai nama lokasi geografis tersebut ternyata diteguhkan pula dengan pernyataan Flavius Josephus dalam karyanya The Antiquities of the Jews 12.4.

“These inhabited all the country from Ephrates to the Read Sea and called it Nabatene.”

Flavius Josephus, seorang sejarawan Yahudi abad 1 M., mengidentifikasi nama Shur berkaitan dengan Read Sea (kawasan Laut Merah). Hal ini senada dengan kawasan Al-Jafar yang dimaksud oleh Rabbi Saadia Gaon (Rasag) dalam Sefer Bereshit 25:18. Rasag paham betul lokasi geografis yang bernama Al-Jafar yang berada di kawasan Laut Merah ini, sehingga beliau menyebut nama Al-Jafar dengan nama lain, yakni nama Hijr Al-Hijaz sebagaimana yang termaktub dalam Sefer Bereshit 14:7.

Rasag juga paham betul terkait nama lokasi geografis yang disebut Hagra dalam Targum Onqelos dalam bahasa Judeo-Aramaic tersebut. Dalam konteks ini, sebutan nama Hijr dalam Targum Saadia, yang sejajar dengan nama Hagra, merupakan kata kunci dalam memahami makna nama Hijr secara tepat, sebagaimana yang dimaksud dalam Targum Saadia. Itulah sebabnya Rasag dalam Targum-nya menyebut nama Hijr dlm bhs Judeo-Arabic, yang secara linguistik sepadan dengan nama Hagra dalam bhs Judeo-Aramaic.

Istilah “sepadan” yang saya maksud dalam kedua Targum tersebut adalah kesejajaran makna yang merujuk pada nama lokasi geografis. Ini terbukti bila istilah Hagra dan Hijr tersebut keduanya dikaji berdasarkan pada domain linguistik rumpun bahasa-bahasa Semitik, terutama dari aspek fonologis (bunyi), morfologis (kata), dan semantis (terutama makna leksikal sekaligus makna terminologisnya). Jadi, nama Hagra (H-g-r) dan Hijr (H-j-r) telah terbukti secara linguistik ternyata keduanya memang merujuk pada nama lokasi geografis. Pemahaman Rasag tentang Hijr yang mengacu pada nama lokasi geografis ini dipertegas dng ditambahkannya istilah Al-Hijaz sebagai kata penjelas di belakang nama Hijr, dan istilah Al-Hijaz itu sendiri memang mengacu pada makna lokasi geografis.

Dengan kata lain, Rasag sekaligus menambahkan penjelasan Al-Hijaz di belakang nama Hijr tersebut, agar komunitas Yahudi Musta’ribah sbg pembaca Targum Judeo-Arabic dapat memahami bahwa Al-Hijaz itu sebagai nama lain dari Hagra. Bila nama Al-Hijaz dalam Targum Saadia merujuk pada nama lokasi geografis, maka nama Hijr dalam Targum Saadia juga merujuk pada nama lokasi geografis, sebagaimana nama Hagra dalam Targum Onqelos yang juga merujuk pada nama lokasi geografis. Bahkan sebutan Al-Jafar dan Hijr Al-Hijaz dalam Targum Saadia dikuatkan dgn penjelasan Flavius Josephus sebagai kawasan Laut Merah. Bukankah secara geografis, Hijaz itu berada di kawasan Laut Merah?

Bila seorang apologet Kristen menyatakan bahwa nama Hagra dalam Targum Onqelos dan nama Hijr dalam Targum Saadia memiliki makna yang berbeda secara leksikal dan makna terminologisnya, sebenarnya ini pemahaman orang yang sangat awam dalam bidang linguistik, apalagi bidang linguistik Semitik. Bukankah secara linguistik kata H-g-r (Hagra) dan kata H-j-r (Hijr/Hajar) faktanya sama-sama merujuk pada nama lokasi geografis yang sama? Kalau kata Hijr dikaitkan dengan Hajar Aswad sedangkan kata Hagra diklaim tidak ada kaitannya dng Hajar Aswad, bukankah kata Hajar dan kata Hagra keduanya secara leksikal bermakna batu? Sejak kapan Rasag mengaitkan Hijr dengan Hajar Aswad? Kenapa kata Hijr dalam Targum Saadia tidak dikaitkan dengan Hijr Ismail saja? Itu nalar imaji seorang apologet Kristen yang tidak paham bahasa Judeo-Aramaic dan bahasa Judeo-Arabic, dan mencoba memanipulasi makna Hagra dan Hijr atau Hajar secara berbeda. Ini namanya bernalar secara pseudo-academic yang absurd. Bagaimana mungkin kata Hijr atau pun kata Hajar dan kata Hagra secara semantik leksikal tidak ada hubungannya secara linguistik?

Nama Hijr dalam Targum Saadia, atau pun dibaca Hajar, telah dijelaskan oleh Rasag sendiri, ternyata tidak ada kaitannya sama sekali dengan Hajar Al-Aswad, tetapi dikaitkan dng Al-Hijaz, yang istilah ini merujuk pada nama lokasi geografis. Pada catatan kaki Targum Chamisha Chumshe Torah be Leson ‘Aravit le Rabbenu Saadia Gaon ben Yosef al-Fayyumi terdapat penjelasan sbb:

Screen Shot 2017-03-21 at 10.31.18

Transliteration:

” … be derech Hijr Hijaz wa kana Targum Onqelos Hagra ve zehu eretz ha-‘Erev hamatz’it asher bo ‘Ir Mekah ha-qadoshah le Yishma’elim u-Baka. “

(ke jalan Hijr Hijaz, dan pada Targum Onqelos disebut Hagra, dan kawasan itu berada di tanah Arabia, yang orang datang di kota Mecca yang kudus bagi kaum penganut iman Ishmael atau Bakka.”

Jadi, penyebutan Hijr Al-Hijaz oleh Rasag dalam Targum-nya bukan merujuk pada nama obyek berupa hajar (batu) an sich, dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan nama obyek batu yang disebut Hajar Aswad, tetapi nama Hijr yang dimaksud oleh Rasag dalam Targum-nya adalah nama tempat atau nama lokasi geografis yang amat khusus dan menjadi semacam common knowledge di kalangan internal kaum Yahudi Musta’ribah yang merujuk pada kawasan Al-Hijaz. Itulah sebabnya, yang termaktub dalam Targum Saadia adalah frase nama Hijr Al-Hijaz atau bisa dibaca Hajar Al-Hijaz, tetapi frase yang muncul tidak tertulis nama Hajar Al-Aswad. Bila nama Hijr atau Hajar yang dimaksud oleh Rabbi Saadia Gaon (Rasag) tersebut merujuk pada nama Hajar Al-Aswad, maka pasti dalam Sefer Bereshit 14:7 versi Targum Judeo-Arabic tersebut tertulis nama Hajar Al-Aswad dan bukan tertulis Hijr Al-Hijaz. Dengan demikian, istilah Hagra dalam Targum Onqelos yang ditulis pada abad 1 M. merujuk pada kawasan Laut Merah sebagaimana yang ditulis oleh Flavius Josephus (abad 1 M.). dan Rabbi Saadia Gaon menyebutnya sebagai kawasan Al-Hijaz sebagai penjelas nama Hijr/Hajar dalam Targum Saadia, sepadan dengan nama Hagra dalam Targum Onqelos.

Ehyeh ašer ehyeh: “Al Azāly alladzī lā yazūlu” الأزلي الذي لا يزول (Rabbi Sa’adiah ben Yosef Gaon)

In Exodus/Shemot 3:14prophet Moses asked God what is His name, then God said to him  Ehyeh ašer ehyeh  אֶהְיֶה אֲשֶׁר אֶהְיֶה.  The common English translation of this enigmatic phrase is: “I am what I am“, often contracted in English as “I AM”   and  often thought as one of God’s name. I  probably think that the most literal translation of its meaning phrase from hebrew is “I Shall Be What I Shall Be“.

However one may wonder what this God’s Name really is?  I would  like draw the reader attention to the works of the great  Rabbi Saadia Gaon ben Yosef (882-942)  or  Saʻīd bin Yūsuf al-Fayyūmi  also known by the acronym “Rasag” who is the most famous Gaonic sage, a great Talmudic scholar,  philosopher and hebrew grammarian.

In his Arabic translation of the Torah in Exodus 3 :14 he translated Ehyeh ašer ehyeh  as  “Al Azāly alladzī lā yazūlu” الأزلي الذي لا يزول  which means

The eternal which  never perishes

ehyer

Interesting to note also that great medieval commentator of the Torah from  rabbi Samuel ben Meir aka “Rashbam”, the  grandson of rabbi Shlomo Yitzhaki, “Rashi.” also wrote on Exodus 3:14:

 ויאמר אלוקים אל משה, if you do not know My name, I will tell you that I am the Eternal. This means that I can fulfill any promise I make. Now that I have told you that My name is “the Eternal,” כה תאמר, thus you shall say to the Children of Israel, “the One Who is the Eternal has sent me to you.”

i-am-that-i-am

It  is evident that Rashag and Rashbam rendering of the verse do away  with any possibility that God  is one being in Three Persons. The entirety of the existence of  God is that He shall always be eternal. The trinitarian truth claims that Jesus was begotten was then invalidated.  God is always ONE unseparated exclusive PERSON the ONE who never ceases to exist therefore who absolutely do not die.  If there is existence that ‘eternity’ belongs to, then there is ONE who exists and will aways exist, never begotten . If there is ONE who never perishes , then there is only ONE who does. No other “personages” can be introduced.

Thus He Shall Be What He Shall Be: “The Eternal”.